Smile As White Paper © Soulless-Fariz
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Mystery, Tragedy, Romance
Rated : T+
Warning : AU, OOC, Typo(s), DLL. :P
"There is nothing more deceptive than an obvious fact."
The Vascombe Valley Mistery – Sherlock Holmes
Siang itu, tepat satu hari setelah pertemuannya dengan Hinata, si gadis pendiam dimata seorang Uzumaki Naruto, ia kembali lagi ke taman. Duduk tepat di kursi kayu yang nyaman berwarna coklat tua dengan style yang bisa dibilang elegan untuk jaman sekarang. Di bawah rindangnya pohon khas musim kemarau, pohon maple yang masih berwarna hijau yang semakin menguning tanda musim panas akan segera tergantikan oleh musim kemarau, Naruto menunggu dengan wajah yang bisa dikatakan lebih berseri daripada kemarin saat ia datang kesini.
Kali ini ia mengenakan pakaian yang lebih santai, tidak terlihat formal seperti kemarin. Ia mengenakan kemeja tipis berwarna biru cerah yang terbuat dari kain katun dengan sedikit motif daun berwarna putih di samping. Celana se-lutut berwarna putih menambah kesan 'santai' yang modis untuk penutup musim panas yang segera memudar dan berganti.
Hari yang tidak terlalu panas, namun bisa dilihat bahwa matahari masih bersemangat untuk memancarkan sinarnya. Taman pun tidak terlalu ramai walau yang notabene adalah tempat favorit masyarakat sekitar untuk menghabiskan panasnya siang hari di musim panas, mungkin karena musim panas akan segera berganti, maka taman sudah tidak terlalu ramai, mungkin itulah sebabnya.
Naruto hari itu datang sedikit lebih awal, mungkin untuk sedikit persiapan bertemu Hinata, teman sekaligus pacar barunya. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Empat puluh lima menit. Hingga satu jam sudah terlewat sejak kedatangannya tadi. Ia mulai khawatir. Khawatir bahwa Hinata tidak akan datang lagi karena kejadian kemarin, benar? Semua itu dapat terjadi karena sebuah alasan.
Gelisah. Untuk apa ia datang kemari jika orang yang ia tunggu tidak datang menemuinya?
"Baiklah, jika dalam lima belas menit lagi dia tidak datang aku akan pulang. Lagipula, dia juga tidak mengatakan bahwa ia datang kemari setiap hari." batinnya bergulat, semua pikiran positif ia keluarkan untuk menyingkirkan semua pikiran negatifnya.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit berlalu.
Lima belas menit berlalu.
Tidak ada. Hingga Naruto mau beranjak dari kursi coklat itu, seseorang mengalihkan pandangannya...
"I never make exceptions. An exception disproves the rule."
The Sign of Four – Sherlock Holmes
Lima menit sebelumnya...
Seorang gadis lain, berambut merah muda sepunggung terlihat terlihat berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, bisa dilihat dari derap langkahnya. Dengan terus mengecek jam tangan ber-merk Louis Vuitton bermodel sport berwarna hitam, ia tahu kalau dia sedang terlambat. Benar, terlambat.
Berbagai toko dan kantor ia lewati, jalan menuju taman kota di kala siang yang mau berganti sore. Hingga akhirnya dia sampai di seberang jalan taman, lebih tepatnya di per-tiga-an jalan. Uh, nampaknya waktu memang berjalan sedikit cepat sekarang, lampu berwarna merah yang terdapat di sisi jalan sekarang berubah menjadi hijau, tanda bahwa ia sudah boleh menyebrang. Dengan langkah kaki yang cepat gadis itu menyebrang aspal panas berwarna abu-abu khas dengan corak garis-garis putih yang tidak terlalu tebal.
Ia akhirnya berlari, sesampainya di seberang jalan. Berlari kecil menuju tempat dimana sebuah kursi coklat dengan pohon maple yang memberi keteduhan. Kalau tidak salah itu adalah tempat dimana Hinata biasa membaca novel, tempat favoritnya. Benar, dia adalah Sakura.
"Semoga aku tidak terlambat." batin Sakura sambil terus berlari mengedar pandang karena ia tidak begitu sering pergi ke taman, berbeda dengan sahabatnya Hinata hampir selalu menghabiskan waktu luang di siang harinya dengan membaca novel di taman. Dan setelah melihat-lihat, sosok yang 'mungkin' cocok dengan kriteria orang yang sedang akan ia temui, sesosok makhluk tampan berambut jabrik berwarna kuning cerah dengan tanda tiga kumis kucing di kedua sisi pipinya, kesan pertama Sakura saat melihat pemuda itu adalah, kharisma dan pesona. Oh, memang benar, Sakura sangat pandai mengenali seseorang hanya dengan sekali melihat.
Ia datangi pemuda itu, semakin dekat, pemuda itu terlihat akan beranjak dari tempat yang ia duduki, langkah Sakura dipercepat sedikit.
"Kau pasti pacarnya Hinata, apa aku benar?" suara pembuka yang terlalu mengejutkan, lagipula Sakura tidak pandai berbasa-basi untuk waktu seperti ini. Naruto, yang memang sedikit terkejut, menoleh pandangannya, melihat sosok gadis berambut pink yang berada di hadapannya sekarang.
"Eh?" hanya itu yang diucapkan Naruto, entah mengapa.
"Apa aku salah?" Sakura menarik posisi condongnya yang kedepan, telunjuknya menepuk kecil pelipis kepalanya.
"Oh, benar." Naruto menjawab singkat, ia masih bingung, siapa gadis yang ada di depannya itu, teman mungkin?
"Jadi..." Sakura menggantung kalimatnya sebentar sebelum akhirnya dijawab sendiri oleh Naruto.
"...aku sedang menunggu Hinata disini."
"Benar!" jari telunjuknya yang semula masih di pelipis kini menunjuk kearah Naruto yang tepat didepannya secara tiba-tiba, entah untuk apa.
"Jadi..." sekarang berganti Naruto yang menggantung kalimatnya, Sakura tersenyum dan membalas dengan cepat.
"Perkenalkan dulu, namaku Sakura," posisi tangannya berganti lagi, kini ia membuka tangan kanannya untuk menjabat Naruto, "Aku disini disuruh oleh Hinata."
Jabatan tangan itu tak berlangsung lama, tak selama proses Naruto yang sedang memproses kalimat yang baru diucapkan Sakura barusan. Jelas kalau dia kebingungan, ada seorang yang tiba-tiba datang dan berkata sesuatu yang sedikit aneh, bukankah kau juga akan sedikit bingung? Itulah yang dialami Naruto sekarang.
"Disuruh?" tanya Naruto meminta sebuah penjelasan tentang kalimat Sakura sebelumnya.
"Iya, dia menyuruhku untuk menemuimu."
"Untuk apa?"
"Bukankah kamu ingin mengetahui segala tentang dirinya lebih luas?" ucap Sakura dengan seringai mesum yang sedikit mencurigakan.
"E-eh." Naruto salah tingkah, bingung mau menjawab apa. Baru kali ini sesosok Uzumaki Naruto dibuat salah tingkah oleh seorang gadis.
"Maka dari itu dia menyuruhku kemari. Dia itu orangnya sedikit susah, kamu tahu?" nadanya datar, sedikit terlihat kecewa.
"Susah?"
"Sudahlah, kita ke kafe saja dulu, nggak enak bicara di taman seperti ini..." ia memberi jeda pada kalimat sebelum dilanjutkan sambil mengedar pandang ke sekitar, "...lagipula kamu harus siap telinga untuk mendengar ceritanya."
"Aku masih baru di kota ini, jadi..." ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kirinya, "...aku masih buta tentang kota ini."
"Baiklah aku mengerti, lagipula aku juga akan heran jika seorang yang keren sepertimu tidak pernah kelihatan di kota yang tidak terlalu besar seperti ini. Kau traktir ya!" dia tertawa kecil, lebih tepatnya menyindir, namun ekspresinya tetap centil.
"Tidak masalah. Kalau begitu tunggu saja di depan, aku akan ke parkiran dulu." ucap Naruto sambil berlalu meninggalkan Sakura.
"Okidoki." Sakura pun juga berlalu, berjalan kearah dimana dia datang. Dia nampak sudah terbiasa seperti ini, tidak canggung untuk bertemu dan berbicara dengan orang asing yang baru dikenalnya.
Tidak lama menunggu, hanya sesaat setelah Sakura tiba di depan taman, sebuah mobil sport Audi R8 berwarna silver datang. Ya, memang Naruto di dalamnya. Sakura yang melihatnya hanya bisa terdiam sesaat, mungkin dia sekarang lagi terkagum-kagum.
Jendela sebelah kiri mobil terbuka, memperlihatkan Naruto yang sedang duduk di kursi pengemudi, Sakura masih terdiam di tempatnya.
"Hei, kamu mau masuk atau diam saja disitu?" ucap Naruto dengan nada yang sedikit tinggi karena suara mesin mobil yang terdengar.
"Eh?" secara sekejap Sakura tersadar dari lamunannya, segera membuka pintu mobil yang berada di depannya dan duduk, kesan pertama yang bisa dia katakan mungkin adalah mewah dan cozy. Ya, mobil mewah mana yang tidak nyaman untuk dinaiki?
"Rupanya kamu anak orang kaya, ya?"
"Haha," Naruto tertawa, ia sudah terbiasa dipanggil dengan sebutan 'anak orang kaya' karena, ya, memang orang tuanya adalah pengusaha besar yang memiliki banyak perusahaan yang tersebar di hampir seluruh sudut bumi, "Jadi kita akan pergi kemana?" sambungnya setelah tertawa.
"Jalan saja dulu nanti aku beritahu."
"I listen to their story, they listen to my comments, and then I pocket my fee."
A Study in Scarlet – Sherlock Holmes
Mobil Audi R8 itu kini terparkir di depan sebuah kafe dengan bangunan yang semi-permanen, letaknya pun cukup strategis, dengan gaya bangunan eropa kafe ini cukup ramai dikunjungi costumer, mereka rata-rata berusia belasan sampai tiga puluh tahunan. Memang, kafe ini sangat cocok untuk muda-mudi. Hanya terlihat beberapa meja dengan kursi yang kosong, selebihnya sudah terisi oleh orang-orang yang pacaran atau hanya ingin nongkrong, laptop pun tidak asing dilihat disini, mengetahui memang adanya fasilitas WiFi dengan koneksi yang bisa dikatakan cukup cepat.
Ramai, cukup ramai. Namun dapat dinetralisir dengan suara lagu sebagai BGM kafe itu.
Naruto dan Sakura, yang baru saja sampai mencari tempat duduk, edaran pandang mereka tidak cukup lama hingga Sakura menyeret lengannya, sebuah tempat duduk di pinggir dengan jendela disampingnya, tempat favorit Sakura. Ya, Sakura suka sekali nongkrong disini, ia suka dengan keramaian, beda dengan Hinata yang cenderung menghindari keramaian.
Dari sisi jendela ia duduk, mereka berdua bisa melihat jalanan dengan sangat jelas. Itulah mengapa Sakura suka duduk menghabiskan waktu di kafe yang diketahui baru dibuka sekitar satu tahun lebih itu, memang masih terlihat sangat baru.
Seorang waitress dengan seragam khas kafe yang sangat elegan datang, nampak jika waitress itu mengenal Sakura, bahkan mungkin cukup akrab.
"Pacar baru, Sakura?" ucap waitress berambut panjang pirang sambil menyodorkan sebuah kertas kaku dengan daftar menu makanan dan minuman yang tertulis rapi dan terlihat menarik dari nama-nama yang diberikan. Memang kafe ini adalah kafe yang unik dengan berbagai resep menu buatan atau yang bisa disebut original, itulah daya tarik utamakedua setelah desain yang diberikan.
Sakura tertawa kecil mendengar pertanyaan waitress itu, sedangkan Naruto malah bergaya batuk yang dibuat-buat "Bukan, dia pacarnya Hinata." jawab Sakura to the point sambil melihat-lihat menu yang sedang ia pegang, sedangkan Naruto terlihat sudah menetapkan pesanan.
"Aku pesan Moca Latte." ucap Naruto yang menyodorkan daftar menu itu kembali setelah dicatat oleh sang waitress.
"Ada lagi?" tambah waitress itu menanyakan, namun dijawab dengan gelengan yang sangat yakin oleh Naruto, "Kalau Sakura mau pesan apa?" wajah waitress itu berpindah menatap Sakura yang masih membolak-balik daftar menu itu, ia terlihat bingung dengan apa yang akan dipesannya.
"Hmm..." nadanya nampak bingung, "...aku pesan Heavy Rainbow." ia masih membolak-balik daftar menu itu, jari telunjuk ny menempel pada sudut bawah bibirnya.
"Ada lagi?" tambah waitress itu.
"Untuk minum aku pesan Strawberry Juice saja," jawabnya lalu memberikan daftar menu itu kembali pada waitress, "Jangan lama-lama ya, Ino!" ucapnya menambahkan.
"Baiklah." jawab waitress yang diketahui bernama Ino itu, tersenyum simpul lalu berlalu menuju kasir untuk memberikan pesanan pada salah seorang waitress lain yang bertugas.
Naruto kembali memandangi keluar jendela yang berada disamping kirinya itu, ia dapat merasakan hembusan kecil angin dari luar yang masuk melalui jendela yang tidak terlalu besar, sedangkan Sakura hanya duduk memandangi Naruto sambil menopangkan kedua tangan di dagunya yang terlihat serasi dengan bentuk wajahnya.
Hampir sepuluh menit seperti itu, sebelum akhirnya Sakura membuka pembicaraan.
Sakura berdehem kecil, membuat perhatian Naruto teralihkan yang tadinya memandangi keluar jendela "Kau takut mobilmu hilang di curi?" diikuti oleh tawa kecil yang centil sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, "Jadi, sudah berapa lama kamu kenal dengan Hinata?"
Pertanyaan itu sebenarnya dapat di jawab singkat oleh Naruto, namun, ya, memang terasa sedikit 'aneh' jika ia menjawab seperti apa yang sebenarnya terjadi.
"Sehari." jawab Naruto dengan nada rendah. Tebakannya tidak meleset, memang benar kalau ekspresi Sakura saat itu sedikit kaget. Sehari? Hubungan macam apa itu baru kenal sehari dan mereka langsung pacaran?
"He?" Naruto mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Ternyata memang benar apa yang dia katakan padaku, kamu mungkin memang sedikit berbeda." ekspresi Sakura dengan cepat berganti, kali ini ia ikut-ikutan tersenyum sambil menampakkan seringai yang mencurigakan.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto sedikit penasaran.
"Ya kamu tahu sendiri, kalau dilihat dari dirimu sih, aku tidak heran jika banyak gadis akan jatuh cinta padamu pada pandangan pertama..." jawab Sakura panjang lebar, mengambil napas sebagai jeda kalimatnya, "...namun yang membuatku terkejut adalah sebenarnya..."
"...kenapa?"
"Dia itu sebenarnya juga populer di sekolah sejak ia masuk SMA, banyak cowok di sekolah yang mengejarnya, aku dengar-dengar sih sudah hampir semua cowok di sekolahnya sudah pernah nembak dia." jelas Sakura panjang lebar, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Hmm." ia manggut-manggut, Naruto dapat menerima itu, karena itu juga yang terjadi padanya kemarin, jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi dia tidak heran dengan itu.
"Namun dia berbeda dari kebanyakan gadis populer di sekolahnya." Sakura membuat sebuah pengecualian melalui kalimatnya barusan.
"Berbeda?" Naruto berpikir mungkin yang Sakura maksud berbeda itu adalah karena dia itu sangat pendiam sekali, berbeda dari kebanyakan gadis populer yang biasa ia temui, justru pada kenyataannya bahwa Hinata yang pendiam itulah yang membuat Naruto semakin tertarik pada Hinata.
"Dari semua cowok yang pernah menembaknya, tidak satupun pernah berhasil menjadi pacarnya, dengan kata lain ia menolak mereka semua."
"He?" jawaban itu tidak Naruto prediksikan sebelumnya, ia tersedak oleh ludahnya sendiri. Sakura terlihat tertawa kecil saat ini. Sulit untuk Naruto terjemahkan mengapa Hinata ternyata memang berbeda, entah ada alasan apa di balik semua itu. Karena ia sudah mempunyai pacar? "Pasti karena dia mempunyai pacar." tebak Naruto dengan nada yang begitu yakin.
Sakura tertawa lagi dengan tebakan yang Naruto lontarkan kepadanya, "Kau seharusnya menjadi pria yang paling beruntung dari seluruh pria yang pernah jatuh cinta dan menyatakan perasaan kepadanya. Mungkin malah terlalu beruntung menurutku." penjelasan Sakura barusan membuat batin Naruto berkelahi lagi dengan kemungkinan yang ia pikirkan, namun dengan mudahnya dipatahkan oleh penjelasan Sakura yang lebih tidak masuk akal itu. Mungkin terlalu tidak masuk akal baginya.
"Aku semakin tidak mengerti..." nadanya tergantung di akhir kalimat yang ia ucapkan, ia sandarkan badannya ke kursi berdesain unik itu, terasa cukup nyaman. Namun dalam benaknya ia masih terus berpikir.
"Sebelum aku melanjutkan lagi, sebaiknya kita istirahat dulu sambil menikmati pesanan kita yang datang." ucap Sakura sambil tersenyum, badan Naruto yang barusan ia sandarkan ke kursi itu ia angkat, menoleh kearah kasir kafe yang berada tidak terlalu jauh di belakangnya, seorang waitress yang sama berjalan menuju meja yang mereka berdua tempati, membawa pesanan yang mereka pesan tadi.
Sebuah ice cream yang berukuran jumbo dengan warna yang cukup mencolok telah datang, ditemani oleh dua minuman lain yang dipesan. Sakura terlihat sangat excited dengan ice cream yang ia pesan itu, matanya berbinar seolah mengatakan pada ice cream itu adalah miliknya seorang.
"I think that there are certain crimes which the law cannot touch,
and which therefore, to some extend, justify private revenge."
The Adventure of Charles Augustus Milverton – Sherlock Holmes
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit bagi Sakura untuk menghabiskan Heavy Rainbow -nya, karena memang, ukuran jumbo itu yang membuat lama. Namun, Naruto dengan sabar menunggu Sakura sambil sesekali mengecek handphone-nya yang bentuknya yang terkesan bongsor namun lebih tipis untuk ukuran handphone pada umumnya. Oh, itu bukan handphone melainkan Android.
Dengan sesekali memandang keluar jendela sambil menikmati hembusan angin sore itu, Naruto juga sesekali memperhatikan sosok Sakura yang sedang memakan ice cream-nya. Hingga pada akhirnya suapan terakhirnya yang menutup aktivitas makan tersebut.
"Huah enaknya..." suara Sakura terdengar sangat puas, ia menepuk perutnya tanda kenyang, lalu mengambil sebuah tisue yang berada di tengah meja dan membersihkan mulutnya dari sisa ice cream yang lengket, wajahnya terlihat bahagia saat itu.
"Kau suka sekali dengan es krim ya?" tanya Naruto yang dibalas oleh anggukan semangat dari Sakura, "Jadi bagaimana kelanjutkan ceritamu tadi?" tanya Naruto yang disambut oleh anggukan Sakura.
"Sampai mana kita tadi?" tanya Sakura memastikan, ia kalau sudah berurusan dengan yang namanya ice cream akan lupa segalanya.
"Pria beruntung..." jawabnya singkat, ia masih terlihat santai seperti tadi, namun sebenarnya ia sedang berpikir keras dibalik wajah tampan yang santai itu.
"Ah, benar." Sakura teringat akan hal yang tadi ia bicarakan, "Apa kamu tahu mengapa aku menyebutmu dengan pria yang beruntung, Naruto?" tanya Sakura yang kini mulai terlihat serius, posisinya kini pun lebih serius dibandingkan ketika berbicara tadi.
"Aku tidak tahu." Naruto menjawabnya dengan simpel dan jujur. Memang benar ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban apa. Seluruh isi otaknya buntu seketika.
"Karena kamu-lah pacar pertama yang dimiliki Hinata." Bingo! Sakura menjawab itu dengan sangat percaya diri, karena memang benar, Hinata sebelumnya memang tidak mempunyai pacar, itu berarti?
"Apa?!" Naruto kaget bukan main kali ini, suaranya terdengar hampir ke seluruh kafe, namun untungnya teredam oleh suara lagu yang sedang diputar kafe yang menjadi yang dimana BGM suasana cozy yang ada di kafe itu.
"Kamu tidak salah dengar kok." jawab Sakura memastikan, kali ini ia merubah posisinya, mundur sedikit dari meja itu.
"Berarti ciuman kemarin adalah..." Naruto berpikir kembali, ia mendapatkan ciuman pertama Hinata? Hal itu terdengar hampir mustahil di benaknya.
"Benar, itu adalah first kiss-nya. Menurutku itu akan menambah kesan beruntungnya-dirimu-sebagai-pria-paling-beruntung- yang-pernah-aku-temui." itulah yang ada dipikiran Sakura, menjadi pacar pertama sekaligus mendapatkan ciuman pertama dari seorang gadis itu sudah termasuk cukup beruntung untuk Naruto di jaman sekarang ini karena kebanyakan gadis sudah mendapatkan ciuman pertama mereka sejak SMP.
"Aku tak menyangka hal seperti itu." Naruto masih terheran-heran pada Hinata, Hinata mengira bahwa dirinya-lah yang berbeda, namun pada kenyataannya justru Hinata-lah yang berbeda. Dia memang benar-benar, 'unik'.
"Well, sebenarnya aku juga tak menyangka tentang ciuman itu. Ya, tapi itulah yang terjadi. Terima saja nasib beruntungmu untuk sementara waktu ini." Sakura kembali menampakkan seringai yang mencurigakan lagi, sambil tersenyum simpul ia kembali menyilangkan lagi kedua tangannya di depan dadanya.
Naruto terdiam disitu untuk beberapa saat, memang saat ini ia sangat bingung, ia merasa beruntung untuk saat ini, namun dengan perkataan Sakura barusan, yang menyatakan bahwa pasti ada sesuatu setelah ceritanya ini. Sebuah ke-unik-an.
"Baiklah Naruto, karena hari sudah mulai malam..." ia mengambil secarik kertas dari tas kecilnya, menulis sesuatu diatasnya menggunakan pulpen, "...ini nomer-ku dan juga alamat email-ku, disitu juga ada nomer HP serta alamat email Hinata." lalu dengan segera ia beranjak dari kursinya.
"Eh? Kamu tidak ingin ku antar pulang?" teriak Naruto yang melihat bahwa Sakura sudah berjalan melewati pintu kafe itu, ia berhenti ujung pintu itu.
"Mungkin lain kali saja! Omong-omong terima kasih dengan traktirannya!" serunya lalu berlalu begitu saja dari pandangannya.
"Gadis yang unik." batin Naruto sambil memandangi ke kertas yang ia pegang, tentu saja, gadis yang ia maksud adalah Hinata, sambil tersenyum ia berdiri dan berjalan menuju kasir.
Hari itu, dia menjadi pria yang beruntung untuk sementara waktu.
"I confess that I have been blind as a mole, but it is
better to learn wisdom late than never to learn it at all."
The Man with the Twisted Lip – Sherlock Holmes
To Be Continued ~
A/N: Yosh! kembali ke chapter dua! sistem kebut semalam diterapkan dengan ide yang sangat standar dari saya XD maklum besok author mau liburan satu hari sama temen-temen :P jadi daripada nunda ngelanjutin, lebih baik dilanjutin :D
Balasan review:
Kaze no Nachi: yah ini udah di update kok XD
Algojo: Maka dari itu author memberikan kesan yang membuat penasaran reader :3 pantengin terus aja kelanjutan cerita ny XD
tika: Done! sudah di panjangin kok daripada chapter pertama XD
bluerose: Sudah terjawabkah pertanyaan bluerose-san dari chapter sebelumnya? saya harap sudah :3
Manguni: Itulah misterinya! Hahaha *ketawa gak jelas*
Iztii Marshall: Hehe, author sendiri sebenernya ragu juga mau ngasih genre tragedy, tapi kenapa gak di coba aja? XD buat koreksinya makasih ya :3
Neko Darkblue: Menarik mana sama author nya? :3 *gaya centil* *ditabok*
hanazonorin444: sama, author juga mulai penasaran (?)
Akhir kata, jangan sungkan untuk review walau hanya nulis satu huruf saja XD dan terima kasih buat reviewnya, tapi nampaknya fict ber-genre tragedy seperti ini masih belum ramai pembaca :P atau hanya perasaan saya saja? XD Yosh! Happy reading!
