Author's Note: Wajib dibaca
Sebenarnya, saya tidak berniat meng-update secepat ini. Saya senang, banyak tanggapan bagus atas fanfic From Y, to Y. Tapi ada beberapa hal yang perlu saya tegaskan:
Fanfic ini 100% pairing Sasuke x Hinata
Chapter satu sampai empat memang ada beberapa adegan Hurt/Comfort ─itu lah mengapa saya masukkan tema fanfic ini Hurt/Comfort─ tapi mulai chapter lima sampai tamat, cerita ini akan murni romance, tidak akan ada hurt lagi.
Dalam cerita From Y, to Y ini, yang saya sorot adalah bagaimana usaha dan ketulusan Hinata hingga menjadi pribadi yang lebih kuat saat menghadapi masalahnya: masalah persahabatannya dan masalah Sasuke. Memang, chapter satu sampai empat mungkin ada beberapa adegan yang akan membuat Hinata sedih, tapi saya berani bersumpah, itu bahkan tidak ada seperempat dari keseluruhan episode yang saya buat.
Saya bohong kalau saya orang yang mudah menerima flame. Saya tidak haus pujian, sungguh, saya tidak ingin. Saya hanya ingin ada yang menikmati cerita saya. Dan Hinata bashing? Saya meremehkan Hinata? Ya Tuhan, untuk apa saya menjadikannya tokoh utama kalau tujuan saya hanya demi mengolok-oloknya? Dan saya adalah penggemar besar Hinata, for pete's sake! Saya tidak memaksa pembaca menyukai kisah saya, tapi tolong, hargailah saya sebagai penulis, jangan menjudge, jangan menuduh yang tidak saya lakukan, jangan dengan mudahnya memberi saya "f" word, yang bahkan anda belum membaca keseluruhan cerita ini! Tolong, tahan dulu emosi anda, baru setelah anda baca keseluruhan cerita ini hingga tamat, anda boleh mengatai saya sepuas anda. Ada begitu banyak fanfics yang bertipe seperti fanfics saya di luar negeri sana, dalam berbagai bahasa, dan pembaca tetap menghargai usaha penulis. Jadi tolong, jangan buru-buru men-judge saya, atau mengatai. Saya munafik kalau saya bilang, saya ini orang yang sabar. Kalau anda tidak suka tipe cerita yang seperti ini, silakan tinggalkan cerita saya, saya tidak memaksa anda membacanya.
Chapter satu kemarin itu, dominasinya adalah point of view dari Hinata. Jadi tentang Sakura yang dipuji, cantik, nyaris sempurna, ect, itu semua datang dari kata hati Hinata sendiri, sebab dia merasa was-was akan kehilangan Sasuke, sehingga itu lah yang Hinata rasakan saat melihat Sakura. Hinata tentu lebih cantik, lebih lembut, hanya saja saya menjadikan dia gadis yang pemalu dalam cerita ini, yang seiring chapter akan saya ubah menjadi gadis yang bersinar bahkan mengalahkan Sakura, Ino, atau siapa pun, karena memang itu inti utama cerita ini. Jadi, saya minta bersabarlah, ikuti alur cerita yang saya buat, bukan berarti saya lebih mengutamakan Sakura atau apa, karena jika disuruh memilih pun, tanpa butuh waktu, saya pasti memilih Hinata.
Untuk Fanfic GaaHina, saya sudah menyiapkannya, dan akan saya publish segera setelah cerita From Y to Y saya selesaikan
Mengenai judul, From Y to Y, memang saya sadur dari lagu Miku Hatsune yang berjudul sama. Kalau pembaca googling liriknya, maka pembaca akan mengerti mengapa cerita ini saya masukkan tema Hurt/Comfort untuk empat chapter pertama. Lagu From Y to Y memang lagu yang bagus, dan sedih sekali ─saya selalu menangis tiap mendengarnya─, namun sekaligus mengandung ketabahan dan kekuatan di dalamnya.
Mungkin sekian dulu dari saya. Saya paham betul kalau saya masih awam di dunia perfanfiksian ini, saya juga tidak pintar berkomunikasi, untuk itu lah saya benar-benar meminta bimbingan dan bantuan teman-teman semua, tapi tolong, kalau ada nasihat, atau saran, bicarakan dengan baik-baik, jangan dengan emosi, saya mohon sekali. Saya tidak butuh pujian, sungguh, saya hanya ingin cerita saya bisa dinikmati. Arigatou
oOoOoOo
Kalau ada yang Sasuke senangi selain tomat, maka rona merah muda di pipi Nona Hyuuga adalah jawabannya. Rasanya menakjubkan, bagaimana wajah manis itu dengan cepat bisa berubah warna dari putih pucat, menjadi merah muda pias, dan beranjak menyerupai tomat ─harus tomat─. Sasuke selalu senang menggoda Hinata, menunggu sampai gadis itu memalingkan muka untuk menyembunyikan wajahnya yang mendidih. Jika sudah begitu, maka Sasuke akan buru-buru menahan dirinya agar tidak menarik Hinata dalam pelukannya atau memberinya ciuman yang, uh, yang selalu ingin Sasuke layangkan pada bibir merah muda merekah itu.
Tapi hari ini tidak.
Hari ini, betapa Sasuke ingin menghapus hari ini dari guratan nasibnya, adalah awal keretakan hubungannya dengan si someiyoshino jelita.
Dan Sasuke sama sekali tidak senang dengan kenyataan itu.
From Y, to Y
by: Aya Kohaku
disclaimer: Naruto asli punya Masashi Kishomoto
kalau Naruto punya saya,
Gaara pasti saya gambar topless *mimisan muncrat-mucrat*
Chapter 2
Sasuke menggerakkan ekor matanya ke arah seorang gadis berambut indigo yang tengah merunduk, mengamati sepatunya sendiri. Dua buah kerutan muncul di bibir pemuda Uchiha tersebut. Benar, Sasuke Uchiha sedang cemberut. Cem-be-rut. Dan tak perlu ditanya, siapa dalang penyebabnya.
Duduk di depan Sasuke, adalah si bodoh Namikaze junior yang sibuk mengoceh meski mulutnya penuh ramen. Belum pernah Sasuke melihat Naruto berperilaku seperti itu sebelumnya. Masksudnya, tentu, tentu Naruto selalu menjadi sosok periang yang tak bisa diam, tapi bola matanya itu, lho. Bola mata saphirnya itu. Coba, sudah berapa tahun sejak terakhir kali Sasuke melihat kilatan kelembutan di bola mata biru bayi milik sahabatnya? Setahun? Dua tahun? Lantas, mengapa tiba-tiba Naruto memancarkan lagi pandangan hangatnya, setelah lama ia kubur begitu saja?
Jawabannya mudah. Tengok, siapa orang yang duduk di sebelah Naruto sekarang.
Bukan, bukan Gaara yang Sasuke maksud. Sisi yang sebelah kanan. Nah. Dia lah orangnya. Sudah lihat, sekarang? Sudah mengerti? Benar. Dia lah penyebab utama kejadian langka ini terulang.
Haruno Sakura.
Sasuke membuang muka.
"Jadi, namamu Hinata Hyuuga, ya?"
Kerutan di muka Sasuke bertambah mendengar suara yang sudah jauh-jauh hari ia putuskan menjadi suara terakhir yang ingin didengarnya.
"Eh?" Hinata mendongak malu-malu, memaparkan dengan jelas semburat merah muda di kedua pipinya. Hal yang, mau tak mau, menyebabkan Sasuke memutar kepalanya dan menyeringai tipis. "I.. iya."
"Dan hubunganmu dengan Sasuke─"
"─ kekasihku," comot Sasuke tanpa memandang Sakura, "Hinata adalah kekasihku. Sudah dua tahun."
Pang.
Sakura otomatis menghentikan suapan nasinya. Sumpitnya terhenti di depan dadanya. Senyumannya yang biasa ia edarkan lenyap. Tubuhnya mendadak kaku. Pandangannya, ah, Hinata tidak dapat menangkap ke mana arah pandangan Sakura sekarang. Rasanya tembus. Rasanya… kosong. Ada emosi yang tak dapat Hinata gambarkan, tersurat di raut muka Sakura. Berbagai macam emosi. Bercampur aduk. Hinata sendiri menangkapnya sebagai sesuatu yang…. sakit. Sesuatu yang… pedih. Mirip, um, kalau Hinata dapat menyebutnya, pukulan yang telak. Pukulan yang telak,
Bagi Haruno Sakura.
Hinata tidak tahu, apakah ia harus bahagia, atau ikut berduka.
Sasuke sendiri kelihatannya tidak merasa bersalah. Ia melanjutkan makan siangnya dengan tenang, tak peduli akan injakan Naruto di kakinya, atau sinyal-sinyal mematikan yang dikirim oleh Ino. Meski begitu, bukan berarti dia merasa nyaman dengan atmosfer yang semakin memberat di antara mereka. Bukan berarti dia tak dapat menangkap gelengan kecewa yang Sai timbulkan. Kalau ada yang harus Sasuke beri hadiah sekarang, maka orang itu adalah Sabaku Gaara yang tak pernah mau ikut campur dalam urusan pribadi orang lain. Gaara memang sempat terdiam beberapa detik, namun yang namanya Gaara tetap saja Gaara, ia menghargai privasi.
Rasanya, ingin cepat-cepat Sasuke habiskan makan siangnya, kemudian menarik Hinata pergi dari gadis merah muda ini.
"Ahaha," tawa renyah Sakura menggema setelah dua menit berlalu ─yang rasanya seperti dua jam penuh─, bola mata emeraldnya yang bulat menatap Hinata lembut, "tentu saja, seharusnya aku tahu. Yah, kau gadis yang beruntung, Hinata."
Lalu ia tersenyum. Senyumannya yang lebar. Yang seperti biasa.
Dan ini membuat Hinata, sekali lagi, menundukkan kepalanya.
"Hinata, boleh kuminta tomatmu?"
"Eh?"
Itu. Rona merah muda itu. Rona merah muda di pipi Nona Hyuuga itu.
Sasuke menyunggingkan senyumannya, "Kau menyisihkan tomatmu."
Merasa tak beda dengan penjahat yang tertangkap basah, Hinata langsung menyodorkan piringnya mendekati Sasuke. "Ka-kau boleh memakannya, Sasuke-kun."
Si bungsu Uchiha menggelengkan kepalanya.
"Suapkan."
"EH!" merupakan jeritan yang semestinya dikeluarkan oleh Hinata, tapi, Kami-sama, mengapa malah Namikaze junior itu yang mengeluarkannya.
Sembari mengirim pelototan maut yang ditujukan bagi Naruto, Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata, "Kau dengar aku, kan. Suapkan."
Pelan-pelan sekali, Hinata mengaitkan potongan tomat merah di piringnya dengan sumpit. Setengah ragu, diarahkannya sumpit itu ke arah Sasuke. Wajah Hinata sudah terbakar seperti api unggun, begitu merah. Dalam hatinya yang terdalam, sisi setaniah Sasuke ingin memakan Hinata yang tersipu malu seperti itu saja ketimbang tomat merah yang ia sukai. Bola mata hitam tintanya tertuju pada seiris bibir manis milik Hinata, mengingat, ternyata sudah cukup lama ia tak mengecup bibir itu, merasakan wangi lavender di sana, menyesapi sarinya yang manis. Maka tanpa ia sadari, Sasuke telah menurunkan kepalanya, sebegitu rupa, hingga jarak antara dirinya dan Hinata hanya tinggal beberapa inci. Dan sebelum apa yang ia inginkan terjadi,
"Kurasa aku sudah selesai. Ah, Sai, boleh kupinjam Ino sebentar? Tiba-tiba aku ingin jalan-jalan berdua bersamanya."
Haruno Sakura sudah menghilang.
oOoOoOo
Hinata mendesah begitu mendapati lokernya penuh dengan surat-surat ultimatum. Beberapa bahkan sampai berhamburan ke lantai sewaktu Hinata membuka pintu lokernya. Menjadi kekasih dari seorang pangeran sekolah memang bukan profesi yang mudah, kalau Hinata dapat menyebut itu sebagai profesi. Habis, hampir tidak ada bedanya. Begitu banyak risiko, terlebih jika pangeran sekolah itu bernama Sasuke Uchiha. Jangan tanya bagaimana repotnya. Surat ancaman? Hampir selalu ada. Pandangan iri? Yap. Sinis? Yah, kau dapat menebaknya sendiri.
Sama seperti siang ini, ketika Hinata membuka lokernya, ia memang telah menebak, yang pertama kali akan memenuhi pandangannya adalah surat-surat ancaman yang menumpuk. Baik Sasuke mau pun Hinata sudah terbiasa sebenarnya. Tanpa banyak protes, biasanya mereka akan langsung membuang surat-surat itu ke tempat sampah. Kejam, memang. Tapi itu sudah keputusan paling baik. Sasuke bahkan pada awalnya hendak membakar semua surat itu, namun berhasil dicegah oleh Hinata. Tapi, bagaimana jadinya, jika surat yang Hinata temui hari ini, tidak terlalu sama dengan surat yang acapkali ia terima di lokernya?
Bagaimana jika ternyata, surat yang bersarang di lokernya, hampir secara keseluruhan, memintanya berpisah dengan Sasuke? Hinata tahu, ancaman untuk segera putus dengan Sasuke bukan hal yang baru baginya. Sayangnya, bukan itu yang Hinata permasalahkan.
Tapi alasan baru dari para gadis penggemar itu:
Menginginkan pangeran pujaan mereka bersanding dengan Haruno Sakura.
"Para fansgirl itu lagi?" tanya Sasuke sambil mencuri pandang pada surat yang Hinata dekap, "Tak usah dihiraukan. Mereka hanya iri padamu. Sini, kubantu kau membuangnya."
Hinata tidak beranjak dari posisinya.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Kau kenapa, Hinata?"
Tak ada jawaban.
"Kalau kau tidak menjawab, aku akan menciummu sekarang juga."
Hinata mengeluarkan suara 'eep' kecil dan tanpa dikomando lebih lanjut, langsung membuka suaranya. Sasuke merasa sedikit kecewa di sini. Banyak, sebenarnya. Sisi setaniah yang berada jauh di lubuk hatinya berharap Hinata lebih memilih meneruskan kesunyiannya sehingga Sasuke dapat dengan mudah menyerang Hinata tanpa ada perlawanan.
Ah, keluar dari otakku, kau, mesum, hentai, batin Sasuke menjerit.
"Ano…, Sasuke-kun, i-itu sebenarnya," Hinata memainkan kedua ujung ibu jarinya, menekannya kuat-kuat, "a… ano…"
"Kau benar-benar ingin kucium?"
"Ti-tidak!"
Sisi setaniah Sasuke setengah menangis.
"Itu, sebenarnya," Hinata menghirup udara dalam-dalam, lalu menyambung kembali pertanyaannya yang masih belum sempurna tersusun, "tentang Haruno-san…"
"Sakura, maksudmu?"
Hinata sedikit meringis. Tentu saja, pikirnya, tentu saja, Sasuke selalu memanggil Haruno-san dengan nama kecilnya, kan?
"A-ah, ya…," sekarang bola mata perak-lavender Hinata berkeliaran ke sana ke mari, menghindari kristal onyx Sasuke, "Sasuke-kun, apakah kau─"
"Kalau yang kau maksud adalah perasaanku padanya, Hinata, maka jawabannya adalah tidak."
Dan kupu-kupu di hati Hinata beterbangan.
"Aku sudah tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Mungkin, berteman masih kutoleransi," Sasuke meraih beberapa helai rambut Hinata, "kau tidak perlu khawatir."
Sebuah kecupan lembut jatuh di kening Hinata. Kecupan yang sudah sedari tadi Sasuke tahan, namun ternyata ia tidak terlalu kuat, menjadi tidak terlalu kuat, jika itu sudah menyangkut gadis bernama Hinata Hyuuga.
"Kau mau ke Taman Ueno sekarang?"
"Eh? Kau bilang─"
"Mingu depan?" Sasuke memotong ucapan Hinata untuk kesekian kalinya dalam sehari ini. Seringai tampannya terkembang. "Aku berubah pikiran."
oOoOoOo
Maka, di sini lah Hinata. Terduduk sendiri di taman sekolah, menunggu Sasuke menyelesaikan urusannya dengan kepala sekolah. Hinata tidak mengerti, Nona Tsunade tahu-tahu memanggil kekasihnya. Mungkin urusan lomba antar sekolah lagi. Hah, Sasuke memang selalu berlangkah-langkah lebih maju dari tepakan Hinata.
Menekuk lututnya, Hinata berusaha bersabar lebih lama lagi. Sudah sepuluh menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Sasuke akan segera kembali. Baru saja Hinata menyandarkan kepala di lututnya yang terlipat, ia merasakan seseorang berjalan mendekatinya. Hinata sekonyong-konyong mengangkat kepalanya, berharap menemukan Sasuke di hadapannya.
Tapi ternyata bukan.
"Hei? Kau belum pulang, Hyuuga-san?"
Tanpa banyak kata, sosok itu segera mengambil tempat di samping Hinata.
"A-aku, etto…, aku menunggu Sasuke-kun."
Dan dari ujung matanya, Hinata tahu, ia baru saja melemparkan pukulan menyakitkan untuk gadis di sampingnya.
"Oh, tadi aku bertemu dengannya di kantor Nona Tsunade, Nara-san juga ada," Sakura menyunggingkan senyuman khasnya, deretan giginya yang rapi sedikit tampak, "Olimpiade SAINS. Merepotkan sekali, ya?"
Nara-san yang dimaksud Sakura tentu saja Shikamaru. Hinata mana bisa lupa. Sejak dulu, sejak mereka masih bersekolah di Konoha Junior High School, ketika Sakura masih satu sekolah dengannya, ketika Sakura belum memutuskan pergi meninggalkan negara kelahirannya dan terbang ke belahan barat dunia yang disebut Eropa, Hinata ingat betul, mereka bertiga selalu dijadikan kandidat utama dalam pengiriman siswa berprestasi. Tapi penyinggungan nama Shikamaru dalam percakapan pendeknya dengan Sakura, membuat hatinya mencelos
"Tidak, kok. Kau pintar sekali, Haruno-san," puji Hinata tulus.
Sakura mengibaskan tangannya.
"Aku tidak sebagus itu, Hyuuga-san. Aku bahkan tidak lebih baik darimu."
Hinata tidak suka menyadari ke mana pembicaraan ini mengarah.
"Kau tahu?" Sakura ikut menekuk lututnya seperti Hinata, lantas menyandarkan dagunya, "Aku iri sekali padamu."
Entah itu pujian atau sindiran, Hinata tidak ingin mempermasalahkannya.
"Sebenarnya, aku ingin berbicara denganmu, Hyuuga-san."
"Bi-bicara?"
"Ya," Sakura memejamkan matanya, menikmati hembusan angin sore yang menerpa tubuh kedua gadis itu, "bicara, sangat… banyak," gumamnya, begitu lirih.
Alam bawah sadar Hinata benar-benar ingin mengizinkan Sakura menelurkan apa saja yang mau dibicarakannya, mau itu menyangkut soal Sasuke, atau dirinya, Hinata tidak peduli. Terserah saja, Hinata hanya ingin mendengarnya. Hinata berani bersumpah, ia pasti sudah melakukannya ─membolehkan Sakura bercerita dengan segala perbendaharaan bahasanya─ seandainya saja ia tidak menemukan Sasuke berdiridi hadapannya, menariknya dengan paksa (meski tidak cukup menimbulkan bekas luka, tentu saja, Sasuke tak ada niat menyakiti kekasihnya, jadi ia menarik Hinata terlampau halus), dan mendesiskan satu kalimat terakhir sebelum akhirnya, bersama-sama dengan Hinata, melenggang pergi dari tempat itu.
Kalimat yang, kalau Hinata tidak salah tangkap, berbunyi seperti ini:
"Haruno-san, terimakasih sudah menemani gadis yang kucintai."
oOoOoOo
"Sasuke-kun, apa… apa yang tadi itu tidak terlalu, ng…, kasar?"
"Aa. Aku sengaja."
"Demo… Kasihan Haruno-san, kan?"
"Aku tidak ingin peduli."
Hinata menggembungkan pipinya ─pemandangan yang menggoda Sasuke untuk mengecup kedua irisan bulan itu─, merasa menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Sasuke yang selalu mantap pada pendiriannya, kau hanya akan merasa kesal. Atau lebih singkat, tidak ada gunanya berdebat dengan semua Uchiha yang kau temui. Mereka berbahaya. Dan Hinata bukan tipe gadis yang pintar berdebat, maka ia memilih memutuskan perkataannya sendiri. Mengagumi burung-burung camar yang bermain di atas danau di Taman Ueno tiba-tiba mejadi keputusan yang baik bagi Hinata, daripada harus berhadapan dengan ruas dingin Sasuke.
Sebenarnya ruas mana pun dari Sasuke tidak ada yang leluasa Hinata hadapi.
Semua ruas Sasuke menyebabkan pipinya memerah.
"Bunga seroja itu, kau lihat?"
Hinata mengikuti pergerakan telunjuk Sasuke.
Pandangan Hinata sontak beradu dengan sekuncup bunga saroja, teratai, lotus, atau apa lah nama lain bunga itu, yang jelas, Hinata hanya mampu mengeluarkan satu komentar dari bibir merahnya,
"Indah."
Kemudian yang ia rasakan selanjutnya adalah genggaman hangat Sasuke di sela-sela jemari kecilnya.
"Sepertimu."
Juga wangi mint dari bibir Sasuke yang melekat di bibirnya. Cepat sekali.
"Kau lebih enak dari tomat."
Pun, tawa lepas Sasuke yang jarang ia lihat, mendayu silih berganti.
Hinata merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Aku mencintaimu."
Dan Hinata tidak menyesal dengan kenyataan bahwa dua patah kata terakhir itu terlontar mulus darinya, bukan dari Sasuke. Tidak pernah dari Sa-su-ke. Hinata tidak menyesal. Ia seutuhnya sadar saat mengikrarkan pengakuan itu, setiap mengucapkan dua kata sakral ini untuk Sasuke, Hinata ingin selalu sadar.
"Aku ingin percaya padamu, Sasuke, aku─"
Tidak. Hinata tidak seharusnya menangis di saat seperti ini.
"Aku ingin meyakinkan diriku bahwa kau tidak berbohong, aku selalu meyakinkan diriku, astaga, Sasuke-kun, aku…"
Satu tetes.
"Meyakinkan diriku, bahwa, bahwa," dan seharusnya Hinata juga tidak boleh tersengal, "bahwa suatu saat nanti, ka-kau akan membisikkan kata itu untukku."
Dua tetes.
"Aku tahu kau bukan tipe yang terang-terangan mengatakan cinta kepada kekasihmu, tapi," jemari Hinata bertemu kembali dengan tangan halus Sasuke, "aku pikir," kehangatan itu tersalur lagi ke dalam urat sarafnya, "suatu hari, suatu hari, suatu hari nanti, kau akan mengucapkannya untukku."
Tiga tetes.
"Dan ketika teman-temanku menjauhiku, itu tidak apa-apa, be-benar, itu tidak apa-apa, Sasuke-kun," kini Hinata merasakan rengkuhan Sasuke di sekitar pinggangnya, "karena aku yang telah memilih jalan ini, aku─ aku telah memilih dirimu. Jadi, meski pun dunia memusuhiku, mes-meski pun orang-orang menilai kau lebih pantas bersama Haruno-san," tenggorokan Hinata sesak ketika menyebut nama Sakura, "meski pada akhirnya kau akan meninggalkanku, aku, a-aku, da─"
"Daisuki."
Dan meski Sasuke sudah memotong kembali pembacaraannya kali ini, Hinata tidak akan pernah menyesal.
"Daisuki, Hinata."
Sebab yang ia rasakan berikutnya hanyalah rengkuhan Sasuke di seputaran tubuhnya, serta bibir Sasuke yang penuh, utuh, keseluruhan bibir kekasihnya itu, menyentuh bibirnya sendiri, mengecupnya, memagutnya, mengecupnya, memagutnya…
Hinata ingin sekali percaya dengan itu semua.
To Be Continued
10
