I Love My Brother's Girl
.
.
Summary : Sasuke dan Sakura harus rela mengakhiri hubungan mereka karena suatu perjodohan. Namun bagaimana jika mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang lebih rumit.
.
.
Special thanks to :
Uchiha Eky-chan, Haza ShiRaifu, Yue Heartphilia, vvvv, Violet7orange, Cherryblossom sasuke, Shubi Shubi, Anonim, dAVID, Sky pea-chan, OraRi HinaRa, annisa hyuuga chan
Dan semua silent readers yang telah meluangkan waktu untuk membaca fic ini ^_^
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance / Hurt-comfort
Warning : AU, OOC, typos, aneh, n many more...
.
.
Enjoy the fic ^_^
.
.
Sasuke tanpa sadar berteriak sementara Sakura mematung melihat calon tunangannya yang ternyata adalah kakak dari kekasihnya sendiri. Ralat. Mantan kekasihnya.
"Ada apa denganmu?" Mikoto berkata sambil menginjak kaki Sasuke. Sasuke meringis namun tatapannya tetap tertuju pada Sakura yang kini berdiri sambil menundukkan kepalanya. Tak sanggup memandang balik ke arah Sasuke.
Senyum Itachi makin lebar. Ia menganggap teriakan Sasuke tadi adalah respon kaget karena melihat tunangan Itachi yang ternyata lebih manis dan lebih anggun.
"Hay, Sakura-chan." Itachi mendekat ke arah Sakura dan memegang puncak kepala gadis itu. Sakura mendongak.
"Kenapa menunduk?" Itachi bertanya sambil menundukkan sedikit wajahnya.
"Eng... Aku tak apa-apa," jawabnya seraya tersenyum tipis.
"Sakura-chan pemalu ya... Aku suka gadis pemalu," ucap Itachi sambil mengedipkan mata. Sasuke hanya bisa bersungut-sungut kesal melihat tingkah centil kakaknya.
"Oh ya, Sakura. Pemuda berambut aneh ini Sasuke. Dia adikku. Sedangkan gadis merah di sebelahnya adalah tunangannya, Karin." Itachi memberi isyarat pada Sasuke untuk mendekat.
"Oohh..." Sakura tersenyum kaku ketika bertemu pandang dengan Sasuke dan Karin.
Sasuke berjalan pelan mendekati Sakura. "Ikut aku," bisiknya sambil menarik lengan Sakura agar mengikutinya. Para orang tua hanya saling berpandangan. Sementara Itachi dan Karin mulai mengerutkan kening kebingungan.
"Sasuke pasti hanya ingin akrab dengan calon kakak iparnya. Anak itu memang mudah bergaul," Mikoto menjawab dengan asal sambil menendang pelan kaki suaminya untuk meminta persetujuan atas kalimatnya tadi.
"Ya. Sasuke memang sangat suka bergaul." Fugaku manggut-manggut setuju.
Itachi mendengus. Anak anti-sosial seperti Sasuke disebut mudah bergaul? Yang benar saja. Ayah dan ibunya pasti sedang mabuk.
"Itachi, tolong panggilkan mereka berdua. Waktunya makan malam." Mikoto mengibaskan tangannya menyuruh Itachi agar segera pergi menyusul mereka.
Itachi mengangguk kecil. "Baiklah," sahutnya seraya beranjak dari ruangan itu.
Sementara di sudut ruangan lain, Sasuke masih dengan cueknya menarik lengan Sakura. Gadis itu mulai meringis kesakitan sembari memegangi lengannya yang mulai memerah karena genggaman Sasuke.
"Sasuke, tolong lepas... Lenganku sakit," bujuk Sakura.
Tak ada jawaban.
"Sasuke, lepas..." Gadis itu mulai berontak.
Masih tak ada jawaban. Pemuda itu masih tetap menatap ke arah depan tanpa memperdulikan Sakura. Ia malah makin mempererat genggamannya.
Sakura mulai kesal. Dengan kasar ia menepis tangan Sasuke.
"Lepas, Bodoh!"
Sasuke kontan membalikkan badan dan menatap dingin ke arah Sakura. Sakura menelan ludah. Belum pernah ia melihat raut wajah Sasuke seperti ini.
"Apa?" Sakura memberanikan diri untuk menatap balik ke arah Sasuke.
Pemuda itu mulai mengerutkan kening tanda tak suka dengan sikap Sakura yang kasar terhadapnya. Ia masih menatap lekat-lekat gadis di depannya tanpa bicara sepatah katapun. Ditatap seperti itu tentu saja Sakura menjadi risih.
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku pergi," putus Sakura seraya membalikkan badan bersiap untuk pergi. Namun langkahnya terhenti karena tangan Sasuke sudah hinggap di pundaknya dan memaksa Sakura untuk membalikkan badannya lagi untuk menghadap ke arah pemuda itu.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Itachi," ujarnya dingin.
Sakura tersenyum sinis sebelum angkat bicara. "Apa pedulimu? Kita tak punya hubungan apa-apa lagi. Ingat itu."
"Tentu saja aku peduli! Aku—aku tidak rela," agak lirih Sasuke bicara.
Sakura menggelengkan kepalanya perlahan. "Kau yang menginginkan semua ini, Sasuke," ucapnya pelan.
"Kita akan bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Kau bersama Karin. Dan aku bersama... Itachi," lanjutnya lagi sambil menyentuh bahu Sasuke.
"Aku tidak terima. Sakura, aku—"
"Sasuke, Sakura-chan, waktunya makan malam." Kata-kata Sasuke langsung terpotong oleh suara Itachi. Sakura membulatkan matanya.
"Ah, ya. Arigatou, Itachi," sahutnya dengan agak gugup. Ia tersenyum tipis lalu melangkahkan kaki meninggalkan Itachi dan Sasuke.
Itachi masih berdiri tegak menatap Sasuke yang berada di hadapannya. Sementara Sasuke menatap balik ke arah Itachi sekilas lalu beranjak pergi dari situ. Namun saat ia melewati kakaknya, cengkeraman tangan Itachi di lengannya serta merta membuat langkahnya terhenti.
"Aku mungkin bisa mengalah padamu untuk berbagai hal, Sasuke. Tapi tidak untuk kali ini. Aku harap kau bisa mengerti... Adik kecil," Itachi berucap datar.
Sasuke menolehkan kepalanya sedikit. "Lepas, Itachi."
"Aku anggap itu sebagai tanda bahwa kau sudah mengerti." Itachi melepaskan genggamannya di lengan Sasuke dan membiarkan adiknya itu untuk pergi.
Sasuke beranjak sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
'SIAL!'
oOo
Suasana di meja makan itu cukup meriah. Tampak beberapa pelayan mondar-mandir untuk membawa beberapa hidangan. Sesekali terdengar riuh tawa membuat suasana malam itu semakin semarak.
"Sakura-chan, makanlah yang banyak." Itachi meletakkan sepotong daging di atas piring Sakura. Gadis itu mengulum senyum. "Arigatou," ucapnya singkat.
Sasuke yang duduk di hadapan Itachi hanya bisa menyipitkan mata tak senang. Hatinya mulai panas. Tak mau kalah, ia kemudian menyendok sup kerang dan menyiramkannya ke atas piring Sakura. "Cobalah ini, Sakura. Kau pasti suka," Sasuke berkata sambil memamerkan deretan gigi putihnya, berharap Sakura akan terpesona dengan senyuman mautnya. Gadis itu meringis. "Arigatou, Sasuke."
Itachi langsung mendelik. Dengan cepat ia memotong ayam panggang kecap yang berada di meja makan dan meletakkannya di piring Sakura.
"Makan ini saja, Sakura-chan. Aku tak yakin kau suka dengan sup kerang," katanya santai. Sekilas ia melirik ke arah Sasuke yang sedang menekuk wajahnya.
"Makan daging terus tak baik untuk kesehatan." Sasuke mengambil sesendok sayur dan memberikannya untuk Sakura.
Itachi cemberut. "Makan ini saja, Sakura-chan."
"Tidak, ini saja."
"Hey, Bodoh. Urus tunanganmu sana." Itachi melempar sumpit tepat ke arah Sasuke.
"Bukan urusanmu!" Sasuke balas melempar Itachi dengan serbet.
Semuanya melongo melihat mereka berdua.
"Ehem!" Suara deheman keras dari Fugaku praktis membuat ke dua Uchiha itu berhenti bertengkar. Siapa yang berani menentang ayahnya jika sudah memasang tampang seram seperti itu. Tidak menutup kemungkinan mereka yang akan dijadikan santapan berikutnya jika masih berani bersuara.
"Maaf," Itachi berkata pelan sambil meletakkan gelas yang tadinya akan dilemparkan ke arah Sasuke.
Sementara Sakura hanya bisa cengo sambil menahan tangis melihat isi piringnya yang amburadul. Tak ada sedikitpun selera makannya yang tersisa. Makanan yang ada di hadapannya kini tak ubahnya seperti makanan ayam.
"Sasuke-kun kenapa? Kau memperlakukan Sakura seolah ia pacarmu saja," Karin bertanya sambil mengerutkan kening.
"Uhuk... uhuk." Sasuke sontak tersedak mendengar pertanyaan Karin.
Semua tatapan langsung tertuju pada Sasuke. Sedangkan Sakura hanya dapat menundukkan wajahnya, berpura-pura menikmati santapan malamnya.
"Dia..."
Sasuke menarik nafas sejenak.
"Temanku..."
OoO
"Apa? Kau dengan itachi akan bertumphhh..." Mulut Ino langsung dibekap oleh Sakura sebelum gadis pirang itu melanjutkan kata-katanya.
"Jangan keras-keras, Pig bodoh." Sakura menjitak kepala Ino dengan keras. Kini mereka berdua berada di depan gerbang sekolah mereka untuk menunggu jemputan. Lalu lalang siswa-siswa lain yang baru saja keluar tentu saja membuat Sakura agak sedikit khawatir untuk menceritakannya kepada Ino di tempat seramai ini.
"Terus bagaimana hubunganmu dengan Sasuke?" Ino bertanya dengan suara pelan.
Sakura mengedikkan bahu. "Selesai. Kali ini betul-betul selesai. Ia mengatakan aku hanya temannya."
Ino menepuk-nepuk bahu Sakura. "Ya sudah. Jangan lupa untuk bercerita kepadaku tentang perkembangan selanjutnya. Deidara-nii sudah menjemputku." Ino menunjuk sebuah mobil kuning yang baru saja datang.
"Sampai jumpa, Sakura." Ino melambaikan tangan kemudian berlari menuju mobil tersebut.
Sakura tersenyum sambil menghela nafas. Kalau boleh jujur, sesungguhnya ia masih berat untuk melepas Sasuke. Bagaimana pun juga pemuda itu pernah dan mungkin masih singgah di hatinya. Sakura mendengus kesal.
"Ayam sialan!" umpatnya seraya menendang kerikil yang ada di hadapannya.
"Siapa yang kau sebut ayam sialan?" Suara berat tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya. Sakura memutar bola matanya. Tanpa menolehpun ia sudah tahu suara siapa itu.
"Bukan urusanmu, Sasuke Uchiha."
Tanpa sadar Sasuke tersenyum kecil. Ia paling senang ketika melihat gadis ini cemberut. Menggemaskan.
'TIN... TIN...'
Suara klakson kontan mengalihkan perhatian mereka ke arah sebuah sedan hitam yang menepi tepat di hadapan Sakura.
"Hay, Sakura-chan. Hari ini aku yang menjemputmu. Ayahmu sudah kuberi tahu," sapa Itachi dari dalam mobil.
"SASUKE-KUN~" jerit Karin dari dalam mobil Itachi. Sasuke mendecih.
"Maaf ya, Sasuke. Aku tak memberi tahumu kalau aku menjemput Karin di sekolahnya. Ini surprise untukmu. Hari ini kita akan double date," ujar Itachi sembari tersenyum manis. Sasuke merengut dalam hati. Kakaknya pasti sengaja membawa Karin ikut serta.
"Arigatou, Itachi," Sasuke berkata seraya melayangkan pandangan menusuk pada Itachi. Itachi terkekeh pelan. "Ayo, berangkat!" serunya riang.
OoO
"Sasuke-kun, aaaa..." Karin memberi isyarat pada Sasuke agar pemuda itu mau membuka mulutnya untuk disuapi. Dengan malas ia membuka mulutnya dan membiarkan Karin untuk menyuapinya dengan eskrim. Kini mereka berempat tengah bersantai di sebuah kedai eskrim yang berada satu kompleks dengan taman hiburan Konoha setelah berjam-jam menikmati segala wahana yang ada.
Itachi sedikit mengerutkan kening melihat Sakura hanya mengaduk-aduk eskrim di hadapannya tanpa ada niatan sedikitpun untuk memakannya. Ia tersenyum kecil.
"Sakura-chan, aku suapi ya?" Itachi mengambil sesendok eskrim dan menyuapkannya dengan lembut pada Sakura. Sakura yang kaget hanya bisa mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya malu. Sasuke sedikit menggeram melihatnya. Apalagi rona-rona merah di wajah Sakura mulai terlihat.
"Karin, suapi aku lagi," pinta Sasuke pada Karin dengan maksud untuk membuat gadis pink itu cemburu. Karin tersenyum girang dan mulai menyuapkan eskrim pada Sasuke. Sakura praktis mengernyit tak suka. Ia tentu saja mengerti dengan maksud Sasuke. Ditambah lagi dengan aksi usap-usapan rambut yang dilakukan oleh Sasuke pada Karin.
"Itachi-kun, ada bekas eskrim di bibirmu." Tiba-tiba Sakura mengelap ujung bibir Itachi dengan tisu serta mengelus pipi pemuda itu sekilas membuat Itachi menggaruk-garuk pipinya dengan kikuk.
'GRRR...'
"Karin, kau mau eskrim? Biar aku suapi ya?" Sasuke mengambil sesendok penuh eskrim dan bersiap menyuapkannya pada gadis berambut merah di sampingnya. Karin meringis antara senang dan takut. Senang karena Sasuke ingin menyuapinya dan takut melihat Sasuke yang tersenyum dengan raut wajah menyeramkan plus porsi eskrim ekstra jumbo yang ingin disuapi Sasuke.
"Tentu saja aku mau, Sasuke-kun. Tapi apa itu tidak terlalu banyak?" Karin menunjuk sendok eskrim yang dipegang Sasuke.
"Tidak apa. Makanlah, Sayang." Sasuke langsung menyuapi Karin dengan bringas. Membuat wanita malang itu susah payah untuk menelan semua eskrim yang disuapi oleh Sasuke.
"Sasuke-kun... Wajahku jadi kotor," rengek Karin sambil menarik-narik ujung kemeja Sasuke. Sementara pemuda itu melirik sekilas ke arah Sakura dan langsung menarik kepala Karin agar mendekat ke arahnya.
"Sini kubersihkan." Sasuke langsung mencium Karin tepat di hadapan Sakura.
Sakura terperanjat. Tak menyangka Sasuke akan berani mencium Karin di depan matanya sendiri. Pelupuk matanya mulai memanas.
"Sakura-chan, biarkan saja dua orang aneh ini. Kita ke sana saja ya." Itachi langsung menggandeng tangan Sakura dan membawanya pergi dari situ.
Sakura menghempaskan punggungnya ke bangku kayu yang terletak di dekat kolam air mancur. Ia menundukkan kepala sambil menggigit bibirnya. Mencoba menahan bulir-bulir air yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Sementara Itachi duduk di sampingnya seraya memandangi gadis pink di sampingnya dengan lembut.
"Kau marah melihat Sasuke dan Karin, hm?" tanya Itachi sembari mengelus puncak kepala gadis itu. Sakura mendongak menatap pemuda itu kemudian menunduk lagi. Belum sanggup baginya untuk berbicara sekarang.
"Aku menyayangimu, Sakura—"
"—semenjak pertama kali kita bertemu." Itachi mengangkat dagu Sakura dan menatapnya dengan intens.
"Lihat aku, Sakura. Cobalah untuk melihatku." Perlahan Itachi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Hembusan nafas yang hangat mulai menerpa wajah gadis itu. Bibir Itachi menyusuri jejak air mata Sakura yang masih berbekas. Perlahan namun pasti, mata merekapun terpejam dan bibir keduanya mulai bertaut. Ciuman yang lembut dan hangat. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan pandangan marah bercampur sedih.
"Sakura..."
TBC
Author's note:
Ehmm... Bingung mau ngomong apa *pundung di bawah meja*
Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk review yang masuk di chap kemarin. Berkat kalian saya masih bisa ngelanjutin fic ini ^_^... Maaf ya belum bisa nge-bales satu-satu…
Trus gimana dengan chap ini, Minna? Tambah ancur kah atau ada yang perlu diperbaiki lagi? Komentar, saran, & kritik sangat dibutuhkan...
Akhir kata...
Berminat memberikan review ^_^?
