Shingeki no Kyojin belong to Isayama Hajime

Rate T

Warning OOC

LeviHanji

Memories by Akinayuki

.

.

.

.

.

.

Side two : Terbiasa

Levi selalu sendirian. Dia tak membutuhkan bantuan orang lain kecuali dia terdesak. Dalam hal membersihkan, ekspedisi dan membunuh Titan, sejujurnya dia suka melakukan semua itu sendirian. Terkadang bila tiba waktunya untuk pekan kebersihan, dia terpaksa memarahi satu persatu rekannya karena tidak becus membersihkan sesuatu dan menyuruh mereka mengulang sampai dia merasa puas.

Mungkin semua orang menjadi takut kepadanya karena itu atau menganggapnya sebagai maniak kebersihan, tapi mereka tetap melakukannya dan Levi tidak peduli asal tempatnya tinggal menjadi sangat bersih.

Semua orang sudah terbiasa dengan wajah datarnya dan sifat kerasnya dalam semua hal, jadi Levi tak perlu merubah apapun dan kenyataannya dia memang tak mau berubah.

Dalam masalah kesendirian, Hanji Zoe sering terlihat sendirian.

Awalnya Levi mengira sifat ceria Hanji dengan celotehan penilitiannya yang kebanyakan mengganggu semua orang membuat gadis itu memiliki banyak teman, tapi ternyata dugaannya salah.

Gadis itu jarang terlihat dengan orang lain kecuali dia sedang melakukan penelitian Titan di lapangan. Terkadang dalam seminggu dia hanya terlihat dua kali saat makan siang atau malam kemudian minggu depannya kembali lagi dengan baju yang sama.

Sempat terlintas di pikiran Levi apa Hanji pernah mengurusi dirinya sendiri.

Awal dia masuk ke dalam Scouting Legion, Irvin sempat menyuruhnya untuk bekerja sama dengan Hanji dan menjaga gadis itu saat ekspedisi. Ketika itu Levi membayangkan bahwa seorang gadis yang bernama Hanji adalah gadis biasa yang tidak terlalu kuat.

Tapi ternyata dia salah lagi.

Pertemuan pertama mereka ketika Irvin mengenalkannya dengan Hanji di depan kamar gadis itu. Penampilan Hanji sangat berantakan, wajahnya terlihat lelah dan kedua tangannya dipenuhi oleh tinta pulpennya.

Levi melirik sekilas ke dalam kamarnya dan dia berusaha menahan untuk tidak mengerutkan dahinya.

Buku-buku berhamburan, kertas-kertas penuh coretan berserakan di atas lantai, selimut dan bantal tidak pada tempatnya dan gorden yang masih tertutup saat siang hari.

Gila, kamar Hanji membuatnya kesal.

Semuanya semakin memburuk ketika Irvin meninggalkannya berdua dengan Hanji untuk makan siang bersama yang lain. Saat mereka masuk, semua orang menatap mereka seakan mereka adalah Titan.

Levi melirik Hanji yang berjalan santai di sampingnya. Gadis itu menguap dan menggaruk-garuk rambutnya sembari tersenyum lebar.

"Duduklah! Aku akan mengambilkan makanan kita!"

Hanji menyuruhnya duduk di kursi panjang yang tak dihuni oleh siapapun dan segera berlalu dengan cepat menuju tempat pengambilan makan. Tak perlu menunggu lama hingga dia membawa sebuah nampan dengan dua buah sup jagung , dua cangkir kopi hangat dan dua potong roti kering.

"Untunglah kita tidak kehabisan makanan," ucap Hanji senang sambil menata semua itu di atas meja. "Sepertinya sebagian orang sedang ke pusat desa."

Levi hanya menatap Hanji datar dan melihat permukaan sup jagungnya yang berwarna kuning pekat.

"Hei Rivaille! Apa kau menyukai Titan?" Pandangan Levi kembali tertuju ke Hanji. "Aku sangat menyukai Titan! Mereka begitu memukau dan menggemaskan!"

Dia tidak mengerti dengan gadis ini. Apa Hanji tidak waras?

"Apa kau masuk Scouting Legion untuk bersenang-senang dengan Titan?"

Levi meraih cangkirnya dan memandangi permukaan kopi hitamnya sejenak. Hanji masih menatapnya dengan mata berbinar dan menunggu jawabannya.

"Aku hanya ingin membunuh semua Titan tanpa terkecuali." Levi meneguk kopinya dan tak mendengar suara Hanji lagi hingga satu menit berlalu dan gadis itu meraih sendok lalu mengaduk sup jagungnya.

Levi merilik ke arahnya dan mengamati bahwa Hanji tersenyum dengan kedua pipi yang merona.

"Menikam hatinya, menusuk matanya yang besar dan memotong setiap bagian tubuhnya lalu melihat bagaimana mereka bereaksi. Membunuh Titan memang sangat menyenangkan!"

Sederetan kalimat yang keluar dari bibir Hanji dengan sangat cepat membuat Levi terdiam.

Sekarang dia tahu kenapa semua orang menjauhi Hanji.

.

.

.

.

.

Perkataan Hanji mengenai membunuh Titan sangat menyenangkan tidak bisa dianggap main-main. Levi segera menyadari betapa jujurnya gadis itu saat mengatakannya ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Ini ekspedisi ketiganya bersama Hanji dan seorang rekan mereka telah mati karena dua Titan setinggi dua puluh meter menyerang mereka.

Levi berusaha mengamati situasi dan memikirkan sebuah rencana dengan cepat mengingat kemampuan seluruh rekan-rekannya hingga konsentrasinya buyar saat teriakan Irvin yang memanggil Hanji terdengar begitu keras.

Sekelebat bayangan melewatinya dengan sangat cepat dan melayang bagaikan bulu mendekati kedua Titan itu. Tawa Hanji terdengar menggema di dalam hutan dan Levi hanya bisa terdiam di salah satu dahan.

Hanji berputar melawan gravitasi, mengayunkan kedua pedangnya seakan itu hanya sebuah ranting kayu ringan. Menebas di beberapa bagian tubuh kedua Titan itu hingga darah mengotori bajunya beserta sebagian wajahnya. Hanya dalam satu menit, Hanji berhasil membunuh Titan-titan itu.

Levi mengamati Hanji yang kini berdiri di salah satu dahan di dekatnya. Pundaknya naik turun seiring nafasnya yang memburu. Tawa panjangnya kini terdengar putus-putus dan kedua mata cokelatnya terlihat begitu tajam di dalam google-nya yang agak kelam.

Gadis ini gila.

Dia tidak bisa mengontrol diri dan tak mementingkan keselamatan dirinya sendiri. Apa yang Hanji pikirkan saat dia nekat untuk membunuh kedua Titan besar itu seorang diri?

Seseorang menepuk kepalanya, membuat Levi melirik ke atas.

"Kau sudah melihatnya." Irvin tak menatap ke arahnya melainkan ke arah Hanji yang masih memandang kedua tubuh Titan yang tak bernyawa. "Aku percaya kau bisa menghentikannya suatu saat nanti."

Apa dia bisa?

.

.

.

.

.

Levi meneguk kopinya saat makan malam dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sudah tiga puluh menit dia duduk di sini dan rekan pengganggunya belum menampakkan diri. Apa gadis itu masih mengurung diri di kamarnya?

Sudah tiga hari berlalu setelah ekspedisi yang membuka mata Levi bahwa Hanji bisa terlihat mengerikan dan dia tidak bertemu dengan gadis itu lagi dimanapun sejak saat itu.

Levi tahu kebiasaan Hanji setelah ekspedisi. Menulis berlembar-lembar esai yang bisa dia ingat dari petualangannya selalu menjadi kegiatan rutin Hanji setiap malam dan dia tidak akan berhenti sebelum seseorang mengambil kacamatanya atau mendobrak pintu kamarnya.

"Korporal Levi.."

Seseorang yang dia kenal sebagai anggota divisi penelitian Hanji memanggilnya dengan ragu-ragu.

"Aku ingin menyerahkan laporan penelitian ini kepada kapten Hanji, tapi dia tidak membukakan pintu untukku, jadi.." Levi melirik sebuah amplop cokelat yang lumayan tebal di kedua tangan pemanggilnya. "Aku meminta tolong agar kau mau memberikan ini kepadanya."

"Kenapa kau berpikir kalau dia akan menerimanya dariku?"

"Karena kukira kalian sahabat dekat, aku pikir kalau kalian sangat dekat jadi— ah maafkan aku, aku tidak tahu kalau ternyata pemikiranku salah!"

Orang itu membungkukkan badannya dalam-dalam untuk meminta maaf dan menyesali ucapannya barusan, menunggu Levi mengucapkan sesuatu seperti 'tidak apa-apa' atau 'pergilah' tapi Levi hanya terdiam dan mengamatinya.

"Berikan itu padaku." Orang itu segera mendongak dengan wajah cerah. "Dan besok kau yang membersihkan lapangan."

Levi segera mengambil amplop itu dan meninggalkannya tanpa peduli tangisan dalam hati sang peminta tolong. Kedua kakinya melangkah dengan irama tetap menuju kamar Hanji yang berada tiga meter dari kamarnya. Melewati lorong-lorong yang hanya diterangi oleh lampu lilin berderet rapi di dinding dan kini berdiri di depan pintu kamar gadis itu.

Apa dia sangat dekat dengan Hanji? Kenapa dia tidak menyadari hal ini?

Levi mengetuk pintu kayu itu sekali dan menunggu jawaban dari dalam.

Nihil.

Dia mengetuknya lagi lebih keras dan Hanji tetap tak bersuara ataupun membukakan pintu untuknya.

Levi merasa agak kesal dan membanting amplop itu di depan pintu Hanji. Melangkahkan kakinya menjauhi kamar gadis itu dan saat dia berniat berbelok menuju lorong lain, Levi menghentikan langkahnya.

Dia berdiri di tempat itu selama beberapa detik sebelum akhirnya dia berbalik menuju kamar Hanji lagi. Menghadap pintu kayu itu kedua kalinya, Levi mengetuk pintu Hanji dengan sangat keras dan beruntun seperti bunyi meriam di saat perang.

"Mata empat bodoh, buka pintu ini sebelum aku menendangnya seperti aku akan menendang tubuhmu yang kotor itu nanti!"

Ketukan Levi berhenti ketika dia mendengar suara kursi bergeser dari dalam kamar. Tak lama pintu itu terbuka pelan dan menampilkan Hanji yang sedang menguap.

"Mou… Maaf, aku tertidur…" Hanji menguap dan menggosok-gosok mata sebelah kirinya. Rambutnya terlihat sangat berantakan dan mencuat ke segala arah. Tubuhnya masih terbalut kemeja yang diduga Levi belum diganti semenjak ekspedisi dilihat dari noda darah yang membentuk pola tertentu di sana. Celana putihnya sudah tergantikan dengan celana cokelat pendek yang hampir tertutupi oleh ujung kemejanya.

"Uhh.." Hanji mengedip-ngedipkan matanya berulang kali dan menyipitkannya. "Rivaille?"

"Ini untukmu." Levi memukul pipi Hanji menggunakan amplop itu dengan keras hingga gadis berambut cokelat gelap itu hanya bisa meringis dan mengelus pipinya. "Sudah berapa lama kau tidak keluar? Kau terlihat seperti kecoa di selokan dan baumu seperti kandang babi."

Hanji masih menatapnya dengan kedua matanya yang mengantuk, "aku sedang membuat rangkuman mengenai klasifikasi Titan berdasarkan responnya ketika terluka dan berpikir apakah mereka mempunyai sistem saraf untuk merasakan—" Gadis itu menguap dan bersandar di pinggir pintu kamarnya. "Aku harus menyelesaikannya sebelum aku lupa semuanya dan—"

Levi mengerutkan dahinya. Dia tidak bisa terbiasa dengan kebiasaan Hanji yang satu ini.

Persetan dengan omongan semua orang mengenai kebiasaan Hanji yang harus diterima karena gadis itu tidak bisa berubah.

"Mandi sekarang," ucap Levi penuh penekanan.

Entah sadar atau tidak, Hanji tertawa dan menepuk kepala Levi berkali-kali membuat pria yang memiliki tinggi seratus enam puluh sentimeter itu semakin kesal.

"Setelah aku menyelesaikan rangkumanku, ini sangat menarik dan kau pasti menyukainya. Aku akan memberitahukanmu bahwa mereka juga bisa berteriak kesakitan meskipun kita tak mengerti ba—"

Dan Hanji jatuh bersandar di pundak Levi. Kedua kakinya sedikit menekuk karena Levi lebih pendek darinya dan dengkuran halus keluar dari mulutnya.

Levi terdiam. Dia semakin mengerutkan dahinya.

Kedua mata hitamnya bergerak ke samping kanan melirik kepala Hanji yang bersandar dengan tidak nyamannya di pundaknya yang bidang.

Kenapa dia harus mempunyai partner seperti ini?

Yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, maniak Titan dan bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri.

"Titan.."

Hanji menggumam pelan dalam tidurnya membuat Levi hanya bisa pasrah dengan semua ini.

Dia melepas kacamata gadis itu dan melangkah masuk ke dalam kamar sembari merangkul Hanji yang tertidur pulas.

Mungkin dia harus terbiasa dengan semua ini.

Hanji dan kebiasaannya.

Kemudian pintu kamar Hanji tertutup kembali.

End