"Nona Bayangan"
.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
PERHATIAN!: AU, sedikit OOC, miss-typos, sedikit horor
Review berupa concrit dan flame selalu diterima
.
Chapter ini kupersembahkan untuk Hikanzakura. Uke-ku yang berulang tahun hari ini (16/8)
Selamat membaca
xxXXooXXxx
Chapter 2
xxXXooXXxx
Langit mulai tersipu, dengan sang mentari yang tiba-tiba memiliki sifat pemalu. Angin yang bertiup kala senja ini, membuat dedaunan yang tengah jatuh beterbangan tak tentu arah. Burung-burung gagak mulai berkoakan, menemani suasana senja yang syahdu. Para penduduk Konoha mulai beranjak dari tempat peraduan nasib mereka, menyemuti jalanan Konoha dengan wajah lelah namun sumringah.
Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang gadis berambut merah jambu yang baru saja keluar dari Rumah Sakit Konoha. Berbeda dengan ekspresi orang banyak yang senang karena bisa beristirahat dan kembali bercengkerama dengan keluarga mereka masing-masing. Wajah sang gadis yang ayu yang tertunduk terlihat kuyu dengan kedua emerald bening yang redup. Dengan langkah gontai, ia menyusuri trotoar kota Konoha yang dipenuhi dengan orang-orang yang berlalu lalang. Kedua tangannya meremas lemas tali tas selempang yang menggantung memalang di bahu hingga tubuhnya. Seolah raganya berada di bumi namun jiwa dan pikirannya melayang berkelana entah kemana.
Ia membelokkan langkahnya, hendak menyeberangi jalan Konoha. Beruntunglah ia, karena tepat saat ia menginjakkan kakinya di zebra-cross, lampu tanda penyeberangan menyala dengan warna hijau yang berarti giliran pejalan kaki yang menyeberangi jalan. Namun karena langkahnya yang teramat gontai dan lambat, lampu yang tadinya berwarna hijau kini berganti dengan warna merah. Dengan posisinya yang saat ini masih berada di tengah jalan dan menundukkan kepalanya, ia tidak tahu bahwa ada mobil dengan kecepatan tinggi yang datang dari sebelah kirinya.
Pekikan seorang wanita berhasil menyadarkannya dari permenungannya. Dengan gerakan lambat, ia menolehkan kepalanya ke samping kiri dan mendapati bahwa jarak antara dirinya dengan mobil itu hanya selisih beberapa meter. Ia yang sudah lemas, ditambah pikiran yang tiba-tiba panik, tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa memejamkan matanya, menunggu efek dari momentum benda besi yang menyentuh tubuhnya dengan keras.
Seseorang menarik tangannya. Ia yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa diam ketika seseorang itu menariknya menepi. Setelah beberapa saat yang ditunggu, dan tak ada rasa sakit yang menderanya, ia membuka matanya dengan ragu-ragu. Sesosok manusia dengan wajah datar dan sepasang mata onyx yang seolah mengebor ke dalam emerald beningnya. Pemuda itu menaikkan alis kirinya ketika sang gadis tidak melepaskan pandangannya dari wajahnya. Sang gadis yang menyadari perubahan ekspresi dari pemuda di hadapannya sedikit terkejut. Dengan wajah tersipu, ia mengalihkan pandangannya. Sang pemuda kembali di buat heran dengan tingkah polos gadis di hadapannya itu.
Sang gadis menenangkan deguban jantungnya yang mengencang. Ditariknya napas dan memasang wajah tersenyum. Ia menatap onyx sang pemuda dan berkata, "Ano, arigatou sudah menyelamatkanku,"
Sang pemuda masih memasang wajah datarnya. Ia bergumam, namun cukup jelas didengar oleh sang gadis. "Hn, doita,"
Sang gadis tersenyum manis, membuat mata emeraldnya menyipit. Lesung di kedua pipinya makin membuatnya tampak manis dan polos. Sejenak sang pemuda tersipu. Namun sedetik kemudian rona itu hilang digantikan ekspresi datarnya.
"Namaku Sakura. Haruno Sakura. Kamu?" tanya Sakura dengan senyum yang masih melekat di bibir ranumnya.
"Uchiha Sasuke,"
"Salam kenal, Uchiha-san! Senang bertemu denganmu," kata Sakura riang. Tangan kanannya terangkat tapi tidak langsung dijabat oleh Sasuke. Hanya beberapa detik kedua tangan tersebut bertautan. "Oh ya, apa kamu mau mampir ke rumahku? Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Bagaimana?"
"Hn,
"Apa itu artinya 'iya', Uchiha-san?"
"Terserah," balas Sasuke singkat dan menenggelamkan kedua tangannya di dalam saku celana jeans-nya.
"Aku anggap itu 'iya', Uchiha-san. Kalau begitu, ayo. Sudah hampir gelap," ucap Sakura girang. Dengan hati yang berbunga-bunga, ia mendekap lengan kiri Sasuke, dan menariknya pergi dari trotoar kota. Suasana hati yang kontras dibandingkan dengan sebelum ia bertemu dengan pemuda Uchiha itu.
Sepertinya, ia sudah bisa melupakan sejenak tentang musibah sahabatnya. Ya kan, Sakura?
.
.
.
"Kita sampai, Uchiha-san,"
Sakura mendorong pagar rendah yang menjadi pembatas rumahnya. Ia berjalan masuk dan diikuti Sasuke. Setelah itu, Sakura merogoh tasnya, mencari kunci pintu rumahnya. Butuh waktu beberapa detik untuk Sakura menemukan kunci pintu rumahnya. Ia segera menjejalkan kunci tersebut dan memutarnya beberapa kali.
CKLEK!
Pintu rumahnya berhasil dibuka. Ia membuka pintu dan mempersilahkan Sasuke masuk.
Suasana remang dan sepi yang menyambut mereka berdua.
Sakura meraba dinding di dekat pintu, dan menekan saklar lampu. Seketika terang menguasai ruang tamu rumahnya.
"Jangan sungkan, Uchiha-san. Maaf kalau agak berantakan," kata Sakura sembari melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu dekat pintu masuk. Sasuke juga melakukan hal yang sama seperti yang Sakura lakukan. Bedanya, ia menaruh sepatunya di dekat rak sepatu.
"Duduklah dahulu, Uchiha-san," sambung Sakura dan hanya ditanggapi gumaman oleh Sasuke. Ia berlalu dari Sasuke.
Sasuke melangkahkan kakinya masuk lebih dalam di rumah minimalis milik Sakura. Kesan pertama yang ia dapatkan adalah rapi dan nyaman. Ruang tamunya yang tidak terlalu luas berisi meja lebar yang tidak terlalu tinggi, di atasnya terdapat taplak meja dan vas bunga. Satu sofa panjang berwarna krem dan dua sofa berwarna krem berukuran kecil mengelilingi tiga sisi meja tersebut. Di hadapan sofa panjang tersebut terdapat sebuah rak dengan televisi berukuran sedang di atasnya dan DVD-player yang berada di dalam rak. Dindingnya yang bercat putih gading dengan beberapa bingkai foto dan lukisan pemandangan alam. Dua bufet kecil berhiaskan ukiran rumit di dekat rak televisi menarik perhatian Sasuke. Ia berjalan mendekat, dan menyadari bahwa kedua bufet tersebut kosong.
Menyadari bahwa tidak ada lagi yang menarik dari dua bufet itu, Sasuke melemparkan pandangannya, menatap satu per satu bingkai yang menggantung di dinding.
Jumlah seluruh bingkai foto di dinding ruang tamu rumah Sakura adalah sepuluh. Dua di antara kesepuluh itu adalah foto –yang diyakini Sasuke—sebagai foto orang tua Sakura. Satu foto lainnya adalah foto ia dan kedua orang tuanya dengan latar belakang pohon sakura yang besar serta karpet yang menjadi alas mereka duduk. Di atas karpet tersebut terdapat beberapa makanan serta kudapan. Tampak Sakura yang lebih muda –perkiraan Sasuke, Sakura berumur sepuluh tahun—dengan wajah polosnya, tersenyum lebar ke depan. Kedua orang tuanya tersenyum kecil dan menatap Sakura lembut. Pastilah itu foto sewaktu Sakura dan keluarganya merayakan hanami beberapa tahun silam. Salah satu foto lainnya berisi potret Sakura sendirian yang tampak dari samping, berdiri menatap langit senja dengan semburat merah yang menghiasi wajahnya. Beberapa foto lainnya berisi potret Sakura dengan beberapa gadis maupun anak laki-laki. Tetapi ada salah satu foto yang menarik perhatian Sasuke. Foto Sakura dengan seorang gadis berambut indigo dan bermata seperti mutiara. Di dalam foto itu, Sakura tengah tersenyum sedangkan gadis bermata mutiara itu tersenyum malu-malu dengan semburat merah tipis yang menghiasi pipi ranumnya. Di bagian bawah foto tersebut, ada tulisan kecil, tetapi masih mampu untuk dibaca. 'Best Friend Forever. Sakura-Hinata.' Begitulah tulisan itu. Sontak mata Sasuke melebar tatkala ia menyadari bahwa ia mengenal sosok gadis itu.
"Hinata..." gumam Sasuke tanpa sadar, tidak menyadari bahwa Sakura sudah berada di belakangnya, dan mendengarkan gumaman Sasuke.
"Eh? Uchiha-san mengenal Hinata?" Raut heran menguasai wajah Sakura. Dahinya berkerut, sehingga kedua alis merah jambunya seakan menyatu.
"Hn. Dia sepupuku,"
"Sepupu?"
"Ya. Tapi sudah lama kami tidak bertemu,"
Sakura tersenyum muram, "Oh begitu, tapi Hinata-chan, ia—"
Belum sempat Sakura melanjutkan perkataannya, ponsel Sasuke berbunyi. Dengan wajah datar, Sasuke mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya.
Rupanya ada pesan masuk.
Sasuke membaca isi pesan itu. Setelahnya, ia memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. "Aku harus pergi," Sasuke segera berjalan menuju rak sepatu di dekat pintu, hendak memakai sepatunya.
"Ah, tunggu,"
Suara lembut Sakura menghentikan kegiatan Sasuke. Ia menoleh, "Hn?"
"Sebelum kau pergi, minumlah dahulu, Uchiha-san," kata Sakura dan mengangsurkan cangkir teh hangat kepada Sasuke. Sasuke menatap sekilas mata emerald Sakura dan menerima cangkir tersebut. Selang beberapa menit, Sasuke memberikan cangkir yang sudah kosong tersebut ke arah Sakura.
"Hn. Aku pamit,"
Sakura mengangguk, "Hati-hati, Uchiha-san. Terima kasih pertolongannya tadi,"
Sasuke mengenakan sepatunya sembari menggumam, "Hn,"
"Kalau Uchiha-san ingin mampir, tidak apa, kok. Aku tidak keberatan," lanjut Sakura dan tersenyum lembut.
"Hn,"
"Kalau begitu, aku antar sampai pagar,"
"Ya,"
"Kala begitu, sampai jumpa, Uchiha-san."
"Hn."
.
.
.
Setelah kepulangan Sasuke, Sakura segera membersihkan dirinya dan kemudian menyiapkan makan malam. Selagi menunggu makanan yang tengah dimasaknya matang, ia membawa cangkir teh yang digunakan Sasuke tadi ke dapur untuk dicuci. Kemudian ia juga menyiapkan peralatan makan yang akan ia gunakan untuk makan malam.
Beberapa menit kemudian, makanan yang dimasak Sakura matang. Ia segera memindahkan isi dari panci ke dalam sebuah mangkuk besar. Lalu ia mengambil nasi dan lauk yang sudah matang, dan menaruhnya di atas piring.
"Itadakimasu!"
Sakura makan dalam keheningan. Hanya bunyi sendok dan piring yang beradu yang terdengar di dalam dapur yang menyatu dengan ruang makan. Sembari ia menyuap sesendok demi sesendok nasi, pikirannya melayang pada kejadian tadi siang. Lebih tepatnya ia sedang memikirkan keadaan Hinata yang saat ini tengah di rawat di rumah sakit. Sahabatnya yang secara misterius ditemukan tengah meregang nyawa dengan cutter yang menancap di perutnya saat mereka berada di perpustakaan. Pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran Sakura, 'Siapa yang tega menusuk Hinata sampai seperti itu?', dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berkeliaran di dalam benaknya.
Memikirkan Hinata, secara tiba-tiba Sakura teringat akan buku misterius yang ditemukannya tadi siang. Hampir bersamaan dengan kejadian penusukan Hinata. Rasa penasaran yang membuncah, membuat Sakura terburu-buru menghabiskan makan malamnya. Setelahnya, ia menaruh piring bekas makan malamnya di atas meja begitu saja.
Dengan langkah yang lebar namun terkesan terburu-buru, Sakura melesat ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Dengan napas terengah-engah, Sakura mendorong pintu kamarnya hingga menimbulkan suara keras.
Diambilnya napas dan dihembuskannya. Setelah ia merasa bahwa napasnya lebih stabil saat ini, Sakura meraba dinding kamarnya, mencari keberadaan saklar lampu. Ia menemukannya, dan menekan tombol itu, sehingga pendaran cahaya terang memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Pandangan Sakura terpaku pada tas selempangnya yang teronggok begitu saja di atas kasur queen-size-nya. Ia berjalan perlahan, dengan tatapan mata yang tetap tertuju pada tasnya. Mendadak, ia merasakan aura aneh menyelimutinya. Aura yang sangat mirip –tidak, aura ini sama seperti aura yang dirasakannya saat pertama kali menemukan buku misterius itu.
Lima langkah...
Empat langkah...
Tiga langkah...
Dua langkah...
Aura aneh itu makin menguat. Sakura merasa bulukuduknya meremang. Kalau tidak karena penasaran isi buku tersebut, ia tidak akan pernah mau menyentuh buku itu lagi. Tetapi, rasa penasaran itulah pemenangnya. Mau tidak mau, ia harus bisa mengetahui isi buku itu secepatnya.
Selangkah lagi...
Mendadak jantung Sakura berdegub kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, mengalir turun melewati pipi ranumnya, dan menetes begitu saja ketika melewati dagunya. Tangannya berkeringat dan dingin. Tiba-tiba ia merasa ketakutan. Ada apa?
Sakura memberanikan dirinya, meraih tas selempangnya. Ia duduk di pinggir kasurnya sembari memangku tasnya. Perlahan namun pasti, ia menggeser zipper tas selempangnya. Didapatinyalah buku misterius itu.
Di ambilnya buku itu. Ia memperhatikan tulisan di sampul buku yang usang.
'Sejarah Konoha,' kata Sakura di dalam hati. 'Tapi aku merasa, ini bukan buku sejarah biasa, mengingat adanya aura aneh tiap kali aku mendekatinya,'
Bimbang. Di satu sisi, Sakura ingin membuka buku itu. Namun di sisi lainnya, ada diri Sakura yang tidak mengizinkannya membuka buku misterius itu.
Setelah bergulat dengan pikirannya, Sakura memutuskan untuk membuka buku itu. Rasa gugup melanda dirinya. Dengan segenap keberanian, ia memantapkan tekad untuk membuka buku itu.
Begitu lembar pertama dibuka...
"Eh?"
BERSAMBUNG...
Cuap-cuap: Arigatou buat yang sudah review chapter 1 kemarin: HannaTierra, LuthRythm, Kim Geun Hyun, FiiFii Swe-Cho dan Devil's of Kunoichi. Balasan review ada di PM. Silahkan di-cek.
Review-lah, jika kalian penasaran akan isi buku tersebut. Arigatou :3
~~~Ame a.k.a Chou~~~
