Normal Abnormal Days

I own nothing but this fic

.

.

A/N: Kayaknya pada ga nyadar sama kesalahan ane di chap 1 di awal-awal =w=' ayo, ayo, yang tau kesalahannya, ane kasih permen(?)

Enjoy your FanFiction!

.

.

Hening

.

Aomine menatap Akashi yang berada di sofa seberang yang dibatasi dengan sebuah meja kaca lekat-lekat dengan tatapan yang sulit diartikan.

Oh, ini bukan karena Akashi sedang memakai apron berwarna merah muda dan berenda itu.

Akashi memalingkan wajahnya, terlihat semburat merah samar di kedua pipinya.

Kedua mata berwarna gelap Aomine berpindah ke pemuda disebelah Akashi. Rambutnya merah, hanya lebih gelap daripada Akashi. Sekilas, Aomine merasa bahwa pemuda itu mirip dengan dirinya.

Pemuda itu hanya membalas dengan tatapan yang lumayan datar sekaligus bingung.

Terakhir, Aomine menatap anak perempuan tadi yang sedang duduk di pangkuan Kagami. Anak perempuan itu menatap tajam kearah Aomine, jauh dari kata innocent yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak seumurannya.

.

"S-saa! Silahkan menikmati kue ini!" pemuda berambut merah gelap itu memecahkan keheningan dengan menyodorkan sepiring kue jahe ke Aomine.

"Aku buatkan teh." Akashi beranjak dari sofa.

"T-tunggu!" Aomine menghentikan Akashi yang sudah berdiri.

Akashi terhenti, menatap kearah Aomine yang balik menatapnya.

Aomine menatap Akashi dari ujung rambut sampai ujung kaki.

'Astaga, dia terlihat cocok dengan apron itu.'

Namun Aomine langsung menepis pikiran itu.

"Apa?" Tanya Akashi yang risih ditatap oleh Aomine.

"N-nandemonai."

Akashi menuju ke dapur sambil menggulung kedua lengan bajunya sampai siku.

Setelah dirasa Akashi sudah 'menghilang', Aomine menatap pemuda berambut merah gelap itu.

"Dan kau…?" tanyanya.

"Ah, Kagami, Kagami Taiga. Yoroshiku."

"Lalu dia…?" Aomine menunjuk anak perempuan yang duduk di pangkuan Kagami.

"Aoshi." Anak perempuan itu menjawab, singkat, padat dan jelas.

Aomine menaikkan satu alisnya, "Marga?"

"Hm? Bukankah sudah jelas?" jeda, " 'Akashi'."

Aomine menatap Aoshi.

'Berarti dia sudah menikah.' Gumamnya.

"Siapa istrinya?" Tanya Aomine.

Bukannya mendapatkan jawaban, malah diberikan tatapan tajam nan menusuk gratis dari Kagami dan Aoshi.

"Maaf, aku tak punya kewajiban untuk menjawabnya-"

"Tadaima!"

Sebuah suara khas anak kecil terdengar dari arah pintu.

"Are…? Ada sepatu tambahan disini. Ada tamu-kah?"

Suara langkah kaki terdengar mendekat ke ruang tamu.

Dan selanjutnya, menampilkan sosok anak laki-laki berambut merah dan memiliki mata berwarna kuning.

Anak itu mirip Aoshi, dan menurut Aomine, umurnya juga sama. Hanya berbeda warna mata dan warna rambut.

"Akane, kau tau ini sudah malam kan? Kenapa baru pulang? Bukankah sudah kubilang jangan main sampai larut malam." Kagami menceramahi anak laki-laki itu.

"Eeh~ mendokusei..." balasnya.

"Aku juga mengajarkanmu untuk berbicara dengan sopan terhadap orang yang lebih tua." Kata Kagami, sabar.

Dibandingkan dengan Aoshi, Akane benar-benar tidak sopan.

"Ha'i, ha'i. Wakatta...huh?" Akane melihat kearah Aomine.

"Nanda kore!? Tamu ini mirip sekali denganmu, Aoshi!" kata Akane sambil tertawa, "Lihat rambut biru gelap itu! Dan mata biru gelapnya...mirip dengan mata kirimu!"

Terlalu jujur.

"Damare." Balas Aoshi berbahaya.

"Akane...Aoshi..."

Satu suara penuh 'kegelapan' membuat Akane dan Aoshi berjengit. Perlahan, ia menoleh kearah dapur dan menatap Akashi yang sedang membawa nampan berisi segelas teh hangat.

"Aku sudah bilang untuk memperlakukan tamu SEBAIK mungkin, bukan?" kata Akashi penuh penekanan.

"H-ha'i." Balas kedua anak itu.

Akashi hanya menghela napasnya, lalu meletakkan teh tersebut di hadapan Aomine.

"Ngomong-ngomong, Akashi…" Kagami menunjuk kearah Aomine, "Kau kenal dia?"

Akashi melipat kedua tangan didepan dadanya sambil duduk di sofa disamping Kagami, "Ya."

"Sou ka…Temanmu?" Tanya Kagami, lagi.

Akashi terdiam menatap Aomine.

Menghela napas sambil memejamkan kedua matanya, "Kurasa."

.

Hening.

.

Aomine menyeruput teh-nya sampai habis.

"Ah, aku membawa ini." Aomine mengeluarkan coklat yang baru ia beli, "Aku tidak suka makanan manis, jadi…"

"Daiki, bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka makanan ma-"

"Wuoh! Sugooooii! Bentuknya unik!" Akane menyambar kotak coklat tersebut.

"Ak-aku…ingin mencobanya." Kata Aoshi agak malu-malu.

Kedua anak itu menatap Aomine, seakan meminta ijin untuk memakan coklat yang dibawa Aomine.

"E-eh? Kalian boleh memilikinya kok." Balas Aomine agak canggung.

Kedua anak itu berganti menatap Akashi.

Yang ditatap menghela napasnya.

"Baiklah. Tapi jangan lupa menggosok gigi kalian."

Mata kedua anak itu berbinar.

"Yattaaaa!" Akane membawa coklat tersebut, "Oi, Aoshi! Ayo makan di kamar!" berlari menuju kamar.

Aoshi turun dari pangkuan Kagami dan menyusul Akane.

Tanpa sadar, Aomine tersenyum.

"Aku akan berbicara denganmu di lain waktu."

Akashi beranjak dari sofanya.

"Pulanglah. Semakin gelap, semakin dingin."

.

.

Normal Abnormal Days

.

.

"Kau mengusirnya?"

Akashi menengadah, menatap pemuda besar yang berbaring di kasurnya.

Kemudian Akashi mengalihkan pandangannya kearah Akane dan Aoshi yang kini sudah tertidur diantara Akashi dan Kagami.

Kepalanya bertumpu pada tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengusap rambut Akane.

"Tidak." Balas Akashi.

.

Hening.

.

"Siapa sebenarnya laki-laki itu?" Tanya Kagami.

Akashi tidak langsung menjawab, tangannya masih mengusap rambut Akane.

.

"Masih ingat, tentang seorang laki-laki yang menyebabkanku memiliki 2 anak ini yang dulu pernah kuberitau?" Akashi berbicara dengan ringan, meski sebenarnya ia tak mau mengingat kejadian itu.

.

Kedua mata Kagami terbelalak, "Jangan-jangan…"

Akashi memposisikan dirinya untuk tidur sambil memeluk Akane.

"Mmm…kau bisa bilang, kalau dia adalah 'ayah' dari mereka."

Akashi menutup kedua matanya.

.

.

Normal Abnormal Days

.

.

"Jadi, Aominecchi…" Kise menunjuk Aomine yang sedang duduk di hadapannya dengan sumpitnya, "Sudah bertemu dengan Akashicchi?"

Satu pertanyaan yang membuat Aomine tersedak. Ia menepuk-nepuk punggungnya dan berusaha menenangkan diri.

"K-kenapa kau bertanya?"

Kise menyeruput ramennya.

"Hm?" Kise menatap Aomine, "Anggap saja aku sudah mengetahui sesuatu yang terjadi diantara kalian."

Oh, sungguh…rasanya Aomine benar-benar ingin mati saja.

"Tenang saja, semuanya sudah tau kok; Momoicchi, Kurokocchi, Midorimacchi, Murasakibaracchi…" Kise meminum segelas jeruk hangat-nya.

Tenang!? Bagaimana ia bisa tenang!?

"Ah…sou ka…apa Akashi yang memberitaumu? Atau Murasakibara?" Tanya Aomine.

Kise menggeleng, "Mmm…ini hanya analisa dari Momoicchi, lalu ia memberitaukannya kepada kami." Jeda, "Tapi tampaknya Murasakibaracchi sudah mengetahuinya duluan, makanya dia tidak terlihat kaget." Memainkan sumpitnya, "Dan logikanya, respon dari Murasakibaracchi itu adalah sebuah tanda bahwa analisa dari Momoicchi itu benar."

"Err...uh...sejauh mana kau mengetahuinya?"

Kise memutar kedua bola matanya, "Ayolah, Aominecchi…ini masalah pribadi kan? Kau ini bodoh atau apa?"

Aomine mengernyit, "Maksudnya?"

"Kau ingin aku memberitahukannya padamu di tempat umum seperti kantin kampus ini!? Apa urat malu-mu sudah putus, Aominecchi!?" Kise yang ntah kenapa sangat marah, berusaha untuk tidak berteriak.

Aomine jadi kaget sendiri.

"E-eh...m-maaf."

"Hmph!" Kise bangun dari tempat duduknya, "Aku duluan!"

Kise pun meninggalkan Aomine sendirian di kantin kampus.

.

.

Normal Abnormal Days

.

.

"Sebenarnya, aku sendiri juga bisa loh."

Kagami hanya nyengir kearahnya.

"Lihat, kau jadi berdiri kan..."

"Mau bagaimana lagi? Bus umum ini ternyata lumayan ramai."

Akashi yang sedang memangku Akane dan Aoshi itu melihat ke sekeliling untuk mencari tempat duduk kosong. Namun yang terlihat hanya 'lautan' manusia.

"Mau duduk di tempatku?" tawar Akashi.

Kagami menggelengkan kepalanya, "Nah, daijobu da yo. Aku cukup kuat berdiri lama-lama."

"Tapi bukankah barang belanjaan tadi sangat banyak dan berat?" Akashi menunjuk 2 kresek besar dan berat yang dipegang oleh satu tangan Kagami.

"Ini nggak akan membunuhku, Akashi." Jawab Kagami sambil tertawa kecil.

Bus pun berhenti, beberapa orang keluar. Namun tidak mengurangi kesesakan didalam bus tersebut.

Akashi melihat ada seorang nenek yang berdiri didepannya, langsung saja ia berdiri dan menawarkan tempat duduknya kepada nenek itu.

Nenek itu pun mengucapkan terima kasih kepada Akashi, dan dibalas dengan anggukan dan senyum dari Akashi.

.

"Pa, aku mau liat pemandangan dari pintu itu." Aoshi yang sedang digendong oleh Kagami menunjuk pintu keluar yang agak jauh didepan mereka.

"Baiklah, baiklah." Kagami menatap kearah Akashi, "Aku kesana dulu"

Akashi mengangguk, Kagami dan Aoshi pun pergi.

"Kau tidak ikut?" tanya Akashi kepada Akane yang ada di gendongannya.

"Ga mau, mendokusei." Balas Akane.

Akashi menarik hidung Akane pelan, "Sudah kubilang untuk berbicara dengan sopan-"

Akashi berjengit ketika ia merasakan sebuah tangan besar menyentuh tubuh belakang bagian bawahnya.

Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Chikan? Kenapa disaat begini?

"Ma?" Akane menatap wajah Akashi yang agak gelisah itu, "Doushite?"

"Ah, ng-nggak-" kata-kata Akashi terputus saat ia merasakan tangan itu mengusap sambil sesekali meremas tubuh belakang bagian bawahnya.

Reflek, ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Kedua matanya terbelalak. Keringat mulai bermunculan dan nafasnya tidak beraturan.

"Wajah mama pucat, mama juga berkeringat. Mama mau muntah?" Tanya Akane, bingung.

Tidak. Akashi tidak bisa memberitahukan ini kepada Akane. Akane masih terlalu kecil untuk mengetahui hal seperti ini.

Akashi mengumpulkan semua kesadarannya, kemudian membuang napas berat.

Akashi menurunkan Akane, "Pergilah ke tempat Taiga. Sekarang. Dan jangan kembali. Kau mengerti?"

Akane yang bingung hanya menuruti perkataan Akashi. Setelah ia mengangguk, Akane mencoba menorobos 'lautan' manusia itu dan pergi ke tempat Kagami.

Akashi sedikit lega, namun itu tak berlangsung lama—

"Oh? Rupanya kau sedikit istimewa ya?" Chikan itu berbisik di telinga kanan Akashi.

Membuat Akashi gemetar.

"Mpreg, eh?" –tertawa kecil, "Sepertinya aku benar-benar beruntung."

Merasa bahwa ini pertanda bahaya, Akashi bergeser ke depan, sekedar untuk menjauhi si Chikan.

Namun bus-nya benar-benar penuh, ia bahkan tak bisa bergeser satu inci-pun.

Sial! Chikan itu memanfaatkan situasi ini untuk melakukan aksinya.

Akashi mengepalkan tangannya. Tidak. Tidak mungkin ia berteriak dan menarik perhatian orang banyak hanya karena tangan pervert ini menyentuh tubuh bagian belakangnya, bukan? Itu sangat memalukan.

.

Akashi melenguh saat tangan kanan besar Chikan itu merayap masuk kedalam baju Akashi, kemudian memanjakan 2 titik di kirinya ia gunakan untuk menyentuh tubuh bawah bagian depan Akashi.

Kedua bahu Akashi gemetar ketika Chikan itu menarik pinggang Akashi mendekat padanya. Akashi bisa merasakan kejantanan Chikan itu menyentuh tubuh belakang bagian bawahnya.

Akashi menggigit bibir bawahnya. Kedua mata heterochrome itu melebar. Ia menutup mulutnya untuk menahan suara-suara aneh yang bisa keluar dari mulutnya kapan saja.

.

Ini terulang lagi.

Benci. Akashi sangat membenci dirinya yang helpless.

Akashi menurunkan tangan kirinya, ntah mencoba menyingkirkan tangan pervert yang tengah memainkan miliknya yang masih terbungkus celana jeans panjang atau mencegah supaya tidak ada yang melihat pemandangan memalukan ini.

Dan Chikan itu tampak menikmatinya. Terbukti saat Akashi mendengar tawa kecil dari belakang.

.

Ketakutan Akashi makin memuncak ketika tangan besar itu mulai menurunkan resleting celana jeans Akashi.

Stop.

Stop.

Jangan!

Akashi terus berteriak dalam hatinya. Ia memejamkan kedua matanya sambil menunduk. Bibir bawahnya ia gigit semakin keras. Wajahnya memerah karena malu. Tangan kiri Akashi berusaha menyingkirkan tangan pervert itu. Setidaknya, ia melakukan perlawanan meski hanya sedikit.

Namun Chikan tersebut tidak menyerah. Ia menggigit bagian atas telinga Akashi.

"Nnh…" –membuat pemuda itu mengeluarkan desahan tertahan.

Tasukette.

Dareka, tasukette…

Air mata berhasil lolos dari kedua mata heterochrome Akashi.

.

"Paman…"—seseorang menyentuh pundak Chikan.

Berhenti.

Tangan pervert itu berhenti.

Akashi sedikit menoleh, sekedar untuk mengetahui apa yang membuat tangan-tangan besar dan mesum itu berhenti.

"Taiga…"

"Maaf mengganggu 'percakapan'mu dengan Akashi." Kagami melemparkan senyum kearah si Chikan, "Tapi kita berdua harus segera turun dari sini."

.

.

TBC

.

.

Ga nyangka bakal naik ratingnya -_- *baca ulang*

Jadi malu sendiri #orz

.

Btw, buat yang belum tau, Chikan itu bahasa Jepang, singkatnya 'Penjahat seks'. Ini lumayan sering ditemui di kereta atau bus yang penuh. Cari-cari kesempatan dalam kesempitan gitu lah.

.

Ane pake tema ini gegara terinspirasi dari manga 'Juvenille ReMix' vol.1 (ada yang tau?). Disitu ada Chikannya =w= terus ane terapin ke fic ini. Semoga suka #bows.

.

RnR?