Qtalita zahra Back

.

.

Wonkyu As Chef

.

.

Enjoy

.

.

"Ini aneh.."

"Apa? Kau kabur dari rumah?"

"Biarkan aku bekerja disini, please.."

SUPER CHEF

Kangin menggulung selimutnya ketika ia bangkit duduk dan bersandar di kepala ranjang, tubuhnya yang melemah akibat serangan meningitis tidak menyurutkan semangatnya untuk terus membangun cafe mereka.

Aku tersenyum ke arahnya yang menarik nafas pelan.

"Sebaiknya kau istirahat saja" Lirihku, Kangin menggeleng,

"Ingatanku sudah mulai melemah"

Aku mendesah, Kangin adalah sesosok namja yang keras kepala dan tidak kenal menyerah, aku tahu ini akan terjadi, disaat ia rela mencariku hingga ke pelosok negeri hanya untuk sebuah 'ingatan'.

"Kita bisa memulainya besok" aku kembali mencoba membujuk kangin yang sepertinya begitu lemah.

"Tidak, tak ada lagi hari esok"

Aku tertegun, ku genggam tangan pucatnya.

"Pasti ada" Bisikku mengikuti arah pandangannya yang menerawang jauh melalui jendela, melewati cahaya emas menyilaukan, dan liukan angin..

...

Musim Gugur,

Seoul,

Malam hari,

6 Tahun Silam.

Bocah itu terjatuh lagi setelah berlari hampir 2 Kilometer tanpa berhenti, lututnya memerah perih, tergesek jalanan beraspal, ia merutuki dirinya sendiri akibat tidak mengenakan celana yang lebih panjang lagi, ia juga kembali mengeluh sendiri dengan mata mawas sambil mengemasi pakaiannya yang terhambur dari ransel hitamnya yang tidak tertutup rapat.

Dengan tertatih ia bersandar di dinding sebuah bangunan tua di sisi trotoar jalan raya, lelah dan kelaparan. Bocah namja itu menyeka bulir keringat yang berbentuk bintik-bintik kecil di dahinya, nafasnya bergerak cepat, matanya masih mampu menangkap beberapa orang berseragam hitam tengah mencarinya beberapa meter dari tempatnya bersembunyi.

Ia pasrah, ketika salah satu dari mereka mendekat, sedikit curiga. Namun kepasrahannya berujung keberuntungan kala ia merasa lengannya ditarik seseorang hingga menjauh dari 'kawanan' berseragam tadi.

"Yak!"

"Sssttt"

Bocah itu nyaris berteriak karena terkejut andai saja mulutnya tidak dibekap kuat.

"jangan berisik, mereka masih disana"

Setelah suasana menjadi aman, sosok penyelamat itu membawanya ke dalam sebuah gang yang berujung pintu kecil ke sebuah ruangan.

"Masuklah"

"..."

"Eum, siapa namamu?"

Bocah yang sedari tadi menunduk akhirnya mendongak, lalu berbicara dengan suara bergetar.

"Siwon"

"Aku Kangin"

Siwon menerima uluran tangan besar namja di depannya, sedikit menakutkan namun ketika ia tersenyum semua bisa tahu jika namja di depannya ini cukup bijaksana.

Trak.

Lampu diruangan itu menyala, Siwon berkedip sesaat, sosok namja lain muncul dibalik balutan piyama putih.

"Siapa itu yeobo?"

Siwon membulatkan matanya menatap bergantian dua namja di depannya.

"Ah, maaf, kami.."

"Arraseo, aku mengerti"

Siwon tersenyum memaklumi, negaranya termasuk negara bebas, bukan hal yang besar jika kalian akan bertemu dua pasang yang sebenarnya tidak bisa dikatakan 'sepasang' berada dalam ikatan pernikahan, itu hal wajar disini.

"Lalu Siwon, bisa kau jelaskan kenapa kau dikejar orang-orang itu?" Kangin menarik kursi ke hadapan Siwon, Disusul namja lainnya. Siwon bergerak tidak nyaman di kursinya, ia sedikit bingung, haruskan ia jujur atau berbohong?

"Tunggu, kau bukannya Choi Siwon? Anak pengusaha sukses Choi Kiho?"

Siwon nyaris saja memilih opsi kedua untuk berbohong andai suara namja berpiyama itu tidak mendahuluinya.

"Mwo?" Kali ini disusul erangan Kangin. Siwon tidak punya pilihan lain selain membungkuk meminta maaf.

"Mianhe.. Jeoungmal mianhe.. aku mohon ijinkan aku bersembunyi disini.. aku mohon"

Leeteuk mengangkat bahu Siwon agar menatapnya, wajah letih dengan mata sayu memerah menahan tangis nampak membias di depannya. Leeteuk tersenyum hangat.

"kau bisa tinggal sesukamu, hanya saja, bisakah kau menceritakan semuanya?"

Kangin hendak protes namun senyuman Leeteuk menahannya, Siwon memperbaiki posisinya sebelum memulai cerita.

...

Aku meletakkan beberapa buku menu di sudut meja order di dekat kasir, serta memperbaiki tata letak sofa hijau ketika pintu gudang terbuka, Sedikit terkejut karena sosok namja asing keluar dari sana, namja dengan pakaian sedikit kotor dan lusuh.

"Ah! Annyeonghaseyo, Mianhe, apa aku mengagetkanmu?"

Aku masih berdiri terpaku, melirik tangga berharap Teukie muncul dari sana.

Drap drap drap

Syukurlah keinginanku itu terkabul. Kangin dan istrinya tersenyum padaku.

"Dia Choi Siwon, untuk sementara anak ini akan tinggal dan bekerja di tempat ini"

Dahiku mengernyit, cafe kecil ini sudah terlalu sesak, kurang apa lagi 8 namja dan 1 yeoja di tempat ini, meskipun aku secara sistem tidak menetap disini, tapi pada siang hari cafe ini sudah tampak penuh bahkan tanpa pengunjung sekalipun. dan jangan lupa 1 namja muda yang baru bekerja 3 hari, namja yang menurutku lebih banyak merepotkan dibanding membantu kami. Lalu kini kami akan bertambah 1 namja lagi? Namja bertubuh lumayan besar yang otomatis mengurasi pasokan oksigen kami? Ya Tuhan..

"Paling tidak ia bermarga Choi" Kangin menambah.

Aku mendesah, Tunggu! Choi?

"Ne, Marga Choi, anak Choi Kiho, pengusaha sukses dan seorang Chef hebat, Aku yakin di tanganmu ia kan menjadi sehebat Appanya

"Tunggu, kalian berharap anak ini akan membuatkan kalian beraneka macam makanan? Dan aku yakin appanya akan membunuh kita jika ia tahu anak satu-satunya berada disini, kembalikan saja dia!" Protesku. Aku sudah cukup tertekan dengan 1 namja muda dan kini akan bertambah? Oh Tidak!

"Aku mohon.. ijinkan aku tinggal disini, aku ingin membuktikan pada appa jika diriku masih berguna, aku mohoonn" Ratap namja bernama Siwon itu memelas, Aku mengacak rambut pendekku. Lalu menyumpahi diri sendiri karena telah mengangguk mengiyakan keinginan bocah yang baru kutemui itu.

Cklek..

"Hoahhhhmmmmm.."

Aku memejamkan mataku, 'makhluk' itu sudah terbangun rupanya.

"Selamat pagi Kyunnie chagi.."Teukie menyapa makhluk yang menyerupai pikachu itu riang, sementara aku melirik Kangin yang sama riangnya.

"Hhh, biasakan dirimu Siwon" Bisikku melewati namja berdimple itu. Ingin bersembunyi di balik meja kasir.

"Nooonaaaaaa..."

Sayang sekali terlambat. Bocah kecil berpipi gempal itu sudah berlari kearahku, bergelayut manja di lengan kananku, Tidak! Aku tidak pernah risih dengan kelakuannya, hanya saja..

"Ya Tuhan Kyuhyun, kau sudah besar sekarang, berhentilah bergelayut padaku, Ahra pasti akan mencincangku jika tahu adiknya kusentuh seperti ini"

...Ya aku sangat takut dengan Ahra, Kyuhyun's Noona, sahabatku.

Kyuut.. Kyuut..Kyuutt..

Kyuhyun tidak mendengarkan, ia bahkan masih asyik menggosok pipi gempalnya dilenganku, nyaris melebihi seekor kucing.

"Huh?"

Gerakan Kyuhyun terhenti, ia menatap Siwon dengan mata bulat dan kepala miring.

"nugu?" Tunjuknya tepat di depan hidung Siwon, Siwon mundur selangkah.

"Ah, Kyunnie chagi, perkenalkan, dia Choi Siwon, chef baru kita, kau bisa memanggilnya dengan sebutan 'Siwon hyung' arra?"

Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jemarinya di depan dagu. Sedang berfikir

"Siwon hyung?"

Siwon mengangguk, jujur saja, tangannya sudah sangat tidak sabar ingin mencubit pipi gempal di depannya, hanya saja ia tidak ingin Kyuhyun takut padanya lalu tidak ingin lagi berada di dekatnya.

"Annyeong Siwon Hyung, Naega Cho Kyuhyun, chef disini"

Mata Siwon membulat.

"D-dia Chef?" Tanyanya.

Aku mengangguk.

Kangin mengangguk.

Teuki tersenyum.

"Salah satu chef terbaik kami"

Siwon menatap Kyuhyun intens, namja kecil, imut dan menggemaskan itu adalah Chef? Kyuhyun sendiri sudah berlalu, mata bulatnya lebih terpesona pada beberapa sajian untuk sarapan di atas meja.

"Jangan menganggapnya remeh Siwon-ssi, intuisinya pada makanan akan membuatmu takjub berpuluh kali lipat" Ujarku.

Siwon mengangguk-angguk mengerti, pandangannya masih terpusat dengan kyuhyun yang melahap Omelette dengan mata terpejam lalu tersenyum senang.

"Ia hanya salah satu, kau akan bertemu dengan lainnya sebentar lagi"

...

Kyuhyun melompat-lompat tidak sabaran di depan Teukie, sementara Siwon membereskan beberapa meja di bagian depan, sesekali ia menepuk pahanya yang terkena debu, aku beranjak dari meja kasir, membuka lemari geser di balik pintu gudang.

"Siwon"

Namja berdimple itu berbalik, berjalan cepat ke arahku yang menyerahkan sebuah pakaian putih dan apron.

"Ini pakaian kami disini, untuk sementara kau bisa menggunakannya"

Mata Siwon berbinar senang, ia melirik teukie yang tersenyum padanya, melirik Kyuhyun yang memiringkan kepalanya lalu kembali menatapku.

"pakailah, kau mau bekerja disini bukan?"

Siwon mengangguk cepat, ia membungkuk di depanku.

"Gomawo"

...

Siwon memperbaiki pakaian serba putihnya sebelum kembali memperhatikan 8 namja di depannya, setelah Kangin menjelaskan jika mereka memiliki Chef 'lainnya' dan itu cukup banyak, Siwon mempersiapkan dirinya, berharap ia akan diterima layaknya kangin dan Leeteuk membuka lengan untuk dirinya.

"Jadi kau seorang Choi?" Salah satu namja bergigi kelinci meletakkan mug bergambar beruang, isinya telah tandas setengah. Sementara namja lainnya dengan rambut berwarna terang mengernyitkan dahinya.

"Ne, Mianhe jika.."

"Stop!" Satu namja yang sedari tadi menyuapi Kyuhyun berbagai makanan kni berdiri di depanku.

"Teukie hyung? Kau yakin akan memasukkan namja ini, eum siapa namamu?" Namja bertubuh pendek dan berwajah kekanakan itu menunjuk hidung Siwon.

"Siwon, Choi Siwon"

"Ya, Siwon Ah jangan menyebut margamu disini, itu menyeramkan. Eum Okay, Teukie hyung kau akan memasukkan Siwon ini bersama kami?"

Siwon memandangi Leeteuk yang kini menjadi sorotan semua namja di ruangan itu. Namja lembut itu mengangkat bahunya.

"Chef adalah keluarga, dan Siwon.."

"Dia bukan seorang Chef, kita bahkan belum tahu apa dia bisa memasak atau tidak" Seseorang bertubuh gempal duduk di samping Kyuhyun, menyodorkan bermacam-macam salad. Siwon bergidik ngeri, tubuh Kyuhyun betul-betul disodorkan berbagai makanan sejak ia berada di 'penghakiman' saat pagi menjelang siang ini.

Leeteuk tersenyum. Ia menangkap raut khawatir di wajah Siwon.

"Tenanglah Siwon" Bisikku yang kebetulan melintas di belakang namja itu dengan sekeranjang kubis.

"Bagaimana kalau kita menyuruh Siwon hyung memasak makan siang untuk kita?" Namja lain menepuk bahu Siwon, namja imut yang mungkin hampir seumuran dengan Kyuhyun.

"Setuju" teriak si Gummy smile. Si namja bertubuh Kurus yang beberapa menit ini hanya berputar-putar di balik penggorengan.

Aku tersenyum. Seleksi yang menguntungkan bagi setiap Chef, sama seperti saat Yesung yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi meminta untuk bekerja disini, 3 hari berturut-turut kami tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Yesung dengan sigap menggantikan tugas kami, demi mendapat posisi 'chef'.

"Bagaimana?" Kangin melirik padaku, membuat semua pandangan tertuju ke posisiku yang tengah mencuci lobak dan beberapa wortel.

"Huh? Untuk meyakinkan? Kenapa tidak"

Dan terdengar sorakan di ruangan berukuran lapang ini, beberapa saling memeluk, sedikit berlebihan.

"Tapi sebelum itu, kau harus tahu siapa kami"

...

"Tambahan mayonaise di meja 8!"

"Aye..ayee.."

"Frappecino ukuran sedang dengan tambahan whipped cream 0,35 gram. Ya Tuhan.."

"Sandwich tuna with fettucini"

Siwon hanya memandangi beberapa chef sibuk hilir mudik di depannya, Kangin dan Leeteuk bahkan seperti orang yang tidak saling kenal, sibuk dengan urusan masing-masing, lalu Yesung yang serius mengiris tuna menjadi lembaran yang cukup tipis namun empuk saat digigit. Shindong, namja gempal bersama Donghae si kekanakan masih beradu argumen dengan ukuran Whipped creamnya, ryeowook a.k.a Wookie masih berkutat dengan pie berukuran mini yang baru saja keluar dari pemanggangan dibantu oleh Eunhyuk a.k.a hyukkie yang setia mencomot strawberry.

"Ingin segera bergabung?" Sindirku dengan ransel di punggung dan sepasang sepatu di tangan kiriku.

"Kalian tidak memiliki waitres?"

Aku terkekeh, mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe.

"Kami bukan restaurant sekaliber milik ayahmu Siwon"

Siwon menunduk.

"Tapi aku akan sangat bangga jika aku bisa bekerja di tempat ini"

"Ucapkan itu setelah makan siang tersedia"

Siwon terkekeh kecil, ia mengikutiku ke sudut cafe dimana seorang namja tengah duduk dengan bermain PSP.

"Kyunnie, kajja saatnya kau ke sekolah"

Siwon memperhatikanku yang dengan telaten memasangkan sepatu dan melampirkan ransel di punggung Kyuhyun, memperbaiki rambut ikalnya, lalu menepuk-nepuk pipinya yang dihadiahi senyuman namja Cho itu.

"Gomawo Noona.." Ucapnya tulus. Aku melirik ke arah Siwon.

"Siap dengan tugas pertamamu Siwon?"

...

Siwon mengayuh sepeda milik Hyukkie dengan kecepatan sedang, ia mengenakan masker di hidungnya dan sebuah topi guna menutupi jati dirinya jika saja orang suruhan appanya masih berkeliaran di sekitar kota.

"Hyung.. lebih cepat sedikit, Kyunnie sudah terlambat" Kyuhyun menarik-narik perut Siwon yang sedari tadi ia peluk, membuat Siwon ingin tersedak.

"Yak! Jangan menarik-narik perut hyung, sakit"

Siwon mengayuh sepedanya lebih cepat, Kyuhyun semakin memeluk erat perut Siwon, wajahnya ia telusupkan di punggung lebar Siwon.

"hangaaaaattt"

Siwon tersenyum, Kyuhyun begitu polos untuk ukuran seorang namja remaja. Ia sudah mendengar sedikit cerita tentang Kyuhyun dari Leeteuk, tentang bagaimana kecelakaan pesawat merenggut nyawa orang tuanya yang juga seorang Chef. Lalu bagaimana Ahra, kakaknya menitipkan Kyuhyun di cafe mereka, sementara ia melenglang buana ke seluruh dunia dengan desain pakaiannya, demi memenuhi kebutuhan adiknya.

"Sudah sampai Kyunnie"

Kyuhyun turun dari sepeda, ia tersenyum pada Siwon.

"Gomawo hyungie, jangan lupa jemput Kyu, Arra" Titahnya, Siwon bisa apa jika disuguhi pemandangan menakjubkan seperti sekarang ini, ia hanya mengangguk dan mencubit ringan pipi Kyuhyun.

"Arrasseo Kyunnie"

Kyuhyun berjinjit, mengecup pipi Siwon.

"Pai.. Pai.."

Siwon membeku di atas sepedanya, ia mengelus bekas kecupan Kyuhyun di pipi kirinya, masih terasa hangat, dan apa itu? jantungnya berdegup 2 kali lipat dari biasanya.

Siwon tersenyum.

"Sepertinya pekerjaan ini jauh lebih menyenangkan.. Hhhhhh tidak sabar"

Siwon mengayuh sepedanya, menjauh dari gerbang sekolah Kyuhyun dengan senyum lebar dan bersiul senang.

TBC

Eaaaaaa.. fic ini baru muncul lagi setelah tenggelam lama, hayoo siapa yang masih nungguin? Ff ini ditulis dengan waktu yang singkat banget, heheheh

Semoga sesuai dengan keinginan readers, daaaannn tergantung readers ini dilanjut apa g heheheh

LOVE

QAI_