Chapter 2

SAKURA'S LOVE STORY

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Sabaku no Gaara,

Shimura Sai, Uzumaki Naruto, Madara Uchiha, Hatake Kakashi, yang lain menyusul.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC,

===========ITADAKIMASU==========

Seorang laki-laki berpakaian stylist dengan memakai jaket sport berwarna merah hitam dan celana jeans tengah duduk di samping kakek Madara yang sedang berbaring di ranjang pasien. Rambut hitamnya ia tata rapi dan ia biarkan rambutnya jigrak ke atas seperti model pantat ayam. Menunjukan kesan mempesona dari laki-laki itu. Laki-laki keturunan ke dua, cucu dari kakek Madara. Dialah Sasuke Uchiha. Sosok yang terkenal karena ketampanannya yang bisa dibilang di atas rata-rata. Sangat berwibawa, disebut-sebut sebagai calon penerus Uchiha Group. Uang bukanlah masalah dalam hidupnya. Apapun yang ia inginkan akan sangat dengan mudah ia dapatkan.

Sasuke tinggal dengan kakek, nenek, dan ibunya. Ayah Sasuke sudah meninggal dalam kecelakaan tunggal beberapa tahun lalu. Sejak kecil, Sasuke dididik sebagai seorang entrepreneur. Hari-harinya penuh dengan belajar, belajar, dan belajar. Bukan hanya pelajaran umum saja, Sasuke bahkan sudah bisa memahami apa dan bagaimana bisnis itu sejak sekolah menengah pertama. Dia bahkan sudah ikut andil dalam permainan saham di Uchiha Group. Sasuke itu bisa dikategorikan sebagai salah seorang yang memiliki otak jenius.

Banyak orang yang menganggapnya sebagai anak yang luar biasa. Tapi tidak bagi Sasuke, statusnya dan keluarganya membuatnya menjadi sosok yang dingin, ngirit bicara, dan jarang memiliki teman. Ia tidak pernah lepas dari pengawal pribadinya yang ia anggap sebagai satu-satunya teman yang selalu ada untuknya. Dia adalah Nara Shikamaru. Selain sebagai pengawal pribadi Sasuke, Shikamaru juga bertugas menyiapkan segala sesuatu yang Sasuke perlukan. Mulai dari menyetir mobil, mengantar kemana saja Sasuke ingin pergi, mengawasi perkembangan Sasuke, dan masih banyak lagi. Demi pekerjaannya itu, keluarga Madara memberi beasiswa pada Shikamaru untuk kuliah satu kelas dengan Sasuke. Tentu saja hal itu karena demi menjaga Sasuke. Meski saat berpergian selalu ditemani banyak pengawal, tapi hanya Shikamarulah yang selalu bisa ada di samping Sasuke. Jujur saja Sasuke kesal dengan banyaknya pengawal yang kakek Madara suruh untuk mengawalnya, tapi mau bagaimana lagi ia terpaksa menerimanya.

"Kakek sudah putuskan, kau harus segera mencari pendamping hidup!" Kata Kakek Madara.

"Kek, apa tidak terlalu dini membicarakan pernikahanku? Aku masih kuliah. Usiaku baru akan menginjak 21 tahun. Apa itu tidak terlalu muda untukku?" Sasuke mencoba menolak halus permintaan kakek kesayangannya.

"Itu sudah sah untuk menikah dalam undang-undang negara, Sasuke"

"Aku belum memiliki seseorang yang ingin kujadikan sebagai pendamping, Kek.."

"Kakek sendiri yang akan mencarikannya untukmu…"

"Kakek boleh memintaku melakukan apapun yang kakek inginkan, tapi untuk satu ini biarkan aku sendiri yang memutuskan.."

"Kakek sudah memiliki calon untukmu.."

"…"

"Kakek yakin dia cocok untukmu. Dia gadis yang sangat baik.. Dia tinggi, cantik, dan ramah. Kau pasti akan menyukainya…"

"…"

"Dia menyelamatkan nyawa kakek dengan darahnya…"

"Apa hanya dari hal itu kakek menjadikannya kualifikasi untuk menjadi pendampingku? Dia orang asing yang tiba-tiba saja menolong kakek. Apa kakek tidak curiga dengannya? Mungkin saja itu jebakan dari bawahan kakek yang sudah lama ingin meruntuhkan kakek? Dunia bisnis itu kejam, sesuai dengan yang kakek katakan padaku.."

"Kakek sudah mencaritahu semua hal tentangnya. Kakek sudah tahu segala sesuatu tentangnya…"

"Haaah.. Selalu saja begitu. Memanfaatkan kekuasaan.."

Kakek Madara tersenyum menanggapi komentar Sasuke. Saat ini bukan waktunya ia bercanda dengan cucu kesayangannya itu. Ia harus bisa membuat Sasuke berjalan di jalan yang seharusnya. Jalan yang terbaik untuk Sasuke. Setidaknya sebagai seorang kakek, ia tidak mau cucu kebanggaannya itu salah jalan.

"Kakek tidak bisa selamanya memimpin Uchiha Group. Suatu saat kau akan menggantikan kakek. Kau sudah tahu bagaimana kejamnya dunia bisnis. Banyak dari bawahan kakek yang ingin menghancurkan kakek. Ingin mengambil alih Uchiha Group yang dari nol kakek bangun… Ada masanya dimana kakek tidak bisa mendampingimu memimpin Uchiha Group. Jadi kau harus memiliki pendamping! Karena dengan memiliki pendamping, kau akan lebih kuat menghadapi kejamnya ujian hidupmu.."

"Kek, pengganti kakek bukan hanya aku saja. Masih ada yang lain.."

"SASUKE!" Bentak Kakek Madara tidak suka.

"…."

"Cucu kakek hanya satu, yaitu kamu. Tidak ada yang lain!"

"Bagaimanapun di darahnya mengalir darah Uchiha! Itu tidak bisa dipungkiri, Kek!"

"Kita sudah berjanji untuk tidak membahasnya.."

"…." Sasuke hanya terdiam tanpa ekpresi. Jika sudah begini kakek Madara pasti akan mencoba mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, kakek Madara selalu memiliki cara untuk menang dari cucu kesayangannya itu.

"Hah, apa salah kakek yang sudah tua renta ini meminta pada cucu kesayangannya?" Kakek Madara mulai mengeluarkan jurus andalannya. Sasuke kembali terdiam. Meski begitu ia memikirkan permintaan kakeknya.

"Aku pergi ke kampus dulu. Kakek istirahat saja..!" Pamit Sasuke.

"Cih, anak itu… Sangat mirip denganku.."

Sasuke berangkat menuju kampusnya bersama dengan pengawal pribadinya, Shikamaru. Hari ini ia mendapatkan jadwal siang, jadi ia bisa sedikit lebih santai. Sejujurnya ia cukup terbebani dengan permintaan kakeknya. Meski begitu, sedikitpun tidak mempengaruhi konsentrasi belajarnya. Tidak bisa diragukan lagi kejeniusan otaknya itu. Ia buktikan dengan menyelesaikan dengan baik setiap tugas yang dosen berikan padanya.

Sasuke mengambil jurusan bisnis. Meski ia termasuk dalam fakultas ekonomi, tapi karena dia adalah cucu pemilik kampus jadi ia kuliah sedikit istimewa dibandingkan dengan mahasiswa lain di kampusnya. Kuliah sudah seperti les privat baginya. Di kelasnya hanya berisi mahasiswa dari kalangan pengusaha besar saja. Bukan dari sembarangan orang dan sudah pasti background keluarganya adalah orang kaya. Lebih dari itu, selain memiliki kelas sendiri, kelasnyapun berada dalam satu gedung yang terpisah dari mahasiswa lain. Kelasnya sangat mewah, menggunakan kursi empuk layaknya kursi direktur perusahaan dengan meja yang disetting sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan seperti kantor pribadi. Selain itu, gedung istimewa itu juga dilengkapi dengan fasilitas super canggih. Laptop tiap bangku, elevator, WiFi super cepat, absensi sidik jari, dan masih banyak lagi.

"Astaga, kenapa jalan menuju toilet sangat sepi? Huh, menakutkan sekali kampus ini jika sepi. Benar-benar menyeramkan. Tahu akan seperti ini, harusnya tadi menerima tawaran Bebek untuk menemaniku.." Batin Sakura merutuki kecerobohannya. Ia berjalan menuju toilet kampusnya. Saat itu hari sedang hujan, langit sangat gelap. Suasana di kampuspun juga ikut gelap, bahkan terasa sepi. Mungkin karena hari sudah mulai sore, sudah tidak begitu banyak mahasiswa yang masih kuliah.

Saat Sakura hampir sampai di toilet, langkahnya terhenti di depan salah satu lab bahasa Inggris. Ia mendengar suara orang tengah berbincang samar-samar. Pertama, dengan konyolnya ia menyangka itu adalah suara bisikan hantu. Karena penasaran ia mencoba mendekat ke arah suara yang ia dengar. Ia berdiri di balik pintu lab bahasa inggris. Sakura kesal dengan cuaca yang gelap karena membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas wajah dua orang yang membuatnya penasaran.

"Kita jarang sekali berada di lab ini, bukankah di gedung kita memiliki lab bahasa yang jauh lebih baik daripada lab di sini?" Kata seorang cewek dengan lembut.

"Aku menyukainya. Dari lab ini, aku bisa melihat taman kampus kita.." Kata seorang cowok, Sasuke.

"Ishh, ku kira kau tidak sempat memikirkan hal kecil seperti ini.."

… "Ino, menikahlah denganku." Kata Sasuke.

"Apa kau sedang berusaha mengajakku bercanda, Sasu-kun?" Tanya Ino dengan nada santai.

"Aku tidak suka bercanda." Ino bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Sasuke yang tengah berdiri di dekat jendela menghadap ke arah taman kampus.

"Ino? Sasu-kun? Sasu-kun siapa? Aku seperti pernah mendengarnya…" Batin Sakura. Sakura semakin penasaran dengan pembicaraan dua insan yang sempat ia kira hantu itu.

Ino merapikan kemeja yang Sasuke pakai dengan kedua tangannya. Ia mengancingkan kancing baju Sasuke yang lepas. Ia mengusap pelan bahu Sasuke seolah membersihkan debu di baju Sasuke.

"Menikah itu bukan hal yang mudah…"

"Aku dijodohkan." Potong Sasuke. Ino berhenti merapikan baju Sasuke.

"Kau mengajakku menikah, tapi kau belum pernah mengajakku berkencan…"

"Aku tidak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal."

Ino tersenyum manis. "Aku senang, ternyata hanya aku cewek yang bisa dekat denganmu…."

"Hm."

"Tapi, jika aku harus menikah denganmu di usiaku yang masih sangat muda ini, sudah bisa dipastikan hidupku akan terkurung di istana megahmu. Aku belum siap untuk hal itu,.."

".…"

"Kau tahu cita-citaku belum sepenuhnya tercapai. Menjadi model professional adalah impianku dari kecil. Aku belum go international. Aku sudah setengah jalan menggapainya. Aku tidak akan menyerah pada mimpiku, Sasuke …"

"Baiklah, aku bisa mengerti." Sasuke berkata datar.

"Sasuke? Astaga, bukankah itu nama pangeran yang disebut-sebut oleh Bebek? Jadi dia orangnya?.. Sebentar, dia sedang melamar seorang cewek bernama Ino dan ternyata di-TO-LAK? Wah, apa jadinya kalau berita besar ini aku sebarkan? Apa aku akan dapat uang banyak? Aku pasti bisa terkenal. Haha…" Batin Sakura. Karena ia terlalu berandai-andai, ia tidak sadar jika angin dingin begitu menggelitik hidungnya. Karena terasa sangat gatal, tanpa bisa menahannya Sakurapun bersin dengan sangat kerasnya. "Huuaacchhiimmm.." Sontak membuat Sasuke dan Ino kaget.

"Siapa itu?" Tanya Sasuke.

"Ups, bodoh. Aku harus segera menghindar!" Batin Sakura yang langsung berlari dari lab bahasa inggris. Mendengar langkah kaki yang cukup keras, Sasuke akhirnya mengejarnya. Sebelumnya ia sudah meminta Ino untuk pulang duluan.

Sakura terus saja berlari. Merasa kakinya yang sudah tidak sanggup untuk berlari lagi, Sakura masuk ke dalam kelas yang kosong dan berpura-pura tengah mendengarkan music dengan HP-nya. Tapi Sakura salah, Sasuke jauh lebih pintar darinya.

"Apa yang sudah kau dengar?" Tanya Sasuke sambil memegang pundak Sakura.

Sakura melepas handset-nya dan menoleh ke arah Sasuke. "Ya?" Saat menoleh ke arah Sasuke, mata Sakura dan mata Sasuke saling bertatapan sejenak. Rasanya Sakura pernah melihat sosok Sasuke yang ada di depannya saat ini. Ya, benar dugaannya. Ia memang pernah bertemu dengan Sasuke. " Kau yang menabrakku di malam itu, kan?" Tanya Sakura.

"Menabrakmu?" Tanya Sasuke bingung.

"Iya menabrakku. Kau menabrakku dua hari yang lalu. Tepatnya saat makan malam di Cafe. Kau tahu, gara-gara kau aku jadi dipecat dari pekerjaanku…"

Sasuke berfikir, mengingat kejadian dua hari yang lalu. Ia baru ingat jika ia menabrak seseorang dan lupa meminta maaf padanya. Ia terburu-buru karena mendapat kabar penusukan kakeknya.

"Oh, maafkan aku kalau begitu."

"Cih, apa itu cara orang kaya meminta maaf?"

"Kau cerewet sekali. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku. Tapi nanti. Sekarang jawablah pertanyaanku.. Kau mendengarnya, kan?" Tebak Sasuke.

"Mendengar apa? Dari tadi aku sedang mendengarkan music dari HP-ku... Aku tidak pergi kemana-mana… Bahkan meninggalkan kelas ini sedetikpun…" Sakura berbohong ala kadarnya.

"Aku tahu kau berdiri di dekat lab bahasa.." Sasuke menatap tajam mata Sakura. Membuat Sakura gelagapan karena tidak nyaman. Mata hitam itu menakutkan.

"Aku tidak mendengar apa-apa. Aku tidak mendengar pemmbicaraanmu dengan Ino…" Kata Sakura keceplosan. Bodoh, bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Sama saja ia mengaku.

"Darimana kau tahu aku sedang berbicara dengan Ino kalau kau tidak melihatnya? Tidak hanya melihat, aku yakin kau juga banyak mendengar hal-hal yang tidak perlu kau dengar…"

Sakura gemetaran. "…."

"Kalau sampai ada yang mengetahui hal ini, kau akan berurusan denganku. Mengerti?" Sasuke sedikit mengancam.

"I..Iya. aku mengerti. Aku ti..tidak akan membocorkannya…"

"Hm." Sasuke berbalik hendak meninggalkan Sakura. Dengan cepat Sakura mencegahnya.

"Karena aku menjaga rahasiamu, kau juga tidak lupa dengan janjimu tadi, kan?"

Sasuke menghentikan langkah kakinya, ia berbalik ke arah Sakura. "Apa yang kau inginkan?"

"Sebenarnya tidak masalah kau menabrakku waktu itu. Aku memang ingin keluar dari pekerjaanku… Tapi…" Sakura tidak tahu mau bicara apa.

"Kau mau minta ganti rugi berapa?"

"Cih, aku tahu kau kaya. Tapi jangan sembarangan menilai sesuatu dengan uang!"

"Iya. Cepat katakan kau ingin apa!"

"Tidak jadi. Sampai jumpa…" Kata Sakura akhirnya. Entah mengapa Sakura berbicara seperti itu. Padahal otaknya menyuruhnya untuk meminta ganti rugi uang yang sangat banyak pada Sasuke untuk membayar hutang. Karena gara-gara Sasuke ia dipecat dari pekerjaannya, sehingga ia tidak memiliki uang untuk membantu ibunya membayar hutang. Tapi otaknya benar-benar sedang tidak bisa berfikir logis. Saat itu dimana hati bisa dihandalkan.

Hal yang sama dialami Sasuke. Biasanya dia tidak akan menanggapi hal-hal ringan seperti ini, tapi rasa ibanya pada Sakura meluluhkan fikirannya. Sekali lagi, hati mengambil peran penting setiap keputusan yang dibuat.

"Lebih baik kau ikut denganku, aku akan membelikanmu makanan sebagai permintaan maafku tempo hari." Tawar Sasuke.

"Benarkah?" Tanya Sakura tidak percaya. "Kebetulan sekali aku sangat lapar.."

"Kau bisa memesan apa saja."

"Benarkah?" Sakura memastikan lagi.

"Hm."

"Tapi makan nasi ya. Aku sangat lapar…"

"Apapun.. Kau tunjukkan saja dimana tempatnya. Carilah tempat yang higinis dan sepi. Tak perlu kau tanya alasannya. Kau sudah tau itu…"

"Ok.." Sakura tersenyum licik. "Liat saja, memangnya aku akan dengan mudah memaafkanmu? Enak saja.. Keberuntunganku masih berlanjut. Aku akan membuatmu membayar semua ini.. haha… Jahat sekali-kali juga tidak apa-apa… Bermain sedikit dengan laki-laki kaya ini rasanya asyik juga… Toh dia tidak akan bangkrut hanya mengeluarkan uang beberapa ratus ribu untukku…"

Sakura naik ke dalam mobil Sasuke untuk yang pertama kalinya. Benar-benar mobil yang mewah. Ia mulai bertanya, apa Sasuke sekaya itu? Mobil mewah dan sopir pribadi? Sakura hanya bisa terkagum-kagum dengan mobil mewah Sasuke. Sudah mewah, sangat nyaman, dan bersuara lembut. Sakura tidak tahu jika ia adalah cewek pertama yang bisa menaiki mobil Sasuke. Ino saja tidak pernah.

Tak butuh waktu yang lama, mereka sampai di sebuah kedai sederhana yang menyajikan makanan menggoda selera. Meski bukan sekelas restoran mahal berharga ratusan bahkan jutaan rupiah, tapi menu yang ditawarkan kedai ini benar-benar membuat perut lapar. Dengan segera Sakura memesan berbagai jenis makanan. Mulai dari nasi, sayur, lauk, bahkan bermacam-macam gorengan. Tak lupa juga segelas jus jambu biji dan air es. Sementara Sasuke hanya memesan secangkir kopi hitam hangat.

"Kau yakin akan menghabiskan semua makanan ini?" Tanya Sasuke yang terheran-heran dengan semua makanan yang memenuhi seluruh meja.

"Tentu saja… Wah ini benar-benar enak…" Jawab Sakura sambil mencicipi risols yang ia celupkan ke dalam saus tomat.

"Ck ck, kau ini.. Habiskan semua makanan itu!"

"Tidak perlu kau suruhpun aku akan menghabiskannya…" Sakura mulai memakan makanan yang ia pesan. Sasuke hanya mengamati Sakura yang sedang makan sambil meminum kopinya sedikit demi sedikit. Sakura makan dengan lahapnya. Bahkan bersendawa, membuat Sasuke sedikit merasa jijik. Ada juga cewek seperti ini di dunia ini? Setidaknya itu yang Sasuke fikirkan. Tapi, melihat Sakura makan dengan lahapnya membuat Sasuke tersenyum tipis. Lucu. Banyak makanan memenuhi mulut Sakura, membuat Sakura kesulitan menelan makanannya.

"Kau tidak makan?" Tanya Sakura yang heran melihat Sasuke hanya meminum kopi saja.

"Tidak, aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan.."

"Haiiisshh, kau ini… Hmmm, jus jambunya sangat segar…" Kata Sakura saat meminum jus jambu kesukaannya.

"Apa kau akan baik-baik saja jika hujan begini minum es?" Tanya Sasuke.

"Tentu saja. Aku ini sangat kuat karena sering minum jus jambu!"

"Bukannya yang membuat kuat itu susu?"

"Iya kah? Kalau begitu aku salah… Hehe.."

Sakura menyelesaikan acara makannya. Benar sesuai dengan yang Sakura katakan, Sakura benar-benar menghabiskan makanan yang ia pesan. Sasuke hanya geleng-geleng kepala dengan kempauan perut Sakura yang mampu menampung banyak makanan.

"Apa aku masih bisa memesan makanan lagi?" Tanya Sakura.

"Hah? Kau masih lapar?" Sasuke kaget.

"Mungkin saja nanti malam aku akan lapar lagi… Biasanya aku suka bangun tengah malam dan memasak mie instant untuk kumakan.."

"Astaga, apa kau tidak takut berat badanmu akan naik?"

"Tidak. Apa kau sedang menyarankanku untuk diet?"

"Biasanya wanita seperti itu…"

"Walau aku makan banyak, tapi tubuhku tetap seperti ini saja…"

"Baiklah terserah kau saja. Pesanlah sesukamu!. Aku akan membayarnya…"

"Kau benar-benar sangat baik, Tuan.. Hehehe…."

Sakura memesan banyak makanan untuk dibawa pulang. Bukan untuknya saja, tapi untuk ibunya juga. Setelah Sasuke membayar semua bon-nya, merekapun keluar dari kedai itu.

"Wah, ini benar-benar banyak. Aku yakin kau membayar mahal untuk semua makanan ini. tapi terima kasih banyak ya…" Kata Sakura yang langsung melengos pergi.

"Hei, aku akan mengantarkanmu pulang…" Teriak Sasuke.

"Tidak usah, rumahku dekat. Lagipula hujan sudah reda.. Sampai jumpa…"

"Cih… Hisshh, benar-benar…"

"Hei Tuan, lain kali traktir aku lagi ya…." Teriak Sakura dari jarak jauh sambil melambaikan tangannya pada Sasuke.

"Cewek aneh…"

"Bukankah dia sangat lucu, Tuan Muda?" Kata Shikamaru.

"Lucu darimana?"

"Ya, lucu saja… Tuan Muda, kurasa kau lupa menanyakan namanya?"

"Tak apa. Tidak penting buatku… Sudahlah, ayo pulang…!" Ajak Sasuke.

Sakura berjalan menuju rumahnya yang memang tidak jauh dari kedai tempat ia dan Sasuke makan. Saat sampai di depan rumahnya, Sakura melihat ada sebuah mobil mewah berwarna hitam. Siapa yang datang? Apa ada tamu? Sakura mulai bertanya-tanya. Karena ingin menjawab rasa penasarannya, Sakurapun segera masuk ke rumahnya. Benar saja, ada tiga orang berjas hitam berkunjung ke rumahnya tengah berbincang-bincang dengan ibunya.

"Ah, itu anakku.. Sakura, cepat ke sini!" Perintah Ibu Sakura. Sakurapun mendekat.

"Ada apa, Bu?" Tanya Sakura.

"Mereka mewakili keluarga orang kaya raya yang akan melamar kamu untuk menikah dengan cucu dari keluarga itu…" Jelas Ibu Sakura.

"Apa? Melamar? Astaga Ibu, Sakura masih kecil. Ibu ini apa-apaan? Jangan mengada-ada, Bu..!" Sakura mencoba menolak.

"Maaf kelakuan anak saya, Tuan-tuan…!" Kata Ibu Sakura basa-basi.

"Tidak apa-apa, Nyonya…" Kata salah seorang tamu, Kakashi.

"Ibu, tapi aku kan tidak mengenal cucu keluarga itu. Mana bisa aku menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal!" Tolak Sakura.

"Nona tidak perlu khawatir! Nona sudah mengenalnya. Nona masih ingat kakek Madara yang tempo hari Nona tolong?" Tanya Kakashi.

"Ya, saya masih mengingatnya.."

"Kakek Madara berniat menjadikan Nona sebagai cucu menantunya…"

"APA? Tapp..tapi…"

"Kami akan kembali dua hari lagi! Saya harap Nona sudah memikirkan jawaban yang tidak mengecewakan Madara-sama…Ini adalah cincin pertunangan dari Tuan Besar.." Kata Kakashi sambil menyerahkan sebuah wadah cincin berbentuk hati bewarna merah cerah.

Sakura menerima wadah cincin itu dan membukanya. Matanya melebar saat melihat isi dari wadah cincin warna merah itu. Ternyata adalah sebuah cincin cantik bermotif dengan mata berlian berwarna putih.

"Sakura, apa itu berlian?" Tanya Ibu Sakura tidak percaya.

"Se..sepertinya…" Sakura juga tidak percaya.

"Wah, indah sekali.. Berkilauan…"

"Dan ini adalah uang sebagai tanda perkenalan dari Tuan Besar… Tuan Besar sangat mengerti keadaan kalian. Kalian bisa menggunakan uang ini untuk melunasi hutang kalian. Jika dirasa masih kurang, kalian bisa meminta lagi. Mohon diterima..!" Kata Kakashi menyerahkan sebuah koper berwarna hitam.

Sakura menerima koper yang Kakashi berikan padanya. Sakura membuka koper itu. Matanya melebar lebih bulat daripada saat ia melihat cincin berlian yang diberikan padanya. Isi koper yang membuat matanya melebar ternyata uang pecahan ratusan ribu memenuhi satu koper itu. Penuh tanpa ada sela!

"U..uang? sekali…"

Kakashi melihat kearah jam tangannya. "Maaf Nyonya, Nona, kami harus segera kembali. Mohon dipertimbangkan baik-baik! Tuan Besar berharap besar pada Nona…Permisi.." Pamit Kakashi dan kedua pengawalnya.

"Kita kaya, Sakural… KITA KAYA!" Teriak Ibu Sakura setelah memastikan Kakashi dan dua pengawalnya pergi dari rumahnya.

"Apa Ibu berniat menjualku pada kakek Madara?"

"Tentu saja tidak, mana ada ibu yang tega menjual anak kesayangannya… Ini demi kamu, demi kita, demi rumah peninggalan ayahmu…"

"Ibuuu, tapi tidak bisa seenak saja memutuskan masa depanku! Intinya, aku tidak mau menikah muda!"

"Astaga Sakura, jangan bodoh menyia-nyiakan kesempatan yang ada di dpan matamu!"

"Tapi Bu, Sakura saja tidak pernah melihat bagaimana rupa cucu kakek Madara. Bagaimana kalau cucunya kakek Madara itu jelek? Lebih pendek dari Sakura? Kulitnya gelap? Lebih parah lagi kalau cacat bagaimana?"

"Aduh Sakura, jangan berimajinasi tidak jelas seperti itu! Itu tidak mungkin! Mereka orang kaya, jadi kalau cucu Tuan Madara jelek, sangat mudah untuk melakukan operasi plastic. Kalau hitam tinggal suntik putih, nanti juga bisa putih…"

"Ibu ini, jangan jadi korban mode! Apa ibu mau anak ibu menikah dengan manusia plastic? Tidak, kan? Ayolah, Bu… Mengertilah..!"

"Kamu yang harus mengerti, Sakura!" Bentak Ibu Sakura tiba-tiba.

"Ibu, kenapa membentakku? Ibu terlalu kasar padaku! Aku benci Ibu yang seperti itu!" Sakura menangis dan berlari meninggalkan Ibunya dan mengunci diri di kamarnya.

Tok..tok..tok.. "Sakura, maafkan Ibu. Ibu tahu ini berat untukmu, tapi ibu sudah tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar hutang kita…"

SAKURA'S POV

Aku duduk bersimpuh di tempat tidurku. Kurasakan hembusan angin malam yang menerpa tubuhku. Aku melihat ke arah langit lewat jendela yang masih aku buka. Malam ini sepi bintang, langit terlihat gelap. Redup karena tertutup mendung. Menyedihkan sekali malam ini aku tidak bisa melihat bintang. Aku sangat menyukai kerlap-kerlip bintang. Bintang di langit mengingatkanku pada ayah. Ayahku juga menyukai bintang. Ayah bahkan sering menyanyikan lagu bintang kecil untukku. Ayah bilang, jika aku merindukan ayah, aku bisa melihat bintang untuk mengobati rinduku. Semenjak ayah pergi, aku hanya bisa mengenang ayah lewat bintang. Aku bahkan suka berbicara pada bintang. Memang akan terlihat seperti orang gila, tapi rasanya seperti ayah selalu ada di dekatku.

Kalau mengingat ayah, aku jadi merasa sedih..

Malam ini mendung, semendung hatiku. Sudah dua malam aku tidak melihat bintang. Ingin sekali aku menghapus semua mendung yang menutupi bintang-bintangku. Sekarang aku benar-benar membutuhkan ayah untuk bercerita. Ayah… apa yang harus aku lakukan dengan lamaran kakek Madara? Apa aku harus menolaknya? Ayah.. saat ini aku sedang tidak bisa berbicara dengan ibu. Ibu sedang tidak sependapat denganku. Andai saja masih ada ayah, ayah pasti akan memberikan solusi untukku, kan? Tapi, sayang sekali aku hanya bisa berandai. Ayah sudah bahagia di sana…

Aku menutup jendela kamarku. Aku kembali duduk di tempat tidurku. Aku sudah dua hari mengurung diri di kamar. Aku juga tidak makan sama sekali. Jujur saja aku sangat lapar. Tapi mau bagaimana lagi? Andai saja ibu mau mengalah…Aku ini masih sangat muda. Impianku satu pun belum ada yang tercapai. Aku ingin lulus kuliah, mendapat gelar strata, kerja di perusahaan besar, mendapat uang banyak… Semua akan sulit jika aku harus menikah muda… Apa aku harus meminta bantuan pada Gaara-senpai atau Bebek? Aahh, rasanya itu tidak mungkin. Walau mereka pasti akan membantuku melunasi hutang-hutang ibuku, tapi apa aku harus selalu merepotkan mereka? Tidak mungkin selamanya aku bergantung pada mereka berdua…

Tapi aku benar-benar tidak mau menikah muda! Menikah muda, apalagi masih kuliah itu pasti tidak akan bahagia! Aku tidak mau mengalaminya!... Melihat ibu sekarang aku tidak tega. Ibu banyak berkorban untukku selama ini. Apa sekarang aku yang harus gantian berkorban untuk ibu? Dengan aku berkorban, rumah peninggalan ayah akan selamat dari renternir itu. Hutang-hutang ibu juga akan lunas. Kurasa ibu akan bahagia jika aku menerima lamaran kakek. Kakek menjanjikan kebahagiaan padaku. Pertanyaanya, apakah kehidupan pernikahanku juga akan bisa bahagia?

Aku mengambil koper yang kakek berikan padaku. Di dalam koper ini berisi banyak uang. Jika dihitung, aku yakin ini lebih dari seratus juta. Nilai yang luar biasa untukku. Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan melihat uang sebanyak itu. Sekarang, uang itu bisa aku pegang. Aku juga bisa mencium baunya. Meski baunya sedikit tidak enak. Tapi, aku bisa menebus rumah ini dengan uang ini. Apa lagi cincin ini, ini cincin bukan hanya sekedar cincin. Ini BERLIAN!. Indah sekali. Dan ini akan menjadi milikku jika aku menerima lamaran itu. Aargghhhh… Aku bingung.. Aku tidak tahu harus berbuat apa… Bagaimanapun, besok aku harus memiliki jawaban. Besok hari terakhir… Hikssss….

END OF SAKURA'S POV

Hari berganti dengan cepatnya. Hari ini cukup cerah. Sinar mentari yang tajam masuk meyusup lewat celah-celah kecil ventilasi kamar Sakura. Membangunkan Sakura yang tengah tertidur pulas. Matanya malas sekali untuk terbuka. Rasa kantuk masih menderanya. Dengan gontai Sakura bangun dari tempat tidurnya. Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Sangat berantakan! Biasanya dia memang suka tidak bisa terlalu rapi menata kamar. Tapi kali ini benar-benar sangat mengerikan keadaan kamarnya. Mirip kapal pecah. Baju kotor berserakan sana-sini. Sampah plastic dari makanan ringan yang ia makan juga turut andil menghiasi kamarnya.

"Kamarku jorok sekali…" Gumam Sakura.

Sakura berjalan menuju kaca almari bajunya. Ia mengamati keadaan dirinya. Rambut berantakan seperti singa. Ia baru ingat jika dua hari ini ia tidak menyisir rambutnya. Baju tidur yang terlihat sangat lusuh karena ia memakainya dua kali. Parahnya lagi, di sudut bibirnya ada noda bergaris. Itu pasti salivanya! Secara tidak baku bisa disebut 'ngiler'. Meski keadaannya benar-benar menyeramkan, tapi Sakura masa bodoh dengan hal itu. Ia terlihat menguap beberapa kali sambil meregangkan otot-ototnya. Saat ia sedang melakukan olah raga ringan di dalam kamarnya, Ibunya mengagetkannya.

"Sakura, Ibu minta maaf. Ibu tahu, Ibu benar-benar egois padamu.. Ibu tidak akan memaksamu. Jangan khawatir, Ibu akan meminta keringan lagi pada para renternir itu! Ibu yakin, mereka pasti akan memberinya… Jadi, jangan mengurung dirimu di kamar lagi! Ibu merasa sedih…" Kata Ibu Sakura di depan pintu kamar Sakura.

Tok..tok..tok.. Ibu Sakura meninggalkan kamar Sakura dan berjalan untuk membuka pintu. Ia terheran kenapa pagi-pagi seperti ini ada tamu berkunjung? Tidakkah ini terlalu pagi untuk berkunjung?

"Ini sudah hari ke tiga, hei ibu tua lunasi hutang-hutangmu…!" Kata Renternir.

"Ma..maafkan saya, bisakah saya mendapatkan waktu tambahan lagi? Seminggu saja…" Pinta Ibu Sakura.

"Waktu tambahan? Hahaha.. Tidak bisa! Tidak ada waktu tambahan lagi untukmu, Ibu tua. Kau fikir kami ini penyedia amal untuk orang miskin? Jika tidak bisa melunasi hutang, tidak usah berhutang! Hei, kalian semua sita semua barang-barang yang ada di rumah ini!"

"Baik Bos…!"

"Tap..tapi…" Ibu Sakura berusaha mencegah anak buah renternir mengambil barang-barang berharganya. Tiba-tiba datanglah Kakashi dan dua anak buahnya. Membuat Ibu Sakura semakin bingung karena pagi itu, ia mendapat begitu banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya.

"Ada apa ini, Nyonya? Apa yang terjadi?" Tanya Kakashi.

"Mereka berusaha mengambil barang-barang di rumah ini, dan setelah ini mereka akan mengambil rumah ini… HEI, jangan diambil mesin cuci itu!"

"Bukankah sudah ada uang untuk melunasinya?"

"Maafkan aku, Tuan… Anak saya belum memberikan keputusan. Saya tidak berani menggunakannya… JANGAN! JANGAN DIAMBIL! Itu DVD kesayangan anakku…Yang itu juga jangan diambil! Itu televisi kenang-kenangan suamiku. Jangan dibawa!" Teriak Ibu Sakura.

Dari dalam kamar tidur, Sakura mendengar keributan di rumahnya. Sakura sudah menduga jika keributan itu adalah keributan yang ibunya dan para renternir buat. Sangat berisik. Ia mendengar ibunya berteriak mencoba meminta renternir tidak mengambil barang-barang berharganya. Kupingnya terasa panas. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Dengan cepat Sakura keluar dari kamarnya dan membawa sujumlah ikat uang dari koper pemberian kakek Madara.

"Kalian semua, HENTIKAN!" Teriak Sakura saat melihat Ibunya berebut DVD dengan salah seorang anak buah renternir.

Mendengar teriakan Sakura yang benar-benar keras, membuat orang yang ada di rumah itu seketika terdiam dan menoleh ke arah Sakura. Sakura melangkahkan kakinya menuju bos renternir.

"KAU lintah darat penghisap uang orang miskin, lebih baik kau angkat kaki dari rumah ini!" Kata Sakura kesal. Sakura melemparkan uang yang ia pegang pada bos renternir itu. "Itu lebih dari cukup untuk melunasi semua hutang-hutang kami beserta bunganya!"

Bos renternir menyimpulkan senyumnya. "Jika semua pelangganku seperti ini, akan lebih mudah. Kenapa tidak sedari tadi kau memberikan uangnya? Maaf rumahmu jadi berantakkan…"

"Pergi kalian dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi!"

"Kalian, ayo kita pergi! Kita sudah mendapatkan hak kita…" Kata Bos Renternir. Semua renternir pergi meninggalkan rumah Sakura.

"Dan kau, Tuan... katakan pada kakek Madara jika aku menerima lamaran darinya dan bersedia menikah dengan cucunya…" Kata Sakura. Kakashi dan kedua anak buahnya tersenyum lega. Setidaknya mereka tidak akan dipecat karena telah berhasil menjalankan tugas dari tuan besar mereka, Madara. Ibu Sakura bahkan terperanga, ia tidak menduga anaknya akan menerima lamaran itu.

"Apa kau yakin, Sakura? Bagaimana dengan impianmu?" Tanya Ibu Sakura.

"Aku masih bisa menggapainya meski aku sudah menikah.." Jawab Sakura datar. Meski Sakura menerima lamaran itu, tapi jauh dari lubuk hatinya ia tidak ingin menerimanya. Ia hanya ingin berbakti pada orang tuanya, berbakti pada ibunya. Meski berat, ia akan bertanggung jawab atas semua yang sudah ia putuskan.

"Baiklah, mari Nona, Nona harus segera bertemu dengan Tuan Besar!" Kata Kakashi.

"Sekarang?" Kakashi mengangguk. "Tapi saya belum mandi, belum berdandan…"

"Maafkan saya, Nona.. Tuan Besar tidak suka menunggu lama…"

"Astaga, kakek benar-benar seenaknya saja.." Gerutu Sakura. "Baiklah, ayo pergi!"

Kakashi membukakan pintu mobil untuk Sakura. Sakura masuk ke dalam mobil itu dan pergi menuju rumah kakek Madara. Dari depan pintu rumah, Ibu Sakura hanya memandangi kepergian Sakura seraya berharap jika semua akan baik-baik saja. Ibu Sakura tidak bisa melakukan apa-apa atas semua keputusan Sakura. Ia sadar, Sakura pasti terpaksa menerima lamaran itu demi dirinya. Ia sangat mengenal anak satu-satunya itu. Sakura tidak bisa bergeois diri. Sakura akan luluh dengan sangat mudahnya jika itu berhubungan dengan dirinya.

"Kurasa Sakura benar, aku memang menjualnya pada orang kaya. Astaga… ibu macam apa aku ini? Maafkan Ibu, Sakura…"

To be continue…

===========SH=========

Yayayaya, chapter dua selesai. Akhirnya, Arigato ne minna sudah membaca, sambil menunduk hormat.

Aku mau curhat, sebenarnya aku tipe cewek yang mudah putus asa karena kritik pdas. Jadi kalau kritik jangan kasar-kasar ya… Nanti bisa membekas di hati dan menimbulkan luka yang mendalam sedalam lautan yang paling dalam kan jadi repot nantinya. Kalau nanti aku jadi gak mood nglanjutin cerita kan bisa-bisa ngegantung ceritannya. Yah, aku akui, sejauh ini belum menerima kritik pedas…

Matur nuwun sampun mampir yo, kabeh pembaca sing cantik-cantik dan ganteng-ganteng(kalo ada) XD

Masih siap lanjut ke chapter selanjutnya?