Naruto baru saja keluar dari gedung perpustakaan kampusnya ketika hari sudah beranjak sore. Angin musim gugur menerpa wajah dan helaian pirangnya. Awal bulan Oktober dibungkus dengan warna jingga dan oranye yang datang dari daun-daun momiji yang berjatuhan.

Kuliahnya sudah selesai sejak siang tadi, tapi tidak seperti biasanya ketika kelasnya sudah bubar maka tujuan Naruto selanjutnya adalah kantin untuk menemui teman-temannya., yang ada setelah keluar dari kelas Naruto malah segera bergegas menuju perpustakaan.

Naruto ingat jika ia memiliki tugas presentasi yang harus dikumpul hari Senin nanti. Jadi ia memutuskan untuk singgah sebentar ke perpustakaan dan mencari-cari buku yang bisa dijadikan referensi. Terlalu serius mengetik membuatnya tidak menyadari jika waktu terus berlalu.

Sambil berjalan iris safirnya terus tertuju pada pohon-pohon momiji yang tumbuh di pinggir jalanan kampusnya, angin yang sesekali berhembus menerbangkan daun-daunnya kesana-kemari. Naruto tetap menikmati pemandangan itu meski udara dingin seolah-olah mampu membekukan seluruh persendian ditubuhnya. Mantel coklat serta syal hitam yang dipakainya tak mampu menghalau udara dingin yang terus merayapi sum-sum tulang.

Pemuda pirang itu mempercepat langkahnya menuju tempat dimana ia memarkir motornya. Ingin cepat-cepat sampai ke flat kecilnya yang hangat. Mencatat dalam hati untuk memasak ramen instan dengan air panas, dan oh, jangan lupakan juga secangkir kopi panas untuk menemaninya menghabiskan sisa sore ini sambil menikmati cuaca musim gugur di balkon flatnya yang terletak di lantai dua. Memikirkan gagasan itu membuat Naruto semakin tidak sabar untuk segera pulang.

Count to Something More

Naruto © Masashi Kishimoto

3rd

0ktober, 02

Sebuah erangan kecewa keluar dari celah bibir si pirang begitu ia membuka lemari tempat persediaan ramen instannya. Lemari itu kosong. Naruto benar-benar lupa jika ternyata ramen instannya sudah habis. Rencananya untuk menikmati semangkuk ramen panas terpaksa tertunda.

Mantel yang sudah Naruto gantung di dekat pintu kembali ia pakai, memutuskan untuk pergi ke mini market terdekat. Kali ini Naruto pergi dengan berjalan kaki, terlalu malas untuk mengeluarkan motornya dari bagasi lagi walau sebenarnya ia sudah cukup lapar dan ingin segera menikmati makanan kesukaannya.

Mini market yang paling dekat terpaut sekitar enam puluh meter dari tempat tinggal Naruto. Cukup dekat jika ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Sesampainya di mini market Naruto segera menuju ke lorong bagian mie instan dan sejenisnya diletakkan, mengambil beberapa bungkus ramen instan dan memasukkannya ke dalam keranjang khusus yang sudah disediakan.

Tidak butuh waktu lama bagi Naruto berada di dalam mini market tersebut.

Si pemuda pirang segera kembali menyusuri jalan yang tadi dilaluinya menuju mini market. Melewati sebuah pertigaan hidung Naruto mencium aroma yang sepertinya datang dari arah belokan di pertigaan tersebut. Naruto tahu dari mana aroma enak ini berasal. Berpikir sejenak Naruto memeriksa dompetnya, masih ada tiga lembar uang kertas dengan jumlah yang sama didalam dompetnya. Maka Naruto memutuskan untuk mengambil arah yang berbeda sewaktu ia pergi ke mini market tadi.

"Terima kasih, Bibi." Naruto meraih bungkusan yang disodorkan perempuan setengah baya itu. Menerimanya dengan wajah sumringah. Melihat bagaimana ekspresi Naruto di depannya mau tak mau membuat wanita itu tersenyum.

"Sama-sama, Naruto. Selamat menikmati." Balasnya.

Naruto keluar dari toko itu dengan senyuman lebar. Sekarang semuanya sudah lengkap, ia akan menikmati kopi panasnya bersama dengan bungkusan yang baru saja dibelinya. Hidup tetap terasa indah jika kita selalu mensyukurinya walau semuanya serba sederhana.

Naruto memutuskan untuk tidak kembali ke pertigaan yang tadi, melainkan mengambil jalur yang berbeda. Kadang Naruto heran dengan dirinya sendiri. Rasa lapar masih tetap menggerogoti perutnya sampai sekarang, tapi ia justru memilih untuk pulang dengan jalur yang sedikit memutar. Padahal Naruto akan lebih cepat sampai ke flatnya jika ia kembali ke pertigaan tadi dan melalui jalan yang sama ketika pergi ke mini market tersebut.

Namun lagi-lagi Naruto memilih untuk menempuh jalan memutar itu saja. Pemuda pirang itu berpikir menahan laparnya sedikit lebih lama lagi tidak akan apa-apa.

Jalan ini melewati sebuah taman kecil. Biasanya diwaktu sore seperti ini taman itu selalu ramai dengan pengunjung, tapi di musim gugur sekarang ini mungkin taman itu tidak akan seramai biasanya, siapapun pasti akan lebih memilih untuk tinggal di rumah dengan mesin penghangat ruangan yang menyala ketimbang duduk di taman ditemani angin yang sanggup membekukan tulang. Itu bukan masalah bagi Naruto karena yang membuat Naruto ingin lewat jalan ini bukanlah pengunjung disana, melainkan pohon-pohon momiji yang ditanam dengan rapi di pinggir taman.

Naruto ingin melihat -lagi- daun-daun berwarna oranye bercampur jingga tersebut terlepas dari tangkainya. Oh, pemuda pirang itu sekali lagi mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia bukanlah seseorang yang suka dengan hal-hal yang berbau mellow seperti itu.

Tidak, sama sekali tidak.

Sesuatu tentang pohon momiji itu membuat Naruto merasa bahwa ia memang harus melihatnya lagi, seolah ingin memastikan sesuatu. Mungkin saja –hanya mungkin- ada sesuatu disana yang harus Naruto lihat. Naruto terkekeh geli sendiri dengan pemikirannya barusan. Sejak kapan ia bertindak mengikuti intuisi seperti perempuan? Kiba pasti akan mengolok-oloknya sepanjang hari jika mengetahui ini.

Sekarang ini Naruto merasa seperti remaja tanggung yang sedang jatuh cinta. Oh, ataukah memang saat ini ia sedang jatuh cinta? Jatuh cinta pada—

Tiba-tiba langkah kaki Naruto berhenti. Iris safirnya melebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Tak jauh didepannya –mungkin sekitar dua puluh langkah kaki- seseorang berdiri di dekat salah satu pohon momiji dengan kepala mendongak, seperti sedang memerhatikan bagaimana daun-daun itu bergerak.

—seseorang…

Angin yang berhembus memainkan helai rambut gelapnya. Kulitnya putihnya terlihat semakin pucat karena udara dingin. Sesekali sosok itu mengeratkan mantel hitam yang dipakainya. Uap udara terus keluar setiap kali sosok itu menghembuskan nafas melalui mulut.

Sosok itu seolah menyatu dengan pohon-pohon momiji disekitarnya. Membuat Naruto enggan untuk mengerjapkan mata sedikit saja, takut jika nanti keindahan yang saat ini terpampang di depannya akan menghilang apabila atensinya teralihkan pada hal lain.

Naruto tidak tahu rencana apa yang sedang Tuhan rancang untuknya. Karena sekarang lagi-lagi ia bertemu dengan sosok itu di tempat yang sama sekali tidak ia duga. Tapi bukan berarti si pemuda pirang tidak menyukai hal tersebut.

Bibirnya bergerak mengeja nama sosok itu tanpa suara, dan seolah mendengar namanya disebut sosok itu kemudian menoleh ke arah Naruto.

Dua pasang iris berbeda warna itu sekali lagi bertemu.

Dan lagi-lagi Naruto harus bersyukur karena keputusan yang diambilnya tadi membawanya ke takdir yang mempertemukannya lagi dengan sosok itu, Uchiha Sasuke.

.

"Bagaimana kabarmu, Sasuke?"

Naruto memulai percakapan setelah beberapa menit mereka hanya duduk diam. Ia memutuskan untuk mengajak Sasuke duduk di salah satu bangku panjang yang ada di taman tersebut. Duduk di bangku taman yang berada di pinggir dan menghadap ke sebuah lapangan basket yang hanya diisi oleh daun-daun momiji yang beterbangan kesana kemari.

"Baik." Satu kata. Sosok itu hanya menjawab dengan satu kata dengan nada yang sama datarnya dengan ekspresi wajahnya, namun Naruto sama sekali tidak keberatan karena bisa berada begitu dekat dengan sosok itu sudah sangat membuatnya merasa senang.

"Lalu apa yang kau lakukan disini?"

Si raven terlihat berpikir sebentar kemudian menjawab, "Aku ada janji dengan seseorang."

Naruto menahan dirinya sendiri untuk tidak bertanya lebih jauh tentang dengan siapa Sasuke akan bertemu di taman ini. Ia tidak mau Sasuke mengira bahwa Naruto sedang berusaha untuk mengusik hal-hal pribadi si raven. Terserah pada Sasuke untuk bertemu dengan siapapun, dan bukan hak Naruto untuk mengetahui hal itu sama sekali.

Mungkin saja Sasuke ada janji dengan seorang perempuan. Kekasihnya?

Naruto membuang pemikiran itu jauh-jauh.

"Ah, Sasuke," Naruto seperti teringat sesuatu, si raven menoleh dan melihat Naruto mengambil salah satu bungkusan –yang lebih kecil- yang diletakkan di sebelahnya dan mengeluarkan isi dari bungkusan tersebut.

Sasuke mengernyit bingung melihat isi dari bungkusan yang saat ini Naruto ulurkan padanya.

Kue Dorayaki.

Sejenis panekuk yang disatukan dengan selai kacang merah ditengahnya.

"Ini, tadi sepulang dari mini market aku singgah di penjual kue dan membeli ini."

Naruto mengamati ekspresi si raven. Sasuke terus menatap kue tersebut seolah benda itu berasal dari palnet lain.

"Kenapa?" Naruto bertanya setelah beberapa detik selanjutnya Sasuke masih bergeming.

"Aku belum pernah memakan benda itu." jawab si raven.

Naruto hampir saja tergelak ketika Sasuke menggunakan kata ganti 'benda ini' pada kue tersebut. Seolah-seolah kue tradisional Jepang itu bukanlah hal yang lumrah dimakan manusia.

Sambil tersenyum Naruto berkata, "Kalau begitu cobalah, aku membeli dua rasa. Kacang merah dan kacang hijau. Kau lebih suka yang mana?"

"Aku tidak suka makanan manis." Sasuke berharap dengan kalimatnya barusan si pirang di sebelahnya ini bisa mengerti jika Sasuke tidak berniat menerima Dorayaki tersebut.

Tapi jika Sasuke berpikir bahwa si pirang ini akan menyerah maka ia salah. Karena Naruto tidak akan berhenti semudah itu.

"Oh, kau pasti menyukainya. Kue ini tidak semanis yang kau bayangkan. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih atas teh hangat yang kau kasih minggu kemarin."

Mata bulat yang sewarna dengan langit itu menatapnya lurus, terlihat sangat serius sekaligus meyakinkan. Sasuke memutuskan kontak mata dan beralih menatap kue itu lagi. Akhirnya dengan ragu-ragu Sasuke menerima kue itu walau gurat ketidaksukaan masih jelas terbaca di wajah tampannya.

"Selamat makan." Ucap Naruto dan segera menggigit kue yang dipegangnya.

Si raven juga melakukan hal yang sama.

Rasa selai kacang merah yang manis menyapa lidahnya. Terasa meleleh dan melebur di dalam mulutnya.

Tidak terlalu buruk. Pikir si raven.

Mereka makan dalam diam. Sesekali si raven mencuri pandang ke pemuda pirang di sebelahnya, pemuda itu sedang menatap ke depan, sepertinya pohon-pohon momiji di seberang lapangan basket itu yang menjadi objek dari tatapannya. Sesekali menggigit kue yang masih tersisa di tangannya.

Sasuke mamakan kue bagiannya pelan dengan mata yang tetap terarah ke wajah si pirang. Iris obsidiannya meneliti dengan seksama sosok itu. Surai pirangnya selalu terlihat berantakan, namun hal itu justru membuatnya terlihat menarik. Hidungnya terbentuk sempurna, bibirnya sewarna plum dengan tiga garis tipis seperti kumis kucing di kedua pipinya. Dan sepasang iris safir yang terlihat bercahaya.

Sasuke memakan potongan dorayaki-nya yang terakhir.

"Sasuke, apa kau menyukai musim gugur?" si raven terbatuk-batuk kecil ketika Naruto mengalihkan pandangan ke arahnya.

"Kalau aku sangat suka." Naruto berkata lagi ketika Sasuke tak kunjung menjawab.

"Kenapa?" Sasuke bertanya ketika ia sudah berhasil menelan kue yang masih ada di dalam mulutnya.

"Karena warna daun-daun menjadi sangat indah ketika musim gugur datang." Naruto tersenyum, "Kau tahu, orang-orang lebih menyukai musim semi karena pada saat itu bunga-bunga akan muncul, memberikan keindahan beraneka warna yang menarik. Tapi aku lebih menyukai musim gugur ketimbang musim semi, warna-warna di musim semi kadang membuatku silau. Sedangkan aku lebih menyukai warna musim gugur yang lebih tua namun menyenangkan untuk dilihat."

Sasuke tidak segera menggubris ocehan Naruto. Biasanya ia tidak suka dengan seseorang yang terlalu banyak bicara ketika didekatnya, tapi sesuatu tentang cara pemuda pirang itu bicara atau tersenyum membuat Sasuke tidak merasa jenuh atau bosan.

"Ahaha." Naruto tertawa canggung. "Sepertinya aku bicara melantur lagi. Maaf."

"Aku juga." Jawab Sasuke tiba-tiba. "Sebenarnya hari ini aku tidak memiliki janji, aku hanya sedang jalan-jalan sambil menikmati musim gugur walau cuaca lumayan dingin."

Mendengar penjelasan si raven mau tak mau Naruto tersenyum. Perasaannya berubah lega karena ternyata pikirannya tentang Sasuke memiliki janji dengan seorang perempuan sebenarnya tidak benar sama sekali.

"Aku harus pulang." Si raven berucap sambil berdiri dan segera diikuti oleh Naruto.

"Apa kau membawa kendaraan?""

"Tidak, aku pulang naik bis."

"Kalau begitu kuantar sampai ke halte, bagaimana?" tanya Naruto.

"Hn." dan jawaban si raven membuat Naruto mengembangkan senyum.

Mereka berjalan beriringan, sesekali si pemuda pirang bertanya tentang suatu hal yang hanya dijawab dengan gumaman atau satu kata oleh si raven. Namun ketika si raven yang bertanya balik tentang suatu hal, maka si pirang akan memberikan jawaban berupa penjelasan panjang.

Perjalanan mereka menuju halte bis terasa begitu singkat karena diisi dengan obrolan yang beragam, sekalipun sebenarnya hanya si pirang yang terus mengoceh sedangkan si raven lebih sering diam.

"Sasuke." Naruto menyebut nama si raven ketika mereka sudah sampai di halte.

Si raven menoleh sambil menjwab, "Hn." tanda bahwa ia mendengarkan.

Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Err, entah kau sadar atau tidak. Tapi ini sudah yang ketiga kalinya kita bertemu tanpa disengaja."

Sasuke memandang si pirang dengan tatapan bingung. "Lalu?" tanyanya.

"Pertama kali kita bertemu sewaktu aku menyanyi di depan pintu fakultas ku ketika kau datang." Naruto berhenti sebentar. "Waktu itu aku bermain Truth or Dare dengan teman-temanku, dan ketika aku memilih Dare mereka menyuruhku untuk berlutut di depan pintu fakultas kemudian menyanyi ketika orang pertama masuk dan melewati pintu itu."

Mereka berdiri berhadapan di halte itu. Tidak ada orang lain disana selain mereka berdua.

"Saat itulah kau datang. Awalnya aku tidak ingin menyanyi, tapi ketika melihatmu rasanya bibirku bergerak sendiri." Naruto menarik nafas. "Setelah itu teman-temanku memberitahu bahwa kaku ternyata adik dari Itachi-sensei, dosenku sendiri. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu sebelumnya karena ternyata kau bukan mahasiswa Fakultas Teknik sepertiku."

Sasuke terlihat semakin bingung, sampai sekarang belum mengerti alasan Naruto menceritakan ini semua.

"Pertemuan kedua, di depan kafe ketika hujan deras turun minggu lalu. Waktu itu aku berniat pulang sebentar karena bajuku tertumpahi jus oleh pegawai kantin. Tapi di perjalanan hujan tiba-tiba turun jadi aku singgah disana sebentar sampai hujan mereda."

Hal itu menjelaskan kenapa waktu itu di kaos Naruto terdapat noda kuning, pikir Sasuke. Lagi-lagi Naruto menghela nafas, kali ini lebih panjang. Perasaan Sasuke saja atau memang saat ini Naruto sedang gugup bicara padanya?

"Dan yang ketiga adalah hari ini. Tadi aku pergi membeli ramen instan di mini market," Naruto melirik kantung plastik yang dibawanya, menegaskan bahwa apa yang dkatakan memang benar. "Diperjalanan pulang aku singgah di penjual kue Wagashi dan membeli Dorayaki yang tadi kita makan. Tapi setelah itu aku tidak kembali ke jalan yang kulalui ketika aku berangkat. Melainkan memilih jalan memutar yang melewati taman itu padahal aku akan lebih cepat sampai ke rumah jika mengambil jalan yang pertama."

"Kenapa?" tanya Sasuke.

"Aku tidak memiliki alasan jelas yang masuk akal. Aku hanya mengikuti hatiku makanya aku lewat jalan itu, dan ternyata yang aku temukan disana adalah seseorang yang sedang menatap daun-daun momiji, seseorang yang sama yang juga kutemui di depan kafe minggu lalu, dan seseorang yang memberiku teh hangat."

"Lalu, apa maksudmu menjelaskan semua itu?" Sasuke bertanya lagi.

Naruto menatap iris obsidian di depannya dengan pandangan yang sulit dimaknai. Ekspresi wajahnya terlihat semakin serius.

"Aku tidak pernah mempercayai yang namanya kebetulan, Sasuke. Keyakinanku adalah semua hal yang terjadi di dunia ini merupakan takdir dari Tuhan. Karena jika kebetulan itu memang ada, berarti Tuhan memiliki kelemahan karena ada suatu hal yang terjadi tanpa sengaja diluar kuasa-Nya. Dan sesuatu yang memiliki kelemahan tidak pantas disebut Tuhan."

Sasuke diam, tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa.

"Kita sudah bertemu tanpa sengaja sebnyak tiga kali, dan aku percaya pertemuan kita itu bukan tanpa arti. Karena, jujur saja. Aku jatuh cinta padamu sejak melihatmu berdiri di hadapanku di pintu fakultas waktu itu."

Sasuke terlihat begitu kaget dengan pernyataan Naruto barusan.

"Aku serius, Uchiha Sasuke." Ungkap Naruto lagi. "Tapi aku tidak akan memintamu menjawabnya sekarang, aku tahu pernyataanku terlalu cepat, kau bahkan belum mengenal siapa diriku sebenarnya. Tapi aku punya satu permintaan."

"Apa?"

"Jika setelah ini kita lagi-lagi bertemu untuk yang keempat kalinya, dan masih tanpa disengaja, maukah kau menjadi temanku? Maksudku, apakah kau bersedia untuk mengenalku lebih jauh?"

"Bagaimana jika setelah ini kita tidak pernah bertemu lagi? Atau kita bertemu setelah beberapa tahun dan kita sudah menikah dengan pasangan kita masing-masing?"

"Jika seperti itu, berarti kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."

Sasuke menatap Naruto tidak percaya, bagaimana bisa pemuda didepannya ini menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti seperti itu. Sebegitu yakinnya kah si pirang ini pada takdir?

"Aku—"

Sasuke tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena bis yang ditunggunya sudah datang. Pintu bis terbuka perlahan namun sepertinya tidak ada penumpang yang turun di halte tersebut. Jika tidak cepat-cepat naik maka pintu bis akan segera tertutup lagi dan bi situ akan kembali melaju.

"Aku harus pergi." Setelah pamit Sasuke segera berjalan ke pintu masuk bis dan masuk. Beberapa detik selanjutnya pintu tadi tertutup.

Naruto memandang bis yang kemudian bergerak menjauh tersebut dengan tatapan kosong. Tersenyum tipis pada kendaraan umum itu yang ukuarannya semakin lama semakin mengecil hingga akhirnya lenyap sama sekali.

Sasuke bahkan belum menjawab pertanyaannya tadi, apakah si raven itu bersedia untuk menjadi temannya jika mereka bertemu lagi tanpa sengaja? Ah, tapi sebenarnya masih ada pertanyaan lain yang harusnya lebih dulu Naruto pikirkan. Apakah mereka akan bertemu lagi, dalam waktu dekat ini? Karena seperti yang Sasuke katakan tadi, percuma juga mereka bertemu lagi namun saat itu datang ketika mereka sudah menikah dengan orang lain. Tidak ada gunanya juga kan?

Tapi entah kenapa Naruto yakin mereka pasti akan bertemu lagi, entah ia yang menemukan Sasuke atau Sasuke yang menemukannya. Karena sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan pasti terjadi, bukan hanya sebuah kebetulan. Dan Namikaze Naruto mempercayai hal itu sepenuh hatinya.

4th

Oktober, 08

"Hahaha."

Suara tawa terdengar salah satu kelas di fakultas Teknik, Universitas Konoha. Di sudut ruangan yang paling dekat dengan jendela, enam pemuda berkumpul dengan posisi saling berhadapan.

"Kau benar-benar mengatakan hal seperti itu?" salah seorang diantara mereka, pemuda berambut coklat bertanya dengan sangsi, tidak percaya dengan cerita yang baru saja didengarnya.

"Ugh, tutup mulutmu Kiba." Pemuda bersurai pirang menatap sengit.

"Astaga, Naruto. Aku tidak menyangka ternyata kau seromantis itu." pemuda yang bernama Kiba bergumam tak percaya, tak menghiraukan tatapan tajam dari sepasang iris safir tersebut.

Naruto yang mendengar komentar si pemuda hanya mendengus kesal, sedangkan empat pemuda yang lain menyeringai menggoda menatapnya.

"Sepertinya teman kita yang satu ini benar-benar sedang jatuh cinta." Lee, pemuda dengan alis tebal itu terlihat kagum dengan si pirang.

"Yah, setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu dengan menjadi playboy, akhirnya dia benar-benar serius dengan perasaannya." Chouji ikut menimpali.

"Yah, walaupun ternyata sang tambatan hati ternyata juga seorang laki-laki." Ucap Lee lagi. "God, setelah memacari puluhan jenis gadis, mulai dari yang cantik—"

"Seperti Shion." Kiba menyambung.

"Seksi seperti—"

"Ino." Kali ini Chouji yang melanjutkan.

"Bahkan lemah lembut dan pemalu seperti—"

"Hinata." Kali ini Kiba lagi.

"Tapi kau malah jatuh cinta dengan Sasuke, yang bahkan tidak memiliki satupun dari karakter seperti mereka." Lanjut Lee.

"Berarti," tiba-tiba Shikamaru menyahut. "Naruto ternyata lebih menyukai dada rata ketimbang dada yang besar."

Dan kalimat Shikamaru tadi sukses membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak —selain Naruto tentu saja.

"Damn you, Shika." Maki Naruto melihat teman-temannya masih tergelak.

"Tapi aku sama sekali tidak keberatan, Naruto." Lanjut Shikamaru dengan nada yang lebih serius. "Entah kau gay ataupun straight itu bukan masalah. Karena kau tetap Naruto yang kami kenal, asal kau tidak jatuh cinta pada salah satu dari kami saja."

Seketika itu juga Naruto langsung mengernyit jijik. "Aku bukan gay. Aku masih suka dengan dada yang besar dan kulit mulus perempuan."

"Oh, berarti Biseksual." Shikamaru menyahut lagi.

Sekali lagi suara tawa terdengar di seluruh penjuru ruangan itu.

"Shut your mouth up, Shika!" Naruto semakin dongkol, hampir saja ia menendang kaki kursi yang sedang diduduki Shikamaru agar pemuda bermata sipit itu terjungkal dari posisinya sekarang.

"Itu faktanya, Dude." Shikamaru menyahut tenang.

"Entahlah, aku juga bingung dengan diriku sendiri." Mimik wajah si pirang berubah murung. "Hanya saja… ketika melihat Sasuke aku seperti tidak bisa melihat hal lain. Hal-hal disekitarku berubah menjadi buram dan seolah tidak penting." Naruto menerawang.

Kiba memutar bola matanya bosan. "Whatever, kau jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya di pintu fakultas dan tanpa sadar menyanyi untuknya, kami mengerti. Tapi pertanyaanya adalah, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Naruto terlihat berpikir sejenak, "Tidak ada."

"Kau benar-benar hanya akan menunggu?" Kiba bertanya lagi.

"Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan." Jawab si pirang tenang.

"Haruskah kau melakukan hal itu?" itu pertanyaan dari Lee, "Maksudku, kenapa kau tidak mengambil langkah untuk mendekatinya saja sih? Bagaimana jika dia bertemu dengan seseorang lebih dulu?"

"Berarti dia bukan jodohku." Sahut Naruto enteng.

"Nonsense." Komentar Kiba sinis.

"Wow, aku tidak menyangka kau bisa berubah seperti ini hanya karena seseorang." Lee bersiul takjub.

"Itulah kekuatan cinta." Chouji menimpali, membuat teman-temannya yang lain terkekeh geli.

Naruto hanya diam, memilih untuk tidak membalas ejekan teman-temannya. Merasa agak menyesal karena sudah menceritakan hal itu pada teman-temannya. Tapi ia pun juga tidak tahan untuk menyembunyikan hal ini dari mereka semua. Bersama dengan para pemuda absurd itu selama bertahun-tahun membuat Naruto tidak bisa menyembunyikan apapun –bahkan hal terkecil- dari mereka. Mereka sudah seperti keluarga bagi Naruto, hal yang tak pernah si pirang miliki sejak kecil.

Oh, sudahkah Naruto mengatakan bahwa dirinya adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak bayi hingga ia menginjak umur lima belas tahun? Sampai seorang kakek tua mengadopsinya dan mengangkatnya menjadi cucu. Menyekolahkannya hingga lulus SMA dengan gajinya sebagai penjual sayur di pasar setiap pagi hingga sore menjelang. Namun kakeknya itu meninggal dua tahun lalu, tepat ketika Naruto mendapat beasiswa penuh selama empat tahun di Universitas Konoha. Tidak ada penyakit khusus, pak tua itu hanya merasa kelelahan sepulang dari pasar, dia hanya berkata ingin istirahat sebentar namun ternyata kakek tua itu tidak pernah bangun lagi.

Waktu itu Naruto merasa begitu terpukul. Itu adalah kehilangan pertama yang Naruto alami, namun semua itu bisa si pirang lalui karena ada teman-temannya yang selalu berada disisinya —mereka bertemu di tahun pertama mereka sebagai siswa SMA dan sejak itu mereka menjadi sahabat. Sepeninggal kakeknya Naruto menyewa apartemen dan membeli motor bekas dari uang beasiswa yang didapatnya. Uang beasiswa yang didapatnya lebih dari cukup sehingga Naruto tidak bekerja dan memilih fokus pada kuliahnya.

Naruto tersadar dari lamunannya tentang masa lalu.

Obrolan itu berlanjut mengenai hal-hal lain yang sering diobrolkan laki-laki jika sedang berkumpul bersama. Shikamaru yang bercerita tentang film Bollywood terbaru yang dibintangi oleh Shahrukh Khan, Lee yang –tentu saja- bercerita tentang gadis Haruno idamannya, atau bahkan Chouji yang bercerita tentang rumah makan sederhana yang ditemukannya baru-baru ini di pinggiran kota. Namun si pirang memilih untuk tidak ikut andil dalam pembicaraan itu, ia lebih suka diam sambil menghitung dalam hati.

Enam hari.

Sudah enam hari berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan si raven di taman itu. Walaupun di depan teman-temannya Naruto terlihat tenang dan bersikap seolah tidak terlalu mengambil pusing dengan hal itu, namun sebenarnya dalam hati si pemuda pirang pun merasa was-was dan agak takut. Sedikit berharap semoga ia dan Sasuke kembali bertemu dengan tanpa sengaja maupun direncanakan sama sekali sebelumnya. Sesuatu dalam hatinya sangat ingin untuk melihat sosok si raven lagi, mendengar suaranya walaupun ucapan pemuda itu lebih sering terdengar datar dan tanpa emosi sama sekali, Naruto ingin menatap sepasang iris obsidian yang hitamnya melebihi gelap malam itu lagi, jatuh dan tersesat dalam pesonanya yang membuat Naruto tak sanggup untuk berpaling.

Ya, Namikaze Naruto sangat merindukan sosok itu, dan ia tidak menyangkal hal itu sama sekali.

"Bagaimana, Naruto?"

Naruto menoleh ke arah Kiba yang —sepertinya— sedang bertanya padanya.

"A-Apa?"

"Ck," Kiba berdecak kesal menyadari bahwa ternyata perhatian si pirang sejak tadi tidak fokus. "Aku bertanya bagaimana kalau kita pergi ke rumahku sore ini? Aku punya game terbaru yang kubeli kemarin."

"Oh, boleh." Jawab si pirang sekenanya. "Tapi hari ini aku tidak membawa motor, jadi aku ikut mobilmu, Shika." Lanjut si pirang sambil menatap orang yang dimaksud.

"Tapi kau yang menyetir, oke? Aku agak mengantuk." Ucapan Shikamaru membuat Kiba mendelik dengan tatapan kau-memang-selalu-mengantuk-setiap-hari-dasar tukang-tidur ke pemuda tersebut.

"Oke." Jawab si pirang menyanggupi.

"Motormu mogok lagi, Naruto?" tanya Lee prihatin. Iris safirnya beralih menatap si alis tebal yang duduk tepat didepannya.

"Yah, mungkin motor itu sudah minta untuk dipensiunkan." Naruto tersenyum miris.

"Tidak masalah, siapa tahu saja hal itu bisa membuatmu bertemu dengan tidak sengaja lagi dengan sang pujaan hati. Iyakan, Naruto?" komentar Kiba sambil memberi tekanan pada kata 'tidak sengaja' yang digunakannya barusan.

Lagi-lagi teman-temannya terkekeh, sepertinya keyakinan Naruto pada takdir menjadi bahan lelucon yang baru bagi teman-temannya.

"Sialan kau, Kiba!" Naruto memaki sambil melemparkan tisu bekas yang dipakainya ke pemuda berambut coklat tersebut. Sedangkan Kiba hanya tertawa melihat ekspresi jengkel si pirang.

.

Ha-ah…

Naruto menghela nafas bosan. Saat ini ia sedang duduk di belakang kemudi mobil Shikamaru, sedang si pemilik mobil malah asik tidur di sebelahnya dengan damai. Sama sekali tidak terusik dengan suasana hiruk pikuk klakson mobil yang terus berbunyi dari berbagai kendaraan lain yang juga terjebak macet sama halnya dengan mereka disekitarnya. Tentu saja macet karena sekarang adalah jam pulang kantor, jalanan penuh dengan berbagai macam kendaraan yang saling berhimpitan.

Jalan raya diseberangnya –dengan jalur sebaliknya- juga sepertinya terkena macet. Benda-benda besi itu merayap pelan seperti ular, sedangkan orang-orang yang mengemudikannya ingin memacu kendaraan mereka secepat mungkin. Naruto melirik kebelakang dan melihat plat mobil yang dikenalinya. Kiba dan Lee ikut ke mobil Chouji. Seperti halnya Naruto, yang mengemudi bukanlah si pemilik mobil, melainkan Kiba. Alasannya berbeda dengan Shikamaru yang ingin tidur, melainkan karena Chouji tidak bisa konsentrasi memasukkan keripik kentang itu ke dalam mulutnya jika matanya harus fokus ke jalan raya.

Naruto menurunkan jendela mobil, sudah lebih tiga puluh menit mereka terjebak macet ini dan belum ada tanda-tanda mereka bisa keluar dari jalan ini.

Lagi-lagi Naruto menghela nafas pelan. Dalam hati berandai-andai kalau saja motornya tidak mogok ia pasti sudah ada di rumah Kiba sambil duduk di depan tv menunggu temann-temannya sampai.

Sebuah perasaan aneh muncul di benak Naruto. Tiba-tiba ada dorongan yang begitu kuat untuk menoleh ke jendela mobil yang tadi dibukanya. Awalnya Naruto mengira ia hanya terlalu bosan sehingga ingin melihat hal lain –selain bagian belakang mobil yang saat ini didepannya. Tapi lama-lama Naruto penasaran juga dan memutuskan untuk menoleh kesamping. Dan apa yang Naruto lihat adalah sesuatu yang pemuda pirang itu sangka sebelumnya.

Disana, jalan raya di seberang untuk jalur yang berlawanan, iris safir Naruto bertemu pandang dengan sepasang manik yang berbeda warna dengan milik si pemuda pirang.

Sepasang iris gelap dengan warna hitam seperti batu obsidian.

Sosok itu juga sedang duduk di belakang kemudi, juga sedang terjebak macet seperti halnya Naruto. Mereka saling bertatapan, sampai suara klakson mobil di belakang Naruto membuatnya harus mengakhiri kontak mata mereka dan menyetir mobil itu melaju ke depan.

5th – The Last

Oktober, 10

Naruto menatap layar ponselnya seolah-olah benda elektronik itu adalah makhluk berdosa. Sudah sejak semalam pemuda pirang itu mengirim berpuluh-puluh e-mail kepada empat temannya, tapi tak ada satupun dari mereka yang membalas. Padahal hari ini adalah istimewa bagi si pirang.

Biasanya di hari ulang tahunnya teman-temannya akan mengirimkan e-mail yang berisi ucapan selamat ulang tahun untuknya pada waktu tengah malam. Lee yang biasanya mengirim e-mail pertama kali tepat pada jam dua belas malam dengan berisi kata-kata motivasi berlebihan disertai gambar emoticon yang sama berlebihannya.

E-mail dari Chouji akan datang lima belas menit setelahnya, dengan pesan yang lebih sederhana namun dibubuhi dengan tambahan P.S yang berisi janji untuk mentraktirnya makanan apapun yang Naruto inginkan.

Kiba akan mengirimkan e-mail esok paginya ketika sudah bangun. Pecinta anjing itu juga memasang alarm di jam dua belas malamnya, namun hal itu percuma karena Kiba tidak akan pernah terbangun hanya karena suara alarm. Jadi ketika terjaga pemuda itu akan segera mengirim ucapan selamat ulang tahun setelah melihat reminder yang muncul di layar ponselnya, plus ucapan maaf karena tidak bangun semalam.

Sedangkan Shikamaru lebih memilih mengucapkan langsung pada Naruto –meski sebenarnya Lee, Chouji, dan Kiba pun juga melakukan hal yang sama walau mereka sudah mengirimi Naruto pesan- ketika mereka bertemu di kantin kampus, terlalu acuh untuk bangun tengah malam hanya demi hal seperti itu.

Tapi pagi ini ketika Naruto membuka mata dan kemudian memeriksa ponselnya, si pirang buru-buru bangun dan segera mengutak atik alat komunikasi tersebut. Tidak percaya ketika sudah memeriksa kotak e-mail-nya untuk yang kesekian kalinya, tidak ada satupun e-mail baru yang dikirim oleh teman-temannya.

Apakah mereka lupa? Tidak mungkin.

Sejak bersahabat dengan mereka, tidak pernah sekalipun teman-temannya saling melupakan hari ulang tahun. Naruto mencoba berpikiran positif dengan berkata pada dirinya sendiri bahwa mungkin mereka akan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya ketika mereka betemu di kampus.

Tapi, hell, jangankan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun, batang hidung salah satu dari mereka saja Naruto tidak lihat. Sepertinya mereka berempat sepakat untuk menghindari si pirang hari ini. Naruto bahkan sudah mencari seluruh area fakultas, kantin, toilet pria, taman di sekitar kampus, bahkan area parkir. Naruto mencoba menelpon mereka semua bergantian, tapi tak ada satupun dari mereka yang mengangkat telepon si pirang.

Memang kedengarannya sangat kekanakan, di usianya yang sekarang genap dua puluh tahun Naruto masih mengharapkan ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi, bagi Naruto merekalah keluarganya, tidak ada ayah, ibu, atau saudara yang akan mengucapkan hal seperti itu padanya karena Naruto memang tidak memilikinya. Selain itu sebenarnya si pirang juga ingin mengeluarkan unek-uneknya, tentang pertemuannya –itupun sebenarnya tidak bisa disebut pertemuan- dengan Sasuke di jalan tempo hari. Bukankah yang kemarin itu sudah bisa dihitung 'pertemuan tak disengaja' mereka? Tapi sejak hari itu ia belum pernah bicara lagi dengan si raven. Berbagai spekulasi bermunculan di kepalanya.

Apakah itu tandanya Sasuke tidak mau? Bahkan hanya untuk mengenal si pirang lebih jauh saja pemuda itu menolak?

Terus berspekulasi sendirian membuat kepalanya pusing, dan tingkah teman-temannya sekarang benar-benar membuat Naruto kesal setengah mati.

Sialan! Naruto mengumpat terus seharian ini. Kemana para kunyuk itu menghilang?

Sampai sore mereka masih juga belum muncul. Akhirnya Naruto menyerah dan memilih pulang ke flat-nya saja. Tapi ketika di perjalanan, Naruto mendapat gagasan untuk mendatangi rumah mereka. Siapa tahu saja sesuatu yang buruk terjadi menimpa mereka sehingga tak sempat memberitahu Naruto.

Rumah pertama yang Naruto datangi adalah rumah Kiba. Namun yang membukakan pintu rumahnya adalah Nyonya Inuzuka, wanita paruh baya itu mengatakan bahwa Kiba sudah keluar rumah sejak jam delapan pagi tadi dan belum pulang sampai sekarang.

Dari rumah Kiba, Naruto mengendarai motornya menuju kediaman Keluarga Akimichi. Jawaban yang didapatnya pun hampir sama ketika mendatangi rumah Kiba. Selanjutnya menuju apartemen Shikamaru hanya untuk mendapati tempat tinggal pemuda Nara itu dalam keadaan terkunci dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Rumah Lee pun sama saja, keluarga mereka semua mengatakan bahwa teman-teman si pirang itu sudah pergi sejak pagi tadi.

Naruto berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjitak kepala keempat pemuda itu satu-persatu jika ia bertemu mereka besok. Setelah mengunci ganda motornya, Naruto berjalan menuju tangga dan naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

Pemuda pirang itu membuka pintu kamarnya dengan langkah gontai. Melepas sepatu kemudian meletakkannya di rak dan menggantinya dengan sandal rumah. Tangannya meraih saklar lampu kemudian menekannya—

"SURPRISE!"

—dan suara yang berasal dari ruang tengah kamarnya membuat Naruto terkesiap kaget.

Setelah matanya terbiasa dengan cahaya lampu, Naruto mengerjap-erjapkan matanya dan menemukan keempat manusia yang sejak seharian ini dicari si pirang.

"Kalian…" Naruto kehilangan kata-kata.

Yang membuat Naruto tidak bisa bicara adalah mereka berempat berdiri dengan topi kerucut berwarna-warni yang terpasang di kepala mereka. Sebuah kue Tart dengan krim putih disekelilingnya dan hiasan stroberi diatasnya, juga sebuah lilin berbentuk angka dua puluh tersemat diatasnya sedang dipegang oleh Chouji. Senyum lebar terpasang di wajah mereka semua.

"Selamat ulang tahun, bodoh!" Kiba berbicara kelewat riang sambil memeluk tubuh si pirang erat.

"Kau pasti seharian ini mencari kami, iyakan?" tanya Lee dengan seringai menggoda. Mereka memeluk si pirang bergantian.

Naruto tidak menjawab, iris safirnya menatap kue ulang tahun itu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

Shikamaru mendengus geli, "Tidak usah terharu sekarang. Hadiahmu yang sebenarnya ada di dalam."

Ucapan Shikamaru tadi membuat Naruto mengalihkan pandangan dari kue tersebut ke wajah Shikamaru yang saat ini sedang menyeringai —nakal?

Melihat Naruto kebingungan, Kiba segera mengambil alih perhatian Naruto.

"Sekarang kami pulang dulu, ceritakan kami besok setelah kau melihat hadiahmu, oke?" tanya Kiba.

"Huh?" si pirang memasang wajah bingung. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud teman-temannya.

"Kami pergi dulu." Shikamaru pamit mewakili mereka semua dan keluar dari flat si pirang.

Chouji meletakkan kue itu di atas meja ruang tengah si pirang dan menyusul teman-temannya beranjak ke pintu keluar. Ketika pemuda itu melewati Naruto, dia berhenti sebentar dan berbisik ke telinga si pirang, "Sisakan kuenya untukku ya." Pesannya.

Si pirang hanya mengangguk, masih tidak mengerti.

"Teman-teman." Naruto memanggil ke empat pemuda yang sudah berdiri di pintu flat-nya. Mereka menoleh bersamaan, dan saat itu si pirang berkata, "Terima kasih."

Mereka semua hanya menjawab dengan senyuman dan kemudian menghilang di balik pintu.

Ketika teman-temannya sudah pulang semua, Naruto melangkah ke kamar tidurnya. Meraih kenop pintu dan memutarnya.

"Kau sudah datang." Suara datar dan rendah itu menyambutnya ketika pintu itu sudah terbuka sempurna.

Naruto terkesiap mendengar suara itu, tubuhnya langsung kaku di tempat. Sosok itu berdiri di depan kedua tangan tenggelam dalam saku celana jeans biru gelap yang dikenakannya. Sosok itu melangkahkan kakinya mendekati si pirang yang masih diam seolah menatap makhluk dari planet lain.

"Sa-sasuke." Naruto menyebut nama si raven dengan terbata. "A-apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.

"Namikaze Naruto, umur dua puluh tahun, mahasiswa Jurusan Teknik Komputer." Ucapan si raven tidak sesuai dengan pertanyaannya. "Makanan kesukaan ramen, menyukai musim gugur, hobi bermain PS dan mendaki gunung, dan jatuh cinta setengah mati pada Uchiha Sasuke."

Itu adalah kalimat terpanjang yang raven katakan pada Naruto, sekaligus pertama kalinya Sasuke menyebut nama si pirang.

"A-apa?" si pirang terlihat speechless.

Si raven menghela nafas. "Kau bilang aku harus mengenalmu lebih jauh, sekarang aku sudah melakukannya."

"Ba-bagaimana kau bisa bersama mereka?"

"Ck," si raven berdecak. "Apakah itu penting?" Sasuke balik bertanya. "Mereka sudah mengatakannya, bukan? Aku adalah hadiah ulang ulang tahun untukmu dari mereka berempat."

Naruto terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

"Kalau begitu, terima kasih." Ucap Naruto pada akhirnya.

"Untuk apa?" tanya Sasuke.

"Karena kau adalah hadiah terbaik yang pernah kudapat." senyum tulus tercipta di wajah tan si pirang.

Naruto bisa melihat dengan jelas rona merah tipis menjalari pipi si raven ketika Naruto mengatakan kalimat tadi.

"Aku adalah hadiah dari mereka, bodoh." Ucapan si raven berubah ketus. "Sedangkan ini adalah hadiah dariku."

Setelah berkata seperti itu si raven menarik kerah kemeja Naruto dan mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka bersentuhan. Iris berbeda warna milik mereka saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Saling menyelami keindahan iris masing-masing.

"Selamat ulang tahun, Naruto." Dan bisikan rendah Sasuke diakhiri dengan si raven menempelkan bibirnya ke bibir Naruto.

Refleks Naruto melingkarkan kedua lengannya di pinggang si raven. Menariknya mendekat hingga tubuh mereka tidak lagi berjarak. Sedangkan si raven merespon perlakuan Naruto dengan balik melingkarkan lengannya di leher si pirang. Saling memagut, merasakan, dan mengisi setiap bagian kosong dalam diri mereka.

Saat itu juga Naruto sadar, hari-harinya setelah ini akan lebih membahagiakan karena ia –Namikaze Naruto- sudah menemukan hal yang paling diinginkannya dalam hidup.

Fin.

(*) Lagu yang dinyanyikan Naruto di chap pertama adalah lagu Greyson Change, judulnya Home Is In Your Eyes.

Wagashi: Kue tradisional Jepang

Dorayaki: Salah satu jenis kue tradisional Jepang. Semacam panekuk dengan selai di tengahnya.

Momiji: Maple

Yeay!

Akhirnya hadiah ulang tahun untuk Naruto selesai juga.

Bagaimana? Apakah fict ini terlalu chessy atau mainstream?

Maaf, kalau memang begitu.

Tapi kalau kalian suka, harap tinggalkan jejak kalian di kolom review yaaa!

and the last,

Selamat ulang tahun, Uzumaki Naruto!

Aku selalu mencintaimu. :*

With love, Nightingale.