Seorang gadis muda melangkah turun dari sebuah kapal di pelabuhan Sindria. Rambut ungunya yang dia kuncir tersembunyi dibalik jubahnya, mata measnya menatap keramaian. Dia tampak sedikit takut saat melihat keramaian di hadapannya.

"Kenapa perasaanku tidak nyaman sejak aku ingin kesini?" pikir gadis itu sambil melangkah kearah pasar.

Ketika gadis itu melihat barang-barang dipasar itu dia tertegun, amatanya oenuh kekaguman melihat pasar itu penuh dengan buah-buah dan tumbuhan obat yang dia butuhkan.

"Lupakan perasaan aneh itu, dan segera beli apa yang kau butuhkan dan pulang" pikir gadis itu dan dengan segera dia memulai tugasnya.


Sinbad mengehela napas berat dia membaca laporan demi laporan dari tumpukan kertas yang ada didepannya dengan wajah datar. Mimpi yang dia alami tadi malam masih mengahantui pikirannya. Ja'far menatap Sinbad, kesal dengan tingkah rajanya. Ja'far berjalan kearah Sinbad.

"Sin, ada apa? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Ja'far kepada Sinbad.

Sinbad menatap Ja'far dengan sedikit terkejut tak lama dia tertawa.

"Hahaha, tidak, tidak ada apa-apa Ja'far" ucap Sinbad sambil kembali membaca laporan yang ada didepannya. Ja'far mengangguk dan kembali mengurusi tugasnya. Namun tak lama saat dia menatap Sinbad, dia melihat rajanya kembali menghela napas dan kali ini dia mulai melamun. Ja'far menghela napas berat sebelum kembali mendekati Sinbad.

"Sin, kenapa kau tidak berjalan-jalan diluar sebentar? Aku akan mengurusi pekerjaanmu.seperti biasa"ucap Ja'far dengan setengah berbisik diakhir.

Sinbad menatap Ja'far dengan wajah datar, tak lama kemudian mata pria itu berbinar.

"Kau benar, terima kasih Ja'far!" teriak Sinbad dengan penuh kegembiraan sambil berlari secepat yang dia bisa. Tiba-tiba Ja'far menyesali kata-katanya ketika dia melihat rajanya berlari secepat itu.


Gadis muda itu melihat sekelilingnya dengan wajah kagum namun juga bingung, tangannya penuh dengan kantung berisi buah dan tumbuhan obat.

"Dimana aku bisa mendapat buah khas dari pulau ini ya?" ucap gadis itu dengan nada bingung, gadis itu menundukkan kepalanya dan berpikir. Tiba-tiba sebuah bayangan menutupi pandangannya kedepan.

"Apakah anda membutuhkan sesuatu nona?" ucap orang itu, dari suaranya gadis itu bisa menebak kalau dia adalah seorang pria. Suara pria itu membuat gadis itu terdiam dan berhenti berpikir, dia dapat merasakan sesuatu perasaan yang aneh, perutnya seperti melilit sesaat. Namun dia tidak mengidahkannya, gadis itu menatap pemilik suara itu dengan tersenyum.

"Ya, tentu saja, apakah anda tahu diaman saya bisa mendapatkan buah khas dari pulau ini?" tanya gadis itu dengan ramah. Tapi saat dia melihat wajah dari pemilik suara itu dia terdiam.

Mata emas bertemu dengan mata emas, tiba – tiba dia merasakan ketakutan melingkupi tubuhnya. Sebelum dia sadar dengan apa yang terjadi tubuhnya telah berlari menjauhi tempat itu, atau lebih tepatnya pria itu.


Sinbad menatap gadis itu dengan wajah terkejut dia merasa tiba-tiba sekelilingnya berhenti. Dia sebelumnya hanya berjalan-jalan ketika dia melihat seorang berjubah terdiam ditengah jalan, dari ukuran tubuhnya dia dapat menebak kalau orang itu adalah seorang perempuan, berpikir jika dia mungkin membutuhkan pertolongan Sinbad mendekati gadis itu dan bertanya. Namun dia tidak menyangka kalau dia akan terkejut saat gadis itu menatapnya.

Rambut ungu yang gadis itu sembunyikan dibalik jubah, bentuk wajah gadis itu, terutama saat mata emas gadis itu, tidak ada seorangpun di dunia ini yang memiliki penampilan yang mirip dengannya kecuali dua orang, ayahnya dan seorang lagi. Sinbad masih ingat ekspresi ketakutan yang ada diwajah gadis itu ketika ketika dia melihat Sinbad, ekspresi yang sama dengan yang dia tunjukkan kepada Sinbad sebelum dia hilang didalam badai 15 tahun yang lalu. Orang yang juga memiliki penampilan yang sama dengan Sinbad, hanya adik perempuannya.

"Shanaz.." ucap Sinbad