Prince

Sae Kiyomi

Untuk Event Minor Chara Paradise

Setelah membuat pesta pernikahan kakaknya hancur berantakan, Gakuko masih harus berurusan lagi dengan pangeran menyebalkan itu! Ia harus menikahi orang itu karena 'kecelakaan' yang terlalu dilebih-lebihkan!

Warning (for you): Typo, aneh, mainstream, alur cepat, silakan membaca! XD

DLDR!

Jika anda seorang pembenci cerita mainstream, dan Sae's Family, silakan pencet tombol exit dan Miya-chan memandu kalian ke arah pintu keluar.

MENGINGATKAN KEMBALI!

Karena mengingat Crypton Family tidak memiliki pairing asli, jadi tidak ada yang namanya crack pair!

Disclaimer: Sae meminjam tokoh Vocaloid.


SaeSite

Sae: halo, kali ini saya muncul di opening XD

Sungguh, terima kasih atas komentar kalian! XD saya berusaha keras untuk mengupdate kilat nih fict satu ini ;) makanya terpaksa fict I Don't Know agak terlambat X3

Hmm, sebenarnya saya akan membahas akan beberapa kesalahpahaman akan fict ini:

1. Soal kenapa paragraph pertama si Gakuko menghajar Luki. Sebenarnya ada alasan dibalik kenapa ia menghancurkan pernikahan kakaknya, jadi bukan masalah saya lupa lho ;D

2. Masalah kehormatan itu (yang ditanyakan oleh .panda-senpai) kehormatan yang dimaksud itu bukan kehormatan sebagai putri kerajaan saja. Yang dimaksud juga dalam fict ini adalah kehormatan sebagai wanita, karena ada juga wanita yang sengaja menjaga ciuman pertamanya sebagai kehormatan. Memang ia merusak jati dirinya sebagai putri yang anggun dan lainnya, namun di sini Gakuko sama sekali tidak tersinggung soal jabatannya sebagai putri, karena beberapa alasan lainnya. XD

3. Hmm, soal latar belakang yang masih belum jelas, perlahan-lahan akan terbaca.


Part 2


Kerajaan Megurine sibuk dipenuhi wartawan dari berbagai negara. Mereka memburu berita yang masih terombang-ambing tidak jelas. Putra pertama kerajaan itu mendecih sebal, dan mengalihkan pandangannya ke arah calon istrinya yang sibuk marah-marah.

"Cepat buka pintunya, pangeran! Akan kuluruskan kesalahpahaman ini!" ucap gadis itu ingin sekali menggaruk pintu sekuat mungkin.

"Jangan berbuat apa-apa. Bersyukurlah aku mau menampungmu di tempat ini. Aku yakin di kediamanmu dan kakak iparmu terjadi keributan besar," kata Luki kesal.

"Aku tidak minta ditampung, bodoh! Aku mau pulang!" kata Gakuko tidak kalah emosi.

"Diamlah, Nona Gakuko! Mengamuk di sini tidak menyelesaikan apa-apa! Dan jangan sentuh barang-barang di sini! Aku tidak mau ada yang pecah seperti kemarin!" balas Luki berjalan bolak-balik membenarkan barang-barang yang mau dilempar oleh Gakuko.

"Pulangkan aku! Sama saja aku di isolasi di sini! Kalau kau tidak memulangkan aku, aku akan loncat!" teriak Gakuko marah. Luki hanya membalas tatapan sang putri dengan datar dan dingin.

"Keluarlah. Tidak ada yang menginginkan dirimu di sini. Jangan salahkan kami jika kamu habis digigit oleh paparazzi itu. Kuberitahu saja, kamu tidak akan dapat meluruskan apapun jika kembali ke tempatmu dan malah merepotkan Ayahmu. Bersifatlah sebagai putri, aku sudah lelah menghadapimu," kata Luki dengan angkuh.

"INGATLAH, AKU TIDAK AKAN MAU MENIKAH DENGANMU, PANGERAN SOMBONG!" teriak Gakuko. Luki tidak mengubrisnya. Gakuko menggigit bibir bawahnya, dan meninggalkan Luki.

Luki tertawa sinis, dan kembali menyeruput teh di depannya.

"Pangeran, para wartawan makin marah karena tidak diberi masuk," seorang pemuda menunduk hormat kepada Luki.

"Biarkan mereka tetap di sana. Aku akan turun."


Gakuko menghentak-hentakkan kakinya sepanjang lorong, membuat para pelayan di sana ketakutan mendekatinya. "Putri apanya!? Di Kamui Village, kami semua tidak memandang jabatan! Sejak munculnya pangeran sombong itu, aku dibatasi oleh peraturan!"

Gadis itu melempar sepasang sepatu yang ia pakai kini, dan berjalan bertelanjang kaki. Gaun pendeknya ia ikat agar terangkat, dan masuk ke dalam kolam ikan. Kakinya ia goyang-goyangkan, sehingga para ikan ketakutan untuk mendekatinya.

Gakuko mengamati seekor kucing memasukkan tangannya ke dalam air, dan berusaha mengambil ikan di dalamnya. Beberapa kali ia coba, ia terus gagal. Gakuko masuk ke dalam air, sehingga air yang sebelumnya hanya mengenai telapak kakinya, membasahi seluruh kakinya. Ia menangkap seekor ikan dengan tangan, dan melemparnya ke daratan.

"Dapat kan? Kenapa kamu tidak mau meminta tolong padaku?" kata Gakuko nyengir.

"Meow," balas kucing berbulu biru. Baru kali ini ia melihat kucing seunik ini.

"Kamu suka ikan? Mau berapa?"

"Meow."

"Satu saja? Cukup?" balas gadis itu lagi.

"Meow."

"Iya, aku tidak memaksamu, kok," ucap Gakuko. Ia duduk di pinggir kolam dan mengadahkan kepalanya ke atas. Ia mengamati langit yang mulai berubah warna dan awan yang merangkak perlahan-lahan.

"Haa, kenapa masalah ini terus menghantuiku, ya?" kata Gakuko bicara sendiri. Si kucing menghentikan aktivitas memakan ikan. "Padahal selama ini aku tidak pernah sebingung ini menghadapi masalah beginian. Sudah berapa kali aku melanggar hukum, tapi tidak pernah ada yang selarut ini. Lagipula, kenapa mereka mau melamarku, ya? Padahal aku sangat nakal, tidak tahu etika, tidak pantas menjadi putri, tidak suka upacara adat, tidak mengerti tata krama, dan banyak, sangat banyak putri yang jauh lebih baik daripadaku. Sesungguhnya kalau Luki mau meluangkan waktunya untukku, aku bisa bertanya padanya lebih banyak," ceritanya. "Ah, bicara apa sih aku ini? Aku bercerita pada seekor kucing? Aku sudah gila."

"Aku bisa mewujudkan permohonanmu itu." Gakuko mengangkat kepalanya. Tampak seorang wanita cantik berdiri di depannya. Apakah dia ibu dari Luki?

"Bukan. Aku adalah penyihir kerajaan Megurine," ucapnya tersenyum. Kucing tadi melompat ke arah wanita itu. "Namaku Akiko. Aku bekerja di sini sudah lebih dari 30 tahun. Mengapa kamu memelototiku? Tua? Hahaha, itu misteri wanita, sayang. Terima kasih sudah menemani putraku bermain," lanjutnya lagi. Gakuko menyerit. Putra? Kucing? Berarti suaminya kucing? Atau dia siluman kucing?

"Tidak, suamiku manusia, jadi saat ia mengetahui aku penyihir, ia meninggalkanku yang masih mengandung. Aku penyihir, bukan siluman," kata Akiko seolah bisa membaca pikiran. "Putraku kena kutuk selama dua belas tahun. Aku sudah berusaha memecahkan kutukannya, tapi tidak bisa."

"Kutukan apa yang ia terima? Siapa tahu aku bisa bantu," kata Gakuko cepat.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu model kutukan apa," ucap Akiko mengangkat bahunya. "Apa putri yakin, bisa menghilangkan kutukannya?"

"Tentu saja," ucap Gakuko berdiri. "Tidak ada yang tidak bisa."

"Terima kasih," kata Akiko menunduk. "Putraku akan menyertai anda. Panggillah dia, Putri."

"Siapa namamu?"

"Meow."

"Namanya Dell."

"Dell," ucap Gakuko. "Ayo."

"Meow."

"Sampai jumpa lagi, putri."

"Terima kasih, penyihir!"


"Sialan!" Luki ingin sekali membanting benda-benda di sekitarnya, namun karena ia sangat maniak kebersihan, ia mengurungkan niatnya dan menggantinya dengan membanting kertas yang ia pegang.

"Tuan, sepertinya para wartawan tidak menerima jawaban singkat yang anda berikan. Mereka ingin mendengar hal lain."

"KELUARLAH! TIDAK ADA YANG PERLU DIJELASKAN LAGI!" teriak pemuda itu marah.

"Baik, permisi," kata pelayan menutup pintu ruangan kerja Luki yang cukup mungil.

"Luki!" Gakuko membanting pintu beberapa detik setelah pelayan meninggalkan ruangan itu.

"Apa lagi, putri Gakuko?" kata Luki kesal.

"Lihatlah! Apa kau tahu cara memusnahkan kutukan-"

"Bukan urusanku," kata pemuda itu. Gakuko cemberut.

"Pangeran Luki, kita akan menikah, kau tahu!? Cepat atau lambat kita akan tinggal di tempat yang sama, akan hidup bersama sampai nanti! Aku calon mempelaimu, pangeran sombong! Kau harus berbagi padaku, juga sebaliknya! Aku hanya meminta tolong, dan kamu marah, hah!?" kata Gakuko dengan lantang.

"Bisakah kamu meninggalkanku sendirian? Aku capek, sungguh."

"Kamu bahkan tidak mau mendengarkanku!?"

"KELUAR!" bentak Luki. Emosinya mendidih, marah.

"Sekarang kamu membentakku! Maumu apa, hah!?" teriak Gakuko mengangkat Dell. Emosinya terpancing untuk membentak dan adu bicara. "Ayo pergi, Dell! Aku tidak punya kepentingan di sini terus bersama pangeran sinis ini! PERMISI!"

Gadis itu kembali membanting pintu. Ia muak, capek, lelah. Dia tahu, sikapnya ini dapat menghancurkan pertemanan kerajaannya dengan kerajaan Luki. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa waktu itu ia melayani ucapan Luki. Sungguh, mentalnya lelah.

Gadis itu berlari keluar dari istana, diikuti oleh Dell yang mengejarnya.

"Meow!"

Gakuko berlari menerobos kerumunan wartawan. Wartawan-wartawan itu yang sempat melihat Gakuko langsung mengejarnya dan memotretnya, serta menambahkan pertanyaan-pertanyaan seperti tsunami kepada gadis itu.

"Nona Kamui! Apa benar anda pacaran dengan Pangeran Megurine!?" "Nona, bagaimana dengan pesta pernikahan anda? Kapan resminya?" "Seberapa banyak biaya yang anda keluarkan?!"

Gakuko terus berlari tanpa memedulikan teriakan-teriakan itu. Gadis itu membelok ke sebuah gang, dan membiarkan para paparazzi mengejar sesuatu yang tidak berarti. Ingin sekali ia merobek roknya dan menghanyutkannya di sungai, untuk melampiaskan kekesalannya. Gadis itu memukul tembok, sehingga berbunyi dentuman keras.

"Aku sangat bodoh, Dell. Untuk apa aku mengikuti game yang telah dirancang olehnya? Sesungguhnya, aku hanya bisa mengikuti alur tidak jelas itu. Untuk apa aku mengalah untuk mengetahui takdirku menikah dengannya? Capek, sungguh. Aku harap aku bisa menghilang saja dari sini. Aah, mungkin Ayah telah menghubungi Luki. Entahlah, ayo jalan lagi," ucap Gakuko bergumam. Gakuko berjalan lagi, melawan arah dengan para wartawan.

Tanpa di duga, cuaca yang mendung berubah menjadi hujan gerimis. Gakuko membiarkan seluruh tubuhnya basah, sambil menggendong Dell yang ia balut dengan selendang.

"Meow."

"Iya ya, basah? Maaf ya."

"Meow."

"Aku? Tidak apa-apa, kok. Besok akan kutegur Luki agar meratakan tanah di negerinya. Sepatuku nyaris terlapisi lumpur semua."

"Meow."

"Terima kasih telah mencemaskanku. Andai kamu sudah berubah menjadi manusia, mungkin aku akan jatuh cinta padamu."

"Meow."

"Aku tahu itu mustahil. Haa, ayo kita cari tempat perlindungan sementara. Aku tidak tahu kalau di luar saat hujan begini seberbahaya apa."

"Meow."

"Aku harap aku dapat segera menemukan pangeranku."

"Meow."

"Luki? Haha, dia hanya memanfaatkanku sebagai status. Dia menjebakku dalam permainannya. Aku hanya mengikuti alur. Sayang sekali, aku tidak mencintainya. Lagipula dia bukan pangeran impianku. Aku mengharapkan pangeran yang begitu sejati, benar-benar prince charming. Setidaknya dapat mencintaiku dengan tulus. Sangat disayangkan tidak ada sifat itu pada calon suamiku. Tentu aku tidak menyerah, Dell! Jangan menatapku seperti itu. Lihat saja, aku akan menemukan pangeran idamanku, dan membuat Luki menyerah!"

"Meow."

"Iya, iya, dingin."


TO BE CONTINUED


SaeSite

Mitsu: haooo, Mitsu di sini! RnR, minna!?