Keluarga yang beradab dan dipandang tinggi, kekayaan yang melimpah, hidup dalam kemewahan, segala kebutuhannya terpenuhi, dan tak pernah kurang mendapatkan kasih sayang. Semua hal itu mungkin merupakan surga duniawi yang diimpikan oleh semua orang, namun betapa adilnya Tuhan karena ia memberikan seluruh berkah itu kepada seorang namja bernama Park Jimin.

Keluarganya sangat dipandang karena ayahnya merupakan pemegang saham terbesar di Korea Selatan dan merupakan presiden direktur dari sebuah perusahaan perdagangan internasional yang bertempat di Korea Selatan. Sementara ibunya adalah seorang hakim yang terkenal akan keputusan bijaknya dan anti suap. Walaupun pekerjaan kedua orang tuanya berat, tetapi Jimin tak pernah kurang kasih sayang. Jika kedua orang tuanya memiliki kesempatan untuk libur walaupun hanya sehari, mereka akan menyempatkan untuk berbincang hangat dengan Jimin atau sekedar bercanda. Jika mendapat libur panjang, maka mereka akan pergi berlibur keluar negeri.

Jimin adalah anak tunggal. Sejak kecil, Jimin sudah diurusi segalanya oleh para pelayan yang berada pada mansion tempatnya tinggal. Karena urusan pekerjaan, akhirnya ia dan keluarganya pindah dari mansion tersebut dan membangun rumah yang cukup besar di Seoul. Walaupun begitu, ia tetap menyewa sedikitnya 4 orang pelayan untuk mengurusinya. Jadi, ia tak kurang apapun.

Karena sejak kecil dibiasakan untuk hidup seperti itu, Jimin terbiasa manja. Ia selalu berpikir segalanya dapat dengan mudah ia dapatkan. Dan karena hal ini juga, ia mendapatkan sindrom Peter pan ini. Hal tersebut baru ia ketahui setelah salah satu teman ayahnya yang merupakan seorang dokter ahli psikologi memperhatikan gerak – geriknya. Bukannya sedih, Jimin malah bersikap tak peduli. Dirinya adalah dirinya, maka ia tak memutuskan untuk berubah.

Tetapi jika menjadi penderita sindrom Peter pan untuk selamanya, bukankah itu berarti ia akan sulit mendapatkan teman dan juga kekasih? Jimin bahkan belum memikirkan sampai ke sana karena adanya sindrom ini. Ia hanya berpikir ia akan menjadi seorang sutradara yang sukses dan staffnya dapat menuruti titahnya.

Peter pan

T

Romance, Drama/?

BTS dibawah naungan BigHit Entertainment, para membernya ciptaan Tuhan YME dan lahir dari ortu mereka masing masing. Saya selaku author hanya meminjam nama.

Cast: Seluruh member BTS, beserta karakter bantuan yang saya ciptakan sendiri

AU/BL/Yaoi/OOC/?/a bit humor, a bit friendship, a bit drama— okay, i'm bad at this

Note: 'Inner'for inner, Italic for flashback

YoonMin, VKook. Slight!VMin

( Yoongi and V as a seme; Jimin and Jungkook as an uke )

Don't like, don't read

[ Fanfic ini merupakan fanfic kedua saya dalam fandom ini. Terinspirasi dari k-drama 'Pinocchio', namun tak sepenuhnya mirip. Merupakan hasil jerih payah pemikiran saya sendiri. Mohon maaf jika banyak istilah yang salah karena saya masih baru dalam mengenal bahasa korea. Berkaryalah dengan imajinasimu sendiri tanpa menjiplak milik orang lain. Trims ]

Enjoy

.

.

"Jika iya, aku akan membantu menyembuhkan sindrommu itu"

Lontaran kalimat tersebut membuat Jimin nyaris terjatuh dari tempat duduknya. Wajah manisnya nampak menatap Yoongi tak percaya. Menyembuhkannya? Mengapa secara tiba-tiba? Tangan Jimin terulur pada pipi Yoongi sehingga membuat Yoongi mengedipkan kedua matanya. Apalagi yang akan dilakukan sang Peter pan kali ini?

Jimin mencubit pipi Yoongi.

"Ouch—"

"Kau merasa sakit!" Ucap Jimin antusias lalu melepaskan tangannya dari pipi Yoongi.

"Ya, lalu—"

"—Sudah kubilang kau merasa sakit!" Jimin malah menjadi. Yoongi mengusap-usap pipinya karena rasa sakit yang masih membekas. Kekuatan tangan pria didepannya ini tak boleh ia anggap remeh.

"Lalu ada apa dengan hal itu? Kau puas mencubiti pipiku?"

"Bukan begitu, aku sedikit bersyukur karena kau tak sedang bermimpi. Maksudku— ucapanmu tadi tidak kau karang. Walaupun kau bilang begitu, aku tak akan berubah. Aku suka diriku yang seperti ini!"

"Heh" Yoongi menyeringai tipis, sepertinya hal ini tak mudah baginya. Ia sangat ingin memperbaiki isi kepala Jimin, agar ia dapat menciptakan filmnya sendiri. Bukannya ia malah bergantung pada ayahnya. Yoongi tak suka jika ada yang membanggakan orang brengsek seperti ayahnya, yang sudah memperlakukannya seperti binatang sejak kecil.

Sementara Yoongi kembali membaca bukunya, Jimin malah teringat bahwa ia benar-benar harus ke lokasi syuting secepatnya. Sebelum itu, ia membuka naskahnya cepat-cepat karena ia ingat bahwa ia harus membutuhkan seorang–

"—Pemeran pengganti! Aggh, bagaimana aku bisa melupakannya?! Sial!" Jimin mengacak-acak rambut merahnya frustasi sehingga membuat Yoongi sedikit menjauhkan badannya. Sepertinya ia harus membiasakan diri untuk kaget karena pergerakan Jimin yang selalu tiba-tiba adanya. Mendengar hal tersebut, Yoongi buru-buru mengambil bukunya dan membacanya kembali.

'Oke, Yoongi. Kau harus membaca bukumu. Jangan terlibat oleh hal-hal yang berbau perfilm-an dan juga tetek bengeknya. Jangan peduli, jangan dilihat, dan jangan merasa kasihan. Baca, baca, baca'

"Yoongi-ssi"

'Jangan peduli,'

"Yoongi-ssi~~"

'Jangan dilihat'

"Yoongi-ssi~ Yoongi-ssi~~"

'Jangan merasa kasihan,'

"Yoongi-ss—"

"—Apa?" Pada akhirnya, Yoongi menyerah. Benar-benar. Jika saja namja manis didepannya ini bukan merupakan sosok yang imut dan penderita sindrom Peter pan mungkin ia akan memukulnya tepat diwajahnya.

Ah, apa tadi ia berpikir bahwa namja dengan rambut mencolok ini imut?

'Aku hanya menilai penampilannya saja' Yoongi mengherdikkan kedua bahunya.

"Jangan kasar begitu dong! Aku menawarimu pekerjaan. Kau tak mau?" Jimin melipat tangannya didada dengan ujung tangan yang memegang naskah untuk film tersebut. Yoongi mulai terdiam dan mengusap batang hidungnya, pertanda ia tengah berpikir. Jika ia menerima penawaran tersebut, mungkin ia dapat memanfaatkan peluang itu untuk menyembuhkan Jimin secara diam-diam. Tak buruk, walaupun ia harus berkecimpung di dunia –yang menurutnya seperti sampah– itu.

"Pekerjaan seperti apa?" Yoongi pura-pura tak mendengar pekikkan Jimin tadi. Jimin tersenyum senang dan membuat wajahnya terlihat serius, namun kesannya masih saja imut.

"Kau harus menjadi pemeran pengganti. Itu mudah!"

"Baiklah. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Jadi, adegan pertama apa?"

Jimin segera membuka naskahnya agar dapat menjawab pertanyaan Yoongi. Setelah kedua manik matanya menemukan yang ia cari, ia segera memperlihatkannya pada Yoongi dengan antusias.

"Kau hanya perlu loncat dari gedung apartemen 15 lantai, lalu bungee jumping dari jembatan yang ada di Busan! Mudah, bukan?"

Yoongi terdiam.

"Jimin-ah"

"Hm?~"

"Film ini... film percintaan, bukan?"

( BTS )

"Kim Taehyung! Apakah benar anda sedang merajut kasih dengan seorang model dari Italia?"

"Kim Taehyung, bisakah anda memberikan komentar anda pada berita ini?"

"Taehyung! Bisa tolong berikan komentar anda?"

"Taehyung! Taehyung!"

Suara-suara yang terdengar saling bersahut itu sudah menjadi sarapan pagi bagi seorang aktor terkenal yang tampan, Kim Taehyung. Di usianya yang masih 20 tahun itu ia sudah memenangkan berbagai awards dari berbagai nominasi seperti aktor terbaik, aktor tertampan, atau semacam itulah. Maka dari itu, semua wanita tergila-gila pada aktor tampan satu ini. Aktingnya selalu dapat memukau para pemirsanya di hadapan layar kaca. Baik itu akting saat ia menangis, tertawa, marah, menjadi tokoh protagonis ataupun antagonis. Sebenarnya ia baik, namun ia hanya sedikit nakal saja.

Maksud 'nakal' disini adalah dimana ia suka berteman dan bermain-main dengan perempuan. 'Bermain-main' disini pun memiliki arti yang sebenarnya karena Taehyung merupakan namja yang terbilang humoris. Ia pernah dikabarkan dekat dengan salah satu anggota girlband, model, sampai anak presidenpun pernah. Namun ia menepis semua kabar miring tersebut seolah hal itu hanyalah sebuah angin lalu. Memang, jika seorang aktor/aktris dekat dengan yang lainnya sedikit saja mereka sudah dikabarkan menjalin kasih. Taehyung dapat mengerti hal itu.

"Maaf, semua hal tersebut tak benar. Kini aku tengah sibuk untuk syuting sebuah film layar lebar. Jangan lupa nonton ya!" Ucapnya dengan senyum sambil melambaikan tangan ke arah para wartawan dan segera menuju ke mobilnya untuk segera berangkat ke lokasi syuting. Hitung-hitung juga ia menghindari para wartawan yang ada.

Saat dimobil, ia menghela nafasnya. Ini begitu melelahkan. Ia pasti akan mengatakan,

"Jadi jelek sulit, jadi tampan juga sulit" Lalu, ia menghela nafas setelah mengucapkan kalimat yang penuh rasa percaya diri itu.

"Kita akan kemana, tuan?"

"Ke distrik *****. Aku akan memulai syuting hari ini" Nampak Taehyung tersenyum dan memeriksa ponselnya. Sebenarnya ia baru pertama kali syuting dalam film buatan sutradara terkenal sepert Min Jungsoo, entah mengapa ada perasaan bangga dalam dirinya saat mengetahui bahwa ia direkrut oleh sutradara baru yang katanya merupakan anak dari orang terpandang. Mungkin hal ini akan menjadi menarik.

( BTS )

"Waah, tak kusangka kau akan menerimanya. Memangnya kau ini tak memiliki pekerjaan? Bagaimana kau bisa tahu... kalau aku penderita sindrom Peter pan?"

"Aku sering membaca buku, itulah gunanya buku" Balas Yoongi bohong, tanpa sedikitpun melihat ke arah lawan bicaranya yang kini sedang memajukan bibirnya. Yoongi masih membolak balik naskah yang merupakan buatan ayahnya dengan malas karena dipaksa oleh Jimin agar mengerti jalan ceritanya. Intinya, Jimin hanya menyukai cerita bergambar seperti komik atau semacamnya. Tanpa gambar rasanya hampa, kecuali naskah milik Min Jungsoo tentunya.

"Huuh, terserahmu saja, Yoongi-ssi. Hmm.. mengapa kau memakai beanie?"

"Memangnya kenapa? Salah?" Yoongi masih tak mengalihkan pandangannya ke arah Jimin. Entah mengapa Jimin tak suka jika ia tak diperhatikan. Hal tersebut mengundang niat Jimin untuk jahil dan dengan cepat membuka beanie milik Yoongi dari kepalanya. Alhasil, surai Yoongi yang berwarna putih sebahu membuat Jimin tertegun dan mematung ditempat. Sementara itu, Yoongi mengambil kesempatan untuk mengambil beanienya kembali dan memakainya.

"R-rambutmu panjang! Seperti anak perempuan!"

"Lalu kenapa? Aku malas memotongnya" Balas Yoongi dengan entengnya.

Jimin mengernyit, lalu mencengkram pergelangan tangan milik Yoongi dan langsung saja menariknya. Yoongi dengan refleks terbangun dari tempat duduknya atas tarikan Jimin yang mampu membuatnya bangkit. Apalagi yang akan dilakukan sang Peter pan kali ini, huh?

"Ayo, kita ke tempat syuting sekarang agar para staffku bisa mendandanimu dan mengubah penampilanmu! Untung saja kau cat rambut putih! Aktor kami memang rambutnya putih! Ayo!"

Bukan masalahnya rambut putih atau bukan, tetapi Yoongi tak rela jika rambutnya benar-benar harus dipotong. Ah, tapi untuk tujuannya, ia rasa hal tersebut tak apa-apa. Model apapun bahkan botak sekalipun ia akan terima.

( BTS )

Taehyung yang lengkap dengan kacamata hitamnya kini sudah sampai pada lokasi syuting dan mendapati suasana ditempat tersebut cukup riuh dengan wajah para staff yang terlihat panik. Penasaran, Taehyung menghampiri dan bertanya pada seorang cameraman.

"Permisi. Mengapa ribut begini? Dimana sutradaranya?"

"Oh- maaf, kami sedang khawatir karena sutradara kami belum datang. Maafkan atas ketidaknyamanan kami" Terlihat cameraman itu membungkuk meminta maaf kepada Taehyung.

Taehyung bungkam. Ia baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Seorang sutradara yang akan memimpin berlangsungnya sebuah film layar lebar dari seorang sutradara yang ternama terlambat hadir pada saat pertemuan pertama? Memalukan. Taehyung mendengus kesal. Ia kira hal ini akan menjadi menarik tetapi—

"Aggh! Aku terlambat ya? Berapa menit?" Tiba-tiba suara cempreng itu membuat Taehyung menoleh dan wajah kesal yang tertutupi dibalik kacamata hitamnya itu berubah seketika saat melihat sosok namja manis yang baru datang tengah terengah-engah. Perlahan, ia menurunkan kacamata hitamnya dan wajahnya terlihat melongo serta tatapannya yang awalnya benci malah berubah menjadi kagum.

"Ini akan menjadi sangat menarik" Sebuah seringai tipis hadir dibibirnya.

.

.

( TBC )

Karena saya mendapat respond yang positif, jadi saya lanjut aja wkwk

Disini, rambut mereka semua waktu versi 'Dope' yak. Jadi Jimin rambutnya warna merah, Suga putih, Tae kecoklatan /?. Rambutnya Suga saya buat kek cewek di chapter ini, tapi akan segera dipotong kok supaya kekinian /ga. Tampan, maksudnya. Maunya saya bikin versi 'War of Hormone' tapi jangan ah, terlalu sexy /woi

Ada yang nanya, kenapa Suga bisa langsung tau kalo Jimin terkena penyakit sindrom Peter pan? Gimana caranya Suga nyembuhin Jimin? Nah, akan saya bahas di chapter-chapter depan /hoi

Btw dah ada yang nonton weekly idolnya BTS yg terbaru? Katanya mas Heechul cium pipi Jimin yak? /gausahngegosip

Yakkk terima kasih buat para reviewers! Makasih banyak juga buat follows dan favoritnya! Saya harap cerita ini bisa nyambung alurnya sehingga ga membuat kalian bosen bacanya wkwk Review yang bisa dibalas, saya balas lewat PM. Kalo yang kagak disini aja.

Untuk Guest: Wohoo, thanks! Moga saya bisa lanjutin fic ini yak wkwk Terima kasih reviewnya.

Akhir kata,

Sekian dan terima kasih telah membaca!