Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Ku Benci Kau dengan Cintaku © Bianca Jewelry
Ku Benci Kau dengan Cintaku © Tito
Rating : T
Warning : BL. AU. OOC (maybe).
(Boleh didengerin lagunya waktu baca ini. Versi Tito lebih ngepop, kalo versi Nindy lebih kalem)
.
Part 1 : Everything Has Changed
.
Apa kau percaya ikatan takdir, hei Aomine? Ketika benang merah takdir imajiner terikat di jari kelingkingmu dan menghubungkannya dengan orang yang tepat? Aku percaya. Memalukan memang aku mempercayai hal seperti itu. Jika kau berada di sini sekarang, mungkinkah kau akan bertanya apakah aku sudah menemukan orang itu? Jika ya, pertanyaanmu akan kujawab dengan pasti, ya, aku sudah menemukannya satu tahun lalu...
.
Aku sedang membahas pertandingan basket kemarin dengan salah satu seniorku dan menatap wajahnya ketika orang itu menabrakku cukup keras. Oke, ini tikungan dan memang tidak seharusnya aku tidak menatap jalan. Aku akan jatuh kalau lengan kekar itu tidak menahanku. Aku harus cepat-cepat meminta maaf. Namun ketika aku mendongak dan menatap wajahnya...
"M—"
Bukuku terjatuh dan kata-kata yang ingin kuucapkan mendadak tertahan di ujung tenggorokanku. Dan aku merasa wajahku memanas. Aku tak berhenti menatapnya sampai ia menarik lenganku untuk berdiri dengan benar.
"Ah, maaf," ucapnya.
Aku buru-buru mengambil bukuku kemudian membungkukkan badan. "Aku juga minta maaf."
"Kutinggal dulu Kagami-kun," kata seniorku.
"Ah iya, senpai. Maaf merepotkan."
Seniorku tersenyum dan aku menatap kepergiannya ketika seseorang menyapaku.
"Halo, Kagami-kun."
Aku melompat kaget dan memasang wajah horor. "Sejak kapan kau berada disana, Kuroko?!"
"Aku disini sejak tadi, Kagami-kun."
"Oh, kau kenal dia Tetsu?" tanya pemuda berkulit gelap itu.
"Kenalkan Aomine-kun. Ini Kagami-kun, teman SMA-ku."
Aku mengulurkan tangan dan ia menjabat tanganku. "Kagami Taiga. Salam kenal!"
"Aomine Daiki. Salam kenal!"
Hari itu, kami makan bertiga. Aku juga sempat bertukar nomor telepon dengan Aomine. Kami bercerita banyak hal dan aku mulai tahu sedikit tentangmu.
.
Hei, Aomine, tahukah kau bahwa betapa bahagianya aku hari itu? Ditambah fakta bahwa kau adalah teman Kuroko semakin memudahkanku untuk mengetahui lebih banyak hal tentangmu. Aku merasa bahwa kau adalah orang yang ditakdirkan untukku ketika aku menatap wajahmu hari itu. Ah, tetapi kadang aku takut. Takut jika kau tahu aku menyukaimu. Apakah kau akan menjauhiku? Atau kau akan tetap berada di sampingku? Tetapi aku tak menyangka, jika kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.
.
"Huh?" Aku melongo mendengar perkataan Aomine.
"Kau bisa berkata apapun selain 'huh'," sahut Aomine malas.
Aku berdeham. "M-maksudmu Aomine?"
Ia mengalihkan pandangannya. Aku bisa melihat wajahnya agak merona. "Maksudku... Yah, mungkin kita bisa mempunyai hubungan yang lebih intim. Ah! Kau pasti mengerti maksudku!" Aomine mengacak rambutnya frustasi.
Aku merasa jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku menunduk dan membawa tanganku merasakan degup jantungku. Maksud Aomine, dia memintaku jadi kekasihnya begitu? Ya Tuhan, ini bukan mimpi 'kan? Aomine tidak bercanda 'kan?
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kau siap menjawabnya. Aku pergi dulu. Ada kelas setelah ini." Aomine berdiri dan beranjak pergi. Ia sempat menepuk kepalaku. Aku menoleh dan memanggilnya. Ia berhenti dan menoleh ke arahku. "Aku bersedia," kataku lalu tersenyum.
Aomine membalas senyumku dan ia berbalik kemudian melambaikan tangannya.
.
Aku rasa ini terlalu mudah untukku. Berkenalan denganmu kemudian menjadi kekasihmu. Apakah ke depannya jalan yang kita lalui juga akan semudah ini? Kurasa jawabannya tidak. Beberapa bulan setelahnya kau jarang mengirim e-mail. Kalaupun aku yang memulai kau akan menjawabnya singkat atau segera menyudahinya. Kau pun tidak datang ketika mengajak kencan padahal aku sudah menunggumu berjam-jam. Ketika aku menghubungimu kau mengabaikannya atau aku tersambung ke kotak suara, yang berakhir aku menunggumu sampai malam. Kita pun juga sudah jarang bertemu, padahal kita berada di kampus yang sama 'kan? Aku juga sering melihatmu berjalan berdampingan dengan beberapa lelaki. Hei, Aomine, apakah kau se-playboy itu? Atau aku yang terlalu bodoh karena tidak mempercayai perkataan teman-temanku? Apakah kau sadar bahwa aku memperhatikanmu dengan para lelaki itu? Beberapa di antaranya temanku, lho. Tetapi aku diam saja. Apakah kau sudah bosan denganku? Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi? Terakhir aku sering melihatmu dengan lelaki berambut pirang. Hari itu aku melihatmu dengannya. Kencan ya? Lelaki pirang itu menggelayuti lenganmu dengan manja. Raut wajahnya tampak bahagia, kau juga—kurasa.
"Kise Ryota," kata Kuroko tiba-tiba.
Aku mengalihkan pandanganku dari Aomine dan menatap Kuroko yang ada di hadapanku. Aku yang merasa bosan hari itu mengajaknya jalan dan mampir di Maji Burger untuk makan siang.
"Siapa?"
"Pemuda pirang itu, namanya Kise Ryota."
"Ah, lalu?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Aku tidak sebodoh itu Kagami-kun. Aku tahu kau memiliki hubungan khusus dengan Aomine-kun."
Aku terkejut dengan perkataannya. Ya sudahlah, tak ada gunanya menutup-nutupi kalau Kuroko sudah tahu. Aku hanya tersenyum miris.
"Dulu kami satu sekolah. Aku mengenalnya saat masuk klub basket SMP Teikou. Dan aku merasa Aomine-kun menyukai Kise-kun, sampai sekarang."
"Sedalam itukah? Perasaannya kepada Kise?" tanyaku pelan.
"Apakah Kagami-kun berkata sesuatu?"
Aku menggeleng lalu tersenyum.
"Apakah Kagami-kun baik-baik saja? Kagami-kun tidak ingin menghampirinya?"
"Itu akan memperkeruh suasana Kuroko," jawabku.
Aku merasa ada yang melihatku dan aku menoleh keluar jendela. Aomine menatapku, tubuhnya tampak kaku. Mungkin ia terkejut karena berkencan dengan selingkuhannya lalu bertemu denganku. Ia langsung menurunkan tangan Kise yang berada di lengannya. Bisa kulihat pemuda pirang itu menatapnya bingung.
"Ah, Kuroko, mungkin aku harus pulang sekarang," pamitku.
"Kuantar, Kagami-kun."
"Tidak perlu Kuroko. Maaf ya, aku pulang dulu. Sampai nanti!" Aku berdiri dan buru-buru keluar dari Maji Burger.
Aku berlari ke arah apartemenku ketika melihat Aomine akan masuk ke dalam Maji Burger. Tiba-tiba Aomine berbalik arah. Ia mengejarku. Bisa kudengar Kise meneriakkan namanya.
"Kagami!"
Aku mendengar Aomine memanggil namaku dan menarik tanganku. Ia meraih bahuku lalu memutar badanku. Apakah kemampuanku menurun sehingga Aomine bisa mengejarku? Ataukah tubuhku juga lelah dengan sikapmu?
"Apakah kencanmu menyenangkan, Aomine?" tanyaku dengan senyum palsu.
"Kagami... Ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucapnya. Aomine mencengkeram bahuku.
"Ah, lalu?"
"Kagami dengar—"
"Kalau kau sudah bosan denganku lebih baik kita putus," kataku dingin.
Aomine terkejut. Aku juga terkejut dengan apa yang barusan aku katakan.
"K-Kagami..."
"Sudahlah Aomine, aku lelah," kataku lalu melepaskan tangan Aomine dari bahuku.
"Kagami!"
"Please, aku butuh sendiri," mohonku dengan raut lelah. Dan aku beranjak pergi.
.
Aomine terus menghubungiku setelah kejadian itu, tetapi aku mengabaikannya. Boleh 'kan aku membalasnya? Tetapi setelah hari itu berakhir, ia tak lagi menghubungiku. Aku pun jarang melihatnya di kampus. Kau benar-benar sudah bosan denganku ya? Kenapa aku jadi melankolis begini sih? Aku menghela napas dan menutup mata, berharap rasa lelah ini akan segera sirna.
.
Hari itu hari ulang tahunku. Siang itu aku mencoba menghubungi Aomine, untuk makan bersama—hei, setelah tujuh belas tahun lajang, boleh 'kan aku merayakannya dengan orang yang kusayangi?—dan berbaikan—duh, aku tidak serius minta putus dari Aomine—tetapi lagi-lagi ia tak menjawab panggilanku. Hari itu, tak ada yang mengucapkan selamat kepadaku. Ah, bukan maksudku ingin diberi ucapan selamat sih. Aku sibuk dengan pikiranku sampai bel apartemenku berbunyi. Aku beranjak dari sofa tempatku duduk dan membuka pintu. Lalu terkejut dengan apa yang ada di hadapanku.
"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun, Kagami! Selamat ulang tahun!"
Himuro Tatsuya—teman masa kecilku—berdiri di hadapanku dan membawa sebuah kue ulang tahun, bersama dengan Kuroko, dan anggota klub basket SMA-ku. Mereka baru saja menyanyikan lagu ulang tahun untukku, tapi aku hanya menatap mereka bergantian dan memproses apa yang terjadi.
"Hei, apa yang kau tunggu Kagami? Biarkan kami masuk dan kita rayakan ulang tahunmu!" kata Koganei.
"Ah, iya." Aku mempersilakan mereka masuk dan tersenyum tipis sebelum menutup pintu.
"Ayo, cepat Kagami-kun, lilinnya keburu meleleh!" Kuroko menarik tanganku lalu menyuruhku duduk.
"Ayo ucapkan permohonanmu, Taiga," kata Tatsuya.
Aku menatapnya kemudian mengalihkan pandanganku ke kue yang ada di hadapanku kemudian menutup mata dan berharap semoga doaku dikabulkan. Aku membuka mataku kemudian meniup lilin yang berada di atas kueku. Teman-temanku bertepuk tangan dan aku tersenyum. Aku memotong kue itu dan memakannya. Kemudian teman-temanku berebut pisau kue itu. Lalu aku duduk di sebelah Tatsuya.
"Bagaimana kau bisa berada di sini, Tatsuya?"
"Apakah kau terkejut?" tanyanya. "Aku pindah ke Jepang. Ini alamatku." Ia menyodorkan secarik kertas kepadaku dan tersenyum.
"Aku cukup terkejut. Apakah kau yang merencanakan ini?"
"Yah, bisa dibilang begitu."
"Oh."
Kami terdiam cukup lama sampai Furihata mengajakku bermain kartu, setelah itu kami bergiliran cerita tentang hantu kemudian bermain truth or dare. Kami bersenang-senang malam itu sampai semua temanku tertidur. Aku menyelimuti mereka yang tergeletak di lantai ruang tamu lalu berjalan ke balkon apartemenku. Aku menghela napas.
"Halo."
Aku menoleh ke kiri dan mendapati Kuroko disana. Aku melompat kaget dan berteriak.
"S-sejak kapan kau berada disana?!"
"Sejak tadi."
"Sial. Aku tak merasakannya."
"Kagami-kun," panggil Kuroko.
"Apa?" tanyaku.
"Apakah kau suka dengan kejutan ini?"
"Kau bekerja sama dengan Tatsuya rupanya."
Kuroko mengiyakan. "Aku merasa Kagami-kun tidak seperti biasanya. Jadi mungkin kejutan ini bisa membuat Kagami-kun melupakan sejenak masalahmu."
Aku diam dan menatap ke depan. Aku kembali menghela napas.
"Kagami-kun," panggil Kuroko lagi.
Aku menoleh. "Apa?"
"Permohonan apa yang tadi kau buat?"
"Haruskah aku mengatakannya?" tanyaku.
"Tidak," jawab Kuroko.
"Lalu kenapa kau bertanya?!"
Kuroko tertawa kecil lalu mendekatiku. "Ia tak akan datang."
Aku tertegun.
"Aomine-kun tak akan datang," ulangnya. Kuroko kemudian berjinjit dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Yang aku tahu selanjutnya adalah bibir mungilnya menempel ke bibirku sejenak sebelum ia berkata, "Selamat ulang tahun, Kagami-kun. Selamat malam." Dan Kuroko masuk ke dalam apartemenku.
.
Aku melihatmu lagi bersama Kise. Kau menciumnya di gang kecil itu. Pakaian kalian berantakan. Kau menikmatinya, eh? Bahkan kau tak pernah melakukannya denganku. Aku lelah Aomine, aku lelah. Kau berubah. Kau bukan Aomine yang dulu kukenal. Aku berjalan tanpa arah, dan yang kutahu aku sudah berada di depan apartemen itu. Aku menekan belnya dan selang beberapa detik pintu itu terbuka. Aku memeluknya.
"Taiga?"
Cairan bening meluncur mulus dari mataku. Aku menangis dalam diam sambil mempererat pelukanku.
"Oi, Taiga? Kau menangis? Ada apa?"
Pemuda dalam pelukanku mendorongku pelan dan mengajakku masuk. Ia menepuk punggungku setelah aku didudukkan di sofa ruang tamunya. Aku agak lega setelah menangis. Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan ketika pemuda yang sedari tadi menemaniku menyodorkan secangkir teh di hadapanku.
"Sudah baikan?" tanyanya kemudian duduk di sampingku.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Tatsuya. Aku cengeng ya?"
Tatsuya menggeleng. "Jadi ada apa? Kau boleh menceritakan masalahmu. Tetapi aku tidak akan memaksamu jika kau tidak ingin cerita."
Aku menghela napas.
"Biar kutebak. Kau sedih karena tidak diberi permen oleh ibumu?"
Aku tertawa kecil kemudian menyesap tehku.
"Akhirnya kau tertawa lagi." Tatsuya tersenyum.
Perkataannya membuatku tertegun. Aku pun tersenyum tipis. "Maaf, aku membuatmu khawatir ya?"
"Sedikit banyak. Apakah kau menangis gara-gara Aomine?"
Aku terdiam sebelum menyesap kembali tehku. "Darimana kau tahu?"
"Hm..." Tatsuya bergumam sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu. "Kuroko?"
Aih, orang itu. Aku meletakkan cangkir teh kemudian mengepalkan tanganku dan menatap lantai apartemen Tatsuya. "Aku melihatnya berciuman."
Tatsuya menyentuh tanganku dan mengelusnya.
"Aku lelah." Aku menyandarkan punggungku ke sofa dan menutup mata. Lalu aku merasakan Tatsuya memegang daguku. Aku membuka mata dan menatapnya. Ia berada di atasku.
"Kau bisa berpaling kepadaku jika kau mau, Taiga," katanya. Suaranya terdengar menggoda di telingaku.
"Kau memperkeruh keadaan, Tatsuya." Aku mendorongnya pelan agar ia beranjak dari atasku lalu ia kembali mendudukkan diri di sampingku. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Tatsuya tersenyum. "Aku bercanda, Taiga. Menginaplah malam ini jika kau ingin," katanya lalu menepuk kepalaku, yang kubalas dengan anggukan.
.
Aku menatap foto-foto kita di ponselku. Terkadang aku bertanya, dengan kelakuanmu yang seperti itu, apakah kau mencintaiku? Apakah arti diriku bagimu? Kau menganggapku tiada. Aku cukup lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan cinta palsumu. Mungkin pergi dari hadapanmu adalah yang terbaik. Aku mengemasi pakaianku dan meninggalkan apartemen. Aku akan pergi ke tempat dimana aku dapat melihatmu tetapi kau tak dapat menemukanku. Selamat tinggal Aho. Aku akan tetap mencintaimu, selamanya.
.
Nee, Kuroko... Kalau kau bertanya apa permohonanku... Jawabannya adalah, pertama, aku ingin Aomine berada disini malam ini, merayakan ulang tahunku bersama orang-orang yang sudah memberiku kejutan. Lalu kedua, aku ingin semuanya tetap seperti sedia kala. Karena... aku merasa, semuanya telah berubah.
.
To be continue
.
Happy belated birthday, Kagamin! Udah telat ucapin, disiksa lagi. Maaf ya Kagamin!
Chapter selanjutnya bakal di update pas Aho ulang tahun. Semoga saya gak sibuk hari itu jadi bisa update tepat waktu /amin
Kalo boleh dibilang ini kayak jurnal cintanya(?) Kagami sih. Adegan Kagami di balkon itu sama kok kayak episode 44 waktu dia ngomong ama Kuroko :3
Yang chapter sebelumnya itu anggaplah prolognya. Udah terlanjur nulis FIN tapi males ngedit hehe. Semoga gak bingung ya bacanya!
Maaf kalo terlalu dramatis, saya terlalu banyak ngayal rupanya orz. Maaf juga jika ada typo yang luput dari mata saya.
Kritik, saran dan komentar, serta bila ada yang perlu saya perbaiki boleh di post di kolom review.
Terima kasih sudah membaca, dan terima kasih atas review di chapter sebelumnya serta favorite dan follownya :3
