(ALWAYS READ WARNING)

..

...

..

.

WARNING :

AU/OOC/NTR/LIME/LEMON/INCEST/

FIC INI MENGANDUNG KONTEN DEWASA DENGAN TEMA NTR

Note : Bagi kalian yang sudah membaca chapter sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Review, flame, dan suggestion sudah saya terima dan pertimbangkan, mohon maaf jika saya terlalu lambat dalam update karena garis besar cerita ini saya rubah mengetahui beberapa reader sepertinya kurang suka dengan arah cerita yang terlalu dark. Still, fic ini mengandung konten dewasa yang menggambarkan hubungan sedarah (incest) dengan sedikit bumbu NTR, jika kalian merasa offended dengan hal-hal seperti demikian, sekali lagi harap fic ini sesegera mungkin di close untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

This is only a fanfiction, a small fragment of my perverted imagination, do not I repeat do not take things too seriously.

.

..

...

..

.

Chapter -02-

Regrets

Menjelang siang hari, di kediaman Uzumaki...

Kushina terbaring lemah diatas ranjang tidurnya, pandangannya kosong, tertuju pada langit-langit kamar yang terbuat dari kayu mahoni. Ketika itu segalanya terasa sunyi dan lengang. Kushina dapat merasakan udara yang keluar masuk di tubuhnya, jantung yang berdetak kencang seolah ingin meloncat keluar dari dadanya, keringat yang mengucur deras membasahi tubuhnya, dan rasa sakit yang sejak tadi menusuk di hatinya.

Kushina mempertanyakan kesetiaan cinta yang ia miliki pada putranya. Memang mereka tidak menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih, tetapi ia begitu yakin atas kekuatan cintanya yang begitu besar, bahkan dengan angkuh ia bersumpah bahwa hati dan tubuhnya hanyalah milik sang putra. Tapi sekarang ? Kata-kata itu tidak begitu memiliki pengaruh lagi bagi Kushina. Ya, memang ia masih mencintai Naruto, ia tidak bisa hidup tanpanya, entah mungkin ia lebih baik mati saja daripada kehilangan sosok Naruto dalam hidupnya, tapi sekali lagi perilakunya barusan justru mencederai cinta yang selama ini ia agungkan.

Dan setiap kali ia mengingat kata-katanya tadi, maka hatinya akan merasa semakin sakit.

Kini lengkap sudah penghianatannya pada cinta yang selama ini ia jadikan tumpuan dalam hidup, bukan saja ia membiarkan orang lain menyentuh tubuhnya, tapi ia bahkan mengajak orang lain untuk memadu cinta dengannya ditempat ini. Ya, di sini, di rumah yang selama ini menjadi istana bagi Kushina dan putranya, rumah yang memiliki ribuan bahkan jutaan kenangan indah yang mereka lalui bersama-sama. Tangis, tawa, amarah, kesedihan, dan luka semuanya mereka bagi di sini.

Mata Kushina kelihatan lebam, ia menangisi kelemahannya. Entah apa yang ada tadi ada di kepala Kushina ketika dengan gegabah ia menghubungi teman putranya sendiri, memintanya untuk datang ke rumahnya dan bercinta dengannya. Ketololan apa yang melintas dikepalanya ketika ia melakukan hal itu, balas dendam ? cemburu ? Lalu apa yang ia dapat setelah itu ? Naruto malah akan berubah membencinya dan kemudian meninggalkannya. Lalu apakah ia bisa hidup tanpa sosok Naruto ditengah kehidupannya ? Jawabannya sangat mudah. Tidak.

Karena itulah Kushina menyesali perbuatannya...

Sekali lagi Kushina menyesali perbuatannya... dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat menyesali perbuatannya...

Satu hal yang menarik tentang penyesalan adalah kenyataan bahwa dia selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.

"Sochi..." ia berbisik pelan. "Sochi apa harus kaa-chan lakukan..."

Entah kenapa tiap kali Kushina melakukan kesalah ia selalu memanggil sochi-nya, mungkin karena ia sudah terbiasa menggantungkan hidupnya pada sosok sang putra, atau mungkin karena cinta kepada putranya yang begitu dahsyat.

Kushina seharusnya saat itu juga menghubungi Kiba dan mengakhiri kebodohan yang selama ini ia lakukan dibalik punggung putranya. Tapi sebagian kecil dirinya menolak hal itu, bukankah putranya sendiri yang menolaknya ? bukankah dengan mudahnya juga sang putra mengatakan bahwa ia memiliki gadis idaman lain dalam hidupnya ?

Namun ketika ia memikirkan hal itu, semuanya akan kembali bermuara pada satu hal, apakah ia sudah siap dengan konsekwensi dari perbuatannya ?

Kushina terdiam, ia menikmati kesepian yang menguasai ruangan tempatnya berbaring. Di tempat seperti ini ia bisa berpikir dengan tenang, sambil membiarkan angin yang menerobos melalui celah jendela membasuh tubuhnya, ia berdebat dengan dirinya sendiri.

'Penghianat.' Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar menggema di telinganya.

Kushina yang terkejut dengan suara tersebut secara refleks bangkit dari ranjang tidurnya, ia menoleh kearah sekitar ruangan tapi tidak menemukan siapa-siapa disana. Sesaat ia terdiam, memastikan bahwa suara itu hanya berasal dari pikirannya saja, namun setelah beberapa lama tubuhnya kembali terasa tenang suara itu kembali menghantuinya, semakin lama semakin terdengar jelas.

'Penghianat.'

"Si... siapa disana !" Kushina memanggil, ia berlari kearah jendela, menarik gorden yang menutupinya untuk melihat keadaan diluar, ketika ia tidak menemukan hal yang mencurigakan disana Kushina kemudian berlari kearah kamar mandi, mendorong pintunya dengan keras namun sekali lagi Kushina tidak melihat sosok siapapun didalam sana.

'Kau pelacur Kushina.'

"Hentikan itu !" Ia menyumbat kedua telinganya dengan telapak tangan, tapi suara tersebut sama sekali tidak mengecil, malah semakin lama semakin terdengar jelas dan menggema.

'Kau pelacur Kushina ! Kau membiarkan orang lain menyentuh tubuhmu ! Kau penghianat !' Suara itu menghakimi dirinya dengan begitu keji.

"Ti..tidak... aku tidak menghianati siapa-siapa." Jantung Kushina berdegup semakin kencang, nafasnya terasa semakin pendek. Dia bukan penghianat, dia tidak menghianati siapapun, suaminya telah meninggal lama, hubungan apapun yang dijalinnya dengan siapapun tidak lantas membuatnya menjadi seorang penghianat.

'Begitukah ? Begitu caramu memandang semua ini ?'

"Te..tentu saja ! A..apakah salah jika aku... jika aku merindukan sosok laki-laki disampingku ?"

'Dengan menghianati cinta yang kau miliki pada putramu ?'

"Tidak ! Aku mencintai Sochi !"

Kushina ketakutan, ia melangkah mundur sambil mencari-cari sumber suara yang menggema ditelinganya, langkahnya kemudian membuat Kushina menabrak tempat tidurnya yang dilapisi kayu rotan. Tubuh Kushina terjatuh tepat diatas ranjang raksasanya, ia menggeliat mundur sambil berharap suara itu tidak lagi menghantui dirinya.

'Seperti inikah caramu menunjukan cintamu ? Dengan memberikan tubuhmu untuk orang lain ?'

Air mata Kushina tumpah, ia tidak bisa lagi menahan tangisnya dan kini wanita itu meratap, membiarkan emosinya tumpah, "So...sochi tidak menginginkanku seperti itu, aku mencintainya... aku mencintanya..." Kushina melafalkan kata tersebut seperti mantra, tubuhnya berputar diatas ranjang, teriakan kesedihannya tidak kunjung berhenti, "Aku mencintainya... Kami... aku mencintainya..."

'Penghianat ! Pelacur !'

"Tidaaak... tolong... jangan katakan itu... aku mencintai sochi..." Kushina merengek-rengek pada suara yang semakin lama semakin menggema ditelinganya.

Didalam pikirannya ia melihat sosok Naruto, bagi Kushina tidak ada sosok lain yang dapat membuat dirinya merasa utuh seperti ketika ia melihat sosok putranya. Rambutnya yang pirang seolah dikecup oleh matahari, bola mata birunya yang membuat malu langit dimusim panas, dan tentu senyumannya, senyuman yang selalu membuat Kushina merasa hidup. Hati Kushina telah jatuh begitu dalam pada sosok tersebut, tanpa disadari tangannya bergerak seolah ingin meraih bayangan dalam pikirannya tersebut.

Namun tiba-tiba sosok itu menjauh, senyumannya pudar, sorot matanya berubah, dan walaupun tidak terdengar suara darinya, Kushina dapat membaca gerakan bibir dari sosok tersebut.

'Aku membencimu...'

"Tidaaaak... jangan katakan itu..." ia berteriak, "Sochi ! Sochi ! Jangan pergi sochi !"

Dengan sekuat tenaga Kushina mencengkram kedua tangannya sendiri, kukunya yang tajam membuat kulit lengan wanita itu mengeluarkan darah, namun baginya luka itu tidak seberapa dengan apa yang ia rasakan dalam hatinya, "Sochi... sochi... sochi... jangan pergi... jangan tinggalkan kaa-chan... maafkan kaa-chan..."

Kushina kesulitan untuk bernafas, tangisannya meledak begitu kuat, "Maafkan kaa-chan sochi... kaa-chan akan mengakhirinya... aku harus mengakhirinya..." Kushina lalu bangkit dari ranjang tidurnya, seperti orang kebingungan ia berputar-putar dikamarnya dengan tubuh yang lemah. Ia mencari ponselnya, ia harus menghubungi Kiba dan mengatakan padanya untuk mengakhiri semua ini.

Kushina lalu menghentikan gerakannya, sadar bahwa dirinya masih dikuasai rasa panik, ia bersender sebentar pada dinding kamarnya untuk mengatur nafas. Setelah itu ia lalu melanjutkan pencariannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menemukan ponselnya tergeletak dilantai, mungkin jatuh ketika tadi ia menangis sambil meronta diatas ranjang tidurnya.

Tanpa membuang waktu lagi Kushina dengan cekatan mencari nomor Kiba yang tersimpan disana, jantungnya berdegup kencang, kali ini ia benar-benar akan mengakhirinya. Namun tepat ketika Kushina hendak menghubungi nomor tersebut tiba-tiba didepan rumahnya terdengar sebuah suara mesin mobil yang terdengar asing ditelinganya.

Kushina terlambat...

Kiba sudah sampai ke rumahnya...

Kushina berjalan sekali lagi kearah jendela kamarnya, melalui kaca jendelanya ia bisa melihat sosok Kiba yang kelihatan ceria melangkah keluar dari dalam kendaraan yang ia bawa. Jemari Kushina menggenggam gorden jendela kamarnya semakin keras ketika langkah Kiba membawanya mendekati gerbang rumahnya yang tidak terkunci. Kushina tidak menyadari bahwa ketika itu nafasnya menjadi pendek, ia terlalu panik untuk itu, di kepalanya ia mencari-cari alasan untuk tidak membukakan pintu pada Kiba, tapi tidak adil rasanya jika ia memperlakukannya seperti itu. Faktanya adalah Kiba datang kemari atas undangannya, sejak semalam memang pemuda itu sudah berkali-kali berusaha menggoda dan mengirimi pesan padanya yang berisikan pernyataan cinta, dan Kushina memanfaatkan hal itu untuk memuaskan amarah dan mengabaikan logika saat putranya mengatakan pada Kushina bahwa ia tertarik dengan seorang perempuan lain.

Tidak lama kemudian bel rumahnya berbunyi, hal itu membuat tubuh Kushina terasa semakin lemas. Tapi apa yang harus dilakukan olehnya ? memang ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri. Kushina menghembuskan nafas panjang ketika menyadari bahwa ada sebagian kecil dari hatinya juga yang merasa kasihan pada Kiba, bagaimana tidak ? Kushina jelas-jelas mempermainkan perasaan pemuda itu, entah mungkin pemuda itu memang benar-benar mencintainya atau tidak, tapi ia harus bertanggung jawab atas kebodohan yang dilakukannya, ia tidak bisa melarikan diri dari hal ini.

Dengan keyakinan tersebut Kushina memberanikan diri untuk membukakan pintu bagi Kiba, ia berjalan keluar dari kamarnya. Langkahnya terasa berat ketika ia berjalan menuruni tangga rumahnya, di kepalanya Kushina sedang mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada pemuda Inuzuka yang kemarin ditemuinya ketika ia sedang berpesta dengan Mikoto. Ia tidak ingin mengingat lagi kejadian malam itu, apapun yang dilakukannya semalam merupakan tindakan bodoh yang didasari oleh keadaannya yang sedang mabuk.

Kemudian seiring dengan langkah Kushina yang terhenti, bel dirumahnya sekali lagi berbunyi. Kushina kini sudah berhadapan dengan pintu masuk utama. Dibalik pintu ini sosok pemuda yang semalam sempat menyentuh tubuhnya berdiri, Kushina memejamkan matanya sambil menelan ludah. Ia menghirup udara sedalam yang ia bisa sebelum akhirnya tangannya bergerak untuk membuka gagang pintu dihadapannya.

Gagang pintu rumahnya terasa dingin.

"Selamat siang Kushina-chan." Kiba dengan senyumah khasnya berdiri di halaman rumah Kushina dengan kedua tangan yang terlipat di dada, "Kau merindukanku ?"

Kushina tidak berkata apa-apa, tiba-tiba tenggorokannya seperti tersedak. Ia memperhatikan sejenak sosok pemuda yang berdiri didepannya tersebut, dan semakin lama ia memperhatikannya semakin hatinya juga menjadi retak, karena alasan utama dari kehadiran pemuda itu tidak lain adalah atas ajakannya sendiri, ajakan untuk bercinta.

Perut Kushina terasa mual ketika hal itu terbesit dipikirannya.

"Kenapa Kushina-chan ?" Kiba mengerutkan keningnya sambil berjalan mendekati Kushina, ketika ia hendak menyentuh wajah wanita itu, Kushina dengan cekatan menghindarinya.

"Apa yang kau lakukan !" tegur Kushina, ia sebetulnya tidak berniat untuk membentak Kiba tapi entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan keras.

Kiba mengangkat kedua bahunya, ia memperhatikan pemandangan disekitarnya dan beranggapan bahwa Kushina tidak ingin hubungan gelap mereka berdua diketahui oleh orang banyak, "Maaf, aku terbawa suasana. Lagipula lihat dirimu Kushina-chan, kau cantik sekali hari ini." Lanjutnya sambil terkekeh.

Ketika mendengar kata-kata tersebut secara refleks Kushina menutupi dadanya dengan sebelah tangan dan menarik kaos ujung kaos longgarnya turun dengan tangannya yang satu lagi untuk menghindari tatapan Kiba yang kelihatan penuh nafsu, "Kiba !" bentaknya.

Kiba hanya tertawa melihat reaksi tersebut, ia lalu mendekatkan wajahnya kearah Kushina dan berbisik, "Kau bahkan tidak mengenakan bra ya ?"

Wajah Kushina memerah, bukan karena ia merasa malu tapi karena ia merasa dilecehkan oleh kata-kata pemuda tersebut. Seumur hidupnya ia tidak pernah dipandang begitu rendah oleh seseorang, dan hari ini berkat ulahnya sendiri seorang pemuda menganggap Kushina tidak lebih dari seorang wanita murahan yang bahkan tidak merasa malu untuk berhubungan dengan teman satu kelas putranya sendiri.

"Kiba lebih baik kau pulang sekarang !" Kushina sekali lagi menghardik pemuda Inuzuka tersebut, sorot matanya menatap tajam kearah lawan bicaranya yang kini kelihatan sedikit bingung.

Kiba terkejut dengan kata-kata tersebut, lalu untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar Kiba bertanya pada wanita yang berdiri dihadapannya, "Maaf aku tidak mendengarnya, kau bilang apa ?"

Kushina mengatur nafasnya, dan mengulang kata tersebut dengan nada yang lebih bersahabat, "Kau lebih baik pulang Kiba-kun, kumohon lupakan kata-kataku di telepon tadi."

Untuk sesaat Kiba terdiam, ketika ia berangkat tadi dirinya merasa sangat yakin bahwa Kushina tidak akan mundur dari apa yang ia katakan sebelumnya. Kami, cara bicara Kushina ketika itu terdengar seperti seorang wanita yang sangat haus akan sentuhan laki-laki, dan ketika ia berbisik padanya, mengatakan bahwa ia menginginkan tubuhnya, Kiba kesulitan untuk menahan dirinya.

"Apakah terjadi sesuatu Kushina-chan ?" Kiba kini kelihatan khawatir.

Kushina menggelengkan kepalanya, "Tidak... maksudku ya... aku.. aku bertindak gegabah, aku tahu aku yang menghubungimu tadi, dan aku menyesalinya. Maafkan aku Kiba-kun, aku tidak bermaksud mempermainkanmu, tapi sebaiknya kau lupakan saja kata-kataku tadi, dan kejadian semalam."

Kiba kemudian memiringkan kepalanya, ia menengok keadaan didalam rumah ketika mendengar jawaban tidak masuk akal yang diucapkan oleh Kushina tadi, "Apakah ini karenanya ? Naruto ada disini ?"

Sorot mata Kushina meruncing ketika Kiba menyebut nama putranya, "Tolong jangan bawa-bawa sochi dalam hal ini.".

"Sochi ?" Dengus Kiba, "Masa bodoh dengan si brengsek itu, kau tidak akan membiarkan dia menjadi penghalang diantara kita kan ?" lanjutnya.

"Kiba-kun... tidak pernah terjadi apapun diantara kita, kau dan aku, kita bahkan baru pertama kali bertemu tadi malam."

Sekarang Kiba sadar dengan apa yang telah terjadi, Kushina ternyata mundur dari perkataannya sendiri. Setelah ia menggodanya dengan sangat kotor wanita itu kini dengan mudah menyatakan bahwa semua itu adalah sebuah kesalahan, Kiba mungkin sedikit bodoh, tapi ia bukan seorang idiot, dan demi Kami, hari ini dia tidak akan pulang tanpa merasakan cinta dari Kushina.

"Apa yang terjadi Kushina-chan ? Ada apa denganmu ? Kenapa kau tiba-tiba mundur seperti ini ?" Pemuda itu melontarkan berbagai pertanyaan pada wanita yang berdiri dihadapannya.

Kushina merasa frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan itu, ia tidak ingin dan tidak bisa menjawab semuanya. Tapi di sisi lain ia juga tidak bisa menghindarinya, ini semua terjadi karena perilakunya sendiri, "Kiba-ku... Kiba... kumohon lupakan saja semuanya."

"Kushina-chan jangan lakukan ini..."

"Kiba... lupakanlah kumohon."

Emosi Kiba perlahan menguasai dirinya ketika setiap kali ia merayu Kushina, wanita itu selalu menolaknya, memintanya untuk dengan mudah melupakan apa yang telah diucapkannya tadi pagi, "Lalu tadi malam ? Kau ingin aku melupakan itu juga ?"

Rahang Kushina mengeras begitu Kiba membahas tentang kejadian tadi malam, kedua tangannya mengepal kuat, tapi ini adalah kesalahannya, karena itu ia tidak boleh termakan oleh emosinya sendiri, "Aku mabuk Kiba... aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri tadi malam."

"Begitukah ? Kau tidak kelihatan mabuk ketika kau menari-nari didepanku dan teman-temanku, kau tidak keberatan ketika aku menyentuh tubuhmu, dan ka-"

Belum sempat Kiba menyelesaikan kalimat tersebut Kushina menampar pipinya dengan sangat keras, "Jangan pernah bahas itu lagi didepanku !" bentaknya, ia tidak bisa mengendalikan diri ketika Kiba membuat dirinya mengingat-ingat kejadian semalam.

Sambil mengusap sebelah wajahnya yang memerah akibat tamparan, Kiba membalas tatapan Kushina, "Kau pikir kau bisa mempermainkanku Kushina ?"

"Maafkan aku, aku memang bersalah." Jawab Kushina tegas.

"Kushina-chan, kau tahu aku mencintaimu !"

"Jangan bodoh Kiba, kita baru bertemu tadi malam. Perasaan apapun yang ada dalam dirimu terhadapku itu bukan cinta !"

Kiba terdiam, sejauh yang ia tahu ia benar-benar mencintai Kushina. Sejak kejadian semalam ia tidak bisa melupakan wanita ini dari pikirannya. Selama ini ia hanya mengencani gadis-gadis yang tidak begitu disukainya, tidur dengan mereka hanya untuk memuaskan nafsu seksnya yang tinggi, namun tidak pernah sebelumnya Kiba dibuat mabuk seperti apa yang dilakukan oleh Kushina terhadap dirinya.

Dalam hatinya Kiba mengutuk dirinya sendiri, ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini pada Kushina, tapi perasaan dan nafsunya sudah bercampur menjadi satu. Ia menginginkan Kushina, ia menginginkan hatinya, tubuhnya, semuanya. Kemudian Kiba melakukan hal yang mungkin akan disesalinya kelak, ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel hitamnya disana sambil menggulirkan bola matanya kearah Kushina.

"Kalau begitu aku akan mengirim rekaman pembicaraan kita pada Naruto, kita lihat apa reaksi si bodoh itu jika tahu ibunya memintaku untuk bercinta dengannya !"

"Kau tidak merekamnya !"

"Tentu saja tidak Kiba-kun, aku sedang membayangkanmu."

"Aku sedang menyentuh tubuhku sendiri sambil membayangkanmu...sentuhanmu, ciumanmu... aroma tubuhmu... mmmhhh..."

Jantung Kushina seolah berhenti ketika Kiba memainkan rekaman suara dari ponselnya, ia hampir tidak percaya dengan suaranya sendiri. Sekarang setelah mendengar rekaman itu, apa lagi yang bisa katakan ? Apakah Kushina bisa membela dirinya sendiri ketika suara dalam hatinya menuduh Kushina sebagai seorang pelacur ? Apa yang akan dikatakan oleh putranya jika ia sampai mendengar Kushina berbicara seperti itu ?

'Pelacur !'

Suara itu terdengar lagi, sedikit lebih samar tapi cukup untuk membelah hatinya menjadi tujuh bagian. Air matanya menggumpal, ia berusaha menahan rasa sakit yang membengkak dalam dadanya.

"Berikan itu padaku !" Kushina secara refleks berusaha merenggut ponsel yang berada pada genggaman Kiba, namun ia kalah cepat dengan Kiba yang dengan gesit menarik mundur lengannya.

"Bagaimana Kushina-chan ?"

Kushina mengepalkan kedua tangannya, jika tadi ia sempat merasa iba pada sosok pemuda di hadapannya maka kini perasaan itu kini telah bertranformasi menjadi sebuah kebencian yang begitu kuat, "Apa yang kau inginkan !"

Sebuah tawa pecah dari mulut Kiba ketika pemuda itu ketika ia mendengar perkataan Kushina, Kiba lalu memandang kearahnya dengan emosi yang bercampur dalam dirinya, "Aku menginginkanmu Kushina-chan."

Mendengar itu tubuh Kushina merinding, ia tidak menyangka bahwa Kiba berani melakukan hal tersebut padanya. "Ja... jangan bercanda Kiba !" ujarnya dengan suara yang bergetar.

"Apakah aku kelihatan bercanda ? Rekaman suaramu sudah kusimpan di berbagai tempat, bahkan jika kau mengambil ponselku ini aku masih bisa mengirimkan rekaman lain pada putramu." Pemuda Inuzuka itu melangkah mendekat kearah Kushina, "Kau yang memaksaku berbuat begini Kushina-chan." lanjutnya dengan suara yang lebih pelan namun terasa sangat menusuk.

Kiba terus melangkah mendekati Kushina, membuat wanita itu secara refleks bergerak mundur masuk kedalam rumahnya. Kedua tangan Kushina masih melindungi bagian tubuhnya dari pandangan liar Kiba, "Kiba... kumohon... jangan lakukan ini." air mata Kushina semakin membendung ketika ia sadar bahwa dirinya sudah terpojok, satu-satunya hal yang dapat ia lakukan kali ini adalah memohon pada pemuda dihadapannya agar ia mau menghentikan semua ini.

"Aku benar-benar mencintaimu Kushina-chan... aku sendiri tidak ingin melakukan ini, tapi kau memaksaku untuk berbuat seperi ini."

Kushina ingin berteriak, ia benar-benar bodoh, ia ingin mengutuk dan memaki dirinya sendiri. Karena ulahnya Kushina kini tidak bisa menghindari permintaan Kiba, tidak mungkin ia membiarkan pemuda Inuzuka itu memberikan rekaman tadi pada Naruto, apa yang akan dikatakan putranya nanti jika ia tahu bahwa ibunya ternyata hanya seorang wanita murahan ? Tidak, ia tidak akan membiarkan itu terjadi, ia tidak ingin Naruto membencinya, lebih baik ia menjual tubuhnya pada orang lain daripada putranya sendiri benci pada dirinya.

"Tck, kalau kau terlalu lama berpikir maka aku lebih baik mengirimkan ini."

"Tunggu." Kushina menggenggam pergelangan tangan Kiba ketika pemuda itu hendak mengirim rekaman tersebut pada Naruto, ia menelan ludahnya lalu menarik nafas panjang sebelum perlahan menganggukan kepalanya, "Satu kali... satu kali saja."

"Tentu saja Kushina-chan." Kiba dengan senyum licik diwajahnya menarik lengannya yang berada dalam genggaman Kushina dan menyentuh dagu wanita tersebut sambil sedikit mendorongnya keatas, memaksanya untuk memandang langsung kearah Kiba, "Bagaimana jika kita mengunci perjanjian ini dengan sebuah ciuman ?"

Ketika Kiba mendekatkan wajahnya kearah Kushina, wanita itu mengelak mundur, "Ja... jangan disini... aku tidak ingin orang lain melihat." Ujarnya lemah.

Kiba menganggukan kepala sambil perlahan menurunkan sentuhannya dari dagu Kushina kearah tubuhnya, "Baiklah Kushina-chan... kau tidak perlu khawatir, aku akan memperlakukanmu seperti seorang dewi."

Kushina hanya bisa memejamkan mata ketika lengan pemuda itu berlalu menyentuh lehernya, "Lihat ini, bentuk lehermu sangat indah, panjang, aku bisa merasakan aroma keringatmu darinya." Ia berbisik pelan. Jemarinya kemudian bergerak menyeberangi celah diantara dadanya, kemudian berputar disana merasakan bentuk dan tekstur kewanitaannya yang hanya ditutupi oleh sehelai pakaian tipis,"Dan disini, Oh, Kami... kau tahu apa yang kuimpikan semalam pada bagian tubuhmu ini ? Aku akan bermain dengan mereka, memberikan sentuhan-sentuhan yang akan membuatmu melupakan semuanya, dan aku akan berlaku adil. Tenang saja Kushina-chan, aku akan memperlakukan mereka dengan adil." kemudian perlahan turun melalui perut, Kiba memoles pelan perut Kushina yang datar, ia menahan dirinya untuk merobek kaos yang dikenakan Kushina saat itu juga, ya ia tidak ingin terburu-buru, ia akan membuat Kushina menikmati sentuhannya. Kami, ia akan membuat Kushina merengek pada dirinya untuk disentuh.

Kushina hanya bisa terdiam, ketika ia merasakan sentuhan Kiba menjalar ditubuhnya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, semuanya berakhir disini. Tidak lama lagi ia benar-benar akan dinodai oleh Kiba, tidak lama lagi ia benar-benar akan menghianati cintanya sendiri. Tapi setidaknya walaupun Kiba dapat memiliki tubuhnya, hatinya tetap akan ia simpan untuk sang putra. Ya, hatinya hanya milik Naruto seorang.

Kemudian sekali lagi sosok putranya muncul didalam pikiran Kushina, dan sekali lagi Kushina dapat membaca gerakan mulutnya yang tadi membuat ia serasa ingin cepat mati.

'Aku membencimu...'

Kushina tidak bisa lagi menahan tangisnya.


The Demon in His Heart


Satu jam sebelumnya, di suatu tempat...

Siang itu Naruto kelihatan sedang berdiri sambil memegangi kedua lututnya dengan nafas yang terengah, kadang ia menyeka keringat yang mengalir di kepalanya dengan sebelah tangan, sambil beberapa kali memperhatikan jam tangan yang dikenakannya. Sudah hampir dua jam setelah ia berangkat, Gaara pasti benar-benar akan membunuhnya.

Naruto kemudian menegakan tubuhnya, sambil menghirup udara sedalam yang ia bisa. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh pemuda itu sekarang, ia sudah berusaha menghubungi Gaara beberapa saat yang lalu tetapi sahabatnya itu tidak juga mengangkat ponselnya. Memang dalam situasi ini ia tidak bisa menyalahkan Gaara, tapi apa yang mau dilakukannya ? Pada kenyataannya memang perasaan Naruto tidak bisa tenang sejak tadi ia berangkat pergi dari rumahnya.

Alasannya sederhana, ketika Naruto tadi hendak berangkat pergi entah kenapa tiba-tiba ibunya bersikap ketus. Sang ibu hanya menjawab pertanyaannya dengan satu atau dua kata yang singkat, dan selalu berkata 'tidak tahu' tiap kali ia menanyakan pendapatnya tentang sesuatu. Naruto sudah tahu perangai dan kebiasaan ibunya. Ia tahu bahwa hanya ketika marah saja ibunya akan bersikap begitu.

Naruto menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu apa alasan sang ibu marah pada dirinya. Mungkin ia salah bicara ? Atau mungkin ia menghilangkan sesuatu ? Entahlah, tapi yang jelas ibunya bukan marah akibat peristiwa semalam.

Wajah Naruto memerah ketika ia mengingat peristiwa itu, ia kemudian mengusap kedua pipinya sekuat mungkin untuk membuang pikiran kotornya. Tidak, sudah jelas ibunya tidak mengingat apa yang terjadi diantara mereka berdua tadi malam. Tapi jika memang begitu kenapa tiba-tiba ia marah dan bersikap ketus pada Naruto ?

Memang kadang wanita sangat sulit dimengerti. Naruto tersenyum pada dirinya sendiri, lagipula bukankah justru itu yang membuat mereka jadi menarik ? Tunggu sebentar, 'menarik ?' Kami, ia berbicara tentang ibunya dan ia menggunakan kata 'menarik'. Mungkin ia memang benar-benar sudah gila.

Setelah berjalan menyusuri jalan utama komplek perumahannya Naruto kini sudah berada tidak jauh dari rumahnya. Ia merasa sangat lelah karena ketika tadi ia sudah hampir mencapai tempat tujuannya, hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman dan setelah debat panjang dengan dirinya sendiri, akhirnya Naruto memutuskan untuk kembali kerumahnya. Yah, mungkin tidak salah jika ia disebut dengan julukan 'anak rumahan' oleh teman-teman sekolahnya, karena memang bagi Naruto tidak ada tempat yang lebih nyaman daripada rumahnya sendiri. Disana ia dapat menemukan segala hal yang ia butuhkan dan tentu saja disana juga ia dapat memandangi sosok wanita yang paling ia cintai di dunia.

Salah ?

Masa bodoh dengan pendapat orang lain, bagi Naruto ibunya adalah anugerah terindah yang ia dapatkan dari Kami. Karena itulah tadi Naruto memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sejak kecil dulu Naruto memang tidak pernah bisa merasa tenang jika ada sesuatu hal yang salah terjadi pada ibunya, entah jika ia berbuat salah padanya, atau ketika ia melewatkan kebiasaan sehari-harinya yang biasa ia lakukan bersama ibunya, jelasnya adalah Naruto tidak bisa melakukan hal apapun ketika sesuatu yang berbeda terjadi pada ibunya. Ia bahkan masih ingat bagaimana ia harus kabur dari sekolah hanya untuk menemui sang ibu karena lupa berpamitan dengannya, atau ketika ia terjaga semalaman ketika ibunya lupa mengucapkan 'selamat malam' pada dirinya. Mungkin memang terdengar konyol, tapi begitulah Naruto. Kali ini hal yang tidak jauh berbeda kembali lagi terjadi, ia pergi meninggalkan rumahnya dengan keadaan ibunya yang sedang marah, Naruto tidak tahu apa kesalahannya, dan sejujurnya ia tidak perlu tahu, ia hanya ingin ibunya memaafkannya, dan kembali berlaku seperti biasa pada dirinya.

Komplek perumahan Naruto terbilang cukup mewah, bangunan yang berdiri di daerah tersebut berukuran besar . Peninggalan ayahnya dulu cukup membuat ia dan ibunya memiliki gaya hidup yang sedikit mewah, mereka memiliki rumah yang luas, kendaraan pribadi, dan sebuah perusahaan kecil yang dipimpin langsung oleh sang ibu. Bagaimana tidak ? Ayahnya adalah seorang direktur utama dari perusahaan Namikaze yang memiliki cabang hampir diseluruh negeri. Sebelum ayahnya meninggal, ia mewarisi berbagai macam kebutuhan yang dapat menjamin kelangsungan hidup istri dan putra semata wayangnya. Memang pada akhirnya sang ibu memilih untuk meninggalkan nama keluarga suaminya dan kembali menggunakan nama Uzumaki, tapi itu bukan ibunya tidak mencintai atau menghormati ayahnya. Alasan kenapa nama keluarga mereka berganti sedikit agak panjang, yang jelas hal tersebut berkaitan dengan fakta bahwa dahulu hubungan antara ayahnya dan ibunya tidak disetujui oleh keluarga besar Namikaze.

Kadang Naruto membayang keadaan mereka jika ayahnya masih hidup. Mungkin ia akan menaruh rasa cemburu pada sang ayah tapi itu tidak akan mengurangi sama sekali rasa hormat yang ia miliki pada sosok ayahnya. Naruto memang sangat dekat dengan ayahnya, bagi Naruto sosok sang ayah selalu bisa membuat dirinya merasa aman, dan setiap kali ayahnya mengucapkan sesuatu pada dirinya Naruto selalu mengingat-ingat hal tersebut, ayahnya adalah sosok inspirasi bagi Naruto, sosok yang selama ini ia idola-idolakan dan sekaligus menjadi tujuan hidupnya. Ya, salah satu tujuan hidupnya adalah menjadi sosok yang lebih baik daripada ayahnya.

Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi dibalik saku sweater orange Naruto menyadarkan lamunan pemiliknya dan membuat ia meloncat kaget sambil mengutuk. "Brengsek ! Aku harus mengubah nada dering ponsel sialan ini !" dengusnya.

Ketika Naruto meraih ponsel tersebut, ia dapat melihat nama Gaara terpampang dilayarnya. Seketika itu juga Naruto merasakan sesak di dadanya, keputusannya untuk berputar arah dan kembali kerumahnya membuat pemuda itu merasa amat bersalah. Sudah dua tahun lamanya mereka tidak saling berjumpa, dan tentu saja Gaara akan kecewa dengan keputusan egoisnya tersebut. Lalu yang membuat Naruto semakin merasa tidak enak adalah kenyataan bahwa kemungkinan besar Gaara sudah menunggu di tempat perjanjian mereka, Naruto mengenal Gaara dengan baik, dan bisa dikatakan bahwa Gaara bukanlah tipe orang yang suka dibuat menunggu.

Dengan suara yang agak berat Naruto lalu menjawab panggilan tersebut, "Halo... Gaara ?"

"Naruto." Suara Gaara seperti biasanya terdengar begitu dalam, Naruto selalu kagum tiap kali ia mendengar sahabatnya berbicara. Gaara memang adalah seseorang yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin, bahkan suaranya saja dapat menebarkan kharisma yang dimiliki oleh pemuda tersebut.

"Gaara, ak-

Sebelum Naruto selesai bicara, Gaara terlebih dahulu memotong kata-katanya, "Maafkan aku Naruto, hari ini aku tidak bisa menemuimu."

"Eh ?" Naruto agak terkejut dengan berita tersebut.

"Hhhh... ada sesuatu yang tiba-tiba mendesak. Sebagian direktur dari perusahaan cabang milikku sekarang sudah berada di Konoha dan mereka memintaku untuk memimpin rapat darurat."

"Ng... apakah semuanya baik-baik saja ?"

"Tidak perlu khawatir, justru aku ingin minta maaf, aku tahu kita sudah lama berjanji untuk hari ini... hanya saja... ini sangat mendadak dan aku..."

Naruto menghembuskan nafas lega seketika itu juga, beban yang tadi memikul dipundaknya mendadak hilang. Ia kemudian membalas kata-kata sahabatnya, tidak ingin Gaara merasakan beban yang tadi ia rasakan juga, "Gaara, aku juga sebenarnya mau bilang padamu jika hari ini aku ada sedikit masalah."

"Masalah ?"

"Yah, bukan masalah besar sepertimu, hanya sedikit masalah di rumah... aku tidak bisa meninggalkan rumah sebelum permasalahanku selesai."

"Sesuatu terjadi pada ibumu ?"

"Yah, katakan saja aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan."

"Malang sekali nasibmu."

"Berisik."

"Well, kalau begitu aku akan kabari lagi nanti ya ? Lagipula aku masih akan ada di Konoha sampai setidaknya satu minggu kedepan."

"Oh, itu pasti... aku akan mengejarmu ke Suna jika kau pulang tanpa menemuiku."

"Mengejarku ? Atau... Temari ?"

"Brengsek !" Naruto memutuskan sambungannya sambil mengutuk Gaara, ia tidak menyadari bahwa wajahnya memerah ketika Gaara menyebut nama Temari.

'Temari-san.', nama itu bergema dalam pikiran Naruto. Tidak pernah bisa hilang dari ingatannya sosok sang pemilik nama tersebut. Seorang gadis cantik berambut pirang dengan sorot mata yang tajam dan liar.

Tiba-tiba Naruto merasa tubuhnya dikejutkan oleh sebuah aliran listrik bertegangan tinggi, 'Tunggu sebentar ! Temari-san... Temari-san...' Jika perkiraannya tidak salah, tadi pagi ibunya tiba-tiba berubah sikap ketika Naruto mengatakan sesuatu tentang Temari.

'Sebentar, sebentar... memangnya kenapa kalau aku bicara tentang Temari-san pada kaa-chan ? Kenapa kaa-chan jadi marah ? Apa mungkin... Tck, bodoh itu mustahil !'

Naruto menggelengkan kepalanya, ia tidak akan pernah menyelesaikan hal ini jika ia tidak segera menemui ibunya. Tidak lama lagi ia sampai kerumahnya, dan ketika itu Naruto yang tiba-tiba bersemangat memutuskan untuk berlari menuju rumahnya. Mungkin tidak akan ada yang menyangka tapi Naruto adalah salah satu pelari tercepat di sekolahnya, karena itu tidak membutuhkan waktu lama bagi Naruto untuk sampai ke tempat tujuan.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat mobil jeep hitam terparkir didepan rumahnya dari kejauhan. Sekilas mobil itu kelihatan tidak asing, tapi Naruto tidak begitu memperdulikannya. Jantungnya berdegup kencang, entah kenapa ia tiba-tiba merasa ketakutan, perutnya sendiri bahkan terasa mual. Apakah ibunya memiliki seorang kekasih rahasia ? Naruto ingin berteriak ketika hal itu terbesit dalam pikirannya. Ia kemudian memutuskan untuk berjalan disamping deretan pohon yang berjejer ditepi jalan utama, mencoba untuk bersembunyi dari apapun yang sedang terjadi dirumahnya.

Perlu diketahui bahwa kecurigaan Naruto memiliki beberapa poin dasar. Pertama, ibunya tidak pernah mengundang orang lain selain kerabat dan teman dekatnya untuk mengunjungi rumah mereka. Naruto mengenal seluruh kerabat dan teman dekat ibunya, dan tidak ada satupun dari mereka yang memiliki jeep hitam seperti yang terparkir didepan halaman rumahnya. Kedua, jika ada tamu tak diundang, ibunya akan selalu menghubungi Naruto, entah untuk alasan apa tapi kebiasaan itu sudah terjadi sejak lama. Dan poin terakhir adalah, ibunya tidak pernah mengizinkan siapapun untuk memarkir kendaraannya tepat didepan pohon Sakura yang tumbuh didepan halaman rumahnya, pohon itu ditanam tepat dihari Naruto lahir, dan bahkan Naruto sendiri pernah merasakan amarah sang ibu ketika suatu saat ia menggunakan batang pohon tersebut sebagai objek permainannya.

Ketika langkah kaki Naruto membawanya kedekat jeep hitam yang terparkir tersebut, Naruto sambil membungkukan tubuhnya lalu berlari menuju sisi kendaraan yang menghalangi pandangan orang dirumah pada dirinya. Lalu sambil menempel di sisi kendaraan tersebut, sedikit demi sedikit ia melangkah mencari-cari celah untuk mengintip kearah rumahnya. Gerakannya berhenti ketika Naruto secara tidak sengaja memandang kearah seorang anak kecil yang berada di halaman rumah tepat diseberangnya, anak itu membalas pandangan Naruto dengan ekspresi wajah yang mengisyaratkan kecurigaan.

"Sssst.." Naruto berbisik pada anak itu sambil menutup mulutnya dengan telunjuk.

Ketika anak itu mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh Naruto, pemuda berambut pirang itu tersenyum bangga sambil menganggukan kepalanya kearah anak tersebut, ia kemudian kembali menempelkan tubuhnya pada bagian sisi kendaraan didekatnya sambil merayap ke ujungnya, ketika sampai disana ia dengan sangat hati-hati mengarahkan pandangan menuju tempat tinggalnya.

Ia dapat melihat Kiba disana, pemuda itu berdiri dihadapan seorang wanita berambut merah, lengannya menyentuh dagu wanita tersebut, membuat keduanya saling beradu pandang, persis seperti apa yang sering dilihatnya di drama-drama yang belakangan ini sedang tenar. Naruto tidak dapat melihat ekspresi dari teman sekelasnya, tapi wanita itu menatap balik kearah Kiba dengan pandangan yang menunjukkan kepasrahan diri.

Perut Naruto terasa berputar ketika ia menyadari bahwa wanita itu hanya mengenakan sehelai kaos putih longgar yang memperlihatkan garis bayangan tubuhnya, dan sebuah celana hot pants mini yang hampir memperlihatkan keseluruhan bentuk kakinya yang panjang secara utuh.

Dan untuk mendramatisir keadaan, maka mari kita anggap bahwa ketika itu Naruto sadar bahwa ternyata wanita itu tidak lain adalah ibunya sendiri...

Ketika itu ia tidak bisa menemukan alasan kenapa mereka berdua bertingkah seperti itu, Naruto bahkan yakin bahwa ibunya tidak mengenal sosok Kiba karena ia sendiri memang belum pernah membawa pemuda Inuzuka itu untuk berkunjung kerumahnya. Lalu kini ketika Kiba menyentuh wajah ibunya dengan mesra, menatapnya dalam-dalam, ia tidak tahu alasan apa yang membuat Kiba untuk berani berlaku seperti itu ? Dan ibunya, Naruto tidak percaya jika ibunya berani berpakaian minim seperti itu dihadapan seorang laki-laki yang bukan kerabat atau anggota keluarganya sendiri, membalas tatapan teman satu kelasnya yang selama ini ia anggap bodoh sambil berbicara dengan mulutnya yang merona.

Kemudian tangan Kiba turun perlahan dari wajah sang ibu, bergerak di tubuhnya, berputar disekitar dadanya, membuat Naruto seketika itu juga membuang jauh pandangannya dari arah mereka. Jelas sekali bahwa keduanya terlibat dalam sebuah hubungan, jika seorang wanita mengizinkan laki-laki menyentuh tubuhnya dengan cara seperti itu maka jelas hubungan yang terjalin diantara keduanya bukanlah hubungan pertemanan atau persahabatan.

Dan hari itu kelak akan dikenang sebagai hari dimana Naruto membuang jauh perasaannya terhadap sang ibu. Entah itu ketertarikannya, rasa sayangnya sebagai seorang anak, rasa pedulinya sebagai anggota keluarga atau persahabatannya dengan sang ibu yang terjalin kuat selama ini.

Semuanya hancur begitu saja.

Apa yang akan dikatakan oleh seseorang ketika ia tahu bahwa ternyata ibu yang sangat dicintainya ternyata menjalin hubungan dengan seseorang ? Wajar ? Baiklah, cukup adil. Kalau begitu kita ubah pertanyaannya, apa yang akan dikatakan oleh seseorang ketika ia tahu bahwa ternyata ibu yang sangat dicintainya ternyata menjalin hubungan gelap dengan teman satu kelasnya sendiri ?

Ketika itu Naruto tidak tahu bagaimana caranya ia bisa terus hidup, karena pada saat yang bersamaan ia merasa sangat yakin bahwa jantungnya sudah berhenti berdetak. Udara yang mengisi paru-parunya terhisap keluar, darah diwajahnya terkuras habis. Zombie, ia merasa seperti zombie, mayat hidup yang bergerak murni akibat kebencian dalam dirinya.

Benci...

Kata itu sangat mudah untuk diucapkan, tapi untuk menjiwainya secara penuh maka perlu terjadi suatu peristiwa besar yang mengubah sudut pandang seseorang mengenai suatu hal. Dalam kasus ini mungkin suatu hal tersebut adalah cinta. Ya, Naruto sangat mencintai ibunya, cinta seorang anak yang perlahan tumbuh dan bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih.

Naruto tidak gila, atau setidaknya dia belum gila. Dia tahu perasaan yang dipendamnya pada sang ibu adalah sesuatu yang terlarang, sesuatu yang dianggap tabu. Dan sebisa mungkin juga ia selalu mengubur dalam-dalam perasaan tersebut. Hidup memang tidak adil kan ? Sebagian orang dilahirkan buta, sebagian dilahirkan tanpa bagian tubuh yang sempurna, well mungkin pada kasus ini Naruto dilahirkan dengan perasaan terlarang yang tumbuh dalam hatinya.

Tapi apakah itu berarti ia membenarkan perasaan terlarang yang tumbuh dalam dirinya ? Apakah ia berusaha untuk mendekati sang ibu dengan pendekatan seksual sebagaimana ketertarikannya pada sang ibu semakin lama semakin besar ? Tentu saja tidak, perlu diingat bahwa saat ini Naruto belum gila.

Belum, bukan berarti tidak.

Sekarang kita kembali lagi pada kata benci. Jika seumur hidupnya Naruto tidak pernah satu kali pun menaruh perasaan benci pada sang ibu, maka mungkin hari ini sampai seterusnya perasaan itu akan selalu menyertai dirinya tiap kali ia memandang kearah bola mata violet milik ibunya. Sungguh ironis, mengetahui betapa Naruto dulu sangat mengagumi keindahan bola mata tersebut. Senyuman, kata-kata sayang, pelukan, dan curahan perasaan yang selama ini ia hujani pada sosok sang ibu ternyata mendapat balasan semurah ini.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam ? Apa yang sang ibu lakukan kepadanya tadi malam ? Apakah itu hanya salah satu usaha dari ibunya untuk memenuhi gairah dan dahaga seks yang terkumpul dalam dirinya ? Lalu bagaimana dengan satu minggu belakangan ini ? Sang ibu yang sering pulang malam, sibuk memainkan ponselnya, dan kelihatan lebih feminin dari biasanya. Apakah sudah selama itu ia menjalin hubungan dengan Kiba ? Jika memang benar maka sejauh apa hubungan yang dimilikinya dengan Kiba ? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah sang ibu hanya bersikap seperti ini kepada Kiba seorang saja ?

Naruto berusaha mengatur nafasnya, ia memukul dadanya keras-keras memaksa jantungnya agar tidak berdegup terlalu kencang, lalu kemudian mengintip kedalam kendaraan yang terparkir tepat dibelakangnya. Jendela kendaraan tersebut terbuka lebar, seolah menantang siapa saja yang hendak mencurinya untuk masuk kedalam.

'Tipikal seorang Kiba', hal itu terbesit di kepalanya ketika ia memandangi interior kendaraan tersebut yang berantakan. Tumpukan buku, dan pakaian berceceran di kursi belakangnya, botol minuman keras tergeletak tepat diatas dashboard kendaraan tersebut. Tidak ada yang benar-benar mencurigakan sampai tiba-tiba pandangannya terkunci pada sehelai kain hitam yang berada diantara tumpukan jaket tepat di atas kursi pengemudi.

Naruto sejenak mengintip kearah rumahnya dari balik kendaraan Kiba, ia melihat ibunya dan Kiba masih terlibat dalam sebuah pembicaraan, walau kini jarak diantara keduanya semakin dekat. Mengetahui bahwa kehadirannya belum diketahui Naruto lalu dengan cepat merogoh kain hitam yang berada didalam kendaraan milik Kiba.

"Ssst !" Sebuah suara tiba-tiba terdengar.

Naruto yang terkejut seketika itu juga menarik lengannya dan menoleh kearah sumber suara. Anak kecil tadi rupanya masih menatap dirinya dengan pandangan curiga, ia kini menggelengkan kepalanya sambil menaruh kedua telapak tangan pada pinggangnya. Yak, bukan hanya merasa gerak-gerik Naruto mencurigakan, tapi kini anak tersebut mulai mengira bahwa Naruto adalah pencuri.

"Bocah sialan, mengganggu saja !" Naruto mendengus dengan suara pelan, ia lalu merogoh saku celananya, mengambil dompet yang ia simpan disana dan memperlihatkannya pada anak itu.

Anak itu tersenyum, ia mengacungkan jempolnya pada Naruto.

"Setan kecil !" Naruto sambil menahan emosinya mengambil selembar uang yang tersimpan dalam dompetnya dan menunjukkan uang itu pada anak tadi.

Dia menggeleng.

Emosi Naruto semakin memuncak, dengan kesabaran yang mulai habis ia mengambil dua lembar uang tambahan dari dalam dompetnya dan menunjukkan total tiga lembar uang sejumlah 3.000 ryo pada anak tersebut.

Ketika anak itu mengangguk sambil tersenyum lebar, Naruto melipat tiga lembar uang itu menjadi sebuah lipatan kecil dan dengan hati-hati ia melemparkannya kearah anak itu. Setelah itu lagi-lagi Naruto memberikan gestur pada bocah sialan itu untuk menutup mulutnya, beruntung kali ini bocah tersebut mengangguk sambil berlari masuk kedalam rumahnya. Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika itu, jika ini hanya sebuah cerita fiksi mungkin moral dari kelakuan bocah tadi adalah 'uang selalu bisa dijadikan bahan transaksi'.

Mengetahui kini dirinya sudah tidak berada dalam pengawasan siapapun, Naruto mengulangi lagi aksinya untuk mengambil sehelai kain hitam yang tadi ia lihat berada dalam tumpukan didalam kendaraan milik teman satu kelasnya. Dengan satu gerakan yang cepat ia berhasil mengambil kain tersebut, dan ketika ia memeriksanya, hatinya mendadak hancur.

Kain itu ternyata adalah stocking hitam milik ibunya.

Kenapa Naruto bisa tahu ? Mudah saja, karena suatu ketika ibunya pernah secara tidak sengaja mencampur stocking tersebut dengan pakaian di lemarinya. Dan ketika Naruto melihatnya, ya anggap saja insting kotornya saat itu tiba-tiba menguasai dirinya.

Naruto kehilangan seluruh kekuatan di tubuhnya, ia meringkuk disamping kendaraan milik teman satu kelasnya. Ia ingin menangis tapi amarahnya yang meletus mencegah ia untuk melakukan hal serendah itu. Memang ia tidak punya hak untuk mencegah ibunya merasakan cinta setelah kematian ayahnya. Bagaimanapun juga sang ibu adalah seorang wanita yang tentu saja memiliki kebutuhan biologisnya sendiri, tapi melakukannya dengan teman satu kelasnya sendiri, hal itu seolah-olah menghina dirinya. Lagipula ibunya tahu bahwa Kiba adalah salah satu orang yang tidak begitu disukainya, selain Sasuke.

Mungkin memang ibunya sengaja ingin membuatnya sakit hati, tapi dengan alasan apa ? Apa yang sudah ia lakukan sampai ibunya sendiri tega berlaku seperti ini pada dirinya. Hancur, hanya kata tersebut yang dapat mengutarakan perasaan dalam hatinya.

Naruto termenung, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Alasannya untuk hidup ternyata selama ini hanyalah kedok, sebuah bualan belaka, sesuatu yang ternyata hanya ada dalam imajinasinya saja. Kasih sayang dan cinta yang dirasakannya semu, ia hampir tidak percaya jika selama ini ternyata ia hanya mengejar fatamorgana. Semakin ia mendekat, semakin menjauh juga tujuannya, dahaganya tidak akan pernah terpuaskan, ia mungkin sudah ditakdirkan untuk mati konyol ditengah gurun pasir bernama cinta.

Well, sekarang ini ia sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin cepat-cepat masuk kekamarnya, berbaring diatas ranjang tidurnya sambil berpikir tentang apa yang harus dilakukannya. Masa bodoh dengan apa yang ia lihat dan dengar. Naruto lalu berdiri, stocking milik ibunya yang masih ia genggam disebelah tangannya ia lipat kecil dan ia masukan kedalam saku sweater orange favoritnya, mungkin nanti ia akan melempar stocking itu tepat kemuka ibunya sambil meneriakan kata 'Pelacur !' sekuat yang ia bisa. Ya, seperti itu tidak jelek juga.

Kemudian tanpa membuang banyak waktu lagi Naruto berjalan meninggalkan sisi kendaraan milik Kiba, langkahnya tegas membawa pemuda berambut pirang itu mendekati rumahnya. Lalu untuk memberikan sedikit efek kaget pada sepasang kekasih gelap yang sedang berbisik ini Naruto memanggil kearah mereka, atau lebih tepatnya ia memanggil Kiba.

"Hei Kiba !"


The Demon in His Heart


Beberapa saat sebelumnya, di kediaman Uzumaki...

"Kushina-chan, tolong hentikan tangisanmu... aku tidak bisa melihatmu menangis." Kiba berbisik mesra pada Kushina yang ketika itu tenggelam dalam rasa bersalahnya. Kata-kata itu jujur keluar dari dalam hatinya, entah kenapa ia merasa sesak ketika melihat air mata Kushina menetes membasahi wajahnya. "Kushina-chan aku mencintaimu..."

Kushina tidak berkata apa-apa, ia membiarkan lengan Kiba merayapi tubuhnya yang gemetaran. Dalam pikirannya ia hanya bisa mengingat sosok sochi-nya. Berkali-kali ia menyebutkan kata itu dalam hatinya, merengek, memohon, meminta ampun atas sifat pelacur dalam dirinya.

"Aku akan melakukan apa saja untukmu Kushina-chan... percayalah padaku." Kiba terus memoles telapak tangannya di perut Kushina, "Aku bahkan tidak segan untuk menikahimu... masa bodoh dengan keluargaku... aku mencintaimu Kushina, dan aku akan menaruh benihku disini... diperutmu... kita akan menjadi keluarga. Bukankah itu yang kau mau ?"

Kushina menggeleng lemah, "Tidak... kumohon jangan lakukan itu... aku hanya akan melakukan ini sekali saja." Kushina berbicara melalui rahangnya yang gemetaran.

"Kita akan lihat Kushina-chan... kita akan lihat." Ucapan Kiba mengisyaratkan bahwa Kushina tidak akan mampu mencegah pemuda itu untuk berkali-kali melampiaskan nafsu seks kepadanya.

Kushina tahu akan hal itu, ia sangat paham bahwa dengan apa yang dimiliki Kiba, maka pemuda itu bisa mengancamnya untuk melakukan apapun. Kushina tidak mungkin membiarkan Kiba membocorkan rekaman itu pada putranya. Walau ia tahu hal yang akan ia lakukan ini berpotensi untuk merusak hubungannya dengan Naruto lebih buruk lagi tapi setidaknya hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat, berbeda dengan jika ia membiarkan Kiba memberikan rekaman itu pada Naruto. Putranya seketika itu juga akan menaruh kebencian pada dirinya, dan di dunia ini tidak ada yang lebih ia takutkan daripada merasakan kebencian tersebut.

"Ki... Kiba jangan disini... kita masuk saja." Kushina merengek disela tangisnya.

Kiba menggelengkan kepalanya, "Sebentar, izinkan aku menyentuh tubuhmu sebentar saja. Aku ingin merasakan tubuhmu... ini berbeda dengan tadi malam kan ? Tadi malam kau terlalu mabuk untuk menyadari apa yang kau lakukan... lagipula kemarin malam aku hanya dapat merasakan tubuhmu dalam hitungan detik saja, kau selalu menepis tanganku jika aku menyentuhmu terlalu lama."

Air mata Kushina mengalir semakin deras. Kejadian tadi malam selalu membuat dirinya merasa mual, memang pada kenyataannya ia tidak membiarkan Kiba atau Sasuke menyentuh tubuhnya lama-lama, ia bahkan menepis tangan mereka ketika kedua pemuda itu berani menyentuh daerah kewanitaannya. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa yang ia lakukan tadi malam adalah sesuatu yang sangat rendah. Ia memang mabuk, tapi jika ia boleh jujur ia tidak begitu mabuk, ketika itu ia masih bisa mengendalikan dirinya, walaupun tidak secara penuh.

Singkatnya yang kronologis kejadian tadi malam seperti ini; Mikoto mengajak Kushina untuk melepaskan penat di sebuah klub malam, mereka berdua minum terlalu banyak dan kehilangan kendali atas dirinya, disaat yang bersamaan juga mereka tiba-tiba merasakan dorongan seksual yang begitu tinggi. Mereka lalu menari-nari, berdansa, berganti-ganti pasangan sampai akhirnya mereka berdua bertemu dengan Sasuke dan Kiba. Dengan dorongan seksual yang ketika itu sedang tinggi Kushina dan Mikoto menarik sepasang sahabat itu untuk ikut menari bersama mereka, entah apa yang terjadi setelahnya tapi beberapa saat kemudian Kushina dan Mikoto tiba-tiba sudah berada di ruang VIP, menari sambil memegangi tiang yang terpasang diatas meja.

Kushina ketika itu tidak tahu apa yang Mikoto rasakan, tapi dari wajahnya wanita Uchiha itu juga kelihatan menikmati tiap gerakan yang membuat Sasuke, putranya sendiri tersenyum lebar. Kushina tidak mau kalah, ia turun dari atas meja tempatnya menari dan menggoda Kiba dengan liukan tubuhnya yang erotis. Setiap kali Kiba berusaha menyentuhnya Kushina menepis tangan pemuda tersebut sambil tersenyum nakal, ia berbisik pelan ditelinga Kiba, "Kau boleh lihat tapi kau tidak boleh menyentuh."Kenyataan bahwa Kushina dapat mengingat kata yang keluar dari mulutnya itu adalah salah satu bukti bahwa ia tidak begitu mabuk malam kemarin.

Ketika itu, hari kemudian semakin larut, Kushina dan Mikoto menyudahi permainan mereka dan beranjak untuk pegi meninggalkan klub tersebut, tapi sebelum Kushina sempat pergi Kiba memberikan nomor ponselnya pada wanita itu dan begitu pula sebaliknya, lalu dengan wajah yang agak malu-malu ia mengatakan bahwa ia mencintai Kushina. Tentu saja Kushina tidak terlalu menanggapi hal tersebut, tapi mengingat gairah seksualnya yang tinggi ketika itu ia ingin memberikan hadiah pada pemuda yang telah berani menyatakan perasaanya pada Kushina, tanpa rasa malu ia menarik turun stocking yang dikenakannya, memperlihatkan bentuk kakinya yang sempurna pada pemuda itu sebelum ia menyumpal kain hitam itu kewajah Kiba, satu hal yang paling disesalinya ketika itu adalah kata-kata yang ia ucapkan saat ia memberikan stocking tersebut pada Kiba.

"Kau boleh menghubungiku kapan saja."

Kiba tidak membuang waktu untuk menghubunginya. Semalam ketika Kushina terkulai lemah diatas ranjang tidurnya sambil menangis, pemuda itu mengiriminya berbagai macam pesan. Harus diakui memang pesan berisi kata-kata manis itu memang sedikit menghibur dirinya, apalagi setelah ia dengan bodohnya memaksa putranya sendiri untuk bercinta dengannya.

Naruto tentu saja menolak ajakan itu, ia adalah seorang pemuda yang baik. Kushina tidak pantas mendapatkan putranya, sengaja memang ia ingin cepat-cepat kembali ke rumahnya dalam keadaan dirinya yang masih dikuasai oleh gairah seksual untuk pada malam itu juga menyatakan dan membuktikan perasaannya pada sang putra. Seharusnya ia bangga pada putranya yang menolak ajakan kotor dari dirinya, tapi ia tidak bisa memungkiri rasa sakit hati yang ketika itu juga tumbuh di dalam hati, bagaimanapun juga ia telah mendapat penolakan, dan seperti yang semua orang ketahui, penolakan adalah sesuatu yang menyakitkan.

Tubuh Kushina semakin gemetaran ketika Kiba semakin mendekat kearahnya, sentuhan tangannya kini bergerak semakin liar. Ia bahkan dapat merasakan dengusan nafas pemuda itu yang dikuasai oleh nafsu. Ketika kedua tangannya berusaha meremas penuh buah dada Kushina, dengan cepat wanita itu menghentikan gerakan tersebut. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Kiba sebelum keduanya meraih tujuan. Kiba menarik lepas genggaman tersebut, ia kemudian berusaha untuk mendorong Kushina masuk kedalam rumahnya tapi hal itu urung dilakukannya. Kiba tiba-tiba mendengar suara langkah yang mendekat dari arah kejauhan.

"Hei Kiba !" Suara itu terdengar tidak asing.

Kedua mata Kushina terbuka lebar ketika mendengar suara tersebut, tubuhnya mendadak gemetaran, nafasnya berhenti sejenak seiring dengan kedua kakinya yang tiba-tiba terasa sangat lemah membuat ia kesulitan untuk menopang tubuhnya sendiri.

Tidak berbeda dengan Kushina, Kiba juga merasa ketakutan begitu ia mendengar suara itu. Seluruh tubuhnya terasa kaku, jangankan untuk bergerak, Kiba bahkan tidak bisa mengeluarkan suara dari dalam kerongkongannya yang seketika itu juga terasa kering.

"Hei bodoh, kenapa diam saja." Suara itu terdengar semakin jelas, kini diiringi dengan suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat kearahnya.

Sekuat tenaganya Kiba berusaha untuk berbalik kearah suara tersebut, dugaannya tidak meleset ketika sosok pemuda berambut pirang terlihat berjalan kearahnya dengan ekspresi wajah yang sedikit terganggu, "Na... Naruto ?"

Naruto mendorong kepala Kiba seenaknya, "Tentu saja bodoh, kau pikir ini rumah siapa !". Jika Naruto tidak berpura-pura tidak tahu mungkin ia tidak hanya akan mendorong kepala Kiba, mungkin ia akan membantingnya jatuh ke tanah dan menginjak-injak kepala busuknya sampai otak dangkal pemuda tolol itu keluar dari lubang telinganya sendiri, tapi ketika itu Naruto berpikir bahwa akan lebih lucu jika ia berpura-pura tidak tahu tentang mereka berdua.

"So... sochi, kukira kau tidak akan pulang sampai malam nanti." Suara Kushina sedikit terbata.

Naruto mengangkat kedua bahunya, "Gaara hari ini tidak bisa bertemu denganku, ada urusan mendadak sampai malam katanya." Ia menjelaskan sambil berjalan mendekat kearah ibunya, "Kaa-chan, pilihan pakaian yang sangat bagus untuk menerima tamu." Naruto tersenyum polos.

Terkejut dengan perkataan putranya Kushina melangkah mundur, ia memandangi tubuhnya dan wajah putranya secara bergantian sebelum akhirnya berkata, "A... aku... maaf aku ganti pakaian dulu !" ia kemudian dengan terburu-buru berlari masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Naruto berdua dengan Kiba di beranda.

Kiba tidak tahu harus berkata apa, semua orang tahu bahwa Naruto bukan hanya sosok pemuda jahil biasa, ia tahu tentang reputasi gelap teman satu kelasnya ini. Hal itu jugalah yang selama ini membuat Kiba tidak berani secara terang-terangan berada di pihak yang berlawanan dari Naruto, karena itu ketika Naruto memutar tubuhnya dan menatap kearah dirinya Kiba hanya bisa memalsukan senyuman di wajahnya, "Naruto... a..aku kemari untuk menemuimu."

Kalimat Kiba yang diucapkan secara terbata jelas mengonfirmasikan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda itu, dan Naruto punya dugaan tentang hal tersebut. Sekarang yang ada dikepala pemuda berambut pirang itu adalah bagaimana cara ia bisa menghancurkan teman satu kelasnya ini secara sempurna.

Ya, sempurna.

"Begitukah ? Ada apa ?" Naruto kelihatan tidak begitu tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Kiba, ia melipat kedua lengannya sambil bersender di sisi lubang pintu rumahnya tanpa sedikitpun menumpulkan pandangannya kearah pemuda Inuzuka tersebut.

"Ah, ya... kebetulan sekali aku baru sampai... aku ingin mengajakmu pergi ke tempat Shikamaru." Balas Kiba, masih dengan suara yang bergetar.

Naruto menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin pergi kemanapun."

"Eh ? Kau yakin ?"

"Aku sedang merasa tidak enak hati, emosiku sedang tidak stabil."

Jawaban Naruto membuat Kiba semakin ketakutan, jika boleh jujur Naruto menikmati apa yang dilihatnya, ia hanya menyesal karena tidak bisa menghabisi pemuda tolol ini saat itu juga. "Kalau begitu... a..aku berangkat sendiri saja." Ujar Kiba yang sebenarnya merasa bersyukur ketika Naruto menolak ajakannya.

Naruto tidak membalas kata-katanya, mereka hanya saling pandang dalam kesunyian sebelum akhirnya kesabaran pemuda berambut pirang itu habis, "Lalu ? Apa yang kau tunggu ?"

"Hah ? Eh ? Ah, baiklah kalau begitu... ng... aku pamit dulu." Kiba kelihatan sedikit salah tingkah setelah mendengar pertanyaan tersebut, secara tidak langsung memang kalimat itu bermaksud untuk mengusirnya pergi, dan walaupun Kiba merasa sedikit terhina dengan hal tersebut, ia harus mengakui juga bahwa jauh dalam hatinya ia merasa lega.

Naruto memandangi teman satu kelasnya yang ketika itu hanya mengenakan kaos singlet hitam dan celana jeans ala skater yang agak melorot dari pinggangnya. Kiba melambaikan tangannya kearah Naruto ketika ia berada di pintu gerbang halamannya, Naruto hanya mengangguk pada pemuda tersebut, tidak terlalu perduli dengan kepergiannya. Tidak lama setelahnya kendaraan jeep hitam milik Kiba beranjak pergi dari rumahnya, Naruto tersenyum kecil, ia harus mengakui bahwa walaupun Kiba adalah salah satu manusia yang paling ia benci tapi seleranya dalam memilih kendaraan tidak terlalu jelek.

Ketika Naruto memasuki rumahnya, ia menemukan sosok ibunya sedang berdiri di lorong utama yang menghubungkan pintu utama dengan ruang keluarga tempat sofa kesayangannya berada. Sambil menutup daun pintu yang berada dibelakangnya Naruto dapat memperhatikan penampilan sang ibu yang kini sudah terlihat mengenakan pakaian sehari-harinya berupa blouse berkerah tanpa lengan berwarna putih yang kemudian dibalut oleh dress hijau yang menutupi tubuhnya sampai ke pergelangan kaki.

"Temanmu sudah pulang sochi ?" Tanya Kushina, bola matanya bergulir tanpa arah ia tidak berani memandang langsung kearah putranya.

Naruto hanya tersenyum melihat ibunya, "Kaa-chan tidak tahu namanya ?" ia memancing Kushina untuk bicara.

"Ah, na... namanya Ki..ba-kun bukan ?"

"Ya, dia teman satu kelasku." Jawab Naruto, sekali lagi kecurigaannya terkonfirmasi ketika Kushina menjawab pertanyaannya dengan suara yang bergetar.

"So... sochi... kaa-chan tadi tidak bermaksud menyambut temanmu dengan pakaian begitu."

Naruto mengangkat kedua alisnya, "Lalu ?"

"A... aku kira itu Mikoto-chan." Jawab Kushina.

Kebohongan demi kebohongan diucapkan pada Naruto, semakin ia mendengarnya semakin muak juga ia dengan sosok yang berdiri dihadapannya ini, "Ya sudah kaa-chan, tidak apa-apa. Aku mau tidur dulu." Naruto lalu berjalan melewati Kushina tanpa menatap kearahnya sama sekali.

"Sochi tunggu !" Kushina menggenggam pergelangan tangan Naruto ketika mereka saling berpapasan. "Okaerinasai." Lanjutnya sambil tersenyum kearah Naruto.

'Palsu, senyuman itu palsu !' Naruto mengutuk apa yang dilihatnya dari dalam hati, kemudian untuk pertama kali dalam hidupnya, Naruto tidak membalas kata-kata sang ibu, ia menarik lepas pergelangan tangannya dari genggaman sang ibu sambil berkata, "Aku mau tidur dulu... aku lelah."

Kushina membisu sambil memperhatikan langkah kaki putranya yang menjauh menaiki tangga, selama ini ia belum pernah sekalipun mendapat perlakuan sedingin itu dari Naruto. Apakah putranya tadi melihat Kiba ketika pemuda itu sedang menyentuh tubuhnya ? Atau mungkin ia hanya lelah ? Kushina gemetaran, ia merasa sangat takut dengan sikap dingin putranya. Namun sebelum ia sempat menyusul sang putra untuk menanyakan keadaannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Refleks, Kushina kemudian mengeluarkan ponselnya yang ia simpan didalam dress hijau kesukaannya.

Ada satu pesan masuk disana, lalu ketika Kushina membuka pesan itu ia dapat membaca isinya.

'Aku belum selesai Kushina-koi.'

Dibawah pesan tersebut sebuah file rekaman suara juga terkirim dari nomor ponsel Kiba. Kushina tahu apa isi rekaman suara tersebut, tapi rasa penasaran yang menguasai dirinya membuat ia menekan tombol dilayar ponselnya untuk memainkan file rekaman tersebut.

"Mmmhh... aku bisa membuatmu ahhh... lebih gila lagi..."

Tentu saja tidak Kiba-kun, aku sedang membayangkanmu."

"Aku sedang menyentuh tubuhku sendiri sambil membayangkanmu...sentuhanmu, ciumanmu... aroma tubuhmu... mmmhhh..."

Kushina terjatuh ketika suara itu keluar dari speaker ponselnya, sekuat tenaganya ia menahan suara tangis yang sekali lagi keluar dari mulutnya. Sambil berlutut ia memegangi wajahnya yang dibanjiri oleh air mata. Ponselnya tergeletak disampingnya, masih memutar-mutar ulang suara rekaman tersebut. Satu hal saja yang kini dapat dirasakan oleh Kushina. Penyesalan.


-TBC-


Thanks for reading this trash...

Review/Flame/Recommendation are welcomed with open arms...

~Salam Sampah~