Disclaimer : Masashi Kishimoto
Thanks udah read, salam kenal ghwen :)
warning : abal, gaje, typo berserakan dan masih banyak kekurangan. thanks...
"Ssttt... tenanglah Hinata, semua baik – baik saja.. tenanglah, aku disini" Desis Neji memeluk erat Hinata, mencoba menenangkannya.
"Menyedihkan! Jika kau seperti ini terus, aku akan mengirimmu ke rumah sakit jiwa Hinata!" Ancam Sakura, sambil melirik sinis ke dua kakak – beradik itu.
"Sebaiknya kau diam Sakura!" Bentak Neji geram, sambil memapah Hinata yang masih terlihat frustasi. Meninggalkan Sakura yang terlihat kesal.
Neji mengusap lembut puncak kepala Hinata yang mulai tenang dan tertidur setelah di beri obat.
"Tidak apa, semua baik – baik saja Hinata." Kata Neji halus.
"Kakak, Apa Naruto akan kembali? Bukankah tadi dia sudah berjanji.." Tanya Hinata lemah, mulai kehilangan kesadaran.
"Sstt, istirahatlah... kau lelah Hinata," Bisik Neji
...
Pagi – pagi Neji yang tertidur di kamar Hinata, terkejut melihat Hinata sudah tidak ada di tempat.
"Hinata... Hinata..." Panggil Neji khawatir menyusuri setiap tempat.
"Selamat pagi..." Sapa Hinata ramah melihat Neji turun dari lantai 2.
Neji hanya tersenyum melihat Hinata sudah rapi dan menghidangkan berbagai makanan di meja makan.
"Istirahatlah Hinata, bukan kah sudah ada pelayan di rumah ini?" Kata Neji lembut memandang dengan takjub berbagai makanan yang telah di hidangkan Hinata.
"Tidak apa, lagi pula aku suka melakuhkannya"
"Kakak, cepatlah mandi dan beres – beres! Setelah itu kita makan bersama dan kakak bisa berangkat ke kantor dengan tenang." Perintah Hinata.
"Baiklah, tunggu sebentar ya" kata Neji meninggalkan Hinata.
...
Setelah Neji dan Sakura berangkat kerja, Hinata dengan semangat membuat bento.
Sejenak Hinata memandang foto Naruto bersama teman – teman satu tim basket saat di KHS. Terlihat Naruto yang tertawa lebar merangkul Sasuke yang berdiri angkuh di barisan paling depan.
"Naruto... aku merindukanmu," Desis Hinata.
...
Uchiha Crop.
"Sasuke... ayoo temani aku makan siang, aku kelaparan." Rengek Karin di ruang kerja Sasuke.
"Pergilah.." Sahut Sasuke acuh.
"Ayolah Sasuke... pleasee... kau tega kepadaku?" Bujuk Karin tidak mau menyerah.
"Aku sibuk Karin!" Desis Sasuke cuek.
"Ayo.. ayoo... " Rengek karin menarik – narik lengan kemeja Sasuke dengan manja.
"..."
"Sasuke..."
"..."
"Please..."
'tok .. tokk..' Tiba – tiba pintu ruang Sasuke di ketuk, membuatnya dapat bernafas lega.
"Ada apa Konan?" Tanya Sasuke pada sekertarisnya.
"Maaf mengganggu, ada seorang wanita ingin memaksa masuk dan membuat ulah di lobi." Kata Konan.
"Hmm, biarkan satpam mengurusnya." Desis Sasuke acuh, Karin hanya cemberut melirik Konan sinis.
'Huh, seperti itu aja harus lapor. Apa pentingnya, mengganggu saja!' Batin karin kesal.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi."
"Tunggu, seperti apa pembuat ulah itu?" Tanya Sasuke penasaran.
"Seorang gadis berambut panjang dan menyebut – nyebut nama Naruto." Jawab Konan.
'Hinata?' Pikir Sasuke ragu.
"Baiklah, kau boleh pergi." Balas Sasuke.
" Karin! kau juga pergi!" Sahut Sasuke tegas, membuat nyali Karin menciut dan terpaksa pergi bersama Konan.
...
Sasuke bergegas ke arah lobi.
"Hentikan! Biarkan aku masuk! Naruto... Naruto... di mana kau!? Lepaskan aku! Naruto tolong aku! Naruto !" Terdengar keributan dan teriakan Hinata semakin dekat.
"Naruto!" Panggil Hinata bersemangat ketika melihat kedatangan Sasuke.
"Maaf tuan, gadis ini tidak mau pergi." Kata seorang pegawai dengan cemas, melihat kedatangan Sasuke.
"Hn, biarkan dia." Jawab Sasuke datar.
Hinata langsung berlari kecil dengan penuh semangat menghampiri Sasuke.
"Aku tahu, kau pasti datang!" Kata Hinata bersemangat.
"Hn" Jawab Sasuke cuek sambil memandang orang – orang sekitar yang menatapnya penuh tanya.
"Ayoo pergi!" Sahut Sasuke, menggandeng Hinata ke ruangannya. Selama perjalanan, banyak pegawai wanita yang diam – diam mencuri pandang bahkan berbisik iri melihat Hinata yang di gandeng Sasuke.
Sampai di ruangan Sasuke, Hinata memandang takjub.
"Kenapa kau disini?" Tanya Sasuke kesal.
"Ini, aku memasaknya untukmu. Aku tahu kau belum makan kan? Dulu, kau selalu senang memakan bekal buatanku setelah latihan basket. Kau ingat kan?" Tanya Hinata sambil tersenyum menerawang jauh.
"Kau datang bersama siapa? Kenapa kau tau aku disini?" Solot Sasuke mengacuhkan bekal buatan Hinata.
"Aaaa, itu... kau pernah bercerita padaku. Kau ingin bekerja disini, bahkan aku ingat hal itu. Aku memang hebat, iya kan Naruto?" Tanya Hinata bangga.
"Jangan berbohong! Siapa yang mengirimmu?!" Bentak Sasuke. Hinata terkejut melihat Sasuke membentaknya.
"Apa aku salah? Kenapa kau membentakku? hiks... aku tidak bohong! Kau sendiri yang bilang padaku Naruto!" Isak Hinata.
Hinata mengeluarkan sepucuk foto yang selalu dia simpan. Foto naruto dan teman setim basketnya.
"Bahkan kau juga menuliskan alamatnya disini, kau yang memberikannya padaku Naruto." Isak Hinata.
"Tapi kenapa kau membentakku? kau jahat, kau tidak menginginkanku lagi kan? kau ingin aku pergi kan? aku membencimu," Isak Hinata berlalu pergi.
"Hinata!" Panggil Sasuke. Tetapi Hinata mengacuhkannya.
Sasuke memungut foto yang Hinata tinggalkan.
"Ini... tulisan ini, ini tulisan dan tanda tanganku. Ini kenang – kenangan terakhir yang aku berikan pada Naruto sebelum pergi ke Suna."
"Shiit... apa – apaan ini?" Umpat Sasuke.
...
Sasuke duduk dengan gelisah di ruangannya, pikirannya tersita oleh Hinata.
Sejenak Sasuke kembali memandang foto kenangannya itu dan bekal yang Hinata bawa.
Perlahan Sasuke membuka bekal itu dan mencicipinya, terukir senyuman di wajah datar pemuda itu tanpa dia sadari.
'Dimana dia? Apa dia baik – baik saja?' Pikir Sasuke mulai khawatir.
"Shiit! Aku lupa tentang masalahnya, bagaimana jika dia bunuh diri eh?" Desis Sasuke panik.
Secepat kilat Sasuke menuju mobilnya dan menghubungi Neji. Neji terkejut mendengar penjelasan Sasuke, karena selama ini. Hinata tidak pernah hafal jalan manapun bahkan alamat rumahnya sendiri setelah kecelakaan itu.
Neji mencari Hinata ke rumah, dan juga menghubungi Sakura. Saudara tiri Hinata,
Sasuke panik dan terus berkeliling tanpa tujuan, berharap Hinata baik – baik saja.
"Sial! Dimana kau Hinata?" Desis Sasuke kesal.
Hari menjelang sore dan Hinata belum di temukan.
"Berfikir... Hinata, katakan dimana kau berada?" Desis Sasuke frustasi.
"..."
'Tempat itu..' Pikir Sasuke penuh harap.
Sasuke pun memacu mobilnya menuju kota lama di Konoha, di sana tempat pertama Hinata bertemu dengannya. Di depan toko kunci.
Tetes hujan mulai turun dari langit, Sasuke semakin khawatir dan memacu mobilnya lebih cepat.
Setelah sampai di sana, terlihat toko – toko sudah sepi dan tutup. Tepat di depan toko kunci yang tutup, terlihat seorang gadis berjongkok dengan ribuan air mata membasahinya. Hanya tetes air hujan dan kesunyian yang menemaninya.
Sasuke berjalan pelan, dari mobilnya. Tidak menghiraukan air hujan yang membasahi kemeja mahalnya.
Hinata mendongak, melihat sepasang sepatu berhenti di depannya.
"Maafkan aku..." Lirih Sasuke.
"Naruto..." Panggil Hinata sambil memeluk Sasuke.
"B-basah... K-kau bisa sakit," Kata Hinata panik menepuk – nepuk kemeja Sasuke.
"Tidak apa, aku lega kau baik – baik saja. Sekarang kita pulang," Sahut Sasuke menghapus jejak air mata Hinata.
Tapi Hinata hanya terdiam,
"Kenapa ?" Tanya Sasuke tidak mengerti.
"Kau jahat! Aku tidak mau pulang! Kau membenciku! Kau membentakku! Kau meninggalkanku!" Cerca Hinata.
"Maafkan aku," Lirih Sasuke memeluk Hinata.
"Maaf" Bisik Sasuke.
"Bagaimana bekalku?" Celetuk Hinata tiba - tiba.
Sasuke hanya tersenyum geli melihat Hinata menerucutkan bibirnya dengan wajah kesal.
"Enak, sangat enak... aku mau makan masakanmu lagi setelah ini." Jawab Sasuke ramah.
"Baikalah, ayoo kita pulang," Ajak Hinata bersemangat.
"Akhh... konyol!" Umpat Sasuke.
"Kenapa?" Tanya Hinata bingung.
"Karena senang menemukanmu, aku sampai lupa membawa payung ke sini! dan lihat? Bodohnya aku! Kenapa memarkir mobil di seberang jalan keh? bukannya aku bisa berhenti di sini?" Terang Sasuke kesal. Hinata hanya tertawa melihatnya.
"Tunggu di sini. Aku tidak akan membiarkanmu basah!" Perintah Sasuke, belum sempat Sasuke berlari menerjang hujan Hinata sudah menggandeng tangannya dan berlari menerobos hujan.
"Apa yang kau lakuhkan Hinata?" Tanya Sasuke sambil berlari bersama Hinata.
"Menyebrang bersamamu! Aku tidak mau lagi, kau meninggalkanku!" kata Hinata tersenyum, Sasuke tersenyum melihat senyum bahagia Hinata.
TBC
