Disclaimer: Bleach © Tite Kubo (bagi sedikit bakatnya dong, Om Tite…)

Warnings: BL/yaoi, abal, dll.

Chapter ini lebih ke perasaannya Ichigo. Karena itu sepertinya saya harus publish 2 chapter sekaligus.

.

Bleach

My Choice

Bagian 2. Ichigo's Feelings

.

.

Beruang Madu

.

Enjoy!

.

.

_Ichigo's POV_

"Bukan Rangiku-san, tapi…"

Aku berhenti sebentar, mengalihkan telunjukku dari Rangiku-san yang tampak agak terkejut kearahnya.

"…taichou-nya." Sambungku, menunjuknya.

Lalu nyaris semua orang berseru hebring, "HITSUGAYA-TAICHOU?!"

Aku bisa melihat bahkan Inoue, Sado, dan Ishida pun memasang wajah terkejut mereka, walaupun cuma Ishida yang bersuara "HAAHH?!". Aku juga bisa melihat wajah-wajah para taichou lain yang kayaknya syok, walaupun Kenpachi masih saja menyeringai. Tapi nggak ada yang tampak lebih terkejut dan lebih syok dari si taichou mungil itu.

Ya, aku memilihnya. Nekad, memang. Banget, malahan.

"Apa kau gila, Kurosaki?!" Ishida berseru sambil memegang kacamatanya. Aku hanya memasang ekspresi yakin dengan pandangan masih tertuju tepat ke wajah orang yang kutunjuk itu.

"Ichigo, apa kau yakin?" Chad tidak berseru, tapi aku bisa mendengar suaranya meski sekarang bukit ini sudah ramai oleh bisikan orang-orang.

"Kurosaki-kun… apa tidak salah menunjuk?" Tanya Inoue.

"Tidak, aku sama sekali tidak salah tunjuk." Jawabku tegas, "Aku juga tidak gila, tidak berada dibawah kendali siapapun, tidak sedang bercanda, dan aku sangat yakin."

"Kau…" Toushiro, orang yang kutunjuk itu, berucap dengan penuh penekanan, sorot matanya menatap berbahaya padaku.

"Kurosaki Ichigo, apa kau benar-benar yakin dengan pilihanmu itu?" Yamamoto-jii san bertanya padaku. Aku mengangguk mantap.

Aku mengingat lagi apa yang Renji bisikkan padaku.

(Flashback)

"Kau pasti bete juga kan dipaksa begitu oleh para taichou?" Mulainya waktu itu, saat kami berjalan menjauhi pusat Seireitei, membicarakan masalah di ruang rapat taichou.

"Kalau begitu sekalian saja kerjain mereka!"

"Apa maksudmu?" Tanyaku.

"Kalau sampai memaksamu begitu, berarti mereka benar-benar niat memberimu hadiah APA PUN yang kau mau, dong? Ya kan? Pikirkanlah, Ichigo, bagaimana asyiknya kalau kau mengerjai mereka, buat mereka terkejut dengan pilihanmu!" Pancing Renji meyakinkanku.

"Kau mau aku melakukan hal yang konyol, ya?" Curigaku.

"Bukan konyol! Tapi iseng!" Entah kenapa sepertinya si nanas-baboon-ular ini bersemangat sekali, aku jadi ngeri. "Kau minta jodoh, gih!" Suruhnya.

"APA?!" Kagetku.

"Iya! Bilang kau mau mereka menginzinkanmu memilih siapapun anggota Gotei 13 untuk jadi pasanganmu! Pasti mereka kaget! Kujamin!"

"Konyol!" Tolakku.

"Ayolah, Ichigo, aku tahu kau juga pasti mau kan mengerjai para taichou sekali-sekali?"

Cengirannya entah kenapa benar-benar mencurigakan.

(Flashback selesai)

Ada empat alasan kenapa aku melakukan hal gila dan nekad ini. Pertama, aku ingin mengerjai para taichou Gotei 13 sesekali, sedikit memberi mereka terapi jantung (kuharap Yamamoto-jii san nggak punya penyakit jantung dan bukan penyakit itu yang diderita Ukitake-san).

Kedua, aku ingin mereka kapok karena memaksaku begitu. Rasain tuh! Siapa suruh mengatakan hal-hal seolah mereka akan memberi APAPUN keinginanku.

Ketiga, aku ingin bersenang-senang sedikit setelah ketegangan selama Winter War. Mencoba usulan si baka Renji sepertinya ide bagus.

Keempat, dan yang paling penting, aku ingin menghabiskan waktu sebentar bersama si Chibi-taichou galak itu. Entah kenapa.

Jujur, aku sudah tertarik padanya sejak pertama kali aku melihatnya. Bisa dibilang aku tidak pernah bertemu dengannya saat masih menjadi ryoka untuk menyelamatkan Rukia dulu, baru setelah Aizen menyatakan pengkhianatannya aku berkesempatan bertemu dengannya. Waktu itu, seorang shinigami yang menyatu dengan zanpakutou-nya, Baishin, mengacau di gensei, Renji dan Rukia datang untuk meminta bantuanku (meskipun si Nanas itu tidak mengakuinya). Di tengah pertarunganku dengan Baishin, aku tersudut, Renji dan Rukia yang masih berada dalam gigai juga tidak bisa membantu. Saat itulah dia datang tiba-tiba, terjun dari langit sambil meneriakkan nama zanpakutou-nya, menyerang Baishin. Baishin kabur dan aku baik-baik saja walaupun reiatsu-ku terkuras sedikit.

Aku masih belum tahu namanya waktu itu, wajar saja kan? Lagian aku datang ke Seireitei pertama kali bukan untuk berkenalan dan silaturahmi dengan anggota Gotei 13. Makanya aku sempat memangggilnya 'Cebol' saat menawarkan bantuan untuk mengalahkan Baishin. Dia marah, lalu ber-shunpo pergi begitu saja. Renji dan Rukia langsung menghujatku karena memanggilnya begitu dan membuatnya marah. Dasar, seharusnya mereka bisa memaklumiku dong, aku kan belum tahu namanya, jadi kusebutkan saja ciri fisiknya yang paling menonjol, ya 'Cebol' itu. Dia juga mengakuinya kok, buktinya dia merasa waktu kupanggil, kan?

Setelah insiden dengan Baishin aku mulai mengenal lebih banyak hal tentang Gotei 13, orang-orang penting mereka, dan tentu saja, si 'Cebol' itu. Aku kagum, ternyata dia terkenal sekali *iyalah, Ichigo, dia karakter terpopuler, hahaha XD*. Selain 'Cebol', julukannya yang lain adalah 'Jenius' atau 'Anak Keajaiban', dia mendapat gelar 'termuda' dan 'tersingkat' dalam menguasai banyak hal. Memang sih, dilihat dari manapun, dia itu seperti anak kecil. Anak kecil songong bermuka tembok. Hebat. Hebat, seperti aku! Haha –akui sajalah, aku hebat kan? ;) *Ichigo digetok Author karena narsis, eh, dia balesnya pake Getsuga Tensho (x_x')*.

"Dia itu taichou kesayangan Gotei 13, lho." Suatu hari Rukia berkata padaku saat kami mengobrol santai sehabis membeli barang di Toko Urahara. "Habisnya, setelah Ichimaru berkhianat, dialah satu-satunya 'Jenius' yang dimiliki Soul Society."

'Oh, jadi orang bermuka ular itu juga 'Jenius'? Berarti Aizen punya anak buah yang cukup menakutkan ya? Untung Soul Society masih punya satu lagi.' Pikirku waktu itu.

"Selain itu dia kan, taichou termuda yang memang masih sangat muda, jelaslah para petinggi menyayanginya, kudengar Yamamoto-soutaichou sudah menganggapnya seperti cucu sendiri, bahkan Ukitake-taichou berniat mengangkatnya jadi anak saking gemesnya!" Rukia menambahkan, menggengam selembar foto Toushiro yang entah darimana ia dapatkan, kelihatan sekali dia juga gemas dengan orang yang kami bicarakan ini. Dasar, apa semua anggota Divisi 13 begitu ya?

"Aah, seandainya Hitsugaya-taichou tidak sedingin itu, pasti imutnya seperti Chappy, deh! Badannya mungil, rambutnya putih, dan matanya besar! Imut kan, Ichigo? Imut kaaaannn…?" Rukia mengguncang-guncang bahuku.

"I-iya deh, terserah apa katamu." Jawabku. Daripada dihujat, ya, nggak? "Eh, Rukia, darimana kau mendapatkan fotonya?" Tanyaku.

"Ini? Asosiasi Shinigami Wanita menjualnya untuk mendapatkan uang. Laku keras lho, Ichigo! Kalau mau kau bisa nitip padaku!" Promosinya.

"Buat apa? Itu barang nggak penting, kenapa sih cewek suka sekali mengoleksi banyak barang nggak penting?" Tolakku. Benar kan? Buat apa, coba?

Aku sukses kena jitak.

Yah, kuakui dia memang imut sih, persis seperti yang dikatakan Rukia. Dia punya otak yang cemerlang, mudah sekali penasaran akan sesuatu, dan suka menyelidiki, tipe-tipe anak jenius gitu. Hal itu terpancar dari matanya yang berwarna unik; turquoise (konon, dia yang pertama menyadari kejanggalan sikap Ichimaru sebelum Aizen mendeklarasikan pengkhianatannya, dia juga sempat menghadang kedua orang itu di Seijoto Kyorin, meskipun kalah). Saat-saat dia penasaran itulah yang seru, soalnya matanya yang sudah besar itu akan bertambah besar, lalu kembali menyipit dengan dahi berkerut saat banyak hal berseliweran di kepalanya. Lucu melihat hal itu dilakukan oleh anak yang bahkan kelihatan belum berusia 10 tahun.

Sayangnya sifat dan sikapnya sama sekali tidak imut, tidak ada manis-manisnya sama sekali! Dia itu taichou galak yang suka marah-marah, gampang sekali tersulut emosinya (mungkin karena masih kecil dan naif ya?). Saat Winter War, aku berpikir Aizen menyadari hal ini dan menganggapnya lucu, makanya bajingan itu sering sekali mengungkit-ungkit masalah yang memancing emosi Toushiro, terutama soal Hinamori. Sepertinya Aizen menganggap ekspresi marah Toushiro membuatnya terlihat lebih imut. Dia memang mengerikan.

Saat berbicara, nada bicara Toushiro penuh penekanan, apalagi kalau sedang marah. Nggak kebayang kalau jadi anggota divisinya, dimarahin mulu. Rangiku-san sih udah kebal kali ya? (Atau memang bebal?). Dia juga taat peraturan jadi susah diajak bersenang-senang, padahal fukutaichou-nya gila pesta begitu.

Kupikir dia terobsesi dengan paperwork, soalnya setiap kali aku main ke Seireitei dan mampir ke Divisi 10, kalau tidak sedang duduk di mejanya mengerjakan paperwork, dia pasti sedang marah-marah pada Rangiku-san, yang pemalas, untuk mengerjakan paperwork. Di mejanya, kertas-kertas tugas menggunung, melihatnya saja bikin malas. Aku heran dengannya, memang kenapa kalau dia tidak mengerjakannya? Dipecat? Nggak kan?

Satu lagi, dia sangat songong! Selain Yamamoto-jii san, sepertinya dia tidak pernah menyebut nama seseorang dengan embel-embel, aku pernah melihatnya memanggil Ukitake-san hanya dengan nama keluarganya, lalu Ukitake-san memanggilnya 'Hitsugaya-taichou'. Benar-benar anak songong! Aku saja masih ada hormat-hormatnya, memanggil yang (terlihat) lebih tua dariku dengan 'san', lah dia? Sudah begitu, dia selalu memaksa semua orang memanggilnya 'Hitsugaya-taichou'. Songong!

Lalu, kenapa aku malah ingin 'menghabiskan waktu' dengannya, ya?

[BLEACH]

_Kembali ke Bukit Sokyoku_

"KUROSAKI!"

Aku mendengar sebuah suara agak serak bernada mengintimidasi memanggilku yang sedang berbicara dengan taichou yang lain mengenai keputusanku, aku menoleh dan mendapati sepasang mata turquoise memberiku tatapan membunuh.

"Yo, Toushiro." Sapaku santai.

"Apa maksudmu?" Tanyanya.

"Apanya?" Aku balik bertanya.

"Apa maksudmu menunjukku?" Ulangnya.

"Ya, itu yang kumau." Jawabku seenaknya.

"Apa sebenarnya tujuanmu?"

"Itu? Eh, kau bisa mengerti tanpa aku menjelaskannya, kan? Ayolah, kau kan, jenius."

Reiatsu dingin bernuansa kutub mengelilingi bukit Sokyoku, jelas sekali kan, siapa pemiliknya? Beberapa kerikil dan batuan berubah menjadi es. Wah, ini berbahaya.

"JANGAN BERCANDA!"

WUUUSSHH

TRINGG

Dengan sangat cepat Toushiro bergerak dan mengarahkan pedangnya padaku, refleks aku langsung menarik Zangetsu dan menahan serangannya.

"KAU MENGEJEKKU YA?!" Teriaknya penuh kemarahan padaku.

"NGGAK! SAMA SEKALI NGGAK!" Jawabku sungguh-sungguh.

SYAATT

Dia merendahkan tubuhnya dan bermaksud menyerang kakiku dengan Hyourinmaru, sepertinya dia tahu kecepatan gerakanku dan merasa perlu membekukan kakiku kalau mau menusukku. Buset, dia sungguhan.

Aku berhasil melompat dan menghindari serangannya, tapi dia langsung ikut melompat, lalu mengarahkan bertubi-tubi serangan berkecepatan tinggi padaku, aku menggunakan Zangetsu untuk mendorongnya mundur. Dia terdorong mundur beberapa meter dariku. Kami bertarung di udara dan semua orang di bawah melihat kearah kami.

Tatapannya masih tertuju langsung padaku, sejak tadi nyaris tak pernah melihat arah lain. Aku tahu otaknya berpikir; kalau Ichigo bisa mengalahkan Aizen, bentuk zanpakutou biasa takkan berpengaruh apa-apa padanya, maka...

"Soten ni zase… HYOURINMARU!"

Selalu begitu, saat menyebutkan nama zanpakutou-nya suaranya meninggi beberapa oktaf.

"Guncho Tsurara!"

WUUSSHH

Aku menghindari lemparan es-es tajam itu, dia menggunakannya berkali-kali dan aku tetap bisa menghindarinya semudah yang pertama. Aku yakin dia hanya ingin mengetahui kecepatan gerak dan refleksku menghindar untuk menyiapkan serangan berikutnya. Dia benar-benar berbahaya.

WUUSSHH

Kali ini naga es meluncur deras kearahku. Aku menghindarinya. Bukan ini yang kuinginkan! Ada apa sih dengannya?! Aku takkan mau menyerangnya! Tapi sialnya dia tidak berpikiran sama denganku.

"Hyoryusenbi!"

"Ryuusenka!"

WUUSSHH

Gawat! Naga es yang ini lebih besar dan cepat! Terpaksa aku menggunakan…

"Getsuga Tensho!"

Itu cuma Getsuga biasa, biru dan tidak begitu kuat, hanya untuk menghindari naga es itu.

"HENTIKAN, KALIAN BERDUA!" Aku mendengar suara Soi Fon-san berteriak dibawah.

"HITSUGAYA-TAICHOU! HENTIKAN!" Rangiku-san ikut berteriak.

"ICHIGO! TURUNLAH!"

Aku menuruti apa kata Rukia dan ber-shunpo turun, Toushiro yang masih berada di udara tetap menatapku.

"Toushiro! Hentikan ini! Kau konyol!" Seruku.

"JANGAN MENGEJEKKU!" Balasnya marah. Hei, memangnya aku mengejeknya?

"Aku sama sekali tidak mengejekmu! Turunlah dan kita bicara baik-baik!"

"URUSAI!" Dia sama sekali tidak menurunkan reiatsu-nya, malah awan gelap semakin pekat menutupi langit yang semula berwarna oranye. Napasku tercekat saat dia mengatakan…

"Bankai."

Bersambung

#DigetokReaders

.

Langsung lanjut ke chapter selanjutnyaa~.

Soal pertemuan pertama Ichigo dan Hitsugaya-taichou, saya pikir itu di Bleach OVA 2: The Sealed Sword Frenzy, soalnya disitu Ichigo belum tahu nama Hitsugaya-taichou.

itakyuu uchinamikuchikura: jangan hilangin kekuatan Ichigo? Saya juga inginnya begitu, tapi kalau ada timeskip 17 bulan itu, apa alasan Ichigo nggak ke Soul Society selain kehilangan kekuatan? Ada ide? Terima kasih banyak review dan usulnya!

.

Salam,

Beruang Madu