Naruto menatap bosan sekelilingnya. Dentuman musik di bar itu menjenuhkannya yang sejak tadi hanya duduk di sofa ekslusif di sudut bar yang agak jauh dari lantai dansa. Di samping kirinya, di sofa yang berukuran lebih kecil dari yang ia duduki, seorang pemuda yang jauh lebih tua darinya sedang asyik bercumbu dengan dua orang wanita penghibur yang hanya memakai pakaian minimalis dan terbuka. Sedangkan beberapa—banyak—pemuda lain lebih memilih menari erotis di lantai dansa bersama wanita-wanita penghibur lainnya. Sisanya meneguk sake, vodka, sampanye, atau apa pun itu yang dapat memabukkan dan membuat mereka melayang.
Pria yang masih digerayangi dua orang wanita itu melirik remeh pada Naruto yang sedari tadi bahkan belum selesai dengan satu gelas kecil sakenya. "Kau benar-benar mengecewakan kakekmu."
"Jangan sebut pria tua itu di hadapanku," gumam Naruto cepat, tanpa menatap orang yang berbicara padanya tadi.
"Kau ditakuti akan status dan kekuatanmu, aku akui itu. Kau juga masih sangat muda, Naruto, tapi dirimu bukan lagi bocah lima belas tahun," pria itu masih berkata dengan nada mengejek, namun tangannya masih saja menggerayangi wanita-wanita di dekatnya
"Langsung saja katakan apa maumu, Kiba." Akhirnya Naruto menoleh
"Tidak ada, sungguh," Kiba mengangkat tangannya seolah menyerah. "Hanya saja, pergilah ke lantai dansa, menarilah seolah kau sedang telanjang di dalam kamar mandimu. Ciumlah para wanita itu. Tidak bisakah kau lihat tatapan lapar yang mereka tujukan padamu sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di tempat ini? Lihat, kau bahkan belum menghabiskan satu gelas sake pun."
Naruto mendecih. Sejak awal ia tidak suka tempat seperti ini. Kakeknya lah yang sering membawa ia kemari, menyeretnya keluar dari lapangan setiap ia sedang melakukan olahraga yang ia gemari. Kakek tua itu tidak pernah suka ia bermain bola, basket, atau apapun itu yang menurutnya hanyalah permainan untuk laki-laki lemah. Ia ingin Naruto menjadi yakuza sepertinya, dan mewarisinya sebagai pemimpin Akatsuki—kelompok yakuza paling kuat di distrik ini. Kakek tua hidung belang itu bahkan melupakan fakta bahwa ayah Naruto dan ibunya mati karena kecelakaan yang disengaja oleh kelompok yakuza dari musuh kakeknya.
Laki-laki di sampingnya ini—Kiba—adalah orang kepercayaan kakeknya yang ia beri perintah untuk mengawasi Naruto dan memastikan cucunya itu banyak terlibat dalam berbagai aktvitas kelompoknya. Naruto suka olahraga bela diri dan beberapa rekannya di sini cukup menyenangkan untuk dijadikan teman. Setidaknya dua alasan itu yang membuatnya bertahan sampai saat ini di sana.
"Kau tahu aku tidak minum Kiba, aku benci kehilangan kesadaran walaupun sedikit," dengan alasan bahwa itu bisa saja melepaskan kekuatan demonnya tanpa ia sadari, sejak itu ia tidak pernah minum lebih dari batas aman. "Dan wanita? Aku sudah punya wanitaku satu-satunya, kau juga tau itu."
Kiba berdecih pelan, lalu mengulurkan tangannya hanya untuk mengacak surai pirang Naruto. Kedua wanita itu ia usir kasar, mengingat kesadaran pria berusia tiga puluh tahun itu juga sudah sedikit menurun karena sampanye yang ia tegak. Kiba kemudian memposisikan duduknya di samping Naruto yang menyesap sakenya perlahan.
"Ne~ Naruto-kun~ Daisuki da yo~" cicit Kiba memeluk pinggang Naruto dengan jenaka. Menirukan suara remaja perempuan yang justru terdengar aneh di telinga Naruto.
"Apa-apaan kau Kiba!" seru Naruto namun dirinya tergelak. Rekan yang paling ia percaya itu benar-benar mabuk. Namun yang ia kagumi dari Kiba, seberapa mabuk lelaki itu, dia akan tetap bisa bertarung dengan baik bahkan lebih baik daripada saat ia tidak sedang mabuk.
"Hei tapi aku serius, Naruto," Kiba kembali menegakkan duduknya, membenahi rambut depannya yang panjangnya melebihi dagu runcingnya. "Kau harus berubah—sedikit lebih arogan tidak apa-apa. Kau lihat Pein di sana? Dia adalah tangan kanan kakekmu, dia sangat membencimu dan menginginkan posisimu sebagai pemimpin Akatsuki. Setidaknya kau harus tunjukkan bahwa kau yang berkuasa di sini, seperti singa yang menandai daerah teritorialnya," cecar Kiba dengan dramatisasi yang berlebihan. Dirinya benar-benar menghayati perannya sebagai pembimbing Naruto, amanah terakhir yang ketua Akatsuki berikan kepadanya.
Naruto meringis. Harus berapa kali ia katakan untuk tidak menyebut kakeknya di sini. Ia benar-benar membenci laki-laki itu dan tidak ingin melihat wajahnya ataupun mendengar namanya lagi.
PRANG!
DUAK!
Suasana berubah kacau seketika bahkan sebelum Naruto sempat menanggapi indoktrinasi Kiba padanya. Keributan di dekat pintu masuk menarik perhatian semua orang di bar itu. Beberapa orang terlihat berkelahi di sana dan beberapa botol sake telah menjadi korban. Naruto awalnya tidak tertarik dan memilih untuk kembali duduk bersandar dan menyerahkan hal itu pada Kiba yang akan dengan senang hati menyelesaikannya. Namun sesuatu menarik atensi Naruto, bau, aroma yang sangat ia kenali. Safirnya bergerak liar kala Kiba bahkan sudah hampir sampai ke sumber keributan. Tatapan matanya tertuju pada satu objek yang ternyata menjadi sumber masalah malam ini.
Tubuhnya melesat lebih cepat dari manusia biasa, bahkan tanpa orang lain sadari karena perhatian mereka yang tertuju pada sumber keributan itu. Objek yang sejak awal menjadi perhatian Naruto masih di sana, dikelilingi pria binal yang berkelahi dan saling adu pukul hanya karena satu objek itu. Seorang pria melayangkan tangannya, hendak menyentuh objek yang sejak tadi bersikap defensif. Namun tangan pria itu tidak pernah sampai karena tinju Naruto terlanjur mendarat tepat di rahangnya.
DUAK!
Pria itu terpental lima meter dari tempatnya berdiri tadi, beberapa giginya patah dan mulutnya mengeluarkan darah sebelum ia tak sadarkan diri. Membekukan semua orang yang semula ribut dengan diri mereka masing-masing saat menyaksikan kekuatan pukulan calon ketua baru mereka. Kiba bersorak dalam hati, menyangka bahwa Naruto langsung mengikuti sarannya barusan untuk menunjukkan arogansi dan kuasanya pada semua orang. Pria itu melirik Pein yang biasanya berwajah datar kini berubah sedikit tegang.
Naruto terdiam, berusaha menguasai emosinya yang memuncak yang akan melepaskan kekuatan demonnya kapan saja. Tanpa memperdulikan pria yang terkapar karena pukulannya, ia berbalik pada objek yang tadi dilindunginya dari sentuhan rekannya yang bahkan ia lupa namanya.
Tanpa berkata apa pun, Naruto menyambar bibir gadis itu. Membuat semua orang di sana yang semula terdiam menjadi bersorak-sorai seolah tidak ada keributan yang terjadi sebelumnya. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik, namun cukup untuk membakar birahi orang-orang dalam bar itu yang memang pada dasarnya berotak mesum. Naruto tidak pernah terlihat mencium siapa pun, apalagi dengan cara semenggairahkan itu. Mereka bahkan baru pertama kali melihat gadis itu di sini.
Naruto melepas lumatannya lalu merangkul pinggang ramping gadis itu dengan posesif. Tatapan menusuk ia hujamkan pada semua orang di sana yang mendadak kembali terdiam. "Siapa pun yang mengganggunya, akan berurusan denganku."
Sorak sorai itu kembali terdengar setelah Naruto membawa gadisnya keluar dari bar itu. Menyisakan Kiba yang masih memandangi Naruto dengan tatapan heran. Ia memang tidak tahu siapa kekasih atasannya itu, namun mengingat posisi Naruto sebagai yakuza membuatnya maklum jika Naruto menyembunyikan identitas kekasihnya dari semua orang.
Sejak kakeknya meninggal, Naruto semakin tampak misterius baginya.
.
.
.
Disclaimer
Masashi Kishimoto
Story by
Oryko Hyuuzu
Rated
M
Pairing
NaruHina (slight SasuSaku)
Genre
Mistery / Romance
Waring
AU, OOC, agak Gore, insane, imajinatif, sedikit mengandung asusila dan kekerasan, EYD, Typo.
Like = Comment / Fave
No Flamming
Enjoy!
Demon In Real
.
.
.
"Ittai! Hinata, pelan-pelan," ringis pemuda yang sejak tadi berbaring dengan berbantalkan paha kekasihnya yang sedang mengobati luka di pinggiran mata kanannya.
Hinata tidak menjawab. Dirinya masih diam seribu bahasa sambil masih dengan telaten membersihkan luka lelaki di pangkuannya itu. Gadis itu khawatir, tentu saja, sedikit saja terlambat maka benda tajam itu tadi bisa saja mengenai mata kekasihnya dan membuatnya buta.
"Hei," panggil pria itu lagi. Menyadari bahwa Hinata sedang puasa bicara dengannya. Gadis itu tidak terlihat marah atau pun kesal, jadi ia tidak punya alasan untuk marah karena diabaikan. Wajah malaikatnya lebih terlihat sedih, seolah sedang melamun sendiri dengan tangan yang masih bergerak mengobati luka yang sedikit menganga di pelipisnya.
"Naruto-kun!" seru Hinata kaget saat tiba-tiba saja lelaki itu menegakkan tubuhnya dengan cepat dan berjalan menjauhinya yang masih terduduk di sofa ruang tamu apartemen itu. "Aku belum selesai mengobati lukamu."
Hinata berdiri menyusul kekasihnya yang terlihat merajuk itu. Entah mengapa Naruto terkadang terlihat sangat kekanakan jika sudah bersamanya seperti ini. Sekarang ia bahkan terlihat seperti seorang ibu muda yang mengejar anaknya yang nakal untuk mandi sore. Naruto berhenti berjalan tepat di depan pintu kamarnya dan berbalik dengan bersandar pada pintu kayu itu. Kelereng ametis Hinata membulat, luka yang susah payah ia bersihkan tadi sudah tidak ada di wajah lelaki itu sama sekali.
"Kau lihat sayang? Lukaku sudah sembuh, terimakasih telah menyembuhkanku," ujar Naruto dengan senyum jahilnya, melihat kekasihnya yang keheranan di depannya. Pemilik mata safir itu tertawa sebentar, lalu berjalan maju untuk meraih tangan Hinata dan mendekap pinggangnya. Membiarkan tangan seputih susu itu menelusuri wajahnya yang semula sedikit babak belur kini kembali mulus tanpa luka. "Aku memiliki kemampuan healing yang baik, berkat kekuatan ini."
Hinata menurunkan tangannya dan meletakkannya pada dada Naruto karena lengan lelaki itu masih saja mendekapnya. Wajahnya memerah karena malu atas ketidaktahuannya sekaligus karena jaraknya yang sangat dekat dengan wajah pria yang dicintainya itu.
"Maafkan aku," cicit Hinata, berusaha untuk tidak tergagap.
"Tidak. Maafkan aku," respon Naruto, matanya bertemu dengan iris faforitnya itu. "Aku telah membiarkanmu merasa sedih dan cemas. Mulai sekarang kau tidak perlu khawatir lagi, Hinata, tidak akan ada yang bisa melukaiku."
Hinata tersenyum lega, lalu mengangguk. Namun detik berikutnya ia mendorong dada bidang itu yang membuat kukungan pada pingganggnya terlepas. Hinata berdiri dengan bersedekap, berusaha terlihat sekesal mungkin dan menolak pesona Naruto di depannya. Bagaimana pun juga ia keberakan dengan aksi kekasihnya itu malam ini.
"Tapi aku tidak suka kau melakukan hal seperti tadi, Naruto-kun. Para lelaki itu hanya mencoba menolongku, sebelum kau datang dan membangkitkan emosi mereka," ucap Hinata berusaha menggali lagi ingatannya pada kejadian sekitar dua jam yang lalu.
Saat itu dirinya baru saja keluar dari mini market untuk membeli bahan makanan untuk kebutuhannya dan bibinya di rumah. Ia yang kesulitan membawa dua kantung berisi penuh dengan bahan makanan menuju mobilnya semakin kesulitan saat satu buah apel menggelinding keluar dari kantungnya menuju ke arah tiga orang laki-laki yang sedang duduk menunggu di atas sepeda motor mereka. Salah satu dari mereka mengambil apel itu, dua lainnya berusaha menolong Hinata yang terlihat kesulitan dengan kantung belajaannya sampai Naruto datang entah dari mana dan memancing perkelahian di sana. Salah satu di antara mereka ternyata mabuk dan membawa senjata tajam dan menyerang Naruto sampai petugas keamanan berhasil melerai mereka.
Naruto terkekeh pelan. Gadisnya ini amat sangat polos dengan menganggap bahwa tiga orang lelaki itu tadi hanya berniat membantunya. Atau Hinata tidak menyadari penampilan dan pesonanya sendiri? Tentu saja, Hinata hidup dalam hinaan keluarga dan teman-temannya di asrama yang selalu menganggap buruk dirinya. Itulah mengapa sosok bidadari seperti Hinata memiliki kepercayaan diri yang sangat rendah. Naruto menyeringai, ia dengan senang hati membangkitkan kepercayaan diri kekasihnya ini. Walaupun dirinya menyukai Hinata yang rendah hati dan pemalu seperti ini, namun sedikit pujian tidak masalah.
"Dengar sayang," Naruto meraih surai panjang Hinata, berjalan mengelilingi tubuh mungil gadis itu yang masih bersidekap. "Kau sangat—sangat—cantik. Rambutmu halus, kulitmu putih mulus tanpa cela," tangan tan Narutio beralih pada salah satu pipi Hinata yang perlahan merona ketika disentuh. "Rona wajahmu ini memabukkan, hidung mungilmu, bibirmu yang selalu memanggilku untuk memanggutnya, dan matamu—astaga—sihir apa yang matamu lakukan, Hime-sama?"
Hinata tertawa pelan, seolah kekasihnya itu sedang menceritakan sebuah lelucon kepadanya. "Kenapa kau tidak mengambil jurusan sastra dan menjadi penyair, Naruto-kun?"
Naruto tetap menggerayang, mengabaikan ucapan Hinata padanya. "Leher jenjangmu seolah menggodaku untuk menyesap masuk ke setiap celahnya, lekuk tubuhmu mengagumkan, dan dada ini—ittai!" Naruto menghentikan pergerakannya saat tangannya tiba-tiba di tarik dan digigit dengan gemas oleh Hinata bahkan sebelum tangan itu sempat mendarat pada daerah sasarannya.
"Hukuman untuk lelaki mesum." Hinata kembali bersidekap dan mengambil satu langkah mundur kala Naruto sibuk mengibaskan tangannya yang tadi ia gigit. "Kau masih belum menjawabku Naruto-kun, kenapa kau melakukannya?"
"Karena," Naruto juga ikut bersidekap, mengikuti gaya kekasihnya itu namun dengan posisi yang lebih maskulin. "Hinata, aku tadi menggambarkan betapa cantiknya dirimu dan betapa pria mana saja bisa terpikat olehmu dan memiliki niat buruk padamu. Kau hanya tidak menyadarinya atau terlalu polos sehingga hati baikmu itu menganggap mereka hanya ingin membantu—percayalah padaku, niat mereka lebih dari itu."
"Dan darimana kau yakin soal itu?" tanya Hinata lagi
"Dari aromamu," jawab Naruto yakin. Hinata menurunkan tangannya, membiarkan Naruto mendekatinya lagi dan mendekatkan hidungnya ke perpotongan leher Hinata. "Bahkan tercium sangat pekat di sini. Aku heran aku belum juga menerkammu saat ini, sayang."
Hinata kembali mengerang menahan gejolak yang selalu ia rasakan saat Naruto begitu dekat dengannya seperti saat ini. "Apa ini juga salah satu kekuatanmu?"
Naruto mengangkat wajahnya, menatap Hinata yang ikut memandanginya. Naruto tersenyum miring mendengar pertanyaan itu, dirinya bahkan tidak yakin. "Tidak, ini kekuatanmu."
"Aku?"
"Ingat ketika kau datang ke bar Akatsuki malam itu dan semua lelaki menganggumu?—tunggu, kenapa kau datang ke sana saat itu, baby?"
"Aku mencarimu di kampus dan Sasuke bilang aku harus ke bar itu untuk menyusulmu," jawab Hinata ringan, sedikit menggali lagi memorinya pada kejadian satu minggu yang lalu dimana dirinya hampir saja menjadi santapan rekan-rekan Naruto yang berotak mesum.
"Ah iya, teme sialan itu," cerca Naruto pelan. Kejahilan Sasuke yang berakhir dirinya harus kerepotan menjaga Hinata sejak itu karena para Yakuza sudah mengetahui siapa kekasih hati sang calon tunggal pemimpin baru Akatsuki. "Lalu aku yang berada jauh dari pintu masuk langsung menyadari kehadiranmu. Aku mencium baumu, aromamu khas sekali. Astaga Hinata aku tidak bisa mendeskripsikannya. Saat itu aku sangat takut lelaki lain juga menciumnya dan menginginkamu sebesar yang aku rasakan."
"Apa maksudmu?" Hinata mengernyit bingung. Seingatnya ia tidak pernah berganti parfum maupun sabun mandi, masih dengan aroma lavender kesukaannya.
"You smell like sex, baby," deru Naruto tanpa rasa bersalah atas ucapannya yang terdengar vulgar itu. Hinata kembali akan mundur jika saja tangan Naruto tidak menahan pinggangnya untuk tetap berdiri di sana. "Jangan marah dulu. Aku bahkan belum yakin, berjanjilah padaku kita akan mencari jawabannya bersama, oke?"
Hinata tidak menanggapi namun Naruto tidak terlalu ambil pusing. Ia hanya peduli pada bibir Hinata yang tanpa sengaja mengerucut karena kesal dan langsung menyambarnya. Melepaskan hasrat yang sejak tadi ia tahan terhadap gadisnya itu. Melupakan ada seorang bibi di rumah sana yang menunggu kepulangan anak asuhnya dari mini market sejak lebih dari dua jam yang lalu.
.
Demon in Real
.
Kurenai masih berdiri di depan pintu, menatap punggung lelaki berjaket hitam itu berjalan menjauhi rumahnya. Hinata sudah ia suruh masuk beberapa saat yang lalu dengan sedikit paksaan dari wanita itu. Hari sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat sedan silvernya terparkir di garasi rumahnya, memunculkan Hinata dan seorang pria berjaket hitam tadi. Kurenai kenal pria itu. Siapa dosen Konoha University yang tidak mengenal yakuza termuda se-distrik Ninjaregiioon sepertinya? Jadi setelah memastikan Hinata sudah berdiri aman di sampingnya, ia segera menyuruh gadis itu masuk dengan belanjaannya dan mempersilahkan pemuda itu untuk langsung pulang setelah berterimakasih seperlunya. Kurenai bahkan tidak bertanya dengan apa laki-laki itu akan kembali ke rumahnya, dirinya terlalu was-was.
Setelah memastikan pria itu menghilang saat berbelok di simpang, Kurenai masuk ke rumahnya dan mengunci pintu. Berjalan tergesa menyusul Hinata yang ternyata mengintip dari balik jendela dapurnya yang mengarah ke halaman depan.
"Kau mengenalnya Hinata?" tanya Kurenai mendapati Hinata melamun di jendela.
Hinata menoleh dan tidak langsung menjawab karena berpikir. "Ya." apakah ia harus jujur? "Aku mengenal Naruto-kun, Oba-san," jawabnya pelan, tidak berniat sama sekali untuk mengenalkan Naruto sebagai kekasihnya.
"Kenapa kalian bisa sampai bersama dan kau pulang selarut ini?" tanya Kurenai lagi sambil ia dan Hinata memisahkan barang belanjaan itu dengan cepat. Kurenai bukanlah tipe orangtua yang protektif, namun ia tetap harus mengetahui kepada siapa Hinata berurusan. Dirinya terlalu menyayangi Hinata dan sudah menganggap gadis itu sebagai anaknya sendiri, ia tidak mau Hinta terpuruk seperti dulu lagi.
"Beberapa orang menggangguku tadi dan Naruto kebetulan ada di sana lalu ia menyelamatkanku. Tapi dirinya terluka karena berkelahi jadi kami harus pergi ke apotek untuk mengobati lukanya dulu," ujar Hinata perlahan, sedikit mengubah jalan ceritanya. "Aku tidak menyangka akan selarut ini Obaa-san, Naruto-kun tidak membiarkanku menyetir sendirian jadi saat dia sedikit membaik dia memaksakan diri untuk mengantarku."
Kurenai menatap Hinata yang kemudian meminta maaf kepadanya karena telah membuat wanita itu khawatir. Ia kemudian memeluk Hinata dan menatap ke jendela, ke arah jalanan yang tadi dilewati Naruto dalam perjalanan pulangnya. Ia bahkan tidak berbasa-basi kepada penyelamat anak asuhnya tadi karena prasangka buruk yang terlanjur menggelayutinya. Kini perasaan bersalah lah yang memenuhi jiwanya yang memang perasa, anak itu tidak pantas dimusuhi atas statusnya sebagai keturunan yakuza. Naruto bahkan memilih memakai marga ibunya, daripada menggunakan marga ayahnya yang juga disandang ketua kelompok yakuza terkuat bernama Akatsuki—kalau ia tidak salah ingat (semua orang membicarakannya).
"Tolong sampaikan ucapan terimakasih dan maafku pada Uzumaki-san ya, Hinata," ucap Kurenai dengan nada keibuannya. Ia melepas pelukan itu dan menatap wajah lelah Hinata yang mengangguk. Kurenai akui dirinya juga lelah namun tidak bisa tidur karena menunggu kepulangan Hinata. "Sekarang pergi lah tidur, besok kita harus ke kampus pagi-pagi sekali."
Hinata naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya sedangkan Kurenai langsung terlelap di kamarnya yang berada di lantai bawah. Dirinya hampir saja memekik jika saja ia tidak langsung sadar siapa sosok yang menjulang tinggi menghadap jendela kamarnya yang terbuka, membelakangi Hinata.
"Naruto-kun," panggil Hinata pelan, khawatir jika bibi angkatnya itu mengetahui keberadaan Naruto di kamarnya.
Sosok itu berbalik. Mata merahnya perlahan berubah menjadi biru seiring ukuran tubuhnya sedikit menyusut dan rambut-rambutnya memendek. Naruto kemudian tersenyum lalu menyengir tanpa dosa dan memilih untuk duduk di kusen jendela kamar yang cukup besar itu. Hinata mengunci pintu kamarnya, lalu duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah jendela tempat kekasihnya duduk dengan santai.
"Apa?" tanya Hinata saat lelaki itu bahkan belum mengatakan sepatah kata pun.
"Pergilah tidur," Naruto masih mempertahankan senyumnya. Tangannya memainkan apel yang entah ia dapatkan dari mana. Namun dapat dipastikan bahwa itu adalah apel yang menggelinding dan merupakan biang keladi dari masalah tadi malam.
Hinata menahan senyum. "Bagaimana aku bisa tidur saat kau duduk di sana dan menatapku seperti itu, Naruto-kun," cicitnya.
Naruto tertawa pelan mendengarnya. "Aku lupa kalau wanita harus melakukan beberapa ritual sebelum mereka tidur," ucapnya kemudian dengan tampang mengejek.
"Benar." Hinata melepaskan senyumnya lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya lalu kembali ke kamarnya. Ia melirik sebentar pada Naruto yang langsung pura-pura memalingkan wajahnya ke arah luar, kemudian bergerak secepat mungkin mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Tubuhmu bagus," gumam Naruto tanpa menoleh ke arah Hinata yang merona mendengarnya. Tapi gadis itu tidak menanggapi, mungkin terlalu lelah mengingat hari sudah sangat larut. Ia memanjat ranjang dan berbaring dengan nyaman di sana, masih menghadap ke arah jendela. Menatapi punggung Naruto yang duduk di sana dan menghadap ke luar. Latar langit hitam kebiruan dan taburan bintang memperindah sosoknya di mata ametis Hinata, membuainya untuk terlelap dengan cepat.
"Aku akan datang ke kamarmu setelah ini," ujar Naruto saat pintu garasi itu sedang membuka secara otomatis.
"Untuk apa?" tanya Hinata saat lelaki yang duduk di balik kemudi itu membawa mobilnya masuk ke dalam garasi yang sudah terbuka sempurna.
"Entahlah, aku merasa harus mengawasimu lagi malam ini."
Hinata ingin bertanya lagi, namun ia urungkan saat melihat Kurenai muncul dari pintu utama dengan wajah khawatirnya dan memutuskan untuk segera turun dari sedan itu. Ia akan bertanya lagi nanti, mengenai alasan Naruto yang harus kembali mengawasinya semalaman.
Semoga kali ini bukan kabar buruk.
.
.
.
Demon in Real
.
.
.
Haloo minna!
Ory kembali lagi dengan fanfic ini yang sampai sekarang ternyata masih ada yang berminat sama jalan ceritanya (padahal Ory awalnya gak pede karena gak terbiasa bikin fict ber genre suram *cry*). Tapi setelah Ory melihat antusiasme para reader dan reviewer Ory jadi berkeinginan untuk lanjutin fict ini walaupun mungkin dengan ide yang baru karena ide yang lama sudah lama menguap. Jadi kalau ada yg janggal dan kurang korelasi antara chapter awal dan chapter berikutnya Ory mohon maaf yaaaa! Semoga fict ini sesuai dengan keinginan para reader dan tidak mengecewakan.
Oiya sedikit penjelasan. D-Five itu nama sebuah kelompok di kampus. Tapi gaada mahasiswa maupun dosen yg tau apa arti huruf 'D' nya dan siapa saja anggotanya. Yang mahasiswa itu tau kalau ada hal yang luar biasa terjadi di kampus itu pasti hasil 'karya' dari d-five. Jadi kelompok itu lebih seperti mitos bagi mahasiswa sana. Nanti kalau ada kesempatan author jelasin lebih lanjut yaa, karena Ory sendiri punya limit jumlah halaman per chapter supaya reader gak pusing baca panjang-panjang hehehe.
Kalau ada pertanyaan, masukan, kritik ataupun saran boleh langsung di komen ya. Semua komentar pasti Ory baca kok walaupun mungkin gaakan Ory balas satu per satu karena keterbatasan waktu (nasib anak kuliahan dan anak kosan yang apa-apa harus urus sendiri T_T)
Salam tempel #eh
Oryko Hyuuzu.
