Author : Van_Hunhan
Rate : T
Genre : Romance, Fantasy, Action.
Pair : Sehun x Luhan, Kris x Tao, Kai x D.O, Suho x Lay, Chen x Xiumin, Chanyeol x Baekhyun.
White army : Ivander Kris, Oberion Suho, Helious Kai, Scorpion Chen, Kaleo Sehun, Calixto Chanyeol.
Genova : Sonneschein Tao, Laverneus Lay, Farian Sylendio, Frosis Xiumin, Primavera Luhan, Leonora Baekhyun.
Disclaimer : The cast' belongs to God and their pair. I owned this fict!
Warning : Death Character | Boys Love | Typo(s) | Alternative Universe | etc.
: Saints = Suruhan para Dewa. Menyerupai butler. Terdiri dari beberapa orang.
: Gipsin = Orang-orang yang menemukan dan membuat hal-hal baru yang bermanfaat untuk dijadikan persembahan para dewa
: Miner = Malam perayaan kemenangan para pasukan. Juga ditandai dengan wanita atau male pregnant yang diambil para prajurit yang naik level untuk melakukan persetubuhan.
: Genova = Sebutan untuk wanita dan male pregnant pada malam Miner
: Pyramid atas = waktu bumi a.m
: Pyramid bawah = waktu bumi p.m
DONT LIKE YAOI, DONT READ.
DONT COPAS, DONT PLAGIARISM, DONT BASH !
...= ^ THE GOD ARMY ^ =...
For the Power, Love and Revenge.
"Ahh, nyamannya." bisik Luhan saat tubuhnya masuk kedalam air hangat. Ya saat ini dia memang sedang berendam. Dari kemarin dia tak membersihkan diri, walaupun tubuhnya tak berbau. Semua male pregnant dan wanita di planet ini memang tak memiliki bau menyengat meskipun mereka tak mandi berhari-hari. Berbeda dengan prajurit perang. Salah satu jenis cara mengetahui mereka sebagai male pregnant.
Luhan menyandarkan kepalanya pada bebatuan dibelakang tengkuknya. Menikmati kehangatan yang menjalar disetiap lekuk tubuhnya. Menengadahkan kepalanya keatas sembari menutup mata.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya wajah ksatria itu. Ksatria yang diam-diam dikaguminya selama masih di Sprinter.
DEG. Jantungnya berpacu alih-alih memikirkan wajah itu. Sayang sekali dia tak tahu namanya.
"Siapa ya namanya?"
"Kaleo Sehun" ucap seseorang mengjawab monolognya. Seseorang yang baru bergabung bersama dirinya untuk berendam.
"Namanya Kaleo Sehun. Aku baru tahu ternyata adikku yang satu ini bisa menyukai orang juga." tambahnya. Luhan menunduk malu. Malu karena ketahuan hyungnya bahwa dia sedang memikirkan seseorang.
"A..Aku.." Lay memandang aneh Luhan. Membuatnya merona.
"Kau kenapa? Kau tidak menyukainya sedangkan kau memikirkannya?" Lay ikut masuk kedalam air hangat berseberang dengan Luhan.
"Baiklah. Aku kalah." Lay terkikik mendengar pengakuan kalah dari Luhan. Seseorang yang selalu memanggilnya kakak meskipun mereka bukan saudara kandung.
"Jadi?"
"Apa?"
"Hubungan kalian."
"Entahlah. Aku hanya melihatnya dari jauh. Kami hanya pernah bertatapan satu kali. Hanya sesaat. Hanya sesaat dan aku merasakan jantungku rasanya mau lepas. Dan sesuatu menggelitik diperutku." Luhan tersenyum saat dirinya bercerita.
"Kau benar-benar sudah jatuh cinta." respon Lay.
"Entahlah." Luhan kembali merona. Sesaat kemudian dirinya teringat dengan sikap Sehun. Senyum malu-malunya terganti dengan senyum kecut.
"Sepertinya dia tidak menyukaiku, hyung" Lay mengerutkan alisnya bingung.
"Kenapa ?"
"Kau lihat sendiri kan bagaimana dia. Yang ada dipikirannya perang. Dia bahkan hanya sekali bertatapan denganku." ucap Luhan lemas.
"Jadi kau sekarang mempunyai kekuatan membaca pikiran, begitu?" ejek Lay.
"Aku mendengarnya dari para white army."
Lay mendekat pada Luhan lalu tersenyum. "Kalau begitu buat dia melupakan hal itu. Buat dia hanya memikirkanmu" kata Lay. Kemudian digenggamnya tangan Luhan.
"Buat dia begitu, saat kalian bertatapan untuk kedua kalinya" tambah Lay mantap. Sedikit mendorong semangat Luhan yang tadinya runtuh.
.
Sementara itu, Kris dan kelompoknya tiba di markas mereka. Pulang dengan tubuh lelah dan penuh luka. Bagai angin lewat untuk mereka. Mereka tahu setidaknya kemenangan mereka adalah bayaran yang pantas untuk semua luka yang ada ditubuh mereka.
Chen langsung menuju ke tenda mereka dan membaringkan Sehun kemudian memanggil Taemin.
"Rawatlah Sehun dahulu. Dia memiliki luka yang lebih banyak." pinta Chen pada Taemin.
"Tap-"
"Pacarmu sudah dirawat oleh healer lain. Sekarang tugasmu merawat adikku." sela Chen seolah sudah menebak apa yang akan dikatakan Taemin
"Heung.. Baiklah" dengan begitupun Taemin memulai ritual penyembuhannya pada Sehun. Chen tersenyum kemudian beranjak keluar tenda.
"Tunggu. Apa lukanya parah? " tanya Taemin takut-takut. Chen mengerutkan keningnya. Tersenyum jahat kemudian berkata. "Mana kutahu? Aku bukan healer. Tapi sepertinya dia mengalami cedera berat. Mungkin hanya perasaanku saja" ucap Chen mencoba menakuti Taemin dan beranjak keluar. Taemin pun dengan polosnya mempercayai bualan dari Chen. Sementara Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepolosan Taemin.
"Apa benar begitu Sehun?"
"Kau percaya padanya?"
"Maksudmu dia berbohong ?" Taemin menaikkan nada suaranya.
"Ya" jawab Sehun simple.
"Dasar bodoh."
"Kaulah yang bodoh disini, hyung" Sehun terkekeh dan mendapat jitakan gratis dari Taemin.
"Aw. Sebenarnya kau ingin merawatku atau menambah sakit ditubuhku?" keluhnya.
"Tergantung" sekarang Taemin yang menjawab cukup simple. Hening. Taemin sibuk dengan urusannya mengompres luka Sehun, sementara yang dirawat sibuk dengan pikirannya.
"Oh ia kemana para genova itu?" tanya Sehun tiba-tiba.
"Untuk apa kau menanyakan mereka. Dewa akan mengirim para genova baru malam ini."
"Tapi aku sudah menginginkan orang lain." Taemin langsung menatap Sehun curiga. Kaleo Sehun yang dikenalnya hanya mementingkan peperangan. Sekarang menyukai orang lain?
"Kau tertarik pada salah satu diantara mereka? Hebat. Nampaknya si bungsu telah dewasa" Taemin menyudahi acara rawatnya pada Sehun lalu kembali menatap Sehun.
"Jadi siapa dia?"
"Luhan."
"Ahh. Primavera Luhan. Dia namja yang baik. Sangat lembut. Tapi juga hebat. Dia cantik" ucapnya dengan tatapan berarti.
"Sangat cantik." sambung Sehun tanpa disadarinya. Taemin terkikik pelan. Menyadari bahwa adiknya memang telah menjadi seorang pemuda dewasa.
"Sayang mereka harus dibawa para Saint. Mungkin akan kembali dalam waktu yang lama."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Sehun kebingungan.
"Entahlah. Mungkin karena yang kulihat Dewa Kyuhyun ikut datang menjemput mereka. Meskipun katanya mereka tidak akan dihukum, tapi pasti ada sesuatu." setelah berkata begitu, Taemin mengatur perabotannya kemudian keluar dari tenda. Meninggalkan Sehun penuh tanya. Satu pertanyaan yang saat ini dibenaknya, 'apakah dia baik-baik saja?'
Sehun menutup mata sejenak. Sesaat dia menutup mata, Kris dan lainnya masuk ke dalam tenda.
"Kau tidur?" tanya Suho. Sehun diam.
"Hebat. Namja-mu mungkin dalam kesulitan dan kau menyempatkan diri untuk tidur." sinis Chen.
"Namja yang mana? Setahuku yang dia pikirkan selama mereka disini hanyalah perang. Seharusnya dia tidak ikut andil dalam misi kali ini bukan." kata-kata Kai seperti pisau yang menghujami dada Sehun. Tapi dia tetap diam.
"Baiklah kali ini misi yang sangat berbahaya. Kita akan menyelundup masuk ke istana para Dewa. Kita tidak akan diizinkan masuk jika tidak mempunyai keperluan. Menyerang artinya bunuh diri."
"Jadi bagaimana kita akan masuk ?" tanya Chanyeol pada Kris. Hening tak ada jawaban. Saling memandang berharap ada yang bisa memberikan jawaban. Sehun pun ikut fokus.
"Menyamar" sontak semua mata langsung tertuju pada Kai.
"Ya mungkin aku akan menyamar menjadi Dewa Kangin agar bisa mengutukmu." ketus Chen.
"Menurutmu kita harus menyamar menjadi apa?" tanya Kris. Chen melongo tak percaya pada temannya yang satu ini. 'Mungkin karena Kris berada dilingkungan orang-orang seperti Chanyeol dan Kai' pikirnya asal.
"Sama seperti namja yang kita cintai." ucap Kai mengeluarkan smirk gagalnya.
"Hah? Kau gila." ucap Kris. Semuanya berpikir kemudian mengangguk mnyetujui.
"Kalian tidak berpikir akan mengikuti sarannya kan?"
"Oh ayolah Kris. Demi Tao-mu. Tunggu disini, aku akan minta tolong Taemin untuk meminjamkan bajunya." ucap Chanyeol.
"Ohh grrr.." Kris menggeram, tapi tetap menyetujuinya.
"Aku ikut." suara berat seseorang membuat mereka menoleh. Chen mendekat lalu duduk disampingnya.
"Kenapa?" Kai langsung melemparkan pertanyaan pada Sehun. Menaruh beberapa baju ditangannya ke kursi lalu adu tatap dengan Sehun.
"Ada seseorang yang ingin dia selamatkan." Chen menjawab pertanyaan Kai. Menatap Sehun sambil tersenyum. "Benar kan bungsu?" Sehun mengangguk mengiyakan.
"Hmm..Ku kira dikepalamu hanya ada siasat perang." ucap Chanyeol asal.
"Cukup. Sehun ikut." Kris mengambil keputusan. "Apa yang kau bawa?"
"Baju untuk kita." kata Chanyeol kemudian melempari baju ke lainnya. Baju bermodel tak berlengan juga tak ada kerah. Setengah dada terekspos juga terbuat dari bahan kain paling lembut. Panjangnya selutut, pinggiran terbelah dua dimulai dari bagian panggul. Celananya hanya celana panjang biasa tapi tetap terbuat dari kain yang sama dan tanpa motif.
Chanyeol dan Kai langsung mengganti pakaian mereka dan mengenakan baju itu.
"Wah kalau tahu baju ini begitu nyaman, aku akan meminjam baju Taemin setiap ingin tidur. Kainnya sangat lembut." puja Chanyeol. tampaknya dia sangat menyukai baju itu.
"Oh Lay, ini bukti cintaku padamu" kata Suho berdrama. Sehun, Chen dan Kris juga ikut memakainya. Diantara semuanya hanya Kris yang terlihat sangat janggal.
"Wah kau tampak sangat cantik, Kris" puji Chen berpura-pura. Kai dan Chanyeol duluan terpingkal melihat penampilan si pemimpin Kris.
"Aku tampak bodoh. Dan kalian berdua berhentilah tertawa." ucapnya dengan wajah datar. "Kalau bukan karena Tao, aku tidak akan melakukan hal memalukan ini." bisiknya. Chanyeol dan Kai sudah diam, meskipun mereka masih sedikit tertawa-tertawa kecil dibelakang Kris.
"Woah, Kai kau kalah cantik dengan Sehun" ucap Chanyeol sambil terus memandang takjub Sehun. Sebenarnya Sehun tidak begitu 'cantik', hanya saja baju itu sangat pas ditubuhnya. Well, Chanyeol selalu melebih-lebihkan segala sesuatunya.
Beberapa menit berkemas, mereka semua sudah siap. Chen sudah mengirimkan sinyal pada Saint.
"Kris, menurutmu apa ini akan berhasil? Maksudku, para Dewa tidak mungkin tidak mengetahui kita."
"Yang penting kita sudah masuk. Cara keluar dari sana memang sulit. Tapi aku sudah menyiapkan rencana. Kau tenanglah." Kris berkata seraya menenangkan kekhawatiran Suho.
Beberapa selang waktu pyramid atas, 15 orang Saint tiba dan membawa mereka menuju istana. Ide Sehun berpura-pura ingin menemui Luhan -yang diakuinya sebagai kembarannya- ternyata tak sampai membuat Saints curiga. Dalam perjalanan pun, mereka berusaha ramah pada Saints. Tak terkecuali Kris yang ternyata menjadi terpopuler. Sesampainya diistana, tiap dari mereka langsung melirik seluruh bangunan. Mencari sosok yang ingin mereka temukan.
"Kalian akan diobati digedung itu. E untuk ruang pengobatan. X untuk perawatan, dan O untuk istirahat." kata salah satu Saint menginstruksi.
'Baiklah terima kasih." Ucap Chanyeol dan Chen memberi hormat. Sehun, Kai, Suho, Kris juga ikut membungkuk
"Sampai Jumpa Kris" sekitar 5 orang Saints berkata begitu pada Kris. Membuatnya bergidik jijik.
"Wow, meskipun Sehun yang tercantik diantara kita, ternyata kau yang jadi paling favorit Kris. Selamat." chanyeol berkata kemudian tertawa terbahak-bahak diikuti yang lain yang hanya terkikik kecil.
"Kau tertawa lagi dan kuhilangkan 'adik'mu!" ketus Kris sadis. Chanyeol langsung menutup barang pribadinya lalu mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Disana." kata Suho yang rupanya dari tadi memperhatikan seluk beluk tempat itu. "Pasti mereka ada diruang itu." katanya lagi sambil menunjuk ruang yang bertuliskan O pada pintunya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Chanyeol polos.
"Karena mereka tidak cukup bodoh untuk berkeliaran di ruangan lain pada tengah malam begini." Chen mencibir. Oh ya, rupanya ini memang sudah tengah malam. Lihat saja dua bulan yang bersebelahan itu. Di planet ini, waktu menunjukan tengah malam apabila dua bulan saling bertemu satu sama lain. Tidak menyatu, hanya berdekatan. Dilihat dari dekat, bulan yang satunya seperti pantulan cermin bulan yang lain. Salah satu keindahan yang masih tersisa diantara kehancuran planet itu.
"Tunggu." Kris menginterupsi. "Kita ke ruang pengobatan." beberapa dari mereka memasang tampang akan membantah perintahnya.
"Tidak ada bantahan. Sehun, Chanyeol juga Chen masih terluka. Lagipula jika kalian tidak diobati, Saints akan curiga."
"Aku sudah tak apa-apa" sanggah Sehun. Sudah sejauh ini. Tinggal sedikit lagi maka rindunya akan terbalas. Sakit ditubuhnya tak sebanding dengan keinginannya untuk bertemu Luhan. Dia ingin bertemu dengannya. Sekarang. Apapun yang terjadi.
"Sehun, sudahlah. Mungkin Kris benar, kau harus diobati dulu. Lukamu yang paling parah." Chen mencoba menasehati Sehun. Diantara mereka, mungkin saat ini Chen lah yang paling mengerti dengan perasaan Sehun.
"Bagaimana dengan Luhan? Aku yakin bahkan luka dihatinya lebih parah dari luka ditubuhku sekarang." Hening. Tak ada pergerakan. Yang ada hanya perasaan iba.
Sehun menunduk. "Aku hanya ingin melindunginnya sekarang. Mengobati lukanya. Menjaganya." bisiknya.
Suho tersenyum lembut lalu menepuk bahu Sehun. "Bagaimana kau bisa mengobati seseorang jika dirimu saja dalam kondisi yang buruk?"
"Yeah. Setidaknya kau harus terlihat tampan Sehun." sambung Chanyeol. Senyum menghembuskan nafas lalu berjalan mengikuti teman-temannya ke ruang pengobatan. Mungkin ada benarnya juga. Dia butuh diobati sebelum mengobati seseorang.
.
Luhan terjaga dari tidurnya. Entah mengapa dia tidak bisa tidur malam ini. "Sudah tengah malam." gumamnya. Padahal tempat ini begitu sempurna. Tempat tidur empuk, suasana indah, kamar yang megah. Tapi mengapa dalam hatinya dia memilih untuk kembali ke Sprinter?
Luhan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah jendela. "Kebiasaanmu tak berubah yah." Luhan berbalik menengok kearah asal suara.
"Lay Hyung, kau belum tidur?"
"Kami semua belum tidur hyung." jawab Tao menyembulkan kepalanya dari belakang Lay diikuti lainnya.
"Maaf jika aku membangunkan kalian."
"Tidak apa-apa. Aku juga belum bisa tidur." kali ini Xiumin berkata. Dia mengikuti arah pandangan Luhan.
"Ada yang menarik dari ruangan itu?" tanyanya.
"Ehh? Tidak. Entahlah, hanya saja melihat ruangan itu membuatku berdebar." jawabnya gugup tanpa melepas pandangan ke arah ruang E. Senggang beberapa waktu, Luhan berdiri dan berjalan keluar kamar.
"Kau mau kemana?"
"Mencari udara segar." jawabnya lalu kembali beranjak. Sebenarnya alasannya keluar karena ingin ke ruangan E. Entah kenapa dia sangat ingin ke ruangan itu. Seolah ada sesuatu yang penting berada disana.
.
Diseberanginya sebuah kolam kecil yang merupakan pemisah antara ruangan yang satu dengan yang lainnya. Dari jembatan, dia bisa melihat salah satu saint penyembuh keluar dari dalam ruangan itu. Berjalan ke jembatan dan pandangan mereka bertemu.
"Oh kau. Bisakah kau membantuku?"
"Emm.. Apa itu?" tanya Luhan gugup
"Sesuatu yang mudah. Tolong kau obati male pregnant didalam ruangan itu. Dia terluka cukup parah, tapi sudah ku obati. Hanya tinggal memperban saja. Bisakah kau melakukannya untukku? Aku sudah mengantuk." Yah memang pekerjaan yang mudah. Apalagi Luhan sudah pernah beberapa kali membantu Lay dalam masalah mengobati orang. Luhan mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih." Saint itu beranjak pergi sebelum menampilkan senyuman. Luhan membalas senyumnya sesaat lalu langsung ke ruangan yang ditunjuk tadi.
"Hhmm. Ruangan E. Baiklah, tidak masalah" ucap Luhan menyemangati dirinya. Dibukanya gagang pintu itu lalu masuk ke dalam.
DEG.
Waktu seolah-olah berhenti. Tak ada pergerakan. Tak ada suara kecuali pintu yang baru tertutup. Mata keduanya bertemu tatapan.
"Sehun?" gumam Luhan. Ia tak percaya bahwa saat ini dia sedang melihat Sehun. Jika ini khayalan, mengapa sosok itu terlihat begitu nyata?
"Ya. Ini aku." Sehun menjawab dan tersenyum lembut.
.
Saat ini Luhan telah sibuk dengan memerban tangan Sehun. Mungkin jika tadi Luhan melepas akal sehatnya, dia sudah lupa dengan tujuannya ke ruangan itu demi memeluk Sehun. Luhan tampak sangat berhati-hati dengan pekerjaannya. Tak menyadari Sehun yang dari tadi memperhatikan semua gerak-geriknya.
"Selesai. Nah tinggal dibagian wajah" ucapnya membereskan perlengkapannya tadi dan mengambil yang baru lagi. Dia mengambil handuk putih kecil, semangkok air, dan kain obat.
"Mungkin agak terasa sakit karena kulihat lukamu sudah terbiar lama. Beritahu aku jika aku terlalu kasar." dan Luhan pun mulai mengobati Sehun. Mengambil handuk mencelupkannya ke dalam air dan memerasnya. Kemudian membersihkan kotoran disekitar luka wajah Sehun dengan handuk itu.
Luhan merasa ada yang aneh. Padahal bila dirinya berasa diposisi Sehun sekarang, pasti dia akan meringis menahan sakit disetiap sentuhan handuk itu. Tapi terkecuali untuk Sehun. Tak ada pergerakan sama sekali. Luhan lalu melihat Sehun. Mendapati Sehun sedang mengamatinya dengan tatapan intens. Membuatnya gugup dan dadanya terasa berdegup kencang.
"Hhm.. Kenapa kalian sampai bisa masuk kesini?" Luhan membuat topik pembicaraan.
"Well. Kami menyamar." Sehun menjawab kikuk. Luhan menahan tawanya dengan senyum. Baru sadar dengan pakaian Sehun yang mirip dengannya.
"Apa tujuan kalian?" tanya Luhan ulang tak melepaskan kosentrasinya mengobati luka Sehun.
"Kris tak berhenti menggumam nama adikmu, Suho ingin melihat Lay, Chanyeol dan Kai rindu pada pasangan mereka, dan Chen ingin bertemu Xiumin." jelasnya.
"Lalu kau?"
"Memastikanmu baik-baik saja." Gerakan Luhan terhenti. Seperti ada kupu-kupu bertebaran didalam perutnya. Wajahnya sontak memerah. Luhan cepat-cepat memakaikan kain obat di wajah Sehun. Lalu beranjak memberskan segala perabotannya.
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat." katanya tersenyum manis.
"Apakah kau selalu seperti itu?"
"Apa?"
"Selalu tersenyum dan mengatakan seolah semuanya baik-baik saja." Ada nada marah dalam perkataan Sehun.
"Ya, semuanya memang baik-baik saja,kan?"
"Tidak. Tidak ada yang baik-baik saja." Luhan mengernyit lalu mendekati Sehun.
"Apa maksudmu ?"
"Kibum. Aku baru mengalahkannya hari ini."
"Kibum? Siapa?" Luhan semakin tak mengerti.
"Kau tak ingat padanya? Biar kujelaskan. Kibum, pemimpin pasukan Black Army level 3, lelaki keturunan Yang Ter-Agung, lelaki yang pernah menyentuhmu dengan biadab, lelaki yang hampir memperkosamu pada malam miner jika saja Saints tidak datang memanggilnya, lelaki-"
"Hentikan" sela Luhan dengan nada pelan. Sungguh ini sangat menyakitkan. Orang yang dianggapnya sebagai cintanya, menyakitinya dengan mengungkit kembali masa lalunya yang bahkan tak ingin dia ingat.
"Maafkan aku" Sehun menyesal telah terpancing emosi. Perlahan dia bangkit dari ranjang lalu mendekati Luhan yang berdiri tak jauh darinya. Direngkuhnya tubuh Luhan.
"Maaf." ucapnya lagi. Dilihatnya wajah Luhan begitu sedih. Tapi tak ada air mata yang jatuh.
"Tidak apa-ap-"
"Tentu ini apa-apa!" giliran Sehun yang menyelanya. Sehun tidak suka dengan sikap Luhan yang selalu menyimpulkan segalanya baik-baik saja.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Sehun menarik nafas dalam-dalam. "Biarkan aku menjagamu." Luhan menatapnya dalam.
"Mulai sekarang aku akan menjagamu. Aku akan melindungimu." kata Sehun tanpa melepas tatapan pada Luhan.
"Sehun.." Luhan hanya terperangah. Masih tak percaya dengan perkataannya. Tapi perlahan mengangguk dan tersenyum lembut.
Sehun langsung tersenyum lebar dan memeluknya posesif. Diabaikan sakit yang bersarang diseluruh tubuhnya. Bahkan meskipun ia harus mati hanya utnuk memeluk Luhan, ia rela. Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Sehun mengakhiri pelukan itu. Menatap mata indah Luhan, menyentuh pipinya yang lembut, kemudian mendekatkan wajahnya.
Semakin dekat dan CUP~. Bibir mereka bertemu. Ciuman lembut tanpa ada emosi atau nafsu. Ciuman yang melambangkan sisi lain dari seorang Sehun yang angkuh. Ciuman yang menandakan bahwa ini adalah awal dari cinta mereka.
Ciuman itu tak berlangsung lama dan sesudahnya Luhan langsung menunduk. Bayangkan, mengetahui seorang lelaki yang kau cintai memiliki perasaan yang sama denganmu dan sesaat kemudian menciummu dengan penuh perasaan. Rasanya hatimu akan meledak dan perutmu seperti orang kelaparan. Yah kurang lebih itulah yang dirasakan Luhan sekarang.
.
"Sehun belum kembali?" tanya Chanyeol pad Kris. Saat ini mereka sedang berada di ruangan X. Sempat ada pertengkaran antara Chen-Chanyeol dan Kris. Rupanya Chanyeol dan Chen sudah tak sabar menemui para 'genova' mereka, dan balasan yang mereka dapat hanya : Kita tidak boleh gegabah. Ingat, kita kesini dengan penyamaran. Dan kau tak boleh bla-bla-bla.
Ingin rasanya Chanyeol meninju wajah Kris sekarang. Tak mengertikah Kris bahwa dia sedang dilanda penyakit 'rindu pada Baekhyun' -setidaknya begitulah dia menyebutnya-.
"Kris, aku hampir tidak bisa bernafas" seru Chanyeol sambil menyekik lehernya sendiri, menghayati perkataannya tadi.
"Kenapa? Udara disini baik-baik saja." tanya Chen bingung.
"Karena nafasku ada disana" balas Chanyeol masih dengan aksinya tadi, menunjuk ke arah ruangan para miner.
Kris menjitak kepalanya gemas. Hampir saja dia panik tadi karena dikiranya Chanyeol benar-benar tidak bernafas.
"Sekali lagi kau bicara tidak jelas, kupatahkan lehermu. Sebaiknya kau susul Sehun" tukas Kris, memerintahkan Chanyeol sebelum dirinya menjitak lagi bukan hanya dikepalanya.
Chanyeol hanya menuruti perintah Kris sambil mengelus kepalanya polos. 'Apa? Memang aku tidak bisa bernafas kalau tidak ada Baekhyun' batinnya protes. Memangnya sejak kapan kau jadi tidak bisa bernafas jika tidak ada Baekhyun, Chanyeol? Dan lagi kalian baru bertemu kemarin -.-
.
"Mereka sudah disini, Yang Agung." kata Siwon dengan penuh hormat pada seseorang yang sedang duduk disinggasananya, menikmati anggur -yang bukan anggur khusus- sembari memainkan gelas anggur tersebut.
Ia mengangguk mengerti. "Besok, bawa mereka padaku."
Siwon menyerngit. "Yang Mulia, mengapa besok? Mengapa tidak hari ini? Mengapa tidak sekarang menyeret mereka kesini?"
tanya Siwon bingung, melupakan dengan siapa dirinya sedang berbicara.
Satu tatapan cukup untuk membuat Siwon kembali menunduk. Tatapan yang mengingatkan posisi Siwon tak lebih dari seekor semut dibandingkan dengan dirinya.
Sooman berdecak, "Tidak, tidak Siwon. Bukan begitu cara kita memperlakukan tamu." Sooman berkata. Sementara Siwon menunduk tak berani menatap Tuannya itu.
"Lagipula biarkan mereka menikmati malam miner mereka. Setidaknya kita memberi mereka sedikit ruangan." ucapnya dengan lembut namun membuat Siwon merinding mendengarnya.
"Biarkanlah mereka merasakan hari ini layaknya mimpi indah. Karena besok ..." tatapan mata yang awalnya lembut kini berubah tajam- "... mereka akan menghadapi mimpi buruk."
Siwon masih saja setia dengan menundukkan kepalanya dengan telinganya menangkap semua perkataan yang keluar dari mulut Sooman. Meskipun begitu ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan namun dirinya begitu takut. Membaca pikiran Siwon, Sooman bertanya.
"Ada yang ingin kau tanyakan, Siwon?"
"Ampun dariku Yang Mulia. Tapi bagaimana jika mereka tidak mau?"
"Hmm kau benar. Kalau begitu suguhkan mereka anggurku" Siwon ingin menyerngit untuk kedua kalinya tetapi ditahannya. Dia tidak ingin menurunkan rasa hormatnya untuk yang kedua kalinya pula. Namun yang dipikirannya adalah mencoba mencerna solusi apa yang diberikan rajanya itu. Dewa lain pasti akan menjawab 'bunuh saja', atau 'paksa mereka'. Tapi rajanya, tuannya, malah menjawab dengan menawarkan kebaikan hati yang tak berguna.
Sooman turun dari singgasananya, membantu Siwon berdiri. Kemudian berjalan kearah jendela.
"Aku mengerti kau pasti bertanya-tanya 'apakah aku raja yang gila atau bukan'." Sooman terkekeh pelan.
"Akan kuberitahu kau satu hal, Siwon. Aku menjadi raja para dewa, karena diriku tak terkalahkan oleh siapapun dinegeri ini. Dan darah yang mengalir dalam darahku inilah penyebabnya. Darah dari pendahulu kita, yang menciptakan negeri ini, yang menciptakan setengah dari semesta, yang kekuatannya sama seperti yang kupunya sekarang. Atau mungkin lebih bisa kubilang, yang ku punya dulu." Siwon yang bingung hanya menyimak Tuannya. Sooman berjalan kearah lemari penyimpanan anggur khusus miliknya, Pureblood wine.
"Anggur itu dibuat dari darah kami. Hanya kami yang bisa meminumnya, karena meminum darah kami sendiri menjadikan kami tetap tak terkalahkan dan bertambah kuat. Barang siapa yang meminum anggur ini selain bukan keturunan kami, akan hidup dalam siksaan disetiap nafasnya." tutur Sooman. Siwon mengangguk mengerti.
" Kau tahu anakku Key? Dia tak pernah kuijinkan meminum anggur ini. Karena dulu dia mencoba meminumnya sewaktu masih 10 tahun. Dan ratusan pengawal kita mati 10 menit kemudian. Dia memiliki kekuatan penghancur. Meskipun kelak kekuatannya tidak cukup kuat untuk menjadi raja dewa, tapi kekuatannya setelah dewasa nanti cukup untuk meremukkan tulang seribu dewa sekaligus jika dia mau." Sooman menjeda cukup lama, lalu kemudian memandang kembali keluar jendela. Siwon agak bingung dengan pernyataannya. Kenapa yang dijelaskan adalah anaknya, kenapa bukan para orang-orang itu?
"Aku tidak pernah memberitahu ini sebelumnya pada siapapun, bahkan pada Kyuhyun yang melayani keluarga ini berabad-abad. Kau tahu mengapa?"
"Karena aku ingin kau yang memberi tahu para God Army nanti saat aku tak ada."
"Apa maksud anda tentang anggur ini?" Sooman terkekeh mendengar penuturan polos Siwon.
"Kau tahu Siwon. Tak ada masa depan yang tak bisa kulihat. Hanya saja, aku tak bisa menghalangi masa depan itu terjadi." tatapan Sooman berubah menjadi sendu.
"Masa depan? Masa depan apa Tuanku?" Siwon bertanya bingung. Menunjukan betapa rendah dirinya dibanding dengan makhluk cerdas didepannya ini. Sungguh ia bukannya bodoh, hanya saja Raja Dewa memang berbeda jauh jika dibandingkan dengan bawahan seperti dirinya. Bahkan dalam hal kecerdasan mencerna makna kata yang tersirat seperti ini.
Cukup lama Siwon tenggelam dalam pikirannya, kemudian dia menebak. "Apa maksudmu masa depan itu adalah kehancuran negeri ini ?" Siwon melupakan hormatnya dan berkata sedikit lancang. Sooman kembali tersenyum.
"Aku lebih suka menyebutnya 'peristiwa menuju peradaban baru'. Jadi, akan kujawab dari pertanyaanmu tadi." Mereka berdiri berhadapan, dengan Siwon menunduk tegas dan patuh, Sooman dengan sikap layaknya sang Raja Dewa.
"Mereka tidak akan menolaknya. Tidak akan bisa. Itulah yang kulihat dimasa depan." ucapnya mantap lalu menuju kembali ke singgasananya. Dengan begitu pula, Siwon membungkuk hormat lalu pergi dari hadapannya.
"Anakku yang akan menghancurkan negeri kita Siwon. Dan saat itu, semua tergantung pada mereka, dan juga kau." Siwon terdiam sebentar sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu. Ia kembali bertanya dalam hati, apa keistimewaannya dibanding dengan dewa lain, sehingga Sooman berkata negeri akan bergantung padanya.
.
