Hisashiburi desu, Minna-san :D
Akhirnya, setelah seminggu berlalu, sayapun bisa melanjutkan FF ini kembali :D
Mengingat jika laptop yang saya gunakan harus berbagi dengan adik saya yang masih kecil tapi sok sibuk #Kicked, dengan berat hati kemungkinan terbesar saya bisa Up-date paling cepat seminggu sekali.
Ah~ Syukurlah~. Saya senang sekali karena mendapat respon baik dari para penghuni fandom Kurobas ini (^/\^)
Saya jadi sangat senang karena telah berkunjung ke fandom ini (:
Oh iya, mungkin ada beberapa pertanyaan sama seperti teman-teman saya yang sesama Fujoshi di sekolah.
Mengenai masalah 'kehamilan Kuroko'. Well, karena pada dasarnya Kuroko memang laki-laki, kan? Salahkan saja wajahnya yang kelewat imut _ . Makanya, saya berniat untuk menampilkan Kuroko dalam segala jenis (?) gaya. Mulai dari yang datar, moe, gentle, tsundere, yandere, DLL. Khukhukhu, intinya di FF ini, yang bakal kelewat OOC itu kayaknya AkaKuro :D
Walau Kuroko adalah laki-laki, tetap saja jiwa Fujoshi saya sungguh-sungguh kebelet untuk membuat FF AkaKuro dengan unsur M-PREG.
Entah setan apa yang menggoda saya untuk menulis cerita ini dengan nistanya :D
Jadi karena itulah, materi Biologi guru bimbel saya yang malah melenceng pada 'Proses Aborsi itu Tidak Manusiawi' menjadikan saya berfantasi terlalu jauh. Sangat-sangat jauh hingga menemukan alasan yang kelewat tidak logis untuk membuat Kuroko mengandung anaknya Akashi.
Ya sudahlah, yang jelas saya ingin sekali membuat Kuroko hamil apapun alasannya, asal itu adalah anaknya Akashi! #Dibunuh
Toh, ini hanya sekedar FF abal yang tidak menceritakan kenyataan, hanya fiksi belaka :D.
Untuk Rated, mungkin akan banyak tindakan tidak manusiawi dalam masa-masa Flashback kisah cinta AkaKuro. Jadi, jika sudah memasuki adegan-adegan berdarah (Oke, saya ngawur) kemungkinan besar, saya akan merubah FF ini menjadi Rated M untuk jaga-jaga (:
Perkataan saya sudah terlalu banyak! T_T mari kita lanjutkan ke Chapter 1 ;-)
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Winter Heart © Mizuno Yozora
Rated : T (Form Now)
"Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya"
Slight!
"Aomine Daiki X Kise Ryouta"
Warning : AU, BL, YAOI, MxM, M-PREG, OOC, OC!AkaKuro's Child
.
:: Chapter 1 ::
"Kise dan Aomine"
.
.
Jika Akashi Seijuuro selalu melafalkan kalimat "Karena aku selalu menang, maka aku selalu benar...",
Oleh karenanya,
Akashi Seiryuuto akan melafalkan kalimat "Karena Otou-sama adalah Emperor, maka aku adalah... KING!"
Musim Dingin...
Angin berhembus kencang menerpakan butiran salju dan menembus pertahanan kulit. Dingin menyeruak, membuat jumlah orang-orang yang tengah berhamburan di luar rumah menjadi semakin sedikit. Tidak banyak orang yang mau menghabiskan waktunya hanya untuk menggigil kedinginan di bawah guyuran salju malam hari.
Malam tanpa bintang, bagaikan Akashi Seijuuro tanpa kuroko Tetsuya...
Butiran salju masih menerpa langit temaram. Kelam, gelap, tak berbintang. Malam hari yang entah indah atau justru mengerikan. Bintang-bintang memang tak terlihat, namun ribuan salju ikut turun meramaikan malam. Indah di saat yang lain, namun juga mengerikan tatkala tahu bahwa jumlah salju yang menyapa bumi saat itu tidaklah sedikit.
Dan Akashi Seijuuro tanpa Kuroko Tetsuya, bagaikan kegelapan tak berujung...
Malam masihlah gelap seperti biasa, begitu juga untuk cinta Akashi terhadap Kuroko. Malam itu indah, tapi terlalu gelap jika berjalan seorang diri. Begitulah seorang Akashi melewati hari-harinya selama 7 tahun tanpa cinta balasan. Cintanya akan selalu indah terhadap Kuroko, tetapi terlalu gelap karena ia hanya bisa melangkah seorang diri.
Maka inilah kehidupannya, perjuangannya, penantiannya, bersama seorang putra tampan yang sangat Akashi banggakan. Akashi Seiryuuto.
.
Letih menyerang, Akashi mematikan laptop yang berada di atas pangkuannya. Sesaat kemudian, ia mengerjapkan sepasang iris heterokrom merah-emas yang berada dibalik bingkai kaca bertangkai hitam. Sudut matanya menampakkan kelelahan yang teramat sangat. Tak terasa bahwa sudah 7 jam lamanya ia berkutat dengan tumpukan berkas-berkas penting perusahaannya. Waktu benar-benar berjalan tanpa peduli terhadap keadaannya. Yah, walau pada dasarnya, Akashi adalah tipe orang yang benci dikasihani.
Akashi mendapati jika pahanya terasa panas dan pegal oleh adanya laptop hitam yang sedaritadi menemaninya bekerja. Inilah resiko jika seorang CEO perusahaan ternama tidak memiliki sekretaris sekaligus asisten pribadi. Walaupun sebenarnya ia bisa mengerjakan segalanya seorang diri.
Segalanya seorang diri...?
Tapi tidak untuk hal yang satu ini. Helaan nafas lelah menguar dan menjadi satu dengan terpaan hawa penghangat ruangan dalam kamarnya. Ia benar-benar lelah dalam menghadapi situasi ini seorang diri. Tidak seorangpun tahu jika pemuda tampan bernama Akashi Seijuuro -orang yang selalu sempurna dalam melakukan segala hal- ternyata masih memiliki titik lemah yang berasal dari dalam hatinya sendiri. Ia membutuhkan seseorang, seseorang yang ia percaya untuk menemaninya menghadapi situasi semacam ini bersama-sama.
Situasi di mana sang Emperor, Akashi Seijuuro harus berperan ganda menjadi seorang Ayah yang bijaksana dan menjadi seorang Ibu yang penuh perhatian –walau lebih menjurus ke arah posesif.
Lelah sangat dirinya. Bukan fisik, melainkan hati. Hati Akashi benar-benar hampa untuk membuat sebuah keluarga bahagia. Ia membutuhkan seseorang untuk segera menambal lubang yang telah ditinggalkan dalam hatinya terlalu dalam. Seseorang yang sangat Akashi cintai, walau orang itu telah melewati 7 tahun tanpa setitikpun memori tentang cinta mereka sedari SMA.
Pemuda tampan berumur 25 tahun tersebut kembali menghela nafas berat, sebelum akhirnya menjatuhkan pandangannya terhadap sosok mungil yang tertidur dibalut setelan piyama biru muda. Sosok buah hati yang sangat dicintai dan dihargai oleh Akashi. Ya, Akashi Seiryuuto yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya. Ini sungguh wajar dikarenakan jam dinding telah menunjukkan anggka 2 pada jarum pendeknya.
Akashi tersenyum lembut. Ia melepaskan kaca mata yang sedari tadi menolongnya untuk mencegah radiasi dari laptop. Mata Akashi tidak cacat, hanya saja ia mengantisipasi kemungkinan terbesar. Mencegah dirinya untuk benar-benar menggunakan kacamata di depan para clien-nya.
Pemuda bersurai merah merunduk, membuat wajahnya dapat memandangi dengan leluasa sosok anak kecil yang tengah berbaring nyenyak. Akashi Seiryuuto benar-benar memiliki wajah yang persis seperti dirinya. Copy-paste dari segala lekuk parasnya. Melihat wajah sang malaikat kecilnya, Akashi merasa bahwa ia tertarik kembali ke masa-masa SMA, di mana rambut scarlet-nya masih panjang. Sungguh, Seiryuuto dengan mata terpejam, bagaikan Akashi disaat SMA yang tengah tertidur.
Walau begitu sama dengan Akashi, masih ada beberapa hal dari Kuroko yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mata kiri Seiryuuto yang persis sama seperti warna mata ibunya, kulitnya yang lembut dan putih pucat, serta tubuh yang memiliki gestur mungil, walau aura intimidasi yang menakutkan masih sangat jelas terpancar tatkala Seiryuuto telah bersiap dengan gunting biru mudanya.
Seandainya saja Akashi belum menggunting rambutnya, mungkin beberapa orang akan menganggap jika Akashi dan Seiryuuto adalah kakak beradik. Mengingat jika wajah Akashi yang tidak menunjukan tanda-tanda penuaan apapun dalam kurung waktu 25 tahun ini.
Tangan besar itu meraih surai lembut dari pemuda mungil yang masih terlelap. Akashi mengelus rambutnya dengan begitu lembut. Tatapan penuh kasih sayang ia pancarkan dari segenap hatinya. Sungguh, Akashi benar-benar ingin membuat Seiryuuto merasakan bagaimana hangatnya kasih sayang seorang ibu. Namun sayang, bakat alamiahnya sebagai seorang 'Suami' tidak bisa menjadikan posisinya berubah menjadi 'Istri'.
Sembari mengusap kepala Seiryuuto, mata tajam Akashi memandang sebuah foto. Foto dengan bingkai kayu berukiran rumit, yang terletak di meja kecil di samping tempat tidur. Foto yang membuatnya amat bangga karena telah menjadi Ayah dari bocah bernama Akashi Seiryuuto. Sebuah foto, di mana terdapat dua orang bersurai merah terang yang terlihat sangat bahagia.
Yang bertubuh mungil, menggunakan seragam Tim Basket SD Teikou dengan nomor 4. Di lehernya telah menggantung tali dari sebuah medali yang bandulnya ia angkat tinggi-tinggi dengan bangga. Tepat di sebelah kanannya, seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam dan kemeja merah, mengalungkan tangan kirinya erat-erat pada bahu pemuda mungil. Sedangkan tangan kanannya memegang bola basket yang disampirkan ke pinggangnya.
Keduanya tersenyum bahagia...
Akashi sangat mengingat momentum berharga yang terjadi seminggu lalu. Di mana anaknya itu menjadi kapten dari tim inti Klub Basket meskipun usianya tergolong masih terlalu muda. Seorang kapten tim Klub Basket di SD Teikou seharusnya seorang siswa kelas 4. Namun, Seiryuuto mampu meraihnya ketika ia menduduki kelas 3 SD. Dan di saat pertandingan pertamanya di Turnamen Winter Cup, ia berhasil mengharumkan nama SD Teikou dengan meraih juara pertama di turnamen tersebut.
Tentu saja, siapa yang tidak bangga jika memiliki seorang anak seperti Seiryuuto? Seiryuuto adalah anak yang jenius dan sangat dewasa untuk teman-teman setaranya. Terbukti dengan dirinya yang langsung masuk ke kelas 2 SD tanpa merasakan bangku kelas 1. Karena kejeniusannya, Seiryuuto harus melompat kelas di awal tahunnya di Sekolah Dasar. Tak bisa dipungkiri jika Seiryuuto benar-benar mewarisi otak sang Ayah.
"Kau hebat, Seiryuuto. Aku bangga padamu."
Puas dengan megusap-usap rambut putranya, Akashi bangkit dari ranjang. Ia melakukan beberapa perenggangan pada tubuhnya yang benar-benar lelah untuk malam ini. Bunyi-bunyi tulang yang gemeretuk, mewarnai kamar dengan nuansa biru langit tersebut. Akashi merasa sedikit lega setelah usia ia melakukan perenggangan.
Pria bersurai merah itu kembali menaiki ranjang, lalu berbaring di samping bocah yang sudah lebih dulu tertidur di sana. Akashi membiarkan tangannya menarik bed cover putih untuk menyelimuti tubuh mereka. Menyelimuti tubuh dari seorang Kaisar dan Raja dari keturunan Akashi. Kaisar dan Raja yang bertahta sama. Kaisar dan Raja yang dapat menebar terror, walau kini diri mereka sendiri yang diterror akan kebutuhan rasa kasih sayang.
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
"Hoi, Aominecchi!" pemuda pirang dengan senyum yang merekah dengan indah, memanggil seorang polisi yang kini tengah memasang mimik wajah frustasi lantaran pekerjaannya selalu diusik selama 5 hari terakhir. Polisi dengan badan tegap berambut biru tua itu hanya bisa mengusap wajahnya penuh harap, agar sang pengganggu bernama lengkap Kise Ryouta itu segera menghilang dari jarak pandangnya.
Jam masih menunjukan pukul 09.17, tapi Kise telah sampai di kantor polisi, dimana salah satu sahabat baiknya semasa SMP –hingga sekarang- bekerja. Sahabatnya itu ialah Aomine Daiki. Polisi berwajah sangar namun tetap tampan di saat yang bersamaan. Entah apa yang membuat Kise beralih hobi untuk menjadi 'pendamping' Aomine selama 5 hari ini. Untungnya Aomine sedang tidak ditugaskan untuk terjun langsung ke lapangan. Selama sebulan ini, tugas Aomine hanya akan berkutat dengan data-data di layar komputer.
"Kise, apa kau tidak bisa menciptakan satu hari yang tenang untukku?" keluh Aomine sembari menepuk pelan dahinya. "atau kau tidak punya pekerjaan lagi selain menggangguku?" sambungnya lagi dengan mempertahankan raut wajah depresi.
Kise meringis, antara ingin menertawai ekspresi sang sahabat, atau karena merasa bahwa tebakan pria berkulit gelap itu benar. Jujur saja, Kise memang tidak memiliki kegiatan apapun selama hari cutinya yang sudah berjalan sekitar seminggu yang lalu. Kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja bahkan hingga di hari tua mereka, sedangkan kedua kakak perempunnya telah menikah dan berkeluarga. Hari-hari begini, Kise kerap kali seorang diri tanpa teman satupun dalam rumah besar keluarga Kise. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengganggu Aomine agar ia bisa mengalihkan kejenuhan.
Aomine menatap tubuh putih di depannya. Dari bawah ke atas, dari atas ke bawah. Tak lama kemudian, terdengar suara decak meremehkan yang Aomine keluarkan. "Dengan pakaian begini, tak seorangpun akan mengira jika kau adalah seorang pilot." Aomine bergumam rendah, hingga membuat yang bersangkutan ikut memperhatikan pakaiannya sendiri.
Saat ini, Kise tengah memakai sebuah sepatu ket biru muda, celana jeans putih, kaos lengan pendek berwarna biru muda, lalu ditimpah kemeja putih tak berkancing yang lengannya ia gulung hingga sikut, dan juga jam tangan besar berwarna putih yang terlihat sangat cocok dengan kulitnya. Kise Ryouta benar-benar terlihat seperti seorang remaja yang baru lulu SMA. Sipa yang akan mengira, jika Kise adalah seorang pilot yang selalu terbang mengendarai pesawat bagai kepunyaannya sendiri?
Penampilan benar-benar bisa menipu...
Kise menyeringai tipis. "Jiwa modelingku masih ada-ssu." Tanggap Kise sekenanya. Ia mengambil sebuah kursi yang kosong di dekatnya, lalu segera menariknya tepat di samping Aomine. Setelah duduk, ia menopang dagunya dengan tangan kanan yang bertumpu pada meja. Tak lupa dengan tatapan malasnya terhadap berbagai macam catatan kasus yang tengah Aomine sunting di komputer.
"Nee, Kise," Aomine melirik Kise sekilas, lalu kembali berkutat pada layar komputer di hadapannya. "Kau belum bertemu dengan Tetsu sejak hari cutimu di mulai, kan?" tanyanya yang kali ini tanpa melirik pilot sekaligus mantan model tersebut.
"Ya, aku belum bertemu dengannya-ssu. Terakhir aku telpon untuk kuajak pulang bersama, katanya dia tidak bisa. Kurokocchi malah memberitahu jika kau sudah berhasil lulus dari Akademi Kepolisian 8 bulan yang lalu. Jadi, aku lebih tertarik untuk melihat bagaimana Aominecchi memakai seragam polisi, ketimbang pulang ke rumah disambut keheningan-ssu."
Pemuda mantan ace Kiseki no Sedai itu menghela nafas seusai Kise berbicara panjang lebar. "Lalu, kenapa kau tak menemuinya sekarang saja? Aku yakin dia tak keberatan untuk menerimamu walau sekarang sedang jam mengajar." Aomine memberi usulan, tepat ketika ia menekan tombol enter untuk persetujuan save. Pemuda tersebut segera memutar kursinya dan berhadapan langsung dengan Kise.
"Nanti sajalah, bukankah saat ini adalah giliran jaga Midorimacchi? Aku tak mau mengganggu jadwalnya untuk menjaga Kurokocchi." Kise menyelipkan sebuah tawa di tengah-tengah kalimatnya. "Besok, baru aku yang akan menjaganya."
Aomine telah mengenal Kuroko sedari kecil. Kuroko adalah salah satu penghuni Panti Asuhan besar yang ada di samping rumahnya. Maka dari itu, Aomine benar-benar menyayangi Kuroko sebagai seorang sahabat dekat. Sedangkan Kise, pemuda pirang tersebut memang baru mengenal Kuroko di saat SMA. Namun, rasa sayangnya terhadap Kuroko sudah seperti Aomine.
Tak hanya mereka berdua yang menjadi sahabat Kuroko waktu SMA. Selain mereka, ada Midorima Shintaro, seorang pria dengan helaian hijau yang senada dengan matanya. Sudah dua tahun Midorima bekerja sebagai seorang dokter ternama. Dan jangan lupakan Murasakibara Atsushi, seorang pemuda berambut ungu yang kini menjadi seorang pembuat kue. Jangan remehkan kue buatannya, itu sangat terasa nikmat.
Mereka ber-4 merupakan mantan Tim Basket SMA Teikou yang diketuai oleh Akashi Seijuuro. Kiseki no Sedai. Dan mereka semua bersahabat dengan Kuroko. Oleh sebabnya, mereka –Lupakan Kise yang bekerja sebagai pilot 10 bulan lalu- selalu menjaga dan melindungi Kuroko selama 7 tahun ini. Menggantikan tugas yang seharusnya diemban oleh kapten mereka itu.
Yah, jika saja insiden mengenaskan itu tak terjadi pada sang pemuda manis, sudah dapat dipastikan jika rumah tangga Akashi dan Kuroko akan berjalan lancar.
Pria dengan rambut blonde itu melirik jam tangannya. Sekarang sudah pukul 09.33. sudah terlalu lama ia menghabiskan waktu di sini. Sebaiknya ia segera menyingkat waktu agar tidak terlambat. "Aominecchi, apa pekerjaanmu masih lama untuk diselesaikan?" Kise memutar bola mata kuningnya dengan bosan.
"Memangnya kenapa?" jawab Aomine agak ketus.
Kise merogoh I-phone hitamnya, lalu mengutak-atiknya dengan gerakan cepat. Setelahnya, ia menunjukkan foto seorang anak kecil yang berada dalam gendongan Akashi. Anak itu berambut merah dengan mata heterokrom merah-biru. Anak tersebut terlihat sungguh manis dengan balutan baju seragam TK. Sang anak tersenyum manis, sedangkan ayahnya tersenyum tipis.
"Aku merindukan Ryuucchi-ssu! Bagaimana kalau kita menonton pertandingannya sekarang? Yah, walau sudah sangat terlambat, tapi tidak apa-apa!" ajak Kise antusias. Sedangkan Aomine membulatkan kedua matanya. Pertandingan? Bukankah hampir sekitar 2 minggu lalu SD Teikou menjadi juara pada Turnamen Winter cup? Pertandingan apalagi yang tengah dimainka-
"Ish, ini hanya pertandingan persahabatan antara SD Teikou dan SMP Hyouten dari Hokkaido-ssu!" untuk pertama kali dalam hidupnya, Aomine menganggap jika Kise adalah seorang Esper tingkat tinggi.
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Ingin rasanya seorang pemuda pirang yang berdiri di samping pemuda berseragam polisi itu mencubit pipinya sendiri dengan sebuah gunting kebun. Wajahnya benar-benar menujukkan jika ia sangat terkejut. Matanya membulat sempurna, mulutnya ternganga cukup lebar, dan keringat dingin terus mengalir dari pori-pori.
Sedangkan pemuda di sampingnya, ia juga menunjukan ekpresi terkejut, namun tidak se-ekstrim Kise si pilot muda. "A-Aominecchi..." pemuda berkulit eksotis itu melirik Kise yang memanggilnya dengan suara gemetar. "Aku tidak percaya ini... i-Ini musta...hil-ssu..."
Aomine memejamkan kedua matanya dan menunduk sesaat. "Sudah sepantasnya mereka meraih gelar juara di Turnamen Winter Cup, Kise."
"Dengan skor 131 dan 57, SD Teikou menang!"
"Arigatou Gozaimashita!"
Setelah Aomine menyelesaikan beberapa data terakhir, mereka segera pergi menuju sebuah gedung olah raga, tempat di mana SD Teikou dan SMP Hyouten mengadakan pertandingan. Tentu saja dengan izin yang telah diberikan oleh atasan Aomine yang 'berbaik hati' untuk membuat Aomine lembur di malam hari, menggantikan waktu pagi hingga sore hari yang akan ia gunakan untuk menemani Kise.
Walau mereka berdua merasa kecewa lantaran pertandingan telah usai, namun mereka tetap saja di suguhkan dengan kejutan yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Bagi sesama pemain basket, pasti mengerti rasanya perbedaan skor yang tertinggal sangat jauh. Bahkan sekolah SMP nomor 1 di Hokkaido telah kelah mentah-mentah di tangan SD Teikou.
"Kerja bagus, Akashi -kun!" seorang anak laki-laki berambut coklat muda yang senada dengan matanya, melemparkan sebuah handuk berwarna biru muda kepada Seiryuuto. Putra tunggal Akashi Seijuuro itu menangkap handuk tersebut dengan sigap.
Seiryuuto menghela nafas seolah hal itu bisa membebaskan beban dalam hatinya. "Seharusnya aku tidak ikut bermain, jika hal ini akan menjadi sangat mudah, Taiyou." ujarnya sembari mengusap-ngusapkan handuk biru muda itu ke lehernya.
"Mou, Akashi-kun, aku ini senpaimu! Paling tidak hargailah aku sebagai seniormu. Dan lagi, kau itu kapten tim. Sudah sewajarnya jika kau ikut bermain." Hinano Taiyou, teman se-tim Seiryuuto menyanggah perkataan dari anak bermata merah-emas. Sedangkan yang bersangkutan malah memberikan seringai keji, yang sesaat membuat Hinano bergidik sendiri.
"Apa gunanya senioritas jika kemampuan yang dimilikinya masih taraf kualitas rendah?" pertanyaan Seiryuuto –atau yang lebih tepat disebut sebagai penyataan- benar-benar menohok hati. Tidak, Hinano tidak merasa tersinggung jika Seiryuuto berkata demikian. Ia sudah biasa mendengarnya berbicara tanpa pandang bulu saat menu latihan harian dimulai. Ia hanya heran, dari mana asalnya Seiryuuto bisa bersikap sebegitu angkuh dan dingin?
"Akashi-kun..."
"Hhh... andai aku memiliki nalar setajam Otou-sama..." Seiryuuto bergumam kecil. Ia menarik lepas handuk yang kini telah menjadi basah. Ia melipatnya dan memasukannya ke dalam tas. Ia melirik beberapa temannya –termasuk Taiyou- yang memasuki ruang ganti. Setelah menimang-nimang, akhirnya ia memutuskan untuk langsung pulang dengan tetap menggunakan seragamnya. Lagi pula, pelatihnya tadi sudah bilang jika setelah pertandingan ini, mereka diperbolehkan untuk langsung pulang.
Maka dari itu, setelah memberi salam kepada sang pelatih, ia memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Sudah dipastikan jika Ayahnya tidak akan pernah memperbolehkan ia pulang dengan berjalan kaki. Tapi sekali-kali ia juga ingin merasakan berjalan kaki menuju rumah sendiri.
Sampai akhirnya ia menemukan dua makhluk yang sangat ia kenal tengah berdiri mematung di depan pintu masuk. Ya, itu kedua teman Ayahnya yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri. "Ryouta-san? Daiki-san?"
"U-Uh? Ryuuto?" Aomine yang sadar untuk pertama kali. Ia menyenggol lengan Kise untuk menyadarkan pemuda pirang itu juga.
Sadar, Kise mengalihkan pandangannya tepat ke dua bola mata beda warna milik Seiryuuto. Lalu ia tersenyum lembut padanya. Kise berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak berusia 7 tahun di hadapannya, merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. "Aku merindukanmu, Ryuucchi." Kise berujar sembari menikmati betapa lembutnya kulit Seiryuuto, sama seperti Kuroko.
Seiryuuto tak membalas pelukan Kise. Anak itu hanya menepuk-nepuk pundak Kise dengan lembut, lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kise. Menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuh salah satu orang yang paling disayanginya. Wangi Kise tak pernah berubah walau mereka tidak pernah bertemu dalam waktu 10 bulan lamanya.
Hanya pada Kuroko dan Kiseki no Sedai, ia masih bisa bersikap sebagaimana mestinya seorang anak berusia 7 tahun.
Aomine mengusap-usap kepala merah Seiryuuto. "Sekarang, kau sudah semakin hebat, Ryuuto." pujinya tanpa segan-segan. Aomine benar-benar merasa kagum pada Seiryuuto. Mungkin, jika Seiryuuto sudah besar nanti, Aomine akan mengajaknya berduel one-on-one.
"Ryuucchi, tidak mau ganti baju-ssu?" Kise bertanya dengan lembut. Membuat dirinya seolah seperti seorang ibu yang perhatian. Aomine menggelengkan kepalanya, tidak bisa membayangkan jika Kise menjadi seorang ibu dari anak duplikat Akashi yang sama-sama menyeramkannya. Penjinak mereka hanyalah Kuroko seorang.
"Oh, ini?" Seiryuuto memperhatikan pakaiannya sendiri. "Aku mau ganti baju di rumah saja. Rumahku kan ada di dekat sini."
"iie-ssu!" Kise menggelengkan kepalanya. Hal yang tadi Aomine lakukan. Kise menggenggam tangan mungil Seiryuuto lalu berdiri. Menarik tangan Seiryuuto lalu berjalan keluar, Aomine mengerang protes karena ia dengan mudahnya di tinggalkan.
"Ayo kita makan di Maji Burger, hm? Kau bisa berganti pakaian di sana-ssu!" ajak Kise dengan tetap menggandeng tengan Seiryuuto.
"Tapi-"
"Aku akan menraktirmu vanilla shake! Mau, kan?" pemuda berhelai pirang itu membuat senyum lebar dengan efek bling-bling, membuat niat Seiryuuto untuk memberi pelajaran pada Kise karena telah berani memotong perkataannya menguap entah kemana. Lagi pula, ia juga akan ditraktir vanilla shake, kan? Kenapa tidak?
"Oi, jalannya pelan-pelan, Kise!" rutuk Aomine dengan berbagai sumpah serapah untuk Kise di depannya.
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Seiryuuto keluar dari toilet pria. Kini dirinya sudah mengenakan jaket bersih Tim Basket SD Teikou dan juga celana trainingnya. Seragamnya yang semula masih ia kenakan, kini telah berada di dalam tas selempang putih-hitam miliknya. Putih-hitam adalah warna untuk Tim Basket SD Teikou.
Ia menghampiri Kise dan Aomine yang kini tengah berbincang-bincang ringan. Ternyata pesanan mereka telah sampai dengan cepat. Mengingat jika sekarang adalah jam belajar sekolah, jadi suasananya masih agak lenggang.
Di meja mereka sudah tersuguhkan 2 burger dan 1 potong cake vanilla, dengan cola sebagai minuman Kise dan Aomine. Sedangkan Seiryuuto, ia lebih memilih untuk meminum segelas vanilla shake dengan ukuran jumbo.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu." Seiryuuto datang mengambil tempat duduk di depan Kise dan di samping Aomine. Sesaat, Aomine dan Kise merasakan deja vu tentang bagaimana permintaan Seiryuuto barusan.
"Tidak apa-apa. Ini, makanlah." Aomine menyuguhkan makanan dan minuman yang telah Seiryuuto pesan. Dan semuanya terbuat dari vanilla. 'Ternyata, dia juga bisa menjadi duplikat Tetsu dari sudut pandang yang berbeda...' batin pemuda berstatus polisi itu sembari memperhatikan Seiryuuto yang dengan sigap segera meneguk vanilla shake miliknya.
Setelah hening untuk beberapa saat, Kise meletakkan setengah dari burger yang telah ia makan ke atas piring. Setelah menimang-nimang, akhirnya Kise memberanikan diri untuk mempertanyakan tentang sesuatu yang mengganjal di hatinya selama 10 bulan ini. Dan ia bertanya langsung dengan orang yang bersangkutan.
"Ng... Ryuuchi?" mulanya Kise ragu. Namun, ia memantapkan hatinya untuk tetap bertanya pada Seiryuuto. Membaca gerak-gerik Kise, Aomine menghentikan kegiatan makannya dan ikut memperhatikan kise. "Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Boleh, katakan saja."
Kise menghembuskan nafas kuat-kuat. Ekspresi Seiryuuto masih tergolong biasa-biasa saja. Belum masuk mode devil. Jadi, Kise menguatkan dirinya sendiri agar segera bertanya.
"Ano... selama 10 bulan aku pergi, apakah dia sudah mulai inga-"
"Ingat. Dia ingat. Tapi nanti lupa lagi."
Aomine dapat melihat tatapan sendu yang Kise arahkan pada Seiryuuto. Mau tak mau, ia juga merasakan luka lama 7 tahun lalu. Aomine menunduk, menyembunyikan sirat sedihnya.
Anak yang sangat-sangat persis dengan Akashi itu menyudahi acara minumnya sebentar. Setelah itu, ia menatap lurus-lurus ke arah Kise, selaku yang mengajukan pertanyaan. "Tapi, terkadang aku tidak suka melihatnya mengingat sesuatu, jika caranya ia deja vu secara mendadak."
Kise membelalakkan matanya. "Kenapa begitu-ssu?!" Kise berseru heboh.
Helaan nafas meluncur bebas dari bibir mungil Seiryuuto. "Karena... ia akan berkata jika Otou-sama, selalu ingin membunuhku..."
.
.
.
T.B.C
Balasan Review :
Guest 1 : Tee hee, maklumi jiwa Fujhosi saya yang menggebu-gebu ya. Sampe bikin Fic M-PREG begini :D. Terima kasih atas reviewnya (:
Ruki : *Terima cokelatnya* Ah, Ruki-chan tahu aja kalau saya suka coklat :D *abaikan*. Hehe, semua pertanyaannya nanti bakal kejawab seiring chapter bertambah. Pedo? Aih, unyu sekali ketika saya membayangkan Kuroko yang meluk versi mininya Akashi XD. Arigatou Gozaimashita atas reviewnya (^/\^)
Guest 2 : Ah, terima kasih sekali. Saya senang karena dibilang begitu T_T *terharu*. Iya, saya juga kasian sama Ryuu. Dia anak yang gak tahu apa-apa, tapi harus ikut menanggung beban *malah nangis*. Hehe, tentu aja bakal ada semua flashback tentang masa lalu AkaKuro. Yah, walau masa lalu itu agak dark-dark gimana gitu... #PLAKK. Kuroko hamil? Pasti unyuu sekali! *ditampol Akashi*. Terima kasih atas reviewnya (:
RnR ~
