Title :

Just a Kiss ( HunHan Ver)

Cast :

Oh Sehun, Xi Luhan and other cast you'll find by yourself ;)

Rate :

T

Genre :

Romance, GS, AU

Summary :

Karena sebuah ciuman, Sehun jatuh cinta dengan yeoja sekelasnya yang tak pernah ia kenal sebelumnya, Luhan.

Happy reading, don't like don't read, no bash, no plagiat, and review please...

~Just a Kiss (Chapter 2)~

Pagi itu, baik Luhan maupun Sehun nampak diam di bangku mereka masing – masing. Kelihatannya mereka memperhatikan penjelasan Mrs. Jung, padahal pikiran mereka sudah kemana – mana. Mereka masih galau memikirkan insiden kemarin. Eh?

Kyungsoo yang melihat Luhan yang galau, heran. Luhan tak seperti itu biasanya. Hal yang sama dialami Kai. Ia belum pernah melihat Sehun segalau itu.

.

.

.

Kai dan Kyungsoo mengajak Sehun dan Luhan untuk makan di kantin. Mereka berempat duduk berhadapan dengan posisi Kyungsoo dan Luhan berhadapan dengan Sehun dan Kai.

"Sebenarnya kalian berdua ini kenapa? Kok tiba – tiba aneh.", ujar Kai. Sehun lalu memberikan tatapan 'apa-aku-boleh-memberitahu-mereka' pada Luhan. Luhan hanya menganggukkan kepala.

"Umm, sebenarnya, kemarin ada sebuah insiden antara kami berdua.", ujar Sehun. Kai dan Kyungsoo tentu kaget.

"Insiden, insiden apa? Apa itu...", tebak Kai yang diputus oleh Luhan.

"Bukan! Tidak sampai sejauh itu!", jawab Luhan lalu memukul Kai dengan novel tebalnya.

"Insiden apa?", tanya Kyungsoo.

"Kami tak sengaja berciuman.", jawab Luhan. Kai dan Kyungsoo hanya bisa memasang ekspresi O_O. Bahkan mata Kyungsoo seperti akan keluar dari kelopaknya.

"Kalian ini, baru bertemu kemarin, tapi sudah membuat insiden.", ujar Kyungsoo. Sehun yang sedari tadi menunduk lalu mendongak ke arah Kyungsoo.

"Namanya juga insiden, kan tidak sengaja...", protes Luhan. Lalu direspon anggukan oleh Sehun.

"Ya ya, aku tahu. Tapi bagaimana bisa terjadi?", tanya Kyungsoo. Kai masih diam karena memegangi kepalanya yang sakit dipukul Luhan tadi.

"Aku tak sengaja menumpahkan air di depan kulkas. Lalu Sehun keluar dari kamar mandi. Kebetulan, aku berjalan ke arah depan kulkas untuk mengelap tumpahannya. Sehun lewat dan terpeleset. Lalu, ya kau tahu kan...", jelas Luhan.

"Seandainya itu aku...", gumam Kai yang masih bisa didengar Sehun.

"Kau ingin mencium Kyungsoo? Sabar, bro.", bisik Sehun sambil menepuk – nepuk pundak Kai.

"Tapi kalian berdua tidak sedang jatuh cinta, kan?", tanya Kyungsoo tiba – tiba yang membuat Luhan menyemburkan jus jeruknya dan Sehun tersedak burgernya.

"Ani!", jawab Sehun dan Luhan kompak.

"Kalau aku kira – kira, 3 minggu sampai 1 atau 2 bulan lagi, kalian pasti pacaran.", celetuk Kai tiba – tiba.

"Kau tadi salah makan ya, Kai?"~ Sehun.

"Kau bicara apa sih?"~ Luhan.

"Memang sejak kapan kau bisa menebak – nebak?"~ Kyungsoo.

"Yaa!", teriak Kai menggema di seluruh kantin sampai – sampai semua yang ada di kantin menghentikan aktivitasnya.

"Yaa, kecilkan suaramu, Kai!", ujar Kyungsoo memarahi Kai.

"Habisnya kalian meledekku. Mentang – mentang aku ini ceroboh dan agak lemot.", protes Kai.

"Ya ya, maaf. Gitu aja marah.", ujar Sehun. Luhan hanya meletakkan kepalanya di meja karena frustasi. Kai dan Kyungsoo bukan malah membantu memecahkan masalahnya dengan Sehun, eh mereka malah bertengkar.

.

.

.

"Mau ku antar pulang?", tawar Sehun pada Luhan.

"Tidak us...hei katanya kau mau aku mengajarimu. Kau maunya dimana?", tanya Luhan balik.

"Oh iya, umm kau mau ke Line Cafe?", tanya Sehun.

"Baiklah, ayo kalau begitu.", jawab Luhan.

"Ayo cepat naik..", ujar Sehun pada Luhan untuk segera naik ke motornya.

"Aku jalan kaki saja.", jawab Luhan lalu berjalan meninggalkan Sehun.

"Kan Line Cafe itu jauh, 20 meter dari sekolah.", teriak Sehun pada Luhan. Karena Luhan tak menoleh, ia segera menyusul Luhan. Ketika sampai di sebelah Luhan, Sehun langsung menarik Luhan.

"Apa – apaan kau ini?!", bentak Luhan.

"Cepat naik atau kau ku seret!", balas Sehun. Akhirnya Luhan mengalah untuk naik ke motor Sehun. Ya, Luhan hanya bisa mengalah kalau berurusan dengan Sehun perihal kendaraan. Walaupun Luhan ngotot ingin jalan kaki, Sehun dengan cara apapun pasti akan berhasil membuat Luhan mengalah. Luhan benar – benar akan jatuh ke tangan Oh Sehun!

Mereka berdua sekarang berada di Line Cafe. Sehun meminta Luhan untuk mengajarinya Bahasa Inggris. Pelajaran paling menakutkan setelah Matematika dan Fisika. Yah, itu bagi mereka yang menganggapnya sulit!

"It's just a simple story, Oh Sehun!", keluh Luhan.

"Once upon a time, there live a beautiful girl named Snow White...", Luhan membaca cerita di buku Sehun. Ya ampun, ini kelewat mudah, membaca Narative Text berupa dongeng. Ini pelajaran kelas 3 SMP!

.

.

.

Sudah 2 bulan ini Luhan membantu Sehun belajar. Dan apa yang dikatakan Kai benar – benar terjadi. 2 hari yang lalu, Sehun menyatakan perasaannya pada Luhan. Luhan pun untuk pertama kalinya menangis di depan umum. Ternyata selama ini Luhan belum pernah menangis di depan orang banyak, bahkan Kyungsoo sekalipun.

Sekarang mereka berdua berada di apartemen Luhan. Sehun ingin mengenalkan Luhan pada orang tuanya. Ketika pertama kali melihat nilai Bahasa Inggris Sehun yang mencapai nilai 90 untuk pertama kalinya, appa Sehun bilang dia ingin memeluk dan mencium orang yang sudah berjasa membantu meningkatkan nilai anaknya. Tentu saja Sehun langsung sewot. Luhan kan yeojacingu –nya.

"Sudah selesai?", tanya Sehun ketika Luhan keluar dari kamarnya.

"Ayo cepat, setelah ini kau makan malam di rumah orang tuaku.", jawab Luhan enteng. Mereka berdua lalu segera berangkat ke rumah Sehun.

.

.

.

"Oh, jadi ini orang yang mengajarimu selama ini? Pantas saja ketika appa bilang akan memeluk dan mencium orang yang berjasa membantu meningkatkan nilaimu, kau sewot.", ujar appa Sehun.

"Tentu saja, Luhan kan yeojachingu – ku, masa appa mau menciumnya!", respon Sehun. Luhan hanya terkikik mendengar pertengkaran kecil antara ayah dan anak di depannya.

"Kau manis juga, siapa namamu?", tanya eomma Sehun.

"Xi Luhan imnida...", jawab Luhan memperkenalkan dirinya.

"Oh, kau putrinya Tuan Xi dari Beijing, kan?", tanya eomma Sehun kaget.

"Tuan Xi? Oh iya, yang baru saja kita temui itu, eoh?", tanya appa Sehun balik.

"Ye, oh anda yang bertemu dengan appa saya kemarin?", tanya Luhan balik. Kenapa semua jadi bertanya balik?

"Iya, oh kau ternyata masih ingat...", jawab appa Sehun.

"Appa dan eomma mengenal orang tua Luhan?", tanya Sehun.

"Ya, dan sebenarnya kami ingin menjodohkan kalian berdua, eh kalian sudah pacaran ternyata..", jawab eomma Sehun. Sehun yang kaget lalu menatap ke arah Luhan, sedangkan Luhan yang ditatap oleh Sehun memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. Orang tua Sehun lalu tertawa.

.

.

.

"Kau putranya Tuan Oh?Kenapa kebetulan sekali ya? Kami padahal mau menjodohkan kalian berdua...", ujar eomma Luhan kaget. Ya, suasananya sama seperti di rumah Sehun tadi, penuh keterkejutan.

"Ternyata, apa yang Kai katakan benar – benar terjadi. Walaupun kita tidak pacaran, mau tak mau kita akan terikat.", ujar Luhan. Sehun hanya menganggukkan kepalanya. Mereka lalu makan malam berempat sambil membicarakan tentang pertemuan Sehun dan Luhan.

"Kalian satu sekolah, bahkan satu kelas selama hampir 3 tahun belum pernah saling mengenal? Jadi kalian berkenalan baru kira – kira dua tiga bulan yang lalu?", tanya appa Luhan terkejut.

"Tapi tetap saja, walaupun masih seperti itu, kalian pasti akan saling mengenal melalui perjodohan itu. Kalau begitu, kami tak perlu susah – susah membujuk kalian berdua...", ujar eomma Luhan.

.

.

.

Sehun dan Luhan berada di Line Cafe, saksi bisu kisah cinta mereka berdua, di sofa warna biru pojokan.

"Ternyata, hidupku rumit sekali...", keluh Luhan.

"Rumit ? Menurutku tidak...", respon Sehun.

"Tuan Oh, tentu saja karena kau tak merasa jadi aku.", ujar Luhan pada Sehun.

"Kau tidak senang berjodoh denganku?", tanya Sehun.

"Tentu saja tidak, aku hanya bingung. Kisah cinta kita penuh dengan insiden.", jawab Luhan.

"Bagaimana kalau kita menikah saja?", tanya Sehun pada yeoja di sebelahnya itu.

"Hei, kita ini masih SMA, kau sudah mengajakku menikah, Tuan Oh ppabo. Jangan mentang – mentang kita dijodohkan.", protes Luhan. Sehun lalu mencubit kedua pipi Luhan.

"Kau manis sekali, aku ingin memakanmu.", canda Sehun. Luhan lalu segera memukul lengan Sehun.

"Sakit, chagi!", teriak Sehun. Untung saja di cafe itu hanya ada mereka berdua. Entahlah, sepertinya cafe ini hanya punya 2 pelanggan.

"Jangan suka menggodaku! Aku tidak suka.", ujar Luhan. Ia lalu tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum?", tanya Sehun. Bukannya menjawab, Luhan malah tertawa semakin terbahak – bahak.

"Yaa, Tuan Oh! Ada hitam – hitam di hidungmu. Hahaha..", ujar Luhan semakin tertawa terbahak – bahak. Sehun lalu meraba hidungnya dan menemukan pasta coklat yang tadi menempel di hidungnya akibat ulah Chanyeol yang melemparinya dengan roti tawar isi pasta coklat .

"Park Chanyeol sialan!", geram Sehun. Luhan lalu menghentikan tawanya melihat wajah Sehun yang serius.

"Ah, mianhe aku mentertawakanmu.", sesal Luhan.

"Tak apa, kau tidak salah. Untung saja tadi kau mentertawakanku, kalau tidak ketika nanti kita pulang malah orang – orang di jalan yang mentertawakanku.", ujar Sehun lalu mencium punggung tangan Luhan yang entah mulai kapan ia genggam.

"Hanya sebuah ciuman, aku langsung jatuh dalam pesonamu, Xi Luhan.", ujar Sehun kemudian.

"Aku juga. Just a Kiss, an incident kiss.", ujar Luhan.

"Yaa, Xi Luhan! Jangan berbicara dengan Bahasa Inggris, aku tak mengerti.", keluh Sehun.

"Ya ampun Tuan Oh. Kau ini sudah kelas 3 SMA tapi Bahasa Inggrismu masih buruk.", keluh Luhan.

"Bahasa Inggris itu sulit, Nyonya Oh!", protes Sehun pada Luhan.

"Apa tadi kau bilang?! Nyonya Oh?!", kapan aku menikah denganmu?", tanya Luhan geram.

"Nanti. Kau kan nantinya akan menikah denganku.", jawab Sehun.

"Ppabo, kau harus bisa bekerja di kantor ayahku dulu. Kalau kau tidak bisa, ayahku tidak akan mau aku menikah denganmu!", ancam Luhan.

"Ah,iya iya. Demi kau apapun kulakukan.", jawab Sehun.

"Eh, kok demi aku? Kau mau menyekutukan Tuhan, Tuan Oh?", tanya Luhan. Hah, berdebat dengan yeoja seperti Luhan itu tidak akan ada habisnya. Apalagi kalau mereka sudah menikah, dan pasti anak mereka nanti akan...eh, kok jadi membicarakan anak mereka? -_-

"Terserah kau saja, Xi Luhan. Ayo kerumahmu! Aku ingin bertemu ayahmu.", ujar Sehun lalu menarik tangan Luhan. Mereka lalu menuju ke rumah Luhan, mengendarai Lamborghini baru milik Sehun. Hadiah dari appa-nya seminggu yang lalu, karena Sehun berhasil melewati ujian tengah semester 2 dengan nilai yang sangat baik. Berterima kasihlah pada Luhan karena ialah yang membantu menaikkan nilai Sehun.

.

.

.

Mereka berdua sampai di rumah Luhan. Bukan apartemennya, ya...!

Mereka berdua lalu masuk dan disambut oleh 2 maid rumah Luhan.

"Ah, kalian berdua datang.", ujar appa Luhan yang turun dari lantai 2.

"Kalian sudah makan ?", tanya eomma Luhan.

"Sudah, kami baru saja dari cafe.", jawab Luhan. Sehun dan Luhan lalau duduk di sofa.

"Sehun – ah, apa kau akan meneruskan kuliah setelah lulus SMA?", tanya appa Luhan.

"Ye, mungkin akan mengambil jurusan bisnis.", jawab Sehun.

"Hah, Luhan inginnya ke musik, jadi appa percayakan perusahaan ini nantinya padamu.", ujar appa Luhan.

"Hhh! Appa selalu memuji – muji Sehun terus. Tuh, Sehun udah nyangkut di atap, saking senengnya dia dipuji appa terus, sampai melayang.", celetuk Luhan. Sehun hanya memberikan tatapan 'kau-ini-kenapa-sebenarnya' pada Luhan.

"Apa?", Luhan yang ditatap seperti itu oleh Sehun, bingung. Sehun hanya membenamkan kepalanya ke bantal sofa yang ia pegang tadi. Hhh, kapan ia berhenti bertengkar dengan Luhan!

"Hahaha, sudah – sudah, kalau kalian bertengkar terus, akan buruk untuk anak – anak kalian nanti.", ujar appa Luhan.

"Appa, kenapa appa ikut – ikutan Sehun, sih?", keluh Luhan pada appa – nya itu.

"Ya sudah, kalian bertunangan saja dulu.", ujar appa Luhan lalu pergi meninggalkan Luhan dan Sehun.

"Bertunangan ? Apa tidak terlalu cepat?", tanya Luhan.

"Tidak. Kalau kalian bertunangan, kalian akan terikat. Jadi tak usah khawatir.", jawab eomma Luhan yang tiba – tiba muncul(?) dengan membawa dua gelas jus jeruk.

"Terserah kalian saja.", jawab Luhan lalu berdiri. Tepat ketika Luhan akan pergi dari situ, Sehun menariknya sehingga mereka berdua terlibat insiden yang membuat mereka berdua jatuh dalam pesona masing - masing. Ciuman!

"Yakk, Oh Sehun apa yang kau...mmmppphh!", seru Luhan namun harus diinterupsi oleh ciuman Sehun. Kedua orang tua Luhan hanya tertawa melihat mereka berdua. How adorable they are!

THE END

Next part : Violent Love (SuLay Ver)

Hai, akhirnya setelah perjuangan keras nulis nih fanfic sampai aku lagi – lagi bertengkar sama eomma – ku, selesai juga chapter 2 nya.

Yeay, next chapnya SuLay, yippie!

Hahaha, aku HunHan HardShipper ya, SuLay no.2...

Mianhe, balasan review di sini aja ya... ;)

Ichanyeollie : Oke, ini udah lanjut. Thanks udah baca and ngreview.

lisnana1 : Oke,ini udah lanjut. Hahaha, masa sih keren? Padahal ancur itu ceritanya,

wkwkwk. Thanks udah baca and review : )

2: kristao? Ada kok, tapi masih nanti, hehehe... Thanks udah baca and

review... : )

L-chanLee: Kecepetan ya? Aduh, emang aku lagi stuck mikir akhiran ceritanya,

Jadinya aneh gitu deh... Thanks untuk read and reviewnya ya...

LD : Masa sih so sweet? Hehehe, padahal ancur banget loh ini...Thanks udah

read and review...

Ikki Ka Jung99: Iya, mereka malu – malu kucang, eh kucing...hahaha... Thanks udah baca

and review