Saber Goes To School

Author: Livi Gamanganime

Disclaimer : Fate/Stay Night is not mine !

Genre(s): School life, romance

Well.

Thanks for the review.

Maaf lama, soalnya buntu ide nih.. Trus ada some kind of writers block

Tapi untungnya skarang uda update nih. Wohoo !

So, without further ado, This is it !

"Txt" Dialog

'Txt' Membatin

*A/N : Txt* Author's Note

XxX Fate-Stay-Night XxX

"Ini lapangan."

Aku mengangguk angguk kecil.

Sejujurnya, aku sudah mengenali lingkungan sekolah ini. Rider pernah menyerang Shirou dan aku dipanggil ke sekolah ini.

Aku sempat menghafal dan mempelajari denahnya, siapa tau sekolah ini akan dipakai sebagai medan perang lagi.

"Kira-kira itu saja. Ayo kita kembali ke kelas."

Aku mengikuti Issei. Ia masih terlihat salah tingkah sejak dari taman tadi.

'Sebenarnya dia kenapa sih ?' Aku kebingungan. *A/N: maklumlah ya, Saber khan masih polos xp*

XxX Fate-Stay-Night XxX

Di kelas,

"Issei, kau dipanggil Sawako-sensei. Ayo, cepat!"

"Ah, baiklah," Issei menoleh padaku "Kau cobalah berteman dengan yang lain, aku pergi dulu. Bye!"

Ia berlari lari kecil menyusul anak yang tadi menyuruhnya pergi.

Aku kembali duduk di kursiku. Menatap jendela yang persis disampingku.

"Saber, kau tadi ngapain dengan Issei?"

"Tidak kenapa napa"

"Aah, kau tidak perlu berbohong. Issei tidak pernah bersikap semanis itu pada cewek manapun."

"Rin, diamlah," Aku kesal dengan sikapnya.

"Huh, ga asik!" Rin terlihat kecewa. "Ya udah. Aku mau pergi ke kantin, mau ikut ga ?"

"Tidak, terima kasih. Aku sudah makan tadi bersama Issei," Aku teringat saat kami makan di kantin tadi.

"Dan kau bilang tidak kenapa napa? Itu apa-apa tau!"

"Katanya mau ke kantin tadi ?" Aku mulai jengah diinteriogasi oleh Rin.

"Ah, ya sudah." Rin pergi. Kulihat samar-samar Archer mengikutinya. Ia menatap penuh arti padaku.

Aku tidak mengerti arti tatapannya itu.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.

Perlahan semua tempat duduk terisi penuh oleh murid kelas ini.

Aku masih belum tahu semua anak di kelas ini.

'Semuanya butuh proses'

Kulihat Shirou yang duduk di ujung belakang. Aku belum menyapanya sama sekali sejak tadi.

'Tidak perlu juga sih, aku kan tinggal bersamanya' Aku tersenyum kecil

Taiga-sensei memasuki kelas, sejujurnya, aku penasaran dengan gaya mengajarnya. Ia tidak terlihat seperti guru kalau bertemu denganku di rumah.

"Buka halaman 126, baca materi itu sampai selesai, lalu buat rangkumannya" Ia berkata dengan nada serius dan duduk, kemudian ia membaca Koran

'Ia amat tidak cocok menjadi guru.' Aku menghela nafas dan mulai membaca.

Tak lama kemudian, Taiga-sensei dipanggil oleh seorang guru dan keluar dari kelas. Semua murid menghela nafas lega dan mulai ribut.

Aku bingung, 'Mengapa tidak ada yang membaca dan merangkum lagi?'

Aku melihat Satou sedang tidur dan Rin sedang asyik sendiri. Aku kebingungan.

Sekumpulan cewek menghampiriku, sekitar 8 orang.

"Hai Saber!" Kata salah satunya ceria. Tetapi aku bisa menangkap nada sinis.

Mereka menyebutkan nama mereka satu persatu.

Aku tersenyum, "Senang berkenalan dengan kalian"

"Kami ke sini bukan untuk berkenalan denganmu." Kata salah seorang cewek, kalau tidak salah.. Rie

Aku mengernyit tak mengerti, "Lantas?"

"Kau tadi berjalan berdua dengan Issei, benar?" Kata seorang lagi, entah siapa.

"Benar" Aku tidak mengerti. 'Apa mau mereka?'

"Biar kuingatkan, MENJAUHLAH DARI ISSEI!" Kata entah siapa dari kerumunan itu.

Aku semakin heran, aku membuka mulut untuk bertanya, tetapi mereka memotongku.

"Issei itu ketua OSIS di sini, ia sangat populer."

"Ia jago olahraga, Ia bertanggung jawab, dan dia sangat tampan"

"Kami sudah menjadi fansnya sejak pertama, tetapi kau, anak baru, malah berdekatan dengan dia seenanknya"

"Kau kira kau akan lolos dari perbuatanmu ini, Hah? Anak baru aja."

"Menjauhlah darinya, atau rasakan akibatnya."

Mereka berbicara bergantian dengan cepat dan meninggalkanku begitu saja.

Aku tak mengerti, aku tak peduli.

Aku kembali pada bukuku dan merangkum.

XxX Fate-Stay-Night XxX

Malamnya, kediaman Shirou.

"Saber, kau hebat sekali," Rin sedang bergabung dengan kami saat makan malam.

"Maksudmu?" Sakura bertanya pada Rin. Aku terdiam

"Ia menjawab semua pertanyaan guru dengan fantastis. Ia sangat pintar. Semua guru memujinya tadi. Benar kan, Shirou?" Rin menjelaskan dengan semangat .

Shirou terdiam, ia menatapku sejenak, lalu mengangguk.

"Biasa saja. Pertanyaan tadi hanyalah matematika sederhana dan pertanyaan sejarahnya adalah pengetahuan umum" Aku berkata

"Trigonometri kau bilang sederhana?" Taiga menimpali.

"Bagaimana kau tahu bagaimana, siapa, dan kapan Jepang menjajah saat PD II? Itu bukan pengetahuan umum." Shirou akhirnya berbicara. *A/N: Di Jepang, mereka tidak pernah mengajar bahwa Jepang pernah menjajah Indonesia*

Aku tersenyum kecil, "Pengalaman adalah guru yang terbaik"

XxX Fate-Stay-Night XxX

Kamar Saber, 22.10

Aku sudah siap ingin tiduar, saat seseorang mengetuk dan menggeser pintu kamarku.

"Shirou, kenapa?"

"Kau masih ingin melanjutkan sekolah?" Ia bertanya, matanya terlihat khawatir.

"Tentu saja, memangnya kenapa?"

Ia menghela nafas, "Tidak apa-apa. Beristirahatlah."

Kemudian ia keluar. 'Kenapa dia?'

XxX Fate-Stay-Night XxX

-Shirou's POV-

Dia sama sekali tidak menyadarinya.

'Untuk seseorang yang pintar, ia sangat bodoh.'

Aku menghela nafas sekali lagi.

Bila begini terus, Saber akan berada dalam masalah.

Masalah yang besar.

XxX Fate-Stay-Night XxX

Gimana? Gimana?

Maaf kalo agak gaje. Agak bingung sih.

Umm, Kayaknya aku akan menyelesaikan cerita ini dalam 4 chapter.

Yah, itu kira-kira sih. :p

Mungkin update untuk chapter berikutnya akan agak lama. Soalnya ada tes banyak nih! *Hufff*

For now, RnR pls !

If you read and review my stories, I'll definitely read and review your stories!