Maaf kalo endingnya jadi GJ, kerja sama dengan imajinasi sendiri untuk ending cerita.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

CHAPTER 2

Kujalani hidupku seperti biasa. Setiap harinya, aku masih datang ke taman itu. Kadang ada niat untuk bertemu dengan dirinya yang tak pernah kuketahui namanya. Atau kadang hanya datang untuk bersantai. Jika aku tak bertemu dengannya, aku akan datang ke toko milik Venezia. Gadis cantik yang mirip Hungary. Namun dia memiliki kecantikkan dari Italy, yang jelas membedakkannya dari Hungary-san.

Aku bertemu dengan dia yang tak kuketahui namanya, di hari rabu kemarin. Namun setelah itu, kami tak bertemu lagi. Aku pernasaran dengan dirinya. jadi aku mengikutinya, begitu kulihat sosoknya di depan rumah Prussia. Aku tahu ini salah, tapi kenapa dia bisa bersama Prussia? Begitu pertanyaan itu terjawab, akankah aku tahu siapa dirinya?

Baru saja di masuk ke rumah Prussia. Kelihatannya mereka sudah kenal sejak lama. Pintu itu tetutup. Aku terdiam di bawah pohon, di seberang rumah itu. Aku lupa betapa banyak rahasia yang tak seharusnya orang lain tahu. Aku lupa jika ketakutan mengatakan kejujuran akan selalu ada bersama dengan datangnya sebuah rahasia. Prussia memiliki banyak rahasia yang ia sembunyikan, yang seharusnya tak kuketahui, yang seharusnya ia simpan.

Sudah dua jam aku berada di seberang rumah Prussia. Aku yang mulai bosan, akhirnya bermain dengan kucing yang melewatiku, duduk bersamanya di bawah pohon. Aku sempat tertidur untuk waktu yang cukup lama sembari memeluk kucing dipangkuanku, kuharap mereka tidak keluar ketika aku tertidur karena bosan. Aku mulai bosan bermain-main dengan kucing. Bosan, aku menarik ekor kucing gendut yang sedang di pangkuanku. Kucing itu mengamuk dan mencakar tanganku dan pergi. "Ouch!" rintihku. Aku pun sendirian lagi.

Pintu rumah Prussia terbuka. Akhirnya! Aku langsung berdiri dan berpegangan pada badan pohon. Mereka berdua keluar. Sepertinya lebih akrab dari pada yang sebelumnya. Aneh. Apa laki-laki tanpa nama itu membawa buku sebelum masuk? Apakah ekspresi di wajah Prussia mengatakan 'aku-awesome-dan-kau-tidak' atau itu hanya perasaanku saja? Bisa terbayangkan di telingaku suara tawa 'kesesese' Prussia. Prussia memang dikenal kelewatan narsis. Tapi ia kadang menjadi orang yang sangat bertanggung jawab. Aku tak lupa menyebutkan kadang, kan?

Ah, mereka mengucapkan salam perpisahan. Aku ingin sekali berteriak pada Prussia, namun jika mereka dekat, Gilbert akan memberitahukannya dan dia yang sudah jarang kutemui, takkan bisa kupaksa untuk mengatakan yang sebenarnya. jadi, aku memutuskan untuk mengikuti dia, seandainya dia punya nama, aku tak perlu menyebutnya dengan ganjil begini.

Jadi, di sinilah aku berakhir. Aku kehilangan jejaknya di taman ini. Jadi kuputuskan untuk duduk di bangku taman yang sama. Walau sepertinya ini terlalu awal, tapi dia datang. Aku sempat tak tahu kemana ia pergi sampai lima menit yang lalu ia muncul entah dari mana. Semoga dia bukan iblis atau setan dan semacamnya.

Kami terdiam di bangku taman. Buku yang ia pegang bertuliskan "Diary of an awesome, me." Melihat judulnya saja aku sudah tahu kalau itu salah satu Diary milik Prussia. Tak ada orang lain lagi yang mau memanggil dirinya 'Awesome'. Dan, kami sudah cukup lama duduk di sini tanpa membicarakan apapun. Ia kelihatan keras ingin menutupi judul dari buku itu, namun gagal besar.

"Apa yang kau lakukan pada tanganmu?" tanyanya, akhirnya dia bicara!

"Ve~? Aku menarik ekor kucing di jalan," jawabku. Aku mengelus pelan luka di tanganku.

Dia terlihat terkejut. Sedetik kemudian dia tertawa. Terbahak lebih tepatnya. "Apa yang membuatmu berpikir untuk menarik ekor kucing itu?" tanyanya di sela-sela tawanya.

"Dia akan menjerit, Ve~" dan tawanya semakin meledak.

"Oke, cukup," ujarnya pada dirinya sendiri, dan ia berhenti tertawa. "Aku sudah bertemu dengan orang yang kucari," ujarnya. Aku menatapnya. Ekspresinya berubah menjadi kaku. "Ternyata bukan dia yang terkejut," lanjutnya. "Tapi aku. Aku terkejut dan tak tahu bagaimana harus menghadapinya. Bagaimana harus bertingkah di depannya."

Aku terdiam. Tak kusangka ia memiliki masalah yang cukup serius. "Ingat waktu aku bilang kau mengingatkanku pada seseorang?" tanyaku.

"Ya," dia tertawa. "Aku mengingatkanmu pada seekor kucing," ucapnya disela-sela tawanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum. "Kau memang mengingatkanku pada seseorang," ujarku. "Seseorang yang sudah tak bisa kujangkau," gumamku. Dia terdiam. Begitu pula aku. Aku mengakhiri kebisuan itu dengan tersenyum padanya. "Aku baru ingat aku belum pernah mengenalkan diri padamu," ujarku. "Veneziano Vargaz. Kau bisa memanggilku, Italy."

Dia tersenyum. "Aku sudah tahu," ujarnya.

Aku terkejut. "Dari mana kau—" aku terdiam melihat senyumnya. Ia bangkit dan meninggalkan bangku taman. Aku masih diam dengan mulut terbuka, tak percaya aku tertipu dengan senyumnya. Laki-laki itu dengan mudah kabur dariku ketika pertanyaan tentang dirinya datang, lagi. Aku menggumam, mengutuk. Kuharap waktu masih cukup panjang untuk mengetahuinya.

Kubuka mataku ketika gedoran pintu membangunkanku. Aku bangun dan duduk sebentar untuk benar-benar menyadarkan diri. Aku baru menyadari kalau aku tertidur di sofa. Kuusap mataku beberapa kali sembari berjalan ke arah pintu. Kubuka pintu dan kulihat sosok Romano sedang berdiri di depanku dengan tubuh yang bergetar. Ku gerakkan kepalaku ke samping—mempersilahkannya masuk. Romano masuk dan tercium dari tubuhnya bau alcohol. Dia mabuk?

Kututup pintu dan kuikuti dia. Kami duduk berhadapan. Tanpa perlu bertanya, matanya yang merah menandakan ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Spain. Aku menatapnya, menunggunya bicara. Aku menguap beberapa kali karena ia tak kunjung bicara. Akhirnya, setelah beberapa kali aku menguap, ia mengangkat wajahnya dan menatap meja, mulai bicara.

"Aku muak dengan Spain," gerutunya.

Memang kau pikir aku tidak? "Apa yang terjadi?" tanyaku.

Romano mengerutkan keningnya. "Kami berada di bar saat France dan Amerika datang dan bergabung. Mereka mabuk dan mulai menghina hubungan antar Negara. Awalnya aku hiraukan. Tapi mereka mulai keterlaluan."

France dan Amerika, kombinasi tak terkalahkan. "Jadi kau membentak mereka?"

Romano menggeleng. "Aku menyindir mereka. Layaknya orang tak bersalah mereka menjelekkan aku dan Spain. Padahal Amerika juga sama saja dengan si alis tebal itu," ujarnya. "Lalu mereka malah menyiramku dengan bir. Aku naik darah dan mulai memukul France. Saat France ingin membalas, ia malah memukul Spain yang melindungiku. France mencoba memukulku lagi, tapi Amerika menghentikkannya. Jadi aku lari ke sini."

Aku memutar bola mataku. "Kenapa kau malah lari, bukannya membela Spain?" tuntutku.

"Aku tak memintanya," elak Romano.

Aku langsung bangun dan meninggalkan Romano di ruangan itu. Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Kuambil bir yang kemarin di bawa oleh Prussia dan masih tersisa. Kuletakkan bir-bir itu di depan Romano dan aku duduk kembali. "Tenangkan dirimu dengan bir," ujarku.

Romano mengambil satu dan langsung menghabiskannya dalam waktu sekejap. Aku jelas akan langsung mabuk jika aku menjadi dirinya. Setengah botol sudah bisa membuatku mabuk berat. Aku lemah dalam hal ini. Romano dengan agresif mengambil botol lainnya dan meminumnya dalam satu tegukkan. Dengan puas ia membenturkan botol kosong itu dengan meja. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya dia tak suram lagi.

Aku bangkit untuk pergi tidur. Ia pasti takkan bertahan lebih dari tiga botol. Ketika aku membuka pintu kamar, Romano mengejutkanku dengan bibirnya yang menempel di leherku. Aku menghela nafas dan menjauhkan mukanya dariku. Tapi Romano lebih kuat dariku, ia menempelkan tangannya di pipiku dan memaksa wajahku untuk menoleh. Di tempelkannya bibirnya di bibirku. Dia langsung memaksaku meminum bir yang berada di mulutnya. Mataku setengah terbuka ketika harus meneguk bir di dalam mulutku. Di wajahku, aku bisa merasakan senyumannya.

Ia mengubah posisinya—ia berdiri di depanku. Ciumannya di bibirku terasa semakin mengganas. Dia mulai mendorongku perlahan menuju ke tempat tidur. Bir itu mulai bekerja di tubuhku. Tubuhku tak lagi mengikuti keinginanku. Romano menyadarinya dan mendorongku ke tempat tidur. Ia membuka kemejaku dan menyapu telingaku dengan lidahnya. Ia mencium leherku dan terus turun ke bahu. Aku mengerang beberapa kali ketika ia meninggalkan bekas. Aku memalingkan wajah ketika Romano 'bermain' dengan tubuhku.

Ia menyapu seluruh tubuhku dengan lidahnya. Aku sedikit melawan ketika ia hendak memasukkan tangannya ke dalam celanaku. Namun langsung kalah dengan ciuman panas dari Romano. "Nnnn…" Aku mengerang pelan ketika ia menyentuh milikku dan menekannya. Aku lupa sejak kapan Romano sudah meninggalkan pakaiannya dan juga sudah berhasil membuka celanaku dan melemparnya ke sudut ruangan. Romano menekuk kedua kakiku, melepaskan ciumannya. Kukira itu semua sudah selesai.

"Nnnnngggaaahh…" kaget, aku mengerang kencang. Romano memasukkan tiga jarinya langsung ke dalam diriku. Mataku yang terbelalak mulai mengeluarkan air mata ketika jari-jarinya bergerak. "Nnnnn… henn.. tikan… kaaaak…" pintaku. Romano menciumku, lagi. "biarkan aku melakukannya, dik," bisiknya di sela-sela ciuman kami. Aku memalingkan wajah ketika ia menghentikkan ciumannya. Ia mengeluarkan jari-jarinya. "Spain," gumamku. Dapat kulihat Romano terpaku begitu nama itu kusebut. Kutatap dirinya. "Kau tak sungguh-sungguh ingin melakukan ini, bukan?" tanyaku.

Pipi Romano dibasahi oleh cairan yang mengalir dari sudut mata. Ia menghentikkan apa yang dia coba lakukan padaku. Ditutupi wajahnya dengan satu tangannya dan ia mulai menangis. Aku bangun dan mendekati dirinya. Kutarik dengan pelan kepalanya dan kusandarkan di bahuku. Ku elus rambutnya perlahan—menenangkan dirinya. tak ada kalimat lagi yang perlu diucapkan. Tak ada lagi yang harus dilakukan. Hanya diam dan menunggu semua kesedihan itu meluap melalui air mata di matanya.

Sinar matahari masuk melewati jendela dan menyusup ke bawah selimut. Mataku terbuka. Disampingku ada Romano dengan matanya yang sembab. Kulepaskan pelukanku darinya dan aku keluar dari selimut yang menyelimuti kami semalam. Aku mencari pakaianku yang di lempar oleh Romano dan kukenakan kembali. Semalam ia tertidur dalam keadaan menangis. Aku terus memeluknya—menenangkan dirinya. Inilah salah satu alasan aku membenci Spain, ia terkadang membuat kakakku kacau.

Seandainya ada orang lain yang bisa membuat Romano lebih bahagia, ingin rasanya aku mencekik Spain di depan semua orang. Tapi, sayangnya, Spain adalah orang yang paling kakak cintai. Romano adalah orang yang tak pantas dianggap sebelah mata jika ia sudah menyayangi seseorang. Ia akan membela mati-matian orang itu hingga nafas terakhirnya. Ia akan berlagak layaknya dia yang terkuat, namun ia akan menangis jika seseorang menyakiti orang yang ia cintai. Dengan tidak rela, kupanggil orang itu Spain.

Kubuka tirai jendelaku, cahaya yang masuk membuat mata silau. Kulirik Romano dan ia sedang meringkuk seperti bayi. Aku tertawa tanpa suara melihat dirinya. rasanya sudah lama sekali sejak terkhir kali kami tidur bersama. Sebelum kami dipisahkan, setiap hari kali selalu tidur bersama. Terutama di hari hujan. Aku takut pada petir dan selalu menempel pada Romano jika petir itu belum berhenti. Tapi entah kapan tanganku tak lagi sampai meraihnya.

Aku keluar dari kamar, meninggalkan Romano yang masih terlelap dan kubersihkan diriku. Tak butuh waktu lama untuk membersihkan diri. Aku melewati telepon di ruang tamu dan langkahku langsung terhenti. Aku menatap telepon itu cukup lama. Akhirnya aku menghela nafas dan menelpon Spain—memintanya menjemput Romano. Kututup telepon begitu Spain terdiam di seberang sana cukup lama begitu kujelaskan keadaan Romano semalam. Kuharap ia tak marah pada Romano.

Aku menyiapkan sarapan pagi sembari menunggu kedatangan Spain. Romano, sudah lima menit yang lalu ia bersuara dan berteriak-teriak di kamar akibat sinar matahari yang membuat tidurnya tak lagi nyaman. Ia mengutuk dan mengomel pada sinar matahari, khas Romano. Ketika pasta sudah kusajikan di meja makan, Romano keluar dengan rapih. Ia melihatku di dapur dan langsung menghampiriku. Terlukis perasaan bersalah di wajahnya dan aku diam, berpura-pura tak tahu.

"Pasta, seperti biasanya," gumamnya, mencoba memancing pembicaraan. Aku tersenyum padanya dan melepas apron yang kukenakan dan duduk di kursi, Romano mengikuti—duduk di sampingku. Ia hendak memakan sarapannya ketika perasaan bersalah itu sudah tak lagi bisa dibendungnya, terlihat jelas di wajahnya. "Aku ingin minta maaf mengenai semalam," ujarnya dengan jujur.

Aku melahap sendok pertamaku. Aku mengangguk mendengar ucapannya. Dia melanjutkan ucapannya, tahu aku takkan merespon sampai semua ucapannya selesai. "Aku benar-benar melakukan hal yang bodoh kemarin. Aku, mabuk dan, labil. Aku tak tahu lagi apa yang akan kulakukan jika kau tidak menghentikanku," hening sebentar menghampiri. "Aku benar-benar minta maaf, Italy."

Aku sudah sampai ke sendok ke lima ketika ia selesai bicara. Kuletakkan alat makanku dan kutatap dirinya. "Kau hanya perlu menebus dosamu dengan membantuku menghabiskan pasta ini dan mencuci piringmu sendiri," ujarku. Dia menatapku dan sedetik kemudian senyum terindahnya sudah terpahat dengan sempurna di wajahnya. Aku melanjutkan acara sarapan pagiku. "Kau bisa selalu datang padaku jika kau butuh. Aku masih adikmu, kak."

Sarapan pagi itu dihabiskan dengan lebih banyak keheningan. Setelah kami menghabiskan sarapan pagi kami, Spain datang dan menjemput Romano. Wajah gembira Romano langsung berubah datar begitu melihat Spain. Kurasa mereka bisa menyelesaikannya sendiri, jadi kubiarkan Romano pulang tanpa mencuci piring makannya. Yah, aku bisa mencuci satu tambahan piring di pagi hari saja. Kuharap Spain bisa mengalah demi Romano dalam masalah ini.

Waktu berlalu dengan cepat. Aku mulai lelah bermain dengan laki-laki tanpa nama itu. Aku sudah mencoba berkali-kali untuk menanyakannya. Namun dia selalu berhasil untuk mengelak dari pertanyaan itu. Akhirnya aku mengambil jalan terakhir, bertanya pada Prussia. Aku awalnya kurang yakin dengan keputusanku. Tapi, aku sudah tak tahan lagi berteman dengan bayangan sosoknya. Aku ingin tahu siapa dirinya!

Prussia menyambutku dengan hangat. Ia menyuruhku untuk menunggu di ruang tamu sementara ia meletakkan pasta pemberianku di suatu tempat. Ketika ia kembali dan duduk di depanku, kepalan tangan di pahaku mengencang. Prussia masih tersenyum-senyum dan aku langsung menyerangnya dengan tujuanku datang kemari. "Apa kau tahu laki-laki yang kau berikan Diary-mu itu?"

Sesuai dugaan Prussia langsung terdiam, terkejut. Ia sepertinya tak menyangka bahwa aku akan tahu. Atau orang lain. Prussia menghela nafas dan mengubah posisi duduknya. "Bagaimana kau bisa tahu tentangnya?" tanya Prussia, suaranya tenang, seolah sedang mengajarkan seorang anak tentang baik dan buruknya sebuah tindakan. "Kami pertama kali bertemu di taman," ujarku. Prussia langsung menjauh beberapa senti dan meletakkan lengannya yang terlipat di pinggir sofa—menutupi mulutnya dengan tangannya. Ia tak bicara selama beberapa menit.

Prussia menatapku setelah ia bisa menguasai dirinya terhadap pertanyaanku. "Kau mau tahu siapa dia?" tanya Prussia. Aku mengangguk. "Untuk itu aku ke sini," ujarku. Prussia mengubah posisi duduknya. Kini ia condong ke depan dengan kedua sikutnya ia letakkan di pahanya—kedua tangannya berkaitan. "Dia adikku," ia segera bicara lagi sebelum aku bisa menyelanya. "Ia adikku yang hilang ketika perang. Dia baru muncul di hadapanku beberapa tahun yang lalu."

"Namanya Germany," ujar Prussia. Aku terdiam. Mereka tidak terlihat mirip. "Kau pasti berpikir kalau ia berbeda denganku," tuntutnya. Aku langsung menatapnya, terkejut. "Kami dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Jadi kami tidak semirip adik kakak yang lainnya," ujarnya. "Seperti Amerika dan Kanada," sergahku. Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Prussia tersenyum pahit. "Ya, tapi aku bukan kakak yang hebat untuknya," ucap Prussia.

Pembicaraan kami berubah. Tak lagi membicarakan lelaki, eh, tentang Germany lagi. Aku cukup lama berada di rumah Prussia. Ia tetap bersikap sama denganku, memanjakanku layak adiknya. Setelah langit biru berubah menjadi mega, aku memutuskan untuk pulang. Aku melangkahkan kakiku dengan cukup ringan setelah akhirnya tahu siapa laki-laki itu. Pantas dia tahu siapa diriku, Ve.

Keesokan harinya, kucoba untuk menemuinya kembali. Aku mencoba memanggil namanya untuk yang pertama kali, dan dia terkejut. Aku tahu aku sudah masuk dengan tidak sopan ke dalam hidupnya, menanyakan tentangnya pada Prussia. Rasa penasaran ini menggelitik tubuhku. Aku tak mau memiliki teman tanpa tahu siapa namanya. Apa itu yang namanya teman?

Aku tak menyangka reaksinya akan menjadi buruk. Dia sama sekali tak bicara denganku lagi. Ia langsung pergi. Kurasa ini memang salah. Aku tak seharusnya begini.

Aku berjalan pulang sembari memikirkan kembali apa yang sudah kulakukan. Aku menyesal. Mungkin sebaiknya aku memberinya waktu.

Kutatap sosok yang terpantul di jendela kaca. Laki-laki berambut coklat dengan keriting yang mencuat. Ia bermata coklat. Dan mata coklat itu kini terlihat sedih. Kutempelkan keningku ke jendela kaca, entah milik siapa. Hah, seharusnya tak begini. Kenapa Germany harus semarah itu?

Aku kembali berdiri dan berjalan pulang lagi.

Hari itu aku membuat keputusan terbodoh dalam hidupku.

Aku menunggu Germany di tempat biasanya. Walau baru pukul tiga, aku sudah menunggunya di bangku taman ini. Aku lengah dan aku sudah membiarkan dia terlalu jauh mengetahui semua hal tentangku. Aku juga akan mulai berhenti terlalu sering Venezia. Aku ingin kembali menjadi diriku yang dulu, memakai topeng yang tak tertembus oleh siapapun. Beberapa retakkan di topeng itu membuat angin masuk begitu saja. Aku akan memperbaiki topeng itu dan membuatnya sesempurna mungkin.

Kudengar suara langkah kaki. Aku tahu dia akan datang. Dia pasti sudah mendengarnya dari Prussia. Aku tak perlu menyuruhnya untuk duduk, ini bukan rumahku. Dia juga tak perlu berbasa-basi untuk memulai pembicaraan. Karena pembicaraan ini akan selesai bahkan tanpa ia sadari.

"Kemarin kau datang ke rumah Gilbert," nadanya bagai menjelaskan pada seseorang. Ia melepaskan topi yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.

Aku mengangguk. Kami terdiam dalam hening. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya. "Hal seperti ini harus dihentikan, bukan?" tanyaku. Dia menoleh padaku. Aku tersenyum. "Mari berhenti bertemu di taman ini," ucapku dengan ringan.

Tiga detik, kulihat matanya terbelalak. Kemudian ia menatap lurus ke depan—ia menyandarkan punggungnya pada bangku taman. "Ingat pada gadis yang kutinggalkan saat perang?" tanyanya, aku mengangguk. "Ia kini sudah menjadi egois dan menutup diri. Ia selalu memuja masa lalu dan enggan beranjak ke masa depan. Ia mengenakan 'topeng' yang tak bisa menyembunyikan dirinya, luka di sekujur tubuhnya akibat perang, luka di hatinya akibat diriku," ujarnya, ia menatapku.

Aku mengerutkan kening, lalu? Ada hubungannya denganku? Dia kembali menatap ke depan. "Aku terluka parah ketika perang. Tubuhku sudah tak lagi bisa kugerakkan. Aku tak lagi bisa bernafas dengan lancar. Aku memejamkan mataku dan menunggu kematian. Tapi, kematian itu datang lama sekali. Akhirnya ada seseorang yang menemukanku. Dia merawatku hingga sembuh. Tapi, aku kehilangan ingatanku, shok akibat perang. Aku tak bisa mengingat siapa diriku dan bagaimana aku bisa berakhir dengan banyak tulang yang patah dan retak. Ia akhirnya menamaiku Germany.

"Aku dibesarkan menjadi diriku yang sekarang. Sampai suatu hari, ingatanku kembali satu persatu," ia menatapku. "Ingatan yang pertama kali kuingat adalah, aku mencintai seorang gadis yang cantik. Keluarga, Prussia. Janjiku pada gadis itu, dan air matanya ketika ia harus berpisah denganku," ujarnya. Germany mengeluarkan sebuah kanvas berlukiskan diriku yang sedang tertidur. Aku tersentak. Jika dia memilikinya, maka—, aku tak mau melanjutkan pikiran itu. "Ia lah yang selama ini kucari." Ucapnya pelan. Germany mengeluarkan buku jurnal yang kemarin ia bawa. Ia menyerahkannya padaku.

Kupegang buku jurnal yang berhiaskan darah. Kubuka halaman perhalaman. "Ini milik Shinsei Roma," bisikku lirih. Kusentuh tulisan tangannya yang indah. Ini benar-benar miliknya. Kutatap Germany dan ia sedang tersenyum. "Gadis yang kucari ternyata adalah dirimu, Italy. Aku terkejut ketika tahu bahwa kau bukan perempuan. Untuk memastikan, aku bertanya pada Prussia," ujarnya. "Aku menatapmu sekarang, dan bisa kulihat dirimu yang sesungguhnya. Bukan yang palsu seperti yang biasa kau lakukan untuk menipuku," ia tersenyum.

Air mataku menetes di buku jurnal. Air mata yang jatuh di pipiku, mengalir dengan perlahan ke bawah, jatuh ke atas kertas yang sudah lusuh dan penuh dengan percikan darah. "Kumohon," bisikku dengan lirih. "Hentikan semua ini," pintaku. "Hentikan semua kebohongan ini. Kau berhasil. Kau melukai perasaanku. Jadi hentikan," pintaku tanpa menatapnya, pandanganku kabur oleh air yang menutupi mataku.

"Aku mulai menjauhimu karena takut kau akan mengetahui yang sebenarnya. Aku tak ingin menghancurkan semua imajinasiku tentang diriku, yang masih hidup di hatimu," ujarnya. Ia mengangkat tangannya dan menghapus air mataku dengan jari-jarinya, aku menutup mataku. "Aku tak bisa mengenali dirimu yang sudah bisa berdiri dengan tegak. Aku tak bisa menyentuhmu dengan kedua tanganku. Aku sudah membuatmu menunggu lama. Memikirkannya saja membuat diriku tersiksa. Tapi aku tak menyangka bahwa kau lebih tersiksa dariku, Italy."

Mataku terbuka setengah setelah kupaksa tertutup—menjatuhkan semua air mata di mataku. Ia mendekatiku dan mencium keningku, aku kembali menutup mataku—meresapinya. Bibirnya turun ke ujung mataku, menghapus air mataku. Jantungku berdetak sekeras bel di katredal. Ia kemudian menjauh lagi. Kubuka kedua mataku. Lagi-lagi senyum itu terpahat di wajahnya. "Kau mulai menggeser roda gigi yang berhenti bergerak di dalam diriku. Aku tak mau kau merubahku, mengisi apa yang sudah hilang dariku. Kupikir, menjauh darimu adalah yang terbaik. Tapi aku tak pernah menyangka—"

"Bahwa aku masih hidup," sergahnya. Aku dan Germany sama-sama terdiam. Matahari sudah hampir menghilang. Kami terdiam cukup lama. Air mata yang tadi sudah di hapus oleh Germany, muncul kembali dan membuat wajahku basah. Aku menangis dalam hening. Germany mengambil tanganku dan menarik tubuhku untuk berdiri—aku menatapnya. "Kuantar kau pulang," ujarnya. Aku tak menjawab, hanya diam dan menunggu ia mengambil kembali jurnal… miliknya dan mengenakan kembali topinya. Ia melepaskan jaketnya dan di letakkan di pundakku. Aku menatap dirinya, tubuhnya penuh dengan luka yang sembuh dengan sendirinya. Lengannya yang berotot menggambarkan bagaimana keras ia berjuang bangkit dari kekalahannya.

Kami mulai berjalan. Tak ada lagi pembicaraan dalam perjalanan pulang kami. Aku terlalu sedih untuk bisa bicara. Sementara dirinya, aku tak yakin ia ingin mengganggu diriku yang sedang bersedih. Begitu kami sampai, aku menawarkannya untuk tinggal sebentar, namun ia menolaknya. "Aku tak mau merepotkanmu," ujarnya. Aku tersenyum sedih mendengarnya.

Keinginanku untuk menutup pintu terhenti oleh satu pertanyaan yang belum terjawab, "Ve~ terima kasih, Shinsei Roma," tak lebih dari sekedar bisikkan. Ia terdiam dalam satu detik yang panjang. Kemudian ia tersenyum sembari sedikit menurunkan posisi topinya.

"Aku Ludwig."

_fin_