For One Day Part 2.

Author POV

Menunggu itu begitu menyakitkan, menakutkan. Ryeowook belum siap, apa yang akan di dengarnya nanti? Bagaimana keadaan Yesung setelah ini? Apa dia baik-baik saja?

Dokter keluar dari ruangan. Aku menghampirinya dengan terburu-buru, hampir saja jatuh.

"Bagaimana, keadaan Yesung?" tanyaku perlahan. Dokter itu menunduk.

Ryeowook kelihatan cemas sekali. Ia mengerjapkan matanya. Menatap dokter itu perlahan. Air matanya menggenang di pelupuknya. "katakan padaku sejujurnya" ucap Ryeowook terbata. Ia menarik nafas.

"Kanker. Tidak akan lama lagi waktunya" ucap dokter itu. Air mata Ryeowook mengalir. Ryeowook terhempas ke lantai. Isakannya mulai terdengar, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Tidak, mungkin" ucap Ryeowook pelan. Dokter tadi membantunya berdiri.

"Dia tidak di rawat. Bahagiakan dia" ucap dokter itu tersenyum, lalu pergi.

Ryeowook mengetuk pintu kamar Yesung, mengintip sedikit. Yesung duduk di kasurnya, tersenyum pada Ryeowook. "Masuklah" ucap Yesung perlahan. Ryeowook masuk, menutup pintu, dan menghampiri Yesung. "Jangan sedih, ne?" tanya Yesung. Sepertinya Yesung sudah tau, bahwa Ryeowook mengetahui keadaanya. Ryeowook tersenyum sedih, mengangguk.

"Besok, kau harus temani aku ke taman bermain!" ucap Yesung tersenyum ceria. Ryeowook terdiam, mengangguk dalam. "Gomawoyo chagi" ucap Yesung pelan, meraih tangan Ryeowook dan mencium punggung tangannya. Ryeowook, merona merah di tempatnya. "Aish" ucapnya pelan. "Kau tidak suka?" tanya Yesung. "Tentu aku suka, hm?" ucap Ryeowook, mengecup pipi Yesung pelan.

Keesokan Harinya...

Yesung POV

Aku sudah berdiri di depan rumah Ryeowook, menjemputnya. Hari ini kami akan bermain di taman bermain Kon Doita. Tak lama, Ryeowook keluar. Ia mengenakan baju berwarna merah, sama sepertiku. "Sepertinya kita pakai baju berwarna sama ya" sapaku sambil tersenyum. Ryeowook melihat bajunya, dan menggaruk tenguknya, tersenyum manis.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ryeowook pelan. Aku mengangguk, tentu saja. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir ya" ucapku sambil mengelus rambutnya pelan. "Aku bawa obat kok" lanjutku. "Baiklah, aku percaya pada Yesung hyung" ucapnya mengandeng tanganku, dan kita menaiki bus menuju taman bermain itu.

"Kau mau naik roller coaster, chagi?" tanya ku pelan. Ia kelihatannya takut, tapi dia mengangguk pelan. "Tapi, aku takut yeobo" ucapnya perlahan. Aku memegang kedua pipinya, mencium keningnya. "Baikah kita cari yang lain" ucapku sambil berlari kecil. Ryeowook menahan tanganku, "tidak. Ayo kita naik roller coaster" ucapnya meyakinkanku. "Kau yakin?" dan dia hanya mengangguk.

Kami duduk di tengah. Ryeowook menggenggam tanganku, sepertinya ia sangat ketakutan. "Kau akan baik-baik saja wookie, kenapa kau takut?" tanyaku terkikik. Ekspresi wook itu tidak jelas sekarang, pucat. "Aku takut ketinggian hyung" ucapnya terbata. Tubuhnya bergetar. "Ayo kita turun. Cepat" ajak ku, berusaha melepaskan sabuk pengamannya. Tapi, Roller Coaster mulai berjalan.

"Berteriaklah wookie. Lepaskan semua ketakutanmu. Genggam tanganku, kau akan baik baik saja. Maafkan aku" ucapku pelan. Dia tidak menjawab. Roller coaster menanjak, lalu menurun dengan kecepatan tinggi. "AAAAAAAAAAAAAAA" Ryeowook berteriak keras, mengenggam tanganku keras. "AAAAAAAAAAAAA" akupun berteriak, menikmati angin di sekelilingku. Roller coaster mulai berputar,mengibarkan rambutku dan rambut wook ke arah yang berbeda.

Roller Coaster akhirnya berhenti. Wook menghela nafas lega, menatapku sambil tersenyum. "Seru hyung" ucapnya lalu turun. "Ternyata kau ketagihan kan? Kk" ucapku sambil merangkulnya. Wook memeluk pinggangku, lalu kami berjalan dengan langkah yang seirama.

"Kita akan ke mana lagi hyung?" tanya Ryeowook. "Arung Jeram, setuju?" "Baiklah"

Kami menaiki perahu arung jeram, aku mencengkram pengaman wook. "Ada apa?" tanyanya khawatir. "Ani, aku merasa lapar" ucapku pelan. Kami mengarungi sungai kecil itu, sejenak menenangkan perasaanku. Aku akan pergi sebentar lagi, aku ingin membahagiakan Ryeowook

"Ah, pakaian ku basah" ucapku pelan, mengibaskan bajuku. "Nanti juga kering hyung" ucap wook memeluk lenganku pelan. "Makan yuk hyung, katanya kau lapar" ajak wook. "Baiklah, mau makan apa wookie?"

"Aku mau ayam" ucap wook, mempoutkan bibirnya. Aku menyentuh bibirnya, dan dia tersentak. "Ayo kita makan ayam" ajaku ku. Aku mencari tempat, sedangkan wook membeli makanannya.

Tiba-tiba tubuhku merasa lemas. Pandanganku kabur, dan aku jatuh pingsan di tempat.

Ryeowook POV

Lagi-lagi aku melihatnya terbaring di ranjang rumah sakit. Dengan muka pucat, lemas. Aku mengelus pipinya pelan. "Yesung hyung" bisik ku pelan. Namun Yesung tak bergerak. Sepertinya ia tertidur lemas. Mungkin ia kecapean. Aku harus menjaganya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphoneku. Aku harus mengikuti lomba bernyanyi, sekarang. Dengan berat, aku beranjak. Aku mengelus pipi Yesung lagi. "Aku pergi dulu yeobo" ucapku pelan. "Aku akan kembali, tunggu aku" ucapku. Lalu berlari kecil menuju pintu keluar.

Author POV

Setelah Ryeowook pergi, Yesung terbangun. Ia memegang kepalanya, masih terasa berat dan pusing. Sebenarnya, daritadi Yesung tidak tidur. Ia terus memikirkan Ryeowook, namun ia tak berani membuka kedua matanya. Ia takut Ryeowook akan pergi. Ia ingin Ryeowook terus ada di sisinya. Tidak peduli apa yang terjadi, Yesung mencintainya.

Yesung mengambil secalik kertas, juga pena di atas meja. Ia berusaha menulis, untuk Ryeowook. Walau tulisannya berantakan, ia terus menulis. Sesekali Yesung meregangkan kedua tangannya. "Sepertinya aku tak bisa bicara denganmu lagi wookie" gumamnya pelan. Setelah 10 menit, surat itu selesai. Yesung melipat surat itu, menaruhnya di atas meja kecil di sebelahnya.

"Tok tok" tiba-tiba ada ketukan di pintu. Aku berusaha merebahkan diri, berpura-pura tidur, tapi terlambat. Dokterku masuk, tersenyum. "ada apa yesung?" tanya dokter itu, mendekati nya. Yesung, segera duduk kembali, menyender pada kasur, menggeleng. "Tidak apa, saya kira anda Ryeowook" ucap Yesung pelan, mengambil minum dari meja kecil, meneguknya.

"Ada apa dengan Ryeowook?" tanya Dokter itu, duduk di sebelah Yesung. Yesung menggeleng kecil, "Aku hanya ingin dia sudah melupakanku, aku sebentar lagi akan pergi. Tidak baik kalau dia menangis karenaku" ucapku pelan. Dokter itu mengangguk.

"Sepertinya aku akan pergi hari ini dok" lanjut Yesung pelan, tersenyum pelan. "Bagaimana mungkin?" tanya dokter itu, kaget. Yesung mengangkat kedua bahunya, "Tidak tahu. Sepertinya begitu" lanjut Yesung. "Aku menyayangimu nak" ucap dokter itu, menepuk bahu Yesung pelan. Yesung memeluk dokter itu perlahan, "Aku juga sayang kau, terimakasih" ucap Yesung

"Dokter, aku mencintai Ryeowook. Jangan biarkan dia sedih" ucap Yesung dengan tatapan kosong. Dokter itu mengangguk pelan. "Aku ada surat untuknya" lanjut Yesung, menunjuk surat yang tadi ia buat. Dokter itu melihatnya, "beritahu dia, aku menyayanginya" ucap Yesung.

"Akh" rintih Yesung pelan. Dokter itu memegang kedua bahu Yesung, menahannya. Yesung memejamkan kedua matanya, membukanya lagi. "Jangan lupa sampaikan bahwa aku mencintainya" ucap Yesung, tidur terlentang di kasur. Dokter itu tersenyum mengangguk.

Yesung memejamkan kedua matanya selamanya, tepat ketika Ryeowook memasuki ruangan.

Ryeowook POV

"Ah halo dokter, menjenguk Yesung hyung?" tanya ku pelan. Kututup pintu pelan, berjalan ke arah kasur. Dokter tadi kelihatan kaget, tersenyum. "Yesung hyung masih tidur?" tanyaku duduk di sebelah dokter.

"Tidak. Dia sudah pergi selamanya, wookie"

Kata-kata tadi masuk ke telingaku, menjalar ke seluruh tubuhku, sampai ke otak. Mataku membulat, nafasku tertahan. Bibirku tidak mau membuka, susah sekali untuk bicara.

"Sungguh?" tanyaku perlahan, air mataku mengalir perlahan. Dokter itu dengan menyesal mengangguk.

"Ini, bukan bohong kan?" tanyaku terbata. Air mataku mengalir makin cepat, melalui kedua pipiku, ke hidung, leher. Dokter itu hanya menunduk.

"Kenapa kau tidak bilang Yesung hyung? Kau jahat" ucapku di sela tangisku, aku berusaha menahan tangisku sebentar, namun tetap saja tidak berhenti.

"Dia bilang padaku, jangan mengkhawatirkan nya" ucap Dokter itu. Aku mengabaikannya, tubuhku masih bergetar hebat.

"Yesung bilang, dia menyayangimu, dia mencintaimu" lanjut Dokter. Aku menarik nafas panjang. "Dia, mencintaiku?" tanyaku. Dokter mengangguk. "Kalau begitu, kenapa dia tak bilang padaku hah? KENAPA?!" teriak ku. Aku memegang tangan Yesung hyung, dingin. Aku mengecup punggung tangannya, sampai air mataku mengalir di tangannya.

"Karena Yesung tak mau membuatmu khawatir"

"Aku juga mencintaimu Yesung hyung" ucapku memegang kedua pipinya. Aku mengecup dahinya pelan, lalu melepasnya. "Kau dengar? Aku mencintaimu" lanjutku, masih dengan air mata mengalir pelan.

"Akan ku katakan sampai kau bosan, saranghae, saranghae, saranghae..." ucapku terus, membuat air mata ku mengalir makin deras, membasahi kedua pipiku. Aku berusaha mengelap air mataku dengan tisu, tapi, nihil.

"Oh iya, ada surat untuk mu wook" ucap Dokter itu, meraih surat di atas meja, menyerahkannya padaku. "Untuk ku?" tanyaku. Dokter itu mengangguk.

Sambil berusaha menghentikan tangis, aku membuka surat itu. Membacanya perlahan, dari atas sampai bawah. Tanganku bergetar.

Wookie, apa kabar? Senangnya aku bisa mengenalmu begitu baik. Kita mulai bertemu kapan ya? Sepertinya sudah lama sekali, kalau tidak salah 10 tahun. Maafkan aku, aku lupa sekali

Kurasa kita begitu dekat ya, aku merasakan itu. Aku merasa nyaman berada di sampingmu, bagaimana denganmu? Sampai aku menyadari bahwa aku memiliki perasaan padamu. Namun aku tak berani mengatakannya, habisnya aku punya penyakit mematikan sih, aku takut kau kehilanganku

Apa kah kau mencintaiku? Kalau tidak ya tidak apa-apa, namun aku jatuh cinta padamu. Kau harus membiarkan diriku tetap jatuh cinta, jangan membiarkanku melupakanmu. Itu berat tahu, aku sudah pernah coba

Hm, bagaimana ya? Kurasa, sudah waktunya aku pergi. Aku tak mau kau kehilanganku n_n Jadi lupakan saja aku hehe, tapi jangan lupa bahwa aku akan terus mencintaimu. Aku akan menjagamu, karena aku menyayangimu. Aish, susah sekali menulis bagian ini. Aku terlalu grogi.

Lalu, tadi saat kau pergi, sebenarnya aku tidak tidur. Kau tahu? Aku takut menatap wajahmu, aku takut kehilanganmu, namun, aku tak akan pernah lupa wajah manismu wookie, karena kau selalu ada di hatiku. Aish, lagi-lagi aku grogi

Saranghae, saranghae, saranghae. Mau kah kau mencintaiku, wookie chagi? Walau aku sudah tiada? Jangan lupakan aku, karena aku tak akan melupakanmu

Salam, Yesung n_n Buat wookieku tersayang, jaga dirimu baik-baik.

Aku mengenggam surat itu kencang sekali, sesekali mencium permukaan kertas itu. Aku mencintai mu juga, yeobo. Aku akan terus mencintaimu.

"Kau sudah bisa menerima kepergiannya?" tanya dokter itu perlahan.

Aku mengangguk. "Ya, karena aku mencintainya. Dan dia mencintaiku. Karena katanya dia akan menjagaku. Aku sudah tenang. Terimakasih untuk semuanya, Yesung hyung"

-FIN-