Under the Mistletoe with Me
(Remake)
Chanbaek' fanfiction based of novel by Kristen Proby
Jadi, ini bukan murni ceritaku. Aku hanya me-remake dari novel karya Kristen Proby dan mengganti nama dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain.
Cerita seluruhnya karangan Kristen Proby
GS, M rated.
*
Bab 1
"Aku lega kau tidak ada pertandingan hari ini dan bisa menikmati makan malam Thanksgiving bersama kami." Ibu mertuaku, Nyonya Park, tersenyum pada anaknya, Jongin yang sedang menjejalkan kentang tumbuk ke mulutnya.
"Aku juga, Mom. Ya Tuhan, ini lezat."
"Itu adalah karbohidrat yang sangat banyak untuk seorang pria yang sedang dalam pelatihan," komentar Chanyeol yang ad disampingku. Aku menggosokkan telapak tanganku naik turun di sepanjang paha suamiku dan menyeringai ke arahnya. Dia senang sekali menggoda adik laki-lakinya.
"Bung, ini Thanksgiving." Jawab Jongin.
"Jadi asupan karbohidrat yang masuk tidak dihitung?" Chanyeol bertanya.
"Tepat sekali." Jongin menyeringai dan kembali menyuap kentangnya.
Dalam ruangan ini aku dikelilingi oleh orang-orang yang penyayang dan kocak. Gen keluarga Park memang mengagumkan. Namun selain suatu hal yang sudah amat jelas, yaitu rupawan, mereka semua ramah dan baik hati, dan aku bangga serta beruntung dapat menjadi bagian dari mereka.
Jessie, putri kami yang berusia empat bulan, menggeliat di lenganku.
"Kemari, sayang, biar aku yang menggendongnya." Chanyeol menarik putri kami ke lengannya dan menaruhnya di bahu lebarnya. Jessie menyesuaikan diri dan kembali tertidur, wajahnya menempel di leher ayahnya. Aku tidak bisa menyalahkannya, itu merupakan tempat favoritku juga. "Makanlah, sayang."
Kami semua berkumpul di rumah Sehun dan Luhan untuk liburan. Pasangan yang saling mencintai itu telah menikah selama dua bulan sekarang, dan aku amat bahagia untuk mereka. Luhan bukanlah saudara perempuan sedarah namun dia telah menjadi bagian dari keluarga ini selama bertahun-tahun. Dia dan Kyungsoo, yang termuda dan satu-satunya anak perempuan dalam klan Park, adalah sahabat baik. Dengan tambahan orang tua Sehun, Tuan dan Nyonya Oh, dan dua saudaranya, Minseok dan Joonmyeon, bersama kedua orang tuaku juga, rumah ini dipenuhi dengan orang, suara keras dan tawa, dan sedikit terlalu hangat.
Aku tidak ingin berada di tempat lain.
"Baekhyun, bagaimana perkembangan blogmu?" tanya Kyungsoo di sampingku.
"Berjalan dengan baik, terima kasih. Aku sangat menikmatinya."
"Dia terlalu rendah hati." Chanyeol menyela sambil menyeringi. "Blognya berkembang dengan luar biasa. Dia telah memiliki lebih dari dua ribu follower, dan reviewnya telah dipilih oleh beberapa penerbit untuk menghiasi cover buku."
Dia tersenyum padaku dan mencium keningku, mata birunya bersinar penuh kebanggaan. Oh Tuhan, aku mencintainya.
"Buku jenis apa yang kau review?" tanya Luhan.
"Novel percintaan," jawabku sambil tersenyum.
"Jenis yang mesum?" Jongin bertanya penuh harap. Dihadiahi pukulan di lengannya oleh saudara perempuan Sehun, Minseok. "Kenapa?"
"Jangan seperti maniak," gumamnya, sambil menatap tajam ke arah Jongin.
"Sebenarnya, semua jenis, tapi iya, novel erotis memang sedang naik daun saat ini," aku merespon dan mengedipkan mata pada Jongin.
"Oh! Apakah kau telah membaca buku-buku itu yang sedang dibicarakan oleh banyak orang?" Minseok bertanya. "Kau tahu, buku yang si pria mengikat si wanita lalu memukul bokongnya dan melakukan segala macam hal yang nakal?"
Aku merasakan kupingku terbakar saat aku merona. Para pria memutar mata mereka, namun Jongdae, adik laki-laki Chanyeol paling muda, berdehem dan tidak mau menatap siapapun.
Menarik.
"Iya, aku telah membacanya, Minseok."
"Aku juga ingin membacanya," Kyungsoo berbisik di telingaku. "Aku sedang tidak berkencan saat ini."
"Akan aku email daftarnya," bisikku dan kami mengikik.
"Kalian sedang berbisik-bisik tentang apa?" Chanyeol bertanya, menarik tanganku dan mencium ruas jariku.
"Hanya mengenai buku." Jawabku.
"Okay, berikan bayi itu." Luhan berdiri dan berjalan mengitari meja, lengannya terbuka, dan mengambil Jessie dari bahu Chanyeol, menciumnya. "Hi, cantik. Aku rindu padamu."
Tatapanku jatuh pada Sehun. Dia sedang memandang istrinya, mata birunya dipenuhi cinta dan kebahagiaan. Luhan sendiri juga sedang mengandung.
"Setiap saat jika kau ingin berlatih memberi makan tengah malam, kau mendapat izinku," Chanyeol memberitahunya.
Aku memutar mataku dan memukul lengannya. "Berhentilah berusaha mamberikan bayi pada orang lain."
Dia berkedip padaku dan menggigit kalkunnya. "Aku hanya bercanda."
"Kau tahu aku akan menjaganya dengan sepenuh hati," Luhan merespon dengan senyum bahagia dan mencium pipi Jessie, membuatnya terkikik.
Ponsel Chanyeol berdering dalam sakunya. Dia melihat layarnya dan memundurkan kursinya. "Aku segera kembali."
Aku bertanya-tanya siapakah itu?
Yang pasti tidak mungkin mengenai pekerjaan, ini hari Thanksgiving. Aku mengangkat bahu dan menyelesaikan makan malamku, dan kemudian membantu membersihkan meja, serta membersihkan dapur. Dengan bantuan semua orang, pekerjaan itu cepat selesai dan kami semua duduk dengan segelas wine atau secangkir kopi untuk mengobrol dan memulihkan diri dari hidangan Thanksgiving yang lezat.
Akhirnya, Chanyeol kembali dari panggilan teleponnya, dahi pada wajah tampannya berkerut.
"Siapakah itu?"
"Itu bukan apa-apa." Dia menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil sebotol bir dari dalam kulkas sebelum duduk di sebelahku di sofa.
"Itu seseorang," responku.
Dia menggelengkan kepalanya lgi dan membuka tuutp botol birnya. "Jangan mengkhawatirkan hal itu."
Aku memberenggut padanya. Ini hal yang baru. Bukan berarti kami harus berbagi semua detail kecil denagn siapa kami berbicara namun biasanya kami seperti itu. Dia tidak pernah tertutup sebelumnya.
Sebelum aku mulai berargumen dengannya, dia mengambil tanganku dan menjalinkan jari-jari kami, membawanya ke bibirnya. "Lupakanlah."
Dia menyeringai padaku dan mengedipkan mata, kemudian melanjutkan pembicaraan denagn Jongin mengenai musim footballnya bersama Seahawks, secara efektif mengakhiri pembicaraan. Dengan perut penuh dan kobaran api hangat yang jaraknya tidak terlalu jauh, aku duduk dengan nyaman di samping suamiku yang kekar, merebahkan kepalaku pada bahunya yang berotot, dan mengamati aktivitas di sekitarku.
"Baekhyun, ini foto-foto Jessie yang kami ambil minggu lalu," Luhan mengangsurkan sebuah flashdisk mini padaku. "Aku pikir kau akan menyukainya."
"Oh, aku yakin aku akan sangat menyukainya! Terima kasih lagi kau mau melakukan ini. Aku akan memesan kartu Natal minggu depan." Aku tersenyum lebar padanya saat ia mengambil tempat duduk di seberangku bersama Kyungsoo.
Kepala Kyungsoo dan Luhan saling menempel, seperi biasanya, bermain-main dengan Jessie yang sedang tertidur. Aku tersenyum pada mereka bertiga. Tiga gadis cantik. Aku mengambil ponselku dari saku dan mengambil foto mereka.
Minseok duduk di samping mereka dan mencium kepala Jessie, dan aku mengambil foto lagi.
Semua orang tua kami duduk di sekeliling meja makan sambil meminum kopi, bercakap-cakap mengenai cucu dan rencana Natal.
Jongin dan Chanyeol masih mengobrol tentang sepak bola, bersama Jongdae, saudara laki-laki mereka yang lain dan Sehun menimpali ke sana kemari. Joonmyeon berjalan dari arah dapur, memberikan Sehun sebotol bir lagi dan bergabung bersama mereka. Yang tidak ada hanya Hansol, yang sedang dalam sebuah misi bersama SEAL (angkatan laut).
Kuharap dia akan pulang saat Natal.
"Kau baik-baik saja?" bisik Chanyeol.
"Mmm."
Dia tersenyum padaku dan mencium rambutku. Mataku terasa berat. Kubiarkan kelopak mataku menutup dan mendengarkan percakapan di sekitarku.
"Aku akan kembali sebentar lagi." Chanyeol memegang daguku dengan jarinya dan mengecupku dengan lembut. Aku tidak pernah puas akan bibirnya. Priaku pandai mencium. Dia bergerak menjahuiku sambil merendahkan tubuhku di sofa dan aku merasakan ia berjalan menjauh dariku.
Jongin, Sehun dan Joonmyeon masih sibuk membicarakan tentang football, dengan bersemangat berargumen mengenai garis penyerangan.
Tiba-tiba mataku mengerjap terbuka dan mengira-ngira berapa lama aku telah terlelap. Aku tidak bermaksud untuk tidur.
Para ibu kami telah meninggalkan suaminya di meja makan dan bergabung bersama kami para gadis di ruang keluarga. Ibuku menimang Jessie di lengannya dan mendapatkan cibiran dari Kyungsoo.
"Aku tidak pernah menggendongnya diantara Luhan dan kalian, aku tidak akan pernah punya kesempatan."
"Jangan merengek," gerutu Luhan.
"Tutup mulutmu." Kyungsoo membalas, dan aku terkikik. Mereka sangat kocak, walaupun ketika sedang berdebat.
"Baekhyun, aku ikut senang blogmu berjalan dengan baik," Ibunya Sehun, Nyonya Oh berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih, aku juga demikian. Aku membutuhkan sesuatu untuk dikerjakan ketika aku berada di rumah bersama Jessie. Jangan mengira aku bosan, tapi aku hanya..." Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku membutuhkan sesuatu, hanya untukku tanpa terkesan egois?
"Aku mengerti," kata Nyonya Oh.
"Jadi, mari kita berbicara mengenai strategi, nona-nona." Kyungsoo menggosok-gosokkan telapak tangannya dan menempati ujung sofa dengan tumpukan besar potongan iklan dari koran. *"Black Friday" Dia menyeringai dengan amat bersemangat sambil bergoyang di sofa, rambut pirangnya yang indah bergerak bersamanya, menjilat jarinya, dan menyambar iklan paling atas kemudian membuka lipatannya.
"Kali ini aku tidak akan memulainya belanja jam4 dini hari," Luhan memberitahunya sambil mengusap gundukan kecil di perutnya. "Si kecil ini tidak akan membiarkanku bangun sepagi itu."
"Aku juga tidak bisa sepagi itu." Aku menimpali.
"Aku akan berbelanja secara online saja." Minseok melambai sambil memutar matanya. "Aku menolak terlibat dalam gontok-gontokkan hanya demi sehelai scraf."
"Kau tidak seru," ejek Kyungsoo.
"Aku ikut, jika kita berangkat sekitar jam tujuh. Aku akan sempat menyuapi Jessie dan menyiapkan diriku sendiri."
"Okay, nanti Luhan dan aku akan menjemputmu."
"Akan menghabiskan semua uangku, sayang?" Sehun bergumam di telinga Luhan saat ia naik ke pangkuan Sehun. Dia membungkus lengannya di sekeliling Luhan dan memeluknya dengan erat dan aku tidak dapat menahan cengiranku pada mereka. Mereka benar-benar sangat saling mencintai.
"Yep. Semuanya. Kita akan jadi tunawisma setelah aku selasai."
"Tidak masalah, kita akan tinggal bersama Kyungsoo."
"Oh, tidak bisa." Kyungsoo menggelengkan kepala dan tertawa. "Kami akan menyisakan cukup uang supaya kau dapat membayar cicilan rumah."
"Oh bagus," dia menjawab datar.
"Well, beberapa dari kita sedang berhemat," aku memberitahu mereka sambil berdecak. "Jadi bersikap lembutlah padaku."
"Ini akan menyenangkan!" Kyungsoo bertepuk tangan ketika Jessie mulai rewel pada lengan ibuku.
"Kami sebaiknya pulang." Gumamku sambil berdiri, meregangkan lenganku melewati kepalaku. "Jongin, dimanakah Chanyeol dan Jongdae?"
"Aku rasa mereka berada di teras." Jawab Jongin dan kemudian dia kembali berkonsentrasi pada obrolan sepak bola bersama para pria.
Ada apa antara pria dan football?
Aku berjalan menuju pintu teras dan membukanya perlahan. Aku dengar suara berat suamiku berkata, "Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa padanya."
"Well..." Jongdae memulai namun langsung berhenti ketika dia melihatku di pintu. Dia tersenyum padaku. "Hey, Baek."
"Hei." Aku melangkah keluar menuju teras dan tersenyum pada Chanyeol, tapi perutku terasa membelit ketika kuingat panggilan telepon misterius saat makan malam dan kemudian ini. "Apa yang sedang terjadi?"
Chanyeol menggelengkan kepalanyadan mengendikkan bahunya tak acuh. "Tidak ada apa-apa."
"Uh, huh." Aku tatap matanya, menyadari bahwa dia menyimpan sesuatu dariku, namun kemudian kudengar Jessie menangis di dalam. "Kita sebaiknya pulang, Jessie sudah siap untuk tidur."
"Okay, mari kita pergi."
*
Note:
Black Friday adalah sehari setelah hari Thangkgiving di Amerika Serikat yang dianggap sebagai hari permulaan dari musim belanja untuk keperluan Natal. Biasanya pusat perbelanjaan besar mulai membuka tokonya dini hari dan menawarkan diskon besar-besaran.
AN: Halooo guys, so ini chapter 1 nya hehe. Seneng banget ada yang baca dan suka, padahal awal nge-publish nggak yakin bakal ada yang baca wkwk. So makasih bangetttttt buat review-nya di chapter kemarin aku bener-bener seneng dapet notif review-an wkwk. Okay see you next chapter:)
