Chapter II

Disclaimer : Like I said before, Don't own anything.

Seminggu sudah berlalu, banyak kelas yang sedang mempersiapkan segalanya untuk festival sekolah. Kelas 1-1 sedang menata dekorasi awal untuk kedai teh mereka. Kasumi membagikan celemek tanda kedai teh mereka yang mempunyai ciri khas sendiri. Jowy yang membantu mengerjakan dekorasi awal kelas itu berwajah bete. Melihat itu Sasuke menggoda Jowy.

"Mana kameramu Jo? Biasanya kalau melihat hal ini kau selalu siap dengan kameramu." Mendengar ucapan Sasuke tadi, Jowy semakin bete

"Kameraku di sita oleh Jillia," Wajah Jowy sudah menunjukkan kalau ia sedang dalam bete yang parah, Sasuke mencoba menahan tawanya. Jowy tahu kalau Sasuke sedang mengerjainya.

"Hey, coba kau ambil kameraku dari Jillia." Jowy menyuruh Sasuke. Sasuke menjadi agak kesal.

"Memangnya aku mau di suruh-suruh olehmu?" Sasuke berkacak pinggang dan mengangkat alisnya.

"Sayang sekali, padahal aku berniat memotret Kasumi dan memberikan mu gambarnya 1 set secara gratis." Jowy memancing Sasuke, Sasuke langsung tercengang. Dengan cepat ia berlari menuju Jillia, Jowy malah menertawakannya.

Dekorasi awal telah selesai dibuat, sekarang hanya perlu membuang sampah sisa-sisa dekorasi tadi. Jadwal piket hari ini adalah Luc dan Jowy. Luc membawa plastik yang berisi sampah ke tempat pembuangan sampah, sementara Jowy membersihkan kelas.

Ketika Luc pergi membuang sampah, Ia melewati kelas Viki. Ternyata Viki juga dapat tugas piket dan akan membuang sampah.

"Aduh berat sekali, aku taruh di sini dulu deh. Aku mengambil sampah lainnya juga." Sampah yang dibawa Viki baginya terlalu berat, ia hanya membawanya kedepan kelas lalu mengambil sampah yang lain di kelas. Melihat plastik yang berisi sampah yang baru saja Viki taruh di depan kelasnya, Luc mengambil sampah itu dan membawanya ke tempat pembuangan sampah. Begitu Viki kembali ke depan kelas, ia heran melihat sampah yang barusan ia taruh hilang. Setelah ia melihat-lihat sekeliling, dilihatnya Luc yang belum jauh dari kelasnya sedang membawa sampah yang baru saja di taruhnya.

"Dasar curang." Wajah Viki menjadi merah kembali.

U-U-U-U-U-U

Waktu pun berlalu, festival sekolah akan diadakan 3 hari lagi. Kelas 1-1 sudah menyelesaikan segalanya. Dekorasi akhir sudah selesai seminggu yang lalu, Luc memang cepat kalau mengerjakan sesuatu, dan hasilnya pun bagus.

"Aku senang kalau kalian bisa menyelesaikan segalanya secepat ini, sekarang kita hanya perlu menunggu waktu festival sekolah di mula saja." Shu merasa bangga dengan kerja murid-murid bimbingannya itu, seluruh murid kelas 1-1 meneriakkan rasa senang mereka.

"Baiklah, kalian boleh kembali ke asrama dan beristirahat sekarang, aku akan meminta penjaga sekolah mengunci ruangan kelas." Shu mengizinkan murid-muridnya meninggalkan kelas. Seluruh murid kelas 1-1 pun pergi meninggalkan kelas dan berjalan menuju asrama.

Ketika berjalan meninggalkan kelas, Luc melihat Viki yang sedang menggantung hiasan di atas pintu.

"Ukh.. Sedikit lagi sampai." Viki berusaha menempel hiasan tersebut, tetapi karena tubuhnya yang mungil itu ia mengalami kesulitan. Kursi yang di pakai Viki untuk membantunya menaruh hiasan tersebut kehilangan keseimbangan dan akhirnya Viki di buat jatuh olehnya.

"Ehh? Huaaa!" Viki terjatuh dari kursinya, melihat itu Luc langsung berlari kearah Viki.

"Brukkk!." Viki pun terjatuh dari kursinya, semua murid kelas 1-3 menghampiri Viki.

"Viki kau tidak apa-apa?" Tanya Aida, Viki hanya terheran-heran. Ia tidak merasakan rasa sakit atau apa.

"Aku tidak apa-apa kok Aida." Viki menggeleng-gelengkan kepalanya kebingungan, kenapa ia tidak merasakan apa-apa.

"Waaaa! Ada orang di bawahmu Viki!" seorang murid menunjuk seseorang yang berada di bawah Viki dan yang menyelamatkannya. Begitu Viki melihat kebawahnya, ternyata itu adalah Luc.

"Lu-Luc!" Betapa kagetnya Viki ketika melihat Luc yang berada di bawahnya. Luc berusaha bangun, ia memegangi kepalanya.

"K-kau tidak apa-apa kan Luc?" Viki bertanya keadaan Luc, ia tidak menyangka kalau yang melindunginya itu Luc.

"A-aku tidak apa-apa." Luc berusaha menjawab pertanyaan Viki itu, ia memegangi lengan kanannya agar tidak ketahuan kalau lengannya itu sakit. Namun Viki sepertinya menyadari kalau ada sesuatu yang sakit pada Luc.

"Aku tidak yakin, ayo kita ke ." Ucap Viki sambil memegang lengan Luc yang sakit. Luc merasa kesakitan, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Tanpa sadar Luc melakukan kesalahan yang fatal.

"Aku tidak apa-apa! Aku sudah bilangkan?!" Luc membentak Viki. Viki kaget, lalu ia melepas lengan Luc.

"Kau ini mengganggu sekali, aku ingin sendirian!" Luc pun pergi meninggalkan Viki. Melihat Luc yang mengatakan kalau dirinya itu hanya mengganggu membuat Viki sedih. Viki pun berlari meninggalkan kelas dan gedung sekolah, ia berlari menuju asrama putri. Sesampainya di sana ia di asrama, ia masuk ke kamarnya dan menangis.

Viki's Pov

"Apa aku ini memang menganggunya? Aku tahu ia selalu sendirian dan mungkin ia memang lebih menyukai sendirian." Aku tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini, aku semakin sedih mengingat hal yang aku lakukan di musim panas kemarin bersamanya, apakah hanya aku saja yang senang? Tangis ku semakin meledak jika aku mengingat kata-katanya itu.

End Pov

Luc's Pov

Aku berjalan keluar dari tempat , ia berkata kalau lenganku hanya terkilir dan Cuma perlu waktu 2 minggu untuk sembuh. Aku merasa lenganku ini sakitnya tidak seberapa, tapi tadi aku sakit hati melihat dia berlari seolah-olah dia menyembunyikan tangisnya.

"Sepertinya aku memang tidak cocok untuk bersikap keren ya? " Ucapku, aku semakin merasa bersalah kalau ku mengingat kejadian tadi dengan kejadian di musim panas kemarin. Ya aku memang selalu sendirian, kesepian, tapi begitu dia ada hari-hariku berubah.

End Pov

U-U-U-U-U

Lagi-lagi waktu pun berlalu. Festival sekolah sudah dimulai, nampak sekolah sangat ramai. Semua kelas nampak sibuk. Di kelas 1-1, banyak orang yang menyukai kedai teh mereka. Semua siswa kelas 1-1 pun sibuk sekali, tak terkecuali Luc. Walau lengannya terkilir, ia tetap membantu, ia membantu berjalan di sekolah sambil membawa papan iklan kedai teh kelasnya.

Setelah 2 jam lamanya Luc berkeliling sekolah, ia pun kembali ke kelas. Riou menyambut Luc.

"Terima kasih kau mau membantu walaupun sedang cedera, berkat kau kedai teh kita cukup ramai." Riou memberikan minum kepada Luc. Luc hanya terdiam.

"Kau boleh istirahat sekarang, biarkan yang lain menggantikanmu." Riou memberikan Luc waktu istirahat, Luc pergi meninggalkan kelas. Ia tiba di depan kelas 1-3, nampaknya kelas 1-3 membuka stand boneka. Luc melihat Viki yang sedang bekerja di dalam kelas. Luc hanya menunduk dan pergi.

"Hey." Seseorang memanggil Luc. Luc menoleh, dan itu adalah Kinnison.

"Kita bicara sebentar, aku sedang istirahat." Kinnison melempar sebotol air kepada Luc. Merekapun berjalan ke atap sekolah dan duduk di sana.

"Kau terlihat murung." Ucap Kinnison, Luc hanya terdiam dan meminum air yang tadi di berikan Kinnison.

"Aku mengerti masalahmu, memang rumit kalau kau sedang menyukai seseorang." Ucap Kinnison lagi, air tadi sudah habis di minum oleh Luc.

"Entahlah, kebanyakan orang-orang menilai kalau aku ini ketus,dingin bahkan tak punya perasaan. Jujur saja, aku kesepian." Luc meremas botol minuman yang ada di tangannya.

"Kalau kau bertingkah seperti itu kau akan terus sendirian." Ucap Kinnison sambil melihat langit. Luc hanya terdiam.

"Viki sepertinya salah paham atas tingkahmu ini, sebaiknya kau berbicara dengannya." Kinnison mengambil botol yang ada di tangan Luc.

"Apa dia mau berbicara denganku?"

"Tentu saja, dia pasti mau memaafkanmu kok." Kinnison tersenyum, Luc akhirnya memutuskan untuk berbiacara dengan Viki ketika acara penutupan festival sekolah.

U-U-U-U-U-U

Siang telah menjadi sore, festival sekolah sudah hampir selesai. Kedai teh milik kelas 1-1 semua menunya terjual habis dan mereka telah selesai beres-beres.

"Untuk merayakan suksesnya kedai teh kita, mari kita bersulang!" Riou mengangkat kaleng jusnya.

"Bersulang!" Semua bersulang dengan gembira, semua yang di lakukan ternyata tidak sia-sia. Tapi seperti biasa, Luc tidak ikut bersulang dan ia hanya meminum jusnya sendiri.

"Setelah ini ada acara penutupan festival sekolah, itu di adakan di lapangan. Sepertinya akan ada kembang api dan api unggun juga." Jillia memberitahu ke semua murid kelas 1-1. Seluruh murid kelas 1-1 terlihat bersemangat, dan tak lama kemudian acara penutupan akan segera di mulai. Seluruh murid keluar menuju lapangan.

"Kau tidak ikut Luc?" Tanya seorang murid kelas 1-1, Luc hanya diam dan menggelengkan kepalanya.

Acara penutupan pun di mulai, seluruh murid menari dengan gembira di sekitar api unggun, Luc hanya melihat pemandangan itu melalui jendela kelas. Ketika itu, seseorang masuk dan menepuk pundak Luc dengan lembut. Luc pun kaget dan menoleh.

"Ah, maaf kalau aku mengagetkanmu." Orang tersebut juga terkejut melihat Luc yang kaget.

"Oh, itu kau Viki." Hanya itu balasan Luc. Viki takut-takut untuk mendekati Luc, suasanannya menjadi canggung.

"Ambillah kursi lagi dan duduk di sampingku." Ucap Luc. Mendengar ucapan itu, Viki mengambil kursi yang ada di sampingnya lalu duduk di samping Luc. Suasananya kembali canggung, mereka takut untuk memulai pembicaraan.

"Anu..." mereka mengatakan itu bersamaan.

"Eh, bicaralah duluan." Viki memberi kesempatan kepada Luc untuk berbicara duluan.

"Soal 3 hari yang lalu, aku minta maaf..." Luc kelihatan bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Viki tetap menyimak.

"...Aku hanya ingin bersikap keren, tapi aku malah menyakitimu. Aku merasa bersalah." Lanjut Luc. Mendengar ucapan itu, Viki merasa ingin menangis, tetapi ia mencoba menahannya. Luc memalingkan wajahnya, sebenarnya ia sekarang malu dan wajahnya itu memerah.

"Emh, Viki..." Luc kembali memulai pembicaraan baru.

"Iya?" Balas Viki.

"Aku ingin mengatakan sesuatu." Luc sekarang menatap Viki. Melihat gadis berbadan mungil, berambut hitam panjang dan berwajah polos itu. Luc menjadi semakin malu untuk mengatakannya.

"Bagaimana aku mengatakannya ya?" Luc kebingungan dan malu.

"Katakan saja." Viki semakin penasaran. Luc semakin kebingungan dalam mencari cara yang pas untuk mengatakan hal tersebut.

"A-aku tidak pandai dalam bicara. A-aku pakai tindakan saja ya." Luc berbicara dalam pikirannya.

Luc langsung menarik lengan Viki. Ketika itu Kembang api di ledakkan, Luc mencium Viki.

Langit berwarna-warni dihiasi oleh kembang api, Luc melepas ciumannya. Viki kaget dan menutup mulutnya, ia tidak menyangka kalau Luc akan menciumnya.

"K-kau mengerti maksudku kan?" Tanya Luc. Wajahnya sudah benar-benar memerah, Viki masih tetap kaget.

"A-aku menyukaimu, jangan pura-pura kaget!" Luc membentak Viki, sekarang bentakkannya berbeda. Viki mendengar pengakuan Luc itu menangis dan memeluknya.

"A-aku juga menyukaimu." Ucap Viki. Luc kini merasa lega.

"Kau mau kan tetap menghabiskan waktu bersamaku walau bukan hanya musim panas?" Tanya Luc sambil mengelus kepala Viki. Viki hanya mengangguk dan tersenyum. Tak lama kemudian, Viki malah tertidur dalam pelukan Luc. Luc pun menggendong Viki dan membawanya kembali ke asrama.

"Aku menuggu hal apa yang bisa kita lakukan di musim lainnya nanti." Ucap Luc.

Fin

Author : Chapter II done

Maaf endingnya agak kurang jelas, maklum bingung mau bikin endingnya kayak apa.

Please RnR