Epilog :

Enam bulan kemudian,

Taman kediaman keluarga Uchiha

Sasuke melangkah pelan, senyum terukir di wajah rupawannya. Pemuda itu bergerak dengan pasti menuju kursi kayu di taman kediaman rumahnya. Disana seorang gadis tengah duduk sembari menyulam. Sasuke melangkah pelan, kemudian menutup kedua mata gadis itu dengan telapak tangannya.

"Sasuke?" ujar gadis itu.

Sasuke melepaskan kedua telapak tangannya, kemudian mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi gadis bersurai pirang itu. "Kau sudah makan siang?" tanya Sasuke. Pemuda itu mengitari kursi kayu itu kemudian mendudukkan dirinya disamping kekasihnya.

Gadis itu mengangguk pelan. "Apa yang sedang kau sulam, sayang?"

"Syal," jawab gadis itu. "Sebentar lagi musim dingin. Aku membuatkanmu syal agar kau tetap hangat. Apa kau suka?"

Sasuke mengangguk pelan, tangannya terulur. Menyentuh surai pirang milik kekasihnya dengan lembut. "Aku ingin kita menikah," ujar Sasuke tiba-tiba membuat gerakan tangan kekasihnya terhenti. Sasuke yang tahu kekasihnya itu terkejut kemudian bersuara, "ada apa? Kau tidak ingin menikah denganku?"

Gadis itu menghela napas erat lalu meletakan sulamannya disisi kursi yang kosong. Gadis pirang itu menatap tepat di iris milik Sasuke, kemudian mengelus lembut kulit pipi kekasihnya. "Bukan seperti itu, Sasuke. Aku hanya-"

"Hanya apa?"

Setitik air mata jatuh begitu saja, membuat Sasuke khawatir karenanya. "Ada apa, sayang?" tanya Sasuke pelan. Pemuda itu menyeka air mata itu dari pipi kekasihnya.

"Aku sudah kotor, Sasuke. Aku tidak pantas untukmu." lirih gadis itu. "Kau bisa mendapatkan gadis lain untuk kau jadikan isteri. Aku-"

Tangis gadis itu mulai pecah, Sasuke menarik tubuh itu. Memeluknya erat. "Tidak, sayang. Kau tidak kotor. Sama sekali tidak. Jangan berkata seperti itu lagi, sayang."

"Tapi aku memang kotor, Sasuke. Aku sudah tidak-"

Sasuke melepaskan pelukan itu dengan cepat. Pemuda itu menangkup kedua pipi yang mulai tirus itu. Kekasihnya sudah jauh berbeda. Peristiwa itu sudah merenggut kebahagiaan kekasihnya. Ia bahkan sudah jarang melihat gadis pirang itu tertawa. Kedua iris mata yang begitu Sasuke kagumi itu tampak kosong dan kelam. Setiap malam, Sasuke harus menahan laju air matanya setiap kali mendengar rintihan kekasihnya. Dalam tidur saja gadis itu selalu memimpikan tragedi itu.

"Kau satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi. Aku ingin hidup bersamamu, sayang. Kita akan menutup semua lembaran masa lalu, dan menjalani semuanya dari awal lagi."

"Tapi, Sasuke-"

"Aku mencintaimu. Apa kau meragukanku?" tanya Sasuke. Gadis itu menggelangkan kepalanya lemah.

"Kali ini, ijinkan aku menebus kesalahanku di masa lalu padamu,"

"Kau tidak bersalah, Sasuke. Itu bukanlah kesalahanmu."

Sasuke mengecup bibir ranum itu, kemudian menyatukan kedua dahi mereka. "Menikahlah denganku, Naruto." pinta Sasuke, gadis itu tersenyum kemudian mengangguk pelan.

Sasuke tersenyum bahagia. Aku berjanji akan membahagiakanmu, Naruto, batin Sasuke.

Pojok Suara :

Pada akhirnya kesampaian juga untuk membuat epilog fiksi ini. Ada beberapa adegan yang diubah. Jadi, akan lebih baik jika dibaca dari awal kembali. Terima kasih sudah bersedia mampir dan menyempatkan waktu untuk membaca.

Sampai jumpa di fiksi berikutnya.

Salam,

Sentimental Aquamarine