Disclaimer: Dynasty Warriors dan segala isinya bukan punyaku! Kalau punyaku, aku sudah pasti punya DW Strikeforce PS3, DW6 PS3, WO-X PSP sama PC, dsb...
Yeah! Ini adalah update terbaru, temen-temen! Huahahaha...! (Entah kenapa hari ini kok bersemangat banget...) Eh, ketawa maniak versi Wang Hui Na A.K.A. Pyromystic: MWAHAHAHAHAHA!!!! *Dihajar semua member Fanfiction*
BTW, akhirnya lanjut juga... nah, ini lanjutannya. Oh, dan satu lagi... Setting dari cerita ini, berhubung cerita ini AU sih... jadi juga di INDONESIA! (Wew... gini-gini aku termasuk cinta negara...) Dan lebih spesifiknya lagi di KOTA SURABAYA! Ehm, maaf bagi yang nggak tinggal di Surabaya... soalnya kota yang paling aku kenal di Indonesia ya Surabaya ini... ^-^ Kota tempat tinggalku ^-^
Wew... yah... kagak perlu ngomong panjang lebar lagi, deh... Pasti nggak ada yang mau baca Author Note-nya kalau panjang-panjang, kan? Yah... langsung baca ceritanya aja... Eh, dan jangan lupa review!
Besok paginya, empat cewe itu sudah ngumpul di Plaza Supermall yang halamannya gede banget. Mereka naik taxi berempat rame-rame ke tempat itu dengan membawa ranselnya masing-masing. Hari itu empat-empatnya sudah tampil dengan penampilan yang beda-beda. Xiahou Fang seperti biasa pakai baju kaus biasa warna putih kerah sabrina dengan celana selutut berwarna hijau pupus plus sepatu training warna putih juga. Xiahou Mei dengan kaus putih lengan spaghetti dengan cardigan pink lengan pendek yang terbuat dari kaus juga, dilengkapi dengan short pants pink juga plus pump shoes. Xiao Aling bajunya warna biru semua, mulai dari jaket lengan panjang, baju kaus dalam, dan celana training dan sepatu kets. Sementara Hui Na pakai kaos oblong warna merah abang mbranang (AN: Bahasa jawa untuk meraaahhh... banget!) dan celana jeans komprang plus sepatu kets yang warna merah juga.
Cukup deh ngomong tentang baju. Pokoknya siang-siang terik begitu empat cewe itu sudah nunggu di indoor dan terpaksa berjemur kayak bule nyasar... Xiahou Mei, Hui Na, Xiao Aling sampai ngomel semua membuat Xiahou Fang sampai hampir tuli mendengar omelan mereka.
"Kampret! Kapan sih kita dijemput?!" Omel Hui Na.
"Cece, sih..." Xiahou Mei menarik-narik tangan kakaknya (AN: Sebenarnya 'jiejie', cuma disingkat jadi 'cece' aja...) "Aku capek nunggu terus..."
"Lebih enak belajar matrix..." Desah Xiao Aling pelan supaya Xiahou Fang nggak mendengar suaranya.
Pas ngomong begitu, tiba-tiba sebuah mobil sport melewati mereka dengan kecepatan yang lumayan cepat, tapi langsung berhenti di depan Xiao Aling. Xiao Aling kaget setengah mati karena dia kira maling apa yang mau ngerampok pakai mobil sport? Ternyata, pas jendela mobil diturunkan, Ya Tuhan! Ternyata Cao Pi yang keren nan cool abis itu sekarang di hadapan si Xiao Aling yang langsung berbunga-bunga.
"Eh, koko..." Sapa Xiao Aling sambil merasakan mukanya yang tambah merah. (AN: Sebenarnya 'gege', cuma disingkat jadi 'koko' aja...) "Ngapain, ko?"
"Xiao Aling... Kamu juga ngapain di sini?" Cao Pi balik nanya. "Eh, jangan-jangan kamu juga di sini karena ikut kemping itu, ya?"
Belum sempat Xiao Aling jawab, ternyata Xiahou Mei sudah ber'yay' setelah melihat Ling Tong yang dateng dengan moge alias motor gede-nya (AN: Contoh moge ya kayak motor Harley getu... BTW, ini bukan promosi motor). Ling Tong yang belum siap-siap akhirnya sukses menerima tonjokkan dari Xiahou Mei tepat di kepalanya yang kemarin kena lempar buku fisika sama Lu Xun.
"Koko! Koko!" Xiahou Mei langsung merangkul Ling Tong yang masih memegang kepalanya yang sakit kayak pacaran aja... tapi memang sebenarnya mereka sudah pacaran, sih...
Dua orang pengendara motor datang mendekati mereka. Yang satu sama sekali nggak mereka kenal, sementara yang satu... Dari jauh aja Hui Na sudah bisa mencium bau-bau musuh bebuyutannya meski musuhnya itu pakai helm. Tampangnya yang sudah bete (AN: Bete singkatan dari Boring Time) langsung tambah bete melihat Lu Xun datang.
"Ngapain kamu di sini?!" Bentak Hui Na yang suaranya membuat semua orang di plaza itu kaget. "Pergi sekolah sana! Belajar yang rajin biar bisa menang dari aku!"
"Emang kamu sendiri pernah menang dari aku?!" Balas Lu Xun sama-sama membentak juga. "Ngapain kamu di sini?! Merusak pemandangan tahu, nggak? Kamu itu polusi, tahu?!"
Sementara dua anak ajaib itu masih bertengkar sendiri sampai satpam datang buat mendamaikan mereka, dan Xiao Aling lagi asyik-asyik bercengkrama dengan Cao Pi, dan Xiahou Mei lagi pacaran sama Ling Tong di atas mogenya, tinggallah Xiahou Fang dan cowo tak dikenal itu sendiri. Dengan gaya gentleman yang sopan banget kayak di film-film barat, cowo beken nan macho itu mendekati Xiahou Fang dan mengulurkan tangannya buat jabat tangan.
"Kenalin, namaku Zhao Yun." Katanya sambil tersenyum. "Wah, kayaknya temen-temen kita saling kenal, ya?"
Zhao Yun... rasanya Xiahou Fang sangat familiar dengan nama itu. Setelah berjabat tangan, barulah dia ingat! Selama ini dia berteman dengan orang nggak dikenal di Facebook bernama Zhao Yun (AN: Sekali lagi bukan promosi Facebook) dan sama sekali belum pernah melihat rupanya. Ya ampun! Ternyata dia itu gantengnya amit-amit jabang bayi! (AN: Artinya ganteng bangeeeeeetttt... Keluar lagi deh Jawanya...). Xiahou Fang sampai nggak percaya kalau yang dihadapannya itu Zhao Yun. Benar-benar kebetulan yang menghebohkan! "Zhao Yun? Jangan-jangan yang di FB itu? Kenal aku, kan? Aku Xiahou Fang!"
"Xiahou Fang?! Yang di FB juga?" Zhao Yun pun nggak kalah kaget sama Xiahou Fang. "Nggak nyangka! Ternyata betulan bisa ketemu setelah sekian lama cuma ngomong-ngomong lewat Internet!"
Pada akhirnya, Xiahou Fang pun asyik sendiri sama Zhao Yun, sama kayak Xiahou Mei – Ling Tong dan Xiao Aling – Cao Pi , seolah dunia itu mereka sendiri yang punya, dan orang lain cuma kontrak aja... Pengecualian untuk Hui Na dan Lu Xun. Dunia sih serasa emang milik berdua, tapi bukan dijadikan tempat pacaran malah medan perang.
Nggak berapa lama, dalam satu waktu yang bersamaan, HP mereka bunyi dengan ringtone yang beda-beda, dan ternyata dapat SMS dari nomor nggak diketahui yang ternyata isinya sama!
"Hi, guys! Gmn? Sdh kumpul? Jmlh klian emg g byk, cm 8 org aja. Skr, klian silahkan brkt sendiri, y? Maklum, lah... g ada biaya transportasi, jd transport klian usahakan sendiri."
Di bawah SMS itu juga ditulis alamat yang harus mereka tuju, kawasan luar kota Surabaya, yaitu Batu-Selekta. Dan ternyata tempat itu cukup jauh. Maklumlah, di luar kota di daerah pegunungan. Mendapat SMS seperti itu, mereka kecewa berat dan Xiahou Fang langsung meng-cut omongannya dengan Zhao Yun.
"Ya sudah, aku sama yang lain naik taxi aja. Tadi kita datang ke sini pakai taxi, pikirnya sih transport disediain. Ternyata kita harus berangkat sendiri lagi." Katanya pada Zhao Yun. "Aku sama yang lain berangkat dulu, ya? Ntar ketemu lagi!"
Tiba-tiba, dari belakang kedengaran suara Xiahou Mei yang protes sangat keras. "Nggak mau! Pokoknya aku mau berangkat sama koko Ling Tong!" Protesnya keras-keras. "Aku mau sama koko Ling Tong! Mau sama koko Ling Tong!" Dan dalam sekejap dia lompat ke bagian belakang motornya Ling Tong.
"Iya, deh, Fang." Ling Tong mengangguk setuju. "Adikmu ikut aku aja. Tenang, nggak bakal aku apa-apain, kok."
Baru aja Xiahou Fang mau protes, Zhao Yun sudah mencegah dulu demi kebahagian dua sejoli yang lagi bercinta itu. "Biarin aja, lah... adikmu lagi mesra-mesranya sama Ling Tong, tuh."
Akhirnya, dengan berat hati Xiahou Fang melepas kepergian adiknya yang tercinta. (AN: Walah... dasar lebay... emang sister-complex?) Dan nggak heran juga kalau sampai Xiahou Fang takut setengah mati. Pas Ling Tong menstarter motornya, langsung moge itu meluncur di jalan dengan kecepatan luar biasa, dan parahnya pas pertama kali jalan, roda depan moge itu sampai terangkat ke atas. Sementara Xiahou Fang jerit-jerit karena takut, Xiahou Mei malah jerit-jerit keayikan dengan aksi Ling Tong yang pamernya extrem di tengah jalan.
"Zhao Yun," Dari belakang, Cao Pi manggil Zhao Yun. Rupanya cowo tajir satu itu sudah turun dari mobilnya dan menggandeng Xiao Aling dengan gaya sok mesra, padahal mereka belum pacaran. "Xiao Aling biar aku antar aja. Kasihan, daripada naik angkot kan lebih baik aku yang antar."
Xiao Aling cuma bisa senyum malu-malu karena digandeng Cao Pi begitu. "Koko Cao Pi... thank you."
Dan secepat munculnya mereka, dua orang itu juga berlalu dengan cepat di dalam mobil sport Cao Pi yang aksi itu. Tentu saja mereka nggak lupa memindahkan semua barang-barang ke bagasi mobil Cao Pi. Kecepatannya nggak kalah sama mogenya Ling Tong. Kayaknya memang Xiao Aling itu cewe paling beruntung karena bisa duduk paling enak di dalam mobil.
Xiahou Fang jadi salting karena (AN: Salting itu singkatan dari salah tingkah) tinggal dirinya saja yang masih bersama Zhao Yun. Yah... pengecualian untuk Hui Na dan Lu Xun yang sekarang perangnya sudah sampai babak dua.
Zhao Yun yang gentleman itu kayaknya bisa langsung ngerti si Xiahou Fang yang salting sampai mau mati. "Xiahou Fang, daripada kamu naik taxi, lebih baik aku antar aja. Kalau kamu sendirian kan juga susah nanti."
"Tapi... mereka gimana?" Tanyanya sambil menunjuk dua jenius yang rada sinting itu. "Pasti Hui Na nggak mau dibonceng Lu Xun."
"Nggak apa..." Kata Zhao Yun. "Siapa tahu dengan acara bonceng-boncengan ini akhirnya mereka jadi akur."
Akhirnya, setelah melihat logisnya kata-kata Zhao Yun, Xiahou Fang setuju juga. Mereka pun tanpa pamit ke Hui Na dan Lu Xun langsung pergi. Xiahou Fang jadi tambah salting dibonceng sama cowo ganteng yang nggak seberapa dia kenal itu.
Akhirnya, tinggallah dua makhluk ajaib itu sendiri. Hui Na dan Lu Xun membaca SMS itu baru setelah perang mereka usai dan alangkah kagetnya mereka pas tahu mereka sudah ditinggal semua orang.
"TIDAAAAAAKKKKK!!!" Hui Na menyumpah keras-keras. "Aku ditinggal sendirian bersama orang gila! Lebih baik aku pulang aja, belajar fisika!"
Lu Xun sudah serasa mau membakar cewe ini sangking jengkelnya. "Kalau getu, aku juga mau pulang!"
Pas waktu Hui na baru mau manggil taksi, dan Lu Xun menstarter motornya, mereka berdua teringat sesuatu. "Ya ampun! Buku plus laptopku sudah di mobilnya Cao Pi!"
Hui Na menatap Lu Xun, tapi masih nggak sudi meminta bantuan Lu Xun. Dia diam aja. Pada akhirnya, Lu Xun lah yang nggak tahan sama kejaiman cewe satu itu. (AN: Jaim singakatan dari Jaga Image). "Hei, Hui Na!" Panggilnya kasar. "Emang kamu nggak mau ngambil laptopmu? Ayo naik!" Perintahnya.
Hui Na kontan kaget mendengar perkataan Lu Xun itu. Kok bisa-bisanya Lu Xun mau membantu dia? "Ngapain nolong? Dasar sok baik!"
"Eh," Balas Lu Xun. "Kalau laptopmu sampai hilang dan kamu nggak bisa belajar lagi, bisa-bisa kamu kalah dari aku. Kan nggak seru kalau sekolah nggak ada saingannya!"
"Kampret..." Dengus Hui Na dalam hati. Akhirnya dia duduk juga di belakang Lu Xun. Dalam hati cuma bisa menangisi diri sendiri. Xiahou Fang pergi dengan cowo misterius tapi gentleman dan ganteng banget... Xiao Aling dianter eksekutif muda yang super tajir dan cool abis! Xiahou Mei diantar cowo paling fun dan gokil satu sekolah, dan pasti perjalanan mereka bakal asyik banget, deh. Sementara dia sendiri... ugh, sudah diantar musuh bebuyutannya, mana lagi dia itu juga sama-sama kutu kupret! Kalau nggak demi laptop dan buku fisikanya yang tercinta, pasti dia bakal nggak sudi diantar Lu Xun.
--
Emang takdir itu aneh banget. Delapan orang ini kalau dibilang-bilang sebenarnya banyak yang nggak kenal satu sama lain. Tapi ada juga yang kenal atau kenal secara nggak langsung. Xiahou Fang, Hui Na, dan Xiao Aling itu satu tingkat SMA3, cuma Xiao Aling kelasnya beda meski sama-sama satu tingkat. Xiahou Fang dan Hui Na dari kelas IPA, sementara Xiao Aling dari kelas IPS. Xiahou Mei itu adiknya Xiahou Fang dan sekaligus yang paling muda diantara mereka. Sementara untuk yang cowo, Lu Xun sama Ling Tong itu temen satu kelas, yang juga sekelas sama Hui Na dan Xiahou Fang, jadi mereka pun sama-sama di kelas SMA 3 IPA. Intinya, Xiahou Sisters, Hui Na, Xiao Aling, Lu Xun dan Ling Tong sekolah di sekolah yang sama, SMA Reinassance (AN: Heh? Nama SMAnya aneh? Yah... ngawur dikit, lah). Zhao Yun itu kakak tingkatnya Cao Pi yang sudah semester tiga, sementara Cao Pi sendiri baru semester satu. Bedanya, Zhao Yun kuliah di jurusan kedokteran, sementara Cao Pi di IBM (AN: IBM singkatan dari: Internatioal Bussiness Management) Zhao Yun, Ling Tong, dan Lu Xun itu tinggal di tempat kost yang sama. Ling Tong kerja sambilan di perusahaannya Cao Pi, atau tepatnya perusahaannnya papanya Cao Pi. Xiao Aling sendiri juga teman sejak kecilnya Cao Pi. Papa Xiao Aling kerja di perusahaan papanya Cao Pi sebagai ketua bagian keamanan.
Di tengah perjanan Surabaya-Selekta, empat orang itu mengalami berbagai peristiwa yang berbeda-beda. Tapi pada intinya, mereka having fun, deh! Kecuali Hui Na sama Lu Xun, kaleee...
Xiao Aling cuma bisa diam di jok mobil sport Cao Pi sambil sesekali memandang cowo yang cool dan keren itu. Gila, semakin dilihat, Cao Pi semakin keren aja... Nggak tahu kenapa, mukanya Xiao Aling sampai memerah.
Sementara masih hening aja suasananya, yang mengeluarkan suara cuma tape yang ada di mobil itu. dari mobil itu mengalun lagu 'Manusia Bodoh' yang membuat Xiao Aling penasaran banget. Akhirnya, gara-gara penasaran, sekaligus cari bahan omongan, Xiao Aling nanya juga ke Cao Pi.
"Ko, suka lagu 'Manusia Bodoh', ya?" Tanyanya sekasual mungkin.
Cao Pi cuma ngangguk.
"Kenapa?" Tanya Xiao Aling lebih penasaran lagi. "Emangnya koko pernah dikecewakan seorang cewe sampai kayak di lagu itu, ya?" Dia mulai tertawa, tapi entah kenapa ketawanya garing banget. Pasti gara-gara dia tegang setengah mati karena ngomong-ngomong sama Cao Pi. Belum lagi Cao Pi nggak bereaksi sedikitpun.
Tepat pada saat itu lampu hijau berganti jadi lampu merah, dan Cao Pi langsung mengerem mobilnya di stopan itu. Cowo yang biasanya nggak berekspresi itu tiba-tiba aja perlahan tersenyum sedih ke arah Xiao Aling. Dia menunduk, pelan-pelan memandang Xiao Aling dengan tatapan penuh arti (AN: Lebay...). Rasanya belum pernah sekalipun Xiao Aling diberi tatapan kayak getu sama cowo manapun. Kali ini malah dia dia disenyumi begitu sama cowo perfect macam Cao Pi yang keren, ganteng, cool, pintar, kaya, dsb. "Bukan dikecewakan..." Jawabnya setengah berbisik. Dia kelihatannya sungguh-sungguh banget. "Ini karena salahku sendiri. Aku emang bodoh, suka sama satu cewe yang terus ada di dekatku, tapi nggak bisa jujur." OMG! Cao Pi yang dingin aja sudah ganteng setengah mati, apalagi kalau senyum getu. Bagi Xiao Aling, dia jadi sepuluh kali lebih ganteng!
Sialnya, sebelum Xiao Aling nyadar mau ngomong apa, lampu merah berganti jadi lampu hijau lagi dan pandangan Cao Pi kembali ke jalan raya, begitu juga ekspresinya. Xiao Aling cuma bisa melongo dan nggak terasa mukanya tambah merah nggak karuan.
Koko... Katanya dalam hati. Seandainya cewe itu aku...
Pada saat yang bersamaan, sementara Xiao Aling lagi enak-enakan berangan-angan di mobilnya Cao Pi, Xiahou Fang betul-betul tersiksa sampai mau mati rasanya! Entah kenapa hari ini udaranya berpolusi banget. Xiahou Fang langsung sesak nafas, belum lagi Zhao Yun nyetirnya cepet banget sampai Xiahou Fang harus meluk pinggang Zhao Yun erat-erat.
"Zhao Yun!" Rintih Xiahou Fang sambil membenamkan wajahnya ke punggung Zhao Yun. "Jangan cepat-cepat! Aku takut!" Katanya sambil terbatuk-batuk karena asap kendaraan yang bejibun itu.
Melihat Xiahou Fang yang sudah setengah sekarat, Zhao Yun akhirnya menepikan motornya dan memeriksa Xiahou Fang. Ya ampun! Xiahou Fang keadaannya sudah luar biasa kacau! Rambut panjangnya sudah nggak karuan kayak wewe gombel gara-gara kena angin kencang. Mukanya pucat kayak White House di Amrik sono. (AN: Berlebihan banget...) Pokoknya keadaannya saat itu cukup membuat Zhao Yun sampai tercerai berai jiwanya kayak es batu yang dilumerkan jadi air, trus diuapkan jadi uap air. (AN: Eh? Apa hubungannya?)
"Xiahou Fang?" Panggil Zhao Yun sambil menepuk bahunya. "Kamu nggak apa?"
Xiahou Fang cuma bisa menggeleng lemah. "Nggak apa, kok... cuma agak pusing aja..."
Zhao Yun kaget sekaligus bingung. Xiahou Fang kok bisa sakit cuma karena naik motor aja? Apa dia punya penyakit dalam kronis? Pikir Zhao Yun. Dia sendiri nggak tahu, tapi cuma bisa menebak-nebak kalau itu mungkin asma. Akhirnya, Zhao Yun cepet-cepet merogoh sesuatu dari ranselnya.
"Minum ini." Katanya sambil memberikan sebutir obat pada Xiahou Fang.
"Apa itu?"
"Obat pusing."
Xiahou Fang menurut aja. Setelah minum obat itu, dia merasa jauh lebih baikan. Entah itu karena efek obatnya atao karena Zhao Yun yang membantunya. Pokoknya sekarang Xiahou Fang sudah bisa tersenyum, dan... Astaga! Zhao Yun sampai terpana. Meski Xiahou Fang pucat getu, tapi kalau tersenyum bisa melumerkan hati Zhao Yun!
"Terima kasih." Kata Xiahou Fang tulus. "Kamu selalu bawa obat kemana-mana?"
Zhao Yun mengangguk. "Iya. Kan aku sudah pernah kasih tahu kamu kalau aku kuliah di fakultas kedokteran. Lebih baik selalu bawa obat."
"Kamu pasti jadi dokter yang hebat." Puji Xiahou Fang.
Setelah beberapa menit beristirahat (AN: Atau tepatnya first dating... Huahaha...) akhirnya dua insan itu melanjutkan perjalanan juga...
Beda sama kondisi kakaknya yang sudah nyaris mati tadi, Xiahou Mei ternyata sama sekali nggak ada masalah. Dia bahkan sampai hampir berdiri di mogenya Ling Tong dan berseru keras-keras 'YUHUUUU!!!' atau apalah itu. Ling Tong tambah lama tambah semangat aja nyetir sampai mereka jadi yang paling depan dari empat pasang itu. Melihat pacarnya yang bertingkah gila-gilaan, Ling Tong bukannya menasihati tapi malah ikutan gila juga!
"Ko, ayo lebih cepet!" Seru Xiahou Mei.
"Oke, Mei!" Katanya sambil mencondongkan badannya kedepan dan menaikkan lacu motornya sampai jarum speedometernya hampir maksimum (AN: Yahhh... nggak selebay itu, sih...) Intinya, cara mengendarai Ling Tong itu bisa dibilang ugal-ugalan sampai orang-orang yang dibalap langsung misuh-misuh alias nyumpah-nyumpah pada dua orang itu. Hebatnya, Xiahou Mei dan Ling Tong sama sekali nggak ambil pusing.
Sayangnya, kali ini mereka nggak bisa diam aja. Di sebuah stopan yang lampunya masih merah, Ling Tong tetap menjalankan motornya dan jadilah dia ketangkep polisi. Polisi itu langsung minta SIM dan STNK-nya Ling Tong. Setelah polisi itu selesai memeriksa SIM dan STNK itu, dia ngelihat Ling Tong dan Xiahou Mei dengan tatapan nggak enak.
"Kalian ini masih kecil tapi sudah berani melanggar. Kalau besar mau jadi apa kalian?!" Bentak polisi itu. Ling Tong dan Xiahou Mei cuma diam tapi pasang muka nantang sambil mikir dalam hati, ya jadi orang, lah... Tapi, polisi itu tetep aja bacot (AN: Bacot itu singkatan dari banyak cocot alias banyak omong) "Mestinya saya harus menangkap kalian!"
Dasar emang Ling Tong dan Xiahou Mei nggak bisa membaca situasi, sebenarnya polisi itu minta disogok! Tapi, Ling Tong dan Xiahou Mei yang nggak tahu apa-apa cuma bisa diam mendengar ocehan polisi itu.
Diam-diam Xiahou Mei berbisik ke Ling Tong. "Ko, cepet tancep gas! Aku bosen!"
"Ngawur!" Bisik Ling Tong. "SIM dan STNK-ku masih di polisi itu!"
"Udah! Pokoknya siap-siap aja!"
Akhirnya, Ling Tong cuma bisa nurut menstrater mogenya itu tanpa kelihatan si polisi. Sementara polisi itu lagi berkonsentrasi mengomeli mereka, Xiahou Mei menjulurkan tangannya ke SIM dan STNK yang masih ada di polisi itu perlahan tanpa ketahuan juga.
"Ayo, ko! Jalan!" Dalam waktu sepersekian detik, Xiahou Mei menarik SIM dan STNK itu, dan pada saat itu juga Ling Tong tancap gas secepet-cepetnya! Polisi itu sempat bengong beberapa saat, tapi setelah sadar ternyata dua orang plus satu moge itu sudah hilang entah kemana.
Beberapa jam berlalu dan kelihatannya Cao Pi sama Xiao Aling sudah sampai. Ling Tong sama Xiahou Mei sudah sebentar lagi nyampe. Zhao Yun sama Xiahou Fang agak terhambat karena insidennya Xiahou Fang itu. Tapi setidak-tidaknya masih lebih mendingan... Pasalnya sekarang ada pasangan yang lebih parah. Siapa lagi kalau bukan Lu Xun sama Hui Na?
Lu Xun tambah lama tambah jengkel sama satu cewe jaim ini, apalagi dengan gayanya yang sok jaga jarak. Entah pas di jalanan yang sepi sampai harus ngebut, atau di jalan lambat, tetap aja Hui Na menolak buat pegangan sama Lu Xun supaya nggak jatuh.
Sekarang mereka hampir nyampe Puncak. Di suatu jalan yang menanjak, Hui Na masih aja sok kuat tanpa pegangan sama Lu Xun. Sebaliknya, tangannya berpegangan sama bodi sepeda motor doank, oh, dan plus keberuntungan.
"Eh, ntar mau nanjak." Lu Xun memperingatkan, tapi Hui Na tetap nggak peduli. Nah, menghadapi cewe seperti ini, cowo sesabar Lu Xun pun akhirnya nggak tahan juga. Dalam hatinya langsung muncul satu ide buat ngerjain Hui Na. Liat aja... biar tahu rasa kamu!
Lu Xun, dengan sangat tiba-tiba menaikkan laju motornya pas menanjak, sampai rasanya sepeda motor itu mau terbang! Dan setelah itu...
BRUK!
...sepeda motor itu entah kenapa jadi lebih ringan.
Lu Xun menoleh ke belakang. Sesuai harapannya, ternyata Hui Na jatuh gara-gara tetap nggak mau pegangan sama dia, dan karena kecepatan motor yang ditambah tiba-tiba. Dengan nggak tahu dirinya Lu Xun malah ketawa! "Makanya! Tahu rasa kamu! Aku kan sudah bilang pegangan sama aku!"
Mendengar dia bukannya ditolong malah tambah diejek, Hui Na jadi kesel setengah mati. Untung jalanan itu agak sepi jadi yang menertawakan dia juga nggak banyak. Apalagi pas jatuh kepalanya kena aspal, dan tentu saja kena aspal itu sakit. "Sialan kamu!" Makinya, tapi Lu Xun nggak membalas, malah menatapnya dengan perasaan bersalah. Nggak tahu kenapa, suara Hui Na bergetar karena mau nangis. "Sakit tahu nggak sih?! Kalau bercanda jangan keterlaluan!" Pelan-pelan matany mulai memerah dan siap nangis.
Cepet-cepet Lu Xun turun dari sepeda motornya dan menghampiri cewe itu dengan wajah prihatin. Senyebelin apapun cewe satu ini, tapi karena dia yang bikin Hui Na sampai jatuh, mau nggak mau harus tanggung jawab, donk! "Aduh, Hui... maaf... tadi, cuma main-main... nggak tahu kalau kamu sampai kayak gini..." Katanya dengan nada minta maaf.
PLAK! "Main-main? Apa kamu nggak tahu kalau kayak getu itu berbahaya? Oke, aku tahu kamu nggak suka sama aku, tapi nggak perlu berusaha bikin aku celaka!" Bentak Hui Na, plus memberikan sebuah tamparan ke Lu Xun. Wajahnya kayak orang bener-bener siap nangis!
Lu Xun bingung. Kenapa kok Hui Na hari ini emosional banget? Dia jadi nggak membalas tamparan Hui Na tadi. "Iya, aku tahu... sori... plisss..."
"Kamu jahat, tahu nggak sih?! Dasar triple B!"
"Hah? Triple B?"
"BRENGSEK, BIADAB, BEJAT!" Teriak Hui Na kuat-kuat sampai orang semua pada noleh ke mereka.
Lu Xun memasang wajah memohon dengan puppy-eyesnya itu yang super cute. "Tapi... aku kan sudah minta maaf..."
"Pokoknya kamu BRENGSEK! BIADAB! BEJAT! Oh, dan satu lagi, BAJINGAN, BRUTAL, BODOH, BANTENG, BANDOT, BANCI, BANGKAI, BANGSAT, BEGO, BOLOT, BOSOK, BINATANG!" Pokoknya segala sumpah-sumpahan berawalan B yang Hui Na tahu langsung dimuntahkan begitu aja.
"Sori... pliss..." Lu Xun masih memohon-mohon. "Iya... iya... aku emang salah... aku emang triple B, plus apalah itu tadi..."
Tiba-tiba Hui Na terdiam, terus dia tertawa kecil, sebelum berubah jadi ketawa maniak! Lu Xun sampai kaget! "MWAHAHAHAHAHA!!!! Ternyata Lu Xun ngaku! Ternyata emang betulan Lu Xun kalah sama aku! Hahahaha!!! Masih cupu begini berani melawan Hui Na? Jatuh tadi mah sudah biasa... sama sekali nggak sakit!" Katanya, yang membuat Lu Xun sweatdrop tiada tara (AN: Cupu itu CUlun PUnya).
Dan sesudah setelah itu, terjadi perang dunia yang entah keberapa...
Wew... akhirnya... ini dia chapter 2... sudah mulai ketebak ceritanya, ya? Hehehe... Yah, silahkan menebak-nebak, deh... ^-^
Minggu ini UTS terus... mana bahannya kelas 3 SMA kan susah banget... T-T Yah, kayaknya update bakal agak telat, mungkin 1-2 minggu lagi. Sorry... sorry... Gomen... gomen... Eh, tapi betulan, lho, materi Listrik Statis yang dipelajari Hui Na di bab 1 itu juga materi yang aku pelajari sekarang... Dan susahnya... WOW... soalnya biasanya aku suka fisika mekanik, tapi kalau fisika listrik sama fisika magnet (atau tepatnya fisika elektromagnetik) rada susah ngertinya...
BREAKING NEWS buat semua pembaca cerita PyroMystic! Harap dibaca!
Ehm, kawan-kawan, aku sudah memutuskan suatu keputusan yang cukup pahit. Begini, sejak SyahBana memberikan komentar yang... tidak mengenakkan tentang cerita Xanthic Flower, aku memutuskan untuk sementara waktu stop dulu nulis Xanthic Flower, dan melanjutkan cerita Orbital Speed ini plus cerita MASTERPIECEku (MWAHAHAHA... ketawa maniaknya keluar lagi, deh) Masalahnya, aku masih belum kepikiran judul buat Masterpiece itu. Oh, dan satu lagi. Orbital Speed ini kan cerita santai, sementara Xanthic Flower kan cerita serius. Nah, sebagai gantinya, cerita Masterpieceku ini juga bakal jadi cerita yang serius... moga2 nggak bosen dengan bahasaku yang rada kaku kalau nulis cerita serius... T-T
Tenang... jadi jangan merasa kecewa karena Xanthic Flower di stop, soalnya kan ada penggantinya ^-^
Nah, sekarang aku bingungnya gini... Kan aku sudah janji nulis Orbital Speed bersamaan sama Xanthic Flower. Tapi, karena Xanthic Flower nggak lanjut, aku mau tanya nih sama temen2 pembaca semua. Apa temen2 mau aku melanjutkan cerita Orbital Speed ini sampai selesai dulu baru setelah itu publish cerita Masterpieceku? Atau sekaligus aku publish ceritaku yang Masterpiece itu bersamaan dengan Orbital Speed? Keputusan sepenuhnya di tangan temen2 semua... tolong kasih jawaban, ya? ^-^ (Oh, dan kalau bisa sekaligus kasih saran judul buat cerita Masterpieceku itu... kan sayang kalau ceritanya bagus tapi judulnya jelek...?)
Wokey, deh... sekian dulu! Aku usahakan update secepatnya!
