80 Millionen

by Gyoulight

.

.

.

.

CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance

RATING: T

.

.

.

.

Bagi Chanyeol, kebebasan adalah sesuatu yang diidamkannya. Menjadi pewaris utama dalam keluarga bukanlah suatu hal yang begitu bisa disombongkan. Tidak pernah sama sekali mendamba, sampai-sampai ibunya susah payah mencarikannya pendamping hidup. Bukan karena tidak laku, tapi Chanyeol mengaku belum pernah menemukan seseorang yang tepat.

Chanyeol tak suka wanita cantik, pintar, anggun atau sopan seperti tawaran ibunya. Walaupun ia pada akhirnya berhasil dipaksa ibunya untuk menerima ditunangkan dengan gadis ideal penuh kriteria. Yang mengaku mencintainya, namun berhasil menyangkutkan ragu, apakah cinta pada aset perusahaan ayahnya atau parasnya yang tidak pernah gagal meruntuhkan hati banyak gadis.

Well, Chanyeol tidak ingin berlebihan walaupun nyatanya memang dirinya selalu kelebihan. Dengan bermodalkan paras rupawan, ia bisa menipu pelayan wanita di rumahnya. Mencuri salah satu mobil miliknya yang ditawan ibunya sendiri. Hingga terbang meninggalkan tanah kelahirannya sebelum ibunya membekukan seluruh ATM di dompet.

Chanyeol tak akan menyangka, satu minggu di Swiss memberinya sebuah arti dari kebebasan. Dimana ia tak berkutat dengan kertas-kertas pelajaran bisnis atau telpon ibunya yang menyampaikan jadwal kencannya. Ia pun harus berterima kasih lagi pada keberuntungan yang baru saja mendatanginya. Terlebih bisa duduk di depan pemuda manis yang sebangsa dengannya ini. Yang membuatnya tidak perlu repot-repot berbahasa asing untuk sekedar menyapa.

Awalnya Chanyeol tidak tertarik dengan pemuda di depannya itu. Menganggapnya sama seperti angin yang mendesau di telinga. Tapi menurutnya, Baekhyun terlalu menarik untuk dilewatkan.

"Apa kamera itu membawamu sampai ke sini?" tanya Chanyeol tanpa malu. Ia hanya bisa berharap orang di depannya itu tak akan menganggapnya melucu, kurang kerjaan dan lebih parahnya lagi pemuda kesepian. Karena kalau boleh jujur, Chanyeol membutuhkan seseorang yang dipercaya untuk bertahan di negeri orang.

"Kau mau kopi?" Baekhyun menawarkannya sebuah cangkir kopi yang mendingin. Rasa yang sama, namun warnanya sedikit lebih pekat dari kopinya yang hampir habis. "Jika aku meninggalkannya aku sama saja dengan membuang kurs franc."

Chanyeol menahan tawa mendengar kepolosan Baekhyun yang begitu datar menyambut ritmenya. Ia bukannya terganggu, malah semakin menarik pemuda itu baginya.

"Oh, aku sempat sedikit mencicipinya," sambung pemuda itu mencicit. Ia menggaruk kepalanya, meninggalkan helaian rambutnya yang berdiri. Tak kunjung dirapikan, ingin sekali tangan Chanyeol lancang menyentuhnya.

"Tak masalah," tutur Chanyeol menjemput cangkir pemuda itu. Membawanya mendekat lalu menyesapnya tanpa babibu. Sedangkan Baekhyun memilih diam di tempatnya, tak mau melihat. Apalagi menghiraukan kerongkongannya yang serak minta diisi.

Tak lama, hujan mereda menyisakan keramaian pejalan kaki. Lewat jendela, Baekhyun menyaksikan beberapa wisatawan berlarian menuju menara jam. Mengabaikan Chanyeol yang hampir tersedak kopi, ia pun beranjak keluar dari café. Tak perduli Chanyeol memanggilnya beberapa kali untuk meminta pertanggung jawaban atas kopinya yang begitu pahit.

"Kopimu adalah yang terburuk," keluh Chanyeol menepuk-nepuk pundak si mungil. Ia mengejar pemuda mungil itu hingga nafasnya berlari ria memasuki ritme. Yang ditepuk malah sibuk dengan kameranya. Memotret sesuatu di atas sana hingga Chanyeol sendiri kesal karena terabaikan. "Kurasa kau memesan sesuatu yang salah."

Baekhyun masih terdiam dengan kameranya. Sibuk menangkap setiap momen bagaimana sebuah boneka keluar menari dari sudut jam. Baekhyun begitu takjub dengan hal tersebut. Berbeda dengan Chanyeol yang sama sekali tidak perduli dengan tontonan orang ramai di depannya.

Selebihnya, Chanyeol tak suka diabaikan. Ia tak pernah diabaikan seumur hidupnya. Pemuda tinggi itu kesal tapi tak berani mengganggu si brunette. Bagaimana mungkin ia bisa marah dengan seseorang yang belum genap satu jam ia temui. Teman saja bukan.

"Biar ku beritahu kau─ yak!"

Seorang pemuda asing menabrak Baekhyun. Tubuhnya yang mungil limbung ke belakang. Tak sengaja ia menjatuhkan kameranya ke atas aspal sebelum dirinya benar-benar ditangkap oleh Chanyeol.

Baekhyun merasakan jantung di dalam dadanya semakin liar mencari jalan keluar. Merasakan hatinya yang meletup bagai popcorn, hingga tanpa sadar merona kala kedua tangan besar itu berhasil menangkap tubuhnya.

Kamera Baekhyun sungguh tergeletak, hancur lensanya menabrak aspal. "M-maaf," cicit Baekhyun membeku di lengan Chanyeol. Yang jika diperhatikan posisi keduanya seperti tengah melucu dengan adegan roman picisan. Mata bulan sabitnya pun tak akan berani mengedar pada kakinya.

Chanyeol yang masih menatap kepingan hazel si mungil, buru-buru melepaskan Baekhyun dari genggamannya. Mencari benda hitam berlensa lebar itu dengan matanya yang bulat bak boneka.

"Kameranya!" Chanyeol menyadarkan Baekhyun, namun Baekhyun terlalu terpaku dalam diamnya.

e)(o

Justingerweg kembali dirundung gerimis. Tak ada payung, tak ada tempat berteduh. Hanya ada pohon-pohon berdaun kuning yang berguguran. Mereka berdua tengah mengisi betapa kosongnya jalanan siang itu. Saat mantel Chanyeol tiba-tiba membentang melindunginya, Baekhyun segera menghindar dari itu. Lagipula ia punya topi mantelnya yang lebih berguna dibandingkan berdekatan dengan orang yang baru saja dikenalnya.

Bukan bernegatif thinking, hanya saja akan terlihat sangat aneh.

Chanyeol baik-baik saja dengan penolakan yang baru saja ia terima. Sekali lagi, Baekhyun membuat dirinya menjadi orang yang tidak punya harga di luar rumahnya. Wajar kalau Baekhyun kesal, kameranya rusak dan ia tidak lagi mendapatkan banyak foto untuk hobinya. Tapi bukan pula salah Chanyeol tentang kerusakan kameranya.

Well, hanya lensa yang retak. Jika Chanyeol mau, ia bisa membeli kamera yang baru dan super bagus untuk Baekhyun.

"Kau kesal karena kameramu rusak?" selidik Chanyeol mengekorinya menyebrang jalan. Dan entah mengapa ia bisa begitu perduli pada orang asing seperti Baekhyun.

Baekhyun tak kunjung menjawab. Lebih fokus untuk mencari sebuah bus. Sebut saja tengah berusaha kabur dari orang asing.

"Itu hanya retak. Kau bisa─"

"Bagaimana mungkin kau bisa bilang itu hanya retak?!" Baekhyun menatapnya dengan sinis. Mungkin ia bisa maklum dengan Chanyeol yang tak paham masalah kerusakan kamera. Tapi mengganggunya di tengah amarahnya pada orang yang tidak bertanggung jawab setelah memecahkan lensa kameranya adalah penyebab mengapa ia bisa bersikap sesensitif ini.

Tapi Baekhyun tiba-tiba terdiam. Ia pikir ia tak pantas untuk marah pada siapapun. Terlalu kekanak-kanakan. Anggap saja ia tengah mendapatkan karma karena kabur tanpa izin ayahnya. Ia bahkan tak sempat berpikir panjang, bagaimana ia bisa bertahan hidup di negara mahal ini untuk selamanya. "Aku tidak bawa banyak uang untuk memperbaikinya."

Chanyeol sedikit terhenyuh pada pemuda mungil itu. Ia bisa melihat cerminan dirinya sendiri tentang betapa keras kepalanya ia hingga bisa terdampar di tempat ini. Kemudian yang bisa ia lakukan adalah menawarkannya sesuatu seperti, "Mau ku bantu?"

Jangan tanyakan padanya tentang ia yang bisa menjadi sok peduli begini pada orang asing. Ia tak pernah begini pada seseorang sebelumnya. Tidak pernah, bahkan untuk sekedar menghibur orang lain dari duka lara. "Aku sedikit tahu beberapa tempat di Altstadt."

Baekhyun membuang nafas. Matanya terus mengedar pada jalanan yang sepi. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang terdengar sia-sia saja menghiraukan Chanyeol. "Lupakan, aku benar-benar tidak membawa banyak uang."

"Biar kutebak kau tengah kabur dari rumah," tutur Chanyeol menyusulnya. Tak perduli Baekhyun hanya terus berjalan meninggalkannya. "aku benar kan?"

Bekhyun berusaha menenggelamkan seluruh rasa kesalnya. "Lalu kau ingin menculikku? Merampokku? Menjual organku?"

Chanyeol tiba-tiba berlari menghalangi jalannya. "Aku ingin membantumu─"

Baekhyun memiringkan kepalanya. Ingin rasanya ia pukul saja orang di depannya ini. "Apa kau tak punya sesuatu yang kau kerjakan selain mengurusi urusan orang lain?"

"Oh, ayolah. Aku bukan orang jahat yang ingin menculik orang tak berdosa sepertimu. Apalagi membunuh, menjual ginjalmu dan─"

Tiba pada Baekhyun yang menyingkirkan tubuh besar Chanyeol darinya. Membuang pemuda itu untuk segera pergi dari jalan yang seharusnya bebas ia lewati dengan kakinya.

"Kau bisa naik itu untuk kembali ke Korea," jemari mungil nan lentik itu kemudian menunjukkannya sebuah bus di ujung jalan. Bus berukuran besar yang biasanya membawa semua orang ke beberapa peron kereta menuju bandara London.

"Wow, kau bahkan mengenalku dengan sangat baik," kekeh Chanyeol sedikit geli karena pemuda mungil itu tengah berusaha mengusirnya. "Perlu kau tahu bahwa aku adalah anak dari pendiri Park Industries." Sedikit menyombongkan diri agar si pemuda mungil ini tahu tentang seberapa penting ia di Korea.

Baekhyun sempat menatap penampilan Chanyeol yang berantakan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi setelahnya, Baekhyun hanya bisa menggeleng. Ia pun sama sekali tak akan perduli, sekalipun Chanyeol adalah anak menteri Swiss.

Lagipula siapa yang tak akan menyangka jika pemuda berambut keriting dengan celana jeans dan hoodie lusuh di depannya ini tak lebih dari seorang anak jalanan Swiss. Walaupun wajahnya bisa menjelaskan betapa cocoknya ia menjadi anak orang paling kaya di muka bumi ini. "Kau tak akan berada disini jika itu benar."

Frustasi, Chanyeol menjambak rambutnya yang keriting. Demi neneknya yang semakin betah di rumah sakit karena kehilangan cucu kesayangannya, Chanyeol bersumpah tak pernah dijatuhkan seperti tadi. "Kau hanya tak mengerti."

"Aku sama sekali tidak perduli," tegas Baekhyun meninggalkan Chanyeol. Menaiki bus besar yang baru saja sampai di Halte.

Tak perduli kemana Baekhyun akan pergi, Chanyeol mengejarnya. Memasuki bus itu tanpa berpikir lalu menjatuhkan diri di samping kursi pemuda mungil itu. "Katakan, kemana kau akan pergi?"

Baekhyun merengut. "Bukan urusanmu!"

"Aku berani bertaruh jika kau tak tahu tempat ini dengan baik." Baekhyun tertegun. Menatap manik hitam jelaga itu dalam kebekuan. Air wajahnya telah menjelaskan Chanyeol segalanya. Bahwa pemuda itu sedang putus asa, kabur dari rumah karena masalah, lalu yang lebih parahnya tak membawa banyak uang. "Kau punya uang?"

Baekhyun menjatuhkan rahangnya. "Kau ingin merampokku sekarang?"

"Byun Baekhyun, aku serius," keluh Chanyeol sedikit frustasi.

Baekhyun memijit keningnya. Entah bagaimana caranya ia mengusir pemuda tak jelas ini dari hadapannya. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Dengar," Chanyeol meletakkan tas gitarnya. Sedikit kerepotan sebenarnya. "aku tak begitu mengerti mengapa aku bisa melakukan ini. Tapi hatiku mengatakan bahwa kau tengah butuh bantuanku."

"Aku tak butuh bantuan dari siapapun," lirih Baekhyun membuang wajahnya ke luar jendela. Entah mengapa ia bisa begitu lelah kali ini. Matanya tiba-tiba saja berkabut, hendak menangis seperti anak kecil yang tersesat di jalan.

Chanyeol membatu di sampingnya. Pemuda itu tak akan bisa melakukan sesuatu jika sudah dihadapkan pada hal seperti ini. Ia pun tiba-tiba saja jadi rindu dengan ibunya.

"Hei, mau ku tunjukkan sesuatu?" tawar Chanyeol pada Baekhyun yang mengusap air matanya mendung. Tak mau menoleh, sekalipun Chanyeol bisa melihat pantulan dirinya di kaca jendela. "Kau pasti akan menyukainya."

e)(o

Dua jam lebih di dalam kereta membuat Baekhyun tak bertahan untuk tidak melakukan apapun. Wajahnya masih muram, tak berminat menghiraukan pemuda di sampingnya. Baekhyun sedikit berterima kasih pada pemuda bertelinga peri itu karena mentraktirnya sebuah tiket kereta dan crepes stroberi yang manis. Ia bahkan tak banyak berpikir darimana pemuda tampan ini mendapatkan uang sebanyak itu untuk sekedar bersenang-senang.

Tanpa ia sangka pemuda tiang itu sangat fasih berbahasa Inggris dan Jerman. Terlihat mengobrol banyak dengan penumpang yang lain dan bahkan pada petugas kereta sekalipun. Chanyeol mungkin pemuda yang cukup ramah. Sangat periang untuk ukuran seorang pria. Ia akan tertawa lepas tanpa menghiraukan orang di sekitarnya. Termasuk Baekhyun yang mulai berpikir aneh tentang kewarasan pemuda itu.

"Kemana kita akan pergi?" tanya Baekhyun menghentikan tawa Chanyeol yang sibuk berurusan dengan salah satu nyonya berambut pirang. Tibalah saat semua orang menatap Baekhyun yang sedari tadi memilih diam memperhatikan. Bukannya tidak mengerti bahasa inggris, hanya saja ia kurang percaya diri untuk melakukannya.

"Zermatt," jawab Chanyeol singkat. "Kupikir kau tidur."

Baekhyun membuang kembali wajahnya ke luar jendela. Suasana dingin kembali menggerogoti wajahnya yang semakin lusuh. Melihat tumpukan kabut di sepanjang jalan membuatnya sedikit mengantuk. Benar kata Jongdae dahulu, Switzerland begitu indah untuk dijadikan tempat liburan. Bukan tempat kabur seperti yang terjadi pada dirinya. Yang tak perduli ia bisa saja tersesat jika tidak bertemu dengan Chanyeol.

"Aku juga kabur dari rumah," mulai Chanyeol mengeluarkan sebotol air dari tasnya. Ia tampak tak begitu perduli untuk didengarkan. Pada intinya, ia hanya perlu menjadi dekat dengan Baekhyun untuk sedikit menghiburnya. "Ibuku yang cerewet ingin melihatku segera menikah dan mengelola perusahaan ayahku dengan rapi."

Baekhyun sedikit menoleh padanya. Siapa yang menyangka ada orang yang memiliki pemikiran pendek sepertinya. "Itu semua impian semua ibu."

"Ya," Chanyeol tersenyum getir. "Tapi ibuku tak pernah memikirkan bagaimana impianku yang sebenarnya." Pemuda itu mencoba mencari ketenangan dengan meneguk airnya.

"Di Bucheon tidak ada yang seperti itu, hanya saja─" Baekhyun menunduk. Ia tiba-tiba rindu bagaimana kebahagiaan yang ia dapatkan pada masa kecilnya. Mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya, pergi berlibur bersama, lalu yang terpenting adalah tak akan pernah terpisahkan. Tapi nampaknya ibu dan ayahnya tidak perduli lagi tentang semua itu. "Pasti kedua orang tuamu sangat menyayangimu."

"Benar." Pandangan Chanyeol mulai berkabut. Ditatapnya sebotol air mineral yang terus beriak di genggamannya. "Aku hanya tak suka ditunangkan."

Chanyeol kembali tersenyum bodoh. Selalu begitu. "Tunanganku adalah gadis cantik, kaya dan juga cerdas."

Baekhyun merasa sedikit aneh pada cerita polos milik Chanyeol ini. Ia sedikit bisa merasakan betapa tak menyenangkan jadi seseorang sepertinya. Walaupun pada nyatanya keluarga Chanyeol terdengar begitu rapi jika dibandingkan dengan keluarganya yang berantakan.

Baekhyun mengusap hidungnya yang memerah. Ia bisa bilang dirinya tengah kedinginan. "Lalu mengapa kau meninggalkannya?"

Chanyeol tersenyum lagi. Ia membongkar isi tasnya lalu menyerahkan salah satu jaketnya pada Baekhyun. "Cinta adalah yang paling penting."

Baekhyun terkekeh mendengarnya. "Cinta tidak sepenting itu." Ia pun tak menolak jaket tebal dari Chanyeol. Ia memakainya dengan senang hati walaupun nantinya mungkin akan ditertawakan karena jaket itu sukses menenggelamkan tangannya. "Orang yang saling mencintai saja bisa saling membenci."

Chanyeol terkejut dengan jawaban singkat dari Baekhyun. Ia sedikit memutar wajahnya untuk menemukan jawaban bohong dari pemuda mungil itu. Tapi nampaknya, Baekhyun adalah orang yang terlalu jujur untuk berbicara. "Kau tak pernah jatuh cinta?"

Baekhyun membuang wajahnya. "Mereka tidak penting."

"Kenapa?"

"Cinta itu omong kosong─"

Chanyeol memasukkan botol airnya kembali ke dalam tas. Menghindari tolehan Baekhyun yang seakan ingin meyakinkannya. "Kau hanya takut kecewa."

"Tidak," jawab si brunette ketus. Lagipula ia hanya mencoba membenarkan jaketnya.

"Kau hanya tidak benar-benar tahu apa itu cinta," balas Chanyeol yang sialnya membuat Baekhyun sukses terkunci pada binernya. Pemuda itu kemudian meraih jemari dinginnya. Menggenggamnya hingga ia sendiri bisa bergidik. "Mau ku tunjukkan?"

Baekhyun membeku. Tubuhnya semakin mendingin. Tapi yang tak ia mengerti adalah wajahnya yang tiba-tiba saja terbakar. Ia pun merasakan hangat ketika salah satu tangannya digenggam. Terpaku pada obsidian kembar yang begitu jernih membayangi wajahnya. Hingga ia sendiri bingung sejak kapan suara husky Chanyeol terdengar begitu mengagumkan di telinga.

"Mau ku tunjukkan apa itu cinta?" Chanyeol mengulangi perkataannya. Membuat Baekhyun semakin merasakan jantungnya berdegup tak karuan dengan darahnya yang terus berdesir bagai jam pasir. Sungguh tak ada satu pun hal yang pernah membuatnya demikian dalam hidupnya.

Chanyeol telah lancang menyentuh wajahnya. Menarik dagunya hingga ia sendiri bisa dengan jelas menatap setiap lekuk wajahnya. Baekhyun hanya terpaku dan seolah tak bisa melakukan apapun. Mengusir Chanyeol yang begitu bar-bar mendekatinya saja tidak pernah bisa dilakukannya, apalagi menolak ketika hidung mereka hampir bersentuhan.

"Hentikan!" Baekhyun akhirnya mendorong si pemuda tinggi itu. Wajahnya bukan main semerah tomat menahan genderang perang di dadanya. Ia sibuk berpikir. Memutar wajahnya sambil memperhatikan ke sekeliling. Bagaimana jika ada yang berpikir macam-macam tentang mereka? Walaupun nyatanya hampir saja menjadi macam-macam sih.

Chanyeol terkikik geli melihat pemuda itu merona hebat di pipi. Ia segera melipat lengannya setelah menaikkan topi bulu jaketnya. "Bagaimana? Sudah merasakannya?"

Baekhyun menyernyit tak mengerti.

"Jantungmu berdetak keras sekali," Chanyeol tersenyum mengejeknya. Sungguh, ia ingin sekali memukul kepala besar pemuda di sampingnya ini.

Si brunette pun memutar posisinya menghadap jendela. Menenggelamkan kepalanya pada topi jaketnya lalu memejamkan kedua mata. Ia bersumpah ingin tenggelam saja sekarang.

e)(o

Setelah keluar dari kereta, mereka harus berjalan menelusuri deretan pertokoan dan resto. Sayangnya Chanyeol terlihat tak peka untuk mengajaknya masuk ke salah satu restoran karena perutnya kini meraung lapar. Baekhyun berakhir kesal tak menukar banyak uang untuk membeli sedikit cemilan atau mungkin potato rosti di salah satu toko. Salahkan Chanyeol yang menyeretnya kemari tanpa membawa banyak persiapan dan juga dompet.

Baekhyun terlalu malu untuk mengatakan ia lapar atau hendak meminjam uang untuk sekedar mengisi perutnya. Tidak, ia bukanlah orang yang tidak punya harga diri. Terlebih pada orang yang baru saja ditemuinya.

Setelah jauh berjalan dan melewati banyak restoran yang membuat perut Baekhyun meraung semakin lapar, akhirnya Chanyeol menariknya masuk ke salah satu restoran yang atapnya tertutupi salju tebal.

Bangunan resto itu dibuat sedikit sederhana dengan cat putih pucat. Interiornya ditata rapi dengan figura-figura yang unik. Jendelanya berukir dan mejanya terbuat dari kayu yang kokoh. Bagus menurut Baekhyun. Dan yang paling penting adalah, Chanyeol memesan sesuatu yang terlihat begitu enak dan juga hangat.

Dua Zurcher Geschnetzeltes, Alpermagronen, Rivella, coklat panas dan satu piring Rosti tertata di atas meja. Baekhyun pun hanya tercengang pada nama-nama makanan yang mungkin akan segera masuk ke perutnya.

Setelah Chanyeol─dengan sabar─memperkenalkan satu per satu pesanan mereka, waiters itu pun selesai dengan membawa nampan kosongnya. Baekhyun mau tak mau menatap pada Chanyeol yang mulai menyantap makanannya tanpa berbicara sesuatu seperti harga makanan─misalnya.

Dan Baekhyun mengaku bukanlah orang yang akan suka berhutang pada orang lain, terlebih hutang budi. Ia mungkin saja tipe orang yang takut tak bisa membayar hutang atau pun membalas budi. Karena bagaimanapun, Chanyeol sudah benar-benar membawanya ke dalam resto mahal seperti ini. Yang kemudian ia hanya bisa mengutuk design dari resto yang begitu menipu. Tak semurah kelihatannya, katanya.

"Tidak suka?" tanya Chanyeol mebuyarkan lamunanya.

"T-tidak," kikuk Baekhyun meraih garpunya. Mencicipi potongan daging di piringnya dalam diam dan sibuk menguyah. Pikirannya lalu melayang secara otomatis tentang betapa enaknya sesuatu yang baru saja masuk ke mulutnya.

"Bagaimana?"

Baekhyun hampir tersedak makanannya sendiri ketika tiba-tiba mengetahui Chanyeol sibuk memperhatikannya. Ia meraih Rivella-nya, lalu meminumnya dengan amat tergesa. Tak lupa mengutuk piring-piring makanannya karena tak memberitahunya tentang Chanyeol yang terlalu memperhatikan. Memalukan, pikirnya.

"Ini terlalu mahal," keluh Baekhyun yang terbatuk-batuk menepuk dadanya. Katakan jantungnya mendadak berhenti ketika tahu Chanyeol menatapnya begitu serius.

"Tak masalah, jika kau suka." Chanyeol dengan baik hati memberikannya sapu tangan. Memastikan Baekhyun baik-baik saja setelah menghabiskan setengah Rivella-nya.

"Aku yang bayar," ujarnya menunjuk dengan garpu. Baekhyun termangap, lalu bersandar pada kursinya. Kehilangan selera makan. "Kenapa?"

"Berikan aku nomer rekeningmu." Baekhyun mengeluarkan ponselnya, hendak mengetik sesuatu sebelum mendengar Chanyeol terkekeh di depannya. "Aku serius."

"Aku lebih serius membantumu," kikiknya renyah.

Baekhyun mendegus, "Aku tak suka berhutang pada orang lain."

"Jangan seperti ayahku," tuturnya melahap Alpemagronen dan menyisakan beberapa potongan Rosti di piringnya. "Habiskan makananmu lalu kita pergi."

Lagi-lagi Chanyeol memotong perkataannya.

e)(o

Setelah lama berdebat soal makanan dan harga dengan Chanyeol, Baekhyun akhirnya bisa diam. Perutnya penuh tak bisa diajak berkompromi. Ia ingin tinggal saja di restoran lebih lama, bukan mengikuti Chanyeol ke dalam Intersport Rent. Benar-benar tak berminat terlibat dengan snowboard atau sejenisnya. Karena baginya, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada memotret atau bermain game.

Chanyeol sudah memakai semua atribut skiing-nya. Mulai dari pakaian, helm, kaca mata, boat, bahkan board-nya. Berbeda dengan Baekhyun yang masih berdiam di sofa, hanya menyaksikan pemuda tinggi itu dengan tatapan lesu.

Tak lama Chanyeol kembali dengan perlengkapan yang lain. Membawakannya beberapa model dan ukuran yang terlihat pas untuknya. Pemuda itu pun tak lupa memasangkannya pada Baekhyun yang menolak mentah untuk dipakaikan begitu saja. Karena Baekhyun telah mengaku, ia bukan anak kecil yang harus diurusi.

"Aku janji ini akan sangat menyenangkan," tutur Chanyeol tersenyum seperti keledai. Terlalu percaya diri dan juga sedikit bodoh bagi Baekhyun.

Lagi-lagi Baekhyun tak bisa menolak. Entahlah, bagaimana ceritanya Chanyeol bisa begitu berkuasa di matanya. Bahkan saat Baekhyun takut menaiki cable car dan Chanyeol memotret dirinya tanpa diprotes.

Mood Baekhyun saat kekenyangan mungkin terlalu lucu di mata Chanyeol. Pemuda berambut keriting itu tak ada henti-hentinya tertawa lalu mengerjai si brunette hingga mereka menapak di sisi Matterhorn Mountain.

Baekhyun yang kesal karena dirinya selalu ditertawakan oleh si telinga lebar, tak segan untuk melempari pemuda itu dengan bola salju besar buatan tangannya.

Chanyeol tak mau kalah. Pemuda tinggi itu membalasnya hingga berlarian di atas salju yang tebal. Baekhyun pun ikut tertawa hingga lupa bahwa ia tersandung batu di kakinya. Chanyeol semakin tertawa renyah menikmati pemandangan lucu itu, sampai lupa pada Baekhyun yang akan kembali melempari wajahnya.

Mendapati wajah Chanyeol yang dipenuhi salju membuat mereka terdiam beberapa saat. Namun tak lama mereka kembali tenggelam dalam tawa. Sungguh aneh bagi Baekhyun.

Hari terasa begitu panjang bagi keduanya. Chanyeol bahkan dengan senang hati mengajari Baekhyun cara bermain ski. Ia menuntun pemuda itu meluncur atau memberinya tips tentang cara berhenti dengan papannya berjam-jam. Sampai pada Baekhyun yang sedikit mengerti trik, mereka pun akhirnya siap meluncur di atas salju bersama.

Baekhyun tak ada henti-hentinya mengagumi bagusnya permainan ski Chanyeol. Diam-diam ia yang sudah lebih dahulu jatuh terguling, menyalakan ponselnya lalu sibuk mengambil gambar. Lagipula jika kameranya rusak, ia masih bisa menggunakan ponselnya, bukan?

"Aku tak tahu jika bermain ski semenyenangkan tadi," cicit Baekhyun di sela perjalanan pulang mereka. Sedangkan Chanyeol masih berjalan di sampingnya sambil menatap langit penuh bintang. Sesekali ia menunjuk ke arah langit lalu menyebutkan nama-nama rasi bintang yang ditemuinya.

Baekhyun kemudian menghentikan langkahnya untuk menggaruk sedikit tengkuknya. Sedikit canggung ketika ia mencoba memanggil nama pemuda itu. "C-chanyeol?"

"Ya?" respon Chanyeol yang ikut menghentikan langkah kakinya. Mata bulatnya kini berpendar pada sosok mungil yang terlihat begitu manis di depannya.

"Aku tinggal di sini," tuturnya menunjuk sebuah bangunan dua lantai di dalam pagar. Buru-buru ia menggigit bibir, merotasikan matanya lucu sambil melepas jaket yang dipinjamkan Chanyeol padanya.

Lalu anehnya, Baekhyun hanya terus merasa tak ingin mengakhiri pertemuan mereka disini.

Chanyeol mengangguk kecil, tak lupa memperhatikan home stay Baekhyun yang bercahaya temaram. Cukup sederhana dan juga terlihat sedikit hangat. "Tempatmu pasti sangat keren," pujinya riang.

"Lalu kau?" tanya Baekhyun mengembalikan jaket itu pada empunya. Matanya yang berkedip lucu mengundang senyum Chanyeol yang dirundung dingin.

"Penginapan di ujung sana," balas Chanyeol. Pemuda itu pun segera membenarkan tas gitarnya sebelum mengambil kembali jaketnya.

"Tak ingin mampir?" Nada Baekhyun diselami canggung. Bagaimanapun ia sangat berterima kasih pada Chanyeol yang mau mengajaknya bersenang-senang hari ini. "Host family-ku punya sedikit pesta penyambutan untuk member baru."

Chanyeol terkekeh, ingin sekali rasanya mengiyakan ajakan pemuda brunette itu. Lagipula, siapa yang tidak suka pesta? Tapi tak akan memungkinkan bagi Chanyeol untuk mengganggu sebuah keluarga baru. "Mungkin lain kali. Aku punya kebiasaan buruk tentang pesta."

Baekhyun tertawa kecil sampai-sampai pemilik home stay membukakannya sebuah pintu. Menoleh sebentar, ia sedikit memundurkan langkahnya. "Kemana kau akan pergi besok?"

Maka Chanyeol menjawabnya dengan sangat antusias. Dalam hatinya, ia sangat berharap akan menuang banyak perjalanan dengan orang yang baru dikenalnya itu. "Lucerne. Kau mau ikut?"

Baekhyun tanpa ragu mengangguk setuju. Senyumnya bahkan secerah rembulan malam di atas sana. "Aku akan sangat senang."

Chanyeol menatap Baekhyun yang perlahan berbalik meninggalkannya. Ia pun sedikit tersenyum pada pemilik home stay yang hendak menyambut kedatangan Baekhyun. Tapi entah bagaimana, hatinya mendadak terasa kosong.

Namun sesaat, setelah ia memutuskan untuk kembali melangkah, ia mendapati Baekhyun menatapnya. Melambai padanya dengan senyum tulus. "Terima kasih," tuturnya lembut. "Senang bertemu denganmu."

Chanyeol mengangguk senang. Ia tak sabar untuk menanti esok hari. "Sampai jumpa besok."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Oke, Chapter 1. Terinspirasi dari hubungan ChanBaek yang ajaibnya bisa akrab cuman dalam waktu semalam. (Sungguh jodoh kalian)

Sebenarnya ff ini sudah lama bersarang di laptopku. Hanya saja aku menambahkan beberapa unsur dan sedikit memperbaiki alur yang sebelumnya ku tulis. Sedangkan genrenya, aku tidak janji akan fokus. Aku sudah bilang di prolog kalau genre ff ini akan terserah pada alurnya wkwkwk Intinya ff ini tamat dengan caranya sendiri #ngomongapaansihgue?

Terima kasih kepada kalian yang sudah memfollow dan memfavoritkan ff ini. Mohon tinggalkan jejak (masukan/saran) ketika kalian selesai membaca. Karena semua itu tentu akan mempengaruhi ff ini dan menjadi bahan evaluasiku.

See you