Tittle : Fairy of Winter

.

Author : FairyWinter

.

Main Cast :

- Huang Zitao as Zitao

- Wu Yifan as Yifan

.

Other Cast : Song Qian, Kyungsoo

.

Pairings : KrisTao, FanTao

.

Part : II

.

Genre : Fantasy, Angst, Romance de el el.

Rating : T

.

Disclaimer : All character belongs to God, their parents and their agency. But story is MINE! Don't Dare to Copy and Paste! I told you!

Warning: OOC (Out Of Character), Miss Typo(s), Boys Love, Tidak sesuai EYD. If you don't like my story, just klik Close.

.

.

.

.

FairyWinter

.

.

.

.

.

Present

.

.

.

.

Here we go~

.

.

.

Cuaca malam ini tidak seburuk cuaca kemarin. Zitao menghembuskan nafas lega begitu melihat langit malam tampak begitu bersahabat. Membetulkan posisi ranselnya, Zitao bersiap untuk pulang ke rumah. "Aku pulang dulu, Noona." Pamit Zitao pada seorang wanita cantik yang tengah sibuk berkutat dengan setumpuk cucian piring.

.

Menolehkan kepalanya, wanita yang dipanggil noona oleh Zitao itu mengembangkan senyuman. "Baiklah. Hati-hati, Zitao. Terima kasih untuk hari ini." Menundukkan kepalanya, sekedar untuk mengucapkan rasa terima kasih dan melambaikan tangannya pada Zitao—sebagai salam perpisahan. Ia kemudian kembali berkutat pada cucian piring yang tengah menunggunya.

.

Namun Zitao tidak bergeming sedikit pun. Ia masih setia berdiri disana, diambang pintu dapur sambil memperhatikan Song Qian—yang tak lain adalah bosnya di tempatnya berkerja— sesekali mengelap keringat yang membasahi keningnya. "Hum, Noona, kau yakin tidak ingin ku bantu?"

.

Mengetahui Zitao masih berada disana, Song Qian segera menghentikan kegiatannya: setelah sebelumnya mencuci tangannya dan mengelap tangannya hingga kering. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Zitao. "Yakin, Zitao. Sangat yakin. Dan—astaga, demi Tuhan, kau sudah menanyakannya hingga sepuluh kali semenjak tadi. Lagi pula sebentar lagi Kyungsoo akan datang. Jadi kau tidak perlu membantuku."

.

"Tapi—"

.

Song Qian yang sudah mengetahui sifat Zitao yang sangat keras kepala itu, segera melangkahkan kakinya menghampiri Zitao. "Sudah pulang sana. Kau sudah banyak membantuku hari ini. Pulang dan beristirahatlah." Ia membalikkan badan Zitao dan mendorong Zitao pelan untuk keluar dari dapurnya.

.

"Tapi—Noona—"

.

"Pulang. Atau gajimu bulan ini aku potong." Ancam Song Qian sambil menatap tajam Zitao. Walaupun, ya, ia tidak sungguh-sungguh akan melakukannya. Mana tega ia memotong gaji karyawan kesayangannya itu.

.

Glup

.

Zitao menelan liurnya dengan kasar. Oh, jika sudah seperti ini, mau tidak mau ia menuruti keinginan bos nya tersebut. "Ba—baik. Aku pulang dulu. Terima kasih untuk hari ini, Noona."

.

Song Qian tersenyum dengan puas mendengar jawaban dari Zitao. Namun, beberapa detik setelah ia membalikkan tubuhnya. Kembali terdengar suara jernih milik Zitao.

.

"Noona—Benarkah kau—"

.

Song Qian menghembuskan nafas berulang kali lalu memijat pelan pelipisnya. 'Anak ini, benar-benar keras kepala.' Ia benar-benar gemas atas sifat keras kepala Zitao.

.

"Zi-tao—"

.

"Baiklah. Baiklah. Aku benar-benar pulang sekarang. Sampai jumpa besok, Noona." Zitao segera melarikan diri dari Café tersebut, tak lupa ia melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Meninggalkan Song Qian yang kini membalikkan tubuhnya dan menatap Zitao yang terlihat sedang membuka payungnya.

.

Ia terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya saat melihat Zitao sedikit kesulitan ketika membuka payungnya. Dan tak lama berselang, ia menghembuskan nafas lega ketika ia melihat Zitao kini mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Café miliknya.

.

Sebenarnya, bukannya ia tidak ingin dibantu. Hanya saja mengingat tempat tinggal Zitao yang cukup jauh dari Café nya tersebut, ia tidak tega menahan Zitao lebih lama disana. Apalagi cuaca di luar benar-benar tidak dapat di prediksi; kadang sedikit cerah, kadang turun salju lebat, dan sebagainya. Membuat Song Qian cemas bukan main memikirkan Zitao yang pulang seorang diri setiap malamnya.

.

"Anak itu, benar-benar keras kepala,—"

.

.

.

"—dan, terlalu baik hati."

.

.

.

.

.

.

.

Zitao kembali menelusuri jalanan yang semalam ia lewati. Sebenarnya sih, ada jalan pintas lain untuk menuju rumahnya supaya lebih cepat sampai. Namun, entah apa yang mendorongnya untuk melewati jalan itu kembali. Ia bahkan tidak bisa menolak keinginan kakinya serta tubuhnya untuk melewati jalanan tersebut.

.

Zitao mengeratkan syal yang melingkar di lehernya. Sedikit menggosokkan tangannya ke jaket; hanya untuk sekedar menghangatkan tangannya yang tidak menggunakan sarung tangan. Hari ini ia lupa membawa sarung tangannya, karena ia terburu-buru berangkat kerja. Yang sebenarnya, sih, ia terlambat bangun pagi ini. Dan, sial baginya, karena hal itu membuatnya harus merasakan hawa dingin yang sedikit menusuk permukaan kulit tangannya.

.

Satu tangan ia masukkan ke dalam saku jaketnya, sekedar untuk membiarkan tangannya tetap hangat. Satu tangan yang lain, semakin mengeratkan pegangan payungnya ketika angin berhembus sedikit kencang, agar payungnya tidak diterbangkan oleh angin.

.

Kedua iris kelamnya sibuk memantau sekelilingnya, seperti tengah berharap jika—

.

"Apa yang kau pikirkan, Zitao. Dia tidak mungkin berada di tempat itu lagi." Zitao mengetuk pelan kepalanya, bermaksud menghilangkan bayang-bayang pria asing yang tak sengaja bertemu dengannya kemarin, atau mungkin lebih tepatnya, karena ia yang menghampiri pria itu duluan.

.

Ya, Zitao tengah memikirkan Yifan. Sebenarnya sih, sudah dari kemarin malam, semenjak ia sampai di rumah, ia terus memikirkan keadaan Yifan seperti; apakah Yifan sudah pulang ke rumah, apakah Yifan sudah makan malam, apakah Yifan baik-baik saja, dan masih banyak lagi pertanyaan yang akhirnya membuat ia menjerit frustasi. Kenapa ia jadi memikirkan orang itu, sih?

.

Langkah Zitao semakin cepat ketika ia hampir mencapai tempat pertemuan pertama dia dengan Yifan. Namun ketika semakin dekat, hanya kekecewaan yang Zitao dapatkan. Menghembuskan nafas kecewa dan menundukkan kepalanya. Zitao mulai melangkahkan kakinya gontai.

.

'Ia tidak ada disini. Kenapa aku—'

.

"Kau mencariku?"

.

Zitao segera mengangkat kembali wajahnya dan menatap sosok pria yang sedari tadi memenuhi pikirannya kini tengah berdiri menjulang di hadapannya. Hampir saja ia menjerit kaget, karena kemunculan Yifan yang sungguh tiba-tiba itu. Seandainya saja ia tidak segera menghentikan langkahnya, bisa dipastikan jika ia akan menabrak tubuh tegap Yifan saat itu juga.

.

"Astaga—kau mengagetkanku, bodoh." Zitao memukul pelan pundak Yifan lalu mengerucutkan bibirnya, sebal.

.

Yifan yang melihatnya hanya melengkungkan seulas senyuman tipis. "Kau mencariku, kan?" Yifan mengabaikan omelan Zitao, membuat Zitao sedikit merona merah karena mendengar pertanyaan dari Yifan.

.

"Ti—tidak, untuk apa aku mencari mu. Kau percaya diri sekali, Yifan." Zitao memalingkan wajahnya ke arah lain, ketika melihat jarak antara dirinya dan Yifan terlalu—bahkan sangat dekat. Detak jantungnya mulai berdebar tak menentu. Ini aneh, sungguh. Baru kali ini Zitao merasakan perasaan seperti ini. 'Jantungku—kenapa?'

.

"Benarkah? Lalu kenapa kau terus memikirkanku? Dan—bisa kau jelaskan kenapa wajahmu memerah seperti itu? Ditambah lagi, debaran jantungmu begitu kacau. Kau tidak sedang sakit, kan?" Tanya Yifan beruntun, membuat Zitao segera mengalihkan pandangannya dan menatap Yifan dengan wajah yang semakin merona merah.

.

"Ka—kau—bagaimana bisa?" Zitao mulai gelagapan. Ia bingung harus menjawab pertanyaan Yifan seperti apa. Dan pada akhirnya, ia memutuskan untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Yifan sedikit pun.

.

Hening melanda, Zitao hanya mampu menundukkan kepalanya ketika Yifan memandangi kedua iris kelamnya dengan begitu dalam. Yifan terdiam, terpaku. Ia sibuk memutar otaknya mencari kata yang tepat untuk meminta maaf atas sikap kasarnya kemarin malam. Sungguh, bukan keinginan dirinya untuk bersikap kasar seperti itu. Ia hanya mengkhawatirkan pria manis itu, karena kemarin malam, ia melihat kondisi Zitao sedikit buruk. Tubuhnya terlihat menggigil namun tetap bersikeras berada disana.

.

Yifan sebenarnya cukup terkejut dengan kedatangan Zitao yang tiba-tiba memayungi dirinya malam itu. Padahal selama ini, tak ada satu pun orang yang menyadari keberadaanya. Karena ia adalah—

.

"Pakai ini. Kau itu keras kepala sekali. Setidaknya, kau memakai pakaian yang sedikit tebal, apalagi jika kau sedang berada di luar rumah." Yifan tersentak kaget ketika Zitao tiba-tiba saja memakaikan syal ke lehernya. Dan yang lebih membuat Yifan terkejut adalah, karena ia memakai syal itu bersama dengan Zitao. Hingga ia dapat merasakan pundaknya bersentuhan dengan pundak Zitao. Entah sejak kapan Zitao berpindah ke samping kirinya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari itu?

.

Yifan baru saja ingin membuka mulutnya untuk protes, namun dengan cepat Zitao memotongnya. "Jangan protes, kita sudah memakainya bersama, kan? Dengan ini tidak ada alasan bagimu untuk menolak syalku lagi." Ujar Zitao tanpa sedikit pun berani menatap Yifan. Ia malu, sangat. Tapi, ia mengabaikan rasa malunya tersebut. Yang ada di pikirannya adalah hanya untuk memberikan rasa hangat pada Yifan.

.

Yifan menolehkan wajahnya ke samping kiri, dan ia dapat melihat jelas rona merah yang menghiasi paras manis Zitao.

.

"Maafkan aku." Kata itu lolos begitu saja dari belah bibir Yifan. Membuat Zitao mau tidak mau segera mengalihkan pandangannya ke arah Yifan. Iris abu-abu Yifan bertemu dengan iris kelam Zitao. Keduanya terdiam, seperti tengah menyelami satu sama lain. "Kau bilang apa tadi, Yifan?"

.

"Maafkan aku. Aku hanya—"Jeda, Yifan kembali memandangi paras manis Zitao dengan taat. Mulai dari keningnya, kedua matanya, hidungnya, dan, tak lupa bibir kucingnya yang terlihat menggoda itu. Menggelengkan kepalanya, Yifan kembali focus pada ucapannya. "—Mengkhawatirkanmu."

.

Satu kata terakhir, sukses membuat Zitao melepaskan pegangan pada payungnya, membuat payung itu terbang tertiup angin yang tiba-tiba saja berhembus kencang. Tolong katakan padanya jika indera pendengarannya masih berfungsi dengan normal. Ia tidak salah dengar, kan? Orang itu mengkhawatirkannya? Yifan mengkhawatirkan Zitao.

.

Yifan mengerjapkan matanya sekali, lalu melanjutkan kembali ucapannya. Berniat untuk menjelaskan maksud dari perkataannya tersebut. "Aku mengkhawatirkanmu, bodoh. Apa semalam kau tidak dapat merasakannya sendiri jika kau gemetaran karena udara tadi malam yang begitu dingin? Kau itu bodoh, mengkhawatirkan orang lain, tapi tidak memperdulikan dirimu sendiri. Karena itulah aku mengusirmu. Jika aku mengatakan aku tidak butuh, maka aku benar-benar tidak membutuhkannya. Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkan keadaanku." Jelas Yifan panjang lebar. Jeda sebentar, ia mengamati perubahan wajah Zitao. Dapat ia lihat ketika Zitao menyatukan kedua alisnya, seperti tengah memikirkan, atau mungkin mencerna perkataannya dan sedikit merenunginya.

.

Namun jawaban yang dilontarkan Zitao berikutnya, sukses membuat Yifan ingin mencubit pipi Zitao, gemas.

.

"Tapi, dibandingkan aku. Kondisimu lebih mengkhawatirkan. Lihatlah, kau bahkan masih memakai pakaian yang kemarin." Zitao menunjuk pakaian yang digunakan oleh Yifan. "Apa kau tidak mandi? Tapi, kenapa aroma tubuhmu masih tetap wangi?" Zitao mengendus aroma tubuh Yifan, membuat Yifan hanya mampu mengerjapkan kedua matanya melihat tingkah ajaib Zitao.

.

"Dan lihatlah, bahkan kau masih tidak menggunakan alas kaki. Astaga, Yifan. Demi Tuhan, kau itu manusia macam—hmmph—"

.

Kedua iris kelam Zitao membulat dengan sempurna, tak kala ia merasakan bibir Yifan mengunci bibirnya. Yifan menciumnya. Demi Tuhan, tolong katakan padanya jika ini semua bukan hanya dalam mimpinya. Karena jika ini hanya dalam mimpi, ia berharap tidak akan bangun lagi untuk selamanya.

.

Yifan menjauhkan wajahnya, lalu menatap Zitao yang kini tengah menyentuhkan jari-jarinya pada bibirnya sendiri. Kedua pipi Zitao merona merah dengan sempurna. Entah karena efek ia mencium Zitao barusan, atau memang karena cuaca dingin malam ini? Entahlah. Padahal ia sudah mengatur agar cuaca hari agak cerah. Bahkan ia mengatur agar angin dingin itu tidak berhembus kencang seperti hari kemarin. Yifan, tidak ingin mengetahuinya, atau mungkin—ia sangat ingin mengetahuinya.

.

"Sudah, cukup ceramahnya, huh? Astaga—kau itu cerewet sekali." Yifan menyentil pelan kening Zitao, membuat Zitao sedikit meringis karena sensasi dingin yang menyentuh keningnya.

.

Namun, bukannya Zitao menjawab, ia malah berlari meninggalkan Yifan tanpa sepatah kata pun. Yifan yang melihat reaksi Zitao terkejut bukan main. Ingin rasanya ia mengejar pria panda itu. Namun apa daya, ia tidak mungkin melakukannya.

.

Ia takut—jika ia mengejar, maka ia akan semakin terperosok pada perasaan yang tidak mungkin dapat ia ungkapkan, bahkan untuk dipertanggung jawabkan.

.

Pada rasa yang mungkin terlarang untuknya, bahkan untuk kaumnya. Apalagi jika keduanya berbeda.

.

Tapi—

.

Tersenyum kecut, Yifan menatap dalam punggung Zitao yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.

.

—Bagaimana jika ia memiliki rasa itu?

.

Ini, bahkan untuk pertama kalinya ia merasakan rasa itu.

.

Namun, takdir melarang mereka untuk bersatu.

.

Kejam memang. Tapi rasa itu seharusnya tidak boleh ada. Apalagi jika ia bukan manusia seperti umumnya. Bukan seperti Zitao, atau orang-orang yang kini tengah berlalu lalang disekitarnya.

.

Salahkah ia? Jika ia mulai memiliki rasa itu? Bahkan, tanpa ia sadari rasa itu semakin lama semakin menguasai dirinya. Membuatnya semakin terjerat pada pesona Zitao. Semakin ia menyelami kedua iris kelam itu, ia bahkan sudah jatuh terperosok begitu dalam—

.

—pada sebuah rasa, yang disebut—

.

.

.

.

Cinta

.

.

.

.

.

.

.

.

Zitao menggerutu kesal, tak kala ia melihat berita di televisi, yang menyebutkan beberapa jalan yang tertimbun salju longsor—dan salah satunya adalah jalan pintas yang menuju rumahnya. Kejadian yang sangat aneh memang, karena bagaimana pun juga, cuaca tadi malam begitu cerah. Lalu? Darimana asalnya timbunan salju itu?

.

Menggerakan bola matanya gelisah, Zitao melirik sekilas jam dinding yang berada di samping kirinya. Sudah pukul delapan malam. Dan itu berarti kini giliran Kyungsoo yang berjaga menggantikan dirinya.

.

"Eh? Kau masih disini, Zitao? Ku kira kau sudah pulang." Terlihat sosok pria manis bermata bulat tengah melepaskan jaketnya dan melangkahkan kakinya mendekati Zitao.

.

"Kyungie!" pekik Zitao lalu berhambur memeluk tubuh yang lebih mungil darinya itu. Pria yang di panggil 'Kyungie' itu hanya mampu mengerjapkan kedua matanya melihat tingkah aneh Zitao. Tidak biasanya Zitao memeluknya seperti ini.

.

"Kau kenapa, Zitao? Eh? Apa kau sedang ada masalah?" Kyungsoo—atau nama lengkapnya Do Kyungsoo itu, sedikit memundurkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Zitao yang memang jauh lebih tinggi darinya itu. Kadang ia berpikir, apa saja yang diberikan oleh ibu Zitao, sehingga anaknya tumbuh tinggi seperti sekarang ini. Padahal mereka berdua seumuran. Tapi tetap saja—banyak yang berbeda dari mereka berdua.

.

Selain masalah tinggi yang terpaut cukup, ehem, jauh. Sifat keduanya pun bertolak belakang. Jika Kyungsoo terkenal dengan sifatnya yang sungguh sangat dewasa, maka Zitao adalah kebalikannya. Kekanakan. Dan—keras kepala yang paling utama. Ya, walaupun terkadang ia bahkan bisa bersikap lebih dewasa dari Kyungsoo. Tapi—itu hanya ada dalam beberapa kasus saja.

.

Menggelengkan kepalanya pelan. Zitao melepaskan pelukannya dan menghela nafas. Ia tidak mungkin menceritakan jika ada orang asing, yah, walaupun tidak asing lagi sekarang. Tapi tetap saja, mereka baru bertemu dua hari yang lalu, dan tiba-tiba saja, orang itu berani menciumnya. Merebut ciuman pertamanya.

.

Kyungsoo yang menyadari perubahan raut wajah Zitao hanya mampu tersenyum maklum. Sudah biasa. Zitao sudah terbiasa menyimpan semua masalahnya seorang diri. Namun, tetap saja, jika Zitao sudah tidak mampu menahannya seorang diri, ia akan menceritakan segala unek-uneknya itu pada Kyungsoo. Jadi, ya, jika sudah seperti ini, Kyungsoo hanya tinggal menunggu waktunya saja.

.

"Oh, kau sudah datang, Soo. Dan—astaga, Zitao! Kau masih belum pulang juga, hah?" Song Qian segera menghampiri kedua anak buahnya itu. Dengan cepat tangan Song Qian terangkat dan menyentil pelan kening Zitao. "Kau itu benar-benar keras kepala ya, Zitao." Membuat Zitao mau tidak mau meringis karena mendengar ucapan Song Qian.

.

"Noona, aku mohon. Hari ini aku menginap disini saja, ya?" Zitao kini menggoyang-goyangkan lengan Song Qian dan memasang wajah memelas. Ia malas pulang. Apalagi jika harus melewati tempat itu. Tidak akan. Ya, walaupun ia tidak membenci Yifan, tapi tetap saja, ia mana berani bertemu denganYifan setelah insiden tadi malam. Apalagi ia tidak mengucapkan salam sedikit pun pada Yifan, Heck! Yang benar saja, ia bahkan sudah terlalu malu untuk menatap kedua mata Yifan.

.

Song Qian hanya mampu menghembuskan nafasnya mendengar permintaan Zitao. Sedangkan Kyungsoo hanya mampu menatap keduanya, bingung. Song Qian yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepala serta mengangkat bahunya. Oh, Kyungsoo paham. Song Qian pun, yang notabene dekat dengan Zitao saja tidak mengetahui alasan Zitao yang sekarang ini tengah merengek agar diijinkan menginap disana.

.

"Noona, ku mohon. Sekali ini saja, ya? Please?" ujar Zitao sambil memasang senjata andalanya, apalagi kalau bukan aegyo-nya.

.

Song Qian hanya mampu menahan nafasnya melihat ekspresi wajah Zitao. Duh, ia benar-benar lemah jika sudah dihadapankan pada senjata andalan Zitao.

.

Baru saja ia ingin menganggukan kepalanya, menyetujui permintaan Zitao. Kyungsoo segera menginterupsi mereka berdua. "Tunggu sebentar. Jika kau menginap disini, kau ingin tidur dimana, Zitao? Bukankah kamar yang biasa digunakan sedang di renovasi?" Kyungsoo menyatukan alisnya, berusaha untuk menggali kembali ingatannya. Begitu pula dengan Song Qian yang juga terlihat tengah berpikir.

.

"Ah, kau benar, Kyungsoo. Kata Nickhun, kemungkinan selesainya dua minggu lagi. Itu pun, kalau ia sedang tidak sibuk. Ya, kalian tahulah bagaimana sibuknya, eum, kekasihku itu." Rona merah kentara jelas menghiasi paras cantik Song Qian ketika menyebutkan nama kekasihnya. Kyungsoo hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah bosnya itu. Selalu seperti itu, jika Song Qian mulai membahas tentang kekasihnya yang sangat tampan itu.

.

Hati Zitao mencelos, tak kala mendengar jawaban dari Song Qian. Itu berarti—ia harus pulang ke rumah malam ini. Ya, Tuhan. Kenapa ia harus bernasib seperti ini, sih?

.

"Ja—jadi—"

.

"Maaf, Zitao. Sepertinya kau memang harus pulang ke rumah. Atau kau ingin aku antarkan sampai rumah? Kita bisa naik mobilku. Kau mau, Zitao?" Song Qian merasa tak enak hati, tak kala melihat perubahan wajah Zitao.

.

Menggelengkan kepalanya pelan, Zitao mengangkat satu tanganya. "Tak usah, Noona. Terima kasih atas tawaranmu. Aku pulang jalan kaki saja."

.

Zitao tidak ingin merepotkan Song Qian, apalagi ia adalah seorang wanita. Kasihan jika ia harus mengantar Zitao ditengah cuaca dingin seperti ini. Duh, Zitao, ia itu naik mobil, bukan motor. Apa yang harus dikhawatirkan, huh?

.

"Tapi—"

.

"Aku pulang dulu, Noona, Kyungie. Sampai jumpa besok." Zitao membungkukkan badannya dan mengucapkan salam.

.

Dengan langkah gontai, Zitao menyambar tas ranselnya dan berjalan menuju pintu keluar.

.

.

.

.

.

"Haruskah aku menghindarinya?"

.

.

.

.

.

.

"Atau—"

.

.

.

.

.

.

"—aku harus menemuinya?"

.

.

.

.

.

.

To be continued..

.

.

.

.

.

Halo, saya datang membawa part IInya. Tadinya berencana untuk twoshoot. Tapi tetap saja, jadinya, ya begitulah. Tapi tenang aja. Mungkin dua part lagi tamat. Hehehe..—semoga.

.

Makasih untuk yang sudah mereview. Ternyata banyak yang suka.. J semoga suka juga sama part ini, ya? J

.

Balasan Review :

.

Review from :

dewicloudsddangko

Di next ne thor! Kris itu makhluk apaan ne?apa mayat/hantu?atau apa?
pliss dilanjut!
key keep writing!
loph u#o

Reply :

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. J ini sudah dilanjut. Semoga suka. J Makasih reviewnya.. J keep review ya. J

.

Review from :

KTHS

Kris di sini jadi apa thor-nim eitsss maksudnya winter,hhe
next,next,next
keep writing,,
sehat selalu,,
gomawo :-D

Reply :

Yifan itu— apa ya? Hahaha..J ini sudah dilanjut. Semoga suka.. J Makasih reviewnya.. sehat selalu juga.. J

.

Review from :

91

Kris siapa?! Dia semacem imortal gitu?! Apa makhluk halus?! /plak/ XD
Kasar amet sih si Kris -_-"
TaoZi kan cuman pen nolongin! meskipun yaaa Kris emang gak butuh itu! Seenggaknya hargain gitu yekan niat baiknya TaoZi! Tsk! *sewot sndiri kan jadinya* -.-a

Aku suka gaya penulisan kamu Winter-ssi :)))
Dan oiya, selamat datang di FFn :DDD
Seneng bgt karna KrisTao jadi FF pertama yg kamu publish disini. heee
Berkarya terus ya! Semangaaattt :)))

Reply :

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. J dibilang immortal pun, bukan. Karena Yifan mempunyai masa (?) tertentu. J hanya muncul disaat ia harus menjalankan kewajibannya (?). Hehehe.. Yifan kasar ya? Tapi dia punya alasan sendiri kok. Semoga di chapter ini berkurang kesalnya J.

Makasih sudah suka.. J iyaa.. makasi juga sambutan dan juga reviewnya yang panjang.. J hehehe.. semangat juga.. J

.

Review from :

Taoris Saus Tiram

Aaah yifan jahat
*lempar beton
Lanjut author sayang :3

Reply :

Yifan nya ga jahat kok. Cuma dingin aja. Eh? Ehehe.. jangan dilempar beton donk. Kan kasihan. Lempar container aja (?) *jangan di tiru* ini udah dilanjut ya.. makasih reviewnya..J

.

Review from :

ajib4ff

Astaga...kris itu ap ya?

Aku tau...sbnrnya kris g mksud kan brskap ksr gtu ma panda...*ih sotoi

See u...gomawo...sht sll...trs bkrya...

Reply :

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. Iya, Yifan ga ada maksud jahat kok.. J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. sehat selalu juga.. J

.

Review from :

Huang Mir

Lanjut ne chingu ;)

Reply :

J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. keep review ya.. J

.

Review from :

chikakyumin

kyaaaa lnjuuuttt chingu... q ska...

Reply :

J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. keep review ya.. makasih udah suka.. J

.

Review from :

ichigo song

memang.a yifan itu makhluk apaan? O.o

Reply :

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. sehat selalu juga.. J

.

Review from :

TTy T.T

-_- sifat terlalu dingin sperti salju . Emang deh kau bukan manusia biasa *siKris*
klo jadi Tao mungkin dah ku tipuk pakek batu tuh orang ;
next

Reply :

Haha.. iya tuh, sifatnya terlalu dingin. Tapi nanti berubah kok—mungkin. Mungkin kalau Zitao udah nimpuk Kris pake meja (?) haha.. ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. keep review ya..J

.

Review from :

zee konstantin

ceritanya simple tp ngena lho.,
next chapt pasti lbh seru!
lanjut thor!

Reply :

benarkah ngena? Hehe.. Makasih udah suka sama ceritanya.. J Semoga ini beneran seru ya. Jika diluar harapan. Maafkan saya. Saya akan perbaiki next chapternya.. J dan Makasih reviewnya.. keep review ya..J

.

Review from :

NursanitaIS

Fairy? Apkah kau bebeb kuh? O.o lanjutt yaau

Reply :

Eum, mungkin kamu salah orang J ini udah dilanjut ya.. J semoga suka.. Makasih reviewnya.. keep review ya..J

.

Review from :

taotao panda

Bagus ceritanya Kata2nya bagus juga.
Disini kris jd apa sih? Penasaran vampire bukan apa lagi werewolf
Oke ditunggu next chapnya

Reply :

Makasih sudah suka.. J eumm, Yifan itu— apa ya? Hahaha.. J yang pasti bukan keduanya.. J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. semoga suka.. dan keep review ya.. J

.

Review from :

taoris shipperrr

Kris bukan orang?
Gak tega weh ngeliat tao di kasarin sama abang naga T.T
/keroyok abang naga/
Lanjut

Reply :

eumm, iya, Yifan itu bukan orang. *ditampar Yifan* Yifan itu— apa ya? Hahaha.. J Yifan begitu ada alasannya kok. Semoga terjawab ya.. J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. semoga suka.. dan keep review ya.. J

.

Review from :

Xiuby Panda Tao

Lanjuttt!

Reply :

Iya.. ini sudah dilanjut. Semoga suka.. makasih reviewnya.. keep review ya.. J

.

Review from :

awlia

KYAAAAAA
Fic yg keren,
Winter-shi , d lanjut ya ..
Ini keren bnget sumpah,
Aduduh kris bkin penasaran ..

Reply :

Iya.. ini sudah dilanjut. Semoga suka.. hehe., penasaran ya? Semoga chapter ini sedikit mengurangi rasa penasarannya.. J makasih reviewnya.. keep review ya.. J

.

Review from :

Park Yena

Ceritanya keren, winter-ssi *A*
Okay, biarkan aku menebak, itu si yifan werewolf ne ? Atau vampire ? Atau hantu ? Yg pasti dia makhluk supranatural kan ? _

Ditunggu ne , next chapternya :)

Sign,
Park Yena

Reply :

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. yang pasti Yifan bukan keduanya J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. semoga suka.. J keep review ya..

Sign,

FairyWinter

.

Review from :

LovePanda2T

Jadi Kris itu semacem Dewa Salju, gitu?
Aduh, suka nih ama cerita'a.
Please, dilanjut, ya

Reply :

Yifan itu— apa ya? Eum, yaps.. J Dewa Salju. Ada yang nebak juga.. J Hahaha.. makasih sudah suka.. J ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.. semoga suka chapter ini.. J keep review ya..

.

Review from :

ayulopetyas11

arrgkkkk,,,ini kereeeen,,,
anyeong winter, q readers bru dsniw,bangapta#boww

q sk fic u,,pnulisannya,,jg bhsanya yg dlm,,err gmn jlsinnya z,,pkok sk fic yg memeras otak#plok
pnsran mkhluk ap yifan itu yg sbnarnya,, devil,angel,atau mlah hntu,,
err klo yifan sjnis am mkhluk2 d ats,,ini psti bkal jd sad story(z iyalh jls2 wnter udh nulis ANGST d atas kkkk),, bru chap satu enth knp udh nysek aja rsanya,,q sk yg bgni,, sk fic yg bisa bkin nangis2,,
cpt lnjuuut ne,, q tngguuuu,,, fightiiiiiiiing

Reply :

Halo juga, saya juga author baru disini.. J Salam kenal juga. /bow/

Makasih sudah suka dengan tulisan saya.. J

Aku juga suka sama fict yang memeras otak, walau belum bisa membuat sebaik author lain—banyak yang membuat saya envy. J tapi saya akan belajar terus kok.. J

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. Yifan bukan angel, devil ko, juga bukan hantu—sepertinya

. Dia itu—/dibekep Yifan/ J Hahaha.. Eum, untuk endingnya, saya masih bimbang.. haha.. angst pasti ada.. J /dibekep Yifan lagi/. Ini sudah dilanjut kok.. Makasih reviewnya.. semoga suka chapter ini.. J keep review ya..

.

Review from :

ressijewelll

kris dewa salju kan? -'

Yifan itu— apa ya? Hahaha.. /ditimpuk/ Eum, yaps.. J Dewa Salju. Ada yang nebak juga.. J Hehehe.. Makasih reviewnya.. semoga suka chapter ini.. J keep review ya..

.

Mohon maaf jika ada salah penulisan nama atau ada kata-kata yang salah.

Hope you like it guys.

Mind to review? J