.

.

.

Sebenarnya keramaian adalah hal yang selalu ingin Namjoon hindari. Itu alasannya memilih berkarier di belakang layar untuk musik. Tapi memang manusia seperti ditakdirkan untuk menghadapi ketidaksukaannya. Namjoon terus memikirkan hal itu selama keberadaannya dalam sebuah acara makan malam yang diadakan agensinya dan agensi lain untuk merayakan kesuksesan duet dua artis mereka. Dua agensi besar bersatu, bisa dibayangkan betapa ramainya isi gedung, juga ketidaknyamanan yang Namjoon rasakan sebagai penyuka ketenangan nomor satu.

Jadi ia putuskan meninggalkan aula yang penuh sesak dengan artis ataupun produser-produser berselera fashion tinggi. Setelah menghabiskan isi gelas cocktail yang ia ambil sejak pertama kali datang, Namjoon diam-diam melangkah menuju pintu keluar karena jika CEO agensi tahu salah satu produser kebanggaannya meninggalkan acara begitu saja, maka habislah Namjoon.

Malam itu ada di bulan Juni. Musim panas masih menguasai Seoul, membuat udara malam tak sedingin yang Namjoon bayangkan. Ia melepas jas hitam yang ia kenakan, melonggarkan dasi, dan menggulung lengan kemejanya sampai siku. Namjoon tersenyum puas karena berhasil menjadi dirinya lagi. Berada di halaman gedung yang merupakan sebuah taman cukup luas, Namjoon berjalan cepat saat matanya menangkap kursi taman yang berada di depan kolam ikan dengan air mancur kecil ditengahnya. Suasana yang tenang seperti ini yang ia sukai, hanya ada suara angin dan gemericik air kolam.

"Boleh duduk disini?"

Beberapa menit duduk dan memejamkan mata dalam ketenangan, Namjoon menggeram lemah karena suara lain yang datang mengintrupsi. Saat membuka mata ia menemukan seorang pemuda sedang berdiri dihadapannya dengan penampilan yang tidak jauh beda dari Namjoon. Lengan kemeja hitamnya yang digulung, dasi longgar, jas menggantung di lengan kirinya, dan rambut coklat yang sudah tidak tertata. Postur tubuhnya yang jauh lebih kecil di banding Namjoon membuatnya terlihat sedikit lebih muda. Meski sudah pasti Namjoon tahu pemuda itu lebih tua setahun darinya. Tentu saja Namjoon mengenalnya, acara ini dibuat untuknya, sang produser album duet yang sedang dirayakan kesuksesannya.

"Tentu, silahkan." Ia menggeser sedikit posisi duduknya memberi ruang lebih untuk seseorang yang sepertinya sedang sama-sama membutuhkan ketenangan.

"Hah~ ini menyebalkan, bukan?" Gumaman darinya, berada sedekat ini membuat Namjoon menyadari kalau pemuda di sampingnya memiliki kulit yang jauh lebih pucat dari orang biasa.

"Kau bintang utamanya."

Jawaban dari Namjoon berhasil mendapat perhatian lebih darinya, terbukti dari mata mereka yang kini saling bertemu dalam satu garis lurus.

"Aku bukan penyanyinya."

"Ya, tapi kau produsernya."

"Dan kenapa mereka tidak tetap membiarkanku berada di belakang layar?"

Namjoon tertawa, sosok di sampingnya jelas lebih frustasi dibanding Namjoon sendiri. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu matanya terpejam. Namjoon menikmati pengamatan tiap detail hal yang ia lakukan.

"Min Yoongi." Ia bergumam lagi dan senyumnya perlahan muncul.

"Aku sudah tahu. Kim Namjoon. Dan kita memiliki nasib yang sama disini, hyung."

Saat itu Namjoon tidak pernah membayangkan bahwa sesuatu yang pada dasarnya tidak ia sukai, perlahan telah membawanya menuju suatu kebahagiaan yang tidak pernah Namjoon bayangkan sebelumnya.

.

.

.


BTS' Fanfiction

.

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin | Park Jimin | Min Yoongi

.

.

.

.

You only get one first love. So even if you fall for lots of other people, your first love will be the one you always remember -Unknown

.

.


"Minumlah, kau terlihat akan pingsan kapan saja."

Tadi Namjoon mengira Seokjin tidak akan kembali saat ia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan pergi menjauh, tapi ternyata ia kembali dengan sebotol air mineral yang ia ulurkan. Jungkook sudah tertidur pulas dalam dekapan Namjoon saat ini.

Setelah pemberiannya sudah diterima, Seokjin kembali duduk tenang di samping Namjoon seperti sebelumnya. Memperhatikan sosok sang dokter dari samping, Namjoon berpikir kalau Seokjin itu memang nyaris sempurna.

"Kau tidak kembali ke rumah sakit?"

Dan setiap Seokjin menatap langsung ke matanya, ia sedikit kesulitan meraup udara. Seperti saat ini yang bisa Namjoon lakukan untuk menenangkan diri adalah menambah erat dekapannya pada tubuh kecil Jungkook.

Seokjin menggeleng pelan sebelum memutuskan kembali kontak mata mereka, lebih memilih menatap pepohonan di depan demi keselamatan jantungnya yang berdetak sangat cepat sekarang. "Aku merasa harus memastikan kalian berdua benar-benar selamat."

"Kau pikir kami korban tabrak lari?" Namjoon tertawa pelan, mengingat Jungkook yang terlelap dalam pelukannya.

Dan Seokjin ikut tertawa dengan cara yang terlalu manis. Sialan, jantung Namjoon bereaksi terlalu jujur untuk itu.

"Siapa yang kalian tunggu, Namjoon?"

"Yoongi."

Lalu keheningan mendominasi mereka. Seokjin tak ingin bertanya lebih jauh tentang nama yang barusan disebut dan Namjoon sendiri tak berniat memberi penjelasan lebih. Jadi keduanya nyaman dalam diam yang ada.

Namjoon memanfaatkan keadaan untuk menenggak air mineral yang Seokjin berikan. Anehnya, ingatan tentang awal pertemuannya dengan Yoongi mendadak berputar-putar dalam ingatannya. Situasi dan latar tempat yang mirip serta rasa yang nyaris sama. Senyumnya perlahan mengembang lagi, merasa takdir tengah sedikit bermain komedi dalam hidupnya. Lucu sekali. Jika memang Seokjin adalah hal 'yang selanjutnya'.

.

"Namjoon!"

Sampai sebuah suara familiar terdengar dari kejauhan, menjadikan pandangan keduanya terfokus ke satu arah.

Min Yoongi ada disana. Beberapa meter jaraknya dari tempat Namjoon dan Seokjin duduk, mengenakan sweater hitam yang dua kali lebih besar dari tubuhnya- tengah berlari kecil mempercepat langkah menghampiri mereka. Tentu saja terlihat satu sosok pria lainnya yang ikut berlari bersama Yoongi, Park Jimin.

Namjoon bangkit berdiri saat jarak keduanya sudah makin menipis. Bersiap membuka suara untuk menjelaskan, sampai..

Plak

Telapak tangan Yoongi mendarat keras pada salah satu sisi wajahnya. Seolah tak mengijinkan Namjoon menatapnya lebih lama lagi, dan kini pandangannya dibuat lurus pada bocah kelinci mereka yang masih pulas tertidur dengan kepala yang bersandar pada bahu lebar Namjoon. Lagi, pikirannya secara abstrak mengantarkan ia berandai pada situasi dimana ia akan kehilangan Jungkook suatu saat nanti karena kecerobohannya sendiri.

"Kami memang tak pernah lebih penting dari pekerjaanmu kan?" Bukan lengkingan tinggi penuh emosi yang biasa Yoongi gunakan saat marah. Kali ini hanya sebuah bisikan kecil yang mungkin hanya Namjoon sendiri dapat mendengarnya, tidak Seokjin yang berdiri di belakang Namjoon atau Jimin yang berusaha menenangkan Yoongi dalam genggaman tangannya. Tipis, bagai tajamnya mata pisau tak kasat mata. Membunuh Namjoon perlahan dengan cara tersendiri.

"Maaf." Bisikan yang sama sebagai balasan dari Namjoon.

Tawa sinisnya terdengar, "Hanya hal itu yang selalu kau minta dariku."

Namjoon mengakui keabsolutan Min Yoongi beserta ucapannya. Terlalu banyak pengampunan yang diberikan pada Namjoon dan seolah Namjoon tak pernah cukup untuk itu.

"Jungkook bersamaku sekarang."

Kedua tangannya terulur ke arah Namjoon, atau tepatnya pada Jungkook yang masih tertidur dalam dekapan Namjoon. Sentakan paksa dan tiba-tiba dari Yoongi tentu membangunkan sang bocah. Mata bulatnya perlahan terbuka, berkedip-kedip menjernihkan pandangan. Hal pertama yang ia lihat adalah senyuman aneh Seokjin karena posisinya berada di belakang Namjoon.

Lalu saat kesadarannya semakin banyak ia mendengar suara Yoongi, "Jungkookie, pulang sama appa ya." Jelas bernada permintaan. Jungkook juga merasa tubuhnya mulai terangkat dan terlepas dari gendongan Namjoon yang tak memberikan usaha untuk menahannya. Pikiran polosnya mengambil kesimpulan bahwa Namjoon marah dan tidak menginginkannya, selanjutnya Jungkook mulai terisak dalam tangis.

"Appa hiks.."

Bagi Jungkook, Namjoon dan pelukannya adalah kehangatan musim semi yang melindunginya dalam rasa aman. Lalu Yoongi adalah hembusan angin musim gugur, membuat Jungkook ingin selalu tertidur tenggelam dalam kenyamanan. Saat sang musim gugur sudah mendekap penuh tubuh kecilnya, ia masih menangis dengan wajah yang di sembunyikan dalam celah leher Yoongi.

"Ssshh kita pulang, baby."

Namjoon diam saja saat mereka mulai berjalan menjauh darinya, menyajikan punggung Yoongi dan Jungkook yang menatapnya dengan pandangan tertutup selaput air mata. Ia bisa apa selain membiarkan mereka menjauh? Kesekian kali mereka lolos dari penglihatannya. Yoongi memang telah memutuskan untuk tidak lagi menjadi arah Namjoon menghadap, tapi Jungkook tak pernah ia harapkan berada dalam keputusan yang sama dengan Yoongi.

"Namjoon hyung." Pikirannya kembali ke tempat saat suara yang ia kenal mengintrupsi.

Menoleh ke samping dan menemukan Jimin yang sedang menatapnya. Namjoon tahu arti tatapan itu, sebuah simpati akan kesialan yang bertubi-tubi menimpanya. Jimin orang baik, Namjoon tahu itu, kalau tidak ia tak akan pernah memberi izinnya untuk Jimin mengencani Yoongi.

"Kau yang paling tahu seperti apa Yoongi hyung, dia hanya terlalu panik tadi. Aku akan bicara dengannya."

Sebuah anggukan Namjoon berikan tanpa ia sadari. Jika ada orang yang bisa membantunya sekarang itu adalah Park Jimin. Ia menangani Yoongi jauh lebih baik dibanding Namjoon dulu. Seperti Yoongi sudah menjadi takdirnya sejak awal.

"Thanks, Jimin-ah. Sampaikan maafku pada Yoongi."

"Tentu. Kuhubungi saat emosinya sudah membaik, jangan ragu untuk datang, oke?"

Dengan lambaian tangan dan senyum lebar khasnya, Jimin berlari menyusul Yoongi dan Jungkook yang semakin mengecil saja di ujung jalan setapak. Jimin dan Namjoon sama-sama tahu, Yoongi akan semakin berbahaya jika Jimin terlambat menyusulnya.

Balasan dari Namjoon hanya senyuman yang ia paksa muncul, juga anggukan kepala kecil minim tenaga. Percakapan singkat dengan Yoongi tadi menghabiskan delapan puluh lima persen energinya.

"Jadi, kau beruntung ada dokter disini untuk merawat lukamu."

Namjoon meralat pikirannya tentang Jimin adalah satu-satunya orang yang bisa membantu situasinya sekarang. Karena saat ia berbalik dan menemukan sosok tinggi dalam balutan jas putih sedang tersenyum, tanpa sadar ia menyeret maju langkahnya. Menghabiskan sisa lima belas persen energinya dalam pelukan yang terasa asing tapi mampu menghasilkan ketenangan luar biasa di hari paling melelahkan dalam hidupnya.

"Luka mana yang kau maksud, Dokter Kim?"

Deretan jenis otot milik Namjoon yang tadi menegang perlahan mulai rileks seiring tepukan lembut telapak tangan Seokjin di punggungnya. Ia menyandarkan dahinya pada bahu lebar sang dokter, merasa isi kepalanya terlalu berat untuk ia topang seorang diri.

"Tamparan pada pipimu tadi, mungkin. Atau hatimu lebih parah lagi? Mau mampir ke rumah sakit dan merasakan infus terbaik kami?"

Tawaran Seokjin sepertinya adalah yang terbaik untuk saat ini. Jadi Namjoon mengiyakan dalam diam, tidak ada tenaga yang tersisa untuknya bersuara.

.

.

.

.

Sebagai seorang dokter, Seokjin tidak main-main saat berkata bahwa Namjoon terlihat akan pingsan kapan saja. Sejak awal Namjoon muncul di hadapannya dengan nafas satu-satu dan wajah pucat, memeluk erat Jungkook yang masih tertidur dalam pangkuannya, Seokjin tahu pria itu sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk. Ambulans dipanggil untuk membantunya membawa Namjoon ke rumah sakit tempatnya bekerja yang hanya berjarak kurang lebih satu kilometer dari taman tempat mereka berada.

Malnutrition. Tepat seperti dugaan Seokjin, ia memang bukan Nutrionist-hanya seorang Pediatrict yang mencintai anak-anak- tapi melihat kondisi Namjoon dan tubuhnya mudah saja bagi Seokjin mengambil kesimpulan bahwa laki-laki yang baru dikenalnya itu memiliki gangguan gizi ringan. Atau jika boleh lebih jujur lagi, Seokjin sudah memiliki pengalaman dalam menangani kondisi yang sama.

"Persentase protein dan karbohidrat-nya yang paling mengkhawatirkan, Seokjin." Adalah kalimat dokter senior yang bertugas memeriksa Namjoon tadi.

Seokjin mengangguk mengerti, pilihan terbaik adalah rawat inap untuk beberapa hari agar asupan gizinya bisa kembali normal. "Akan saya sampaikan pada pasien saat ia bangun nanti. Terimakasih banyak, Dokter Ahn." Membungkuk sopan yang dibalas tepukan lembut di pundaknya.

Setelah mengantar sang dokter keluar ruang rawat, Seokjin terburu-buru mengambil ponsel dalam saku jasnya. Berniat memberi kabar salah satu rekan kerjanya kalau hari ini ia tidak bisa bertugas penuh. Seokjin berencana menemani Namjoon seharian.

.

.

.

.

"Jungkook, habiskan makananmu!"

Nada tinggi yang Yoongi gunakan semakin memperburuk suasana makan malam di rumah mereka. Yang dilakukan sang anak sejak lima belas menit yang lalu makanan matang adalah mengaduk-aduk isi mangkuk dengan sendok

Jungkook yang baru pertama kali mendengar Yoongi membentaknya, kini memberi tatapan sedihnya pada sang ayah yang menolak menatap balik. Karena Yoongi tahu Jungkook dan mata bulatnya yang menatap adalah kelemahan terbesar baginya.

"Aku mau dengan daddy, appa!"

Kali ini Yoongi menatapnya, tak kalah menyeramkan dengan bentakan tadi. Jimin mulai waspada untuk situasi yang bisa lebih buruk lagi antara pasangan ayah dan anak di dekatnya. Walau ia sangat percaya sampai akhir dunia pun Yoongi tak akan pernah bisa menyakiti bocah kelinci kesayangan mereka.

"Jangan macam-macam, Jungkookie. Habiskan makananmu." Dari suaranya, Jimin tahu kalau Yoongi sedang berusaha menekan emosinya sedemikan rupa.

Pandangan Jimin beralih pada sang anak yang mulai terlihat akan kembali menangis sebentar lagi. Disini ia merasa cukup menjadi seorang pengamat. Jimin bangkit dari duduknya untuk menghampiri Jungkook, sempat mengusak pelan rambut abu-abu Yoongi saat melewatinya dan berbisik 'tenangkan dirimu, hyung.'

"Nah makannya nanti saja kalau begitu, kita ke balkon dan melihat apa bintangnya Jungkookie sudah muncul."

Saat Jimin tepat di hadapannya, kedua tangan Jungkook otomatis terangkat, meminta Jimin mengangkatnya dan membawanya menjauh dari Yoongi appa yang sedang dalam mode menyebalkan. "Jangan lupa teropongnya, Jiminie." Saran kecil dari sang bocah membuat tawa Jimin hadir di ruang itu.

"Tentu. Kajja!"

Lalu Yoongi di tinggalkan begitu saja, menuruti bisikan Jimin agar menenangkan dirinya untuk sementara.

.

.

.

.

Hampir pukul tujuh malam dan Namjoon mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya, Seokjin yang memang tidak pernah mengalihkan pandangan dari sosok yang berbaring di ranjang bisa dengan mudah menyadari.

"Namjoon?" Panggilnya pelan, tahu etika untuk tidak mengagetkan pasien yang baru menunjukkan kesadaran.

Saat kedua kelopak mata itu terbuka menampilkan kembali dua bola mata hitamnya, barulah Seokjin merasa paru-parunya dapat kembali memasok oksigen dengan baik.

"Begini rasa infus terbaik darimu." Candaan ringan yang bisa Seokjin dengar jelas. Tapi ia terlalu khawatir untuk bisa menanggapinya.

"Apa yang kau rasakan?"

Namjoon dengan bola mata hitam yang seolah menenggelamkan Seokjin dalam tatapannya. Dan Seokjin sesak nafas lagi.

"Mual, berputar.."

Jawaban yang di dapat membuat kekhawatiran Seokjin semakin berkumpul jadi satu, ia bangkit dari duduknya untuk menekan tombol panggilan berada tepat di atas kepala ranjang.

"Apa efek tamparan Yoongi separah ini? Ck, aku akan menuntutnya nanti."

Namjoon tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Ia hanya ingin menghindari tatapan Seokjin yang begitu intens menyorotnya, seolah sedang berusaha memasuki pikiran Namjoon dan mencari tahu apa sebenarnya yang sedang ia rasakan.

"Kau akan tetap disini beberapa hari."

"Apa yang terjadi?"

"Pola makan buruk, kelelahan hebat, malnutrition."

Ucapan sang dokter manis barusan membuat Namjoon mengingat-ingat lagi gaya hidupnya yang buruk sejak dua tahun lalu atau tepatnya saat ia dan Yoongi memutuskan berpisah.

Seorang perawat yang memasuki ruangan berhasil mencegah Namjoon mengingatnya lebih jauh, "Makan malam anda, Tuan Kim." Dibantu Seokjin, sang perawat memindahkan piring dan mangkuk pada meja nakas di samping ranjang.

Namjoon sedikit bergidik melihat menu yang ada. Empat sehat lima sempurna. Ia bertaruh jika Jungkook yang melihatnya akan menjerit-jerit tidak suka, ada brokoli hijau diantara belasan sayuran lain dalam supnya.

"Dokter Ahn bilang, makanannya harus dihabiskan, setelah itu minum vitamin dan obatnya."

"Terimakasih, saya akan pastikan ia jadi pasien penurut." Senyuman manisnya kali ini lebih mirip seringai menyeramkan di mata Namjoon

Perawat keluar dan pintu ruangan tertutup. Meninggalkan mereka berdua dalam keadaan hening yang aneh. Pada dasarnya semua hal diantara mereka memang masih aneh dan canggung.

Entah akan seperti apa ke depannya, isi kepala Namjoon semakin berputar tak menentu saat ingin memikirkannya. Untuk sekarang, biarkan Namjoon menikmati makan malam bernutrisi lengkapnya bersama Seokjin yang akan ia minta untuk menemani.

.

.

.

.

Continue

.

.

.

.

.

.

.


Buat yang nanya status JK anak kandung mereka atau bukan.. Chapter depan depan depannya lagi ya jawabannya hehe

Dan aku gagal posting di hari anniv mereka hiks virus WB merajalela T.T pokoknya thanks untuk bangtan buat tiga tahunnya, dari jaman sekolah aku dengerin no more dream sampe sekarang hwa yang yeon hwa mereka sukses menyindirku dan gaya hidup masa mudaku. Keep in my heart, boys! Love y'all always~

Your review is my spirit, so mind to gimme one please? ^^ thanks a lot!