A/N: Chapter ini sudut pandangnya dari sudut pandang orang ketiga, beda sama chapter sebelumnya ya Thanks-eu. Dan mulai sekarang ini jadi drabble singkat saja.


"Sehunnieeeee," Luhan menggoyangkan lengan kanan Sehun.

Sehun sendiri sedang sibuk dengan kekasih barunya a.k.a Laptop. Daritadi pagi Sehun sudah berpacaran dengan kekasih barunya. Ia sibuk. Sangat sibuk.

Haowen muncul dari pintu dapur dan mendatangi kedua orang tuanya sambil membawa kertas putih besar, "Mama tolong bantu Haowen menggambar rumah. Jangan ganggu Daddy, Mama." Haowen memamerkan kertas yang belum ada apa-apanya itu.

Sehun mengangkat kepalanya (for the first time in this day) ia menganggukan kepalanya, "Lu noona bantu Haowen dia kasihan." Dan ia kembali melihat layar Laptopnya. Membuat Luhan memukul lengan Sehun.

Luhan menatap tajam Sehun, "Menyebalkan. Sudah ayok mama akan membantumu Hao." Luhan mendorong terlebih dahulu Sehun ke samping lalu bangun dan menggandeng tangan Haowen pergi dari situ.

Sehun mengangkat kepalanya lagi dan ia berhasil menangkap Haowen yang sedang memeletkan lidahnya ke dia.

What the hell?

Haowen dan Luhan pun mendatangi Ziyu yang sedang sendirian dengan legonya di depan TV. Lebih tepatnya mereka kini sudah di ruang keluarga.
Sebenarnya jarang sekali Ziyu memainkan legonya. Tapi entah ada apa gerangan ia memainkan legonya.

"Hao hyung!" Ziyu menyapa kakak laki-lakinya saat ia melihat Haowen datang. Haowen memberikan kertas nya ke Mamanya.

"Mama Hao mau main dengan Ziyu saja gambarnya kapan-kapan."

Haowen mendatangi adiknya dan bermain bersama adiknya, membuat Luhan ikut mendatangi kedua anaknya. Tidak lupa ia menaruh terlebih dahulu kertas putihnya di atas sofabed.

Ziyu sudah membuat lima rumah dan juga beberapa gedung. Ia dan kakaknya memang sangat pandai dalam mendesign atau membuat sesuatu seperti ini.

Haowen mengambil beberapa bagian lego dan ikut melanjutkan gedung yang Zitu sudah buat. Ia melihat ada beberapa bagian di dekat Luhan dan ia pun meminta tolong kepada Mamanya.

Luhan ikut membantu Haowen dan juga Ziyu. Ternyata asyik juga membuat lego seperti ini.

.

.

Sehun sudah selesai dengan tugas kantornya yang memang dari kemarin ia tidak sempat selesaikan karena Ziyu menelfonnya dan menyuruhnya pulang atau Ziyu akan mengunci pintu dan tidak membukakan pintunya.

Sehun bangun dan sedikit menguap kecil. Ia merenggangkan kedua tangannya. Ia lihat ke sekeliling, ternyata tidak ada tanda-tanda anaknya ataupun istrinya. Kemana mereka?

Sehun mematikan laptopnya terlebih dahulu sebelum ia pergi meninggalkan posisi enaknya itu. Ia berjalan ke arah ruang keluarga saat ia mendengar suara TV yang menyala. Ia melihat istri dan kedua anaknya itu sedang asyik membuat sesuatu dari Lego-Lego kecil itu.

Sehun mendatangi ketiganya dengan menyapa, "Hai kalian."

Dan sebagai respon, tentu yang paling kecil langsung mengangkat kepalanya dan melihat Daddynya yang berdiri. Ia tersenyum melihat Daddynya sudah kembali normal lagi.

"Daddy! Ziyu dan Hao hyung dan Mama sedang membuat rumah sakit!" Ziyu yang tadinya ingin menunjuk rumah sakit setengah jadinya dengan kaki tidak sengaja menendang rumah sakit itu, membuat rumah sakit itu hancur berkeping-keping.

Haowen langsung menutup wajahnya dengan lego-lego yang ada di telapak tangannya, "My art." Suara kecilnya keluar. Ia mau menangis rasanya.

Luhan dan Sehun memandang anak pertamanya bingung. Kenapa Haowen bisa mendadak menjadi dramatis seperti ini.

"Maafkan Ziyu, Hao hyung. Ziyu tidak sengaja." Ziyu memeluk kakak laki-lakinya itu dari belakang. Haowen menggelengkan kepalanya.

"Tidak ini salah Daddy."

"MWO?"Sehun berteriak membuat Haowen menatap wajah ayahnya datar.

"Coba kalau Daddy tidak datang maka Ziyu tidak akan menunjukan rumah sakit kami!"

Baru Sehun ingin memukul Haowen, Haowen sudah melindungi kepalanya lalu berkata, "Ahh aku bercanda Dad. Masa dianggap serius."

Sehun rasanya ingin uh mencubit Haowen tapi ia harus mengingat kalau ini masih anaknya.

Haowen cengar cengir, "Bercanda Daddy." Sahutnya pelan.

Luhan tertawa melihat Haowen dan Sehun yang seperti ini.

"Hao kajja kita buat kembali." Luhan menepuk pundak Haowen pelan dan Haowen mengangguk. Ziyu langsung berdiri dan meloncat kesana-kemari.

"Asyiikk." Ia duduk di atas paha Luhan dan mulai membuat rumah sakit kembali dengan kakak dan Ibunya.

Sehun mengambil posisi duduk di samping Luhan. Baru ingin menyenderkan kepalanya di pundak Luhan, Luhan sudah memajukan badannya membuat ia jatuh.

"Lu?"

Luhan tidak peduli dengan Sehun yang memanggil namanya itu.

Sehun mencari cara lagi agar Luhan menengok kepadanya.

"Lu noona maaf. Tadi aku sedikit sibuk." Sehun memasukan tangannya ke dalam baju Luhan. Ia menemukan pengait bra Luhan dan kemudian membukanya. Membuat sang pemilik langsung menengok ke belakang dan kemudian memukul tangannya.

"Hun aku sedang dengan anak-anak."

Sehun menggeleng pelan, kemudian ia menatap Ziyu dari belakang. "Zi pindah dari pangkuan Mamamu. Pindah sebelah Haowen terlebih dahulu."

Ziyu yang notabene adalah seperti fans berat Sehun maka ia akan mendengarkan apa saja yang dikatakan Sehun.

Sehun memeluk Luhan dari belakang dan memasukan lagi kedua tangannya ke dalam baju Luhan.

Namun Haowen menghentikan apa yang Sehun ingin lakukan dengan bertanya polos, "Apa yang Daddy lakukan?" Sehun menatap Haowen.

Haowen melepaskan semua Lego di tangannya lalu mendatangi Sehun. Luhan sudah tertawa saja.

Haowen menarik keluar tangan Sehun dan kemudian memukulnya.

"Daddy sudah jangan masukan. Lagipula Daddy aneh kenapa juga di masuk kan?"

"Hao kamu harus tau kalau sudah besar ini sangat menyenangkan." Jawab Sehun santai. Luhan menatap tajam Sehun.

"DIAM OH!"

Sehun tertawa.

FIN