Disclaimer : Masashi Kishimoto dong
Genre : Humor/ Tragedy
Title : Itachi Kawin (?)
Warning : typo, jelek, bau, mbulak, ide saya, gila, dll
Thanks to : yang sudah mereview, silent reader, laptop, waktu, Tuhan YME
Author said : belajar dari kesalahan saya, saya akan menjadi lebih baik di chapter ini. fic yang saya buat (masih) di waktu ujian.
to el nee: " begini el nee, fic ini saya bikin humor tragedy karena nantinya akan ada suatu tragedy (?) di fic ini"
to all reviewers : "hanya ada disini jawabannya hehehe. arigatou sudah mereview ya maaf nggak bisa bales satu-satu"
.
Itachi Kawin
.
Episode sebelumnya …
"sepertinya sudah semua kita sebutkan…" kata Sasori dengan lesu dan kecewa rapat paripurna yang dibiayai mahal-mahal itu tidak membuahkan hasil.
Hening sesaat.
Krik…krik…
Semua sibuk sendiri…
"AHA!" teriak Tobi mengagetkan semua yang ada di rapat itu.
"kenapa Tob? Promosi modem Aha Dialer?" tanya Kakuzu.
"enggak, Kuzzy senpai. Tobi ingat ada satu kunoichi yang belum disebutkan!" teriak Tobi dengan semangat '45 yang membara.
"SIAPA?" tanya seluruh anggota rapat nyaris bersamaan.
.
o0o
.
"Ino chan!" teriak Tobi lagi. Mendadak ruang rapat yang semula hening itu menjadi ramai bak pasar kembali.
"Oh iya ya! Nyaris saja aku lupa! Gimana ciri-ciri si Ino itu, Tob? Elu tau nggak?" tanya Sasori dengan sumringah bak baru ketiban duren.
"Ino chan cantik, berambut pirang panjang, bermata biru, ceria, putri keluarga Yamanaka yang punya Yamanaka Corp itu, kaya, baik, hebat…" Tobi menjelaskan.
Semua anggota Akatsuki terdiam mendengar penjelasan Tobi. Berbagai macam ekspresi nampak di wajah para zombie dan zombiewati itu. Konan tersenyum, Sasori tersenyum bahagia akhirnya rapatnya membuahkan hasil, Kakuzu tersenyum mata duitan, Zetsu senyam-senyum nggak jelas, Deidara tersenyum luar biasa manis nan ayu rupawan sehingga Sasori yang kebetulan melihatnya jadi kesengsem, Hidan tidak tersenyum tapi wajahnya memerah dan mulutnya menganga… Ada apa dengan Hidan?
"Hidan senpai, kenapa kok mukanya merah kayak tomat?" tanya Tobi dengan polosnya.
"Ah, nggak apa-apa" Hidan menyanggah. Aslinya, dia merasa Ino itu tipe ceweknya tapi dia malu dan enggan mengakuinya di hadapan teman-temannya yang abnormal itu.
"Lalu, gimana menurut elu soal Ino sama Itachi?" tanya Sasori entah karena alasan apa.
"Gimana ya?" Hidan bingung. Hidan berpikir, kalo dia bakalan suka sama Ino ini dari ciri-ciri yang disebutkan Tobi tapi dia merasa sungkan untuk mengakui itu karena Ino sudah dijodohkan Pein dengan si kakek-kakek tua bangka sialan itu (?). Hidan nggak rela juga Ino harus nikah sama si tua bangka keriputan itu.
"Cocok banget, un!" seru Deidara gembira mengambil alih Hidan untuk menjawab.
"Cocok aja sih menurut gue" kata Zeput yang dari tadi diam.
"Cocok aja, sih, menurut gue" kata Zetem.
"Cocok apalagi si Ino anak orang kaya tapi kalo kawinan jangan pake duit gue ya!" omel Kakuzu tapi senyum bahagia menghiasi wajah lucunya (?).
"Gue bahagia akhirnya partner gue nikah juga, semoga ntar anaknya kayak gue yang imut ini" ucap Kisame dengan tangis bahagia mengaliri pipi birunya.
"Cocok sekali dengan Itachi!" seru Konan tak kalah bahagia.
"Nah semua udah setuju, Dan, menurut elo gimana? Kok kayaknya elu nggak rela gitu Ino sama Itachi? Lo suka Ino ya?" kata Sasori tak berperi keHidanan. Rupanya, Sasori masih menyimpan dendam pada Hidan.
"Eh, Sas. Lu mau gue bunuh ye? Gak mungkin gue yang ganteng nan sempurna ini suka sama Ino itu. Namanya aja kayak babi. Gimana wujud aslinya? Pasti jelek banget deh…" bohong Hidan dengan nada datar. Dia sebel dikatain Sasori cemburu sama Itachi. Saking sebelnya Hidan sampe menggigit Kakuzu yang ada di sebelahnya sampe jaitan di badan Kuzzy lepas semua.
"Nah menurut elo gimana, Dan? Cocok nggak mereka itu?" tanya Sasori lagi karena Hidan belum menjawab pertanyaannya yang tadi.
"Cocok, cocok" jawab Hidan tanpa ekspresi kebahagiaan di mata ungunya.
"Baiklah, Tobi, lu sama Zetsu cari info soal Ino ya!" perintah Sasori dengan bijaksana.
Yang disuruh hanya angguk-angguk dengkul saja.
"Baiklah, hadirin sekalian, kita akhiri rapat kita ini" kata Sasori mengakhiri rapat dengan berwibawa dan senyum bahagia di wajahnya. Saking lebarnya senyum Sasori itu, sampe-sampe harga cabe jadi naik karena pedagang cabe ketakutan liat senyum Sasori yang menawan itu (?). Para hadirin pun membubarkan diri mereka dan hinggap di jendela untuk menonton pertandingan leader nista mereka VS kakek-kakek tua.
o0o
Sementara itu, dengan Itachi dan Pein. Kedua jagoan kita itu tampaknya sedang sengit-sengitnya perang mulut sampe mulut mereka babak belur dan berdarah-darah…
o0o
"Gue nggak bakal ngampunin elu sampe elu mau ngasih tau gue apa yang elu omongin sama Zeus goblok tadi!" teriak Itachi murka. Aura kemarahan membuat wajah tampannya berubah serupa Rahwana lagi tapi kali ini Rahwana ini berekor sembilan dan mengeluarkan api dari mulutnya.
"Ya ampun, sumpah, Chi, gue nggak macem-macem" Pein sujud-sujud di kaki Itachi yang sudah berubah wujud.
"Gue bantai elu, Pein, kalo lu masih nggak mau kasih tau gue!" Itachi menyiapkan awan paans amaterasunya.
"Iya iya gue kasih tau" akhirnya Pein ngalah.
"Ayo, katakan!" perintah Itachi galak sambil bawa panci dkk.
"Ada syaratnya!" kata Pein licik.
"Kasih gue duit buat ngajak Konan dinner di Paris" kata Pein dengan liciknya. Ternyata, saudara-saudara, sifat mata duitan Kakuzu nular ke Pein. Itachi pun hanya geleng-geleng kepala melihat Pein yang nista jadi makin nista aja.
"Gue nggak punya duit" jawab Itachi entah bohong atau jujur.
"Elu bohong, Chi, tadi gue liat elu lagi bawa-bawa iPhone 4! Jangan bo'ong lu!" teriak Pein sebel ngerasa dibohongin Itachi.
"Ya ampun, Pein, elu kok nyolot sih? Dibilangin tadi itu bukan punya gue. Gue cuma benerin punya Sasuke yang rusak" jawab Itachi innocent. 'Makan tuh omongan!' kata Itachi dalam hati.
"Suer lu? Masak elu nggak punya iPhone sih, Chi? Bokap lu kan kaya, nah kok lu enggak" kata Pein masih ngeles. Pein yakin Itachi pasti membohonginya abis Uchiha kan terkenal kaya.
"Yang kaya kan bokap gue, yang beliin Sasuke iPhone juga bokap gue. Kok elu ikut campur sih" jawab Itachi dengan sinisnya.
"Oke-oke deh" jawab Pein pasrah. 'Musnah deh rencana gue ngajak yayang Konan dinner di Paris', pikir Pein sedih sampai air matanya menitik ke pipinya yang mulus bagai kulit duren.
"Ayo bilang rencana lu tadi, Pein, tadi gue nggak begitu jelas denger omongan elu sama Zeus goblok sialan itu!" Itachi memaksa.
"Jadi, Itachi tadi sebenarnya…aku berniat menjodohkanmu dengan salah satu kunoichi di Konoha. Nah, gue berniat jodohin elu sama…" belum selesai Pein berkata-kata, Itachi telah mengaktifkan mangekyou sharingannya daaan…
BUM!
Pein yang tak sempat mengadakan perlawanan, mutlak tak sadarkan diri di tangan Itachi sampai piercingnya lepas semua.
.
o0o
.
Malam minggu begini, tumben-tumbennya suasana markas Akatsuki yang sudah reot dan terlihat seperti gubuk hampir hancur terlihat damai sekali. Ada apa gerangan? Kedamaian yang indah itu terjadi karena para anggota Akatsuki sedang asyik mendengarkan sang Zeus memberikan khotbah gratis untuk Itachi. Pein senyum-senyum puas melihat Itachi diceramahi Zeus yang terkenal punya bau mulut yang dashyat.
"Itachi-ku sayang (?), aku tahu berat bagimu menerima perjodohan ini tapi maukah kau berkorban demi nusa dan bangsamu, nak?" ucap Zeus dengan merdunya sampai-sampai kuping Pein yang sudah budeg mengeluarkan darah campur lumpur.
"Tapi, Zeus, aku ini nggak pingin kawin dulu! Kamu kok maksa gitu sih ha? Belum pernah merasakan kehebatan kentut gue ya?" Itachi mulai emosi.
"Itachi, ada beberapa kesalahan dalam kata-katamu. Pertama, kau berkata kasar padaku. Tidak tahukah kau bahwa aku ini adalah dewa yang agung bersuara indah yang sudah menyebabkan gempa di Jepang? Kalau kau berkata kasar lagi padaku, nanti kusumpahi kau punya anak mirip Kisame! Kedua, ini kesalahanmu yang paling berat. Panggil aku Bang Zeus dong, cyin!" kata Zeus dengan kalem dan mulutnya mengeluarkan bau busuk mirip bau lumpur Lapindo.
"Gomen, Bang Zeus. Gue cuma nggak pingin kawin dulu" Itachi meminta maaf pada Bang Zeus yang agung.
"Nah, lho, ya tidak bisa dong. Kawinan ini tidak bisa dibatalkan! Pernikahan ini adalah pernikahan ekonomi. Karena Akatsuki ini mulai miskin dan Konoha menawarkan bantuan! Lu kudu nikah sama kunoichi Konoha itu, Tachiko! Kalo elu nggak mau, ntar gue kasih elu ularnya Medusa!" jelas Zeus dengan kesal. Saking kesalnya, sampai-sampai menyebabkan Gunung Bromo bererupsi.
"Arrghhh! Sebel gue. Kenapa enggak Hidan atau Sasori aja yang dijodohin sih? Kenapa gue?" teriak Itachi frustasi sehingga menyebabkan Orochimaru yang asalnya ganteng jadi jelek banget.
"Yah, soalnya, Tachiko, gue tau kalo Hidan itu psikopat… liat deh wujudnya aja begitu. Kalo Sasori kan udah sama Dei tuh. Nah, elo kan single dan lebih normal dari temen-temen elu makanya Pein milih elu" jawab Bang Zeus dengan entengnya.
"Ah, gak adil semua nih. Males gue" gumam Itachi masih dengan frustasi.
"Oh iya, Chi, ntar elu nikahnya besok ya" kata Pein menengahi debat panas antara Zeus dan Itachi.
"APA!" teriak Itachi sampe menyebabkan longsor salju di Gunung Everest dan membuat markas Akatsuki nyaris rubuh.
"Kelamaan ya?" tanya Pein dengan muka sok innocent. Melihat muka sok innocent Pein itu, para anggota Akatsuki lainnya langsung muntah-muntah dan dilarikan ke RS Mount Elizabeth (?).
"Justru kecepetan, leader penuh dosa!" teriak Itachi murka.
"Gimana kalo tiga hari lagi aja, Chi? Besok lu ketemuan ma calon istri elu" saran Pein lagi.
"Nggak bisa dilamain lagi, Pein? Gue kan kudu mempersiapkan diri dulu" tawar Itachi.
"Kagak, Tachiko! Ini demi Akatsuki. Liat tuh, kita udah kagak ada duit lagi. Makan aja kudu ngais-ngais sono sini" jawab Pein sinis.
"Ya udah deh 3 hari lagi" Itachi pasrah.
"Nah gitu dong, Tachiko. Anak yang baik" komentar Bang Zeus.
"Nah, kalo gitu Bang Zeus yang ganteng ini pergi dulu ya, gue mau ngedate sama Nyi Roro Kidul" pamit Bang Zeus.
Bang Zeus pun pergi meninggalkan para zombies itu ke Pantai Selatan Jawa. Para zombies yang manis-manis (?) itupun segera masuk ke kamar tidur masing-masing soalnya mau tidur. Tapi khusus Deidara-Sasori mereka malah ngeluyur keluar dengan alasan kencan pertama dan KakuHidan mau flirting-flirting di bar eksklusif di sebelah markas bahkan sang pengantin pria yaitu Itachi ikutan pergi ke bar.
.
o0o
.
Di bar yang eksklusif itu, rupanya terjadilah pembicaraan men to men antara Hidan dan Itachi. Sementara itu Kakuzu yang juga pergi ke bar lagi asyik nggodain cewek-cewek di bar. Setelah memesan martini dan vodka pada bartender yang bernama Kabuto, Itachi dan Hidan segera asyik membicarakan soal perkawinan ekonomi Itachi dan kunoichi Konoha yang sedang jadi trending topic di Twitter.
"Dan, gue males deh disuruh nikah gitu" curhat Itachi pada Hidan dengan suara berat. Tenang, Itachi belum mabuk kok!
"Alaaah, Tachi Tachi! Gue aja ngiri ama lu. Lu udah mau nikah nah gue belum" canda Hidan agak sedikit melantur. Tenang Hidan juga belum mabok!
"Yah, lamar tuh si Kuzzy" kata Itachi sambil menunjuk Kakuzu yang lagi menggoda cewek-cewek cantik baik yang asli maupun asli tapi palsu (?) di bar yang konon katanya sering dikunjungi Angelina Jolie.
"Hahaha, gue masih normal, Chi. Gue masih suka sama cewek apalagi cewek yang pirang" kata Hidan sambil menenggak vodka di gelasnya.
"Gue juga suka sih cewek pirang apalagi yang kayak temen adek gue itu. Cantik deh, matanya warna biru kayak safir gitu. Itu cinta pertama gue" kata Itachi sambil menenggak habis vodkanya.
"Cinta pertama? Elu punya cinta pertama? Kaget gue" jawab Hidan iseng. Ah, si Hidan ini mah emang iseng orangnya jadi jangan terlalu dipikirkan ya omongannya yang agak ngelantur.
"Ya iyalah, gue punya. Emang elu, kagak punya hati. Hahaha" canda Itachi.
"Ya punyalah. Eh, Tachiko, gimana sih perasaan orang jatuh cinta itu?" tanya Hidan sambil meminum martininya.
"Ya perasaan elu berbunga-bunga gitu terus deg-degan pas denger nama makhluk yang elo suka terus biasanya perasaan berbunga-bunga elu sampe kebawa mimpi" jawab Itachi dengan tatapan menyelidik.
"Kenape, Dan? Jatuh cinta ya?" tanya Itachi.
"Kagak tau tapi kayaknya sih iya. Cinta pertama gue nih" jawab Hidan.
"Gue doain deh, Dan, semoga cinta lu ini berhasil" kata Itachi.
"Ah, Tachiko, kayaknya dia udah ada yang punya deh" jawab Hidan tanpa ada maksud menyindir.
"Kan masih kayaknya, Dan, masih belum pasti. Elu coba sono gih" saran Itachi.
"Kalo ceweknya mau kawin?" tanya Hidan lagi sok bloon.
"Ya jangan bilang cinta dong, kan elu tau kalo dia mau nikah" jawab Itachi lagi sambil meminum martininya.
Hidan yang mendengar jawaban itu langsung terdiam membisu. Si empunya sabit mata tiga ini sedang memikirkan nasib kisah cinta pertamanya yang tragis. Itachi yang melihatnya jadi merasa agak bersalah.
"Lu nggak papa kan, Dan?" tanya Itachi memastikan.
"Gue nggak papa, Tachiko. Tenang aja" jawab Hidan dengan senyum simpul padahal dalam hatinya remuk redam. Tumben-tumbennya Hidan senyum padahal biasanya cuma ngasih seringai mematikan.
.
o0o
.
Keesokan harinya, di hari Minggu pagi yang indah. Burung-burung bercuit-cuit dan awan putih berarak menghiasi langit biru yang sebiru samudra. The zombies sudah pada bangun pagi bahkan Kisame sudah lari-lari marathon sejak jam tiga pagi sehabis sahur (?). Konan yang notabene makhluk hawa satu-satunya yang ada di markas the zombies sedang sibuk bikin sarapan ala Perancis. Sementara itu, Pein yang babak belur habis dihajar Itachi langsung mengadakan rapat paripurna lagi di ruang rekreasi Gryffindor (?) untuk membicarakan mengenai kunjungan mereka ke Konoha besok.
"Halo, anak-anak yang imut dan manis" sapa Pein.
"Yaaaa" jawab the zombies malas-malasan.
"Besok kan kita mau ketemu sama calon istrinya si Itachi ini, kira-kira menurut kalian yang manis dan ganteng ini, enaknya kita kesana naik apa ya?" kata Pein langsung merujuk ke topik bahasan rapat.
"Naik minibus carteran aja. Hemat" jawab Kakuzu 'Kuzzy' dengan cepat bagaikan cahaya.
"Ah, nggak elit dong. Naik limousine warna pink ajalah" saran Deidara yang emang ngefans berat sama warna pink.
"Kemahalan tau! Lagian duit kita juga nggak banyak" Pein menengahi.
"AHA!" teriak Tobi lagi sampe kuping senpai-senpainya budeg dan kuping Zeus terbakar.
"Kenapa lu, Tob? Promosi modem AHA Dialer lagi?" tanya Hidan.
"Enggak! Tobi anak baek mau bilang kalo mendingan kita semua naik ferarri aja" saran Tobi.
"Ferarrinya pinjem sama Malinda Dee aja!" seru Kakuzu cepat. Maksud hati Kakuzu sih supaya Pein nggak beli ferarri soalnya kalo beli pasti pake duit Kakuzu.
"Nah, ide bagus tuh! Oke, gue order ferarri sekarang ye daripada pinjem-pinjem kan enggak afdol gitu" kata Pein sambil memesankan mobil ferarri untuk anggota Akatsuki.
"Nah, sekarang transportasi udah siap. Tinggal kostum aja nih" kata Pein dengan tampang serius yang bikin Konan-pacarnya Pein- jadi muntah-muntah.
"Kostumnya kostum Halloween aja, Pein senpai!" saran Tobi dengan ceria.
"Ah, itu mah yang cocok cuma elu, Tob. Ada saran lain nggak?" tanya Pein.
"Ada, ada. Gimana kalo kostum pakaian adat aja?" saran Konan dari dapur dengan nada antusias.
"Ah, yayangku. Itu boros banget. Emang kamu mau pake kebaya?" tanya Pein lagi dengan suara yang dibuat-buat mesra sampe bikin Konan muntah darah.
"Iya dong, liat nih aku aja sampe udah jahitin kebaya ke Anne Avantie" kata Konan.
"Gimana kalo pake kostum princess aja?" saran Deidara sambil ngecat kukunya warna hitam.
"Hah? Dei, gue mau banget! Gue pake kostum Beastnya Belle ya!" seru Sasori gembira luar biasa setelah lama tak terdengar suara merdunya.
"Yah gini aja deh biar adil, kalian boleh pakai kostum apa aja asalkan jangan pake bikini dan jangan pake batik motif awan merah!" kata Pein dengan bijaksana dan tegas layaknya seorang pemimpin betulan.
"HOREEE!" seru anggota Akatsuki minus Pein dengan bahagia layaknya anak TK.
Melihat anggota Akatsuki akur dan damai membuat hati Pein bahagia juga. Ternyata diam-diam, Pein memang punya bakat kepemimpinan (?).
"Jangan lupa siapkan seserahan buat pengantin wanita" Pein mengumukan dengan berteriak soalnya the zombies masih teriak-teriak bahagia layaknya ribuan orang lagi demo.
"Iya, terus apa lagi yang kudu dibawa, Pein senpai?" kata Tobi sambil mencatat barang yang harus dibawa.
"Bawa lollipop yang banyak, bawa obat antimo buat si Kisame, bawa coca cola, bawa seperangkat tindik baru buat gue, bawa alat make up buat yayang Konan, bawa Itachi juga pastinya" kata Pein sementara Tobi mencatatnya dengan seksama.
"Nah, semua barang sudah dipersiapkan. Kalo gitu, tinggal berangkat aja. Nanti Itachi harus masuk salon! Menicure, pedicure, mendengcure, sama operasi botox buat ngilangin keriputnya!" perintah Pein. Tobi mencatatnya dengan seksama.
"Ada lagi, leader?" tanya the zombies berbarengan.
"Jangan bilang-bilang Orochimaru kita mau ke kondangan. Ntar dia ngikut kita bisa-bisa batal nikah deh si Tachiko" kata Pein.
"Siap, leader!" jawab the zombies sambil memberi hormat pada sang leader nista.
"Oke, sekian saya akhiri rapat kita ini" kata Pein mengakhiri rapat paripurna yang paling mahal dalam sejarah rapat di dunia itu.
TBC
fic ini masih saya bikin di sela-sela waktu ujian. kira-kira H-19 lagi saya bakal ujian hehehe
maaf kalo humor di chapter 2 ini garing, tidak menarik, etc... maafkan saya T.T mungkin saya kena syndrom karya kedua *curhat*
di chapter depan saya akan berusaha bikin yang lebih menarik
tapi saya tetap mengharapkan kritik dan saran sebanyak-banyaknya dari readers, silahkan diREVIEW
