DISCLAIMER : Axis Powers Hetalia by Hidekazu Himaruya truly had changed the world to a better one. To me, at the very least.


[hair]

.

Netherlands akhir - akhir ini menyadari Indonesia menatapnya dengan tatapan itu.

Tidak butuh tiga abad untuk mengenali gerak - gerik gadis itu, menilai tatapan matanya dan menebak apa yang berjalan dalam pikirannya. Pemuda Belanda tersebut sayangnya bukan jenis yang mudah penasaran, dan ia memilih untuk diam saja membiarkan iris kecoklatan itu menatapnya tajam ketika dikiranya Netherlands tidak melihatnya. Indonesia bukan tipe wanita yang menyembunyikan sesuatu tanpa alasan, jadi ia tahu cepat atau lambat gadis itu akan melakukan sesuatu yang menjelaskan tatapan anehnya itu.

Dan memang tidak sampai dua bulan itu terjadi, ketika pemuda berambut pirang itu sedang mengeluarkan seloyang appeltaart dari oven.

"Indonesië," tegurnya datar, "kalau kau tidak melepaskan kedua tanganmu dari pinggangku, tanganmu bisa tak sengaja melepuh kena loyang aluminium." Ketika negeri kepulauan itu mengerang, Netherlands memutuskan untuk menambahkan. "Atau sengaja, kalau kau tidak mau mendengarkanku."

Indonesia menarik tangannya dan melipatnya di depan dada. "Bukankah kau seorang pria yang sangat manis dan romantis, Belanda," gadis Asia tersebut mencibir, sarkasme menetes di setiap katanya.

Namun ketika Netherlands menaruh loyang panas tersebut di meja dan mulai mengiris pai, ia kembali menatapnya dengan pandangan tersebut.

"Boleh aku memegang rambutmu, Lars?" gumam personifikasi Indonesia itu tiba - tiba. Sama sekali tidak menduganya, Negara Kincir Angin tersebut sontak mengangkat wajahnya dan mengerjap. Pai yang kini irisannya miring terbengkalai.

"He?"

Wajah gadis itu memerah, namun ia memberi akting menghela napas sabar terbaiknya. "Kubilang─"

"Aku tahu kau bilang apa, Ciethra," tukas Netherlands tak sabar, ikut memakai nama manusia mereka, "hanya saja, mengapa?"

Indonesia menunduk, tangannya mencolek selai apel yang tertinggal di bilah pisau yang dipegang pemuda itu, tugasnya terlupakan. "Kalau kau menolak, aku tidak masalah, sungguh," tuturnya pelan seraya mencicipi selai dari jemarinya. Meskipun begitu, pemuda itu dapat mendengar setitik nada merajuk.

"...kalau kau membersihkan tanganmu dari semua tepung dan selai itu, kurasa bisa," jawabnya akhirnya dengan nada menyerah. Bahkan sebelum Netherlands menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah selesai mencuci tangan dan menatapnya dengan penuh harap.

Pada momen – momen semacam itu ia yakin, gadis kecil yang berdekade lampau merupakan koloninya dan wanita jelita kekasihnya adalah orang yang sama. Pemuda berambut pirang itu menahan senyum. Beberapa hal tidak akan berubah. Rasa penasaran polos gadis itu salah satunya. Netherlands sedikit membungkuk dan menumpukan kedua tangan di lutut agar Indonesia dapat menggapainya.

Sentuhan gadis itu seperti bulu pada awalnya, ringan dan lembut seakan ia sedang menyentuh spesimen retrovirus dalam tabung kaca rentan pecah dan bukannya rambut Netherlands yang kehabisan gel pagi ini. Jemarinya sedikit demi sedikit kemudian memberanikan diri untuk mengelus helaian berwarna pirang pucat berwarna mentari siang, menyisiri rambut lurus itu diantara celah jarinya. Pemuda itu tidak bisa bilang ia tidak menyukai aksi aneh Indonesia ini.

"Aku lebih suka kalau rambutmu tidak diapa – apakan begini," Indonesia setengah menggumam, mengejutkan pria itu. Pemuda Belanda itu menduga ia akan meledeknya dengan kata - kata kepala tulip seperti yang biasa didengarnya. Rupanya dugaannya salah. Gadis Asia itu sedikit berjinjit untuk mengendus rambutnya. Netherlands menimbang kemungkinan gadis itu memiliki fetish rambut.

"Aku tidak pernah setuju soal kau membaui rambutku," ujarnya datar. Gadis itu mengabaikannya.

"Yap, aku sangat menyukainya," ujarnya, mantap kali ini. Korban rasa penasaran gadis itu dapat mendengarnya tersenyum dari suaranya belaka. "Aku suka menjadi salah satu dari sedikit orang yang dapat melihatmu dengan model rambut aslimu. Dengan ini kau terlihat lebih bersahabat, sebenarnya. Lebih tidak aku-pria-tinggi-sangar-yang-memakan-anak-kecil-saat-kau-berpaling. Kau pakai produk rambut apa?" Indonesia tertawa kecil. "Rambutmu halus dan baunya seperti tulip."

Netherlands menegak dan mengangkat bahu. "België selalu sukarela memberiku shampoo. Aku malas mengurus hal - hal kecil seperti itu, dan aku tidak akan menolak hal gratis." Terdiam sejenak. "Apakah aku terlihat seperti suka memakan anak – anak?"

Gadis itu terbahak, menampakkan barisan putih sempurna selama ia tertawa. "Kau masih akan menerima apapun kalau kubelikan tampon untukmu atau sesuatu semacam itu?" tanyanya geli.

Pertanyaan itu sungguh membuat pemuda beriris hijau tersebut memikirkan untuk mengubah filosofi hidupnya sesaat. "Akan kujual lagi, mungkin," putusnya.

Indonesia tergelak lagi dan melingkarkan lengan pada leher sang pemilik rumah. "Kau pria sangarku yang punya sisi - sisi feminim di tempat tak terduga. Aku suka itu."

Netherlands menikmati cara halus gadis itu menunjukkan pemuda itu miliknya. Bukannya ia mengakuinya.

"Sisi feminim. Aku tidak bisa setuju dengan penggunaan katamu."

"Rambut, novel romantis, memasak, kelinci, fashion, dan berkebun bunga? Lars? Sungguh?" Indonesia mengangkat alis melihat ekspresi lawan bicaranya dan menyeringai. "Oooh, apakah pilihan kataku menyakiti kejantananmu yang rapuh?" Netherlands memutar bola matanya sarkastis sebagai balasan.

Air muka gadis itu berubah melamun ketika mereka bertatapan. Indonesia mengelus leher pemuda itu perlahan dan tangan Netherlands menemukan tempatnya di pinggang sang gadis.

"Aku benar - benar menyukainya," tuturnya setengah mendengkur, "Dengan model rambut ini kau terlihat sedikit lebih lemah. Rapuh."

Pemuda berambut pirang itu tidak pernah salah dalam menerjemahkan bahasa tubuh Ciethra Kusumawijaya. Ia memiliki banyak kesempatan untuk menguasai bahasa itu dan pemiliknya. Lars van Willemssen tahu aturan main mereka, dan tambang di antara mereka selalu tegang oleh tarik menarik yang seimbang.

"Buktikan kata - katamu," tantangnya, jemarinya menekuri garis punggung gadis itu yang terlapis kain tapi ia telah memetakan Ciethra dalam benaknya, "dan aku akan mendengar argumenmu."

.

.

extra : [meeting]

.

Kebosanan yang hakiki adalah berada di World Meeting yang dipimpin oleh England, sementara kedua orang di sebelahmu merupakan jajahan Inggris yang dengan tekun mencatat setiap hal yang dikatakan personifikasi beralis tebal tersebut. Indonesia menguap lebar. Kalau saja ia salah satu dari negara Eropa Barat yang hadir, mungkin segala yang dikatakannya akan sedikit menjadi signifikan untuknya, tetapi hal-hal yang disebutkan dalam poin-poin presentasinya sudah pernah dibaca gadis Melayu tersebut di koran negerinya maupun yang internasional. Maka disinilah ia sekarang, terjebak tanpa teman mengobrol.

Personifikasi negara Asia Tenggara tersebut melirik pada barisan Eropa, mencari sosok bersyal biru-putih tertentu. Rupanya tidak sulit, karena mata kehijauan Negeri Kincir Angin itu sedang mengamati gadis Melayu tersebut dengan wajah penuh konsentrasi. Sesekali, pria tersebut menuliskan sesuatu di buku catatannya. Saat tatapan mereka bertemu, Netherlands menaikkan alis penuh tanya.

Indonesia tersenyum lebar dan menggerakkan mulut tanpa suara. Bosan. Menekankan maksudnya, ia mengatupkan kedua telapak dan menempelkannya ke pipi kanannya, memeragakan tidur.

Ekspresi serius milik pemuda pirang itu melembut. Ia melirik singkat ke arah personifikasi Britania Raya yang sedang menjelaskan panjang lebar mengenai keputusan politiknya yang terbarutidak ada yang baru dan Netherlands belum melihat di beritanya sendiridan menunjuk ke arah dirinya sendiri. Personifikasi yang lebih tinggi menyentuh telinganya dengan telunjuk dan menggeleng. Aku juga sedang tidak mendengarkan.

Gadis berambut gelap yang berada di seberang meja mengangkat alis dan memiringkan kepala. Kalau begitu, kau sedang apa?

Netherlands menunjuk ke arah buku catatan bersampul hijau di hadapannya lalu ke arah personifikasi negeri tropis tersebut.

Yang dituju mengerutkan dahi tidak mengerti.

Sang pria Belanda menghela napas dan mengibaskan tangannya. Yang itu, Indonesia mengerti sebagai gestur 'Nanti saja'.

Perempuan yang berkebaya putih itu baru saja akan melancarkan protesnya lewat gerakan mulut tanpa suara berikutnya ketika mendadak sang pembicara menyela presentasinya sendiri.

"Kalau kalian berdua ingin saling menggoda satu sama lain, setelah pertemuan kelar saja," sindir England dengan volume yang sedikir lebih keras, matanya terpaku pada catatan presentasi di tangannya.

Personifikasi negara yang mendengarkan menatap satu sama lain, mencari orang yang dimaksud. Sedikit negara yang mengetahui hubungan dua dari sejumlah orang yang tak mendengarkan tersebut segera tersenyum. Malaysia tersenyum mengejek ke arah kakak kembarnya sementara Philippines tertawa tanpa suara. Luxembourg menyikut kakak lelakinya yang tak acuh. Ekspresi cadasnya tidak berubah bahkan ketika Belgium menatap buku catatan yang sedari tadi digelutinya dengan ekspresi terkesan.

Sementara itu, Indonesia menutup wajah meronanya malu sampai istirahat tiba.

.


A/N: easily embarrassed!Indonesia and never giving any shit to anyone!Netherlands is hnggggg

thanks for reading whatever-this-is! I'd like to think that Indonesia would be the anti-PDA yet like to express her affections when they're alone, while Netherlands rarely do but when he does, he's very blantant damn he's the romantic one in the relationship. I hope you enjoy this... fluff-thing as much as I do while imagining it!