Bocah kecil itu menghentakkan kakinya. Pipinya di gembungkan—menjadikan wajahnya semakin bulat. Matanya ia sipitkan—mencoba terlihat seram. "KIBUUUUUMMMMMM" dia menjerit kuat kemudian. Mencoba memarahi kakak kembarnya. Dia Kyuhyun, si bungsu Kim yang suka berteriak dan mengadukan kelakuan tidak baik kakaknya.

Ini hal yang biasa terjadi. Di kediaman keluarga Kim yang di kepalai oleh Kim Leeteuk yang seorang PNS berwajah malaikat dan sangat baik hati. "Mama" si kecil Kyuhyun berlari, menuruni anak tangga. Heechul berteriak, agar Kyuhyun berhati hati atau dia akan terjatuh dari tangga kemudian cidera. Sebenarnya tidak terlalu masalah, tangganya sengaja dibuat landai mengingat tragedi tragis yang terjadi.

Kibum—si sulung Kim dan tangga tidak cocok sama sekali. Dia sering berguling di tangga atau sekedar salah menginjak anak tangga ketika turun—mengingat dia selalu jalan dengan mata nyaris tertutup.

"Ada apa Kyuhyun? Ada apa? Jangan berteriak!" Heechul mengucapkan itu dengan suara yang menggema di seluruh rumah. Sepertinya sudah jelas siapa yang di tiru oleh Kyuhyun. "Kelakuanmu persis seperti ayahmu" dia mulai melakukan fitnah pada Leeteuk yang baik hati.

Leeteuk memilih diam. Ini hari libur dan ia tak ingin membuat perkelahian kecil kecilan yang berujung Heechul mendiamkannya. Leeteuk cepat belajar dari pengalaman. "Kenapa Kibum memiliki pakaian yang persis sama denganku?" dia protes kembali. Kyuhyun memang termasuk anak yang kritis. Tapi kritisnya tidak pada tempatnya.

Kibum terlihat di anak tangga terbawah, sepertinya dia berhasil tanpa luka—dan tanpa bantuan Kyuhyun. Dia menguap lebar dua kali dan kemudian berjalan persis seperti orang mabuk ke meja makannya. Leeteuk hadir tak lama setelahnya, dia mengecup bibir Heechul sebagai ucapan selamat pagi kemudian mengecupi pucuk kepala dua bocah lima tahunnya—mereka akan segera masuk Taman Kanak Kanak. Leeteuk jadinya ingin menangis, anaknya sudah besar.

"Tentu saja, kalian kan kembar" Leeteuk menjawab dengan senyuman di wajahnya. Membuat Kyuhyun semakin memajukan bibirnya.

Heechul menghidangkan makanan di mejanya. "Aku tak kembar dengan Kibum" katanya menatap tajam Kibum yang melihat ke seluruh penjuru meja makan. Dia tak menemukan susunya di depan wajahnya. Apa dia salah tempat duduk? "Kami tidak mirip!"

Benar juga, mereka tidak mirip.

Kyuhyun itu wajahnya dipenuhi dengan aura menggemaskan, pipi putih chubbynya seperti mochi, rambutnya ikal kecoklatan dan kulitnya pucat. Sementara Kibum itu—

Aura kehidupannya tidak ada. Wajahnya tampan—seluruh tetangga mengatakan itu. Mereka mendadak menjadi peramal dan mengatakan Kibum akan menjadi playboy di masa depan. Dia suka tidur dan malasnya berada di tingkat akut.

Tentu saja berbeda dengan Kyuhyun yang selalu cerah dan periang. Menjadi kembaran Kibum itu membuatnya berada dalam kesulitan. Kesulitan karena dia tak lebih tinggi dari Kibum—oleh karenanya dia selalu meminum susu lebih banyak dari Kibum. Dia juga tak lebih tampan dari Kibum—ini kesaksian tante tante tetangga dan kawanan suster di rumah sakit tempat ibunya bekerja—Kyuhyun bertekad dia akan lebih tampan dari Kibum suatu hari nanti.

"Kalian kembar tidak identik, Kyuhyun. Tapi tetap saja kalian berada di perut yang sama dalam waktu yang sama. Jadi jangan banyak protes" Heechul menengahi. Mencoba membujuk anak bungsunya itu kalau mereka tak punya waktu untuk mencari baju baru untuk Kyuhyun. Dia tak mengerti selera kedua anaknya. Menyuruh keduanya memilih pakaian sendiri, dia yakin Kyuhyun akan melakukannya dengan baik, tapi Kibum. Dia sedikit khawatir.

Kibum masih sibuk dengan mencari susunya. Dia menoleh pada ayahnya, tapi malas untuk bertanya tentang keberadaan susunya. Dia menoleh pada Kyuhyun dan ibunya yang masih sibuk berdebat tentang pakaian dan perut. Kibum kembali menatapi meja makan, siapa tahu susunya kembali. Tapi—

Nihil.

Dia tak menemukan susunya. Jemari mungilnya meraih gelas lain. Gelas yang berada tepat di sampingnya, yang harusnya milik ayahnya. Itu segelas cairan hitam dengan kadar kafein yang tinggi. Kibum menggesernya perlahan, tidak di ketahui siapapun di ruangan itu dan meneguknya.

Satu tegukkan. Dia sedikit mengeriyit. Rasanya berbeda dengan susu yang biasanya ia minum. Rasanya pahit. Kibum sampai menjulurkan lidahnya. Tapi dia mencobanya untuk kedua kalinya. Rasanya sudah lumayan.

Hingga—

Habis. "Leeteuk! Kopimu!" Heechul melotot melihat si kecil Kibum yang sudah menghabiskan kopi sang ayah.

"Astaga! Kau tak boleh meminum itu!" Leeteuk panic. Dia mengambil gelas kopi di tangan Kibum. Menjauhkan dari anaknya yang kini menatapnya datar. "Bagaimana mungkin kau bisa menatap ayahmu seperti itu?" seolah mengajak bertarung—begitulah arti tatapan Kibum.

Hikkks

Suasana hening. Kyuhyun bahkan berkedip takjub pada kakaknya yang kini merebahkan kepalanya di meja makan. "Kibum, kau kenapa?" dia tentu saja sedikit cemas.

Hiikkkss

"Kibum?" Heechul memastikan. Suara apa yang dihasilkan oleh Kibum baru saja.

"Dia cigukan" Leeteuk menatap istrinya. Wajah Kibum terlihat memerah.

"Kyuhyun" suara Kibum terdengar tegas. Berbeda dengan dia yang biasanya.

Kyuhyun sampai gugup ketika namanya di panggil Kibum. "Y—ya!" Kyuhyun bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Takut takut Kibum berubah menjadi monster karena suara aneh hikks hikks hiiikss.

"Aku kakakmu!" katanya lagi. Dan kemudian Kibum menegakkan duduknya. Dia tersenyum lebar, membuat Leeteuk bahkan melotot tak percaya dengan si sulung Kim yang biasanya beraut datar itu. Kemudian—

BUGHH

Kibum jatuh dari kursinya. Dia tertidur.

"Dia seperti orang mabuk" Leeteuk cepat menangkap tubuh Kibum sebelum kepala anaknya itu membentur sesuatu.

"Karena kopi?" Heechul menampilkan raut tak percayanya. "KYUHYUN, KAU TERLALU BANYAK MENGHABISKAN NUTRISI KETIKA DI KANDUNGANKU, LIHAT KAKAKMU JADI SEPERTI INI!" ilmu kedokteran pun mungkin tak bisa menjelaskan anomali yang terjadi pada Kibum.

Kyuhyun menatap Kibum yang di gendong ayahnya menuju sofa. Dia menghampiri Kibum, menusuk nusuk pipi Kibum tapi Kibum tak meresponnya. Kyuhyun jadi ingin menangis. Salah dia. Dia membuat Kibum jadi kurang nutrisi sehingga jadi pemalas.

Kyuhyun, sepertinya Kibum saja yang memilih hidup menjadi malas. Itu bukan salahmu.

Lullaby

.

Genre : Slice of Life, Family

.

Kibum, Kyuhyun dan Laut

.

Membuka matanya, Kibum mencium sesuatu yang asin memenuhi indera penciumannya. Dia menggerakkan tubuhnya. Masih enggan membuka matanya.

Angin bertiup sejuk. Kibum jadi makin malas membuka matanya. Dia berguling sesekali, memutar tubuhnya hingga bisa terkena angin. Ini strategi yang bagus agar menghemat energinya.

Namun—

"Kibum. Kibum. Kibum" itu panggilan tiga kali dan Kibum tentu kenal dengan suara kembarannya yang selalu berisik itu. Dia mengarahkan jemarinya. Menusuk nusuk pipi Kibum, memaksanya untuk bangun. "Aku tahu kau sudah bangun, ayo kita keluar!" pinta Kyuhyun. Masih kondisi menusuk pipi Kibum dengan jari telunjuk mungilnya—dan berakhir dengan tepukan maut ala Kyuhyun di wajah Kibum.

Kibum meringis. Rasanya sakit—tentu saja. Kibum bersusah payah membangkitkan tubuhnya, melihat sekelilingnya. Dia tak ingin kena tepukan maut lagi. Adiknya itu memang tak tahu bersikap manis. tapi Kyuhyun dengan tatapan memohon agar Kibum menemaninya keluar adalah yang terbaik. Kibum menatapi wajah Kyuhyun.

Satu

Dua

Tiga

Dan—Kibum kembali merebahkan tubuhnya.

"KIBUUUUM! BANGUNNN!"

"Aku sudah bangun" sahut Kibum. Dia memang bangun. Matanya terbuka tapi tubuhnya terlalu malas untuk bergerak.

"Kau belum bangun!"

"Mataku terbuka" Kibum sengaja membesarkan matanya agar Kyuhyun melihatnya bangun. Dia berguling sesekali, hingga wajahnya menabrak wajah Kyuhyun. Dia meringis. Dahinya sakit karena terhantuk gigi Kyuhyun. Insiden kecil sering terjadi.

Tapi Kyuhyun itu suka membesarkan hal yang kecil. Tentu saja dia mengamuk dan wajahnya sudah menunjukkan tanda tanda akan menangis.

Kibum cepat membangkitkan tubuhnya. "Ayo keluar!" ucapnya cepat dan Kyuhyun itu moodnya cepat berubah. Jadi Kibum Cuma butuh mengikuti keinginan Kyuhyun agar mencegah tangis adiknya itu pecah. Kyuhyun tersenyum ceria.

Sejujurnya, Kibum agak asing dengan suasana sekitarnya. Anginnya dan juga harum di sekitarnya seperti bukan di rumahnya.

Mereka dimana?

"TA DAAAAAAA! Aku berhasil membangunkan Kibum!" Kyuhyun berteriak ceria dan Kibum memasang wajah seperti anak idiot.

Dia melihat sekelilingnya, di sana ada ayah dan ibunya. Juga ada pamannya yang bertubuh besar seperti gorilla. "Ini dimana?" Tanya Kibum. Bukankah dia ada di rumah, mendusal di bawah AC rumahnya dan kemudian tiba tiba ia terbangun sudah di atas tempat tidur. Ia pikir ayahnya yang memindahkannya di kamar.

Ketika dia keluar. Kenapa ia melihat hamparan pasir putih dan juga air yang banyak berwarna biru. Dia—dimana?

Kenapa rumahnya berubah menjadi air dan pasir?

Matanya berkaca kaca, Leeteuk dan Heechul mengira kalau Kibum menyukai tempat liburan mereka. Mereka memang memindah Kibum ke dalam mobil, toh anak mereka itu juga tak akan pernah membuka matanya untuk hal hal ia rasa tak berguna—obrolan ringan di mobil. Kyuhyun sibuk bernyanyi sepanjang perjalanan dan Kibum masih tertidur seperti orang mati.

Jadilah Kibum menjadi bocah yang diculik oleh keluarganya untuk liburan.

"Ki—kita dimana?" Tanya Kibum.

"Laut. Kita sedang liburan Kibum" Leeteuk menggendong Kibum membiarkan anaknya untuk merasakan semilir angin lembut musim panas.

"Rumah kita tak tenggelam kan, papa?" dan pertanyaan polos itu sukses membuat Leeteuk serta Heechul sweetdrop. Sepertinya Kibum kecil masih mengira jika mereka masih di rumah. Kangin—paman si kembar yang seperti gorilla itu tertawa terbahak. Dia selalu suka Kibum, si sulung itu jarang menganggunya dan Kibum tak pernah mengecewakannya.

"Tentu tidak" Heechul mengambil alih Kibum dari Leeteuk. Dia menggendong si anak. Mencoba menenangkan Kibum yang sepertinya tampak gelisah karena di tempat asing. Kibum itu tak suka perubahan dalam hidupnya. Aroma laut mungkin sedikit mengganggu Kibum. Kibum butuh waktu beradaptasi dan Heechul adalah teman yang sempurna.

"Jadi aku tidak akan jadi berenang, papa?" Kyuhyun mempertanyakan haknya untuk merasakan air laut.

Kangin jadi tak tega. "Ayo, kita pergi!" kadang pamannya itu memang tak bisa diharapkan tapi kalau soal bersenang senang Kangin itu selalu bisa diandalkan.

Ika. Zordick

Kyuhyun berlari ke sana kemari, sementara Kangin hanya memperhatikan si bocah dari jauh. Kyuhyun tampak antusias mengumpulkan kulit kerang. Dia bilang ingin membuat kalung untuk Kibum. Dia menyebarkan cerita yang belum diklarifikasi kebenarannya pada Kangin, soal Kibum yang tak suka laut. Kibum pernah tenggelam—padahal Kibum sama sekali tidak pernah ke laut, begitu juga dengan dia. Kalau tersedak duri ikan, Kibum pernah. Si sulung Kim itu kan terlalu malas menyingkirkan benda asing di makanannya. Telan saja.

Kalau begini Kyuhyun jadi ingin tukar kembaran saja. Apa ada seseorang yang bisa menggantikan Kibum? Dia ingin bermain, tapi Kangin tidak menarik untuk diajak bermain. Lelaki itu malah sibuk melihat wanita wanita berbikini.

Kyuhyun kesepian.

Dia butuh teman.

Tapi Kibum kan tidak suka laut—lagi lagi dia berspekulasi seenak hatinya.

"Hai!" dan seorang bocah yang mungkin seusia dengannya—atau sedikit lebih tua darinya menyapanya. Cengirannya terlihat normal, tubuhnya pendek dan dia mengenakan topi berwarna biru yang keren. Dia mengenakan celana renang dan baju kaos biru. "Aku Donghae, siapa namamu?"

Kyuhyun ingat, ibunya bilang kalau dia tak boleh berinteraksi dengan orang asing. Kyuhyun jadi takut. Dia melirik pada Kangin. Kangin mengangguk, memberi kode bahwa ia boleh berkenalan dengan bocah itu. "Aku Kyuhyun" Kyuhyun tersenyum riang menyambut uluran tangan Donghae. Dia tipikal bocah tak biasa, karena selama ini Kyuhyun bermain dengan teman teman yang tak ia ketahui namanya. Rasanya malu sekali menanyakan nama temannya. Tapi Donghae itu pemberani sekali.

Seperti sosok kakak yang pas untuk Kyuhyun.

"Ayo aku temani mencari ikan!" Donghae sepertinya anak penduduk local. Dia jago berenang dan tahu cara menangkap ikan. Benar benar kakak yang diharapkan Kyuhyun.

Ika. Zordick

Ini hari kedua keluarga Kim berlibur. Kyuhyun menatap malas sosok kembarannya yang masih seperti biasanya, bergelung di bawah AC dengan posisi terlungkup. "Kibum, ayo bermain!" ajak Kyuhyun. Dia ingin mengenalkan Kibum dengan teman baru yang ia kenal kemarin. Kyuhyun akan mengajak Kibum menangkap ikan, dia yakin kali ini ia akan lebih baik dari Kibum. Donghae sempat memujinya kalau Kyuhyun melakukannya dengan baik.

Kibum tidak menyahuti seolah ia menulikan pendengarannya. "Kibum, temani adikmu bermain!" Heechul berbicara. Heechul gerah juga melihat Kibum yang memilih memanjakan diri di bawah AC sementara ia sibuk membuat kulitnya menjadi tan dengan ditemani sang suami.

"Tidak mau" Kibum menolak tegas kali ini. "Di luar panas" katanya. Itu memang kenyataan. Itu suasana dimana Kibum tidak bisa mengimplementasikan rasa kantuk, malas dan kelesuannya. Musim panas haruslah identic dengan jiwa yang membara, sialnya Kibum bukan seseorang yang suka tersulut. Dia lebih nyaman dengan berdiam diri dengan AC yang menyenangkan.

"KAU PAYAH!" Kyuhyun berteriak. Dia kemudian berlari keluar. Di sana sudah ada Donghae yang menyambutnya.

"Jangan bermain jauh jauh Kyuhyun!" ini peringatan dari Heechul.

Kyuhyun mengiyakan kemudian menghilang. "Kangin, aku dan Leeteuk akan keluar, bisakah kau menjaga Kibum dan memastikan bahwa Kibum dan Kyuhyun makan dengan baik. Kami akan pulang setelah makan malam"

"OKI DOKI KAKAK IPAR!" ucap Kangin penuh semangat. Dia Cuma mendesah tak percaya melihat Kibum yang sepertinya tak peduli dengan Kyuhyun yang pergi dan kedua orang tuanya yang mungkin akan membuat adik baru untuknya.

Kangin melangkahkan kakinya masuk. Mengambil es krim di kulkas penginapan. "Hei Kibum, kau tak bosan tidur saja?"

Kibum malas menyahut. Tidur adalah kegiatan paling menyenangkan menurutnya. "Apa kau tak takut kalau Kyuhyun mencari kakak baru di luar sana dan meninggalkanmu?" Kangin terkekeh kemudian menutup pintu kamar Kibum.

Meninggalkan Kibum dengan perasaan cemasnya.

Dia sampai bermimpi buruk setiap tidur. Mimpi yang lebih buruk ketika dia menjadi pemain sepak bola nasional—itu kegiatan melelahkan. Dia bermimpi kalau Kyuhyun pergi bersama kakak barunya.

Ika. Zordick

Kyuhyun tak berhenti tertawa girang saat jaring yang dibawa Donghae membuatnya berhasil menangkap lebih banyak ikan diantara batu karang. Donghae membantu Kyuhyun memasukkannya ke dalam plastic yang berisi air setengah bagian dan memasukkan ikan tawanan mereka di sana. "Senangnya~ kita dapat banyak!" pekik Kyuhyun.

Donghae mengangguk, dia tertawa girang juga. Menurutnya, Kyuhyun sosok yang sangat manis apalagi ketika tertawa.

"Donghae, apakah kau punya adik?"

Donghae menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu. "Aku tidak punya" katanya. "Padahal aku sangat menginginkannya" Donghae memajukan mulutnya. Dia merajuk karena ayah dan ibunya menolak keras tentang memberikan adik padanya.

"Kalau begitu kau boleh menjadikanku adik"

"Benarkah?" Donghae terdengar tak percaya. Senyuman lebar terukir di wajahnya. Tentu ia amat girang. Dia memiliki adik instan yang sudah sebesar Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk.

Donghae meraih tangan Kyuhyun, mengajak Kyuhyun menuju tempat rahasianya. Tempat yang sangat sangat rahasia.

Di sebuah gua, diantara karang. Di dalam sana mereka bisa mendengar suara ombak yang besar. Tapi rasanya menenangkannya. Kyuhyun tentu saja takjub. Dia tak pernah menemukan tempat sejenis itu di daerah dekat rumahnya.

Lalu—

Hal yang tak di sangka terjadi. Langit tiba tiba menggelap.

Ika. Zordick

"Astaga langitnya menggelap!" Kangin mengintip dari kacamata hitamnya yang telah ia turunkan. Suara guruh terdengar saling menyambut. Langit tampaknya tak bersahabat. Dia menghela nafasnya. Berarti berakhir sudah masa ia berjemur. Dia juga harus membuatkan makanan untuk dua bocah nakal yang selalu menganggunya itu. Kenyataannya, dia membiarkan Kyuhyun berkeliaran dan Kibum bergelung di bawah AC.

Dia harus mencari Kyuhyun. Menyeret anak itu pulang sebelum cuaca menjadi lebih buruk. Dia mencari sendalnya dan kemudian melangkahkan kakinya ke dalam pondok. "Kibum, Kibum! Bisakah kau diam di rumah dan aku akan mencari Kyuhyun?" Kangin membuka pintu kamar. Matanya mengawasi setiap sudut ruangan, terlebih di bawah AC, dia tak menemukan Kibum di sana.

Dia cepat berlari ke dalam kamar, mencari di bawah tempat tidur, di bawah selimut, di bawah sofa. Di mana saja yang bisa saja menjadi tempat Kibum kecil melelapkan dirinya. Tapi ia tak menemukan tanda tanda Kibum. Dia mendengar gemuruh langit lagi.

"Mati aku! Aku pasti akan dibunuh Leeteuk dan Heechul jika tidak menemukan kedua anaknya!" Kangin dengan kecepatan penuh melesat menuju bibir pantai. Salahnya memang yang terlalu lengah dalam mengawasi dua bocah lima tahun itu.

Ika. Zordick

Terisak. Kyuhyun sangat takut.

Dia tak suka suara halilintar dan kini dia mendengarnya dengan jelas.

Dia tak suka air yang perlahan hampir menenggelamkan mata kakinya dari bawah karang. "Donghae, bagaimana ini?" isak Kyuhyun. Dia sudah menangis.

Dia menatap Donghae yang tampak cemas melihat langit. "Jika kita keluar, kita bisa terbawa angin dan kemudian hanyut" Donghae itu brengsek dengan segala pengetahuannya. Kyuhyun jadi semakin takut.

Kembali halilintar menyambar. Dan keduanya berteriak sambil menutup telinga mereka. Takut—tentu saja. Keduanya hanya bocah normal. Biasanya anak anak memang takut dengan suara keras yang menampilkan cahaya mengerikan dari langit.

Kyuhyun bisa melihat pohon pohon yang ditiup angin, diluar sana angin pasti sangat kencang. Tapi Kyuhyun juga ragu dengan air di bawah kakinya. "MAMAAA, PAPAAAA" dia menangis meraung. Dan ternyata Donghae meraungkan hal yang sama.

Dan berakhir—

"KIBUUUUM! AKU TAKUT! HUWEEEE! KIBUM!" sejujurnya, Kyuhyun lebih suka meraungkan nama Kibum ketika dia ketakutan. Biasanya, jika malam hujan turun dengan deras dan halilintar menyambar. Kibum selalu ada di sampingnya, Kibum memang tak membuka matanya. Dia merapatkan tubuhnya pada Kyuhyun kemudian menutup telinga Kyuhyun dengan tangan kecilnya. Dia jadi rindu Kibum melakukan hal itu.

"Kyuhyun" bahkan dia sekarang bisa mendengar suara Kibum. Dia berdosa pada Kibum, harusnya dia tak pernah berdoa pada Tuhan agar mengganti kakaknya.

"Kyuhyun" kali ini dengan sentuhan di tangan Kyuhyun.

Kyuhyun perlahan membuka matanya yang ia pejamkan erat. Karamelnya menatap Kibum yang menatapnya. "KIBUUUUMMMM!" teriaknya dan memeluk tubuh kakaknya itu erat. Kibum melirik pada Donghae yang menangis di samping Kyuhyun. Menatap tak suka, ternyata si bedebah ini yang membuat tidurnya tidak nyenyak. Dia yang ingin merebut Kyuhyunnya. "Bagaimana caramu kemari?"

"Aku mengikuti jejak kakimu" Kibum sekarang mirip dengan anjing pelacak. "Tapi hilang di tengah jalan karena hujan"

"Lalu bagaimana kau dapat menemukanku?"

"Aku mencium baumu dan mendengar suaramu" benarkan, indera Kibum selalu menjadi lebih tajam jika berhubungan dengan Kyuhyun. Kyuhyun mencoba menghapus air matanya, tapi ia tak bisa karena air mata itu terus jatuh, diikuti ingusnya. Kibum memandang jijik sang adik, tapi ia peluk juga.

"Aku kira takkan bertemu denganmu lagi" raung Kyuhyun. Kibum memandang penuh dendam pada Donghae. Ini semua takkan terjadi jika bocah itu tak membawa Kyuhyunnya. Semua akan baik baik saja jika Kyuhyun ikut malas seperti dirinya. Tidur di bawah AC takkan menjadi masalah seperti ini. Itu pemikiran sederhana khas bocah. Jangan di tiru!

Kibum kemudian memandang horror air yang kini sudah mencapai pinggangnya. Dia tak boleh membiarkan Kyuhyun tenggelam. Dia pernah tertidur di dalam bathup dan berakhir tak bisa bernafas di dalam air, bersyukur ayahnya tanggap mengetahui dia tertidur. Jika Kyuhyun mengalami hal yang sama akan sangat menyakitkan. (Sebenarnya pengalamannya itu karena salahnya juga)

"Ayo keluar dari sini, kita pulang!" ujar Kibum.

"Tapi kita akan diterbangkan angin!" Kyuhyun seolah tak pernah salah. Donghae mengangguki juga. Mereka akan terbawa angin dan hanyut di laut.

"Aku takkan membiarkanmu terbawa angin" kata Kibum. Sejujurnya dibanding terbawa angin, Kibum masih lebih benci dengan tenggelam. Dia pernah mengalaminya, hidungnya yang kemasukan air terasa sangat sakit.

Kibum menggenggam tangan Kyuhyun, tangan lainnya menggenggam tangan Donghae. Hei hei, siapa bocah ini, kenapa ia harus Kibum selamatkan juga? Adiknya Kibum kan Cuma Kyuhyun. Kibum pun tak takut karena keadaan ini karena Kyuhyun ada di sini. Sejujurnya, dia takut juga. Akan sangat mengerikan jika ombak yang tinggi menghantamnya dan membuatnya tenggelam. Lagi lagi dia masih trauma dengan tenggelam.

Kibum menarik Kyuhyun dan Donghae, meskipun dia harus membuang banyak energinya, dia bergerak menjauhi bibir pantai. Kyuhyun memandang tautan tangannya dan Kibum—memang benar tak ada yang lebih baik dari sang kakak. Kibum selalu ada untuknya, ketika ia ketakutan dan kemudian menyelamatkannya.

Kibum pantas menjadi seorang kakak. Karena dia sosok pemberani yang mampu menerjang badai.

Hingga—

Mereka sungguh sampai di dalam pondok keluarga Kim. Kibum berjalan setengah berlari menuju kamar mandi. Dia menghidupkan air di bathup, mengisi dengan air hangat. Dia yang tak biasa bergerak kini harus menghabiskan energi yang sangat banyak dalam melawan badai.

Dia melepas pakaiannya, juga pakaian Kyuhyun. Mengajak Kyuhyun berendam. Dia kemudian menatap Donghae—masih dengan tatapan kurang bersahabatnya. "Kau bisa melepaskan pakaianmu kan? Aku bukan kakakmu" katanya ketus. Tak lama setelahnya Donghae juga menyusul mereka berendam di dalam bathup.

Dan—

Kibum merasakan dirinya kembali mengantuk.

Lalu—

BULB—

"KIBUM! KAU TENGGELAM!" teriak Kyuhyun mencoba mengangkat kakaknya itu dari bathup. Kibum juga sebenarnya lebih membutuhkan Kyuhyun. Bayangkan jika Kyuhyun menghilang di telan badai, Kibum bisa berkali kali tenggelam atau terjatuh dari tangga atau mungkin menabrak sesuatu sampai mati.

Ika. Zordick

"Untung hujannya tidak terlalu parah ya, sayang" ujar Leeteuk. Dia masuk ke dalam kamar, menemukan anaknya dalam posisi bertelanjang di bawah selimut saling berpelukan erat. Mereka tertidur dengan damai. Kibum berada dekat AC—itu tempat favoritnya dan dia memeluk Kyuhyun. Donghae berada di sisi lain Kyuhyun.

Heechul memasuki kamar. Leeteuk buru buru mengisyaratkan agar Heechul meredam suaranya. Heechul terpekik tertahan melihat anaknya dan Donghae yang tengah tertidur. Ia cepat mengambil ponselnya, Kibum dan Kyuhyun susah diambil fotonya dalam keadaan telanjang dan ini saat yang tepat. Dia cepat memotret kejadian itu dan bonusnya ada anak manis lain di samping Kyuhyun.

"Papa minta maaf pada kalian ketika di masa depan kalau kalian menemukan foto ini" ini seperti melanggar privasi.

"Aku akan memakaikan mereka pakaian. Aku takut ketiganya masuk angin" Heechul memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Ngomong ngomong, dimana Kangin?" Tanya Heechul tak menemukan adik iparnya itu dimanapun di dalam pondok.

"Entahlah, bisa bisanya dia meninggalkan Kibum dan Kyuhyun" ucap Leeteuk sambil mengeram marah.

Ah~

Soal Kangin.

Aku melupakannya - -"

TBC

Ini mungkin seperti series.

Akhir kata mohon reviewnya.