Save our Princess, Save our Kingdom
Part 2
(Ran, the best leader ever)
.
.
.
.
.
Aikatsu bukan punya saya, saya hanya punya jalan ceritanya~
.
.
.
.
.
Hanya imajinasi author, jadi jangan dibawa serius~
.
.
.
.
Tittle: Save our Princess, Save our Kingdom
Genre: Action, Superpower, Friendship, Comedy
Rated: K to T
.
.
.
.
"Ayo, kita tak bisa membuang waktu lagi." Kata Ran setelah semuanya berkumpul.
"Tentu saja, aku tak sabar lagi untuk menjadi pahlawan." Kata Hikari dan mendapat sorakan 'Huuuu' dari teman-temannya. Mereka pun berpegangan tangan dan membentuk lingkaran.
"Kita akan berhasil, kan?" Tanya Akari.
"Tentu saja," jawab yang lain.
"Bersiaplah," Ichigo berkata
Sembilan gadis itu mempererat kaitan tangan mereka. Ichigo memusatkan pikirannya, mencoba memikirkan tempat yang akan ditujunya.
Dan.. Wushhh! Mereka menghilang.
Saat sembilan gadis itu membuka mata, mereka merasa tak ada pijakan di kaki mereka. Mereka pun melihat kebawah.
Air.
Air?!
BYURR!
Mereka semua terjatuh ke air dari tempat yang cukup tinggi. Untung saja mereka semua bisa berenang. Saat sudah menguasai diri mereka, serempak semuanya menoleh kearah gadis yang hobi makan itu. Mereka tersenyum pada Ichigo. Senyum yang sangat 'manis'.
Ichigo sedikit mundur melihat wajah 'manis' teman-temannya itu. Delapan gadis saling berpandangan, lalu melihat kearah Ichigo lagi.
"SERANGGG!"
"Waaaaa!" Teriak Ichigo. Ia langsung berlari, bukannya berteleportasi. Mungkin karena dirinya belum stabil sepenuhnya.
Dengan kekuatan masih masing (yang diperlukan, kalau kekuatan Hikari dan Seira tak bisa digunakan dalam situasi saat ini) Akari mengejarnya dengan cara terbang, sedangkan Ran mencoba mengambil alih tubuh Ichigo. Setelah dia berhasil mengambil alih tubuh Ichigo, ia menunggu hingga teman-temannya mendekat, lalu kembali ke tubuh aslinya.
Kemudian mereka pun menyerang Ichigo. Bukannya kesakitan, Ichigo malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahhaha.. hentikan, geliii.." Ichigo menggeliat.
Delapan gadis itu masih belum puas menggelitiki Ichigo. Dengan sekuat tenanga, mereka menggelitiki gadis kuning itu. Bahkan Ichigo sampai menangis sambil tertawa. Sungguh penderitaan yang sangat berat.
Author kira, mereka akan menyerang Ichigo seperti apa, tenyata cuman gelitik -_-
"Hei, sudah cukup. Kita harus cepat," perkataan sang pemimpin membuat mereka tersadar. Ichigo masih tertawa sambil menyeka air matanya. Sekali lagi, sungguh penderitaan yang sangat berat.
Sembilan gadis itu pun berbaring di pasir pantai. Menatap mentari yang sebentar lagi akan tenggelam. Indah, berbanding terbalik dengan keadaan kerajaan yang sedang kacau.
"Indah sekali ya.." gumam Madoka.
"Ya, sayangnya suasananya sedang tak sesuai," timpal Otome.
"Seandainya sekarang ada Putri Mizuki.." ucap Miyabi
Setelah itu terjadi keheningan, mencoba menikmati pemandangan indah disela-sela terguncangnya kerajaan.
Ran pun bangkit, "Ayo,kita tak punya banyak waktu." Yang lain pun mengikuti sang pemimpin yang penuh karisma ini.
"Ichigo, kenapa kau berhenti di pantai? Di bagian laut pula!" Tanya Seira kesal.
"Apakah kau tak tahu dimana wilayah kerajaan ratu Yurika?" Kali ini Sora yang bertanya.
"Kenapa kau membawa kami ke pantai? Kau kira ini sedang tamasya?" Tanya Hikari pedas.
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari temannya, Ichigo hanya bisa memberikan cengiran yang malah membuat teman-temannya kesal.
Sebelum yang lain semakin panas, Ran pun bertindak. "Sudahah, tak ada gunanya mendebatkan ini. Tapi Ichigo, lain kali jika tak tahu lebih baik bertanya saja dulu"
"Baiklah,Ran." Ichigo menunduk.
"Karena kau tak tahu arahnya, mari bertukar tubuh sebentar."
Ran pun berfokus pada Ichigo. Matanya mengeluarkan sinar, lalu tubuh mereka sudah bertukar.
Dari sembilan gadis ini, yang paling pandai mengendalikan kekuatan adalah Ran, Miyabi, Akari dan Seira. Tapi yang paling pandai adalah Ran. Selain dapat mengambil alih tubuh orang lain, ia dapat menukar tubuhnya dengan yang lain dan menggunakan kekuatan orang tersebut jika ada.
"Ayo, berpegangan tangan," Komando Ran yang berada dalam wujud Ichigo."
Yang lain pun saling berpegangan tangan dan membentuk lingakaran seperti tadi.
Ran mencoba memusatkan pikirannya ke kerajaan Ratu Yurika. Lebih tepatnya, tak jauh dari gerbang kerajaan Ratu Yurika. Hup! Merekapun sampai kesana. Ran pun langsung menukar tubuhnya dengan Ichigo bahkan sebelum ia sadar.
"Baiklah, mari kita susun rencana dulu," Yang lain pun langsung mengelilingi Ran.
"Yang akan pergi kesana duluan adalah aku, Ichigo, Akari, dan Miyabi,"
"Kenapa kami?!" Tanya mereka bertiga serempak.
"Karena, kalian punya keahlian menyusup," Ran memberi jeda pada omongannya. "Ichigo, tentu saja mudah bagimu dengan kekuatan teleportasimu. Usahakanlah muncul di tempat yang sepi."
Ichigo mengangguk paham, wajahnya tampak lalu menoleh kearah Akari.
"Akari, tempat ini menguntungkan untukmu. Dengan kerajaan kerajaan yang dipenuhi air, kau bisa bergerak bebas."
"Tapi, kenapa tak memakai cara terbang saja, Ran-tan? Bukankah terbang lebih menguntungkan karena bisa melihat semuanya?" Tanya Otome tak mengerti.
"Tidak, mereka bisa saja melihat Akari dan akibatnya akan fatal. Selanjutnya, gunakanlah peluru kecil untuk membuat mereka hilang kesadaran."
"Dan kau, Miyabi, karena kau bisa menghilang, kau bisa menyerang para prajurit yang berjaga. Kau membawa pisau, kan?"
"Ya, aku membawanya." Miyabi mengeluarkan pisau dari tas pinggangnya."
"Bawalah dan coba serang mereka tanpa terlihat. Jika kau takut menggunakan pisau, gunakan saja tangan kosong. Kita semua bisa menggunakan dasar dari beladiri. Dan lagi, biarkan dirimu terlihat oleh aku, Ichigo dan Akari." Jelas Ran panjang lebar.
"Baik, Ran-san. Aku mengerti."
"Dan kau sendiri, apa tugasmu?" Tanya Hikari.
"Aku akan mengambil alih tubuh para prajurit dan polisi tanpa membuat menyusup masuk kedalam ruangan tempat mereka sedang merencanakan tentang menyerang kerajaan kita."
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa mereka sedang dalam tahap perencanaan, Ran?" Tanya Sora keheranan.
"Entahlah, instingku mengatakan begitu," jawab Ran seadanya.
'Ternyata Ran hanya memikirkannya dengan asal!' piker delapan orang gadis dengan ekspresi yang berbeda-beda.
'Tapi, dia adalah leader terbaik selamanya,' mereka semua tersenyum.
"Dan Akari, sebaiknya kau memutar ke belakang kerajaan. Kurasa disana akan lebih sepi. Ichigo akan menunggu disana sambil menyerang prajurit yang dibelakang sana. Setelah itu, kalian tunggu Miyabi dan yang lainnya. Saat keadaan di gerbang aman, tunjukkanlah dirimu pada yang lainnya, Miyabi. Lalu kalian dengan berpegangan tangan lalu menuju arah Ichigo dan Akari. Barulah kalian bersama-sama mencari Putri Mizuki. Mengerti?"
"MENGERTI!" Jawab mereka serempak.
Akari pun memasuki air, Miyabi yang menghilang (dilihat oleh Hikari, Madoka, Seira, Otome, dan Sora), Ran yang mulai merasuki tubuh-tubuh para prajurit dan Ichigo yang juga pergi.
Terjadi keheningan antara lime gadis itu. Sampai Madoka bertanya "Selama mereka menyerang, apa yang akan kita lakukan?"
"Mau makan permen, Madok-tan," Tanya Otome yang langsung menggunakan kekuatnnya untuk permen.
"Mau, Otome-san!" Mata Madoka berbinar-binar. Ia langsung mengambil permen coklat.
Seira, Sora dan Hikari berpandangan, mengangguk, lalu ikut memakan permen. Ran tak melarang mereka, kan?
-^o^-
Ran yang telah merasuki tubuh seorang polisi didalam ruangan tempat musuh menyiapkan rencana. Ia mencoba tak mengkhawatirkan teman-temannya, ia harus tahu rencana para musuh.
Ia menatap orang-orang disekelilingnya, ada seorang gadis berambut ungu, ada juga pria yang berpakaian polisi dengan rambut yang menutupi sebelah matanya, pria yang sedang berbicara sekarang adalah pria berambut panjang, disebelahnya gadis polisi berambut hitam, coklat muda, dan kuning. Dan masih banyak yang lainnya lagi.
"Apa kalian setuju?" Tanya pria berambut panjang tadi.
"Aku tidak setuju," Seketika semua arah mata memandang kearah gadis berambut hitam itu.
"Kalau begitu, menurutmu seperti apa rencananya, Kamiya Shion-san?"
'Jadi namanya Kamiya Shion, ya.' Batin Ran.
Gadis yang bernama Kamiya Shion pun menjelaskan pemikirannya, menurut Ran, gadis ini cukup pintar.
Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari luar. "Ada penyusuuppp…!" teriak para prajurit dan pelayan dari luar.
'Gawat, mereka sudah ketahuan,' Batin Ran panik. Ia dalam tubuh seorang laki-laki berambut putih pun berlari keluar dari ruangan.
"Hei, Hiro, kau mau kemana. Biar para prajurit saja yang menangani mereka!" Cegah seorang polisi dengan rambut Mohawk merahnya.
Ran tersadar, ia masih berada di tubuh orang yang dirasukinya. Dua orang prajurit Ratu Yurika menghalangi jalannya. Sepertinya mereka sudah tahu bahwa Ran (yang berada ditubuh orang bernama Hiro) menyusup kedalam.
Pandangan matanya menajam, ia berpindah tubuh kearah salah satu dari prajurit tersebut. Setelah itu, ia meninju orang disebelahnya. Lalu kabur dengan tubuhnya sendiri.
'Sial, dimana mereka sekarang?!' umpatnya dalam hati.
Dengan merasuki orang secara bergantian, dengan cepat ia bisa menemukan teman-temannya tanpa ketahuan. Mereka sudah tertangkap, beberapa polisi dan prajurit menahan mereka. Tiap orang ditahan 1 prajurit.
'Kenapa mereka tak keluarkan kekuatan mereka?!'
Dengan kecerdasannya, Ran merasuki tubuh prajurit penjaga Miyabi yang posisinya paling belakang. "Hei, Miyabi!" Bisiknya.
Miyabi menoleh, ia tampak keheranan, bagaimana prajurit itu bisa tahu namanya?
Ran menunjukkan mata merah prajurit itu, yang berarti Ran sedang merasuki tubuh sang prajurit. Mereka sedikit melambatkan jalan mereka agar bisa berbicara.
"Ran-san?"
"Kenapa kalian tak menggunakan kekuatan kalian?"
"Mereka mengancam jika kami kabur mereka akan membunuh Putri Mizuki,"
"Itu hanya gertakan, kau ingat perkataan Sena-san, kan? Mereka tak akan membunuh Putri Mizuki."
"Ya.. aku mengi-"
"Hei kalian! Kenapa lambat sekali?! Ayo cepat!" Teriak prajurit didepan mereka, yang menahan Ichigo. Mendengar perkataan prajurit itu,yang lain pun ikut menoleh.
"A-ah, ya, baiklah. Ayo cepat, dasar gadis lemah!" Ran berakting seperti prajurit agar yang lain tak curiga. Yang lain pun kembali menghadap depan.
"Miyabi, lakukan!"
Miyabi mengangguk paham. Ia langsung menggunakan kekuatannya setelah mereka berada di wilayah yang sepi. Dengan sengaja ia tetap menunjukkan dirinya pada Ran dan teman-temannya . Dengan perlahan, Miyabi melangkah mendekati para prajurit. Ichigo memasang wajah aneh, dia bingung kenapa Miyabi melangkah dengan santai.
Dengan ilmunya, Miyabi membuat prajurit yang menahan Ichigo itu pingsan. Ichigo makin melongo. Miyabi memasang tampang 'nanti-kujelaskan'. Lalu keduanya menoleh kebelakang. Ran telah keluar dari tubuh sang prajurit dan membuatnya tak sadarkan diri.
Dan Ran kembali menghilang, ia telah masuk kedalam tubuh prajurit selanjutnya, prajurit yang menahan Sora. Ichigo dan Miyabi tersenyum kecil. Mereka mempunyai pemimpin yang sangat hebat. Tak salah jika Ran-lah yang dipilih oleh Raja Johnny untuk memimpin mereka.
Lalu keduanya memisah dari barisan dan mendiskusikan sesuatu.
"Miyabi, kita yang telah terbebas harus mulai mencari Putri Mizuki," kata Ichigo dengan tampang serius.
"Kau saja, Ichigo-san. Jika kita ketahuan, setidaknya aku yang tak terlihat bisa menyelamatkan yang lain," balas Miyabi.
Ichigo terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. "Baiklah, Miyabi-chan,"
Ichigo pun lenyap dari hadapan Miyabi. Miyabi masih dengan mode menghilangnya dari depan (teman-temannya yang belum tahu hanya melongo melihatnya) mengikuti barisan mereka. Dengan setia, yang lain masih melihatnya yang berjalan santai. Harusnya, kan mereka mengerti bahwa Miyabi memiliki kekuatan menghilang dan ia dapat mengontrol siapa yang bisa melihatnya. Dasar payah!
Ran sudah merasuki prajurit yang menahan Akari (prajurit selanjutnya dari prajurit yang menahan Sora). Miyabi pun mendekati Ran. "Ran-san, kurasa kita harus mengikuti mereka sampai penjara,"
Ran mengernyitkan kening kebingungan "Kenapa, Miyabi? Dan.. mana Ichigo?"
"Kita bisa mengetahui seluk beluk kerajaan ini walau hanya sedikit. Dan Ichigo sedang mencari tempat Putri Mizuki disekap." Jawab Miyabi
Ran menghela nafas "Hhh.. Semoga Ichigo baik-baik saja, kau tahu, kan, dia sangat ceroboh."
"Ya, sekarang kita hanya harus percaya padanya." Kata Akari yang tiba-tiba bergabung.
Mereka sedikit melambatkan jalannya, mencoba menjauh dari para prajurit yang tersisa
Ini keberuntungan mereka, atau prajuritnya yang memang bodoh? Semenjak tadi bahkan mereka tak melihat kebelakang. Apakah mereka tak diajarkan tentang kewaspadaan?
"Melihat mereka, kurasa kita akan menang dalam perang nanti," gumam Akari
"Ya, bahkan kewaspadaan mereka sangat rendah," timpal Sora.
"Kita harus tetap waspada, bisa saja prajurit atau polisi lainnya melihat orang-orang yang tadi kubuat pingsan,"
Ran tersentak, "Sial! Bagaimana bisa aku lupa!" ia baru ingat akan hal itu. Ia merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dirinya. Untung saja belum lama.
Ran merasuki prajurit yang menahan Seira. Dengan brutal menyerang prajurit didepannya, prajurit yang menahan Madoka. Madoka terkaget kaget. Dia adalah gadis yang lemah lembut, adegan didepannya ini tak bisa dilihatnya.
Tentu saja prajurit yang lainnya pun tersadar bahwa gadis-gadis itu terlepas. Yang sudah terbebas, walaupun masih bingung kenapa Ran tiba-tiba 'meledak-ledak', tetap membantu Ran. Tidak semuanya, ada yang berlari kearah sebaliknya, mencoba melarikan diri. Karena jeruji-jeruji penjara sudah terlihat.
Terdengar derap langkah kaki dari arah yang berlawanan. Miyabi, Sora, dan Akari yang mencoba lari tadi berhenti. Pasukan polisi.. menghalangi mereka dari dua arah. Seketika delapan gadis itu panik.
-^o^-
Ichigo melirik ke kiri dan ke kanan, gadis itu sangat kebingungan. "Aduuhh.. aku harus kemana, ya?" ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ia lalu menghilang, lalu muncul lagi tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Menghilang lagi, muncul lagi. Ichigo melakukannya berulang-ulang hingga dirinya sendiri kelelahan. Tanpa sadar, ia tak lagi memikirkan untuk muncul ditempat yang sepi atau tidak.
Ia berada di dekat kolam, lalu menghilang, dan mucul didekat kolam itu lagi. Melirik seorang gadis yang tampak seumuran dengannya. Gadis berambut biru dan memakai yukata hijau muda. Aktivitas yang dilakukan gadis itu tampak menarik baginya.
Ichigo sedikit mendekat, melihat lebih jelas apa yang dilakukan oleh gadis itu. Sepertinya gadis itu tak menyadari keberadaannya.
Ichigo seakan hilang kesadaran. Tidak, kesadarannya seperti ditarik pelan dari tubuhnya. Matanya menatap kosong kearah gadis berambut biru itu.
Gadis itu mengayunkan kakinya dikolam. Di tangannya terdapat sebuah bunga. Dengan anggun, ia mencabut satu kelopak dari bunga itu. Lalu, kelopak itu melambung pelan, cukup tinggi. Jelas itu tidak mungkin, bagaimana bisa benda itu seakan dikendalikan?
Kesadaran Ichigo kembali seketika setelah melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu. Ia makin mendekati gadis itu, ingin bertanya apa yang baru saja ia lakukan. Baru saja ia ingin membuka mulutnya, gadis itu sudah duluan bertanya.
"Kau siapa?" Gadis itu menoleh kearah Ichigo.
"E-eh, itu, aku.. aku.." Ichigo bingung ingin mengatakan apa. Sebelum Ichigo menjawab dengan pasti, gadis itu sudah mendahuluinya lagi.
"Kau mau ikut aku?"
Mereka saling bertatapan. Ichigo sedikit heran dengan gadis ini. Ichigo terdiam sejenak. Entah kenapa, pikirannya seakan dikendalikan oleh gadis misterius ini. "Hm, Baiklah.."
-To Be Continued-
AN: holaa.. author kembali dengan cerita gaje ini :v udah lama banget ya? author minta maaf bila ada typo yak. soalnya males edit ulang :v..
dan, kemarin ada yang review dan bilang heran kalo banyak orang yang suka Mizuki. berarti, ente juga bilang ane suka Mizuki ya? sebenarnya ngga terlalu, kok. dan, Mizuki bukan tokoh utama fic ini melainkan Ichigo. Author jadiin Mizuki sebagai putrinya karena cocok aja. Dan, itu akan menjadi salah satu kunci permasalahan kalo nanti author jadi bikin S2 nya *senyum misterius*. udah dulu ya, bye
