Author's Note
Apabila reader merasa aneh dengan plot atau hal apapun, mohon maklumi Author ini. Author sedang belajar untuk membuat sebuah cerita yang terbaik. Dan, terimakasih banyak untuk semua yang sudah bersedia review di chapter sebelumnya. Hontou ni arigatou gozaimasu, minnasan. \^-^/
Bagi yang ingin fict ini untuk tidak dilanjutkan, maafkan Author karena Author tidak bisa memenuhi itu. Jika reader merasa TIDAK SUKA dengan fict ini baik dari jalan cerita, karakter, dan sebagainya, Author mempersilakan reader untuk JANGAN BACA FICT INI!
Terimakasih untuk yang mendukung dan yang tidak mendukung fict ini.. XD
.
.
.
A GLOWING HUG
Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, typo(s), OOC, etc.
Rated M
Pairing : Namikaze Naruto & Hyuuga Hinata
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Happy Reading!
.
.
.
CHAPTER 2
.
"Jika kau tidak bisa mengatakannya. Aku yang akan melakukannya," sahut Hinata dingin.
Naruto membelalakkan matanya, "Apa?" tanyanya ragu.
"Pernikahan kita."
Naruto tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Suara lembut Hinata mengalun merdu di telinganya. Namun, kata yang terungkap begitu menyentak dirinya. Naruto terdiam. Membiarkan keheningan menyelimuti dirinya dan gadis yang duduk menatap luar jendela di sampingnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya," cetus Naruto tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan. Mata birunya menatap tajam lalu lintas yang padat pagi ini. Sesekali mempercepat laju mobilnya ketika mendapat celah dari mobil di depannya. Ia tak bersuara untuk beberapa saat. Menanti jika Hinata yang akan melakukannya. Menanyakan kenapa atau bagaimana, mungkin. Naruto sedang memikirkan beberapa jawaban di otaknya. Akan tetapi, Hinata membisu. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari jejeran pohon di luar jendela.
Naruto melihat Hinata dari sudut matanya. Memandang wajah cantik Hinata yang agak pucat. "Hari ini, kau pulang jam berapa?" tanya Naruto mencoba basa-basi. Lama-kelamaan kebisuan ini terasa mematikan baginya.
"Kenapa?" Hinata balik bertanya pada Naruto. Masih tidak mengalihkan pandangannya dari jendela.
Naruto merutuk dalam hatinya. Gadis itu terlihat begitu acuh padanya. Ia seperti tidak mengenal Hinatanya lagi. Dulu―meskipun dengan malu-malu dan rona merah di wajahnya, Hinata selalu menatap wajahnya ketika ia mengajaknya bicara. Saat ini, ia merasa seperti berbicara dengan orang asing. Bahkan ia tidak yakin jika Hinata benar-benar menganggap keberadaan Naruto.
"Aku akan menjemputmu," terangnya.
Sepintas, Naruto dapat melihat Hinata terkejut dari pantulan kaca jendela. Mata amethystnya sedikit membulat, kemudian mulai kembali merileks. Tatapan gadis itu terlihat kosong, seakan membawa jiwanya pergi ke tempat lain. Tidak di samping Naruto.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," ujar Hinata tajam.
"Aku bisa bertanya pada Sakura-chan jika kau tidak bersedia memberitahuku," sahut Naruto enteng. Pria itu mengulas senyum tipis ketika mengingat kenyataan jika ia bisa melakukan apapun tanpa harus Hinata memberitahukan padanya. Naruto sudah sangat mengenal teman-teman gadis itu. Tidak sulit untuk menanyakan segala hal tentang Hinata dari mereka.
.
Hinata seketika menyentakkan kepalanya menghadap pria berkulit tan di sampingnya. Tanpa berusaha menyembunyikan raut tidak suka di wajahnya. Terlebih ketika gadis itu melihat seringai Naruto yang membuat dirinya merasa hal tak terduga bisa terjadi kapan saja.
Hinata tidak mengerti dengan jalan pikiran Naruto. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dari dirinya. Pria itu memiliki segalanya dan ia memliki seseorang yang dicintainya. Lantas untuk apa ia bersikeras melaksanakan pernikahan. Hinata menawarkan bantuan dengan percuma agar Naruto tidak harus terjebak dalam pernikahan mengerikan bersama dirinya. Naruto tidak akan sudi menyentuhnya yang ternoda. Begitu juga, ia yang tidak ingin menyentuh Naruto dengan tubuhnya yang menjijikkan. Seberapapun besarnya Hinata mencintai Naruto, ia tetap tidak pantas bagi pria Namikaze itu. Shion jelas jauh lebih pantas dibanding dirinya. Gadis itu mampu mencintai Naruto, mmenuhi seluruh gairah pria itu. Sedangkan Hinata, ia tidak mampu melakukannya. Lebih tepatnya, ia tidak mau. Pertama kali dalam hidupnya peristiwa itu terjadi. Membuat Hinata takut dengan rasa sakit yang akan ia rasakan.
Dan apapula dengan gagasan Naruto akan menjemputnya. Harus Hinata akui jika ia akan sangat senang jika ia tidak harus berjalan ke rumah sendirian. Hanya saja, jelas bukan Naruto orangnya. Hinata tak mengerti mengapa pria itu seolah menutup jarak di antara mereka yang mulai merenggang akhir-akhir ini. Ia bersyukur ketika ia tidak harus melihat wajah menenangkan milik Naruto. Melihatnya hanya membuat hati Hinata terasa perih. Dan Naruto malah bersikap seolah peduli padanya.
Hinata menatap Naruto marah. Ia tidak menyukai gagasan ketika pria itu seakan menyampaikan jika Hinata tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Namun, ketika matanya bertemu dengan mata sapphire Naruto, refleks Hinata mengalihkan pandangannya. Ia mengutuk sikap pemalunya itu. bahkan hanya mendapat tatapan Naruto membuat jantung Hinata bergemuruh.
"Dibandingkan menjemputku, lebih baik kau menjemput Shion-san. Dia pasti menunggumu," kata Hinata ditengah kegugupannya. Ia merasa tenggorokannya kering tiba-tiba.
"Aku akan menunggumu di depan kampus," sahut Naruto tidak mengindahkan perkataan gadis itu. Walaupun sebenarnya ia cukup merasa kesal dengan sikap mengalihkan pembicaraan darinya.
"Tidak, Naruto-kun. Kau tidak perlu menungguku. Aku tidak mengharapkan kau menjemputku. Tapi, Shion-san mengharapkan kehadiranmu di sana."
"Tidak bisakah kau berhenti mengungkit tentang Shion?!" bentak Naruto.
Hinata tercekat.
Naruto merasa kesabarannya mulai menguap. Ia menaikkan suaranya dan menatap tajam Hinata yang matanya membulat dengan sempurna menatap dirinya. Naruto tidak pernah membentaknya, wajar saja jika Hinata tersentak kaget. Selama ini Naruto mampu menguasai dirinya dengan baik ketika bersama Hinata. Ia tidak pernah marah atau membentak gadis itu. tapi, entah mengapa untuk pertama kalinya Hinata menggiring Naruto ke tepi batas kesabarannya. Ia akan melepaskan seluruh kekesalannya atas sikap Hinata pagi ini. Tapi, ia urungkan ketika melihat sirat terluka dari mata gadis itu.
"Maafkan aku," bisik Naruto penuh penyesalan. Ia mengalihkan pandangannya ke depan dan memperlambat laju mobilnya. "Turunlah," katanya setelah menghentikan mobil sport miliknya di depan universitas Hinata
Tanpa mengucapkan kata apapun. Hinata melepas sabuk pengamannya dan mengangguk pelan pada Naruto. Ia menatap mobil Naruto yang berjalan menjauh tepat setelah ia turun dari mobil itu. Hinata menghembukan nafas pelan. Ia merasa bersalah pada pria itu. Apa yang ia lakukan itu salah bagi Naruto, tanyanya dalam hati. Ia menunduk menatap aspal jalan, menutup matanya dan membukanya lagi saat ia menyadari suara langkah kaki di sekelilingnya.
Hinata mendongak menatap halaman luas kampusnya dan ia baru menyadari jika letak gedung fakultasnya sangat jauh dari tempatnya berdiri. Hinata ingin berbalik ketika menyadari banyak pria yang hilir mudik di sekitarnya. Badannya mulai gemetar perlahan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Hinata mengepalkan tangannya yang terasa sangat dingin. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi sebelumnya. Ia harus bisa mengatasi ketakutannya sendiri. Bukan hanya demi Hinata sendiri, tetapi demi keluarganya. Ia mengangguk mantap kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki area kampus.
Gadis bersurai indigo itu berusaha berjalan dengan tegap dan menatap lurus ke depan. Tapi, beberapa detik kemudian ia menunduk dalam. Sangat berat baginya bersikap seperti biasanya. Meskipun, ia bersikeras meyakinkan dirinya sendiri jika semua baik-baik saja. Kenyataannya tubuhnya tidak sepemikiran dengannya. Hinata memegang erat tali tas ranselnya. Jantungnya berdegup kencang seperti akan melubangi dadanya dan melompat keluar.
"Semua akan baik-baik saja," bisiknya sangat pelan pada diri sendiri. Ia mendongak menatap langit cerah yang membentang di atasnya. Merapalkan mantra itu berulang-ulang di hatinya hingga degupannya mulai menenang. Sekali lagi Hinata menatap ke depan. Entah mengapa sangat lama baginya hanya untuk berjalan ke gedung megah itu.
"Ohayou," sapa seorang senpai yang pernah menyatakan cintanya pada Hinata. Pria dalam balutan kaos lengan panjang ketat yang mencetak otot kekarnya, dengan surai kecoklatan dan wajah yang cukup tampan mengulas sebuah senyum lebar. Hinata tersentak menjauh. Tubuhnya terasa kaku. Beruntung ia masih bisa mempertahankan kesopanannya untuk membalas sapaan pria itu dan pergi setelah mengulas senyum tipis. Hinata berencana untuk lari menjauh saat itu juga, namun itu akan terlihat sangat aneh. Ia berusaha menutupi segalanya dan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi. Sehingga, ia tidak bisa bersikap tidak wajar.
Hinata cukup terkenal di kampusnya. Banyak senpai maupun kouhai yang pernah mengungkapkan afeksi mereka padanya. Walaupun harus berakhir dengan sebuah penolakan. Hanya saja, itu tidak membuat mereka berhenti untuk memperhatikan gadis Hyuuga itu. Hingga ia harus berjalan dengan tubuh bergetar dan mengulas senyum palsu untuk menutupi ketakutan ketika beberapa pria menyapanya pagi ini. Ia bersyukur ketika ia berhasil memasuki gedung sebuah fakultas kedokteran yang sangat terkenal seantero Jepang.
"Ohayou, Hinata-senpai."
Hinata terlonjak kaget ketika sebuah tangan memegang pundaknya dari belakang. Ia mengalihkan pandangannya kepada pemilik tangan tersebut. Seorang pria dengan surai putih bergelombang tengah tersenyum dengan lembut padanya. Tubuhnya yang lebih tinggi dari Hinata membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap wajah pria itu. Ia tentu mengenal sosok di hadapannya.
"T-Toneri-kun," sapanya dengan terbata. Jantungnya berdegup kencang menyadari betapa dekatnya tubuh mereka saat ini. Kakinya serasa melemas dan nafasnya tercekat. Ia menggerakkan kakinya mengambil jarak aman dari Toneri yang membuat pria itu memiringkan kepalanya bingung dan khawatir.
"Apa kau baik-baik saja, Senpai?" tanyanya.
Hinata menatap Toneri dengan dalam. Ia dapat melihat raut cemas yang nampak dari wajah tampan pria itu. Hinata mengembuskan nafas pelan. Tidak ada yang perlu ia takuti dari Toneri, sama halnya dengan Naruto. Hinata mempercayai kouhainya di klub lukis itu, ia tidak akan berbuat yang macam-macam padanya. Hinata sangat mengenal seorang Otsutsuki Toneri. Dan harus ia akui jika ia cukup dekat dengannya karena mereka berada di klub yang sama.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Hinata lembut. Ia berikan senyum terbaiknya hari ini. Toneri membalasnya dengan senyuman lega.
"Apa sore nanti kau datang ke klub?" Toneri berjalan dengan tenang di samping Hinata. Setelah berjalan bersama dan berbasa-basi, Hinata bisa merasa lebih aman dan tenang sekarang. Meskipun, saat menyadari beberapa pria memandangnya, Hinata akan bergidik ngeri.
"Ah, sepertinya tidak. Ada hal lain yang harus aku lakukan," bohong Hinata. Tentu saja, ia tidak memiliki kegiatan apapun. Kecuali, segera kembali ke rumahnya yang hangat di mana ia bisa merasa sangat nyaman dan aman.
Hinata hanya menghindari pulang di malam hari. ketika langit menggelap, Ia tidak yakin apa yang akan terjadi dengan dirinya. Sedikit khawatir jika ia akan pingsan karena terlalu takut dengan imajinasi liarnya.
"Beberapa hari ini klub terasa sangat sunyi tanpa kehadiranmu, Senpai."
Hinata terkekeh pelan mendengar nada merajuk pria Otsutsuki itu. "Gomen, Toneri-kun. Tapi, aku benar-benar tidak bisa hadir."
Toneri mengangkat bahunya ringan. Ia menatap Hinata dan berujar, "Aku tidak bisa memaksamu." Hinata menggeleng menyetujui. "Kaichou mencarimu. Ia bilang ada sesuatu yang ingin ia bicarakan," lanjut Toneri.
Hinata mendongak menatap Toneri. "Tentang apa?"
"Entahlah."
"Um, aku akan menghubunginya nanti."
"Terserah kau saja."
.
.
.
Materi yang disampaikan dosen sangat membosankan bagi seluruh mahasiswa yang ada di ruangan kelas saat ini. Terbukti mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Entah bagaimana pria paruh baya yang berdiri di depan kelas itu bisa begitu acuh meskipun hanya Hinata yang memperhatikan kuliahnya.
Setelah bercakap-cakap dengan Toneri. Pria itu mengantar Hinata ke kelasnya. Ia bersyukur ada pria itu yang mengurangi kegelisahannya sepanjang jalan. Di kelas pun hanya ada beberapa orang, sehingga Hinata langsung menuju ke tempatnya duduk, tepat di sebelah gadis bersurai merah muda yang bersemangat melihat kehadirannya.
"Jadi, apa hubunganmu dengan Naruto?"
Hinata mengalihkan pandangannya dari papan tulis ke wajah penasaran Haruno Sakura. Ia mengerutkan keningnya dengan lembut. "Aku tidak mengerti pertanyaanmu, Sakura-san," katanya. Menatap Sakura polos.
Gadis musim semi itu mengehela nafas lelah. Ia menatap Hinata dengan mata hijaunya yang bersinar. Hinata selalu mengagumi bagaimana mata milik Sakura bisa memancarkan sebuah keindahan yang memukau.
"Maksud pertanyaanku adalah apa yang telah terjadi antara kau dan Naruto. Dia menanyakan kapan kau akan pulang. Apa hubungan kalian sudah berkembang dari hanya sekedar 'kakak-beradik'?" Sakura menjaga nada suaranya sepelan mungkin. Sesekali menghadapkan pandangannya ke depan dan kembali lagi ke Hinata. Hinata merasa tidak nyaman dengan cara penekanan gadis Haruno itu pada jenis hubungan Naruto dan dirinya selama ini.
"Na-Naruto-kun benar-benar menanyakan itu padamu?" tanya Hinata tak percaya. Tanpa sadar suaranya meninggi yang menarik perhatian seluruh kelas. Ia menunduk malu. Berusaha menyembunyikan wajah memerahnya. Sama halnya dengan Sakura yang berpura-pura menghadap ke layar di depan kelas dengan wajah tak berdosanya.
"Sasuke-kun menanyakannya padaku. Naruto yang menyuruhnya," jelas Sakura setelah keadaan mulai kembali seperti semula. Ia menurunkan suaranya berusaha tidak menarik perhatian lagi. Sakura menggoreskan beberapa kalimat di buku catatannya sambil tetap fokus pada percakapan mereka. "Jadi, apa yang terjadi?"
"Tidak terjadi apapun," aku Hinata. Gadis itu menggigit bibir dalamnya pelan. Ia tidak menyangka jika Naruto benar-benar melakukannya. Kini, yang menjadi kekhawatiran Hinata adalah kehadiran pria itu saat ia pulang nanti.
"Benarkah? Sepertinya tidak seperti itu," sanggah Sakura.
Hinata menatap gadis di sampingnya dengan polos. Kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke dosen yang sedang menjelaskan sesuatu di layar. "Sungguh tidak ada yang terjadi pada kami, Sakura-san," jelasnya lirih.
"Mungkinkah Naruto dan Shion-senpai sudah tidak berpacaran?"
"Tidak. Hubungan mereka baik-baik saja."
Sakura masih menatap Hinata ragu namun akhirnya ia mengangguk mengerti. Hinata tersenyum manis. Ia bahagia Sakura tidak terus memaksanya. Ia merasa sangat bersalah pada gadis itu karena harus berbohong padanya. Tapi, ia tidak bisa berterus terang pada gadis itu. Ia belum bisa menceritakan yang sejujurnya pada Sakura saat ini mengenai hubungannya dengan Naruto. Namun, ia mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan pria Namikaze itu dan Shion. Hinata yang akan memastikannya.
.
.
.
Hyuuga Hinata menghembuskan nafas lega mengetahui suasana kafetaria tidak terlalu ramai. Tidak banyak pria di sana. Awalnya ia sangat terkejut mendengar ajakan makan siang Sakura. Walaupun, itu adalah hal yang sering mereka lakukan. Namun, setelah apa yang terjadi padanya. Hinata harus berusaha menutupi tangannya yang gemetar dan ketakutan yang melingkupinya. Menyadari ia berada di tempat yang sangat terbuka dan sangat terang, setidaknya memberi sedikit ketenangan di hatinya. Setidaknya tidak akan ada yang berbuat ceroboh melakukan hal kurang ajar. Jika memikirkan hal terburuk, Hinata bisa menjerit dengan kencang.
Sakura mengajaknya ke sebuah meja dekat jendela yang menghadap langsung ke sebuah taman. Yamanaka Ino tengah menunggu mereka. Duduk dengan nyaman sembari memainkan ponsel pintarnya.
"Kalian lama sekali," rajuk Ino ketika Hinata dan Sakura menarik kursi dihadapannya.
"Gomen, Ino. Kau belum membeli makanan?" Sakura melihat meja Ino yang masih bersih tanpa satupun bekas makanan atau pun minuman. Ia mengangkat alisnya penasaran.
"Aku menunggu kalian, tahu," tukas Ino. Wajah cantiknya cemberut kesal.
"Baiklah. Sebagai permintaan maaf aku dan Hinata akan membelikanmu makanan. Tunggulah di sini," ujar Sakura.
Ino mengulas senyum kemenangan di wajahnya. Dengan semangat mengangguk menyetujui.
"Dasar Ino-pig," rutuk Sakura pelan.
Hinata mengulas senyum melihat tingkah dua sahabatnya itu. Namun, seketika ia menggigit bibirnya ragu. Ia melihat beberapa orang yang masih mengantri memesan makanan. Berbagai pikiran aneh mendesak masuk ke kepalanya. Wajahnya memucat membayangkannya. Beruntung hanya wanita yang ada di antrean itu.
Renungannya terpecahkan oleh ajakan Sakura. Dengan tergesa Hinata mengikuti langkah gadis itu. Ia mendapatkan makanannya lebih dulu setelah mengantri beberapa saat. Hinata berdiri tak jauh dari tempat gadis bermata emerald itu menunggu makanan milik Ino.
Hinata menggenggam erat nampan makanannya. Ia berdiri hanya beberapa langkah dari Sakura, tapi Hinata tetap merasa cemas. Entah apa yang terjadi padanya. Hinata tidak pernah merasa benar-benar tenang ketika berada di tempat umum. Semua hal mulai terasa berbeda baginya. Ia tidak sekalipun melepaskan kewaspadaannya. Tidak, ketika ia mengingat kata-kata yang bajingan itu katakan setelah menghancurkan seluruh harga dirinya. Hinata selalu merasa pria itu dapat muncul kapanpun. Walaupun, ia tentu berharap itu tidak pernah terjadi. Namun, otaknya terus mengingatkannya. Memberinya alarm semenjak ia melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya pagi tadi. Hanya membayangkan sosok pria itu yang dapat berada di mana pun membuat tubuh Hinata bergetar hebat. Kepalanya terasa pening. Dan ketakutan mulai kembali menguasai Hinata.
Ketika sebuah tangan bersandar memeluk bahunya, Hinata tersentak hebat. Matanya membulat sempurna. Dalam satu sentakan lengannya langsung menyilang menutupi bagian dadanya dengan erat dan ketakutan, tanpa menghiraukan nampan yang semula berada di tangannya yang bergetar telah berpindah ke lantai marmer kafetaria dan menumpahkan seluruh makanan miliknya. Ia melempar tubuhnya menjauh dari pemilik tangan besar itu. Pria itu menatapnya terkesima, antara bingung, cemas, kesal dan takut.
Insiden jatuhnya makanan Hinata menarik seluruh atensi padanya. Membuat Hinata semakin gemetar dengan hebat. Wajahnya benar-benar memucat dan jantungnya bertalu-talu. Tangannya dingin. Nafasnya sedikit memburu. Sebisa mungkin menahan keinginannya untuk menumpahkan air mata. Hinata tidak tahu apa itu yang disebut pasca traumatic atau apapun itu. Ia menyembunyikan wajahnya di dalam syal. Menunduk menghindari tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya.
"O-Oi, Hinata. A-Ada apa?" cicit pria yang memeluknya tadi. Berbagai perasaan tersirat di wajahnya.
"Hinata, kau baik-baik saja?" Suara lembut Sakura menyentak kesadaran Hinata. Gadis itu menatap wajah cemas Sakura dengan matanya yang memerah. Tiba-tiba ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Hinata benar-benar menyesalinya.
"Maafkan aku, Kiba-kun. S-Sungguh, maafkan aku," sesal Hinata pada Kiba yang menatapnya dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan. "Aku tidak bermaksud― Aku hanya.. terkejut."
Kiba menatapnya intens. "Kau baik-baik saja, Hinata?" tanyanya agak ragu.
Hinata mengangguk lemah. Ia menatap nanar ceceran makanan di lantai. Saat ia membungkuk hendak mengambil nampannya, Sakura menggenggam pergelangan tangannya dan mengambilkan nampan itu untuk Hinata. Hinata tidak mengatakan apapun ketika Sakura mengembalikan nampan itu pada petugas kafetaria dan mengucapkan penyesalannya.
"Petugas yang akan membersihkannya. Kau tidak perlu cemas." Sakura mengulas senyum lembut yang menenangkan. Ia memeluk lengan Hinata yang terbalut sweater tebal. Sakura berhenti sesaat untuk menatap tajam Kiba yang bergidik ngeri di tempatnya. "Kau harus membelikan makanan untuk kami, Kiba. Ini semua karena ulahmu yang berlebihan."
Kiba melotot tak percaya. Bagaimana bisa ia memeluk Hinata seperti biasa disebut berlebihan. Namun, ia terdiam ketika menyadari pandangan serius di mata Sakura. "Baiklah. Duduklah di kursi dengan tenang, Hime-sama," sindir Kiba kemudian mengambil antrean di belakang seorang pria berkacamata. Pria penyuka anjing itu meletakkan satu tangannya di kantong celana dan menatap santai jajaran menu yang ada di depannya.
.
Hinata berjalan dengan gugup saat keluar dari gedung fakultasnya. Ia terus terbayang kejadian di kafetaria siang tadi. Hatinya masih merasa gelisah tak nyaman. Namun, ia terus mengulas senyum di hadapan Sakura dan Ino yang saat ini berjalan di sisinya. Hinata meminta maaf pada Kiba sesaat setelah keluar dari kafetaria dan pria itu memaafkannya meskipun ia tidak mengerti mengapa ia harus melakukannya. Hinata bersyukur ia memiliki teman yang mau mengerti akan dirinya yang masih bungkam untuk menjelaskan sikap berbedanya. Hinata berusaha untuk terlihat natural, tapi sahabat baiknya semenjak SMA―Sakura, Ino, dan Kiba tentu sadar ketika ada yang berbeda darinya.
Ino bercerita tentang hal-hal tentang wanita seperti biasa. Mengajak Hinata dan Sakura berbelanja di akhir pekan, mengobrol ringan di kafe favorit mereka, dan mengusulkan untuk mengadakan pesta piyama.
"Aku setuju dengan yang satu itu," kata Sakura setelah mendengar ajakan Ino. "Lagipula, kita sudah jarang melakukannya," tambahnya.
"K-Kurasa itu baru dua minggu yang lalu, Sakura-san." Hinata mengingatkan. Ia tertawa kecil ketika Sakura menatapnya dengan pandangan 'benarkah?" di matanya. Dan kemudian obrolan itu menjadi semakin panjang.
Hinata menatap sebuah mobil yang tidak asing baginya. Mobil yang sama dengan mobil yang ia naiki pagi tadi terparkir dengan mencolok di pinggir jalan tepat di bawah pepohonan rindang. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui siapa pemilik mobil keluaran terbaru itu. Hinata menatap sosok tampan yang duduk di bangku kemudi. Dari balik kaca depan mobil itu, Hinata menyadari jika Naruto sedang memaku pandangannya pada gadis manis itu. Membuat Hinata gusar dalam hatinya. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Naruto. Bersikap seolah tidak menyadari kehadiran pria pirang itu. Ia mengajak Sakura dan Ino untuk berjalan ke arah berlawanan dengan tempat mobil Naruto. Sayangnya, mata aquamarine Ino terlalu jeli untuk melihat penampilan memukau seorang pria yang baru saja menutup pintu mobilnya.
"Bukankah itu, Naruto?" tanya gadis Yamanaka itu penuh semangat. Ia melambaikan tangannya dengan gemulai pada Naruto yang membalas dengan senyum miringnya.
Hinata menunduk dalam. Merutuk dalam hati akan kehadiran Naruto yang tidak diinginkan. Ia terdiam di tempatnya berdiri tanpa memandang sosok Naruto yang mulai mendekat ke arahnya. Hinata bersiap melangkahkan kakinya kapan pun. Namun, pelukan Sakura di lengannya masih mengerat. Ia tidak mungkin menyentak Sakura hanya untuk menghindari Naruto.
"Kurasa aku tahu untuk apa kau kemari, Naruto," kata Sakura ketika Naruto berdiri tepat di depannya. Sakura mengulas senyum jahil pada sahabat kekasihnya itu.
Naruto tersenyum lebar dan mengusap kasar helai pirangnya dengan satu tangan. Entah mengapa pria itu merasa agak malu. Naruto sudah sering mengantar Hinata pulang. Namun, ini pertama kalinya ia benar-benar menjemput gadis itu. Tidak ada kata kebetulan yang biasanya selalu menghampiri dirinya untuk menawarkan tumpangan pada gadis bersurai indigo itu. Ia tersenyum kikuk ketika Sakura dan Ino menahan tawa menatapnya. Berbeda dengan Hinata yang menyembunyikan wajahnya di balik poni tebalnya.
Naruto tidak tahu bagaimana reaksi Hinata setelah Sakura dan Ino meninggalkan mereka. Gadis itu hanya terdiam tidak bergeming satu senti pun dari tempatnya berdiri. Ia bahkan tidak bersedia untuk mendongak menatap Naruto.
Putra Namikaze Minato itu menghembuskan nafas lelah. Ia bersandar pada salah satu kakinya. Berdiri dengan santai di hadapan Hinata. Langit mulai jingga dan udara makin terasa dingin. Tapi, sepertinya, Hinata bisa bertahan membisu semalaman jika Naruto tidak melakukan sesuatu.
"Jadi, kau akan terus berdiri di sini?" sindir Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok mungil Hyuuga Hinata. Naruto berharap gadis itu segera masuk ke mobilnya yang hangat. Karena saat ini hembusan nafas Naruto mulai terasa memberat. Ia melihat kepulan asap tipis yang berhembus dari bibir Hinata. "Lihat, kau sudah kedinginan. Cepatlah masuk ke mobil, Hinata."
Hinata mendongak menatap Naruto. mata amethystnya begitu tegas dan serius menatap Naruto. Namun, entah mengapa pria itu masih bisa merasakan kelembutan di mata sewarna rembulan milik gadis itu. "Aku naik bus saja. Terimakasih sudah meluangkan waktumu datang kemari," tandas Hinata.
Naruto memutar bola matanya. Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya. Seakan jawaban yang keluar dari bibir Hinata bukanlah hal yang mengejutkan lagi baginya.
"Sudah kuduga kau akan mengatakannya." Hinata menggigit bibirnya. Naruto menatapnya dengan tajam. "Aku tidak suka mengatakan ini. Tapi aku akan meminjam kalimat Sasuke kali ini saja. Aku tidak menerima penolakan, Hinata."
Tanpa menunggu bibir Hinata yang terbuka untuk protes, Naruto menggenggam lembut pergelangan tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Haruskah dua kali aku menyeretnya masuk ke dalam mobilku? pikir Naruto terdengar begitu jahat.
"Apa kau ingin pergi ke suatu tempat lebih dulu?" tanya Naruto sesaat ia memasuki mobilnya.
Hinata menggeleng pelan. Gadis itu memasang sabuk pengamannya dan mengatakan, "Aku ingin kembali ke rumah."
Naruto mengangguk mengerti. Kemudian ia membelah jalanan Konoha dengan kecepatan biasa.
.
.
.
Hinata mempererat pegangan tangannya pada sabuk pengaman saat laju mobil berubah menjadi sangat cepat tak beraturan. Ia menatap cemas jalanan di hadapannya. Membayangkan bagaimana jika jalanan licin mampu membuat mobil itu tergelincir dan menyebabkan kecelakaan yang tidak diharapkannya. Hinata tidak segila itu untuk mengakhiri hidupnya. Berkali-kali menggumamkan nama pengemudi dan memintanya untuk memperlambat laju mobilnya. Namun, pria itu mengacuhkannya. Ia terus membawa mobilnya semakin jauh ke tempat yang asing untuk Hinata. Hanya satu yang dapat Hinata pastikan dari berbagai macam perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Ia takut.
Mobil itu berhenti di sebuah kawasan gedung tua yang terlihat begitu menyeramkan. Banyak lorong gelap yang memisahkan gedung-gedung yang seperti siap akan rubuh kapan saja itu. Lorong gelap membuat Hinata bergidik ngeri. Pikirannya menyuruhnya untuk lari saat ini juga. Namun, tubuhnya terus membeku di kursi.
Pria itu mengatakan sesuatu dan menarik Hinata memasuki lorong gelap. Tangan Hinata berubah sangat dingin. Nafasnya tercekat dan tenggorokkannya terasa sakit. Ia meneguk ludah berkali-kali sebelum pria itu menyeringai jahat.
Mata Hinata membulat sempurna. Nafasnya memburu karena rasa takut yang menyelimutinya. Air mata mengalir di matanya begitu saja. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan hampa.
Mimpi lagi, renungnya.
Hinata menutup matanya erat dan menggigit bibirnya dengan keras. Tangannya mencengkeram dada kirinya tepat di jantungnya yang berdegup dengan nyeri. Rasanya sangat sesak. Seakan seluruh pasokan udara di sekitar Hinata tidak cukup untuk dihirup olehnya. Gadis itu menangis dalam diam. Berhari-hari mimpi buruk terus menghantuinya setiap malam, tapi ia belum juga terbiasa akan hal itu. Hinata tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa sangat kosong dan ketakutan hebat setelah terbangun dari tidurnya di tengah malam. Hinata hanya berharap ia tidak membuat orang di rumahnya khawatir terhadap dirinya.
"Hinata, apa kau baik-baik saja?" Suara ketukan pintu beberapa kali membuat Hinata membuka kembali matanya. Suara Neji terdengar khawatir di balik pintu kamarnya. Ia mengulas senyum pahit di wajah manisnya. Beruntung Hinata selalu mengunci pintunya setelah memasuki kamar. Ia tidak ingin seorang pun memasuki kamarnya dan mendapati kondisi Hinata yang menyedihkan.
"Aku baik-baik saja, Niisan. Jangan khawatirkan aku," teriak Hinata dari dalam kamarnya. Ia duduk terdiam di ranjangnya, menggigit bibirnya lagi menyadari pilihannya untuk berteriak bukanlah pilihan yang tepat karena Hinata dapat mendengar suaranya yang serak dan bergetar. Rasa gelisah menyentaknya. Ia takut jika Neji mengetahui kebohongannya. Hinata tidak tahu harus membuat alasan seperti apa.
"Baiklah kalau begitu." Kalimat final dari Neji membuat Hinata menghembuskan nafas lega. Ia menutup matanya dan menarik nafasnya menghembuskannya lagi. Ia melirik jam yang sudah pasti sesuai perkiraannya.
.
.
.
Suasana salah satu ruangan yang ada di salah satu perusahaan terbesar di Jepang itu terlihat begitu sunyi dan suram. Sama halnya dengan perasaan seorang pria yang saat ini duduk tenang di kursi kerjanya, namun hati dan pikirannya berkebalikan dengan sikap luarnya yang terkesan dingin.
Hyuuga Neji menggenggam kedua telapak tangan di bawah dagunya. Ekspresinya terlihat begitu serius menatap kursi kosong di hadapannya. sesekali pria dewasa itu menekankan telapak tangannya di dahinya. Ia tatap lembaran kertas di mejanya tanpa rasa ketertarikan. Biasanya ia sangat bersemangat untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya agar tidak menumpuk di belakang. Hanya saja, kali ini ia benar-benar kehilangan semangatnya. Berbagai hal tengah menguasai pikirannya. Ia menghela nafas lelah kemudian menarik kursinya ke belakang. Dalam diam ia berjalan tegap keluar pintu ruangan besar itu. Tatapan matanya terlihat begitu tajam dengan sebersit keraguan.
Neji membuka sebuah pintu yang membawanya ke sebuah ruangan lain yang lebih besar dari ruangannya. Dipandanginya sosok pria paruh baya yang berdiri menghadap ke sebuah jendela kaca besar yang ada di sisi ruangan itu. Pria itu mengalihkan pandangannya pada Neji ketika mendengar suara gesekan pintunya. Wajah keras dibingkai surai panjang cokelat itu menatap Neji seolah kehadiran pria itu sudah diduganya.
"Duduklah," pinta Hiashi sembari mendudukkan dirinya sendiri di atas sebuah sofa.
Neji mengikuti perintah Hiashi dan duduk nyaman di hadapan pamannya itu. Ia tegakkan tubuhnya. Menatap mata sewarna matanya.
"Ini sudah lebih dari dua minggu, Jisan," ucapnya.
"Begitu ya." Hiashi mengiyakan dengan muram. Ia sandarkan tubuhnya pada punggung kursi. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak yakin. Tapi, kita harus segera menyelenggarakan pernikahan itu." Neji menunduk ragu. Kedua tangannya menggenggam kuat di atas pahanya.
"Kenapa?"
"Aku mencari beberapa sumber tentang kasus yang sama dengan kasus Hinata, dan dari yang aku dapatkan ia perlu mendapatkan dukungan dari orang terdekatnya, terutama pasangannya. Karena mungkin ia merasa harga dirinya tidak ada lagi dan ia merasa tidak berharga bagi siapapun." Neji berhenti sejenak. Berpikir apakah ia harus melanjutkan asumsinya atau tidak. Namun, ia memilih mengatakannya. "Hinata terus menjerit setiap malam. Suaranya terdengar tersiksa dan putus asa. Jisan meminta kami untuk tidak menghampirinya dan mempercayai kata-katanya jika ia baik-baik saja. Tapi, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku mohon Jisan, lakukan sesuatu."
Rahang Neji mengeras menahan gejolak di hatinya. Setulus hatinya memohon pada Hiashi.
"Lantas kenapa kau berpikir pernikahan bisa menyelesaikan segalanya?"
Neji menyentakkan wajahnya menatap Hiashi. Ia menatap pria itu putus asa.
"Dukungan keluarga memang sangat penting untuk Hinata. Tapi, Jisan tentu tahu orang seperti apa gadis itu. Hinata tidak akan pernah membuat keluarganya cemas akan dirinya. Aku yakin saat ini ia berusaha kuat demi kita, dan menyembunyikan ketakutan dan frustasinya sendirian. Dan.." Neji merapatkan mulutnya kemudian menghembuskan nafas pelan. "Jisan tahu seberapa besar Hinata mencintai Naruto. Aku tidak tahu apa ini akan berhasil. Hanya saja, aku mempercayai pria itu."
Hiashi menatap meja kayu di depannya sembari memikirkan perkataan keponakannya. Setelah beberapa saat, ia beranjak dari sofanya. "Ayo, pergi."
.
.
.
Naruto memasukkan beberapa dokumen yang belum ia periksa ke dalam tasnya. Diambilnya jas yang tergantung di tempat gantungan bajunya kemudian keluar dari kantornya. Sesaat sebelumnya, Hiashi menelepon dan memintanya untuk bertemu di sebuah restoran tradisional yang dekat dengan perusahaan Hyuuga. Naruto menebak-nebak apa yang akan dibicarakan pria itu. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah restoran besar bergaya tradisional. Ia langkahkan kakinya memasuki tempat itu. Seorang wanita mengenakan yukata cantik berwarna merah menyapanya dan mempersilakannya masuk. Wanita yang masih terbilang muda itu mengantar Naruto ke sebuah bilik di mana Hiashi tengah menunggunya.
Naruto tersenyum berterimakasih setelah wanita itu membuka pintu bilik itu untuknya. Dilihatnya Neji yang duduk dengan tenang di samping Hiashi. Naruto mendudukkan dirinya di hadapan Hiashi. Tubuhnya terasa kaku dan tidak nyaman saat duduk karena dihadiahi tatapan dingin dari kedua pasang mata amethyst di depannya. Ia akan membuka mulutnya sebelum seorang pelayan membawakan tiga gelas ocha. Naruto meneguk gelas miliknya. Berharap dapat meringankan kerongkongannya yang terasa tercekat. Ia meneguk ludahnya sebelum memberanikan diri menatap dua pria Hyuuga tanpa ekspresi itu.
"Ada apa?" tanyanya gugup.
"Bagaimana keseriusanmu untuk menikahi putriku?" Hiashi menatap Naruto dengan tajam. Nada serius dalam pertanyaan pria itu membuat Naruto takjub.
"Aku sangat serius untuk hal itu." Tidak ada keraguan yang keluar dari bibir Naruto. "Tapi, mengapa Jisan menanyakannya?"
"Lusa. Aku menginginkan pernikahan diselenggarakan lusa nanti."
Naruto terbelalak tak percaya. Mulutnya ternganga dan tertutup dengan rapat setelah menyadari betapa konyol reaksinya. Naruto tidak mengerti dengan pernyataan mendadak Hiashi. Ia sangat yakin dengan keputusannya untuk menikahi putri sulung Hyuuga itu. Namun, ia merasa aneh dengan pemberitahuan mendadak ini. Ia menatap kedua pasang mata di hadapannya. meminta sebuah penjelasan.
"Terlalu mendadak, bukan?" tanya Hiashi sesaat meletakkan kembali cangkir di meja.
"Terasa agak ganjil." Naruto mengiyakan murung. "Apa terjadi sesuatu?"
Hiashi menutup mulutnya rapat. Ia hanya menatap Naruto dalam yang membuat pria bersurai pirang itu bergerak gelisah dalam duduknya. Namun, setelah Hiashi menceritakan segala yang terjadi pada Hinata. Naruto tak dapat mengalihkan perhatiannya barang sejenak. Dengan serius mendengarkan seluruh rasa kekhawatiran dan kegundahan yang ketua Hyuuga itu rasakan. Dan betapa pria itu dan juga Neji percaya padanya untuk mnghilangkan penderitaan gadis. Membuka lembaran baru bagi Hinata.
"Baiklah. Percayakan padaku. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian," tandas Naruto dengan yakin.
Setelah beberapa menit semenjak Hiashi keluar dari kantornya, akhirnya ia dapat mengulas sebuah senyum tipis.
.
.
.
Acara pernikahan yang dirasa terlalu mendadak baik bagi Naruto maupun Hinata berjalan dengan sangat sederhana. Tidak ada upacara megah di tempat yang mewah dengan beragam tamu penting yang menjadi saksi terikatnya dua insan yang akan menempuh sebuah kehidupan baru. Hanya ada sebuah gereja kecil dengan hanya ada keluarga kedua pihak mempelai.
Meskipun begitu, baik dari keluarga Hinata maupun Naruto tetap ingin membuat moment itu menjadi moment yang indah bagi pengantin muda itu. Kushina memilihkan gaun indah untuk Hinata. Sebuah gaun panjang tanpa lengan berwarna putih yang dihiasi beberapa pita di tempat yang tepat. Gaun itu terlihat begitu indah membalut tubuh Hinata yang mempesona. Wajah cantik Hinata merona melihat pandangan tubuhnya di cermin. Gadis itu tidak pernah menyangka moment yang terus ia harapkan akan menjadi nyata seperti saat ini. Walaupun, ini semua bukan berdasarkan rasa cinta seperti yang Hinata harapkan.
Hinata menatap dirinya yang terlihat kecewa di cermin besar itu. Kedua tangannya menekan erat gaun pengantinnya. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Hinata sangat menyadari itu. Ia telah memikirkannya dengan matang. Menawarkan pada Naruto berkali-kali agar memikirkan ulang gagasan untuk menikah ini. Tapi, Naruto tetap keras kepala dengan jawabannya. Hinata menghembuskan nafas berulang kali, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Kepalanya terasa agak pening karena degupan jantungnya yang bertalu-talu dan panas wajahnya yang membara.
"Apa kau sudah siap? Mereka sudah menunggumu." Hanabi muncul di balik pintu ruang kecil itu. Wajah mungilnya terlihat cantik dengan riasan tipis yang menguarkan kepolosan gadis itu. Hinata menatap Hanabi ragu. Namun pada akhirnya ia mengangguk lemah.
Hinata berjalan menuju sebuah altar dimana sosok tinggi dan kuat Namikaze Naruto berdiri menjulang menunggu dirinya. Genggaman tangan Hinata di lengan Hiashi mengerat seiring dengan irama jantungnya yang meliar. Hinata bahkan tidak berani menutup matanya. Bahkan tanpa sadar, ia berjalan dengan menahan nafasnya.
Tangan Naruto terasa besar, kuat, dan nyaman ketika Hinata menerima uluran tangan pria itu. Mereka menghadap seorang pendeta yang berdiri di hadapan mereka. Naruto terus menggenggam tangan Hinata dengan erat seolah memberikan kekuatan pada gadis itu. Meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja. Hinata hampir limbung karena perasaan bahagia yang meluap di hatinya. Terlebih ketika dirinya mengucapkan ikrar sehidup sematinya dengan Naruto. Dan tangannya tak kuasa bergetar ketika memasangkan cincin pengikat mereka.
"Sekarang, kau diperbolehkan untuk mencium istrimu," ucap pendeta itu setelah upacara selesai.
Hinata membeku saat itu juga. Seluruh ruangan terasa begitu hampa dan waktu serasa berhenti tepat ketika ucapan pendeta itu tertangkap pendengarannya. Mata amethystnya membelalak tak percaya. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Tangannya gemetar di samping tubuhnya. Bibirnya terasa kelu. Seluruh darahnya tiba-tiba turun dari wajahnya sehingga wajah manis Hinata nampak pucat. Kedua mata rembulannya bergerak gelisah menatap mata sapphire Naruto. Pria itu menatapnya dalam. Memberinya tatapan menenangkan yang Hinata tidak dapat mengerti.
Jantung Hinata berdetak sangat cepat. Ia menahan nafas saat Naruto membunuh jarak di antara mereka. Kepalanya berdenyut nyeri begitu juga hatinya. Hinata tidak ingin merasakan sentuhan di bibirnya lagi. Ia tidak ingin dirinya dicium dengan kasar seperti yang pria bajingan itu lakukan padanya. Ia takut. Sangat takut.
Hinata menutup matanya dengan erat. Tubuhnya tidak dapat bergerak meskipun ia mengingingkannya. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya seakan jatuh saat itu juga. Namun, tepat saat itu sebuah lengan kekar Naruto memeluk lembut pinggulnya, menahan tubuh Hinata agar tidak ambruk ke lantai. Tubuh Hinata gemetar dalam rengkuhan satu lengan Naruto. Matanya yang tertutup seketika terbelalak takjub saat Naruto memeluknya erat. Pria itu tidak menciumnya. Hanya memeluknya. Sebuah pelukan lembut yang terasa hangat, nyaman, dan menenangkan detakan liar jantung Hinata. Setetes air mata mengalir membasahi pipi Hinata. Dalam kesunyian yang begitu lama, air mata itu terus mengalir tanpa henti.
.
.
Naruto menyadari saat itu akan tiba di mana ia diminta untuk mencium Hinata. Ia mengamati wajah Hinata yang terlihat berkali lipat lebih cantik dari biasanya. Naruto baru menyadari betapa gadis kecilnya telah berubah menjadi sosok yang dewasa dan menawan. Pantas saja Hinata selalu menjadi obrolan banyak pria ketika mereka berada di sekolah yang sama. Bahkan sampai Naruto lulus pun, obrolan itu tak pernah berhenti dan terdengar sampai telinganya. Entah kemana saja Naruto selama ini, hingga tidak menyadari betapa menawannya Hinata. Gadis itu memiliki wajah yang cantik layaknya bidadari. Jantung Naruto hampir berhenti berdetak ketika pertama kali melihat Hinata menuju ke arahnya dalam balutan gaun yang membentuk tubuh Hinata hingga meningkatkan gairah dalam dirinya.
Naruto ingin menerkam Hinata saat itu juga. Memberikan kecupan-kecupan ringan dan menggoda gadis itu. Entah apa yang merasuki pemikirannya itu. Namun, ketika Naruto menatap mata indah Hinata. Pria itu tahu satu hal. Hinata ketakutan. Gadis itu tengah gusar. Naruto dapat melihatnya dari sorot mata gadis itu. Dan ketika tubuh gadis itu mulai limbung, Naruto merasakan betapa hebatnya gemetar tubuh Hinata. Gadis itu menutup matanya dengan erat. Bibir ranumnya yang sangat menggoda untuk Naruto cium bergetar hebat. Naruto menatap muram Hinata. Mata birunya meredup seiring dengan hatinya yang terluka. Seperti sebuah godam baru saja menghantamnya dan membuat hati Naruto terasa begitu sakit dan sesak.
Hinata adalah gadis yang terlalu baik untuk disakiti dan dipermainkan. Naruto ingin melindunginya, menyayanginya, memberinya sebuah kehangatan yang dapat menenangkan gadis itu. Direngkuhnya tubuh mungil Hinata ke dalam pelukannya. Memeluknya erat namun lembut seakan takut pelukan lengan besarnya dapat meremukkan tubuh kurus gadis itu. Berusaha memberikan kehangatan pada Hinata, menyampaikan padanya betapa Naruto juga terluka melihat keadaan Hinata saat ini.
Setelah ia mengetahui seberapa besar penderitaan yang gadis itu pendam sendiri. Dan sikap baik-baik saja gadis itu hampir berhasil membuat Naruto percaya jika gadis itu memang telah membaik. Namun, ternyata semua itu hanyalah sebuah kepura-puraan untuk membuat orang di sekitarnya tidak mencemaskan dirinya. Betapa menyesalnya Naruto karena ialah penyebab dari semuanya.
"Maafkan aku," ujarnya dengan penuh penyesalan tepat di telinga Hinata. "Semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang," bisiknya.
Hal berikutnya yang dapat Naruto sadari adalah bahunya telah basah oleh air mata Hinata.
.
-Tsuzuku-
.
.
.
Review, please… :D
