My Teacher is The Catcher of My Heart
Disclaimer: This story is mine but the character is not mine
Main Cast: Baekhyun ; Chanyeol
Pairing: Chanbaek
Rated: T
Genre: Romance-School life-Humor
Please, Don't Like Don't Read.
Note: Yaoi, Boy x Boy, Typo, No Plagiat, and Please Review^^
Hope you guys enjoy this story
_oOo_
.
.
.
.
Baekhyun sampai di sekolahnya lebih awal, masih 20 menit lagi menuju bel masuk jam pelajaran pertama. Keadaan kelas lumayan sepi, Kyungsoo dan Jongdae pun belum terlihat keberadaan nya.
"Mungkin tidur 20 menit cukup untuk menghilangkan kantukku karna semalam." Baekhyun menjatuhkan kepalanya di lengan yang ia lipat di atas meja. Menutup kepalanya dengan hoodie yang biasa ia gunakan jika ke sekolah.
.
.
.
"Hey! Puas tidurnya, hm?"
"Ah, Kyung! Aku baru saja tidur jam 2 pagi. Biarkan aku tidur sebentar."
"Kalau mau tidur di rumah saja, Baek."
"Kyung waktu tidur pagiku hanya 20 menit."
"20 menit katamu? 2 jam pelajaranku telah usai, Byun Baekhyun. Cepat bangun sekarang!"
Deg
Baekhyun berusaha bangun dengan degup jantungnya yang mulai menderu keras. Astaga apa-apaan tadi. Kyungsoo? 2 jam pelajanku?
" …"
Baekhyun mengerjapkan matanya sambil mengusap wajahnya. Seluruh kelas memperhatikan kearahnya. Astaga untuk apa Park Chanyeol duduk di samping bangkuku? Apa-apaan dia?
"Sudah puas tidurnya?"
'As- astag- astaga jadi tadi- '
"Aku menjelaskan dengan detail mengenai materi fluida statis dan segala rumus yang ada. See? Kau malah asik dengan dunia mimpimu bahkan sampai 2 jam pelajaranku usai."
"Ma- maaf, Park Seongsenim. Ak- aku- "
"Aku tidak menerima maafmu saja. Yang aku butuhkan adalah kau memahami materi ini tanpa perlu aku mengulangnya. Entah kau pelajari sendiri atau kau tanyakan pada kedua sahabatmu itu."
Chanyeol bangkit dari tempat duduk Kyungsoo, teman sebangku Baekhyun yang semula ia usir pemiliknya terlebih dahulu demi membangunkan si mungil, Byun Baekhyun.
"Iy- iya, Park Seongsenim. Nanti aku akan mempelajarinya dan memberikan rangkuman seperti biasa." Baekhyun menundukan wajahnya.
"Saya tunggu di ruangan saya hari ini."
Baru kali ini Baekhyun melihat sisi lain dari Park Chanyeol. Baekhyun juga tidak bisa marah, karna kejadian ini murni kesalahannya. Ah mungkin tidak, jika dua sahabat bodohnya itu bisa mempergunakan otak cerdasnya untuk sekedar membangunkan Baekhyun sebelum 2 jam pelajaran fisika dimulai, pasti kejadian memalukan ini tidak ada di catatan hidupnya.
Chanyeol kembali ke meja di depan kelas lalu sibuk membereskan buku-bukunya.
"Ya anak-anak. Saya harap di kemudian hari tidak ada yang tertidur seperti murid yang tadi, ya."
"Pelajaran saya hari ini cukup. Sampai ketemu hari Senin." Lanjut Chanyeol.
Chanyeol berjalan ke arah luar kelas XII MIA 4_kelas Byun Baekhyun.
.
.
Setelah kejadian tadi, Baekhyun tidak membuka suaranya sampai bel istirahat pertama berbunyi, bahkan ketika kedua sahabatnya meminta maaf atas kejadian tadi.
"Baek, sungguh. Tadi Park Seongsenim yang memerintahkan aku untuk tidak membangunkanmu. Sungguh, Baek aku tidak berbohong."
Kyungsoo sibuk mengikuti kemana saja Baekhyun berjalan di kantin sedangkan Baekhyun masih bungkam.
"Baek, Kyungsoo benar. Tadi aku juga berniat membangunkanmu, tapi dilarang oleh Park Seongsenim." Jongdae berusaha membantu Kyungsoo.
"Ya, terserah kalian." Baekhyun bersuara, dan menatap kedua sahabatnya dengan pandangan datar. Setelah ia selesai memesan makanannya, ia berjalan kembali ke ruang kelas, meninggalkan Kyungsoo dan Jongdae yang terdiam.
.
.
.
Ttok Ttok
"Masuk."
Baekhyun membuka pintu ruang staf kesiswaan yang biasa Chanyeol jadikan ruangannya.
"Permisi, Park Seongsenim. Ak- "
"Letakan saja bukumu di meja. Aku sedang sibuk."
Chanyeol sibuk dengan layar monitor di depannya, mungkin mengurusi beberapa data siswa yang bermasalah. Mungkin.
"Tapi- "
"Kenapa? Kau belum menyelesaikannya?"
"Iy- iya. Saya tidak sempat menyelesaikannya karna tidak ada jam kosong. Jad- "
"Kau yang bilang ingin memberikan rangkuman, tapi kau sendiri yang mengabaikannya." Chanyeol menatap Baekhyun yang menunduk.
"Aku tidak mengabaikannya, Park! Aku bilang tadi itu tidak ada jam kosong, bagaimana bisa aku mengerjakannya jika ada guru lain yang sedang mengajar." Baekhyun tidak sadar meninggikan nada suaranya. Baekhyun kelewat kesal.
"Jaga ucapanmu, Baek. Aku ini gurumu." Chanyeol membalas sambil mefokuskan kembali pandangannya kearah monitor.
Baekhyun terdiam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Saya akan menyelesaikan hari ini. Senin pagi, saya akan meletakkan bukunya disini. Maaf sudah mengganggu, Park Seongsenim."
Blam
Baekhyun menutup pintu ruang staf kesiswaan dengan wajah yang lagi-lagi tidak bersahabat.
.
.
.
"Baek tadi istirahat kedua kau kemana?" Kyungsoo berusaha tetap mendekati Baekhyun.
"Tidak tahu, Kyung. Aku pusing." Jawab Baekhyun seadanya sambil membereskan buku-bukunya supaya ia dapat bergegas pulang.
"Kau sakit, Baek?" Kyungsoo terlihat panik, lalu ia meletakkan punggung tangannya di dahi Baekhyun.
Namun Kyungsoo mendapatkan suhu tubuh Baekhyun yang normal.
"Tidak, Kyung. Aku tidak apa-apa."
"Baek, aku dan Kyungsoo bisa mengantarkanmu pulang jika kau tidak enak badan." Jongdae yang sedari tadi ada di belakang Kyungsoo dan Baekhyun buka suara.
"Tidak apa-apa. Terimakasih tawarannya."
"Ah ya, maafkan aku tadi sudah mengabaikan kalian berdua." Lanjut Baekhyun sambil menatap kedua sahabatnya penuh harap.
"Tidak apa-apa, Baek. Ini gunanya sahabat." Jongdae tersenyum tulus.
"Hehe terimakasih, Kyung, Jongdae. Besok main di rumahku, yuk!" Baekhyun berseru senang saat mengingat ia akan mengajak kedua temannya main ke rumahnya.
"Hm, aku sih bisa-bisa saja. Bagaimana, Kyung?" Tanya Jongdae pada Kyungsoo.
"Aku bisa kok, hehe. Besok jam berapa, ya?" Kyungsoo bertanya pada Baekhyun.
"Hm bagaimana kalau jam 11 siang?" Jawab Baekhyun sambil menunggu persetujuan kedua temannya.
"Boleh-boleh." Kyungsoo menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Okay, jam 11." Jongdae ikut berangguk.
"Yeay! See you guys tomorrow hehe. Aku duluan ya."
"Yes, Baek. Hati-hati di jalan."
"Kalian juga! Bye-bye."
"Bye."
.
.
.
"Guys, kalian tahu tidak."
Baekhyun mengguncangkan tubuh kedua sahabatnya yang sedang asik bermain playstation di ruang kamarnya.
"Ya! Apa-apaan kau, Kyung!" Jongdae kesal saat Kyungsoo menekan tombol pause.
"Baekhyun ingin bercerita, bodoh!"
"Ah iya, Baek? Hehe maaf." Jongdae nyengir kuda.
"Kau tahu kan kemarin Park Seongsenim seperti apa?" Baekhyun memulai.
"Park Seongsenim yang memarahimu karena kau- "
"Stop. Aku muak mengingatnya."
"Oops! Sorry, Baek."
"Okay kembali ke cerita."
"Jadi, kemarin saat istirahat kedua aku ke ruangannya. Berniat untuk meminta maaf karena aku belum dapat menyelesaikan rangkumanku." Lanjut Baekhyun.
"Pantas saja aku tidak menemukanmu di kantin."
"Lalu?" Tanya Kyungsoo antusias.
"Ya, dan aku diabaikan." Baekhyun mengela nafasnya.
"Abaikan? Maksudmu?" Kyungsoo mendelik.
"Ya seperti itu, dia jutek. Bahkan saat berbicara padaku matanya sibuk melihat ke layar monitornya." Lanjut Baekhyun dengan wajah ia buat sekesal mungkin.
"Kau itu susah dimengerti, Baek." Kyungsoo menanggapi sambil meletakan stick playstation nya dan berjalan kearah Baekhyun yang ada di kasur.
"Apa? Aku kenapa?" Tanya Baekhyun penuh selidik.
"Aku yakin kau sebelumnya berbicara tidak mengenakkan padanya." Jawab Kyungsoo.
"Kyung aku restart, ya! Aku ingin bermain sendiri."
"Jongdae! Hays terserah padamu saja!"
Kyungsoo geram dengan sahabatnya satu ini. Disaat lagi serius, ia terkadang acuh tak acuh, disaat bercanda, tapi ia maunya serius. Jadi apa mau Jongdae sebenarnya?
"Baek, dengar aku." Kyungsoo menepuk pundak Baekhyun, karna sebelumnya ia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kau menyukainya?"
"Jawab jujur, Baek."
Kyungsoo menekan Baekhyun karna ia tahu, Baekhyun sulit untuk memahami perasaannya sendiri.
"Y- ya." Jawab Baekhyun sambil menunduk.
"Nah! Jadi untuk apa kau marah-marah jika ia menggodamu?"
"Aku tidak suka digoda, Kyung!"
"Baek, ketahuilah. Dia itu hanya mencari perhatianmu." Jawab Kyungsoo yakin.
Baekhyun terdiam.
"Yang harus kau lakukan itu diam dan mencoba memberi sinyal jika kau menyukainya. Sungguhan." Lanjut Kyungsoo.
"Tap- "
"Tapi apa? Kau takut? Aku yakin Park Chanyeol itu orang yang baik, Baek."
"Aku juga belum mengetahui apapun tentangnya, Kyung." Jawab Baekhyun sambil menghela nafas.
"Ya cari tahu, Baek!" Ucap Kyungsoo geram. Agaknya sahabatnya yang satu ini terlalu lamban bepikir jika itu mengenai perasaannya sendiri.
"Bagaimana caranya, Kyung? Astaga bahkan berdekatan dengannya saja sudah menurunkan daya fungsi otakku." Jawab Baekhyun frustasi.
Ttok Ttok
"Baek! Turunlah. Sudah pukul 1 siang. Ajak temanmu makan." Suara wanita menginterupsi Baekhyun dan Kyungsoo yang sedang pusing dengan bahan diskusi mereka.
"Yeay, makan siang." Ucap Jongdae lalu mematikan playstation yang sebelumnya asik ia mainkan.
"Makan saja semangat. Dasar onta arab!" Balas Baekhyun sambil menimpuk Jongdae dengan bantal yang ada di kasurnya.
.
.
.
"Terimakasih, Tante atas makan siangnya hehe. Enak sekali, loh." Ucap Jongdae pada Baek's Mom saat Jongdae dan Kyungsoo pamit ingin pulang ke rumah masing-masing.
"Iya, Tante hehe. Terimakasih, ya!" Balas Kyungsoo penuh dengan senyumnya.
"Sama-sama, sayang. Kalian harus sering-sering main ke sini. Tante akan masak masakan yang enak untuk kalian." Jawab Ny. Byun sambil membalas senyuman Kyungsoo dan Jongdae.
"Mom. Makanan di rumah bisa habis karna Jongdae!"
"Hays! Tidak boleh seperti itu, sayang." Ucap Ny. Byun sambil mencubit pipi anak kesayangannya.
"Baekhyun memang seperti itu, Tante dengan temannya." Jawab Jongdae iseng.
"Apa? Apa? Huh?"
"Hei sudah bertengkarnya! Tante, kami pamit pulang ya. Sampai jumpa lain waktu!"
Memang. Kyungsoo itu yang paling waras diantara mereka bertiga.
"Yes. See you soon!"
.
.
.
.
-TBC-
