Kadang aku merasa bodoh sendiri. Hanya karena serentetan kata-kata manis yang dikatakan -lebih tepatnya diketik oleh seorang yang bahkan tidak jelas asal asal usulnya, bibit bebet bobotnya, aku bisa tersipu dan tersenyum sendiri. Sampai orang lain berbisik bisik tentangku yang mungkin mereka berpikir aku sudah gila, aku tak perduli.

Dan itulah kenapa belakangan ini aku selalu terlihat sangat romantis dan sangat lengket seperti perangko dengan semua gadget milikku. Sampai kadang aku mandi pun ponselku turut serta, pernah beberapa kali ponsel itu basah kuyup tersiram air. Tapi dengan bangga aku mengatakan bahwa ponselku tahan air. Kemana-mana, di tanganku pasti ada si imut nan menggemaskan, ponselku yang bercase gajah... ugh.. aku membelinya dengan banting tulang sampai keringat bercucuran. Saat itu aku dihadapkan dengan 2 pilihan, sepaket aksesoris bertema Hello Kitty lengkap dengan cermin dan tas kecil sehingga peralatan itu bisa dibawa-bawa tanpa takut tercecer, atau case gajah imut berwarna abu dengan pita pink di telinganya. Aku dihadapkan dengan pilihan tersulit seumur hidupku. Oke... jika saja credit cardku tidak hampir limit saat itu, dan aku sedang berbelanja sendiri, jadi dengan sangat amat terpaksa aku memilih diantara keduanya.

Keesokan harinya, saat aku berniat membeli sepaket aksesoris Hello Kitty yang tak jadi kubeli itu, ternyata semua stoknya sudah sold out. Karena memang barangnya unlimited jadi hanya diproduksi beberapa buah saja. Bukankah itu menjengkelkan? Rasanya aku ingin mati saja... ah...

Bukan! Bukan maksudku bersikap pilih kasih antara Hello Kitty dan case gajah. Tapi coba saja kau bayangkan! Melihat orang berjalan didepanmu sambil menenteng tas Hello Kitty dengan bangga, dan barang itu adalah sesuatu yang tak bisa kau dapatkan? Bukankah lebih baik menerjunkan diri ke jurang dengan kedalaman 1000km?

Sepertinya pembicaraan ini telah meleset jauh dari topik awal.

Kalian pasti bisa menebak kan? Kenapa aku bisa merona dan tersenyum-senyum sendiri.

Tentu saja itu berkat U-know mesum dengan bibir manis penuh bujuk rayu. Dia selalu saja berhasil membuatku lupa daratan dengan kata-katanya itu.

Dia pernah berkata ah lebih tepat mementionku seperti ini 'Kau tau? Hidupku tanpamu terasa sangat menyakitkan, seperti seseorang yang terkena kutukan Cruciatus.' Saat itu aku sedang berada di kantin dengan kedua sahabat setiaku. Tebak bagaimana reaksiku? Aku berteriak entah mencapai berapa oktaf lalu berlari-lari keliling kantin saking senangnya, dengan tatapan-tatapan aneh yang ditujukan padaku. Memang aku perduli?

Padahal jika orang lain yang berkata seperti itu aku akan muntah langsung dihadapannya dan dengan tatapan jijik aku akan menendang tulang keringnya. Aku bukan seseorang yang mudah digoda. Catat itu dan beri garis bawah.

Tak jarang juga aku berpikir, bagaimana dengan kehidupan nyataku? Hey... Roleplayer bukan suatu tempat yang bisa bertahan lama kan? Maksudku... bisa saja itu hancur besok kan? Tentu saja aku tak ingin itu terjadi!

Sampai saat ini aku belum punya kekasih karena roleplayer ini. Bukan, bukan karena aku tak laku. Tidak bermaksud sombong, bisa saja aku langsung menunjuk seseorang, dan orang itu akan dengan sukacita menjadi kekasihku. Tapi bagaimana mau punya kekasih jika hatiku sendiri sudah tercuri oleh orang asing yang tak kukenal sama sekali?

Kadang ia merasa iri dengan hubungan Junsu, dia berperan sebagai Xiah dengan Mickynya. Ia seperti tak merasa terbebani dengan kenyataan bahwa mereka sama-sama namja. Junsu tak perduli dengan keadaan itu. Malah sekarang mereka sama-sama tau dengan keadaan masing-masing tapi anehnya, Micky tak merasa keberatan dengan semua itu.

Sejak saat itu, sebuah pertanyaan terus berputar di kepala Jaejoong. 'Bisakah U-knownya seperti itu? Menerima keadaan Jaejoong yang ternyata seorang pria, bisakah?'

Lamunanku terbuyarkan oleh sebuah suara singkat dari ponselku, yang menandakan ada 'Direct Message' masuk. Kalian pasti sudah bisa menebak dari siapa kan? Yup! My Yunnie Bear.

'Hei Boojae...'

'Yunnie-yaaa...'

'Apa yang sedang kau lakukan hm?'

'Berbaring di ranjangku yang sangat empuk.'

'Ah... rasanya aku ingin berlari kepadamu dan berbaring disebelahmu. Pasti rasa lelahku hilang seketika.'

Pipi Jaejoong memerah seketika.

'Ung? Memang Yunnie tau dimana aku berada?'

'Tidak hehehe'

'Ish... Yunnie pabo!'

'Boojae...'

'Hm? Waeyo?'

'Aku merindukanmu.'

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, bermaksud menahan teriakannya.

'A... aku juga, Yunnie.'

'Boojae..'

'Apa lagi Yunnie?'

'Aku mencintaimu.'

Teriakan Jaejoong dengan sukses membahana ke seluruh penjuru rumahnya di malam larut nan sunyi ini. Membuat kedua orang tuanya tergesa-gesa memasuki kamar Jaejoong dan bertanya dimana malingnya. Bahkan sang appa telah membawa stik golf sebagai senjata untuk melawan si maling jika ia sampai melakukan sesuatu kepada anak kesayangannya itu.

.

.

.

Yunho, Jung Yunho, sang pemeran utama kita, terlihat menghidupkan ponselnya saat bel pertanda pelajaran telah usai. Dengan tergesa-gesa ia membuka aplikasi twitternya dan tersenyum sendiri melihat apa yang ada dilayarnya. Kita semua tidak tau apa isinya, tapi yang pasti itu semua berhubungan dengan Boojaenya.

Park Yoochun, sahabat Yunho, namja berjidat lebar itu melihat Yunho dengan pandangan jengah. Ya... mungkin ia telah terbiasa dengan situasi seperti ini.

"Heromu lagi, Jung?"

"Tentu. Kau pikir siapa lagi?"

"Ck. Apa yang dia lakukan kali ini?"

"Kau ingin tau?"

"Tentu saja."

"Maaf. Tapi aku tak berminat untuk mengatakannya padamu."

"Ya. Ck! Kau jadi seperti ini hanya karena seorang pria?"

"Sudah berapa puluh kali kukatakan, Chun. Dia itu yeoja."

Yeah... Yunho menganggap Jaejoong adalah seorang yeoja. Dari sikapnya yang imut dan segala perilakunya yang sangat keyeojaan, Yunho berpikir bahwa Jaejoong itu yeoja. Tentu saja, Yunho adalah pria yang normal, kutekankan amat sangat normal. Dia kadang berpikir seberapa cantiknya Jaejoong dilihat dari sikapnya itu.

Sebenarnya Yunho sudah beberapa kali menawarkan Jaejoong untuk bertukar SNS dengannya, bahkan nomor ponselpun tak luput dari ajakannya. Tapi Jaejoong dengan segala cara menolak tawaran Yunho. Entah kenapa.

Padahal Yunho ingin sekali lebih dekat dengan Jaejoong, ia ingin mendengar suara jaejoong yang menurutnya mungkin terdengar merdu, dan tentu saja melihat wajah cantik sang pujaan hati. Tapi apa daya, Jaejoong menolak. Dan Yunho tak bisa memaksa.

.

.

.

Seperti biasa, Jaejoong tengah mengobrol dengan beruang kesayangannya. Tak jarang pula, karena tidak tau topik apa lagi yang bisa diobrolkan, saking terlalu banyaknya mereka mengobrol bersama, mereka membicarakan hal-hal konyol. Misalnya tentang mana yang lebih banyak, kadar kemesuman Micky atau kadar kepolosan Xiah? Dan kalian tau? Bisa sampai berjam-jam hanya untuk mendebatkan hal itu.

Tiba-tiba raut wajah Jaejoong berubah menjadi keruh. Bibirnya mengerucut imut, ia mngotak atik ponselnya dan sesekali merestartnya.

Ia menekan beberapa tombol lalu menempelkan ponselnya ke telinga kiri.

"Chullie hyooonggg."

Terdengar suara dari sebrang sana.

"Eoh? Waeyo Joongie-ah"

"Aku... hiks... sedang mengobrol dengan Yunnie... lalu... hiks... kuotaku habis... dan pulsaku tak mencukupi untuk membeli kuota... hiks." Jaejoong berkata disela isakannya.

"Kalau begitu kau beli saja pulsa."

"Uang bulananku habis hiks... dipakai berbelanja. Huwaaa... ottokhae? Hiks..."

"Si bodoh ini."

"Waeyo? Hiks..."

"Dirumahmu kan dipasang jaringan wifi, kenapa kau tak manfaatkan saja itu huh?"

Jaejoong mengerjapkan matanya polos.

"Oh iya... hehe aku lupa saking paniknya. Hehe."

Disebrang sana Heechul menepuk keningnya keras.

.

.

.

.

TBC

.

how?

membosankan ga? Ngefeel ga? Mengecewakan ga? Tolong beri komentar ya...

ya... setidaknya aku berhasil update cepat dan sedikit lebih panjang dari yang kemarin.