Malam sudah cukup larut, namun pejalan kaki masih membanjiri jalan-jalan di Kota Tokyo. Berpasangan dan sendirian. Ada yang tua da nada yang muda. Di antara lautan manusia itu, seorang pemuda mematung dengan wajah hampa.

Koushuu adalah Tuan Muda sejak lahir. Kesehariannya sejak muda hanya berputar dalam kediamannya dan toko cabang Miyuki Corp tempatnya magang. Dunia luar ini begitu asing untuknya tanpa sosok Pelayan Seto dan mobil mewahnya. Siluet lautan manusia dibawah lampu temaram Kota Tokyo lama-kelamaan tampak menyeramkan.

Dalam kondisi penuh kelelahan setelah melarikan diri dari kediamannya dan bingung dengan keadaan disekitar, Koushuu mulai menyesali kecerobohannya. Tak ada handphone. Kantongnya kosong karena dia memang tak terbiasa membawa-bawa dompet‒segala kebutuhan sudah di atur dengan baik oleh Pelayan Seto. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya berjalan menepi dan duduk di salah satu emperan toko. Berharap Pelayannya yang sudah seperti anjing penjaga itu akan mengendus jejaknya.

Koushuu meringkuk memeluk lutut dan memejamkan mata.

Koushuu tersentak saat sesuatu mengguncang tubuhnya. Kelopak matanya terasa ditimpa beban berton-ton sampai begitu sulit terbuka. Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak dia tertidur disana.

"Nak! Nak!" Orang itu mengguncang tubuhnya dengan keras kepala. "WOI BOCAAAH.. BANGUN!"

Telinga Koushuu seketika mendengung. Suara cempreng pemilik tangan yang mengguncangnya ini benar-benar berisik dan sekarang orang asing ini malah berteriak.

Koushuu mengalah. Saat kelopaknya terbuka pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sepasang sneaker berwarna putih. Kemudian celana training hitam panjang lengkap dengan sweater berwarna sama. Syal rajutan dengan warna merah lembut melingkari leher orang itu.

"Bisakah kamu berdiri ? Atau apa kau sakit ? Perlu bantuan ?" Orang itu menekannya dengan wajah kesal. Sepertinya dia habis kesabaran karena Koushuu tak kunjung bangun.

Koushuu berdiri perlahan tanpa suara dan berniat pergi. Lebih baik tak berurusan dengan rakyat jelata kasar seperti orang di depannya. Namun sebelum dia melewati orang itu, langkah terhenti.

KRUUUUUUUK~

Perutnya berbunyi keras. Koushuu reflek menutup sumber suara dengan kedua tangan. Wajahnya begitu panas. Rasa malunya begitu parah sampai dia ingin mengubur dirinya sendiri saat itu juga.

"Ah, Kamu kelaparan rupanya." Celetuk pemuda itu. "Apa boleh buat, kakak ini adalah orang baik, jadi untuk kali ini kakak akan membiarkanmu masuk dan makan gratis."

Koushuu mengangkat wajahnya dengan penolakan yang siap meluncur kapan saja dari mulutnya‒namun kata itu kembali tertelan saat seringai cerah pemuda itu tertangkap oleh matanya. Jantungnya berdebar begitu cepat setelah mengenali siapa lawan bicaranya.

Takdir memang begitu suka mempermainkan skenario hidupnya. Bagaimana mungkin setelah dia kehilangan impian dengan cara yang begitu tidak adil‒melarikan diri‒dan kebingungan‒takdir menuntunnya pada impian lain yang telah dia kubur begitu dalam sejak lama.

Lonceng toko berbunyi saat pemuda itu mendorong pintu. "Oh ya bocah, sebaiknya kau ingat nama penolongmu oke. Aku Sawamura Eijun, pemilik satu-satunya toko buku antik di kota ini." Ucapnya sombong. "Selamat datang di ACE ANTIQUE BOOK."

Ada perasaan hangat mengisi dadanya ketika pemuda itu bicara. Dia senang. Khawatir yang mengisi dadanya hingga beberapa saat lalu seolah tak pernah ada. Namun bukan Miyuki Koushuu namanya kalau dia bisa bicara terus terang. "Aku Miyuki Koushuu. Terima kasih untuk tawarannya, Sawamura Eijun, tapi aku ingin mengoreksi sesuatu."

Dahi Sawamura berkerut, "Apa lagi nak ?"

Koushuu menarik nafas dan mengeluarkannya dalam satu kalimat. "PERTAMA, KURASA UMUR KITA TIDAK TERLALU JAUH JADI AKU TIDAK SUDI DIPANGGIL NAK ATAU BOCAH DAN TENTUNYA BUKAN MAS JUGA‒AKU BELUM JADI SUAMIMU. Untuk sekarang panggil saja aku‒Koushuu. AKU JUGA TIDAK AKAN MEMANGGILMU KAKAK, SATU-SATUNYA PANGGILAN UNTUKMU YANG BISA KUTOLERANSI UNTUK SAAT INI ADALAH SENPAI. KEDUA, PENAMPILANMU TERLALU TERBUKA. BAGAIMANA MUNGKIN KAMU HANYA MEMAKAI CELANA TRAINING‒YANG KETAT DAN SWEATER PAYAH ITU(apa kamu tidak sadar kalau kamu terlihat sangat imut sekarang ?). KAMU ORANG DEWASA, JADI KAMU HARUS SADAR BAGAIMANA MEMAKAI PAKAIAN YANG PANTAS SAAT BERADA DI DEPAN PUBLIK! DAN KETIGA‒JANGAN PERNAH MENAWARKAN MASAKAN BUATANMU PADA ORANG ASING LAGI‒CUKUP DENGANKU SAJA! Oh ya, dan biarkan aku tinggal dengamu mulai sekarang. Aku tidak punya tempat untuk pulang."

Setelah memuntahkan komplain panjangnya‒dan satu permintaan‒Koushuu memasuki toko tanpa mengacuhkan pemilik yang masih berdiri di ambang pintu dengan raut wajah campur aduk.

"Jadi‒mana masakan buatanmu, Senpai ?" Dan Koushuu telah duduk manis menghadap meja bundar mungil di ruangan penuh buku itu. "Oh ya, porsi kecil saja. Aku tidak bisa makan porsi besar."

"Tunggu sebentar." Sawamura bergumam dengan wajah gelap.

"Ya ?"

Sawamura mengambil langkah besar ke arahnya dan menggebrak meja. Ekspresi wajahnya begitu marah. Koushuu melihat wajah itu dipenuhi perempatan imajiner.

"J-jadi, etto‒" Suara Sawamura bergetar. Terlihat jelas dia kesulitan menyusun kalimatnya.

"Aku harus memanggilmu K-koushuu dan kau akan memanggilku senpai, benar ?

Koushuu mengangguk.

"L-lalu.. lalu.. pakaianku tidak pantas dan‒aku tidak boleh menawarkan makanan pada orang lain ?"

"Menawarkan makanan BUATANMU pada orang ASING lagi." Koushuu mengoreksi.

"Dan membiarkanmu tinggal bersamaku."

Koushuu memberI anggukan lagi.

"Begitu ya‒MANA MUNGKIN AKU AKAN MENGANGGUK DAN MENJAWAB YA BEGITU SAJA‒"

Beberapa saat kemudian…

"Bagaimana rasanya, Tuan Koushuu ?" Sawamura Eijun tersenyum manis saat Koushuu memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.

"Um ya. Kurasa kamu perlu meningkatkan kemampuanmu lagi, Senpai. Dan cukup panggil aku Koushuu."

"Dimengerti. Koushuu!"

Koushuu melirik orang yang kini memasang senyum cerah di sampingnya. Orang ini begitu mudah di bujuk. Hanya dengan menyebut nama perusahaan dan ayah brengseknya‒di tambah dengan nominal uang sekian milyar, orang ini seolah menumbuhkan telinga dan ekor. Menjadi seperti anjing peliharaan yang selalu mengibaskan ekor padanya. Jinak dan menggemaskan.

Koushuu tidak menipu saat dia menyebut nominal uangnya. Memang saat ini dia belum memiliki uang sebesar itu, tapi setelah dia berhasil‒ratusan kali lipat pun mampu dia beri. Terlebih saat calon pengantin sudah ada di depan matanya. Miyuki Corp juga akan menjadi miliknya. Itulah yang Koushuu pikirkan.

Meski dia telah menemukan orang yang selalu dicintainya Koushuu masih enggan kembali. Selain karena rasa malu setelah melarikan diri, mana mungkin dia bisa menarik sumpahnya. Harga dirinya akan terluka seumur hidup. Apapun yang terjadi dia pasti akan membuat perusahaan yang lebih baik dari Miyuki Corp, menikahi Sawamura Eijun, dan kembali untuk merebut perusahaan dari ayah busuknya. Koushuu menyebutnya, WOLF PERFECT REVENGE.

"Sempurna." Koushu merasa puas. Suapan terakhir baru dia selesaikan.

Sawamura bertepuk tangan. "Oooh! Padahal kamu bilang kalau aku masih perlu belajar, tapi kamu memuji nasi goring sederhana ini sempurna." Tersanjung dan terkesan.

Koushuu ingin memberitahu kalau kalimat sempurna itu bukan untuknya, namun dia urungkan. Mulutnya sangat jarang bisa mengeluarkan pujian, kebetulan ini bisa membuat Sawamura senang jadi tak ada masalah‒malah menguntungkan untuknya yang memang berniat melakukan pendekatan.

Koushuu membersihkan mulutnya dengan tisu. Tekstur tisu yang terasa sedikit kasar itu sedikit membuatnya tak nyaman. Kulitnya telah terbiasa dengan napkin kualitas tinggi di setiap kegiatan makannya.

"Kalau begitu aku akan beres-beres dulu. Tunggu sebentar ya, Koushuu."

Sawamura membereskan benda-benda di atas meja itu dan membawanya ke dapur. Sementara Koushuu terus mengawasi gerakan pemuda itu sampai punggungnya menghilang ke balik pintu.

Senyum Koushuu mengembang. Ini pertama kalinya dia makan makanan yang bukan buatan tangan koki ahli. Namun rasa nasi goreng buatan Sawamura itu jutaan kali lebih baik dari karya koki manapun yang pernah dia cicipi.

Ini hadian ulang tahun terbaik dalam 20 tahun hidupnya.

Sementara itu, di dapur Eijun meletakkan piring dan gelas kotor ke wastafel. Tangannya cekatan menggosok peranti yang terbuat dari keramik polos dan bergumam riang. "Untung nasi goreng buatan abang di perempatan jalan belakang itu cukup enak. Kalau tidak bocah serigala itu pasti akan menggigitku sampai habis."

Koushuu mematung di depan ruangan.

"Maaf, ini memang sedikit sempit. Semoga kamu bisa betah di sini." Ucap Sawamura sambil mempersilahkan masuk.

Ruangan Sawamura berada di lantai dua, tepat di atas toko. Kamar bercat putih itu cukup luas dengan single bed dan furnitur minimalis yang di dominasi warna lembut.

Koushuu masuk. Matanya sibuk menjelajah setiap inci di ruangan itu. "Hm. Cukup bagus untuk ukuran tempat tinggal rakyat jelata." Katanya usai mengusapkan jari telunjuk ke meja yang bersih tanpa debu.

Alis Sawamura berkedut saat mendengar kata rakyat jelata keluar dari mulut Tuan Muda itu namun tak berkomentar. Dia menggantungkan kunci di dekat pintu dan melangkah pelan menuju tempat tidur.

Sementara Koushuu masih asik dengan kegiatannya sendiri, Sawamura mulai melepas pakaiannya dan berganti piyama.

"Senpai, apa kamu tidak punya sikat gigi cada‒"

Kalimatnya terputus begitu saja. Koushuu baru saja memeriksa kamar mandi, mengecek merk sabun, odol, sampo hingga sikat gigi. Dia baru saja akan bertanya pada Sawamura apa ada sikat gigi cadangan yang bisa dia pakai, tapi pemandangan di depannya saat ini membuat seluruh frasa hilang begitu saja dari otaknya.

Sawamura berdiri di depannya dibalut piyama putih bermotif bola bisbol yang belum terkancing sepenuhnya. Dada seputih porselen itu terekspos. Membuat jantung Koushuu dugem tak karuan di tengah malam musim dingin. Oh Dewa Kacamata, aku tak tau harus menganggap ini cobaan atau anugerah.

"Hm ? Apa ? Kau ngomong apa barusan ?" Sawamura baru saja selesai berpakaian.

Koushuu akhirnya bisa tenang dan menggantungkan mantelnya. "Bukan apa-apa. Aku Cuma mau pinjam piyama, kalau bisa yang persis sama dengan milikmu." Ucapnya serius.

Sawamura memberikan tatapan heran, "Bagaimana kamu tau kalau aku punya satu pasang lagi piyama yang sama ?"

Beneran ada?!

Koushuu tak memperkirakan ini, dan dia pun kesenangan. Wajahnya sudah seperti bocah lima tahun yang menantikan hadiah natal.

Setelah mengaduk isi lemarinya Sawamura mengeluarkan setelah piyama itu dan menyerahkannya pada Koushuu yang menerimanya dengan begitu senang‒meski wajahnya tetap datar.

Koushuu ingin segera mengganti pakaiannya namun Sawamura tak kunjung meninggalkan ruangan. Orang itu malah duduk santai di ranjang dan asyik membalik-balik halaman buku berjudul Keteguhan Hati Seorang Ace.Tak memperhatikan Koushuu yang sejak tadi menggeram dengan kesal.

"Senpai."

"Hm."

Sawamura masih tak acuh dengannya.

"Kenapa kamu tidak cepat pergi ke ruanganmu sendiri ?"

Pandangan Sawamura masih tertuju pada buku di tangannya dan menjawab santai. "Kau bicara apa sih. Ruanganku ya disini."

"Huh ?" Firasat Koushuu tak enak.

"Maaf kalau kamu tidak nyaman, tapi cuma ini satu-satunya ruangan tempatku tinggal. Aku tidak punya kasur cadangan, tidur di toko juga bukan pilihan. Kau tidak mungkin memintaku tidur di lantai saat suhunya sedingin ini kan. Jadi kita akan tidur bersama, oke?"

Koushuu menjatuhkan piyamanya. Matanya membelalak saat mendengar kata 'tidur bersama'.

Oh Dewa Kacamata, sekarang aku yakin kalau ini adalah cobaan.

Bersambung…