THE WEDDING – Chapter 2
Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi. Ibiki Morino. Kurenai x Asuma.
Anime/Manga: Naruto
Genre: Drama, Romance, Hurt/Comfort, Friendship.
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Rate: maunya si M, tapi Rate T jg boleh deh.
Warning: OOC, OTP, miss typo.
.
.
.
Aku percaya padamu, Kakashi.
Kata-kata Anko beberapa hari yang lalu terus dan terus terngiang di otak Kakashi. Jounin yang kerap bersikap dingin dan tenang itu terus berjalan. Menyusuri jalanan desa yang sunyi. Kakashi baru saja akan menemui Anko di rumahnya. Entah apa yang membuatnya gila, berniat untuk membantu –menyelamatkan gadis itu dari perjodohan dengan Morino-san. Sebenarnya ia samasekali tidak tahu, akan membawa Anko kemana. Akan bersikap bagaimana setelah mengajak gadis itu pergi. Namun sebuah perasaan aneh telah mengendalikannya. Mungkinkah ini cinta?
Tap. Langkah Kakashi terhenti ketika tidak jauh dari hadapannya muncul sesosok yang ia kenal. Padahal Kakashi berada tidak jauh dari rumahnya sendiri, baru saja hendak pergi menuju kediaman Anko Mitarashi.
Ibiki? Batin Kakashi penuh kewaspadaan.
"Jauhi tunanganku".
Kira-kira begitulah kata-kata singkat perdana yang keluar dari mulut pria sangar itu.
"Ah!" Kakashi menaikkan alisnya. Lalu ia tersenyum lebar seolah sedang tidak merasakan apa-apa "Ya, tentu saja!"
Keduanya terdiam. Ada sedikit aura perang dingin antara dua pria yang sama-sama terlibat dalam kehidupan gadis bernama Anko Mitarashi itu.
"Kau tahu, Anko milikku. Ia akan segera jadi istriku"
Kakashi hanya diam mendengarkan.
"Sebaiknya jounin pintar sepertimu paham bagaimana menghormati sesama shinobi. Pergilah! Dan jangan datang lagi kepada nona Mitarashi!" tutup Ibiki Morino dengan tajamnya.
Kakashi hanya diam. Sebuah ucapan yang sangat menusuk. Memangnya siapa dia? Memangnya siapa yang lebih dulu dekat dengan Anko? Memangnya siapa yang dicintai oleh nona Mitarashi itu? tentu saja dirinya.
Anko sudah jelas-jelas menginginkan dirinya. Dan bukan pria tinggi besar menyeramkan itu. Oh –bahkan pangkatnya tidak bisa dibandingkan dengan Ibiki yang hanya seorang ketua penginterogasi itu. Ibiki tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dirinya. Samasekali tidak ada apa-apanya. Langit pun tahu bahwa Kakashilah yang akan menang dalam kisah percintaan ini. Anko dan ia. Mereka memang ditakdirkan bersama. Ehm –mungkin saja.
Ibiki pergi meninggalkan Kakashi yang batinnya tengah berkecamuk. Perasaan macam apa ini? Mungkin selama ini Anko telah membiusnya tanpa sadar. Mungkin saja selama ini ia juga mencintai wanita itu dengan begitu dalam. Tetapi kenapa baru sekarang ia menyadarinya? Kenapa baru saja, ketika gadis itu sudah akan resmi jadi milik orang lain? Mungkinkah karena buku Icha Icha terkutuk itu? Buku sial itu terlalu lama menyita waktu dan perhatiannya, sampai-sampai ia mengabaikan kehadiran gadis cerewet tapi manis dan mempesona itu di sekelilingnya. Anko Mitarashi. Wajah gadis itu terbayang lagi di kepalanya. Terbayang terus, tanpa henti. Ah, ini benar-benar gila. Semuanya benar-benar kacau.
.
.
.
'Aku perlu waktu, Anko. Aku harus memikirkannya dulu baik-baik'.
Ucapan Kakashi yang terdengar sangat membingungkan waktu itu. Sudah enam hari semenjak percakapan itu berlangsung. Dan selama itu pulalah Kakashi samasekali tidak menampakkan batang hidung bermaskernya.
Anko bingung. Resah, gelisah, dan hampir kehilangan kepercayaan terhadap Kakashi. Namun ia percaya, harapan itu akan selalu ada. Kakashi Hatake akan datang. Kakashi akan datang menjemput dirinya. Kakashi akan datang menjemput dan membawa dirinya pergi, jauh dari sini.
Anko melamun di dalam kamarnya. Hari pernikahannya dengan Ibiki akan berlangsung besok. Dan masih ada waktu kurang lebih dua puluh empat jam lagi penantiannya akan kehadiran Kakashi. Tetapi….kenapa pria itu belum datang juga? Kenapa? Apa kau sudah lupa padaku, Kakashi?
Gadis itu lagi-lagi hampir menangis. Menangisi nasibnya.
"Kakashi….cepatlah datang…." Desisnya sedih di antara airmatanya yang kemudian perlahan mengalir.
Waktu terus berjalan. Yang dinanti gadis itu tidak kunjung datang. Ingin rasanya Anko bunuh diri dan menusuk dirinya sendiri dengan kunai sekarang ini. Tetapi mustahil, neneknya mengawasinya dengan ketat. Nenek Mitarashi bahkan tidak peduli dengan perasaan Anko yang hancur berkeping-keping. Anko hampir tidak sanggup lagi untuk terus hidup. Jika Kakashi tidak datang, lebih baik ia mati daripada harus bersama dengan orang yang tidak ia cintai.
Langit senja berubah menjadi malam. Malam yang ramai di kediaman Anko. Namun di kamarnya, gadis itu tetap saja menciptakan suasana yang sunyi. Sunyi, sampai akhirnya Kurenai masuk kedalam, datang untuk mengunjungi Anko.
Anko mengangkat kepalanya, sedari tadi ia membenamkan wajahnya pada lututnya. Ia tengah duduk di atas kasur.
"Bagaimana kabarmu, Anko?" sapa Kurenai perlahan. Ia tahu, Anko sedang berada di titik terburuk dalam hidupnya.
"Sangat buruk" jawab Anko tipis. Wajahnya menyiratkan kegalauan yang mendalam. Kasihan sekali gadis ini, pikir rekan di dekatnya. Kurenai duduk di tepi ranjang Anko. Mendekatinya. Ia ingin memastikan apakah Anko sehat-sehat saja.
"Kakashi….. dia -dia belum juga datang" ucap Anko terbata.
Kakashi? Oh –pasti Anko menginginkan Kakashi membawanya pergi malam ini. Kurenai dapat menebaknya dengan benar.
"Sabar saja Anko, mungkin saja besok ia akan –"
"Datang. Aku tahu itu" potong Anko cepat namun dengan pengucapannya yang perlahan.
"Kakashi pasti datang. Itu pasti" lanjut Anko seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu tidak menatap Kurenai, ia hanya memperhatikan dinding kamarnya yang terasa dingin dan kosong.
"Ia akan membawaku pergi dari sini" ucap Anko dengan lirih. Namun air mukanya menunjukkan jika gadis itu tidak akan pernah kehilangan harapan. Tidak sampai Kakashi mengkhianati janjinya. Tidak, semoga itu tidak terjadi.
Tiba-tiba salah seorang pesuruh nenek Mitarashi masuk. Dan setelah mengutarakan beberapa perkataan pada rekan Anko di sana, akhirnya Kurenai berniat pergi dari kamar Anko.
"Maaf Anko, aku harus pergi dulu"
Anko tahu, neneknya tidak akan membiarkan seseorang berlama-lama dengannya saat ini. Ia tahu, neneknya akan sangat waspada. Dan mungkin saja nenek tahu bahwa Anko berniat kabur sebelum pernikahan besok benar-benar terjadi. Karena itulah, pertemuan dengan Kurenai kali ini dibatasi dan mungkin –diawasi.
Anko menghela nafas, benar-benar tragis hidupnya saat ini. Benar-benar parah. Aku percaya padamu, Kakashi. Kata-kata itulah yang membuatnya sedikit lebih kuat. Kata-kata itulah yang membuatnya yakin bahwa Kakashi Hatake akan menepati janjinya dan menolongnya.
Kakashi! Aku menunggumu!
.
.
.
Suasana sudah cukup ramai. Beberapa orang tamu, keluarga, pendeta dan oh –kedua mempelai pengantinnya sudah datang. Upacara pernikahan akan segera dilaksanakan. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Namun sangat jelas terasa aura sakral di dalamnya. Prosesi pernikahan adalah sesuatu yang tidak boleh dianggap main-main. Itu adalah hal yang suci.
Ibiki-san memang tidak menginginkan kehadiran tamu yang terlampau banyak. Ia ingin upacara ini berlangsung khidmat dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Terlebih Kakashi Hatake. Ia sangat tidak menyukai pria itu.
Pendeta sudah melakukan beberapa ritual wajib untuk memulai upacara pernikahan ini, dan tak lama lagi, Ibiki dan Anko akan mengucapkan ikrar janji suci pengikat cinta di antara mereka.
Cinta? Tidak. Ini samasekali tidak didasari dengan cinta. Ini karena keterpaksaan!
Batin Anko menjerit. Kakashi belum datang. Tidak –mungkin saja Kakashi TIDAK akan datang. Penantiannya sia-sia. Cintanya pada Kakashi selama ini sia-sia.
Anko saat ini mengenakan riasan yang lebih tebal dari biasanya. Perona pipi, dan warna lipstick yang hampir sama merahnya dengan milik Kurenai. Pakaian pengantin yang berupa kimono putih, segalanya serba putih. Dan penutup kepala putih khas negeri sakura yang berhiaskan sedikit bunga kuning itu menutupi rambut ungu gelapnya yang biasanya berantakan. Rambut ungu itu kini tertata rapi di dalamnya.
Anko benar-benar seorang mempelai wanita yang cantik sekarang. Ia akan menikah. Ia akan dinikahi oleh Ibiki, dan berganti nama menjadi Anko Morino. Menjadi istri sah dari seorang shinobi yang samasekali tidak ia cintai.
Sementara Ibiki tidak tampak setegang Anko. Pria itu tampak gagah dengan kimono hitam pengantinnya. Ia tersenyum, menyaksikan gadis pujaannya tengah berada di dekatnya untuk segera menjadi istrinya. Ia sangat mencintai gadis itu, Anko Mitarashi.
Cawan sake masing-masing akan dipegang oleh mereka berdua. Inilah saatnya,mungkin –sebentar lagi. Saat pengantin pria dan wanita meminum sake dari cawan kecil tersebut, mereka juga akan mengucapkan ikrar perkawinan.
Tidak! Batin Anko bergemuruh dengan sangat hebat. Tidaaaaakkk!
Dengan sedikit gemetar gadis itu mengambil sebuah kunai dari dalam lengan baju kimono putihnya, yang entah sejak kapan dan bagaimana ia menyembunyikannya. Membunuh Ibiki adalah sesuatu yang sangat tepat jika ia lakukan saat ini. Ya, membunuh pria itu. Ia membencinya. Ia tidak mencintainya.
Namun ia sedikit bingung. Entah bagaimana caranya ia membunuh pria tersebut. Melemparkannya dengan cepatkah, atau mendekat dan langsung menggorok lehernya dengan sadis. Anko sudah benar-benar merasa gila. Dalam hitungan ketiga, ia akan segera mengakhiri semua ini.
Craatt. Sebuah tebasan yang memuncratkan cairan darah berwarna merah. Semua yang ada di ruangan terkejut. Darah. Mungkinkah ini sebuah usaha pembunuhan? Semuanya terkejut. Amat sangat terkejut. Bagaimana mungkin ada peristiwa mengerikan dalam sebuah upacara sakral pernikahan yang suci? Anko memang benar-benar nekat. Ia sudah dikuasai amarah yang menggelegar.
.
.
.
T B C
A/N:
Well, gimana menurut kalian?
RnR dong, please….. (author menarik-narik tangan pembaca –kayak gembel)
Anyway, arigatou buat yang berkenan membaca.
Hmm. saya suka banget sama KakaAnko. Nggak nanya yah? Hahah.
ToT
Peace,
Alize Indigo.
