Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Pairing: jelas Akafuri.

Warn : Sho-ai, standart warning applied. Alur cepat.

Nah, entah kenapa otak di bekerja ekstra kalo sudah menyangkut akafuri. Khayalannya g pernah selesai, sejenis kaya di lagi ngayalin SN. Dan ini salah satunya, Drabble yang bersambung satu cerita dengan cerita lainnya.

Happy reading minna ^-^

D untuk dadu

Krik, krik, krik.

"Cukup, aku kalah."

Akashi yang duduk di sebelahnya dan baru saja melempar benda kotak itu hanya menyeringai." Sudah kukatakan, aku selalu menang, Kouki."

Si rambut coklat cemberut, ia menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan yang menangkup." Tapi… kita terlalu berbeda, Akashi-san."

"Siapa peduli, Kouki. Cukup pikirkan bagaimana status hubungan kita ke depan."

"Tapi kau dan… aku. Hanya teman."

"Kau sudah menyetujui ketentuan permainan ini Kouki, jika dadu ini menunjukkan angka satu sebanyak enam kali. Kau—jadi pacarku."

"Tapi –

"Nah Kouki, ayo kita berikan jawaban atas pertanyaan mereka."

Yang ditunjuk sebagai pacar hanya bisa mendesah pasrah. Padahal, ia sudah antusias bahwa Akashi tidak mungkin memiliki peluang untuk mendapat angka satu sebanyak itu. Enam kali ya Tuhan, itu banyak sekali. Sayangnya kenyataan berkata lain. Apa boleh buat, dadupun tunduk pada Akashi.

E untuk eh?

Kedua pemuda itu berjalan bergandengan. Atau pada nyatanya, salah satu dari pemuda itu di seret oleh pemuda lainnya. Yang di belakang sudah berteriak kesetanan.

"Akashi-sannn, aku tidak mau pergi kesanaaa."

Akashi dengan langkah tetap sama sekali tak mendengarkan jeritan Furihata. Ia malah merapatkan genggaman tangannya.

"Aku tidak mau, tidaaakkkk. Disana menakutkan."

Tap

Bug

Furihata refleks menabrak Akashi yang berhenti tiba-tiba. Pemuda itu bergetar, takut-takut ia sudah membangkitkan kemarahan Akashi.

"A-ano, Akashi-san."

"Memangnya kenapa tak mau kesana, Kouki?" Alih mendapat umpatan, dagu Kouki diangkat lembut oleh pemuda bermata merah. Membuatnya bertemu dengan pandangan pengertian dari sepasang mata scarlet itu.

Kouki mengerucutkan bibirnya lucu," habisnya… di sana ada badut. Dan badut itu menakutkan. Masaan ya, ada orang rambutnya kribo kaya brokoli, terus hidungnya besar merah lagi, kaya bisul menahun. Dan juga, perutnya itu besar kaya bisa makan manusia, aku 'kan jadi takut kalau nanti jadi korban selanjutnya. Nanti kalau aku dimakan, tidak bisa bermain basket lagi, tidak bisa berjalan-jalan sama teman lagi, tidak bisa bertemu Akashi-san lagi, tidak bisa manja pada Akashi-san lagi, tidak bisa menikah dengan Akashi-san dan bahkan punya anak dengan Akashi-san. Aku 'kan jadi sedih."

"Kouki."

"Ya?"

"Kenapa tidak bilang kalau kau mau dilamar secepatnya olehku?"

"Eh?"

F untuk farmer

"Akashi-san?"

Yang dipanggil tak menoleh dari diktat tebalnya, pemuda itu hanya menggumam sebagai tanda ia mendengarkan.

"Aku mau bertanya."

Gumaman kembali terdengar, tapi Kouki yang sudah bertahun-tahun bersama Akashi hapal betul maksud dari kata 'hm' itu. Kali ini Akashi mempersilahkan ia bertanya.

"Umm, ano."

"Hm?"

Kouki meneguk ludah, ia tidak mau dibilang sebagai orang yang suka ikut campur kehidupan orang lain, padahal status mereka baru sekedar tahap pacaran. Tapi sungguh, ia sangat penasaran.

"Ke-kenapa Akashi-san me-menulis no-note besar bertulis ' I want to be a farmer' ? Pa-padahal kan Akashi-san kuliah di jurusan Managemen bisnis."

Akashi mengangkat kepala dari diktat tebalnya, ia melirik Furihata jahil." Menurutmu?"

"A-apa karena Akashi-san hidupnya mewah, ja-jadi ingin merasakan kehidupan sederhana da-dan… no-normal?"

Kekehan menjadi jawaban dari pendapat Furihata, Akashi mencubit hidungnya gemas." Jawabanmu salah."

"Ka-karena Akashi-san ingin membuka bisnis di bidang pertanian?"

Akashi kembali mengeleng.

Mata furihata membulat, kaget dan juga malu. Ia memasang tampang berpikir ala detektif yang membuat Akashi mati-matian menahan hasrat untuk tak memeluk si imut. "La-lalu apa?"

Merasa bahwa kekasihnya menyerah, Akashi kembali terkekeh. " Jawabannya," pemuda merah menggantung kalimatnya, ia melirik Kouki dan puas dengan gestur tubuh si Chihuahua yang menunjukkan ketertarikan." Agar aku bisa berkebun di hatimu, menanam bibit-bibit cintamu padaku dan menjaganya agar selalu mekar dan tumbuh subur. Dengan begitu, kau pasti akan selalu mencintaiku."

Mendadak suasana terasa pengap. Furihata mengibas-ngibas pipinya yang terasa menghangat." Ahahah, kok panas ya?"

TBC

#pojok curhat 1

Kyaaa, chap 2 boo~ chap 2 /kenapa di jadi kaya banci? Ya sutralah, yang penting akafuri.

Di makasih banget sama respek kalian terhadap drabble di yang bahkan g lebih dari 500 kata. Arigachuuu, #peyuk reviewer satu-satu #dilindes. Oke fix, di seneng deh. Dan semoga fic ini masih memenuhi ekspetasi kalian. kalo soal akashi dapat darimana kertas kutukan itu, ada deh. #dikubur.

#pojok curhat 2

Yang bikin di ngakak sendiri pas bayangin Akashi ngegombal dan Furi yang tiba-tiba jadi tsundere. Dan juga bagian eh? Haha, Akashi kena shock shootnya Furi, walau yang bilangpun g nyadar. Di udah nulis sampai L lho, tapi idenya mandek disana, ada yang mau beri saran word?

Mohon reviewnya. Saran, kritik dan komentar diperlukan untuk perbaikan fic.

Review?