First, let me thanks you all, for;
Guest: thanks, haha, itu Cuma prolog loh.. thanks udah mampir dan review~
Guest(2): makasih udah dibilang bagus, hehe, thanks udah mampir dan review~
WulannS: haha, itu masih prolog loh, jadi sebenarnya belum bisa dibilang bagus nggaknya. Ini sudah lanjut, thanks udah mampir dan review~
dabestshinki: maaf, ncnya tampak masih jauuuhhh sekali, tapi, thanks udah mampir dan review~
: aduh, namamu susah bingit ditulis.. ini sudah lanjut, thanks udah mampir dan review~
ermagyu: ini udah lanjut, thanks udah mampir dan review~
Kim Hyunshi: ini sudah update, btw, gak takut tuh ama dark hahah. thanks udah mampir dan review~
12Wolf: aa, maaf sudah bikin penasaraaaaan, thanks udah mampir dan review~
9493room: ini chappie 1-nya udah publish, thanks udah mampir dan review~
AnieJOYERS: ini sudah lanjut, thanks udah mampir dan review~
soo baby: hahaha, aduh, yang mengandung unsur m-ratednya sebenarnya masih luama. thanks udah mampir dan review~
chocoDOnutKRISpy: sorry, tetap bikin nunggu tapi sayanya ya? thanks udah mampir dan review~
KS-shipperaddict: ini sudah lanjut, thanks udah mampir dan review~
Dan untuk semua yang membaca ini, yang sudah fave ataupun follow...
Sorry for long update. Saya sebenarnya gak puas sama chapter ini ya /sigh/ tapi gak mau kelamaan bikin nunggu, takutnya nanti ini berjamur(?), saya seneng nulis, tapi apa daya, kelas 12 itu membunuh waktu luang saya (_ _")
Saya ucapkan banyak maaf kalau chappie awal ini agaknya kurang memuaskan.
.
.
Hari minggu, Kyungsoo hanya mengurung diri sehabis mengunjungi makam ayahnya—yang baru meninggal kemarin.
Suasana rumahnya masih diselimuti duka, dan Kyungsoo adalah salah satu penyebab tersebarnya aura kedukaan itu. Ibunya bahkan meminta izin pada suaminya untuk menamani Kyungsoo sejak kemarin. Sepertinya tidak enak hati juga apabila meninggalkan anak dari mendiang mantan suaminya itu sendirian—ia mencintai Kyungsoo sebagai putranya, meskipun ia sudah bercerai mendiang ayah Kyungsoo sejak dua tahun lalu.
Kyungsoo membenamkan wajahnya dibalik bantal—hatinya masih terasa kebas. Tidak seharusnya ayahnya meninggalkannya. Ibunya sudah meninggalkannya dengan keluarga dan suami barunya—dan Kyungsoo tidak mau menjadi beban ibunya.
Ditambah lagi, Kyungsoo sudah diberitahu perihal bahwa ayahnya menitipkan satu wasiat—yaitu; Kyungsoo harus bersedia mengikut keluarga Kim—keluarga kaya dimana mendiang ayahnya bekerja sebagai kepala pelayan kepercayaan.
Kyungsoo semakin membenamkan wajahnya.
Ia tidak mau pergi.
.
.
Secret Delta © Thousand Spring
Cast:
-Do Kyungsoo
-Kim Jongin
-Kim Junmyeon
-other support casts
Rating: T+ to M
Warning: boyslove! OOC! AU! Kaisoo slight!junkyung pair, beware of typo(s)
.
.
"Kyungsoo?"
Seorang wanita cantik memasuki sebuah kamar. Matanya menyapu seluruh sudut sampai akhirnya ia melihat sosok pemuda meringkuk di atas tempat tidurnya. Wanita itu tersenyum samar, berjalan pelan dan turut mendududkkan dirinya di tepi tempat tidur. Pemuda yang meringkuk sedikit mengangkat kepalanya ketika merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
"Umma?"
Wanita itu tersenyum lagi—mengelus kepala putranya. "Kau tidak bersiap-siap? Sebentar lagi suruhan keluarga Kim akan datang menjemputmu." Ujarnya lembut.
"Tapi... aku tidak mau pergi, Umma.."
"Kyungsoo..." sang ibu berkata lagi, "Ini adalah keinginan Ayahmu kepada keluarga Kim, bukannya kau juga tidak mau ikut bersama Umma?"
"Bukannya tidak mau, tapi..." menggigit bibir bawahnya sesaat, "Aku tidak mau mengganggu kehidupan baru Umma."
"Kyungsoo, percayalah, kau bukan pengganggu. Sekarang, Umma akan memberimu pilihan. Ikut bersama Umma, atau mengikuti keinginan Ayahmu—bersama keluarga Kim?" tanya ibunya.
Baru saja Kyungsoo ingin menjawab, suara bel rumahnya menginterupsi. Kyungsoo mencegah keinginan ibunya untuk membukakan pintu dan memilih untuk melakukannya sendiri.
Ada seorang pemuda tinggi—amat tinggi—berambut pirang di depannya.
"Siapa?" tanya Kyungsoo.
"Namaku, Kris. Aku suruhan keluarga Kim yang ditugaskan menjemput putra Tuan Do?" ujarnya, membuka sunglass-nya, "Apa kau yang bernama Do Kyungsoo?"
Kyungsoo mengangguk ragu, "Benar..."
"Segeralah bersiap-siap, aku tidak punya banyak waktu untuk menjemput bocah sepertimu."
Kyungsoo merengut mendengar perkataan Kris, bocah?—batinnya.
.
.
Setelah meyakinkan sang ibu, Kyungsoo akhirnya memilih untuk mengikuti Kris.
Kyungsoo banyak menghela nafas sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Kim. Semoga yang ia pilih ini benar. Setidaknya untuk tidak mengikut ibunya. Meski ibunya berkata tidak apa-apa, tetap saja Kyungsoo merasa tidak enak—apalagi jika harus berkumpul dengan ayah dan saudara tirinya. Bukan—bukannya Kyungsoo membenci saudara-saudara baru ataupun ayah tirinya, tapi, pasti akan sulit baginya maupun ibunya ataupun ayah dan saudara-saudara tirinya untuk bertindak. Kyungsoo hanya tidak ingin kehadirannya menimbulkan kesalah pahaman pada akhirnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Suara Kris sedikit mengagetkan Kyungsoo. Menolehkan kepalanya kearah Kris yang mengemudi di sebelahnya—menggigit bibir.
"Err, tidak. Err.. Kris?"
"Hn?"
"Kira-kira untuk apa aku dibawa ke kediaman keluarga Kim?" tanya Kyungsoo polos.
Kris tersenyum kecil—tetap fokus ke jalanan ketika menyetir. "Tenanglah, kau tidak akan dijadikan pelayan."
Kyungsoo merengut, "Lalu apa?"
Kris tertawa, "Tuan Do itu sosok yang terlalu baik. Beliau sangat disegani di lingkungan keluarga Kim. Menurutku, Ayahmu itu sosok yang benar-benar hebat—hanya beliau yang perkataannya yang mau didengarkan Tuan Kim. Selain itu, ketika aku merindukan Ayahku, beliau yang selalu ada dan menghiburku." Ujarnya, "Jadi tidak mungkin anaknya diangkat sebagai pelayan."
Kyungsoo tidak tahu harus senang atau kesal—karena menurutnya Kris seperti mengatainya 'Dasar bodoh!'
Kris membelokkan mobil ke dalam sebuah gang, kemudian berhenti di suatu halaman luas, "Sampai." Ujarnya.
Kyungsoo keluar dari mobil, seketika ia terpukau hingga ternganga melihat pemandangan di depannya. Sebuah halaman luas dengan air mancur di bagian tengah halaman. Di sekeliling terdapat banyak tanaman berbagai jenis. Kyungsoo berbalik dan menemukan sebuah rumah megah dengan empat lantai—itupun jika loteng dan ruangan basement tidak dihitung. Terasnya sama luas dengan panggung spektakuler yang biasa dilihat Kyungsoo di tv ketika melihat acara konser artis ternama.
Pilar rumah berwarna coklat muda dan dindingnya bercat krem. Lantai keramiknya berwarna emas. Kris kemudian menyenggol lengan Kyungsoo dan menyuruh pemuda yang lebih pendek untuk mengikutinya memasuki rumah.
"Kris, sudah datang?" sebuah suara terdengar dari dalam rumah. Wanita yang lebih cantik dari ibu Kyungsoo—meski kelihatan lebih berumur dan Kyungsoo hanya menobatkan ibunya sebagai wanita tercantik di dunia—keluar dari dalam rumah ketika Kyungsoo dan Kris baru menaiki teras. Kris tersenyum kecil dan membungkuk.
"Nyonya, ini putra Tuan Do. Saya sudah membawanya kemari."
Wanita dengan pakaian sederhana—namun terkesan elegan—itu tersenyum. Meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya lembut.
"Suatu kebanggaan jika pada akhirnya kau mau datang di keluarga ini, Kyungsoo." Ujarnya begitu lembut.
Kyungsoo tertegun, baru sadar bahwa di depannya ini adalah Nyonya besar Kim. Cepat-cepat ia membungkuk. "A-annyeong haseyo, jeoneun Do Kyungsoo imnida."
Nyonya Kim malah tertawa, menepuk pelan bahu Kyungsoo, "Tidak perlu sekaku itu, Kyungsoo."
"E-eh, baiklah, Nyonya Kim.."
"Panggil saja aku 'Umma', sayangku." Nyonya Kim merangkul Kyungsoo, menoleh kearah Kris, "Terima kasih banyak, Kris. Kau boleh pergi."
Kris membungkuk sekali lagi sebelum meninggalkan Kyungsoo bersama Nyonya Kim—yang mana wanita itu mengajak Kyungsoo ke lantai atas rumahnya.
"Aku akan menunjukkan kamarmu dulu sebelum kita mengenal seluk-beluk rumah ini."
Kyungsoo tersenyum canggung—menuruti keinginan Nyonya Kim.
Ada sebuah pintu kayu dengan ukiran berpelitur. Nyonya Kim berhenti dan membukakan kamar itu dengan kunci yang sudah ia bawa lalu mempersilahkan Kyungsoo masuk.
"Ini kamarmu, Kyungsoo. Kau boleh mengelolanya sesuka hatimu. Disini sudah ada kamar mandi dan toilet untukmu." Jelas Nyonya Kim.
Kyungsoo melangkah masuk sambil menyeret kopernya. Menatap kamar barunya dengan mata melebar. Ada sebuah tempat tidur berukuran king dengan sprai putih polkadot hitam. Dinding kamar bercat putih bersih, disebelah tempat tidur ada nakas dengan lampu tidur diatasnya. Juga ada rak buku, meja dan kursi untuk belajar, serta sebuah komputer dan proyektor.
"Wow..." Kyungsoo tanpa sadar bergumam—terpukau. Sekarang ia benar-benar percaya bahwa ia tidak akan dijadikan pelayan disini.
"Ini semua milikmu, Kyungsoo. Kuharap kau tidak lelah, aku akan menunjukkan tempat-tempat di rumah ini untukmu. Anggaplah rumahmu sendiri, ya?"
Lagi-lagi Kyungsoo hanya mengangguk patuh—efek dari speechless.
.
.
"Hyeong, sudah aku bilang tidak perlu menjemputku!"
Seorang remaja berseragam SMP mendudukkan dirinya diatas sofa panjang. Kris mengikut di belakangnya—mendengus menatap Tuan Muda-nya.
"Tapi, Tuan Mud—"
"Namaku Kim Jongin! Bukan Tuan Muda!" remaja itu—Jongin—mendengus kesal. Bibirnya mengerucut lucu—yah, dia kan masih SMP.
"Kris memutar bola matanya, "Baiklah, Jonginna~"
"Hyeong! Berhenti memanggilku begitu, menjijikkan!" Jongin bersungut, "Aku kan bukan Junmyeon-hyeong yang selalu menurut bila dipanggil begitu."
"Kau baru saja memanggilku, Jongin?"
Kris langsung berbalik, membungkuk kearah pemuda dengan seragam sekolah menengah atas di depannya.
"Tuan Muda Junmyeon..."
Jongin mencebik menyambut kedatangan sang kakak, "Aku mau ke kamar dulu." Ujarnya tanpa basa-basi.
Junmyeon menghela nafas, menggaruk tengkuknya sebelum mendudukkan dirinya di sofa—menggantikan Jongin. Kris sudah pergi lagi—Junmyeon juga tidak mau tahu Kris pergi kemana.
"Junmyeon, sudah pulang?"
Junmyeon menoleh ketika mendengar suara ibunya. Nyonya Kim datang dari arah dapur bersama seorang pemuda mungil. Junmyeon menaikkan sebelah alisnya, siapa?—batinnya.
"Umma."
"Oh iya, ini Kyungsoo—putra semata wayang mendiang Tuan Do. Sekarang dia akan tinggal bersama kita." Seperti mengerti apa yang ingin ditanyakan Junmyeon—Nyonya Kim menjelaskan terlabih dahulu, "Kyungsoo, ini putra sulungku. Namanya Junmyeon."
Junmyeon melihat pemuda itu membungkuk, "Annyeong, Do Kyungsoo imnida."
Sebenarnya Junmyeon sudah tahu nama pemuda itu—dan ia pikir sebaliknya juga—karena tadi Nyonya Kim sudah saling memperkenalkan mereka satu sama lain. Tapi... ya sudahlah, formalitas—batin Junmyeon.
"Kim Junmyeon imnida." Junmyeon mengulurkan tangannya dan Kyungsoo membalasnya dengan canggung, "Berapa usiamu?" tanya Junmyeon lagi.
"Err, tujuh belas," jawab Kyungsoo.
Junmyeon tersenyum dan melepas jabatan tangan mereka, lantas menggusak rambut Kyungsoo, "Panggil aku dengan 'hyeong', aku dua tahun diatasmu." Ujarnya lembut—mengundang senyum lega dari Nyonya Kim—sekaligus miris jika dilihat lebih jelas.
Junmyeon sangat cepat akrab dengan Kyungsoo—jadi ia lega karena Junmyeon sudah bisa menerima keberadaan Kyungsoo sebagai orang baru di rumah mereka. Bahkan Junmyeon terlihat lebh akrab dengan Kyungsoo yang baru dikenalnya dibanding dengan adik kandungnya sendiri.
Jongin, Nyonya Kim membatin dalam diam.
.
.
Jongin terbangun saat malam dan mendapati bahwa ia belum ganti baju sejak pulang sekolah tadi. Pantas ia merasa tidak nyaman—karena ia masih memakai pakaian formal itu—meski nyatanya biar serapi apapun tetap saja tampak tidak formal kalau yang memakai adalah Jongin.
Remaja enam belas tahun itu menguap sebentar, mengucek matanya.
"Sudah bangun, hm?"
Jongin mengerjapkan matanya, nyengir malu begitu sadar bahwa yang ada di kamarnya adalah ibunya.
"Hehe, umma..."
"Cepat mandi, Jongin. Jangan bersikap jorok seperti ayahmu!" Nyonya Kim melemparkan handuk pada putra bungsunya. Sementara yang menyambut handuk itu cemberut—berkata iya berkali-kali saat Nyonya Kim memaksanya untuk bergerak lebih cepat.
"Umma ingin mengenalkan seseorang padamu, begitu selesai mandi, segera turun ke bawah, Jongin." Ujar Nyonya Kim sebelum benar-benar beranjak meninggalkan kamar putranya.
Eh, seseorang? Jongin memunculkan kepalanya dari balik kamar mandi.
"Apa orang itu yeoja yang cantik?!" tanya Jongin dengan seruan yang hampir menggema di seluruh penjuru rumah.
Nyonya Kim tertawa sebelum menyahut, "Dia jauh lebih cantik dari yeoja cantik manapun."
.
.
Sebenarnya Jongin ingin marah-marah pada ibunya—karena ternyata tidak ada gadis cantik seperti yang dikatakan ibunya—melainkan seorang pemuda bertubuh kecil dengan bahu sempit seperti wanita, berwajah mungil dan matanya besar.
"Kyungsoo, ini putra bungsuku, namanya Jongin." Jelas Nyonya Kim ketika Jongin sudah sampai di ruang tengah—dan duduk manis di sofa. Kyungsoo yang duduk berhadapan dengan Jongin tersenyum tipis.
"Salam kenal, ya?" ujarnya.
Oh Tuhan..
Jongin nyaris melotot—apa itu barusan? Se-senyumnya manis—Jongin membatin pun juga dengan tergagap. Entah kenapa hanya karena senyum pemuda kecil itu jantung Jongin jadi lebih aktif sekarang—berdebar terus.
"Ah, err... iya." Jongin tersenyum aneh—tapi bukan berarti senyum itu tidak tulus.
"Semoga kalian bisa berhubungan baik, oke?" ujar Nyonya Kim. "Kalian mengobrol saja dulu. Saudara harus akrab." Tambahnya sebelum membiarkan Jongin hanya berdua dengan Kyungsoo di ruang tengah.
Jongin masih memperhatikan Kyungsoo—sementara yang diperhatikan menatap balik.
"Kau suka menonton film?" Kyungsoo bertanya tiba-tiba.
Jongin agak terkejut, "Darimana bisa tahu?"
"Ibumu yang bilang." Kyungsoo tertawa, "Aku juga punya hobi yang sama, kupikir lain kali kita bisa menonton film bersama, hmm—Jongin.." ujar Kyungsoo.
Jongin hanya tersenyum lebar, sepertinya Kyungsoo jauh lebih baik dibandingkan dengan Junmyeon—yang notabene adalah kakak kandungnya. Entah kenapa Jongin mulai berpikiran bodoh. Seandainya saja—
—seandainya saja ia dan Kyungsoo bisa punya hubungan yang lebih dari saudara angkat.
.
.
Sebuah keanehan saat Junmyeon merasa tidak suka melihat Jongin bersama Kyungsoo.
Setahu Junmyeon, ia bukan brother-complex—tidak sama sekali—lagipula, Junmyeon yakin, Jongin bukan tipe anak yang sangat lengket terhadap saudaranya. Dan Jongin juga tidak ada manis-manisnya untuk bisa dijadikan alasan brother-complex.
Junmyeon memilih beralih—dibanding mengamati Kyungsoo dan Jongin dari lantai atas. Pemuda itu memutuskan untuk menyibukkan dirinya di kamar—entah mengerjakan apa. Junmyeon juga tidak berpikir.
Nyatanya, yang cuma Junmyeon lakukan hanyalah tiduran sambil melamun.
"Aku kenapa?" gumamnya. Menggulingkan badannya ke samping.
.
.
-to be continued-
Mind to RnR?
