Haiii...

Aku author baru disini, hehe... Dan maaf baru bisa menyapa di chapter 2...

Terimakasih para readers yang sudah mau review...

Dan, untuk Chap ini.. aku.. panjangiinn deehhh...

Maaf yak, kalo ada bahasa yang kurang sreg dihati anda anda sekalian.

Dan, sekali lagiii... Maaff... Kalau masih ada Typo...

Dan, silakaaan membaca uri little MarkJin.

.Adrenaline.

Mau itu kau atau bukan. Dirimu tetaplah Park Jinyoung. Milikku, dan tidak bisa diganggu gugat oleh apapun! Ingat itu!.

-Mark Tuan-

Aku sudah bilang, kita putus! Kita sudah tidak pacaran lagi, tapi. Kenapa aku masih mencintaimu? Kau harus bertanggung jawab Mark Tuan!

-Park Jinyoung-

Setelah dipakaikan piyama putih bergambar pesawat oleh Ny. Tuan, Mark digendong dan dibawa ke kasurnya, Ny. Tuan sempat mengelus dan memijat dahi Mark agar ia tertidur.

"Eomma..." Panggil Mark pelan.

"Wae?" Jawab Ny. Tuan lembut.

"Jinyoung manis sekali."

Ny. Tuan terdiam, ia mengikuti pandangan Mark yang etrtuju pada foto Jinyoung yang entah sejak kapan terpajang di meja belajar anaknya,

"Sudah, cepatlah tidur... Besok, kau harus sekolah kan?"

Ketika Ny. Tuan hendak beranjak, Mark menahan tangan ibunya,

"Kenapa eomma tidak pernah meresponku kalau sedang bicara tentang Jinyoung? Appa suka Jinyoung, kenapa eomma tidak suka?" Tanya Mark.

"Bukan begitu sayang, kau masih kecil, Jinyoung kan juga.. Belum waktunya, sudah.. Mimpi indah ya."

Setelah mengecup kening Mark, Ny. Tuan keluar kamar dengan mematikan lampu kamar anaknya.

Entah kenapa, Mark masih belum bisa tidur, anak sekecil dia sekarang merasakan hawa aneh. Pikiran bocah itu selalu terarah pada Jinyoung. Sepertinya, Mark begitu rindu pada sosok Park Jinyoung. Bocah itu menyerah, setelah 30 menit hanya berguling – guling di ranjang, ia bangkit. Ia harus menemui appanya, mungkin, Mark bisa bertanya tanya tentang Jinyoung. Langkah kaki kecil Mark menyusuri lorong rumahnya dan akhirnya sampai di depan kamar appa dan eommanya. Beruntung pintunya sedikit terbuka, jadi setidaknya ia bisa mengintip apakah ayahnya sudah tidur ataupun belum. Baru saja ingin membuka pintunya agar lebih lebar, Mark tertahan mendengar percakapan kedua orang tuanya,

"Aku tidak suka kau menjodohkan dia dengan anak bawahanmu itu!" Bentak Ny. Tuan.

"Jaga omongan! Terserah Mark, kalau dia bahagia dengan Jinyoung, maka itu pilihannya. Itu kehidupan Mark. Kita tidak berhak mengatur kebahagiaannya! Dan juga, Minwoo bukan bawahanku! Dia rekan dan sahabatku!" Bantah Prof. Tuan.

"Kalau begitu, apa masa depan Mark akan terjamin kalau bersama Jinyoung! Aku tidak mau mempunyai anak penyuka sesama jenis! Uri Mark, akan menikah dengan anak gadis. Yang berbeda dengannya!"

"Yeoboo! Jangan sekali – kali berpikiran seperti itu! Sudah terekam jelas diwajah Mark, kalau dia sangat mencintai Jinyoung, bahkan, dia lebih bahagia bersama Jinyoung dibanding bersama kita!"

"Ani.. Jinyoung dan Park Minwoo, harus musnah." Gumam Ny. Tuan, namun masih bisa didengar oleh Prof. Tuan.

"Tak akan kubiarkan, tanpa mereka, kita juga tidak bisa makan dan tinggal di rumah semegah ini! Mark juga akan bahagia bersama Jinyoung.."

Kriingg ~

Telepon di kamar Tuan itu berdering, karena telepon itu terletak di dekat pintu, Mark yang masih shock dengan pertengkaran kedua orang tuanya tadi langsung bersandar di tembok, perasaannya campuk,

"Yeoboseyo..."

-:_

"MWORAGO!"

-: _

"Baiklah! Cepat kirim alamat rumah sakitnya, aku akan cepat kesana.."

Prof. Tuan menutup teleponnya, ia menghela nafas panjang dan sedikit oleng,

"Y-y-y-yeobo.. Wae geurae?"

Tak lama, telepon itu kembali berdering,

"Ye?"

-:_

"Aku akan segera kesana." Setelah Prof. Tuan menutup teleponnya, ia bergegas untuk berganti baju.

"YEOBEO! Setidaknya jawab aku!" Bentak Ny. Tuan,

"Park Minwoo dan anaknya mengalamai kecelakaan fatal! Di depan persimpangan dekat pasar Jeju. Minwoo meninggal di tempat, dan Jinyoung... Aku tak tahu bagaimana nasibnya." Jawab Prof. Tuan sambil terburu – buru.

"Pastikan Mark tidak tahu tentang ini... Kau tahu kan, kalau sampai Mark tahu.." Prof. Tuan terkesiap, ketika membuka pintu. Mark sudah berdiri dengan mata yang merah dan berair, pipinya pun basah.

"Omo.. Mark, kau belum tidur?" Ketika Ny. Tuan mendekati Mark, bocah itu menatap Ny. Tuan dengan tatapan marah. Setelah itu, ia berjalan kearah ayahnya,

"Ya! Kenapa kau seperti itu dengan ibumu!"

"Ap-p-paa... Jinyoungie, gwaenchana? Dia tidak akan menyusul Minwoo ajhussi kan?!" Isak Mark, tangan kecilnya menarik celana Prof. Tuan yang mengangkat dagunya, ia tidak ingin ikut menangis di depan anaknya.

"APPAA! MALHAEBWAA!" Tangis Mark semakin menjadi,

"Sajangnim, mobilnya sudah siap." Kata salah seorang bodyguard pada Prof. Tuan, ia mengangguk sambil berjalan cepat dan menyingkirkan Mark kecil. Sementara Mark masih menangis dan mengejar ayahnya, di belakang Mark, Ny. Tuan juga ikut mengejar,

"Appaaa! Aku ingin bertemu jinyoung, aku merindukan Jinyoung appa..."

Prof. Tuan yang sudah mulai menangis terus berjalan, ia tidak kuat memandang Mark yang pastinya ikut terluka,

"Appa... Bawa aku bertemu Jinyoung."

Walaupun sudah sampai di halaman rumah, Mark masih mengikuti ayahnya, Mark sama sekali tidak mengindahkan panggilan eommanya. Yang ada dipikirannya hanya Park Jinyoung.

Brak.

Prof. Tuan menutup pintu mobilnya cepat, Mark masih mengikutinya dan memukul pintu mobil itu.

"Appa.. Aku ingin bertemu Jinyoung, aku mencintai Jinyoung appa!" Tangis Mark membuat airmata Prof. Tuan semakin menjadi. Dalam hati, ia berdo'a agar Jinyoung masih bisa diselamatkan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Mark kehilangan Jinyoung.

"Jalankan mobilnya."

"Apppaaa... Aku rindu Jinyoung! Aku ingin bertemu dengannya, Jinyoung tidak akan mati.."

Ketika Mark berusaha mengejar mobil Prof. Tuan, Ny. Tuan berhasil menahan Mark, walaupun bocah itu terus melonjak. Karena kesal, Ny. Tuan menepuk mulut Mark,

"Diamlah! Kalau Park Jinyoung mati, biarkan! Mau dia mati, atau hidup, bukan urusanmu! Kau masih anak kecil... Tidak tahu apa – apa tentang cinta."

Bentakan dari sang ibu membuat Mark terkesiap, ia menatap eommanya tajam. Ia masih tak habis pikir, kenapa ibunya menginginkan Jinyoung mati,

"Lepaskan aku eomma.. Aku ingin tidur."

Dengan masih sesegukan, Mark berjalan masuk ke kamarnya. Sementara sang ibu berdecih melihat perilaku anaknya,

"Lihat saja anak itu, kalau sampai Park Jinyoung."

Di kamar, Mark kecil memandangi foto Mark kecil, walapun masih 6 tahun, tidak salahkan kalau mereka sudah tahu apa itu kematian? Mark takut, ia kehilangan Jinyoung. Jinyoung adalah sahabat terbaiknya, Mark akan selalu merindukan Jinyoung disaat dia tidak bertemu dengannya. Akhirnya, Mark kecil menyilangkan kedua telapak tangannya di depan dada, matanya tertutup , mulutnya mengatakan sesuatu.

"Tuhan... Aku menyayangi Jinyoung, seperti menyayangi eomma, appa dan juga Minwoo ajhussi. Kalau Minwoo ajhussi sudah meninggal. Jangan sampai itu juga terjadi pada Jinyoung... Aku ingin menikah dengan Jinyoung, dan hidup bahagia. Hikss... Jinyoung jangan sampai meninggal, aku tidak mau berpisah dengan Jinyoung. Hiksss... Jinyoung – ah."

Sebuah kecelakaan merengut nyawa seorang penemu hebat, insinyur teknologi yang disegani banyak orang. Mobil yang terdapat Jinyoung di dalamnya lah yang menjadi korban. Truk tronton berwarna putih itu mengalami rem blong, Minwoo mengerem mendadak. Namun, mobil itu justru 'terbang' menabrak truk itu dan terlempar sejauh 20 meter, mobil hitam sport itu juga terbalik sebanyak 3 X dan akhirnya. Nyawa Minwoo harus terengut saat itu juga, Minwoo meninggal dalam keadaan memeluk Jinyoung. Sementara bocah kecil nan manis itu terkena benturan hebat, ia koma, dan matanya harus di operasi karena terkena pecahan kacamata yang ia pakai sebelumnya. Dokter sendiripun masih meragukan apakah bocah cilik itu bisa selamat, pendarahan hebat juga terjadi kepalanya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kelanjutan bocah malang itu.

Ketika datang, rumah sakit itu terlihat lengang. Seperti tidak terjadi apa – apa, dan seorang lelaki yang mungkin bawahan Minwoo mendatanginya. Lelaki itu membimbing Prof. Tuan untuk melihat apa yang terjadi.

Pror. Tuan terkesiap. Sahabat baik yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, kini sudah terbaring tanpa nyawa. Minwoo telah tiada, rasanya, baru kemarin ia mengenal Minwoo yang culun dan sering dibully senior lain, dan kini? Begitu cepatnya Minwoo meninggalkan dia. Perusahaan Prof. Tuan juga terkenal karena inovasi penemuan Minwoo, penemuan yang menguncang dunia.

Pikiran Prof. Tuan masih blank, ia masih tidak percaya kalau Minwoo kini tinggal tersisa jasadnya saja. Bendungan di mata Prof. Tuan jebol, ia tidak bisa menerima kenyataan ini, tadi 3 jam yang lalu, Minwoo masih duduk dengannya. Meminum kopi bersama, melihat kedua anak mereka bermain, baru tadi, Minwoo pamit pulang. Dan berjanji pada Mark akan datang lagi besok bersama Mark. Semua janji itu musnah, Minwoo telah tiada. Prof. Tuan terjatuh begitu saja, lelaki berkepala 4 itu menangis. Sahabatnya telah tiada,

"Yaa! Park Minwo... Sadarlah, kacamatamu bahkan belum terjual." Ujar Prof. Tuan sambil menangis.

"Ayooo... Kita minum soju bersama, hutangmu masih belum lunas Park Minwoo..."

Orang – orang yang ada di sekitar sana ikut menangis. Mereka seakan – akan tahu apa yang dirasakan oleh Prof. Tuan sekarang.

"Minwoo – ya! Bagaimana nasib Jinyoung dan Mark! Kau bahkan tidak bisa melihat mereka tumbuh besar dan menikah! Minwoo – ya.. Ireona, jangan tidur terlalu malam.. Ayo minum bersama, Minwoo – ya!"

Malam itu merupakan malam paling kelam bagi Prof. Tuan dan orang – orang yang bekerja di sekitanya. Prof. Tuan juga bingung, tidak ada orang yang bisa menggantikan Minwoo.

Setelah itu, ia menuju ICU, tempat Jinyoung dirawat, hati Prof. Tuan rasanya teriris saat itu juga. Anak kecil yang terbaring tak berdaya itu yang mengambil hati Mark, putranya sendiri. Ia tak bisa membayangkan kalau sampai Jinyoung menyusul ayahnya.

"Kondisinya sangat parah Profesor. Kami hanya bisa membantunya bertahan. Ada banyak sekali benda yang membentur kepalanya, kalau sampai 2 hari ia tidak di tangani, kondisinya akan sangat banyak. Rumah sakit ini minim alat, kalau Profesor berkenan, kami bisa membawanya ke Seoul saat ini juga." Terang seorang dokter yang menangani Jinyoung. Prof. Tuan memijat kepalanya, mata sembabnya menatap tubuh kecil Jinyoung yang tergeletak lemah tak berdaya.

Hatinya mantap. Ia akan memulai kehidupan baru dan meninggalkan dan meninggalkan ini,

"Baiklah, bawa Jinyoung ke Seoul sekarang."

Upacara pemakaman Minwoo berlangsung cepat dan sederhana. Pembakaran jasad Minwoo sendiri dilakukan pukul 5 pagi tadi. Setengah abu kremasinya dibuang di Jeju, dan sisanya disimpan dibawa Seoul oleh teman SMA Minwoo. Pukul 07.00 pagi tadi, Prof. Tuan sudah sampai di rumah, ia bisa melihat Mark yang tampak lesu di meja makan. Biasanya, ia akan bersemangat apabila akan masuk sekolah. Alasannya adalah Jinyoung, namun kini, Mark merasa kehilangan Jinyoung sepenuhnya. Kedua kakak perempuan Mark hanya bisa membujuk adiknya makan, walaupun hanya sedikit. Sambil menghela nafas, Prof. Tuan menarik kursi meja makan,

"Mark, what's happen to you?" Tanya Prof. Tuan. Mark menatap sendu ayahnya,

"You know it appa..." Jawab Mark singkat.

"Setidaknya, makanlah sedikit Mark." Kakak pertama Mark menyahut,

"Dengar! Kau harus makan, anak kecil sepertimu harus banyak makan, jangan pikirkan orang lain, pikirkan dirimu juga." Walaupun tidak dengan nada membentak, perkataan Ny. Tuan cukup membuat Mark kesal.

"Na kkeutnasseo.." Setelah menghabiskan segelas susunya, Mark kecil meninggalkan tempat makan,

"Ya! Mark Tuan! Habiskan makanan dulu!" Seru Ny. Tuan. Sang kakak dan Prof. Tuan terdiam, mereka mungkin lebih mengerti Mark daripada ibunya sendiri.

Mark keluar rumah masih dengan tampang lesu, ia berjalan pelan dengan tas ransel hitam di pundaknya. Mark menghentikan langkahnya ketika melihat Prof. Tuan menunggu di depan mobil pribadinya, Prof. Tuan berjalan mendekati Mark, kemudian menyamakan badannya dengan Mark. Dengan sayang, Prof. Tuan membelai surai rambut Mark,

"Kau sangat merindukan Jinyoung bukan?"

Mata bening Mark berair, ia benar – benar ingin bertemu Jinyoung.

"Ayo ikut appa.."

Dengan 'manut', Mark mengikuti appanya.

Di dalam mobil, Mark hanya diam. Dia masih memikirkan Jinyoung, ia takut kalau tiba – tiba ayahnya membawa dia ketempat abu. Mark takut itu terjadi. Mark mulai berbicara ketika mobil itu berbelok ke arah bandara,

"Appa... Kita mau kemana?" tanya Mark akhirnya. Prof. Tuan tersenyum, ia memegang kedua pipi Mark,

"Bukankah kau ingin bertemu Jinyoung?"

Mark terdiam, "Kita mau bertemu Jinyoung?"Prof. Tuan mengangguk,

"Kita mau ke Seoul, disana, kita bisa bertemu Jinyoung."

Kedua mata Mark terlihat berseri, senyuman kecil muncul diwajahnya,

"Jinjja? Jinyoung baik – baik saja kan?"

"Tentu saja... Dia mungkin akan lebih baik lagi kalau bertemu denganmu." Prof. Tuan mencubit hidung Mark.

Mark sedikit terhibur, ia tersenyum dan memeluk ayahnya,

"Appa.. Tidak membenci Jinyoung kan? Appa, tidak apa – apa kan kalau aku menikah dengan Jinyoung."

Prof. Tuan tertawa dan mengelus rambut Mark,

"Tentu, appa bahkan tidak menginginkan siapapun selain Jinyoung untuk menjadi menantu appa."

"Tapi, kenapa eomma tidak menyukai Jinyoung?"

Prof. Tuan menghela nafas, "Mungkin, eomma belum tahu betapa manisnya Jinyoung itu.."

"Geojitmal, tapi tidak apa – apa kok appa berbohong... Itu untuk membuatku senang kan?"

"Dari mana kau tahu kalau appa berbohong, hmm?"

"Tentu saja aku tahu, aku kan tidak bisa dibohongi."

Prof. Tuan tertawa dan coba menggelitiki Mark, dan sukses membuat Mark tertawa lepas, hingga akhirnya, mobil itu sampai di Jeju International Airport.

Prof. Tuan dan Mark kini telah menginjakkan kaki di Seoul. Mereka harus menempuh 30 menit, untuk menuju rumah sakit tempat Jinyoung dirawat. Got7 University Hospital, disanalah malaikan kecil Mark terbaring. Operasi Jinyoung telah berhasil sejak pukul 06.30 pagi tadi, tepat setelah acara pemakaman selesai. Selama perjalanan di rumah sakit, Mark hanya terlelap tidur, Prof. Tuan sendiri tidak tega membangunkan anak lelakinya itu. Sampai akhirnya, mobil Prof. Tuan sampai di depan gedung megah Got7 University Hospital, dia disambut oleh beberapa orang kenalannya dan bodyguard,

"Mark... Wake up. Kita sudah sampai." Prof. Tuan menggoyangkan tubuh kecil Mark, Mark melenguh pelan. Namun, ia bangun, walaupun mata sipitnya masih mengerjap karena mengantuk.

Dengan pelan, Prof. Tuan menggandeng Mark berjalan memasuki gedung rumah sakit dengan beberapa orang yang mengikutinya dibelakang. Langkah mereka terhenti di lantai 8, disana, ada dokter muda, dokter yang menangani Jinyoung. Dokter itu tersenyum melihat kedatangan Prof. Tuan.

"Ososeyo Professor." Sambut dr. Im ramah.

Prof. Tuan membalas jabatan tangan dr. Im,

"Ye.. Kamsahamnida."

"Bisa langsung masuk ke ruangan saya?"

"Baiklah, chamkaman.."

Prof. Tuan berlutut di depan Mark dan memegang kedua bahu bocah itu,

"Tunggu di sini ya?"

` "Appa..."

"Setelah ini, kita baru bertemu Jinyoung. Eottae?"

Mark mengerucutkan bibirnya, kemudian mengangguk pelan.

Setelah dipersilakan untuk duduk, dr. Im mengambil beberapa berkas milik Jinyoung,

"Matanya sudah berhasil kami operasi. Anehnya, pecahan itu sama sekali tidak merusak sistem penglihatan Jinyoung. Tapi, kami memprediksi akan ada efek lain yang terjadi pada Jinyoung. Dan, kami masih tidak tahu efek apa yang akan terjadi nantinya, baiknya lagi, Jinyoung tidak mengalami gegar otak." Jelas dr. Im panjang lebar. Tapi, Prof. Tuan mengerti,

"Berarti... Jinyoung tidak mengalami masalah pada penglihatannya kan?" Tanya Prof. Tuan,

"Ohh... Tidak, dia sama sekali tidak mengalami gegar otak. Dia bahkan dia mempunyai cedera pada otaknya, walaupun dia terkena benturan hebat." Tukas dr. Im.

Prof. Tuan menghela nafas lega,

"dr. Im, bukankah, kau bertemu dengan Minwoo?" Tanya Prof. Tuan lagi, wajah dr. Im menjadi sedih,

"Kami sangat dekat dari SMA profesor. Dan, aku masih tidak percaya dia pergi terlebih dulu sebelum melihat rumah barunya di Seoul."

Prof. Tuan mengernyitkan dahinya,"Rumah baru?"

"Ahh iya... Minwoo memintaku untuk merahasiakannya dari Profesor. Dalam 2 minggu kedepan, ia akan memulai karir baru di Seoul, ke tempat aslinya. Dia sungkan, terus merepotkan Profesor di Jeju. Jadi rencananya, setelah presentasi kacamatanya, ia akan ke Seoul. Tanpa mengajak Jinyoung, itu alasan kenapa Minwoo membolehkan Jinyoung menginap dengan Mark saat itu. Tapi, semuanya kandas."

"Lalu, bolehkan aku tahu, dimana rumahnya?"

Mark yang sedari tadi menunggu akhirnya bosan. Ia mencoba untuk mengintip apa yang dilakukan ayahnya di dalam. Kaki kecilnya berjinjit untuk mencapai kaca yang ada dipintu masuk ruangan dr. Im,

"Ya! Apa yang kau lakukan?" Seru seorang bocah lelaki seumuran Mark. Mark menoleh kebelakang, dan menatap heran bocah itu,

"Wae? Appaku di dalam." Jawab Mark. Anak itu sepertinya masih curiga dengan mark. Ia akhirnya mendekati Mark dan menatap Mark dari atas sampai bawah,

"Mwo hanenun geoya?" Mark risih dengan apa yang dilakukan bocah itu,

"Kau menunggu mereka berbicara?"

Mark mengangguk.

"Aisshh.. Membosankan! Kau mau melihat sesuatu yang sama sekali tidak membosankan?" Tawar anak itu baik – baik,

"Kau orang asing."

"Ya! Namaku Im Jaebum. Kau pasti Mark bukan? Appa bercerita tentangmu tadi."

Mark hanya membulatkan bibirnya,

"Ayoo! Ku beritahu malaikat kecil di rumah sakit ini."

Mark mengikuti langkah Jaebum dalam diam, ada rasa aneh dalam dirinya, sehingga ia memilih untuk diam dan menurut untuk mengikuti Jaebum. Mereka menyusuri lorong yang tak jauh dari ruangan dr. Im, sampai akhirnya, Jaebum berhenti di depan sebuah ruangan.

"Syuutt.." Jaebum mengisyaratkan untuk diam. Mark yang kebingungan mengangkat kedua alisnya,

"Dia ada di dalam." Ucap Jaebum sambil menunjuk pintu ruangan samping mereka,

Kriett..

Dengan pelan, Jaebum membuka pintu geser ruangan tersebut, Mark hanya mengikuti langkah demi langkah dari Jaebum. Sampai, mereka dihadapkan oleh kaca yang membatasi antara ruang tunggu dan ruangan pasien. Mungkin, agar lebih steril.

"Lihat! Dia malaikat kecil itu. Walaupun wajahnya tidak begitu terlihat, tapi dia manis bukan? Aku tak membayangkan bagaimana kalau dia bangun nantinya, pasti sangat manis." Kata Jaebum tanpa mengalihkan pandangannya dari bocah cilik yang terbaring dengan mata tertutup perban di situ.

Sementara bocah yang satunya terdiam, ia tahu, malaikan kecil yang dimaksud Jaebum siapa. Dan dia juga tahu, bagaimana manisnya malaikat itu kala bangun, tersenyum, marah, atapun menangis. Mark tahu, dia adalah orang yang ingin dinikahi besok, dan kini. Ia terbaring tak berdaya, matanya tertutup perban berwarna putih bersih, namun tak sebersih kulit putihnya, dan juga berbagai macam alat – alat medis. Malaikat mungil itu adalah Park Jinyoung. Entah, Mark harus bagaimana. Ada rasa miris dan sakit melihat Jinyoungnya terbaring seperti itu, namun, ada juga rasa lega, karena Jinyoung masih bisa diselamatkan dan masih tidur tenang dihadapan Mark yang terus terdiam,

"Kenapa diam saja?" Tanya Jaebum yang mulai heran dengan Mark.

Mark hanya menggeleng, rasanya, ia ingin menangis,

"Eh?"

"Wae?"

"Omo.. Abeoji.. Dia bergerak." Telunjuk Jaebum mengarah ke Jinyoung. Mark membulatkan matanya, Jinyoung bergerak, tangannya, dan juga kepalanya sedikit melakukan pergerakan.

"Aku akan panggil abeoji.."

Sepeninggal Jaebum, Mark yang khawatir pada Jinyoung akhirnya masuk ke ruangan steril itu. Tangan kecilnya memegang salah satu tangan Jinyoung, rasanya dingin, tapi justru yang Mark rasakan adalah kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ap-p-pa...." Lirih Jinyoung,

"Jinyoung – ah.." Panggil Mark pelan,

Gotcha!

Jinyoung merespon, kepalanya bergerak kearah Mark dan genggaman tangan Mark dibalas erat oleh Jinyoung,

"Mark hyung?"

"Nde Jinyoung – ah." Sahut Mark,

"Mark hyung, duryeoweosseo.. Semuanya gelap, hikss.. Aku takut.." Isak Jinyoung.

Akhirnya, Mark kecil berusaha untuk naik ke ranjang Jinyoung. Ranjangnya cukup tinggi untuk ukuran anak sekecil Mark, namun, bocah itu tak kehabisan akal. Ia terus berusaha untuk naik. Ia tidak ingin melihat Jinyoungnya menangis,

"Sstt... Uljima." Bisik Mark tepat di telinga Jinyoung.

"Appa kemana hyung?"

"Ada Hyung disini. Jangan takut,"

"Hikss... Appa dimana, aku takutt.."

Saat itu juga, Prof. Tuan, dr. Im, dan Jaebum masuk keruangan Jinyoung. Semuanya kaget melihat Mark, terutama Jaebum, bagaimana bisa?

"Mark!" Panggil Prof. Tuan,

"Appa... Jinyoung menangis.."

dr. Im kemudian menurunkan Mark dari ranjang Jinyoung dan mulai melakukan seperangkat pemeriksaan, dibantu dengan beberapa perawat yang mengikutinya tadi pada Jinyoung. Jaebum kemudian langsung mendekati Mark,

"Apa yang kau lakukan?"

"Memangnya tidak boleh? Jinyoungkan pacarku. Kata ayah Jinyoung, besok aku boleh menikah dengannya." Kata – kata Mark membuat Jaebum bungkam. Ia hanya mengangguk dan pura – pura mengerti.

Setelah menunggu kepastian, perban yang menutupi mata Jinyoung akhirnya dibuka. Entah, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada penglihatan Jinyoung nantinya. Jinyoung mengerjapkan matanya, pandangannya menjadi aneh, dan tangan mungilnya terlihat seperti mencoba meraih sesuatu di depannya, padahal jelas, tidak ada apa – apa,

"Jinyoung – ah.. Apa yang kau lihat!" tanya dr. Im khawatir.

Tak ada jawaban dari Jinyoung,

"Nyoung – ah... Jawab aku. Apa yang sedang kau lihat." Sekali lagi, dr. Im bertanya,

"Seperti memakai kacamata appa.." Jawab Jinyoung dengan nada bergetar.

dr. Im bertopang dagu, ia benar – benar masih memikirkan apa yang harus ia lakukan pada penglihatan Jinyoung,

"Profesor, chip itu ternyata membuat penglihatannya berfungsi sama dengan kacamata yang dibuat Minwoo.."

"Mworago?" Prof. Tuan kaget,

"Aku kasihan pada Jinyoung, aku harus bisa membuat sesuatu yang bisa membuat dia melihat normal."

"Aku akan membantumu.."

Begitu dr. Im dan Prof. Tuan keluar dari ruangan, Mark mendekati Jinyoung yang mulai menangis, dengan cepat, Mark meraih kedua tangan Jinyoung,

"Nyoung – ah.. Nal bwa.."

Mata kucing bocah itu menatap Mark. Mark tersenyum manis,

"Uljima, appa akan melakukan sesuatu agar kau bisa melihat dengan normal. Kalau kau takut, tatap mataku Jinyoung – ah." Kata Mark. Jinyoung kecil tersenyum, setelah melihat Mark, rasanya sudah tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Jinyoung kemudian memeluk Mark dengan erat,

"Gomawo hyung."

'Nyoung – ah, aku berjanji. Aku akan menjagamu sampai mati. Kalaupun kau bukan jodohku, aku akan berusaha memintanya pada Tuhan. Yaksokhaejwo.." _Mark Tuan _

'Gomawo Mark Hyung. Aku hanya bisa membalas kebaikanmu dengan cinta sederhana yang tulus dari hatiku.. Saranghae hyung.' _Park Jinyoung _

Tawurrr authorrr!

Panjang apanya ini namanya -_-

Maaf yaaa readers yang kecewaaaa! Sumpah, author bener – bener cari waktu luang buat nerusin FF absurd ini.. maklum, authornya Mondok #ihh siapa yang tanyak!

Adakah readers yang sama dengan author dsini? Yakk.. kalian pasti ngerti yak gimana rasanya mondok ato tinggal di asrama itu!

Hehehe.. kok palah curhat nggilanii..

Makasih yak. Buat riders jujur yang mauk nge review..

Untuk jumlah chap kedepannya masih belum tahuuu!

Diikuti dan di do'akan saja yak bebsss...

And kkeutkajiiii

Salam review dari little MarkJin.. chapter depan sudah besaaarr lohHhhh! Ati – atii...

Luv you alll