Hari ini, tanggal 31 Juli. Hari yang istimewa baginya dan dua saudara kembarnya. Gadis kecil itu tidak merasa begitu. Harianna Lily Potter namanya, putri bungsu dari pasangan James Potter dan Lily Potter.
Gadis yang lebih suka dipanggil Hara, justru terlihat murung di hari ulang tahunnya. Sebenarnya, ia memang selalu murung setiap harinya. Lagi pula, orang tuanya lebih memperhatikan kakak sulungnya, Harrietta Lyli Potter.
Ia dan Harry James Potter, kakak laki-lakinya, dianggap tidak pernah muncul di dunia ini. Hanya karena kakak sulungnya itu lolos dari sihir hitam You-Know-Who, ia perlakukan istimewa.
Padahal, mereka bertiga lahir di hari yang sama. Mereka bertiga memiliki warna mata yang sama. Hanya saja, di dahi kakak sulungnya itu terdapat bekas luka yang seperti sambaran petir. Tapi, apa karena itu ia harus diabaikan oleh keluarganya sendiri?
Hanya kakak laki-lakinya yang selalu memberinya perhatian. Disaat semua orang menganggapnya tidak ada, kakaknya itu masih memperdulikannya. Padahal, kakak laki-lakinya itu juga selalu diabaikan.
Hara sedang duduk di bawah pohon sendirian di belakang rumah. Ini tempat persembunyian yang sangat aman. Orang-orang tidak akan mencarinya kesana, karena memang mereka tidak mencarinya.
Lagi pula, ia menghilang sekalipun, orang-orang tidak akan menyadarinya. Hanya satu orang yang bisa menemukannya di sini, hanya satu dan itu adalah kakaknya.
"Kau tidak masuk?"
Suara itu tidak mengejutkan Hara. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Karena hanya satu orang yang bicara padanya dengan kasih sayang itu.
Hara menggeleng, "Tidak. Lagi pula, aku tidak dibutuhkan di sana."
Harry duduk di samping Hara, "Tapi ini hari ulang tahunmu, di sana juga pesta ulang tahunmu."
Ya benar, ini hari ulang tahunnya yang ketujuh. Dan pesta ulang tahun di sana jelas bukan miliknya. Itu hanya milik Harrietta, kakak sulungnya.
"Itu pesta kakak juga."
Harry membelai surai kecoklatan itu, "Kakak akan merayakannya kalau kau juga di sana."
Hara menatap kakaknya, dua pasang mata emerald itu saling bertemu. Akhirnya, Hara menghela nafas dan mengangguk.
"Kakak duluan saja, nanti aku menyusul."
Harry mengangguk, beranjak meninggalkan adik tersayangnya.
"Siapa yang kau temui di sana?"
Harry sangat mengenal suara itu, suara sahabatnya, Draco Malfoy. Harry tersenyum simpul, "Seseorang yang mirip denganku tapi kau tidak mengenalnya."
Harry berjalan melewati Draco yang masih berpikir. Akhirnya, ia melangkahkan kakinya menuju sebalik pohon.
Yang pertama kali dilihatnya adalah seorang gadis bersurai kecoklatan. Mata emerald dan iris kelabu itu saling bertemu.
Tanpa Draco sadari, ia telah terjebak dalam pesona sang gadis. Perasaan yang tak wajar untuk anak tujuh tahun seperti dirinya.
"Kau siapa?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Draco.
Hara tersenyum miris, "Hara, Harianna Potter."
Draco terkejut, ia tidak pernah tahu jika sahabatnya itu memiliki adik perempuan.
"Aku paham kau pasti terkejut. Orang-orang di luar sana, hanya mengenal Harrietta Potter sang pahlawan. Bukan diriku yang tidak pernah dianggap di dunia ini."
Ucapan Hara mengembalikan kesadaran Draco. Draco duduk di samping Hara, "Kenapa kau bilang seperti itu?"
Hara menatapnya lagi, "Karena yang aku katakan itu adalah kebenaran."
Draco semakin terpesona. Tidak perlu waktu lama, mereka menjadi teman baik. Dan sejak hari itu, mereka selalu bertemu di belakang rumah keluarga Potter.
Lost Sister
Chapter 1 : Gadis yang Terlupakan
A Harry Potter Fanfiction
Harry Potter J.K Rowling
Story by ChocholateCaramel
Warning : OC(s), OOC, twin Harry, typo(s)
Happy Reading
"Draco, son. Mum ingin bertanya padamu."
Narcissa bertanya pada putra tunggalnya itu. Draco mengangguk, "Tentu saja, mum."
"Kenapa, kau jadi sering keluar rumah?"
Draco bingung harus menjawab. Tidak mungkin ia bilang menemui gadis yang disukainya.
"Err ..itu."
Narcissa tersenyum geli melihat putranya yang salah tingkah. Sebenarnya, kemarin ia melihat putranya bicara dengan seorang gadis yang belum pernah dia lihat. Bukan hanya kemarin, hari-hari sebelumnya juga. Draco seperti sedang bercanda dengan gadis yang sama setiap harinya.
"Kalau kau tidak mau menjawab juga tidak masalah." Narcissa mengacak-acak rambut pirang platina milik putranya.
Lalu melangkah meninggalkan Draco. Tapi sebelum itu, ia memanggil Draco.
"Draco."
"Yes, mum?" balas Draco.
"Katakan pada gadis yang selalu kau temui, kalau kau tidak bisa menemuinya seminggu kedepan. Ingat, kita akan pergi ke Jepang lusa."
Draco terkejut, bagaimana ibunya bisa tahu? Ia dapat merasakan pipinya memanas.
Ibunya sudah tahu kebiasaannya itu?
"Kau akan pergi ke Jepang?"
Draco mengangguk. Ia dapat melihat kekecewaan di mata Hara.
"Apa kau baik-baik saja?"
Hara mengangguk, "Tidak masalah, pergilah. Asal di hari ulang tahunku, kau akan menemuiku."
Draco mengangguk, ia ingat benar hari ulang tahun Hara. Karena saat itu, ia pertama kali bertemu dengan gadis di depannya.
"Apa kau tahu? Aku selalu ingin pergi ke Jepang."
"Benarkah?" tanya Draco memastikan.
Hara mengangguk, "Tentu saja. Itu salah satu impianku."
"Apa kau ingin aku membawakan sesuatu untukmu?"
Hara memandang Draco, "Tidak. Cukup kau berjanji kalau kita akan bertemu lagi, itu sudah cukup."
Draco tertawa, ekspresi yang sangat langka untuk seorang Malfoy. Dan Hara menyukai yaaa Draco. "Tentu saja! Kita pasti akan bertemu lagi."
Hara ikut tersenyum mendengarnya.
Dari kejauhan, Narcissa ikut tersenyum melihat putranya yang tersenyum. Ia yakin, gadis yang bersama Draco saat ini mampu membawa pengaruh baik untuk Draco. Narcissa juga dapat melihat, kalau putranya itu memiliki perasaan spesial untuk gadis itu.
Ah, ia ingin segera mengenalnya.
Hara tidak bisa berhenti tersenyum hari ini, dan itu membuat Harry heran dengan tingkah adiknya itu. Hari ini, hari ulang tahunnya. Sebelumnya, ia tidak pernah merasa begitu senang seperti saat ini.
Bukan karena besok hari ulang tahunnya, melainkan Draco yang akan menemuinya besok. Ia tidak menginginkah hadiah-hadiah yang orang-orang berikan pada kakak sulungnya, karena ia punya hadiah lebih indah dari semua itu.
Dan Hara pastikan, kakak sulungnya itu tidak akan mendapatkah hal yang ia dapat nanti.
Di luar sana, persiapan pesta sudah di mulai. Hara tetap tidak ingin turun, tetapi Harry memaksanya. Jadilah, sekarang ia menatap bosan pada pesta yang ramai ini. Melihat anak-anak itu mengelilingi kakak sulungnya. Sementara dirinya berada di sudut ruangan dan sibuk mencari. Mencari keberadaan orang dirindukannya.
Padahal pestanya masih besok, tapi tamu sudah berdatangan hari ini. Setelah benar-benar merasa bosan, Hara melangkahkan kaki menuju gudang.
Tempat yang terlupakan. Ruangan pengap dan minim pencahayaan. Tapi, ini adalah ruangan kesayangan Hara. Di tempat ini, dunia adalah miliknya sendiri. Menjadi apapun yang dia inginkan, tanpa harus merasakan rasa iri.
Di sinilah dirinya sekarang. Berdiri di depan cermin yang sudah usang. Sinar mentari menerobos masuk dan menimpa wajah cantik itu. Ia tersenyum. Andai saja dia tahu, jika senyum itu dapat membuat siapapun terpesona.
Lalu apa yang dia lakukan di depan cermin ini? Dia akan menari dan bernyanyi dengan pelan. Menyanyikan lagu milik idola favoritnya. Idola yang membuatnya sangat ingin pergi ke Jepang.
Ia terus menari, tanpa menyadari sepasang mata yang memperhatikannya. Hara mengakhiri tariannya.
Suara tepuk tangan yang menggema itu mengalihkan perhatian Hara. Seorang pria seusia ayahnya sedang berjalan ke arahnya dengan senyum menghiasi wajahnya.
Hara merasakan dadanya bergetar. Sebelum ini, tidak ada yang tersenyum seperti itu padanya, kecuali Harry dan Draco.
"Siapa namamu, nak?"
Hara merasa ragu untuk menjawab, namun akhirnya ia menjawab juga. "Hara, Harianna Potter."
Pria itu tampak terkejut dan Hara sudah menduga reaksi yang akan ditunjukkan.
"Nah, Hara. Nama uncle, Severus Snape. Kau bisa memanggil uncle Sev."
Tapi Hara tidak ingin memanggilnya seperti itu dan dia menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak mau? Lalu kau memanggilku apa?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Hara mendongak. "Dad ... bolehkah?"
Wajah Severus menatap Hara dengan pandangan tak percaya. Ini adalah pertemuan pertama mereka dan ia sudah sangat menyayangi gadis di depannya.
Severus mengangguk, "Tentu saja."
Senyum Hara mengembang. Wajahnya bisa membuat siapa saja jatuh cinta padanya. Severus dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah polos itu. Ia membelai surai kecoklatan milik Hara.
Gadis yang dia anggap seperti anaknya sendiri.
Pagi harinya, Hara terbangun karena suara ribut dari luar. Hari ini pesta ulang tahunnya dan tidak ada yang menyadarinya.
Baru saja membuka pintu kamarnya, pemandangan yang didapatnya sangat menyesakkan. Di seberang sana, kakak sulungnya mendapat kasih sayang yang belum pernah Hara dapatkan.
"Menyedihkan," gumam Hara.
Langkah Hara terhenti saat mendengar percakapan orang-orang yang tidak dikenalnya.
"Aku dengar, Harrietta Potter memiliki dua saudara kembar."
Salah satu dari mereka tampak terkejut, "Eh. Benarkah?"
"Paling hanya gosip saja, kita bahkan tidak pernah melihat mereka."
Mendengar hal itu, entah kenapa, Hara melangkah menuju lantai paling atas. Ruangan yang belum pernah dia kunjungi. Tempat silsilah keluarga Potter.
Mata emerald itu menatap nanar pada silsilah di depannya. Ia bisa lihat namanya di sana. Sayangnya, nama itu tercoret. Hara tidaklah bodoh untuk mengetahui maksudnya.
Dia, Harianna Lily Potter, bukanlah seorang Potter. Lalu, dia ini siapa? Untuk apa tinggal di sini? Dia tidak menyalahkan kakak sulungnya, tapi dia menyalahkan dirinya yang sudah terlahir di dunia ini.
Hara mengambil pisau yang ada di sudut ruangan. Merusak nama yang terukir di silsilah itu. Merusak nama yang sudah dicoret itu. Pisau itu mengenai jari tangan Hara, darah yang keluar dengan deras itu tak dihiraukannya.
Mengenai lantai dan membuat noda permanen di sana. Hara menancapkan pisau itu pada silsilah tepat pada namanya.
"Aku ini, sangat menyedihkan."
Dengan tekad yang matang, Hara berjalan menjauh dari silsilah keluarga Potter. Berjalan menuju kamar dan mengambil selembar kertas. Menuliskan sesuatu di sana dengan darahnya yang mengalir.
Meletakkan suratnya di pohon belakang, langkahnya lurus ke depan. Memasuki hutan gelap dan tidak lagi menoleh ke belakang. Berjalan tanpa arah dan tujuan.
Mungkin ini akhir kisah hidupnya? Rasanya, sangat menyedihkan.
Lost Sister
*TBC*
A/N :
Halo semuanya. Ini fic pertama aku, jadi mohon bantuannya. Review di tunggu *
Love,
Chocholate Caramel
