hallo assalamualaikum hehe
saya kembali lagi dengan am i? chapter kedua. saya benar-benar mengucapkan terimakasih banyak pada reviewers followers dan favoriters(?) pada FF saya yang abal dan ecek-ecek ini. untuk Chapter ini akan lebih pendek dari yang pertama. dan saya mohon sekali lagi DON'T BE SILENT READERS okay? karena review yang kalian berikan merupakan suatu penghargaan bagi karya yang telah saya buat dan membuat saya semakin bersemangat untuk meng-update chapter chapter berikutnya.
chapter 2 ^ focus on Baekyeol
WARNING BOYS LOVE!
DISLIKE? KLICK 'BACK' BUTTON
LIKE? HAPPY READING(?)
.
.
.
.
Seluruh panca inderaku seakan tidak berfungsi. Bahkan kelopak mataku sulit berkedip barang sekali. Dari ujung mataku, aku menangkap sedikit tetesan air hujan mengalir tanpa suara di kaca jendela mobil Chanyeol. bibirku bergerak sedikit, terlalu sulit mengungkapkan apa yang seharusnya aku katakan. Apa aku harus senang ada seseorang yang menyukaiku? Atau sedih mengetahui bahwa seorang laki-laki lah yang menyukaiku? Atau justru jijik pada Chanyeol yang baru saja beberapa hari menjadi temanku?
Ingin rasanya aku membuka pintu mobil ini dan keluar berlari meninggalkan chanyeol. tapi kaki ku seperti lumpuh, Chanyeol menatapku, tepat di manik mataku. Kedua alisnya terangkat seakan berharap aku mengatakan sesuatu.
"Baek?" Chanyeol membuka suara
"Yeol, kau..."
"ya, Baek." Chanyeol memotong kalimatku. "aku sama seperti kakakku, juga teman-temanku yang lain. Kami penyuka sesama jenis. Dan aku menyukaimu sejak kita datang terlambat di hari ospek pertama. Aku mengamatimu. Bahkan aku mengikutimu, memastikan kau sampai dirumah dengan selamat saat kau menolak ajakanku untuk pulang bersama tadi siang. Baek, aku rasa aku sudah tidak perlu menyembunyikan pribadiku yang sesungguhnya dibelakang kedua orang tuaku. Karena aku sudah menemukanmu. Aku mencintaimu, Baek. Mungkin ini terlalu cepat tapi aku tidak menuntut balasan atas perasaanku darimu sekarang" Chayeol begitu lancar mengatakan kata demi kata. Sedangkan aku mencoba mencerna ucapannya dengan teliti. Terkejut? Tentu saja. Kau bisa bayangkan seseorang yang baru saja kau kenal menyatakan perasaan cintanya padamu dan dia adalah seorang penyuka sesama jenis. Apa yang harus aku katakan? Apa yang harus aku lakukan? "Jika kau perlu waktu untuk menyadari bagaimana perasaanmu padaku, aku akan menunggunya."
Selama yang aku mau? Bagaimana jika aku adalah laki-laki normal dan bukan seorang gay seperti Chanyeol dan teman-temannya? Apa dia akan setia menunggu untuk selalu mencintaiku?
"Kim Yejin.."
"ah..ya. Kim Yejin. Dia temanku sejak kami duduk di bangku SMA. Dia bahkan mengetahui hal ini sejak awal. Aku tidak ingin berbohong padanya. Karena kami berteman sudah lama. Dia bilang dia menyayangiku dan berusaha membuatku mencintainya. Tapi sampai enam bulan kami berhubungan aku belum merasakan apapun ketika bersama dengan Yejin."
"bagaimana dengan orang tuamu?"
"orang tuaku mengetahui hubungan Lay hyung dengan Suho hyung. Umma dan appa sebenarnya merasa sedih mengetahui kakakku adalah seorang gay. Umma menaruh harapan besar padaku untuk menjadi anak yang baik dan menjalani kehidupan yang normal. Suatu saat Yejin menyatakan perasaannya padaku, dan aku menerimanya. Itu semata hanya untuk kedua orang tuaku. Aku pikir dengan menjalin hubungan dengan Yejin dapat merubahku menjadi normal, tapi setelah aku bertemu dengan mu perasaanku tidak dapat menolak lagi. Aku adalah gay. Dan aku mencintaimu, Baek."
Sialan!
Otakku berseluncur memenuhi rongga mulutku. Aku menunduk. meremas kedua lututku, lemas. Diluar sangat dingin ditambah dengan rintik hujan yang sedari tadi menemani kami berdua didalam mobil.
"Chanyeol, maafkan aku. Aku tidak menyangka sejauh ini kau begitu memperhatikan ku. Dan terima kasih atas kebaikkan yang selama ini kau tawarkan tapi maaf, aku normal Chanyeol. Aku bukan sepertimu atau kakakmu atau teman-temanmu. Suatu saat nanti kita akan menikah, Yeol. Dengan pasangan kita masing-masing tentu saja. Dan tidak selamanya hubungan seperti yang kakakmu lakukan akan abadi. Maksutku ini masih sangat tabu untukku. Aku tidak terbiasa bahkan aku tidak pernah sedikitpun berpikir untuk melakukan hubungan seperti ini."
Chanyeol menunduk, seolah tahu dan tidak ingin mendengar apa yang akan aku katakan. Aku meletakkan telapak tanganku di pundak kirinya, meremasnya pelan.
"Suatu saat nanti kau akan benar-benar mencintai Yejin. Lalu hidup dengan bahagia bersamanya. Yejin terlihat seperti perempuan yang baik" Chanyeol mendangak.
"ya. Dia memang baik, sangat baik. tapi jika kau membutuhkanku untuk keperluan apapun, hubungi aku, Baek."
Aku tersenyum lembut. Menepuk pundaknya dua kali lalu berbalik ingin membuka pintu mobil. Ingin rasanya kakiku menginjak tanah dan menghirup udara diluar. Didalam mobil berdua dengan Chanyeol membuatku dadaku sesak. Belum sempat jari ku menyentuh knop pintu suara Chayeol mengagetkanku.
"tunggu. Biar aku yang membukakan untukmu." Mulutku terbuka membentuk huruf 'O'. dengan gerakan cepat Chayeol keluar dari mobil dan memakai topinya dengan benar untuk menghalangi tetesan air hujan menyentuh wajahnya. Aku mengamatinya, dia berlari kecil berputar didepan mobil lalu membuka pintu mobil untukku dengan senyumnya yang bodoh seperti biasa.
Kami kembali ke gazebo. Dan sialnya kami seperti orang bodoh dengan menyaksikkan adegan Kai dan D.O yang bergitu errr tidak senonoh untuk dipublikasikan. Bisakah kau bayangkan Kai yang duduk di sebelah kanan D.O menekan tengkuknya lalu menciumnya dengan kasar tepat di bibir D.O dan dengan polosnya D.O menerima perlakuan Kai dengan wajah yang bersemu merah serta tangan kiri yang melingkar luwes dileher Kai sesekali meremas-remas rambut Kai hingga berantakan. Dan anehnya semua orang yang berada di tempat ini tidak ada yang memperingatkan. Aku menundukkan kepala sambil mencari tempat duduk yang kosong di gazebo ini bersama Chanyeol. Oh Ya Tuhan aku mohon jangan hukum aku yang tidak sengaja melihat sepasang laki-laki bercumbu dengan asyiknya tanpa memperdulikan orang lain.
Aku mengambil tempat duduk di sebelah kiri Lay hyung. Dia masih saja setia memeluk lengan Suho hyung dengan manja. Suho benar-benar terlihat seperti suami yang sangat menyayangi istrinya. Saling menatap mata satu sama lain dan tidak jarang Suho menyentuh gemas lesung pipi Lay gemas saat Lay tersenyum disela pembicaraan mereka. Melihat mereka aku teringat dengan kata-kata Chanyeol tentang orang tua mereka. Mau bagaimana lagi, cinta memang buta.
Hingga pukul 23.00 aku, Chanyeol, Chen dan Xiumin asyik membicarakan tentang kesukaan masing-masing. Sementara di sebrang kami aku melihat Kris dan Tao sedang berbincang santai satu sama lain, tapi tunggu sebentar, Tao selalu saja menundukkan kepalanya bahkan saat menjawab setiap pertanyaan yang Kris utarakan. Apa Tao takut dengan perawakan Kris yang tinggi besar dan terlihat Badboy seperti itu? Entahlah biarkan mereka saling mengenal satu sama lain. Kai dan D.O sudah pergi ntah kemana mereka sekarang. Di persewaan kamar mungkin? Aku terkikik sendiri memikirkan hal seperti ini yang seharusnya aku tidak memikirkannya.
24 nov 2013
dua bulan berselang setelah Chanyeol menyatakan perasaannya padaku. Kami memutuskan untuk berteman akrab. Dia selalu menempel dimanapun aku berada. Di kelas dia selalu duduk disebelahku atau dibelakangku. Di kantin dia selalu menggandengku kemana-mana. Sebenarnya aku merasa risi dengan tatapan aneh dari banyak orang tapi Chanyeol seperti hidup didunia tanpa ada orang lain selain diriku. Setiap pulang kuliah dia selalu menawarkan tumpangan untuk pulang bersama, tapi aku menolaknya dengan alasan aku pulang bersama Chen. Dan dia tidak keberatan.
"Baek, apa hari ini kau ada kelas lagi?"
"tidak. Ini matakuliah terakhirku hari ini. Kenapa?"
"aku hanya ingin mengajakmu makan siang denganmu. Aku mohon sekali saja terima tawaranku. Bukankah kita teman?" yaampun dia seperti anak kecil yang merengek memohon pada ibunya untuk dibelikan mainan baru.
"bagaimana jika nanti sore? Aku ada tugas yang harus segera diselesaikan untuk esok hari."
"sore? Hm baiklah. Aku jemput dirumahmu jam empat. Okay?" Raut wajahnya berubah dengan cepat. Sumringah seperti biasanya.
"kau tahu dimana rumahku?"
"kau lupa bahwa aku seorang penguntit?" ah benar. Chanyeol pernah mengatakan hal ini sebelumnya. "jadi sampai jumpa sore nanti, Baekki."
Chanyeol mengacak rabutku pelan lalu berbalik meningalkanku menuju tempat mobil merahnya terparkir. Dan apa dia bilang? Baekki? Panggilan macam apa itu? Bahkan ibuku jarang sekali memakai panggilan baekki padaku. Lalu kenapa jantungku memanas saat Chanyeol mengusap puncak kepalaku? Apa aku mulai tidak normal? Oh astaga aku harus segera memeriksakan diri kedokter psikiater.
Pukul 14.50. Baru saja aku mematikan laptop dan meregangkan otot-otot punggunggku yang kaku. Membereskan kertas-kertas dan buku catatan ku lalu memasukkannya kedalam tas. Aku membuka pintu kamarku yang payah ini, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah penat mengetik laporan praktikum yang kurasa membuat banyak kerutan didahiku.
Aku turun kelantai dasar. Seperti biasa ibu sedang sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam. aku berjalan pelan dibelakang ibu yang terlalu fokus membaca resep di buku yang ia pinjam dari nyonya Choi, tetangga kami. Sampai akhirnya ia terkejut dengan suara botol kaca yang saling menumbuk karena pintu lemari pendingin yang aku buka.
"hai, bu. Seperti biasa?" aku menggapai gelas diatas lemari pendingin dan mengisinya dengan air putih. ibu berbalik kearahku.
"ya, sayang. Aku selalu tidak pernah memahami jenis masakan berkuah santan. Aku selalu belajar tetapi tidak pernah berhasil." Ibu mengangkat buku resepnya dan mengayun-ayunkan nya saat ia menjelaskan. Ekspresinya sedih seakan sampai seratus tahun mendatang pun ia tidak akan biasa berhasil membuat masakan yang ia idamkan.
"kenapa tidak beli saja, bu?" aku meneguk air dalam gelas.
"masakan bersantan kesukaan appamu, sayang. Aku harus bisa memasaknya sendiri dan aku ingin masakan favorit appamu yang ibu buat dipuji." Umma benar-benar seperti remaja sekolah menengah yang memasakkan bekal untuk kekasih barunya.
"oh ya, bu. Malam ini aku tidak makan dirumah. Seorang teman mengajakku pergi sore ini."
"seorang teman? Apa kalian berkencan?"
"tidak, bu. Namanya Chanyeol. kami teman satu kelas dikampus."
"oh laki-laki rupanya. Baiklah, makan yang banyak tinggikan sedikit badanmu seperti appamu. Dia tampan tinggi dan sangat pintar. Pintar di segala bidang. Akademis, musik, olahraga ambhfjkvagwyiklahgiar..." ibu mulai lagi.
"ya ya ya, bu. Cukup. Aku sudah mendengarnya ratusan kali. Aku mandi dulu." Aku meninggalkan ibu naik kelantai dua, dia merengut. Kkk ibuku yang lucu.
"Baekhyun sayang, tolong bukakan pintu. Dilluar ada suara mobil parkir. Mungkin temanmu." Suara ibu selalu memekakan telinga, bahkan aku yang sedang sibuk membelitkan handuk dikamar mandi mendengarnya dengan jelas.
Keluar dari kamar mandi, aku melirik jam dinding yang menggantung di atas meja belajarku. Masih jam setengah empat. Apa benar Chanyeol sudah datang? Aku keluar kamar hanya dengan handuk yang melingkar ringan menggantung dipinggulku. Bahkan rambutku masih basah kuyup karena air yang belum sempat aku keringkan.
Buru-buru aku mengecek halaman depan rumah. Mengintip dari jendela sebelah pintu utama. Dan benar Chanyeol sudah datang. Setengah jam lebih awal dari perjanjian. Dia menangkap bayanganku dari balik jendela lalu melambaikan tangannya tinggi-tinggi dengan gembira. Aku tersenyum dalam sepersekian detik lalu jantungku seperti berhenti, mengingat aku hanya mengenakan handuk untuk menutup bagian bawah tubuhku. Aku berbalik, lari kelantai dua secepat yang aku bisa.
"Bu! Tolong bukakan pintunya sesibuk apapun dirimu. Aku mohon. Aku telanjang!" aku berteriak sekeras mungkin agar ibu bisa mendengarnya.
"Ya Tuhan, sayang. Baiklah cepat kenakan pakaian mu." Aku membuka lemari menarik keluar kaos putih dari tumpukan pakaian disebelah kanan. Memakainya dengan buru-buru lalu melepas handukku dan membuangnya asal. Aku mencari celana jeans terbaikku yang biasa menggantung di balik pintu kamar, memakainya dengan cepat lalu bercermin menata rambut ku yang masih basah.
"Kenapa juga Chanyeol harus datang secepat ini. Jika dia datang jam empat tepat, pasti penampilanku bisa lebih baik dari ini." aku menggerutu merutuki Chanyeol yang dengan seenaknya membuat orang merasa tergesa-gesa.
"Baekhyun sayaang. Temanmu menunggu. Tidak baik membuat orang menunggu terlalu lama." Ya ampun, bu biasakah tidak berteriak? Dan bukan aku yang terlalu lama, tapi Chanyeol yang terlalu cepat.
"sebentar." Aku mengambil topi putih yang ada dirak sebelah pintu kamarku. Karena rambutku masih basah jadi aku mengibas-kibaskannya ke rambutku agar cepat kering. Aku tidak tahu apa ini berpengaruh, tapi ya siapa tahu bekerja dengan baik.
Sampai di ruang tamu aku menemukan ibuku dan Chanyeol berbincang dengan antusiasnya. Aku mengernyit melihat ibu, ekspresi wajahnya tidak dapat diartikan. Lebih dari kata sumringah seperti yang sering aku gambarkan padamu saat melihat Chanyeol.
"bu." Aku menginterupsi perbincangan mereka.
"oh Baekhyunku sayang." Ibu, ada apa denganmu. "temanmu ini sangat mirip dengan appamu saat masih muda. Tinggi, tampan dan cute menjadi satu dan dia bilang, dia pandai bermain gitar dan drum. Oh betapa aku merindukan masa-masa mudaku, Baekhyunie."
Ibu sepertinya kehilangan kesadaran. Dia nampak sangat senang melihat Chanyeol yang disebut-sebut mirip dengan appa masa dulu.
"dan aku juga bisa bermain basket lho, bi." Tuhanku, betapa bodohnya Chanyeol yang tidak mengetahui betapa berlebihannya sikap ibuku.
"oh ya? Wah pasti banyak wanita yang memuja mu. Kau semakin mirip dengan appa Baekhyun." Ibu mengusap pipi kiri Chanyeol seakan Chanyeol adalah anak kandungnya yang selama ini hilang entah kemana. "benar begitu kan, Baekhyunie?"
Apa? Mana kutahu appa di masa muda seperti apa.
"tidak. Aku tidak tahu. Sudahlah ibu lanjutkan memasakmu. Aku pergi dulu bersama Chanyeol. aku pulang pukul 10. Jangan kunci dulu pintunya" aku memeluk ibu.
"kami pamit pergi dulu, bi. Aku akan menjaga Baekhyun dengan hati-hati." Chanyeol meringis lebar pada ibuku. Dan ibuku sangat menyukainya. Ya ampun.
"hati-hati kalian. Baekhyun makan yang banyak, ya sayang"
Rasanya sangat lega memisahkan ibu dengan Chanyeol. mereka terlalu berisik untuk dipertemukan kembali. Kini aku dan Chayeol berada dalam satu mobil yang sama saat malam inagurasi. Memori saat Chanyeol mengungkapkan rahasia pribadinya padaku dan menyatakan perasaannya kembali terlintas di pikiranku.
"Baek, kau terlihat lebih imut dari biasanya."
"ya? Oh. Terimakasih, Yeol." Tidak sadar aku tersenyum kecil mendengar pujian dari Chanyeol. darahku mengalir di keduapipi ku. Merasakan sedikit panas disana.
"kau bisa membuka jendela agar angin masuk dan rambutmu cepat kering jika kau mau."
"tidak perlu. Tanpa pengeringpun rambutku juga akan kering dengan sendirinya, Yeol. Oh ya yeol kemana kita akan pergi sekarang?" aku melirik Chanyeol. dia sedang fokus menyetir. sempat bebrapa detik aku mengakui bahwa Chanyeol juuga tidak kalah tampan dari Kris hyung meski kadang dia terlihat sangat konyol. Dengan kacamata hitam dann hem kotak-kotak biru yang dilapisi degan sweater putih membuat ia nampak berbeda dari gayanya yang funky seperti biasa. Kerahnya dikeluarkan dari sweater yang ia pakai. Rambutnya dibiarkan turun tidak dijambul seperti saat dikampus. Dan ada yang berbeda dari rambutnya, ia mengecat rambutnya menjadi sedikit coklat ke-orange-an.
"Bagaimana warna rambut baruku? Kau menyukainya? Aku sengaja merubah warnanya untuk acara kita sore ini. kkk" Chayeol ini benar-benar.
"ya. Terlihat menyala di mataku, Yeol."
"oh itu kabar baik untuku, Baekki. Terimakasih."
"sama-sama. Kau belum menjawab pertanyaanku. Dimana kita akan pergi sore ini."
"aku sudah menjawabnya, Baekki. Kau tidak memperhatikanku." Dia mengerucutkan bibirnya, pura-pura marah.
"oh maafkan aku. Warna rambutmu menyita perhatianku." Dia tertawa dan menangkupkan telapak tangannya diatas kepalaku lalu mengusapnya pelan. Aku merasa seperti anak lima tahun.
Kami sekarang sedang makan di retoran China milik paman Chanyeol. dia sangat antusias memilihkan banyak menu untukku dengan alasan ibukku yang menyuruh agar aku bisa tumbuh tinggi sama seperti appa.
Tidak lama setelah kami selesai makan handphone milik Chanyeol berdering. Aku bisa melihatnya dari ujung mataku. Ada foto perempuan terpampang di layar handphonenya yang lebar.
"ya hallo."
"..."
"aku sedang makan diluar bersama Baekhyun. Ada apa?"
"..."
"tidak bisa. Maaf, Yejin."
Yejin menelpon? Aku milirik kerah Chanyeol saat Chanyeol juga melihat kearahku. Tepat di kedua manik mataku. Aku menunduk seolah tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Aku mencoba memeriksa Chanyeol lagi apa dia masih memperhatikan ku. Tapi sial, dia masih saja mengamati setiap gerakan yang aku buat. Mencoba memastikan bahwa aku baik-baik saja mungkin.
"..."
"aku juga ingin membicarakan sesuatu yang penting."
"..."
"Yejin-ah, aku rasa kita sudahi saja hubungan kita."
.
.
.
O_O bagaimana readers? FF ini hina sekali bukan? huhu bikinnya dadakan karena saya merasa untuk chap ke tiga bakal update sedikit lebih lama karena tugas saya semakin banyak.
Chanyeol : "Curhat lu, Thor?"
author : "Maslah buatlu, Yeol? owe gorok nih Baekhyun lo(?)"
Chanyeol : "jangan thor ntar owe mahoan sama siapa(?)"
makannya saya update dulu yang kedua agar readers sekalian tidak kecewa menanti-nanti kelanjutan FF saya /bagi yang menanti/
so TBC or STOP? tergantung reviewers menanggapinya kkk
by the way~
BIG THANKS TO :
cydestiny46 BaekYeoleuuu Ryu ryungie is0live89 aiiu d'freaky baekggu dewilololala ^^
