Disclaimer: Tomo Takabayashi and Temari Matsumoto.
Warning: beberapa ke-OOC-an, kumpulan drabble, garing, jayus. Typo maybe lol.
Romantic Morning chapter 2, for Infantrum Challenge—50 Sentences set 5.
~*oOo*~
26. Kuas
Yuuri menggeleng-geleng kepala. Menatap dengan kasihan benda yang ada di hadapannya. Terkadang helaan napas datang dan dia mulai mengeluh. Hal-hal seperti ini sudah sering dia lakukan. Yap, sudah sering jika Wolfram memperlihatkan hasil karyanya.
"Kamu kenapa, Yuuri?" tanya Wolfram.
"Wolf…" Yuuri menghela napas. "Bisakah kau tidak menghancurkan kuas lagi? Istana sudah kehabisan gudang untuk menampung kuas-kuas rusak…"
.
27. Parasit
"Akh! Berhentilah mengikutiku! Kau seperti parasit, Wolf!" sentak Yuuri.
Wolfram memasang tampang heran. "… apa? Parasut?"
"Parasit! Sit! Sit!"
Dengan cepat dan gesit, sebuah tamparan datang, dan membuat pipi kanan Yuuri lebam. Sekarang ganti, pemuda beriris hitam itulah yang memasang tampang heran.
"Kurang ajar sekali kau… memanggil tunanganmu sendiri dengan kata-kata kasar…"
Oke, Wolf, yang Yuuri ucapkan adalah 'sit' bukan 's*it'. Tidak pakai 'h', oke?
.
28. Hukum
"Sebagai seorang raja yang berkuasa, aku tidak boleh melanggar hukum!" Yuuri berapi-api. Pemuda itu terkesan sangat mendalami ucapannya.
"Oh, kalau begitu kau harus merubah sifatmu, Yuuri-heika," ucap Conrad sambil tersenyum. Memperlihatkan semakin tampannya dia.
"Sifatku?" Yuuri merasa tidak ada kesalahan sifat yang dia miliki. "Aku rasa tidak ada yang salah, walau aku punya beberapa sifat buruk…"
Conrad tersenyum semakin lebar. "Kalau begitu… bisakah kau menerima Wolfram sebagai tunanganmu, Heika? Tidak baik bukan jika menyangkal terus?"
'JLEB'
.
29. Melanggar
'TAP TAP'
Yuuri berjalan perlahan sambil berpikir keras. Perkataan Conrad yang kemarin benar-benar terngiang di kepala Yuuri. Apa hal seperti itu bisa disebut suatu pelanggaran hukum? Sepertinya di mana-mana tidak ada peraturan tentang suatu penyangkalan.
Dia bingung—semakin bingung.
"Aku tidak melanggar hal itu, 'kan? Itu 'kan masalah sepele… kenapa aku terus memikir—"
'JDUK'
Tepat di tempat itu, sang Raja melanggar sesuatu yang tertera di koridor.
'Kalau sedang berjalan, lihatlah ke depan. Dinding tidak akan bertanggungjawab bila ada yang tewas karena menghantamnya.'
.
30. Kucing
"Nee, Yuu-chan! Yuu-chan! Kapan kau membawa Wolf-chan kemari? Ibu punya banyak sekali hadiah untuknya!" ber-fangirling ria. Jennifer bagai dirasuki setan wanita yang gila akan pemuda-pemuda tampan.
"Sudahlah, Bu! Wolfram bukan anak kucing yang bisa ibu perlakukan sesuka hati," ucap Yuuri.
"Heh? Dia memang bukan kucing, kok," Jennifer memiringkan sedikit kepalanya. "Tapi, kalau dipikir… di tanganmu dia bisa saja menjadi kucing, 'kan?"
"I—itu…"
Hebat, Jennifer, tepat sasaran.
.
31. Asap
'Asap Shin Makoku' itulah judul buku yang dibaca Greta. Sekarang anak itu berada di perpustakaan bersama Yuuri.
Buku karangan siapa itu? Tidak ada nama pengarangnya. Namun, bagi Greta yang baru belajar membaca, hal seperti ini bukanlah masalah besar.
"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Tidak akan ada Yuuri jika tidak ada ayah dan ibunya…" Greta membaca bukunya, diikuti anggukan dari Yuuri.
"Kau sudah lancar membaca, ya? Teruskan!"
"Ya," Greta mengangguk sambil tersenyum. "Lalu, lalu… tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Tidak akan ada…"
'SHIINGG'
Tidak ada ucapan lagi. Yuuri keheranan karena Greta tiba-tiba terdiam. Namun, tiba-tiba saja…
"Yuuri… jadi selama ini… aku punya adik?" Yuuri shock mendengarnya. "Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Tidak akan ada Bear-bee kalau tidak ada Yuuri dan Wolfram…"
"… siapa gerangan yang memfitnahku seperti itu?"
.
32. Kode
"Di sini tertulis, 'Kalau dua orang mencintai satu sama lain, biasanya akan membuat kode rahasia tersendiri. Contohnya suami-istri dan pasangan yang sudah menikah lainnya.'," Greta membaca buku itu dengan serius. "Apa itu benar, ya?
'Sebenarnya, semenjak tadi Greta membaca buku apa, sih?'
"Aku tidak tahu," respon Yuuri.
"Nee, Yuuri. Memangnya kau dan Wolfram tidak pernah membuat kode rahasia untuk berdua?" tanya anak berambut coklat itu dengan polosnya.
"I—itu…"
Lagi, tepat sasaran namun kali ini Greta yang hebat.
.
33. Gerbang
"Yuuri, jangan pernah bermain keluar gerbang!" titah tunangan Yuuri itu. "Seorang raja tidak boleh bermain sesuka hatinya!"
"Me—memangnya kenapa? Akh! Kau kira aku akan tahan jika berada di istana terus?"
"Lihat saja, Yuuri," Wolfram mulai geram. "Kalau kau berani melangkah keluar gerbang, kau melanggar nasihat baik seseorang!"
Oke, terlalu mengekang juga tidak baik, Wolfram.
.
34. Makan
"Yuuri, makanan apa yang ingin kamu makan saat ini juga?" tanya Greta. Yuuri mulai berpikir keras.
"Mungkin… kare buatan ibu," jawab Yuuri diikuti anggukan anak angkatnya.
"Jadi, kau tidak mau memakan masakan Wolfram?"
"… dengar Greta, aku tidak mau memakan racun. Aku masih ingin hidup."
Tak lama, sebuah wajan melayang, dan membuat sang Raja tewas di tempat.
.
35. Riang
"Nee, Wolf-chan, Wolf-chan!" panggil Jennifer seraya menepuk punggung Wolfram. Pemuda pirang itu membalikkan badannya dan berhadapan dengan calon mertuanya.
"Ya, ada apa?" tanya Wolfram.
"Dengar, deh nyanyian ini…" Jennifer menekan tombol play yang ada di remote CD player.
'Senangnya hatiku, turun panas demamku, kini aku bermain dengan riang…'
Wolfram keheranan, namun lagu itu benar-benar didengarkannya dengan seksama. Bisa dilihat, ada seorang wanita berambut coklat yang wajahnya mencerminkan kegembiraan.
"Ada apa dengan lagu ini?" tanya Wolfram.
"Dulu, Yuuri selalu menyanyikan lagu ini! Apalagi sewaktu demamnya turun! Lucu, ya?"
Terdengarkah suara tertawa, saudara-saudara? Tidak. Karena tawa itu menggema dalam hati Wolfram.
.
36. Gatal
Yuuri menengok ke arah ibunya. Hatinya serasa dibelah oleh sebilah pedang tatkala melihat sang Ibu menangis. Ada apa dengan ibunya? Sungguh, pemuda itu tidak tega melihat wanita yang melahirkannya menangis.
"Ibu," Yuuri mendekati ibunya. "Ada apa? Kenapa menangis?"
"Yuu-chan…" Jennifer menunjuk layar TV. "Kenapa film 'Suamiku Bersuami Lagi' harus berakhir sedih? Hiks…"
"… suamiku bersuami lagi?" pemuda itu langsung gatal-gatal mendengar judul sinetron tersebut.
"Yuu-chan, nanti jangan seperti suami di film ini, ya? Jadilah suami yang baik, bijaksana, dan setia hanya untuk Wolf-chan!"
Tambah gatal.
.
37. Angan
"Nee, Wolfram," panggil Greta, pandangan Wolfram pada buku pun teralihkan. "Angan-angan itu apa, ya?"
"Soul-mate langit," jawaban Wolfram sangat singkat, padat, dan salah besar
"Itu awan, 'kan? Yang kutanyakan adalah angan!"
"Mungkin semacam impian, ya?" jawab Wolfram, kurang yakin pada jawabannya.
"Hum, begitu, ya?" Greta mengangguk-angguk. "Berarti impianmu untuk menikah dengan Yuuri juga disebut angan-angan?"
"… uhuk…"
.
38. Terbang
"Sejak dulu aku penasaran…" Greta menempelkan telunjuk kanannya di sekitar bibir, terlihat seperti orang kebingungan. "Kenapa burung bisa terbang sedangkan gajah tidak, ya?"
Yuuri menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu sudah jelas, Greta…" ujar Yuuri dengan nada mengeluh. "Begini, coba kau bayangkan kalau gajah yang terbang…"
"Ya? Lalu?"
"Kau tahu kalau burung suka bertengger di atap rumah, 'kan? Nah, coba kalau gajah yang bertengger di atap…"
Greta terdiam, kemudian angkat bicara juga. "… maka rumah—akan berubah nama menjadi reruntuhan…"
Maka bersyukurlah saudara-saudara. Tidak ada yang dinamakan gajah terbang atau semacamnya di dunia ini.
Cintailah rumah sendiri. Tolak gajah terbang!
.
39. Dinding
Wolfram berjalan dengan tenangnya di koridor istana. Dia melihat ke arah taman, menikmati suasana istana yang begitu asri. Cerahnya mentari, bunga-bunga yang harum, rerumputan bergoyang, dan seakan berkata…
'Tanyakanlah sesuatu padaku, aku akan menjawabnya dengan goyangan rumputku!'
Pokoknya, hari ini adalah hari yang indah. Mood tunangan raja juga sedang baik hari ini.
"Wolf!" panggil seseorang dari belakang.
"Ya—"
'JDUK'
Sebelum sempat menengok penuh, ada dua tangan yang mendorong tubuh mungil pemuda itu. Otomatis membuat dahi Wolfram terpentuk dinding dan membuatnya tewas—er, pingsan di tempat.
"Ah! Baru mau kuperingatkan agar hati-hati kalau berjalan di koridor! Karena aku pernah mengalaminya!"
'Jangan ada dorong-mendorong antara teman/pacar/tunangan/dan siapapun di koridor. Dinding tidak akan bertanggungjawab bila ada yang tewas akibat menghantamnya.'
Oke, siapa yang berani mendorong Wolfram tadi?
.
40. Burung
"Yuuri! Yuuri!" Greta berlari menghampiri Yuuri. Refleks sang Raja menengok dan merespon panggilan anak angkatnya. "Kau pernah bilang, kita harus bersyukur karena yang terbang adalah burung, bukan gajah, 'kan?"
Yuuri mengangguk. Di hatinya dia sedikit bangga karena Greta masih mengingat hal tersebut.
"Lalu, kalau misalnya ada makhluk baru… percampuran antara burung dan gajah, bagaimana?" tanya Greta dengan semangat. "Seperti bear-bee! Mereka ras campuran, 'kan? "
Yuuri terdiam. Berusaha mencerna maksud anak angkatnya itu. Tapi, dia tetap tidak mengerti.
Namun, pada akhirnya… Yuuri mendapat pencerahan untuk menjawab pertanyaan sang Anak.
"Kau tahu? Sayap burung tidak akan kuat mengangkat beban gajah… tidak perlu khawatir, oke?"
"Tapi, kalau sayapnya bisa mengangkat beban gajah itu?"
"… kiamatlah batas akhirnya, Greta…"
Oke, itu lirik lagu, Yuuri.
.
41. Siulan
Murata bersiul-siul dengan anehnya. Tidak ada angin, hujan, badai, gempa, gunung meletus, atau tsunami. Yuuri tentu saja keheranan melihat temannya yang seperti itu. Oke, Yuuri tahu, Murata sedang menyembunyikan sesuatu.
"Murata, kenapa kau bersiul-siul begitu? Ada yang kau sembunyikan?"
"Ah, tidak juga," jawabnya. "Aku hanya bersiul-siul karena melihat piyama birumu yang matching dengan gaun tidur merah muda milik Wolfram."
"… kau temanku bukan, sih?"
.
42. Rumah
Rumah adalah kehidupan semuanya. Tempat untuk pulang, tempat untuk bertemu dengan orang yang disayang, dan tempat berkumpul bersama keluarga. Semua pasti tahu akan hal tersebut.
Pikiran rancu menyelimuti Yuuri. Pemuda beriris hitam itu hanya memikirkan sesuatu yang jauh ke depan.
Saat kekuatannya habis. Saat masanya habis di Shin Makoku, ke manakah dia harus pulang? Rumahnya di bumi atau Shin Makoku?
Jika waktu itu tiba, kubu manakah yang akan dipilihnya?
.
43. Jalan
'Oke, aku sudah kapok berpikir atau melamun sambil berjalan. Pokoknya mulai sekarang aku harus fokus pada jalan!' batin Yuuri berapi-api.
'JDUK'
Mari membaca peraturan yang tertera di koridor lagi.
'Kalau sedang berapi-api, jangan sambil berjalan. Perhatikan jalanan dengan baik. Dinding tidak akan bertanggungjawab apabila ada yang tewas karena menghantamnya.'
.
44. Tutup
Yuuri menutup kedua matanya. Dia tidak mau melihat apa yang ada di depannya. Dia sangat-tidak-mau. Sedangkan Wolfram hanya menghela napas panjang.
"Lho, Heika! Kamu kenapa?" wanita itu mengguncang-guncangkan tubuh Yuuri. Namun, sang Raja tetap tidak mau membuka matanya.
Si pirang mulai angkat bicara. "Ibu… berhentilah memakai pakaian seksi. Yuuri bilang dia lebih menyukai perempuan yang auratnya tertutup seperti Aisyah…"
.
45. Arus
Sejak dulu, Yuuri membenci yang namanya arus deras. Karena dia teringat sesuatu yang membuatnya muntah-muntah.
Berlebihan? Memang benar, kok dia muntah-muntah.
Dia muntah-muntah karena mabuk perjalanan saat dia terjebak arus mudik.
Tahu sendiri, 'kan? Bagaimana derasnya arus mudik, terutama saat lebaran?
.
46. Sungai
/Yang, yang… bapakmu itu pandai besi, ya?/
/Bukan, tuh, Yang… gimana, dong?/
/Udah, jawab 'iya' aja!/
/Iya, deh, Yang. Iya, kenapa emangnya?/
/Abis… setiap ngeliat kamu, kok hatiku berasa digetok palu, ya?/
/Ih, yayang bisa ajaa… sayanggg, kalau aku jadi ikan, kamu mau jadi apa?/
/Aku… jadi sungai aja, deh, Yang! Soalnya aku bakal selalu bisa ngikutin arus cinta hati kamu!/
-BZZZTTT-
Tombol 'stop' ditekan Yuuri. Pemuda pirang di sebelahnya hanya keheranan sambil mengangkat sebelah alisnya. Rasanya tombol stop masih kurang. Yuuri ingin sekali ada tombol 'erase memory'di remote itu.
"… Yuuri, kalau kamu melamarku, aku tidak akan mau menerimamu kalau ada kata-kata seperti 'sungai', 'bapakmu', dan lainnya…"
'Memangnya siapa juga yang mau jadi sungai, sih?'
.
47. Batu
/Sayanggg, kalau aku jadi tanah, kamu mau jadi apanya?/
/Aku bakal jadi batunya, biar bisa nempel terus sama kamu, Yang!/
/Ih, kamu bisa aja, deh, Yang!/
/Cintaku untukmu itu bagai batu, Yang! Keras sekali dan sulit ditembus!/
-BZZZTTT-
"Ah, Yuu-chan! Kenapa layarnya dimatikan?" protes Jennifer. "Padahal tema 'batu' sedang seru-serunya!"
"Ibu… berhentilah menonton gombalan-gombalan itu… aku mual mendengarnya…" keluh Yuuri. "Jangan jadi kepala batu, ya, Bu…"
Seandainya Jennifer berada di Padang, mungkin Yuuri sudah dikutuk menjadi batu.
.
48. Lemah
Wolfram bukanlah pemuda lemah yang hanya mengharapkan bantuan dari orang lain. Begitu pula Yuuri. Keduanya selalu ingin melindungi satu sama lain. Menopang tangan masing-masing dan terus melangkah bersama.
Tidak ada kata 'lemah' dalam kamus mereka.
Namun, ini adalah 'mereka', bukan 'saya' atau 'dia'.
Apakah jika salah satu topangan itu menghilang, kata 'lemah' akan tertulis di kamus masing-masing?
Semua tergantung pada ketetapan hati masing-masing. Tergantung kepada kekuatan hati Yuuri dan Wolfram sendiri.
.
49. Akan
Perasaanmu akan pergi ke mana?
Tidak. Perasaanmu tidak akan pergi ke mana-mana. Selama Yuuri masih melihatnya, selama Wolfram masing di sampingnya, perasaan khusus mereka tidak akan pergi ke mana-mana.
Tidak akan. Selama jalinan benang merah transparan masih menghubungkan kedua kelingking mereka.
Nee, Yuuri, Wolfram… percayakah akan cinta sejati?
.
50. Kenangan
Semua kenangan bersama mereka tersimpan rapat di memori otaknya. Menjadi benda berharga walaupun tidak terlihat. Kenangan manis, pahit, dan semua rasa-rasa kehidupan di sana diingatnya selalu.
Yuuri tidak akan melupakan semuanya. Terutama, kenangan manis akan dia dan tunangannya itu. Kenangan manis saat-saat bertengkar, saat bersama, dan saat dia tersenyum begitu tulus.
Yuuri bersumpah tidak akan pernah melupakan semua kenangan itu…
Hingga dadu kematian dilemparkan dan takdir memanggilnya untuk berpulang ke alam yang berbeda.
.
.
'Do you believe in endless love, Yuuri? Wolfram?'
.
.
-Tamat-
.
.
A/N:
Oke, kayaknya saya emang garing kalau berkutat di humor (walau ada beberapa yang gak humor gegara kehabisan ide. Piss v_v) -_-; #HeadBang. Yap, satu rikuesan dan challenge udah selesai. Semoga semuanya puas akan hasil saya ini :).
Boleh saya tahu nomor berapa yang kalian suka? XD /plak
Tanpa banyak curcol lagi, mind to RnR or CnC, minna-san?
Sign,
Istri Jack Vessalius (?), Tsubaki~
