Keesokan harinya, Chanyeol bangun lebih awal. Ayahnya pergi ke kantor pagi-pagi sekali, katanya ada urusan mendadak yang penting, sedangkan kakaknya masih tidur. Sarapan pagi ini sama seperti hari-hari sebelumnya; roti panggang selai kacang dan susu coklat, terdengar sangat-anak-kecil, tapi dia menyukainya. Selesai sarapan, pakai parfum, dan menyisir rambut, dia berangkat, jalan kaki, karena motor sport-nya dipakai ayahnya pergi bekerja. Biar kekinian dikit, begitu kata Yunho setiap kali anak tengahnya itu bertanya. Ayahnya terkadang bersikap lebih kekanakan daripada adik Chanyeol, Park Jisung, yang masih berusia sepuluh tahun dan duduk di bangku kelas lima SD.

Dingin sekali. Untung saja tadi Chanyeol membawa jaketnya. Sekarang masih jam setengah enam pagi, perjalanannya menuju sekolah mungkin bisa memakan waktu setengah jam. Sesekali, dia menoleh ke kanan-kirinya untuk memandangi sederet rumah-rumah minimalis bercat membosankan. Beberapa menit kemudian, jalanan mulai ramai oleh anak-anak yang berangkat sekolah, namun tak ada yang berjalan kaki sepertinya. Chanyeol memacu langkahnya lebih cepat lagi, dan di persimpangan perumahan, dia melihat seseorang. Seseorang yang luar biasa cantik, memakai seragam khas LLG, sedang berjalan ke arah yang sama dengannya, rasanya familier...

"Baekhyun-ssi?" bisiknya rendah. Matanya tidak katarak, tidak rabun, dan tidak buta. Dia benar Byun Baekhyun. Gadis itu cantik sekali hari ini; rambutnya yang hitam panjang digelung rapi, diberi pita emas, dan poninya disisir ke samping, memberikan kesan anggun serta tegas. Chanyeol tanpa sadar menahan napas, dia baru menyadari, bahwa jika diamati dari kejauhan, Baekhyun sungguh-sungguh terlihat seperti boneka porselin ketimbang manusia. Cantik sekali. Dan pertanyaannya sekarang adalah, mengapa dia bisa berada di sini, di persimpangan jalan dekat rumah Chanyeol?

Rasanya tak mungkin jika Baekhyun tinggal di perumahan yang sama dengannya. Meskipun sangat berkecukupan, Chanyeol tinggal di perumahan biasa, yang setiap rumahnya berinterior minimalis dan memiliki dua lantai. Baekhyun pernah tinggal di istana, secara dia cucu raja serta keturunan bangsawan, jadi mustahil sekali kalau dia tinggal di perumahan sederhana ini. Yang lebih aneh lagi, dia berjalan kaki. Apa dia tidak takut diculik atau semacamnya? Nona bangsawan dengan kecantikan luar biasa sepertinya berisiko kecopetan, atau paling buruk, diperkosa.

Sekolah, untuk pertama kalinya seingat Chanyeol, kosong melompong. Hanya tersisa satpam berwajah galak yang berjaga di pos di sebelah gerbang megah Lycée Louis-le-Grand. Chanyeol mempercepat langkahnya dan berjalan di sebelah Baekhyun. Perutnya melilit, seperti yang sudah-sudah. Dengan senyum lebar, suara riang, dan tubuh digagah-gagahkan, dia mengabaikan sakit perutnya, berdeham lalu berkata, "Hai, Baekhyun-ssi."

Yang disapa terlonjak kaget. Baekhyun mendelik, namun sedetik kemudan raut wajahnya kembali datar. Chanyeol mengutuk dalam hati, dia lupa betapa kaku dan datarnya gadis ini. "Bagaimana kabarmu hari ini? A-apakah kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol.

"Ya," jawab Baekhyun pendek.

"Kau pindahan dari Rusia, kan? Bagaimana di sana?" Chanyeol melebarkan senyumnya. Demi Tuhan, dia ingin menjedotkan kepala ke tembok di sebelahnya karena malu. Misi pendekatan yang benar-benar receh dan tak patut diacungi jempol.

Raut wajah Baekhyun mendadak suram. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera berlari menaiki tangga, meninggalkan Chanyeol yang masih kebingungan atas sikapnya. Apakah ada yang salah dari pertanyaannya?

"Hai, kawan!" Seonggok lengan mengalung di leher Chanyeol. Lalu ada tangan yang menepuk pundaknya, dan seseorang yang menggasak rambutnya ganas. Dia mendengus kesal, menampik tangan Choi Minho kuat-kuat. Dua makhluk laknat nan biadab di hadapannya tersenyum lebar mirip anak kecil. Ditatapnya Shim Changmin dan Nam Joohyuk secara bergantian, menyentil dahi mereka, dan kembali berjalan menyusuri koridor. Pikirannya tertuju pada Baekhyun, pada parasnya yang rupawan, pada sorot matanya yang tajam, rambutnya yang indah dan mengilap, pada semua perlakuan anehnya yang memesona—

"Kenapa murung? Belum sarapan?" tanya Minho sambil menepuk-nepuk kepala Chanyeol.

"Jangan lupa, kau harus mentraktir kami hari ini. Aku lapar banget, ga sarapan, ga bawa duit," keluh Changmin, tangannya mengelus-elus perutnya.

"Memangnya kapan kau pernah sarapan? Kapan kau pernah bawa duit? Hah?" sindir Joohyuk sinis. Changmin nyengir kuda.

"Diam, deh," ujar Chanyeol. Kepalanya serasa mau pecah menghadapi tiga sahabat tololnya. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan uang seratus ribu won, dan memberikannya kepada Changmin. "Sudah. Pergi sana. Aku kayaknya enggak bisa makan bareng kalian hari ini."

"Faktor tugas?" tanya Minho. Dia memang sangat pengertian pada teman-temannya.

"Begitulah," bohong. Chanyeol sedang tidak mood mengerjakan tugas. Toh, tugas dari Jung songsaenim kemarin adalah tugas kelompok, yang akan dikerjakan sore ini di rumahnya. Dia hanya ingin menemui Baekhyun, memulai misi pendekatan, dan syukur-syukur, kalau berhasil, Chanyeol bisa dapat nomor ponselnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya senyum-senyum sendiri.

"Ya sudah. Ayo, kita ke kafetaria," Changmin segera merangkul Joohyuk dan Minho menuju kafetaria, tak lupa melambaikan tangan asal-asalan ke arah Chanyeol sebelum menghilang di koridor. Chanyeol menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan ke kelasnya, yang terletak di lantai dua, kelas paling ujung dan temaram di antara kelas lainnya. Ternyata sudah ada Do Kyungsoo, Kim Jongin, dan tentu saja Baekhyun. Jongin asyik membisikkan sesuatu pada Kyungsoo, sementara wajah Kyungsoo merah padam, matanya yang sudah bulat makin melotot. Mengabaikan mereka, Chanyeol meletakkan tasnya, duduk, dan berdeham sok diplomatis.

"Baekhyun-ssi," katanya gemetar. "Soal tadi, apabila ada kata-kataku yang... kau tahu, menyinggung perasaanmu, aku minta maaf. Aku tak tahu bahwa reaksimu akan... menjadi... yah, seterkejut itu..."

Baekhyun diam saja, bahkan menoleh pun tidak. Tak lama kemudian, dia mengangguk, walaupun wajahnya masih kentara murung sekali. Chanyeol setidaknya bisa bernapas lega sekarang. "Kau bisa datang ke rumahku nanti sore, kan? Untuk kerja kelompok bareng Taehyung dan Jongdae?"

"Ya," jawab gadis itu lemah. "Semoga saja."

"Oh iya, Baekhyun-ssi," kata Chanyeol. "Rumah kita ada di kompleks yang sama. Rumahku nomor 04. Jadi, kau hanya perlu jalan kaki lima puluh meter ke barat."

"Baik," kata Baekhyun tak berminat.

"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Untuk kepentingan tugas, dan... er, lain-lain?"

Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa Chanyeol tahan. Akibatnya, terjadi hening menyesakkan yang lama, kemudian, desahan napas berat Baekhyun menginterupsi. "Jarak rumah kita hanya lima puluh meter, katamu. Dan kurasa kita tak perlu ponsel untuk sekedar menyampaikan informasi."

Chanyeol merasa IQ-nya sudah turun menjadi setingkat ikan teri.

"O-oke. Tapi, bisakah kita pulang bersama nanti? Y-yeah, kau bisa sekalian mampir ke rumahku, kalau mau. Rumahmu nomor berapa?" Chanyeol telah membuang harga diri dan gengsinya yang sebesar alam semesta itu untuk mendekati seorang bernama Byun Baekhyun. Namun yang didapatnya justru sebuah tatapan menghakimi dan menusuk. Kedua alis Baekhyun bertautan, aura di sekitarnya menggelap. Chanyeol mendapat firasat tak enak.

"Aku akan sangat senang kalau kau mau berhenti mengurusi privasi orang lain."

Dan untuk yang kedua kalinya, Chanyeol ingin menjedotkan kepala ke tembok di sebelahnya.

-o0o-

Bel pulang berbunyi. Ogah-ogahan, Chanyeol memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Kepalanya sakit, pusing, dan satu-satunya orang yang patut disalahkan karena ini adalah Kim Taeyeon songsaenim, guru Matematika yang bukan main galaknya. Chanyeol dihukum sit up lima belas kali di depan kelas gara-gara tidak bisa menjawab soal dengan benar. Mencebik sebal, dia menoleh ke arah Baekhyun, yang sedang menjawab telepon dari seseorang. Wajah gadis itu merah padam menahan amarah, dan pada detik selanjutnya, dia memutuskan sambungan, menghela napas lelah sambil memijit pangkal hidungnya.

Chanyeol ingin bertanya, sesuatu yang ingin ditanyakannya semenjak pertama kali mereka bertemu, namun dia terlalu takut kena semprot lagi, jadi dia memutuskan segera pergi meninggalkan kelas. Kerja kelompok akan dimulai pukul empat sore, dan sekarang masih pukul satu, setidaknya dia punya tiga jam untuk bersantai atau sekadar makan es krim di taman, sesuai kebiasaannya. Dan hari ini dia tidak akan pulang jalan kaki, kepalanya terlalu pusing. Chanyeol mengulurkan jempolnya, menghentikan taksi warna biru yang lewat di depan gerbang, lalu duduk di jok penumpang. Rasanya sungguh-sungguh seperti di surga.

Didengarnya si sopir mengumpat pelan. Penasaran, Chanyeol mengintip ke luar jendela. Ada sebuah mobil hitam metalik berhenti tepat di depan taksi yang ditumpanginya, dan turunlah seorang perempuan mengenakan jas formal dari jok pengemudi. Perempuan itu memakai kacamata hitam, sehingga Chanyeol tidak bisa mengenalinya dengan jelas. Dia melihat si perempuan berbicara sesuatu lewat walkie talkie, diam sejenak, dan tersenyum kepada seseorang yang baru saja datang. Seseorang berwajah judes, rambut digelung rapi, pita emas, kulit putih susu, luar biasa cantik...

Byun Baekhyun.

"Ahjussi, kita ikuti mobil itu. Cepat, cepat!" seru Chanyeol tak sabar ketika mobil Baekhyun mulai melaju. Si sopir menginjak gas dengan mendadak, sehingga dia tercekik sabuk pengaman. Ini bukanlah jalan menuju perumahan. Seharusnya, di pertigaan halte bus, Baekhyun belok kiri, bukannya kanan. Mobil Baekhyun jauh di depan, namun masih bisa terlihat. Sekarang, mereka melintasi deretan rumah-rumah mewah, yang luasnya empat kali lipat dari rumah Chanyeol. Hanya orang-orang berduit saja yang bisa tinggal di perumahan super elit ini. Dia berhenti di dekat taman setempat, membayar argonya, dan berlari mengikuti mobil Baekhyun yang perlahan melambat.

Kemudian, mobil hitam metalik itu masuk ke dalam halaman rumah terbesar yang pernah Chanyeol lihat. Kekayaan keluarga Byun sangatlah mengerikan, sesuai ekspektasinya. Rumah itu lebih layak disebut sebagai istana, kastil, White House versi Korea, atau semacamnya; berlantai lima, hampir seluas LLG, dan memiliki interior yang sangat mewah serta klasik, khas Eropa sekali. Terengah-engah, Chanyeol mengawasi indahnya rumah itu lewat celah gerbang. Patung seorang wanita yang sedang menuang air dari kendi berdiri kokoh di tengah-tengah kolam air mancur, lalu ada patung dewi Aphrodite, dewi cinta sekaligus dewi yang digadang-gadang sebagai dewi tercantik dalam mitologi Yunani. Di sebelah patung Aphrodite, ada patung dewa Poseidon dan dewa Zeus.

"Sudah berapa kali aku bilang, aku tak mau menginjakkan kaki di sini lagi, Seokjin!" teriak Baekhyun kesal begitu dia dan sopir cantiknya keluar dari mobil. Chanyeol terkejut. Seokjin melepas kacamata hitam yang dikenakannya, tersenyum miris ke arah nonanya.

"Nona, saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Yang Mulia Raja," kata Seokjin tenang. "Beliau ingin bertemu dengan Anda. Kalian sudah lama tak bertemu."

"Then let's keep it that way," balas Baekhyun sengit. "Kenapa tidak sekalian saja si tua bangka itu menetap di Amerika?"

"Berhentilah memaki ayah Anda sendiri, Nona. Beliau hanya capek. Yang Mulia Raja pastilah capek setelah mengurusi bisnisnya di Florida, kan?" Seokjin tetap tersenyum. "Lagipula, beliau bekerja untuk Anda, Nona. Beliau sangat menyayangi Anda."

"Kau pikir untuk apa aku bekerja selama ini, hah? Aku tak butuh uang darinya, aku bisa menghidupi diriku sendiri! Aku bisa membiayai pengobatan kakakku dengan uangku sendiri! Sekarang, aku mau pulang!"

"Nona Byun," Seokjin segera menahan Baekhyun yang hendak pergi. "Yang Mulia Raja sakit keras. Saya mohon pada Anda, Nona, beliau berhari-hari tak makan karena merindukan Anda. Beliau, maafkan kelancangan saya, sekarat."

"Itu berarti doaku terkabul," dan Baekhyun menghempas tangan Seokjin di pundaknya. "Berhentilah memanggilku Nona, Seokjin. Aku bukan nonamu lagi."

"Nona—"

"Jangan panggil aku Nona."

"Tapi Yang Mulia Raja memerintahkan saya untuk memanggil Anda Nona."

"Gelar itu tak ada artinya di Korea," dengus Baekhyun.

"Tolong pikirkan baik-baik, Nona. Kalau Anda bersedia menjadi putri yang baik, Anda tak perlu bekerja serabutan lagi. Ayah Anda punya banyak uang untuk membiayai kehidupan sehari-hari Anda, sekolah Anda, bahkan pengobatan kakak Anda. Setidaknya, buatlah Yang Mulia bahagia di saat-saat terakhirnya. Saya yakin seratus persen, beliau pasti sangat senang jika melihat putrinya kembali berbakti padanya," Seokjin berpidato bijak.

"Dan tolong pikirkan baik-baik, Seokjin, apakah ibuku bahagia di saat-saat terakhirnya?" tanya Baekhyun, dan Chanyeol bisa melihat kedua matanya berair. "Soal pekerjaanku, sekolah, dan pengobatan kakakku, kau jangan kuatir. Aku bersedia menjual ginjalku, asalkan kakakku bisa sembuh total."

Chanyeol meringis. Jadi Baekhyun bekerja serabutan untuk... kalau tidak salah, membiayai pengobatan kakaknya, padahal dia berasal dari keluarga kaya raya dan berkasta tinggi. Chanyeol tidak bisa menebak apa yang membuat gadis itu begitu membenci ayahnya, apa yang terjadi pada kakaknya, dan hatinya bergejolak tak rela jika Baekhyun sampai benar-benar menjual ginjalnya. Entah apa yang membuatnya menjadi seprotektif ini, tapi yang jelas, hatinya kembali bergejolak melihat bulir air mata turun membasahi pipi Baekhyun.

"Tolong jangan berbicara seperti itu. Nona, sekali lagi, saya mohon..."

"Tidak."

"Saya mohon, Nona..."

"Fine!" teriaknya frustasi. "Sekarang berhenti merengek seperti bayi. Aku akan sangat menyesali hal ini."

"Terima kasih, Nona."

Dan mereka berdua masuk ke dalam rumah. Dua pria yang berjaga di kedua sisi pintu utama membungkuk sembilan puluh derajat pada mereka. Chanyeol tak bisa menampik kenyataan bahwa dia sedikit kecewa, perbincangan keduanya begitu seru. Dia mendapat beberapa informasi penting tentang Baekhyun; 1. Baekhyun membenci ayahnya, entah kenapa, 2. Dia kerja serabutan, entah di mana, 3. Dia punya kakak yang punya masalah kesehatan, entah siapa. Terlalu banyak misteri yang ingin diungkapnya, Baekhyun semisterius senyum Monalisa, indah namun sarat akan kesedihan, dan itulah yang membuat Chanyeol semakin jatuh ke dalam pesonanya.

Bahkan sesampainya dia di rumah, bayangan Baekhyun tak kunjung meninggalkan pikirannya. Dia sedang asyik melamun ketika bel pintu rumahnya ditekan berkali-kali oleh tamu tak diundang. Duo Abnormal—begitulah Jongdae dan Taehyung biasa dipanggil—berhamburan masuk dan merebahkan diri di karpet ruang tamu. Mereka tertawa-tawa tidak jelas sambil mengeluarkan bahan untuk kerja kelompok. Chanyeol geleng-geleng kepala, kalau sampai Minseok tahu soal ini, pasti dialah yang akan dimarahi. Beruntung sekarang kakaknya itu sedang ada proyek sehingga harus pulang agak larut.

"Mana si bule?" Taehyung menatap sekeliling.

"Baekhyun? Dia... ada urusan," kata Chanyeol. "Katanya sih, penting banget. Ga bisa diganggu gugat."

"Hyung!" sebuah tubuh mungil berhambur memeluk Chanyeol dari belakang. "Kangen!"

"Halo, Jisung-ah. Bagaimana study tour-nya? Apakah di Jeju menyenangkan?" Chanyeol menggusak kepala adiknya, Park Jisung, yang baru saja pulang dari tur ke Jeju. Jisung mengangguk semangat.

"Lho? Ada tamu? Chanyeol, kenapa kau hanya diam saja? Cepat ambilkan minum! Dasar tak sopan!" omel Minseok. Taehyung nyengir lebar ke arah Chanyeol, sedangkan Jongdae seperti kena serangan jantung mendadak. Matanya melirik Minseok dari atas ke bawah secara berurutan, kemudian, darah segar mengucur dari kedua lubang hidungnya.

"E-eh, eh! Jongdae! Waduh, jangan mati dulu, dong! Nanti yang bisa kupinjami duit siapa lagi kalau bukan kau? Jangan mati dulu, dong, gak setia kawan amat sih," hell, di situasi genting seperti ini Taehyung masih sempat-sempatnya ngelantur!

"Jisung, masuk kamar! Sekarang!" seru Minseok panik sambil merogoh-rogoh tasnya. "A-aku ingat aku punya tisu di sini... ah, sialan, di mana—nah, ini. Mendongaklah sedikit, jangan menunduk. Tekan hidungmu menggunakan ini. Sebentar, biar aku saja..."

"T-te-terima kasih, n-noona," wajah Jongdae merah padam. Chanyeol mencapai mufakat baru; Jongdae naksir Minseok. Kentara jelas sekali.

"Tak apa. Biar kuambilkan minum... er, siapa namamu?"

"Jongdae, Kim Jongdae! Aku kelas XI Superior A, noona! Senang berkenalan denganmu!" seru Jongdae antusias. Minseok hanya tertawa, kemudian melenggang anggun ke dapur.

"Kakakmu sungguh cantik, Chanyeol! Jodohkan aku dengannya, dong!"

Chanyeol memasang wajah maaf-tapi-anda-siapa-ya.

"Kubayar pakai spageti sepuluh porsi, deh!"

Chanyeol kali ini memasang wajah yang-benar-saja-kau-masa-cuma-spageti.

"Ditambah makan di Sushi Tei untuk sebulan! Pokoknya, jodohkan aku dengannya!"

"DEAL! Kujodohkan kau dengan Minseok noona!"

"SIAPA YANG MEMANGGIL NAMAKU TADI, HAH?!" ini Minseok.

"Kalian ngomongin soal apa sih?" ini Taehyung, ngomong-ngomong.


TBC.