Dakishimetai

Tokoh yang saya pakai milik Kishimoto Masashi-sensei, saya cuma pinjem doang

Warning: typo, alur cepet, dan masih banyak lainnya

Pairing: Sasuhina

Don't Like, Don't Read

...

Kenichi memperhatikan ibunya yang sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Rambut gelap ibunya yang dikuncir asal menjadi objek perhatiannya saat ini, bocah itu ingat rambut ibunya tidak sepanjang itu saat terakhir mereka bertemu. Ingin sekali Kenichi menghampiri ibunya dan memainkan rambut halus itu, tapi mengingat ayahnya akan duduk sendirian, membuatnya urung.

"Kau tidak ingin membantu ibumu?" Sasuke yang sadar akan sikap anaknya, mendadak mengusap surai hitam anaknya. Warna rambut yang sama seperti milik sang kakek.

"Eh? Apa tidak apa-apa–" Kenichi buru-buru menutup mulutnya.

Sasuke tersenyum, tujuan mereka kemari adalah untuk bertemu dengan Hinata. Tapi semenjak mereka menginjakkan kaki di rumah kecil ini, Sasuke mendapati Kenichi malah duduk di dekatnya.

"Pergilah, ayah akan tetap berada disini." Mendengar kalimat ayahnya, Kenichi segera beranjak untuk mendampingi ibunya yang tengah memotong sayuran.

Melihat interaksi alami orang tua dengan anak itu membuat Sasuke tanpa sadar tersenyum. Dihadapannya, Kenichi berubah menjadi bocah kecil yang berbeda–bukan, atau memang seperti itu aslinya. Tersenyum lebar saat ibunya mencolek hidungnya dengan tangan bertepungnya, dan senyum itu berubah menjadi tawa saat Kenichi mendapatkan beberapa ciuman dari Hinata.

Untuk sesaat Sasuke merenung, andaikan Hinata tidak datang menyerahkan Kenichi padanya mungkin satu tahun hidup anaknya akan tetap dipenuhi kebahagiaan. Tapi matanya tidak dapat berbohong saat mendapati bagaimana tempat anaknya tumbuh, rumah tua yang memiliki besar tak seberapa dengan kondisi yang memprihatinkan. Dinding yang ditumbuhi lumut ataupun kayu-kayu yang lapuk, bukan merupakan tempat yang bisa dikatakan sehat.

Pandangan Sasuke mengamati tiap sudut ruangan saat menemukan sebuah hal yang menarik. Disebuah tiang kayu, dia melihat ada beberapa garis hitam dengan sebuah angka ditiap garisnya. Satu, dua, tiga, sampai tujuh. Tapi Sasuke juga menemukan tulisan nama disana, ada dua. Hinata dan Kenichi. Mungkin Hinata yang berumur satu sampai tiga tahun boleh berbangga, tapi dimulai umur empat, Kenichi lebih unggul. Tinggi anaknya selalu berjarak beberapa senti dari tinggi ibunya. Sasuke senang tentu saja, melihat pertumbuhan putranya walaupun tidak secara langsung.

Disisi lain, dia melihat beberapa coretan krayon yang tergambar di dinding. Tidak mungkin jika itu gambar milik Hinata, melihat coretan krayon itu terlihat seperti sebuah robot ataupun sebuah mobil. Butuh waktu cukup lama bagi Sasuke untuk mengidentifikasi coretan abstrak itu. Beberapa ada gambar yang terlihat belum rampung, mungkin saat itu Hinata datang untuk menghentikan coretan putranya. Membayangkan perempuan penyabar itu mengamuk menjadi sebuah hal lucu yang dipikirkannya. Tapi memikirkan anaknya yang sedang cemberut karena mendapat omelan ibunya jauh lebih lucu lagi. Apalagi jika ia membayangkan dirinya juga berada disana, mungkin duduk sambil minum kopi paginya saat hal itu terjadi. Mendengarkan sambil menampilkan senyuman sebagai tanggapan ketidak terimaan anaknya, lalu Hinata yang masih marah kembali untuk melanjutkan memasak sarapan.

Menurutnya itu pagi yang damai. Jika saja memang terjadi. Hal paling masuk akal yang terjadi saat kejadian itu adalah dirinya sedang duduk di kantor dengan beberapa berkas yang harus ia kerjakan. Bahkan dia pasti belum mengetahui tentang keberadaan putranya saat itu.

"Ayah. Ingin makan siang sekarang?" Kenichi tiba-tiba datang membuyarkan lamunannya.

"Ah. Iya." Sasuke yang sedikit terkejut hanya menjawab reflek.

"Ibu, ayah ingin makan sekarang." Kenichi berlari menghampiri ibunya yang terlihat sedang menata mangkuk.

Tidak lama mereka datang dengan membawa masakan yang Hinata masak. Kenichi mendapat tugas untuk menata mangkuk nasi, menatanya sedemikian rupa hingga ketiga mangkuk tepat berada di tempat duduk masing-masing. Kenichi memilih meletakkan mangkuk ibunya tepat berhadapan dengan ayahnya, sedangkan dirinya berada disamping keduanya.

"Maaf. Hanya ini yang saya punya." Hinata menunduk saat menyajikan beberapa lauk yang baru saja ia masak. Perempuan itu merutuki dirinya yang tidak sempat belanja tadi pagi.

"Ini sudah lebih dari cukup." Sasuke menatap Hinata, dia sama sekali tidak menyalahkan perempuan itu yang menyajikan masakan sederhana ini, tapi pada tingkahnya sendiri yang tiba-tiba datang.

Sasuke mengatupkan kedua tangannya saat mendapati kedua pasang mata berbeda warna tengah menatapnya. Seolah menunggu aba-abanya lebih dulu untuk memulai menyantap hidangan yang tersaji.

"Selamat makan." Ucap Sasuke lebih dulu.

.

.

.

Usapan pada punggung itu semakin membuatnya terlelap. Apalagi aroma tubuh yang selalu ia rindukan, tercium jelas dari jaraknya sekarang. Tertidur dipangkuan ibunya setelah makan siang, Kenichi tidak ingat lagi dimana ia tidur saat ini. Mengabaikan keberadaan ayahnya, Kenichi hanya ingin bermanja dengan ibunya selagi bisa.

"Dia anak yang cengeng." Hinata tiba-tiba berucap. Tersenyum membayangkan kembali kejadian beberapa tahun lalu.

Sedang Sasuke yang duduk tidak jauh dari mereka, diam mendengarkan. Perempuan dihadapannya sepertinya akan menceritakan hal-hal apa saja telah ia lewatkan, meskipun itu bisa dikatakan semuanya.

"Kenichi akan berlari menghampiri saya saat anak-anak lain mengejeknya." Senyum Hinata semakin mengembang.

"Meskipun begitu, dia akan tetap bermain bersama mereka keesokan harinya." Sasuke mendengarkan dengan memandang wajah perempuan itu. Kedua hal itu entah mengapa menjadi hal menarik hingga Sasuke enggan untuk berpaling.

"Selain itu, Ken juga penakut. Dia akan menjerit saat melihat katak, menampilkan wajah hampir menangisnya saat tanpa sengaja menyentuh gurita, ataupun mengambil jarak saat saya mengajaknya mencari cacing. Menggeleng beberapa kali sebelum berjalan mendekat." Hinata menyingkirkan helaian rambut hitam yang menutupi wajah mungilnya.

"Tapi, dia anak yang baik."

Jika hal ini Sasuke tahu. Perempuan itu menurunkan sifat itu pada anaknya. Anak mereka.

"Mengabaikan rasa takutnya, Kenichi selalu membantu meringankan pekerjaan saya. Dia bahkan rela menghabiskan sebagian waktu bermainnya hanya untuk membantu saya mencari kerang saat pagi hari, mengabaikan bagaimana dinginnya air laut saat itu." Hinata untuk sesaat berani menatap laki-laki itu. Menampilkan raut wajah yang sama saat seperti anaknya beberapa jam yang lalu.

"Saya tahu saya bukanlah ibu yang baik." Sasuke menyanggah dalam hati. Jika Hinata saja yang seperti ini dibilang buruk, apa kata yang pas untuk dirinya.

"Saya sering meninggalkannya saat usianya menginjak lima tahun." Tapi Sasuke yakin, walaupun Hinata sering meninggalkan Kenichi, anaknya pasti tidak pernah absen mendapat kasih sayang dari sang ibu.

"Meskipun begitu, saya selalu mendapati anak ini," Hinata tersenyum sambil mengusap pelan surai Kenichi. "selalu terduduk dengan wajah mengantuk. Menunggu kepulangan saya seberapa larut pun itu."

Sasuke menemukan jawabannya. Kenapa selama ini dia mendapati Kenichi berada di ruang tamu rumah, tak lain adalah untuk menunggunya pulang. Dia semakin merasa bersalah pada putranya, jika tidak ada Itachi mungkin hubungan mereka berdua akan tetap seperti orang asing meski terhubung dengan darah. Semenjak Sasuke mendengar bagaimana perasaan anaknya, laki-laki itu bertekad akan mengisi perannya sebagai ayah. Lebih memperhatikannya lagi dan lebih sering mengajaknya bicara. Membuat anak delapan tahun itu bersyukur terlahir sebagai putranya.

"Saya tahu sikap saya ini lancang, tapi bisakah Anda menjaga Kenichi?" Mata Sasuke menatap lurus Hinata yang sedang menunduk dalam. Mulutnya seolah bisu hanya untuk sekedar menanggapi.

"Anda tidak perlu memaksa meluangkan waktu untuk bersamanya, Anda juga tidak perlu menahan diri jika Kenichi melakukan kesalahan." Hinata tercekat. Tidak dapat dipungkiri air matanya mengalir deras. Membasahi tatami dengan bulir-bulir air matanya.

"Hinata."

"Saya mohon, hanya dia harta saya satu-satunya. Saya mohon Sasuke-sama, tolong jaga Kenichi." Ditelinganya apa yang dikatakan Hinata terdengar seperti sebuah permintaan terakhir, seolah-olah setelah ini Hinata tidak akan bertemu dengan Kenichi lagi.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa yang sebenarnya tidak dia ketahui selama ini?

Apa ini juga termasuk dengan sikap Hinata yang seperti menghindarinya semenjak tadi?

Sasuke tidak mengerti sama sekali. Dia terlalu melewatkan banyak hal. Kenichi dan juga si ibu. Mereka berdua menderita selama ini, dan dia masih saja tidak menyadarinya. Bahkan terkesan tidak ingin ikut campur. Sudah saatnya dia harus mengambil tanggungjawab penuh. Tidak ada lagi hal yang harus terlewat darinya, semuanya, dia harus tahu semuanya.

Mata Hinata membulat saat mendapat pelukan mendadak dari laki-laki itu. Mendekap tubuhnya erat untuk bersandar padanya. Hinata ragu untuk membalas pelukan itu, dia takut, sangat takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

"Aku tidak akan menjaganya." Sasuke berbisik, suaranya yang berat membuat Hinata mematung. "Kita. Kita yang akan menjaganya."

Tangan Hinata perlahan mencengkram kemeja Sasuke, mungkinkah dia bisa berharap pada laki-laki ini?

.

.

.

"Bersikaplah yang baik, jangan pernah merepotkan ayahmu, jangan na–" Ucapan Hinata terhenti saat mendapat sebuah ciuman dari anaknya. Wajahnya nampak tersenyum lebar setelah perbuatannya barusan.

"Hihihi." Dan terkekeh setelahnya, mendapati wajah ibunya yang tersenyum lembut. "Ibu tenang saja, aku akan bersikap baik dan tidak akan merepotkan ayah." Hinata tersenyum puas saat mendengar penuturan anaknya. Perempuan itu tahu meskipun ia tidak mengatakannya, anaknya tidak mungkin bersikap seperti itu.

Untuk sesaat Kenichi memeluk leher ibunya, melihat ayahnya yang sudah siap keluar dari mobil. Pertanda tidak akan lama lagi mereka akan kembali pulang.

"Aku akan merindukanmu, bocah cengeng." Hinata mengusap kepala anaknya sayang. Tidak ingin mata hitam kecil itu melihat matanya yang berkaca-kaca.

Kenichi malah memeluk ibunya lebih erat. Dia sangat tidak ingin berpisah dengan ibunya. Rasa rindunya masih belum terobati meskipun menghabiskan hampir enam jam bersama ibunya.

"Aku sudah menghapal jalannya, jadi jika ibu merindukanku aku akan langsung pulang." Kenichi berbisik, dia tidak mau ayahnya sampai mendengar hal ini.

Hinata tersenyum sebagai tanggapan, ciuman sayang kembali ia daratkan, kali ini di dahi kecilnya.

"Tentu, ibu tahu kau anak yang pintar." Perempuan itu sangat terharu dengan ucapan anaknya.

"Ken." Sasuke sebenarnya tidak ingin mengganggu, tapi jika melihat pemandangan mengharukan itu terus menerus, mungkin pendirian laki-laki itu akan goyah.

"Pergilah, ayahmu sudah menunggu." Hinata menepuk pantat anaknya, mendorongnya pelan untuk segera berjalan mendekati Sasuke.

Dengan berat hati, Kenichi berjalan memasuki mobil. Sebelum Sasuke masuk, ia sempatkan untuk menatap Hinata sebentar. Dia sudah memeluk perempuan itu tadi, jadi dia akan menahan untuk memeluknya kali ini.

Hinata menunduk singkat, pertanda dia menyerahkan penuh Kenichi padanya. Tidak lupa sebuah senyum manis Sasuke dapati di bibir tipisnya. Sebuah senyum yang memiliki arti kesedihan.

Perempuan itu melambaikan tangannya saat kaca pintu terbuka, anaknya terlihat tidak rela untuk kembali meninggalkan ibunya. Selama satu menit Hinata tetap berdiri di tempatnya, menatap bayangan hitam itu semakin menjauh di ujung jalan.

.

.

.

Dua jam adalah waktu yang mereka habiskan untuk perjalanan pulang. Sasuke sempat menawari untuk makan malam di sebuah rumah makan, tapi Kenichi menggeleng pelan. Mengatakan mereka harus segera pulang, Kenichi mengingatkan ayahnya jika keluarga Haruno datang untuk makan malam.

Memasuki rumah besarnya, Sasuke menggandeng Kenichi untuk berjalan bersamanya. Semula anak itu memilih untuk tetap tinggal di dalam mobil saat melihat mobil asing yang terparkir. Bocah itu sangat yakin jika keluarga Haruno sudah datang.

Berjalan bersembunyi di belakang tubuh ayahnya, Kenichi was-was saat nanti melihat kakeknya. Laki-laki tua itu pasti akan menyeretnya untuk kembali kamar, apalagi dia datang bersama ayahnya. Saat melewati tangga, Kenichi berusaha melepas genggaman tangan ayahnya. Dia berniat akan langsung berlari ke kamarnya, memang Sasuke melepas genggaman pada tangan anaknya tapi tidak lama. Laki-laki itu malah menggendong Kenichi. Menaruhnya senyaman mungkin pada dadanya.

Semakin dekat jarak mereka dengan ruang makan, Kenichi semakin menenggelamkan kepalanya. Dia sangat takut dengan tatapan kakeknya nanti.

"Kau dari mana Sasuke?" Itu suara kakeknya. Bagi bocah itu, suaranya terdengar sangat menakutkan.

Fugaku memandang tidak suka pada anaknya. Kenapa matanya harus mendapati bocah itu berada pada gendongan anak bungsunya. Lebih dari itu, kenapa Sasuke memilih menunjukkan kedekatan mereka di saat seperti ini.

"Tidak apa Fugaku-san. Sasuke-kun pasti punya urusan penting sehingga dia sedikit terlambat." Mebuki datang menengahi. Pandangan perempuan itu–pandangan keluarganya tentu saja mengarah pada seorang bocah yang bertengger manis di bahu laki-laki itu.

"Duduklah dulu Sasuke, ada hal yang harus kita bahas. Kau, bawa anak itu pergi." Fugaku menunjuk seorang pelayan.

"Dia tidak akan pergi." Sasuke menolak untuk menyerahkan Kenichi pada pelayan itu.

"Sasuke!" Fugaku sedikit menahan suaranya agar tidak terlalu tinggi. Sasuke berjalan mendekat ke arah keluarga Haruno.

"Siapa itu yang ada digendonganmu, Sasuke-kun?" Sakura bertanya.

"Dia adalah anakku. Uchiha Kenichi adalah putraku." Sasuke biarkan Fugaku yang menganggapnya gila. Dia hanya mendeklarasikan hal yang sesungguhnya. Itachi yang duduk sambil menyesap minumannya, tapi tidak dapat dipungkiri sebuah senyum terbentuk di bibirnya.

Mengabaikan beberapa orang yang menatapnya dengan terkejut, Sasuke melenggang pergi. Menurunkan Kenichi saat mereka berdua berada di kamar miliknya.

"Tunggu ayah disini, ayah akan segera kembali." Hanya mendapat sebuah usapan di kepalanya, Kenichi menatap kepergian ayahnya dalam diam.

.

.

.

TBC

.

.

.

Sebenarnya saya hanya pengen buat oneshoot aja, mentok ide soalnya. semoga chap ini tidak mengecewakan. Terima kasih untuk yang udah fav, follow, dan review.

Jaa adios