Stage 2

Another Fiance


"Tadaima," Rui melepaskan sepatunya kemudian meletakannya di rak sepatu dengan rapi. Ini kebiasaannya semenjak kecil, ibunya tidak akan tanggung-tanggung memukulnya kalau dia berani menaruh sepatunya serampangan.

"Okaeri-nasai," Nyonya Himura, ibunya, menyambutnya dengan senyum hangat di wajahnya. Dari caranya tersenyum, tidak akan terlihat kalau dia adalah ibu yang sangat mementingkan kedisiplinan dan keteraturan. "Jadi, Rui, bagaimana harimu?"

Kalau pembicaraan ini berlanjut, kedua orang tuanya akan tahu bagaimana reaksi Masahiro Sawamura terhadap keberaniannya meminta kelanjutan hubungan mereka. Sebisa mungkin Rui akan mengulur waktu untuk itu. Selama ini dia selalu menyembunyikan masalahnya dalam menghadapi kekasih yang keras kepala seperti Sawamura. Maka sekarangpun dia akan mengunci mulutnya rapat-rapat. "Cukup menyenangkan, Kaa-san."

Nyonya Himura merasakan adanya kejanggalan dalam jawaban putrinya itu. Dia, dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Rui. "Maksudmu dia tidak mau membahas kelanjutan hubungan kalian?"

DEG! Langkah kaki Rui terhenti. Insting ibunya terlalu tajam untuk wanita setuanya.

Tidak, tidak, Kaa-san tidak akan tahu. Rui memandang ibunya seraya tersenyum lebar. "Kaa-san, jangan berprasangka buruk. Tentu saja tidak begitu. Dia berjanji akan memikirkannya dan memberi jawaban dalam waktu dekat."

"Itu, kalau Sawamura yang mengatakannya," Tuan Himura melengkapi acara kumpul keluarga yang bagaikan bencana ini bagi Rui. "Sama saja artinya dengan 'Sebaiknya kita lupakan saja'. Bukan begitu, Putriku?"

Gleg. Mau tidak mau Rui menelan ludahnya kembali. Ayahnya adalah petugas kepolisian. Mungkin pembawaannya yang selalu penuh logika di kantor terbawa juga sampai ke rumah, yang membuatnya terus terjepit di antara ibu yang berinsting tajam dan ayah yang suka menganalisa.

"Benarkah begitu, Anata?" Nyonya Himura membekap mulutnya sendiri tanda keterkejutannya. "Bukankah gawat jadinya semenjak Rui sudah berusia dua puluh empat tahun?"

Lama-lama semakin gawat saja pembicaraan ini! Rui buru-buru menusuk masuk. "Dua puluh empat itu bukan usia yang mengerikan kan? Bukankah banyak wanita yang menikah di penghujung usia dua puluh? Tou-san dan Kaa-san tidak perlu terlalu mencemaskan aku! Aku akan baik-baik saja! Lagipula bukankah Masahiro berjanji akan memberi kepastian secepatnya?"

"Tidak, Rui!" nada suara Nyonya Himura naik seoktaf. "Wanita Jepang sejati harus melayani suaminya dengan setia semenjak usia muda. Karena di masa-masa muda itulah efektifitas kerja manusia maksimal! Bagi wanita seperti kita, umur dua puluh lima adalah batas usia menikah, lebih dari itu sebaiknya kau bunuh diri karena sangat memalukan tradisi!"

"EHHH?" Rui menjerit saking kagetnya. "Darimana filosofi ngaco itu? Kenapa aku harus bunuh diri karena aku tidak menikah sampai usia dua puluh lima? Ini tidak masuk akal dan konyol!"

"Jaga mulutmu, Rui!" bentak Nyonya Himura. Alisnya mencuat dan kedua pasang matanya berkilat mengerikan. Barulah terlihat taring wanita penuh tradisi ini. Rui mundur dengan wajah tertunduk.

"Sudah, sudah," Tuan Himura menggerak-gerakan tangannya supaya ibu dan anak ini menghentikan pertengkarannya. "Jangan ribut di dalam rumah. Malu didengar tetangga."

"Maafkan aku, Anata. Aku telah bertindak salah," Nyonya Himura menunduk dalam-dalam pada suaminya. "Aku benar-benar memalukan nama keluarga dan salah mendidik anak."

"Tidak, tidak," Tuan Himura menggeleng-gelengkan kepalanya,"Kau telah berhasil membesarkan anak kita satu-satunya dengan baik." Lalu dia menghela nafas. Kakinya mulai mengambil langkah-langkah menuju ruang tamu. Mereka bertiga perlu ruang yang lebih privat untuk pembicaraan yang penting ini. Nyonya Himura segera mengikuti dengan tergesa-gesa. Sementara Rui agak malas, tapi sebagai bukti rasa hormatnya pada kedua orang tuanya, dia tetap mengikuti.

Mereka sekarang ada di ruang tamu mereka yang sangat kental dengan gaya Jepang. Ruang tamu mereka berbentuk kotak yang sederhana. Di tengah-tengahnya ada meja kayu yang rendah sehingga mereka tidak memerlukan kursi. Di samping kiri ada pintu geser yang membatasi ruang tamu dengan lorong panjang, sementara di samping kanan ada pintu geser menghadap taman dalam yang selalu terbuka agar udara segar bisa masuk. Lantainya tentu saja lantai tatami berwarna gading yang lembut. Rak-rak buku dan lemari pajangan menghiasi sisa ruangan.

Tuan Himura duduk bersila di atas bantalan berwarna hijau daun teh, barulah Nyonya Himura dan Rui menyusul dengan duduk berlutut.

"Rui, kebebasan memang menjadi barang penting sekarang, tapi sebagai wanita, kau juga perlu memperhatikan masa depanmu. Akan jadi seperti apa nantinya dirimu? Keluarga seperti apa yang akan kau bina, dan kewajiban lainnya yang harus kau jalankan."

Rui menundukkan kepalanya. Segerombolan klan ninja menyerang pun tidak bisa menghalangi ayahnya berceloteh tentang kerasnya garis yang diambilnya tentang wanita Jepang seharusnya. "Aku mengerti, Tou-san. Akan kucamkan itu baik-baik."

Mengira dirinya akan aman mengatakan hal semacam itu, Rui telah salah besar. Tuan Himura punya rencana lain yang bisa segera meledakan diri Rui.

"Karena menduga hal seperti ini bakal terjadi, aku juga sudah mempersiapkan jalan lain untukmu, Rui," Tuan Himura tersenyum lebar. Seolah-olah pemikiran yang dimilikinya sangat briliant.

"Eh?"

"Di divisiku ada pemuda seumuranmu. Meskipun baru, dia rajin dan pekerja keras. Tidak perlu diragukan lagi, dia akan menjadi suami yang baik."

"Ap-Apa?"

"Dia juga sudah cukup umur untuk membentuk keluarga. Maksud Tou-san adalah…."

Rasanya aku tidak mau dengar ini…. Alarm dalam kepala Rui berdering kencang.

"Menjodohkanmu dengan dia. Pasti kalian jadi pasangan yang serasi!"

"Anata, kau sungguh luar biasa!" decak Nyonya Himura penuh kekaguman.

"TIDAKKKKKKKKKKKKKKKKKK!" Terlanjur sudah. Rui terlanjur mendengar apa yang tidak mau didengarnya sebelum sempat melakukan pencegahan ataupun mempersiapkan mental. Sampai kapan dia akan terjebak dalam keluarga seperti ini?

---HMSmile---

Rui baru saja selesai berendam di baknya. Air hangat sedikit memberikan relaksasi setelah pembicaraan mengerikan di ruang tamu tadi.

Ponselnya berdering.

"Moshi, moshi."

"Ru-I-chan! Apa aku akan mendengar 'Aku akan segera menjadi pengantin!' darimu?"

Nada di seberang sana sangat bersemangat sampai rasanya Rui mau kembali ke baknya dan menenggelamkan dirinya di sana mengingat dia tidak mendapat hasil yang memuaskan. Baik dari pembicaraannya dengan Sawamura, maupun dengan ayah-ibunya.

"Hhh, Mizuki…," Rui menghela nafas saja.

"Kenapa, Rui? Apa segitu menyedihkannya?" Mizuki segera menyadari tidak adanya gairah dalam diri teman baiknya semasa SMP dan SMA itu. Dalam enam tahun mereka bersama, ikatan di antara mereka sudah mirip kakak-beradik kandung. Mereka tertawa, gembira, sedih, dan bertengkar. Tentu saja saling menguatkan dan membantu di saat-saat sulit.

Rui pun lebih memilih menumpahkan kegalauannya pada Mizuki dibanding kedua orang tuanya. Bukannya dia membenci orang tuanya, tapi pemikiran Mizuki yang rasional lebih bisa menenangkannya dibandingkan ayah atau ibunya yang lebih mengutamakan tradisi kolot.

"Ya…Membuat depresi, tepatnya."

"Mau ceritakan padaku?"

Senyum kecil mengembang di wajah Rui setelah melewati satu hari yang amat menyebalkan baginya. Lalu dia mulai bercerita tentang brengseknya Masahiro Sawamura dan gilanya ayahnya yang melemparnya dalam perjodohan dengan seseorang yang bahkan tidak pernah diketahuinya bakal dikenalnya.

"Uso!" Mizuki berseru tertahan.

"Serius, bahkan aku tidak tahu lagi apa yang bakal dilakukan mereka. Masahiro pun tidak menelepon atau mengirim pesan semenjak bertengkar tadi."

"Dasar si rubah kurang ajar itu…," Mizuki mendumal perlahan. "Apa ayahmu itu tipe orang yang suka ngomong sembarangan?"

"Dia sangat penuh perencanaan dan sangat serius dengan apa yang keluar dari mulutnya," Rui merasa makin putus asa. Dia ingin segera menggunakan ponselnya untuk menelepon Sawamura, mendamprat pria itu untuk segera bertindak, namun dibesarkan dalam lingkungan yang terus mengutamakan harga diri berpengaruh banyak juga untuk dirinya. Lagipula di lihat dari sisi manapun, Sawamura lah yang salah!

"I-Ini agak bahaya ya?" suara Mizuki memelan, nyaris mencicit. Otaknya mulai bekerja supaya masalah ini terpecahkan.

"Ah, sudahlah! Jangan dipikirkan! Setelah malam ini, mungkin semuanya bisa berpikir lebih jernih!" nada suara Rui berubah ceria. Jelas dibuat-buat bagi Mizuki. Tapi dia menghargai ketegaran Rui hingga dia ikut mengubah suaranya menjadi lebih bersemangat.

"Ya, ya, betul! Mungkin kalian bisa bicara lebih nyaman setelah beristirahat."

"Bagaimana kabar Kosuke? Sudah ada pekerjaan baru untuknya?"

Giliran Mizuki yang dilanda badai. Baru setahun dia menjalani rumah tangga bersama Kosuke, tapi rasanya sudah ribuan masalah menimpa mereka. Kosuke baik, tapi kurang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Sekitar dua bulan lalu dia baru saja dipecat dari pekerjaannya. "Yah…Uhm…Dia masih berusaha mencari yang sesuai untuknya."

"Mizuki…,"Rui ingin menawarkan bantuan, tapi tidak punya apapun untuk diberikan sebagai tawaran.

"Tenang saja, Rui! Kami masih bisa hidup karena ibuku sering mengirim uang juga."

"O-h, baguslah kalau begitu."

"Bagaimana kalau kita ngobrol lagi besok? Sebentar lagi Kosuke pulang, aku akan memasak untuknya."

Rui menggumam. "…Ya. Bye, Mizuki."

"Ja-ne, Rui-chan!"

---HMSmile---

Sesudah menutup telepon dan sebelum menyediakan makan malam untuk Kosuke, Mizuki membuka folder buku telepon dalam ponselnya. Ketika menemukan nama yang dicarinya, dia segera menekan tombol 'yes'.

"Naruse?…."

---HMSmile---

Sawamura tidak jauh lagi dari gedung apartemennya. Tempat tinggalnya sudah berubah dari yang ditempatinya semasa SMA. Setelah mantap dengan pekerjaan dan gajinya, dia memutuskan pindah ke tempat yang lebih besar dan praktis. Apartemennya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya serta tidak jauh dari kantornya…Satu alasan lain, yang paling utama, dengan harga tidak seberapa dia bisa tinggal di tempat yang amat layak.

Dia menyusuri trotoar dengan santai lalu matanya sedikit membesar ketika mendapati seseorang yang dikenalnya dengan baik masuk dalam area pandangnya.

"Naruse?"

Naruse memberi seulas senyum pada Sawamura. "Yo, Sawamura."

"Sedang apa di depan sini?"

"Aku dalam perjalanan pulang ke rumah, sekalian saja mampir kemari," jawab Naruse sekenanya.

Sawamura mendesah. Keningnya berkerut. "Carilah alasan yang lebih baik. Tempatku dan tempatmu beda jalur shinkansen-nya."

Naruse terperangkah. Kemudian menertawai kebodohannya sendiri,"Benar juga ya."

"Semenjak kau di sini karena kesengajaan, pasti ada sesuatu yang penting. Mau masuk ke dalam?" tawar Sawamura. Naruse ini, dari dulu sampai detik terakhir mengenalnya tetap saja bodoh.

"Ya, maaf merepotkan!"

---HMSmile---

Mereka terus berada di dalam elevator tanpa bicara sampai di lantai empat puluh lima. Setelah menapak keluar dari elevator, Naruse mengikuti Sawamura menuju pintu berpelat lonjong berwarna emas dengan ukiran hitam bertuliskan 'Regen Suite'.

Kuncinya dibuka dengan kartu. Sekuritas apartemen ini jelas memuaskan.

Setelah pintu terbuka, Sawamura mengulurkan tangannya untuk meraih sakelar lampu. Dalam sekejap ruangan menjadi terang bederang dan Naruse bisa takjub melihat isi apartemen Sawamura.

"Tempat ini benar-benar luar biasa, Sawamura!"

"Begitulah," Sawamura tidak merasa perlu membanggakan tempat tinggalnya. "Apa ini pertama kalinya kau kemari, Naruse?"

"Ya, memang pertama kali. Dan aku tidak menyangka tempatnya sebagus ini!" Naruse mulai berkeliaran meneliti properti yang ada di sana. Tapi seperti yang diharapkan dari Sawamura, tempat ini sepi seperti apartemen lamanya. Barang-barangnya sederhana dan seadanya. Benar-benar hanya barang yang bermanfaat. Pajangan dan sebagainya didepak dari apartemen Sawamura.

Sawamura menghilang ke dapur sementara Naruse menatap keluar lewat kaca besar di ruang tamu. Dari ketinggian semacam ini, pemandangan malam hari jadi menakjubkan. Lampu-lampu berkelap-kelip di bawah sana.

"Kubawakan minuman. Maaf, cuma ada air mineral," Sawamura membawa dua gelas mug di tangannya. Yang berwarna hijau diletakan di meja persegi dari kaca di ruang tamunya. Sementara yang berwarna hitam tetap di tangannya.

"Tidak apa-apa. Terima kasih." Naruse mengambil mug hijau dan segera meneguk isinya.

Setelah meminum habis minumannya, barulah Naruse tersadar. "Kau sudah punya gelas lain, eh? Memang kau sediakan untuk tamu?" Saat pertama Naruse pergi ke apartemen lama Sawamura, dia hanya mendapat gelas plastik untuk minum.

Sawamura menjatuhkan dirinya ke sofa hitam. Menyeruput air mineralnya seakan sedang menikmati kopi panas. "Bukan. Aku tidak membelinya. Rui yang memberikannya padaku. Katanya itu akan menjadi gelasnya saat berkunjung kemari."

"Hah?" Naruse terperanjat. "Ka-Kalau begitu aku malah memakai gelasnya kan? Kenapa kau tidak berikan aku gelas plastik saja?"

"Tidak apa-apa. Toh dia sendiri belum pernah memakainya," cetus Sawamura.

"Oh…," bola mata Naruse mengikuti tangan Sawamura yang meletakan mug hitamnya di meja lalu melipat tangannya di depan dada.

"Jadi…Ada masalah apa datang kemari?" tanya Sawamura tanpa basa-basi lebih jauh lagi.

"Ng," Naruse menjadi gugup. Dia tidak tahu juga harus mulai dari mana. Tapi karena Sawamura tidak basa-basi, sepertinya dia juga tidak boleh basa-basi. "Tentang Rui…."

"Masalah terlalu cepat menyebar ya?" Sawamura tidak bertanya, tapi menyindir.

"A-Aku tidak mendengarnya dari Rui langsung karena Mizuki yang meneleponku sambil marah-marah padamu."

"Kok dia suka sekali ikut campur?"

"Pokoknya menurut yang dikatakan Mizuki, kau tidak boleh egois! Rui pun mengalami masalah karena ketidakpastianmu," terang Naruse berusaha sesingkat dan sejelas mungkin.

Sawamura diam saja, nampak berpikir. Sementara Naruse menyesali kenapa harus dia yang dikirim menghadapi Sawamura? Padahal Mizuki lebih pandai berdebat darinya. Pastinya perang bakal pecah kalau Mizuki yang menemui Sawamura. Karena saat ditelepon tadi saja dia sudah meledak-ledak.

"Ne, Naruse."

"Y-Ya?"

"Apa untungnya sih menikah? Masalah berkomitmen…Menyusahkan saja. Aku tidak merasa menikah itu akan membawa keuntungan bagiku, malah terlalu banyak ruginya. Biaya hidup akan bertambah, ruangan ini pun tidak akan menjadi milikku sendiri lagi. Hidupku akan terkekang, tidak ada kebebasan lagi. Pembatasan seperti itu apa pantas?" Sawamura menatap Naruse dengan sepasang matanya yang tajam.

Naruse telah mengenal kepribadian Sawamura sejak lama. Profit selalu menjadi nomor satu baginya. Apalagi masalah uang, tidak ada yang bisa diharapkan dari Sawamura selama menyangkut uang. Kesendirian dan kesepian membuatnya menjadi Sawamura yang tidak mudah percaya orang lain dan sedikit egois mengenai dirinya.

Naruse mengira persahabatan di antara mereka dan pertemuannya dengan Rui telah banyak mengubah Sawamura. Tapi nampaknya belum sepenuhnya terwujud, ekspektasi Naruse maksudnya. Sawamura belum menjadi pribadi yang terlalu jauh berbeda dari dirinya yang lama. Tercermin jelas dalam ruangannya yang sepi dan seadanya.

Tapi Naruse berpikir lebih jauh lagi dengan otaknya yang tidak biasa digunakan untuk berpikir. Sedikit berubah bukan berarti tidak sama sekali. Lebih baik perubahan datang perlahan-lahan namun signifikan, dibandingkan seratus delapan puluh derajat berubah tapi sedetik kemudian kembali lagi ke muasal.

Kini sepasang bola mata Naruse yang bulat dan besar bisa membalas tatapan menuntut Sawamura. Mereka berdua berpandangan.

"Aku tidak mengerti soal untung atau tidak," Naruse menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal dan berkata dengan kikuk, "Tapi bisa hidup bersama orang yang berharga bagimu…Bukankah sudah merupakan keuntungan?"

Berharga? Kata yang agak memuakan didengar bagi Sawamura. Tapi sepertinya dia juga mulai berpikir ulang tentang semua rencana yang sudah disusunnya serta merombak dan menyusunnya kembali.

---HMSmile---


Tadaima : aku pulang

Okaeri-nasai : selamat datang

Kaa-san : ibu

Tou-san : ayah

Anata : kau/ sayang

Uso : bohong


Biografi Himura Rui:

First debut : Spirit From Jonan ( my first fanfiction which is not being published ).

Biografi Masahiro Sawamura :

First debut : Tankuboun Harlem Beat by Yuriko Nishiyama jilid 2-end.