Kuroko no Basuke ©Fujimaki Tadatoshi

Pairing: Kise x Kuroko

Rated: M

Genre: Romance(probably).

~contains Yaoi, NSFW, OOC, Typo(s), AU. don't like? then don't read. Setting: Kise and Kuroko are neighbors.~


Well, This is Awkward

Issho ni Tsuzukeru – True End

.

.

Walaupun tadi hampir klimaks, tapi tiba-tiba melihat ekspresi Kise yang menunjukkan kaget, tidak percaya, dan sorot matanya yang seperti mengatakan "siapa kau? Kau bukan Kurokocchi" langsung membuat Kuroko lemas. Lemas bagian bawahnya, dan juga seluruh tubuhnya. Rasanya ingin bisa benar-benar menghilang seperti saat di pertandingan. Menghilang menjadi bayangan. Tapi sayangnya itu tidak mungkin

Kise berjalan masuk ke kamarnya, dengan langkah sedikit canggung karna apa yang terjadi barusan. Kise kemudian menaruh dirinya disamping Kuroko yang badannya tertutupi selimut semua. Menyentuh bagian yang Kise percaya adalah punggung Kuroko, dan menepuk-nepuk bagian itu. "Kurokocchi.. etto, aku tau ini agak—"

tetapi kalimat Kise dihentikan oleh gerakan Kuroko yang masih tertutup selimut putih Kise secara tiba-tiba. Kuroko berguling di atas kasur, dgn dirinya masih tertutupi selimut, lalu tiba-tiba berdiri di kasur. Kuroko kemudian mengangkat kedua tangannya sampai setara dengan bahu. "Kise-kun.. ehm, Kise Ryota.. kau sedang bermimpi.." Kata Kuroko tiba-tiba dengan suara yang diseram-seramkan. Sebenarnya Kuroko juga tidak berharap jawaban apa-apa, hanya mencoba mencairkan suasana canggung, mungkin?

"Eh..?" Kise bingung harus bagaimana. Apakah tsukkomi*? Tidak.. yang biasa ber-tsukkomi bukan Kise, lagipula akan tidak lucu kalau Kise yang memberikan tsukkomi. Apakah tertawa? Tidak, mungkin itu malah akan menyakiti hati Kurokocchi. Atau pura-pura takut? Apalagi itu.. Kuroko pasti akan mengira Kise mengejeknya. Akhirnya Kise diam saja, duduk ditempat sambil memperhatikan Kuroko.

Hening..

Kuroko menjatuhkan dirinya ke tempat tidur lagi, guling-guling sampai dirinya benar-benar tertutup selimut Kise kecuali kepalanya dan menggeliat nggak jelas di kasur.

Hening...

"Kurokocchi?" tanya si pirang.

"Kise-kun, aku ini cacing"

GLEK! KKUUUUUURRRROOOOOKOOCCCHIIIIIIII! Inner Kise mati sedikit, karna ke-OOC-an Kurokocchi hari ini. Apa? Hari ini apa salahku? Apa salahku sampai bisa melihat Kurokocchi yang berbeda?! Yah.. bukannya aku membencinya, sih... Batin Kise. Mungkin di dalam, Kise sedang fanboying. Walaupun di dalam Kise begitu berisik, tapi diluar Kise hanya menatap Kuroko bingung.

"Eh? Kupikir Kise-kun takut cacing? Sekarang sudah nggak takut, lagi, ya?" tanya Kuroko dengan polos dan ekspresi datarnya.

Kalau cacingnya Kurokocchi, sih.. siapa yang takut?! Itu yang ingin Kise katakan tapi, dia pikir itu lebih baik disimpan di hati saja. Rasanya ingin sekali Kise memeluk Kuroko sekarang. "Un.. aku masih takut cacing, kok.. tapi, kenapa tiba-tiba, Kurokocchi..?

"Kalau cacingnya lebih besar kan, Kise-kun seharusnya lebih takut" jelas Kuroko masih sambil menggeliat di kasur dengan muka datar.

Bukan itu maksudkuuuu..! dan ada apa dengan logikamu tiba-tiba?
"Iya, kalau cacingnya yang besar aku makin takut.. tapi Kurokocchi apa kamu demam?" Kise kemudian meraih dahi Kuroko dengan tangannya dan mengukur suhunya.

satu detik.

dua detik.. Plak!

Kuroko menepis tangan Kise yang ada di dahinya. Muka Kuroko agak memerah walaupun masih dengan ekspresi yang datar. "Ah.." Kuroko kemudian menyembunyikan wajahnya di dalam selimut Kise lagi.

Sepertinya blushing Kuroko menular, karna Kise juga ikut-ikutan blushing saat Kuroko menutupi dirinya dengan selimut lagi. Kise benar benar ingin memeluk Kuroko sekarang.

Keduanya terdiam sampai Kise mendapatkan sesuatu yang mungkin boleh dicoba. "Kurokocchi, selimut itu dipenuhi oleh bauku, loh~" Canda Kise. Sebenarnya saat menanyakan itu, Kise tidak berharap banyak, mungkin hanya tatapan datar dari Kuroko atau balasan kalimat yang dingin, yang lalu akan membuat Kise mengeluakan air mata buayanya sambil ngerengek 'Hidoi-ssu!'

Tapi yang Kise dapatkan hanyalah anggukan kecil dari dalam selimut. Benar-benar jawaban yang tidak dia harapkan ataupun dia duga.

EEEEEEEEEHHHHHHH?! Begitu jujur?! Apa Kurokocchi tak mengerti kalau itu hanya bercanda?! Atau.. Kurokocchi memang sedang bercanda? Pikir Kise sambil blushing sendiri.

Yah, nggak sendiri, juga. Di dalam selimut, Kuroko sebenarnya menjawab itu tanpa pikir dua kali, yang kemudian setelah menyadari apa yang telah ia meng-iya-kan, langsung blushing parah di dalam selimut. Semoga saja ada meteor jatuh, supaya Kise-kun bisa mengalihkan perhatiannya kemudian aku bisa pergi. Kata Kuroko dalam hati, menggunakan imajinasinya yang super itu.

Walaupun tenggelam dalam pikirannya masing-masing, mereka sendiri juga tidak nyaman dengan keheningan yang canggung ini. Kuroko akhirnya mengeluarkan kepalanya dari selimut.

"Kise-kun/Kurokocchi" Panggil satu sama lain bersamaan.

"Ah, duluan saja(-ssu)" lagi-lagi bersamaan. Karna seperti itu, situasinya kan makin canggung. Mereka ini sehati atau apa, sih?

Yah, sebenarnya nggak bersamaan juga, mungkin salah satu dari mereka telat 0.001 detik, atau berapa, lah. Tapi anggap saja bersamaan. Akhirnya, mereka memutuskan siapa yang akan bcara duluan lewat jan ken. Yang menang yang ngomong duluan.

Kuroko yang menang. Awalnya Kuroko senang, tapi karna mengingat situasinya sekarang, akhirnya dia nggak jadi selebrasi. Dan sekarang harus mengolah kata-kata gimana caranya dia mau mengatakan apa yang harus dia katakan. Dengan sabar Kise menunggu. Seperti anjing yang menunggu masternya pulang—atau semacamnya. Tapi karna memang Kuroko lah yang awalnya memulai semua ini, sebagai gentlemen, dia merasa bertanggung jawab.

"Kise-kun, sebelum itu aku minta maaf.. maaf karna sudah datang ke kamarmu diam-diam dan.. ehm, ya, itu.." Kuroko membungkuk.

"Ah .. Kurokocchi nggak harus sampe menunduk.."kata Kise, sambil mendorong bahu Kuroko untuk membuatnya duduk seperti sebelumnya.

"hmm, tentang itu.." Kuroko mencoba untuk melihat ke muka si model, tapi gagal, karna pesona si model "..wajahmu terlalu menyilaukan. Mati" Gumam lelaki yang bertubuh lebih kecil itu. lalu buang muka.

"EEEHHH?! Kurokocchi, itu jahat!" Kise ngerengek dengan air mata buayanya.

"Hanya saja, aku belum melihat wajah Kise-kun untuk waktu yang lama dan aku agak merindukanmu, jadi .. uhm, aku suka Kise-kun"

Sepertinya Kuroko masih belum bisa mengeja kalimatnya dengan baik, karna gugup. Tapi bagian 'Aku merindukanmu' dan 'Aku menyukai Kise-kun' itu langsung nempel di kepala Kise. Inner Kise mati. Tapi diluar Kise hanya bisa diem kayak orang blo'on ditambah ekspresi yang—terlalu awesome bahkan authornya nggak tau cara menggambarkannya dengan tulisan. Pokoknya gitu aja.

"Kise-kun biasanya datang ke Seirin saat pulang sekolah, atau mengajak aku pergi setiap weekend. Tapi 3 minggu terakhir ini Kise-kun jarang bertingkah seperti anji—maksudku, jarang bertemu denganku. Jadinya aku agak rindu dengan Kise-kun. Sebenarnya aku sudah lama menyukai Kise-kun, jadi kangen itu harusnya hal yang biasa, kan? Lalu aku inget Kise-kun pernah ngasih aku kartu cadangan kamarmu, alasanmu; 'kalau Kurokocchi kangen, datang aja ke kamarku!' dan aku lakukan itu, walaupun awalnya aku sempat menolak tawaranmu.." Jelas Kuroko. Masih tidak melihat muka Kise. Semburat rona kemerahan bisa dilihat di wajah Kuroko, walaupun hanya sedikit

Oh! Itu dia kenapa kartu kamarku yang satu lagi hilang! Hanya itu yang dipikiran Kise saat Kuroko selesai bicara. Entah dia bodoh atau apa.

"Makanya.." Kuroko kemudian duduk di depan Kise, sekarang mata biru langit Kuroko menatap lurus mata coklat madu Kise. "Aku suka Kise-kun. Dalam arti.. romantis, maupun sexual"

DOR!

Inner Kise mati. Lagi. yang ketiga kalinya di hari ini. Rasanya, Kise ingin sekali klepek-klepek dilantai seperti ikan yang baru diangkat dari air, karna dia sudah tidak bisa menahan fanboy didalam dirinya. Tapi kan nggak lucu kalau situasi seperti ini tiba-tiba klepek-klepek, bisa-bisa Kuroko pikir Kise udah gila, lalu dibenci, dan dimasukin RSJ, terus ada berita di halaman pertama di koran atau majalah-majalah; Model-kun, Kise Ryouta, Masuk Rumah Sakit Jiwa Karna Fanboying! Nggak. Nggak lucu sama sekali.

"..se-kun?"

"WAAAHHH AKU NGGAK GILA!" teriak Kise tiba-tiba, baru bangun dari hayalan gila nya.

"Eh.. aneh ya, kalau dapat confession dari sesama cowok..?" Kata Kuroko, sambil tersenyum yang dipaksakan.

"Ah! Bukan Kurokocchi, kok! Aku.. aku juga suka Kurokocchi! Tadi aku cuma ngelamun.. Aku juga suka Kurokocchi, dari lama!" Jawab Kise dengan bersemangat. "...dalam hal yang sexual juga.." Kise bergumam. Sebelum Kuroko bisa menjawabnya, Kise memegang kepala Kuroko dengan kedua tangannya, kemudian menarik kepalanya lalu mempertemukan bibir mereka. Ciuman mereka hanya sebentar, setelah itu Kise menarik Kuroko ke pelukannya. "Kurokocchi curang, aku pengennya yang confess duluan"

"Eh?"

"Yah.. habis, Kurokocchi selalu sama Kagamicchi atau Aominecchi. Dan Kurokocchi juga biasanya tidak menghiraukan aku. Jadinya kupikir Kurokocchi nggak suka sama aku. Makanya sampai sekarang aku belum confess. Tapi dapat memelukmu seperti ini, apalagi tadi dapat confess darimu sangat membuatku senang."

"Habis, aku nggak mau Kise-kun melihat wajahku merona setiap kamu ada disampingku..." Kuroko mengubur kepalanya ke dada Kise, "...seperti sekarang" Kuroko lalu mendorong Kise, supaya pelukannya dilepas, lalu melingkarkan tangannya di leher Kise. "Aku sungguh menyukaimu" Kemudian mencium mantan teman satu timnya itu.

Kise, membalas ciuman Kuroko dengan menjilat bibir Kuroko, meminta untuk membuka mulutnya. Dan Kuroko mengijinkanya, yang membuat lidah Kise dengan cepat menyambar bagian dalam mulut Kuroko. Sesekali terdengar desahan Kuroko, yang membuat Kise makin bergairah. Suara itu bagai alunan musik yang membuat Kise bisa kehilangan akal sehatnya. Kemudian Kise menarik kepala Kuroko, memperdalam ciuman mereka. Saling melumat bibir, lidah saling bertautan, air liur yang menetes di sudut bibir. Manis. Kise bahkan tidak ingat kalau besok dia bisa ditendang habis-habisan oleh Kasamatsu-senpai jika terlambat. Tapi yang hanya ada di benak Kise sekarang adalah, Kurokocchi, Kurokocchi, Kurokocchi...

Setelah beberapa lama, Kuroko mencengkram baju Kise, ingin berhenti, menambah pasokan okisgen di paru-parunya. "Nnn.." Mencoba untuk menarik kepalanya tapi tidak bisa.

Kise kemudian melepaskan ciuman mereka, memberikan kesempatan untuk menghirup oksigen., kemudian melihat ekspresi Kuroko yang, Begitu memabukkan. Pikir Kise. Hah.. aku sudah keras. "Kurokocchi~ tadi kamu belum sempat klimaks, kan?" ucap Kise, sambil membuka retsleting celana Kuroko. "Biar kubantu"

"Ah.. tapi!"

"Sshh.. biarkan aku membuatmu merasa enak, aku akan memijatmu, Kurokocchi nikmatin saja." Kise kemudian mengangkat Kuroko sampai ke pangkuannya, dan memeloroti celana serta celana dalam Kuroko. Kemudian Kise mulai memijat ereksi Kuroko, dengan perlahan.

Lelaki yang sedang diberikan nikmat itupun tak bisa menahan desahannya. "Nnn.. haa.." desah Kuroko sambil menggigit bibir, terlalu memalukan bagi Kuroko untuk mengeluarkan desahannya secara keras-keras.

Dia masih menahan suaranya.. Kise kemudian mempercepat tempo naik-turunnya, membuat Kuroko memeluk Kise dan mencengkram baju Kise dengan erat. Kise dengan jelas bisa mendengar desahan nikmat Kuroko yang kepalanya tepat berada disampingnya.

Kuroko, juga belum mau menyerah begitu saja, dia menggenggam penis Kise yang sudah mengeras di dalam.

Membuat si pemilik, tersentak. "Kurokocchi?"

"Kise-kun, biarkan aku.. nn.. membuatmu merasa enak juga" walaupun Kise awalnya protes, Kuroko masih tetap membuka celana Kise, membiarkan adik Kise akhirnya melihat dunia luar. Tanpa aba-aba, Kuroko langsung memijit ereksi Kise di depannya.

"Aah.." membuat si Model ikut-ikutan mendesah, mereka jadi sama-sama memijit. Awalnya pelan, kemudian saat salah satu mempercepat temponya, diikutin yang lain. Saat Kise mulai mengencangkan genggamannya, diterapkan juga oleh Kuroko kepada Kise. Jadi seperti lomba—siapa yang paling enak mijitnya, dia yang menang.

"Kurokocchi, coba dekat.. hhaa.. dekatkan dirimu" ucap Kise sambil memakai satu tangnnya yang bebas untuk menarik pinggang Kuroko. Setelah Kuroko cukup dekat, Kise menempelkan ereksi mereka bersama, lalu menggesek-gesekan penis mereka ke satu sama lain, seperti lagi main pedang.

Mereka berhenti main pijit-pijitan sekarang beralih ke pedang-pedangan. Kuroko sudah tidak lagi memegang penis Kise, membiarkan Kise yang mengurus 'pedang' mereka. Kuroko menenggelamkan wajahnya ke leher Kise, dengan kedua tangannya menggenggam erat baju Kise. Masih dengan desahannya yang tertahan.

Kise yang melihat leher Kuroko nganggur begitu terekspos, kemudian menciumnya, lalu menjilat keringat yang ada disana. Asin. Pikirnya. Masih menggesek-gesekan penis mereka, Kise kemudian meninggalkan kiss mark di leher Kuroko yang begitu menggoda. Membuat laki-laki bersurai biru muda itu mendesah lagi. Belum puas dengan leher, kemudian Kise beralih ke telinga Kuroko. Menjilat, kemudian menggigit daun telinga Kuroko, membuat si pemilik gemetar keenakan.

"Kise-kun.. aku.. akan keluar.. haa.."

"Un.. aku juga.. tidak bisa tahan lagi..."

"Nnn.. seragam Kise-kun.. nan.. nanti akan kotor"

"Heh.. nggak usah, dipikirkann... hhaaa... hnn.." Ucap Kise sambil mengeluarkan semennya, dikarnakan gerakan Kuroko yang tiba-tiba juga keluar.

Keduanya istirahat sebentar di pelukan masing-masing. Seragam Kise dan baju Kuroko sudah kena sperma mereka, tercampur. Pria berambut pirang itu kemudian membuka baju seragamnya, lalu melemparnya asal-asalan, walau masih terjatuh di tempat tidur. Meninggalkan si pirang hanya dengan boxernya.

Kuroko merebahkan badannya ke samping Kise, dengan kepalanya yang berada di depan pinggang Kise. Lalu menyuruh Kise tiduran.

"Kurokocchi?" walaupun tidak yakin, Kise nurut dan ikut-ikutan tiduran, dengan kepalanya yang menghadap bagian bawah Kuroko dan kepala Kuroko yang menghadap tubuh bagian bawah Kise. (posisi 69, maafkan authornya karna tidak bisa mendeskripsikan dgn baik)

Tanpa menjawab Kise, Kuroko kemudian mencium kemaluan Kise yang masih didalam boxer. Lalu menjilatnya sedikit, membuat si pemilik tersentak dan mengeras. Kuroko kemudian melanjutkan menjilat, lalu menghisap kemaluan Kise yang menegang di dalam boxernya. Kemudian Kuroko membuka boxer Kise dengan mulutnya, membuat kemaluan Kise terekspos menegang di depan kepala Kuroko.

Kurokocchi.. eroi. Pikir Kise saat Kuroko menarik boxer Kise dengan mulutnya. Saat kejantanannya sudah diluar, Kuroko kemudian mulai menjilat ujung kepalanya, memainkan lidahnya disitu dulu. Lalu menjilat sisi ereksi Kise, naik dan turun. Membuat si pirang yang sedang diberikan nikmat mengerang. Tapi aku juga nggak mau kalah~ Pikirnya. Kemudian Kise meremas kejantanan Kuroko yang masih berada di dalam celana. Membuat Kuroko memekik kaget. "Kurokocchi.. masukan kedalam mulutmu" ucap Kise sambil meremas Kuroko yang akhirnya menegang lagi.

Dan Kuroko pun menurutinya. Kuroko memasukan kejantanan Kise yang besar kemulutnya. Lalu menjilati dan mengulumnya, sementara tangannya meremas testis Kise. Sayangnya, Kuroko mulut tidak bisa memasukan ereksi Kise secara utuh, saking besarnya. Dan air mata terlihat keluar dari ujung matanya karna mulutnya yang membuka terlalu besar.

Kise mengerang kemudian membuka celana Kuroko, memelorotinya. Kemudian memasukan kejantanan Kuroko yang setengah menegang kedalam mulutnya. Kise kemudian menjilat, lalu mengulum Kurokocchi-nya, lalu mengerakan kepalanya, memberikan Kuroko kenikmatan. "Nggghh.." desah Kuroko, mulutnya masih diisi dengan ereksi Kise. Getaran di dalam mulut Kuroko membuat Kise mengerang keenakan dan membuatnya makin bergairah. Setelah beberapa saat, Kise mengeluarkan kejantanan Kuroko dari mulutnya, beralih ke lubang anusnya yang dari tadi berkedut.

Kise kemudian mengubah posisi mereka yang tiduran bersampingan, menjadi Kise yang diatas tubuh mungil Kuroko. "Maaf, Kurokocchi, tapi.. dengan posisi ini akan lebih mudah" Kemudian Kise melebarkan belahan pantat Kuroko, membiarkan anusnya terbuka sebentar, mengagumi lubang yang kemerahan itu. Kise membasahi jarinya dengan air liurnya sendiri, tak ingin Kuroko kaget karna jarinya masuk tanpa bantuan apa-apa, kemudian memasukan satu jarinya yang panjang kedalam Kuroko.

"Nnhhh.." desah Kuroko saat merasakan jari Kise yang memasukinya. Sekali lagi, mulutnya masih diisi oleh Kise yang tereksi sempurna.

Kise pun memainkan jari telunjuknya yang ada di dalam Kuroko, sebelum memasukan jari yang kedua. Lalu memasukan kedua jarinya dengan perlahan, membiarkan Kuroko menikmatinya juga. Sempit. Kemudian Kise membuka kedua jarinya didalam Kuroko seperti gunting, merenggangkan anus Kuroko. Yang kemudian mendapat respon desahan dari Kuroko.

Tidak mau kalah, Kuroko kemudian menghisap Kise lebih keras, sambil meremas kejantanan Kise yang tidak bisa Kuroko masukan ke mulutnya. lalu menggerakan tangannya yang meremas kejantanan Kise keatas dan kebawah.

"Hhnnngg.. Kurokocchi..." desah Kise, sambil menahan gerakan pinggulnya kebawah, supaya tidak membuat Kuroko keselek. Precum Kise mulai keluar, membuat Kuroko semakin kuat menghisapnya. "Hhaaaa..." desah Kise pelan saat dia mengeluarkan semennya didalam mulut Kuroko. Kise segera mengangkat badannya, tidak lagi berada di atas Kuroko, namun jarinya masih didalam Kuroko, dan masih tereksi, walau tidak sempurna.

Mulut Kuroko yang sudah penuh hanya dengan kejantanan Kise, ditambah dengan cairan semennya yang hangat, membuat Kuroko dengan refleks menelan semua yang ada di dalam mulutnya. sedikit tersedak karna Kise keluar tanpa peringatan apa-apa. Rasanya aneh, Pikir Kuroko saat semen itu dia telan. Lalu dia menyeka semen Kise yang ada di sudut bibirnya dengan jempol, kemudian merasakannya. Tapi ini rasanya Kise-kun.. Kuroko yang masih sibuk dengan semen Kise di sekitar mulutnya, sampai dia baru sadar jari Kise masih didalamnya saat Kise memasukan satu jarinya lagi, jadi tiga jari ada di dalam anus Kuroko. "Aaahh..." pekik Kuroko, kaget. Dan Kise memainkan ketiga jarinya disana untuk beberapa lama, mencari titik sensitif Kuroko. Saat menemukannya, Kise langsung menabrak prostat Kuroko, membuat Kuroko akhirnya mengeluarkan spermanya yang kedua kali dan mendesah nikmat.

"Kurokocchi, sudah sampai seperti ini, aku nggak bisa tahan lebih lama lagi.. aku bisa saja menyakitimu dan, kalau kamu mau berhenti sekarang.." kata Kise dengan muka melas kemudian mengeluarkan jarinya.

"Jika Kise-kun kasar terhadapku, aku nggak akan meninggalkanmu, jadi.." Kuroko bangkit untuk memeluk Kise "lebih percaya dirilah" bisiknya.

Inner Kise mati lagi. Kemudian Kise mencium laki-laki bersurai biru muda itu, tidak sampai bertautan lidah, hanya ciuman singkat yang penuh kasih. "Kurokocchi, tengkurep" suruh Kise.

"Eh.. tapi, memalukan.."

"Tapi dengan menungging, maka jalan masukku lebih aman, setidaknya tidak membuat Kurokocchi terlalu sakit. Aku akan pelan-pelan.."

Kuroko diam sebentar, berfikir. Kemudian dia tengkurep, dengan menaikkan pinggulnya sedikit, masih malu. Dan dia menutupi mukanya dengan bantal Kise. Baunya seperti Kise-kun..

Kise kemudian mengangkat pinggul Kuroko lebih keatas, menunjukkan lubang anusnya yang sudah memerah dan berkedut; ingin menelan sesuatu. Kise tersenyum bangga, kemudian menggosok-gosokan lubang Kuroko dengan kepala penisnya, sebelum mulai memasukkannya. Kemudian Ia mendorong dengan kuat, berharap bisa masuk dalam satu dorongan.

"Aahhh...! Ki.. Kise-kun!" rasanya perih, sakit. Kuroko memejamkan matanya dan mengubur kepalanya di bantal, lalu meremas seprai dibawahnya. Daging hangat dan keras ereksi Kise yang masuk kedalamnya tanpa bantuan lotion atau semacamnya membuatnya langsung menegang kembali, dan benar-benar membuatnya kesakitan, tapi ia tahan, karna ketika itu orang yang kalian cintai, kalian biasanya akan melakukan segalanya untuk mereka.

"Kurokocchi baik-baik saja?" tanya Kise khawatir

"Ya,.. hhaa.."

"Aku akan bergerak jika kamu udah terbiasa,"

"U-un.."

Kise kemudian mendorong sedikit lagi, supaya masuk. Kurokocchi sudah mulai mengendurkan pinggulnya, aah... rasanya pengen banget mulai bergerak! Tapi nanti Kurokocchi kesakitan.. Pikir Kise, jika dia punya telinga dan ekor anjing, pasti keduanya sudah turun.

"Kise-kun.. bukannya kalau aku menghadap depan akan lebih mudah?"

"Ya, tapi nanti semua bebannya ada di Kurokocchi"

"ta.. tapi.." Kuroko berhenti sebentar, kemudian melihat ke arah Kise "Tapi, aku ingin melihat wajah Kise-kun.."

CRACK! Suara kesadaran Kise yang sudah retak, pecah, hancur.

"Kurokocchi, sehabis ini kalau mau memukulku silakan saja.." Kemudian Kise membalikkan bada Kuroko dengan paksa, membuat atlet bertubuh lebih kecil itu memekik. Kemudian Kise menaruh satu kaki Kuroko di bahunya, dan mulai bergerak maju-mundur

"Aaahh...! Kise-kun! Haa.. aahhh! Pe.. pelan-pel—aaahhnn.." desah Kuroko saat si model mulai bergerak tanpa ampun, ereksinya yang mengenai prostat Kuroko membuat Kuroko semakin nikmat. kejantanan Kuroko pun mengucurkan cairan precum. Kuroko menutup mukanya dengan satu tangan, yang satunya mencengkram seprei dengan kuat, berharap sakitnya bisa mereda, mungkin.

"aah.. Kurokocchi, katanya.. mau lihat muka ku?" ucap Kise sambil mencoba melepas tangan Kuroko, selagi ia masih menggerakan kejantanannya yang mengeras sempurna masuk-keluar. Tapi Kuroko tak berniat untuk melepaskan tangnannya, jadi Kise beralih ke ereksi Kuroko. Lalu meremas kejantanan Kuroko yang mengeras dan menggerakan tangannya naik-turun. Membuat si pemilik berdesah makin nikmat.

Kuroko makin merasa nggak karuan atas nikmat yang daritadi Kise berikan kepadanya, dari belakang; prostatnya terus dihantam oleh kemaluan Kise yang mengeras sempurna, dan di depan; ereksinya yang sedang dimanjakan oleh Kise. Akhirnya desahannya pun keluar tanpa ditahan lagi. "Hhaaa.. ahh~ eenghhh.. Kise-kun!"

Kise senang mendengar desahan Kuroko yang keluar dengan alami, dan juga menyebut namanya berulang-ulang, apalagi dengan suara yang 'hot', mungkin ini akan jadi hobi baru Kise. Kise, masih menghantam prostat Kuroko dan memanjakan ereksi Kuroko, kemudian menekan dirinya lebih kebawah, lalu berbisik tepat di telinga Kuroko yang memerah dengan nafas berat dan suara yang serak. Seduktif.

"Panggil namaku, panggil namaku, lagi.."

"hha.. Kise.. Kise-kun.."

"Ha.. namaku, Kurokocchi"

"Ennghh, Kise-kun! Kise-kun..!"

"NAMAku.." Kise berhenti sebentar, "...Tetsuya.." lanjut Kise dengan suara yang dibuat-buat seakan suara yang paling hot(?) yang bisa ia keluarkan. Dan, hasilnya manjur.

"Aah.. ry.. Ryo.. Ryoutaa—aaahhh..!" saat Kise memanggil nama Kuroko, Kuroko bisa merasakan seluruh badannya merinding. Tidak, bukan merinding disaat seperti mantan kaptennya—Akashi, memanggilnya "Tetsuya" tapi, merinding yang lain, bukan rasa takut. Dan disaat itu juga, Kuroko mengeluarkan cairan semennya. Lalu anusnya makin mencengkram Kise dengan kuat.

Kise tidak bisa memendam rasa bahagianya, sekarang dia keliatan seperti orang idiot yang senyum-senyum sendiri. Mungkin ia ingin langsung memeluk Kurokocchi-nya dengan sekuat tenaga, sampai dia bisa berhenti fanboying, tapi Kuroko sekarang sudah terkulai lemas karna orgasmenya yg sudah berapa kali? Hanya mengingatkan, ereksi Kise masih tertancap dengan mantap di dalam Kuroko. Kise yang belum orgasme semenjak memasuki Kuroko tentu saja belum merasa cukup. Akhirnya Kise mengangkat tubuh Kuroko, lalu menghadapkan Kuroko ke lemari yang ada cerminnya, posisinya Kuroko memunggungi Kise, dengan anusnya masih terisi kemaluan Kise yang masih mengeras.

"ne~ lihat ke depan," suruh Kise sambil menjilat leher Kuroko

"ah..?" Kuroko yang masih lemes, hanya bisa membuka matanya dengan sayu, langsung membelalak saat melihat dirinya, terefleksi di cermin besar didepannya; pemandangan yang sangat eroi; Kuroko perutnya dipenuhi semennya sendiri, dan mungkin beberapa semennya Kise, lalu kemaluan Kise yang tertanam dengan baik di anusnya, dan dibelakangnya, Kise sedang asyik dengan lehernya. Kuroko kemudian langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya. "Ini memalukan, Kise-kun"

"eh? tapi, dengan begini maka, kita bisa melihat ekspresi masing-masing tanpa susah-susah" Kise beralasan.

"Dasar narsistik"

"Hmm? Tapi dengan begini bukannya akan memberikan sensasi baru?" ejek Kise sambil mulai menggerakan pinggulnya. "Kurokocchi, lihat, anusmu menelan ku dengan laparnya~ lihat betapa mudah ini masuk kedalam~"

Kuroko pun mengintip, yah, namanya juga penasaran. dan yang dia lihat di cermin adalah, kemaluan Kise yang besar, entah kenapa berhasil masuk, mempenetrasi lubang Kuroko. Bukan karna sweet spotnya dihantam, tapi Kuroko berhasil mengeras hanya dengan pemandangan dirinya sendiri.

Kise yang tahu Kuroko menikmatinya, mulai mempercepat temponya, lalu menabrak prostat Kuroko. Selagi bagian bawahnya bekerja, satu tangan Kise menopang badannya, sementara tangan yang lainnya meraih puting Kuroko, kemudian memainkannya. Memelintir, mencubit dan menarik. Setelah itu dia beralih ke ereksi Kuroko, meremas kejantanannya dengan rada kasar.

Kuroko yang juga menikmatinya, akhirnya mau menggerakan pinggulnya, mengikuti gerakan Kise, menaik-turunkan badannya.

"Hah.. Kurokocchi, juga lihat kedepan, dong" Kise berkata sambil menarik salah satu tangan Kuroko yang menutupi wajahnya.

"Aahh ... i-itu memalukan" Kuroko mengatakan saat ia melihat dirinya sendiri di cermin, dengan kemaluan Kise yang keluar-masuk di anusnya, dan pinggulnya yang bergerak sendiri, memenuhi hasratnya.

Setelah beberapa lama, Kise tiba-tiba berhenti, memeluk Kuroko, lalu membisikan "I'm all yours" dengan senyuman.

Kuroko membalikkan kepalanya ke Kise, kemudian mencium si pirang. Dengan anggukan kecil Kuroko kemudian melepas kejantanan Kise yang masih mengeras, lalu membalikkan badannya sampai dia menghadap ke Kise. Atlet bertubuh lebih kecil itu kemudian menggenggam kejantanan Kise, lalu memposisikannya di depan lubang anusnya. Kemudian dia menurunkan tubuhnya perlahan, Kuroko bisa merasakan kepala penis Kise memasuki anusnya.

"Ahh.. ngghh.." Kuroko mendesah, mengehentikan tubuhnya. walaupun Kuroko sudah dipenetrasi Kise berkali-kali, Kuroko masih tidak biasa, mungkin karna dia yang memimpin.

Melihat Kuroko yang bersusah payah mencoba untuk memasukannya dengan muka memerah, lalu penuh dengat keringat, lalu bagaimana anusnya mencoba menelan kejantanannya rasanya seperti tes kesabaran; sabar untuk tidak langsung menyodok Kuroko. Kise menyeringai, berarti Kurokocchi juga menikmati play seperti ini, kah?

Kuroko kemudian mulai bergerak lagi, memaksa anusnya untuk segera menelan kejantanan Kise yang besar. Uh.. kenapa bisa sebesar ini? Pikirnya, air mata pun keluar dari sudut matanya. Walau begitu, Kuroko masih tetap memaksa kejantanan Kise untuk masuk ke dalam anusnya.

"Aaahh.. hnn.." desahnya dengan kedua matanya terpejam saat kejantanan Kise akhirnya menyentuh sweet spot. Kuroko lalu menggenggam erat bahu Kise, kemudian menaikkan tubuhnya, sampai hanya setengah dari ereksi Kise berada didalamnya, kemudian turun lagi, membuat ereksi Kise menghantam titik prostatnya dengan mantap. Keduanya pun mengerang.

Kuroko mengulangnya lagi, menaiki ereksi Kise, kemudian menurunkannya dengan mantap, penuh nikmat. Kuroko merasa tubuhnya bergerak sendiri, menaik dan menurunkan tubuhnya makin lama makin cepat membuat kejantanan Kise mengenai prostatnya sesuai dengan keinginannya. Tubuh Kuroko tidak ingin berhenti, tapi malah mempercepat ritmenya, Kuroko tidak bisa mengontrol tubuhnya secara logikal; biarkan saja nafsunya yang memimpin.

Kise memperhatikan Kuroko yang memimpin dengan

Kuroko mempercepat ritmanya, membuat ereksi Kise menghantam prostatnya dengan tepat, sampai keduanya mengerang. Membuat Kurokocchi yang memimpin ternyata ide yang bagus. Pikir Kise.

"Hnnggh.. le-lebih keras, Kise-kun..!" Kuroko menaiki kejantanan Kise sudah tidak memikirkan apa-apa selain memenuhi nafsunya. Kemudian bergerak lebih agresif lagi. Membuat anusnya menelan dan mencengkram ereksi Kise lebih dalam. Kuroko sebenarnya malu mengetahui bahwa dirinya sekarang kehilangan kontrol dari nafsunya, dan malu juga karna mengetahui bahwa Kise sedang melihatnya 'kelaparan' cairan precum Kuroko juga sudah tidak tertahan,

"Kurokocchi.. aku hha.. akan bergerak bersamamu.. nnhh" erang Kise, lalu Kise memegang pinggul Kuroko, kemudian mendorong kemaluannya lebih dalam lagi. "Nnghh.. Kurokocchi, sempit sekali" daging hangat dan basah yang mencengkram ereksi Kise dengan kuat seolah menyuruhnya untuk segera mengeluarkan semennya. Tidak—itu bukan pertama kalinya anus Kuroko mengencang, tapi rasanya tetap saja membuat Kise merinding. Mereka bergerak bersama, semakin lama gerakannya semakin kencang, Kise kemudian meraih ereksi Kuroko yang menegang sempurna dan berlumuran precumnya, lalu menggerakan tangannya naik-turun; membuat atlit bersurai biru muda itu mendesah lagi dengan nikmat.

"Ngghh hhaa.. Kurokocchi, Kurokocchi.. aku.. akan keluar!" cairan sperma Kise pun keluar didalam Kuroko. Rasa hangat dan kental yang ada di dalam anus Kuroko membuatnya menumpahkan spermanya juga, beberapa mengenai perutnya, dadanya, dan tangan Kise. Sementara Kise, masih menempatkan kejantanannya yang masih mengucurkan cairan sperma. Setelah beberapa saat, Kise mengeluarkan kemaluannya yang sudah lemas, entah berapa banyak semen yang telah ia keluarkan, beberapa tumpah saat Kise menarik kemaluannya keluar.

Kuroko mengistirahatkan dirinya di pelukan Kise, dengan nafas yang masih terengah-engah. Kise kemudian sibuk memberikan Kuroko kiss mark di sekitar lehernya, menandakan Kuroko itu miliknya, atau hanya sebuah memorabilia dari apa yang yang terjadi barusan. Dan Kuroko hanya bisa mengerang, tidak protes apa-apa.

"Kurokocchi, menginap disini saja, malam ini.."

Hening.

"eh? Kurokocchi..?" panggil Kise. Kise masih bisa merasakan nafas Kuroko yang belum teratur, menandakan Kuroko seharusnya masih bangun.

Tapi Kuroko tidak menjawab apa-apa.

"Kurokocchi.. huu.. apa Kurokocchi marah? Hiks, jangan mara—"

"Namaku.."

"Eh?"

"Tadi kau memanggil namaku.." Kuroko melepas pelukannya dan menatap Kise tepat di iris madunya.

"Kurokocchi?"

"Bukan, ucapkan NAMAku," dia berhenti lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Kise, "..Ryouta" kemudian menjilatnya dengan seduktif.

Kise hanya bisa membeku ditempat. Mendengar Kuroko yang tiba-tiba menjadi seduktif, apa Kurokocchi sempat membentur kepalanya? Pikirnya. Namun pikirannya segera di ganggu oleh tindakan kecil Kuroko lagi.

"Pembalasan.." ucap lelaki bertubuh lebih kecil darinya sambil mengeluarkan lidahnya, mengejek. Walau masih dengan muka datar—dan sedikit rona merah di pipinya.

Kise langsung menerjang Kuroko memeluknya erat, layaknya anjing yang melihat masternya pulang kerumah, dengan ekor dikibas-kibas. Entah kenapa, itulah Kise yang sekarang di mata Kuroko. Kise kemudian mencium Kuroko dengan nafsu. Ciuman panas mereka berakhir cukup lama—sampai Kuroko mencakar punggung Kise, krn butuh oksigen.

"aku mau pinjam kamar mandimu, Kise-kun"

"Eh~ bukannya tadi kau panggil aku dengan namaku?"

Kuroko tidak menjawab pertanyaan Kise dan bergegas pergi dari kamar Kise.

=Time Skip=

Haah.. berendam di air hangat memang yang terbaik. Apalagi setelah.. Kuroko tidak melanjutkannya, mukanya malah memerah, bisa jadi karna airnya terlalu panas, atau mengingat kejadian barusan. Tapi ingatannya segera diganggu,

BRAK!

"Kurokocchi~" ucap si model saat masuk kamar mandi. "Ayo mandi bersama~"

Kuroko diam saja, dan melanjutkan menikmati berendam air panas. Tapi dia agak kaget saat Kise memasuki bath tub bersama. "Eh? Kise-kun, ini sempit.."

"Ngga apa, Kurokocchi bisa ku pangku, kok"

Mereka sekarang duduk bersama dengan Kuroko dipangku Kise. Itu dengan Kuroko yang dipaksa.

"Kise-kun.."

"hmm..?"

"Perasaan kita sama, kan? Lalu.. kita sudah.. itu, jadi—"

"Kurokocchi, mau berpacaran denganku?" Kise yang dari tadi meneggelamkan kepalanya di lengkungan leher Kuroko memotong kalimat Kuroko.

Yang kemudian mendapat jawaban anggukan kecil dari Kuroko, dan telinga Kuroko yang memerah, "Jadi.. sekarang aku boleh memanggilmu Ryouta..?"

Kise yang mendengar jawaban Kuroko—Tetsuya-nya langsung blushing juga. "I.. Iya.." jawabnya agak terbata-bata. Kemudian Ia memeluk Kuroko, dan mengecup punggung putih pacarnya.

"Tetsuya, satu ronde lagi~"

"Eh? Ah! Jangan! Kita lagi mandi, Ryoutaa—aahnnn~"

.

The end.


*tsukkomi: punchline. (maaf, soal ini tanya ke mbah gugel bagi yang ngga tau, soalnya saya sendiri ngga bisa jelasin)

A.N:

Nyahaha~ akhirnya selesai juga.. saya sempet bingung mau bikin ending yang pas gimana.. makanya jadi gini, deh.. waahh ga nyangka bisa bikin 4k+. maafkan jika ini kurang atau jauh dari ekspektasi(bener ga sih gitu tulisannya?) anda. Apalagi saya ga biasa bikin yang hot.. ternyata banyak yang milih B, ya. walaupun hanya beda 1 suara, loh.. tp pada akhirnya inilah yang menjadi True End.

bagi yang ga tau artinya;

Batsu: Punishment/Hukuman

Issho ni tsuzukeru: Lanjutin bareng

Bagi yang pengen tau ending Batsu, update paling cepat 3 hari dari chap ini dipublish! Karna kemaren kan milih buat True End, jadi masih ada satu lagi, Alternate End.

Makasih banyak bagi kk-kk yang nyempetin diri buat review/fav/follow OvO)/. ok, saya ga tau mau ngomong apa lagi, jadi.. balasan untuk review dan voting kemaren aja langsung ya..

Untuk: akai chibi seme, apakah 'duet' yang ini sudah cukup? Gomen kalau kurang.. u.u VN yaoi KuroBasu pasti laris manis jika ada, saya juga mau mainin, sih.. hoho.. ah, sebenarnya eroge itu pelarian saya krna ga bisa donlot BL (nah loh sama aja parahnya) makasih udah follow! ^w^

Untuk: Rye Yureka, hai~ tinggal nunggu 3 hari lagi buat yang satunya, ya~ mohon maaf jika kelamaan. u.u

Untuk: ArcSa Reiyu, yeay~ mesum itu normal(eh?) tanding? Ohohoh.. menurut anda siapa yang menang(loh)~? Ya~ KiKuro itu manis ngetik ini aja saya takut kena diabetes #geplaked#

Untuk: noburanger, sabar.. tarik nafas, hembuskan! 2-2nya sih sah sah aja~ pada akhirnya keduanya akan dipublish..mohon ditunggu ya 0w0)/. Bulan ramadhan emang agak menyiksa, yah.. Gimana? Udah seger belom? makasih udah follow! ^w^

Untuk: NekoTama-1110 yeay! Teman seperjuangan(?) KiKuro~ *hug-hug* aye sir! Yang A mohon ditunggu.. makasih udah follow & fav! ^w^

Untuk: cannarykin, Aye sir! Ini sudah dipublish! Makasih udah di fav! ^w^

Untuk: Rhiani, aye sir~ salam kenal juga! gomen, Batsu nya paling cepet 3 hari lagi, mohon ditunggu! Tapi semoga anda menikmati(?) chapter yg ini.. u.u

Feel free to review, ya!